Love Story · Original Story · Uncategorized

My Seventeen’s Days [Chapter 4]

14524e49694ffd23

04 ~ Perang Di Mulai!~

Kepalaku menoleh melihat bis mendekat dan segera berdiri, lalu masuk ke bis bersama beberapa orang yang menunggu tadi. Ketika aku melangkah menuju bangku kosong di sisi kanan, mood baikku langsung berantakan melihat Bobby duduk di bagian belakang sambil tersenyum dan melambai padaku. Aku hanya menatapnya kesal, lalu bergerak duduk.

Aku mendengar Bobby berpindah ke bangku di belakangku dan melipat kedua tangannya di sandaran kursiku, “Hei pesek..”

Ahh.. Anak ini.. Aku segera mengeluarkan ponsel dan berpura-pura sibuk.

Kepala Bobby terulur ke arah layar ponselku.

Aku menatapnya kesal karena menggangguku terus.

Bobby memandangku, “Hei pesek..” sapanya.

Aku menggemertakkan gigiku nenahan kesal.

“Morning..” sapa Bobby lagi dengan senyuman riang seperti tidak terjadi apa pun.

“Aissh.. kembalikan saja buku agendaku!” ucapku kesal.

Bobby mengangkat kedua bahunya, lalu memperhatikan mataku. “Ohh… apa bentuk matamu bundar?”

Aku memalingkan wajah ke jendela.

Bobby tertawa lucu, “Apa kau bisa melihat dengan jelas? Ini berapa?” tanyanya sambil mengacungkan jari telunjuknya.

Aku kembali menatap Bobby kesal.

“Ini.. Kau bisa melihatnya?” Tanya Bobby sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajahku.

Aku langsung membuka mulut dan mengigit jarinya kesal.

“Ahkk!! Hei!!” seru Bobby sambil mendorong kepalaku, “Aissh!! Kau kanibal ya?!”

Aku hanya menatapnya kesal, tidak peduli orang-orang memperhatikan kami karena dia berseru tadi.

Bobby menatapku aneh sambil mengelus jarinya, lalu memandang orang-orang. “Maaf..” ucapnya sambil membungkuk sopan. “Hidungnya pesek, jadi oksigen tidak masuk ke otaknya..” ucapnya sambil menunjukku.

Aku terkejut dan memandang sekitar, orang-orang tampak menahan tawa. Aku menatapnya kesal dan memukul tangannya yang menunjukku kesal.

Bobby terkejut dan menatapku kaget, “Aissh! Dasar pesek..”

Aku memandang ke depan sambil menyilang kedua tangan di dada. Kudengar Bobby tertawa di belakang. Ahh.. kenapa harus dia yang menemukan buku agendaku?!

+++

“Hahaha.. dia memanggilmu pesek?” Tanya Bona menahan tawa ketika kami mengantri untuk mengambil makan siang.

“Iya! Aku sangat kesal!!” ucapku sambil menghentak kakiku.

Bona berusaha menahan tawanya melihat ekspresiku, “Waaah.. dia benar-benar ingin mengerjaimu.. Kau tau kan dia suka mengganggu orang lain..”

“Aku tidak takut padanya! Aku akan melawannya!” ucapku bertekad.

Bona mengangguk, “Benar, aku setuju! Tenang saja, aku akan membantumu..” ucapnya.

Bibirku membentuk senyuman mendengar ucapannya dan memeluk lengannya, “Oke..” ucapku.

Setelah mengambil makan siang, aku dan Bona duduk berhadapan di sebuah meja sambil membicarakan tentang rencanaku yang sempat tertunda karena si bodoh Bobby itu.

Bona melihat sesuatu di belakangku dan memandangku, “Hei.. di belakangmu..” bisiknya.

Aku memandang ke belakang dan melihat Bobby bersama teman-temannya yang membawa nampan makan siang. Aku memutar bola mata kesal.

Bobby berhenti sejenak karena melihatku, “Oh.. Lihat teman-teman, Lee Suhyun..” ucapnya pada teman-temannya.

Aku menatap Bobby tajam.

“Hati-hati.. jangan terlalu dekat..” ucap Bobby sambil mendorong teman-temannya menjauh dariku.

Bona memandang Bobby dan aku bingung.

“Kalian tidak lihat? Hidungnya pesek, dia butuh banyak oksigen untuk dirinya sendiri..” ucap Bobby yang langsung di sambut gelak tawa teman-temannya. “Ayo..” ucapnya dan melangkah pergi.

Aku berusaha menahan emosiku menangani pria sakit jiwa satu ini. Tanganku menggenggam sendok erat. Mataku menatap Bobby yang duduk di meja ujung kesal. ‘Baik, Bobby.. Jika ini yang ia inginkan.. Aku akan ikut dalam permainan ini..’ batinkum

“Ya ampun.. dia benar-benar..” ucap Bona tak percaya.

+++

Aku dan Bona mengintip dari balik tembok melihat Bobby melangkah seorang diri dengan gaya sok coolnya. Aku berpandangn dengan Bona sambil menahan senyuman dan high five.

“Semangat!” ucap Bona menyemangatiku dengan kedua tangan terkepal di depan wajahnya.

Aku mengepalkan kedua tangan semangat, lalu melangkah keluar dari balik dinding dan melangkah tenang ke arah Booby. Disana kebetulan ada segerombolan anak cheerleader yang sedang membicarakan tentang rencana latihan mereka. Sangat pas sekali! Hahaha.. kami bertemu di tengah dan saling menatap karena tidak ada satu pun yang menyingkir, “Kenapa? Minggir..”

“Apa? Ini jalurku..” ucap Bobby tidak mau kalah.

“Cih..” gumamku kesal dan bergerak ke kiri. Ia pikir aku menyerah? Tidak!! Aku segera mengeluarkan sebuah balon yang sudah kubuka pengikatnya, lalu ketika hendak melewati Bobby tanganku terulur ke bagian belakang celananya.

Preeeeeeeet….

Semua orang terpaku dan menatap ke arah kami, dengan cepat aku memasukkan balon tadi ke saku rok dan menatap Bobby kaget.

“Ya ampun!! Kau kentut ya?!” seruku sambil menutup hidung dan melangkah cepat dengan wajah jijik.

Bobby terkejut dan memandang sekitar dengan wajah tak bersalah.

“Ieeew!! Kau sangat menjijikkan!” gerutu anak-anak cheerleader itu dan berhamburan pergi seperti semua orang di lorong.

“Bu-bukan! bukan aku!! Aku bersumpah..” ucap Bobby berusaha menjelaskan sambil menggeleng. Namun tidak ada yang percaya padanya. “Benar-benar bukan aku!!” ucapnya berkeras.

Aku menahan tawa sambil terus melangkah. Sebelum keluar dari lorong, aku memandang ke belakang dan tersenyum penuh kemenangan pada Bobby.

Bobby menatapku tajam seperti berkata, ‘Aku tau ini ulahmu!’ hahaha..

Aku mengeluarkan balon dari saku rok dan memperlihatkan padanya, lalu melambai dengan tanganku yang lain dan melangkah riang meninggalkan lorong.

+++

“Eh.. eh.. lihat..” ucap Bona sambil menunjuk Minhyun yang melangkah keluar dari ruang guru setelah membantu guru bahasa membawakan buku tugas.

Kedua pipiku merona dan senyuman lebar muncul di wajahku, kedua tanganku langsung memegang pipi karena terasa panas. “Oh.. Minhyun..” ucapku senang.

“Hei.. cepat.. Hampiri dia dan ajak dia mengobrol..” usul Bona.

Aku menatap Bona kaget, “Ha? Tapi apa yang harus kubicarakan?” tanyaku bingung.

“Apa saja.. Kejadian di kelas, pelajaran.. Cepat!” Bona mendorongku agar segera mengikuti Minhyun.

Oke! Aku bisa melakukannya!! Aku menghela nafas dalan dan melangkah di belakang Minhyun sambil merapikan rambut dan poniku, lalu mengulurkan tangan hendak mengetuk bahunya.

“Uhuk! Uhuk!!” tiba-tiba Bobby muncul dan menubruk Minhyun dari depan sambil terbatuk-batuk seperti ia terkena penyakit parah.

Aku berhenti dan menatap pria itu kaget.

Minhyun terkejut dan menatap Bobby cemas, “Oh.. Kau baik-baik saja?” tanyanya.

Bobby memandang Minhyun, “Uhuk! Uhuk! Ini..” ia menyodorkan sebuah buku berwarna pink pada pria itu sambil melirikku dan tetap berpura-pura batuk.

“Hm?” Minhyun memandang buku pink itu bingung.

Mataku membesar melihat itu agendaku. Dengan cepat aku menyerobot diantara Minhyun dan Bobby sebelum pujaanku itu mengambil buku agendaku, “OH! Kau sakit ya?!” seruku sambil mendorong bukuku menjauh dari tangan Minhyun.

Minhyun bergerak mundur dengan tatapan bingungnya padaku.

Aku tersenyum pada Minhyun, “Dia sakit.. Tenang saja.. Aku akan mengurusnya.. pergilah..” ucapku sambil mendorong wajah Bobby yang masih terbatuk-batuk sambil berusaha mengatakan sesuatu.

Minhyun memandangku dan Bobby bingung, “Benarkah? Aku bisa membawanya ke ruang kesehatan..”

“Tidak! Tidak? Dia tidak apa-apa.” ucapku lalu memandang Bobby dengan mata melotot, “Kau baik-baik saja kan?” tanyaku penuh tekanan namun sambil tersenyum.

Bobby tampak menyembunyikan senyuman puasnya, “Uhuk.. uhuk.. buku….” Ia masih berusaha memberikan buku agendaku pada Minhyun.

Aku menangkap tangannya dan menempelkan punggung tanganku ke dahinya, bukan.. aku menampar dahinya dengan punggung tanganku. “Ya ampun!! Kau demam! Ayo!!” ucapku dan menyeretnya pergi. Sebelum itu aku tersenyum pada Minhyun yang masih kebingungan. “Tidak apa-apa.. aku akan mengurusnya..” ucapku.

Minhyun garuk-garuk kepala dan melangkah pergi.

Setelah cukup jauh aku berhenti sambil memperhatikan Minhyun sudah pergi.

Bobby merapikan jaketnya dan tersenyum evil padaku.

Aku menatap Bobby kesal, “Hei! Kau sudah gila?!”

Bobby mengangkat buku agendaku dan membukanya. Mataku membesar melihat buku itu kosong, lalu menatapnya kesal. Ia benar-benar mempermainkanku!! Dia sudah menyembunyikan isinya dan berpura-pura akan memberikannya pada Minhyun. Aissh!

“Wuaa.. apa kau tergila-gila padaku sekarang?” ledek Bobby.

“Aissh! Jangan bermimpi!!” seruku kesal sambil memukul bahunya.

Bobby tertawa dan mengelus bahunya, lalu mendorong dahiku dengan ujung jarinya.

Aku terkejut ia mendorong kepalaku dan menatapnya kesal, “Hei!”

“Ya ampun..” ucap Bobby dengan wajah kagetnya, “Jangan marah, nanti oksigen di kepalamu habis.. Hidungmu kan pesek..” lanjutnya dan tertawa terbahak-bahak.

“Aissh!!” seruku kesal dan memukuli bahunya.

“Aw! Aw! Aw!!” rintih Bobby sambil bergerak menjauhi pukulanku, lalu menatapku sebal. “Dasar pesek! Kenapa kau memukulku?!” serunya kesal, “Memangnya kau tidak tau bahuku disini?” Ia menunjuk bahunya, “Ahh.. Kau kan pendek..” lanjutnya sambil tertawa dan langsung berlari.

“BOBBY!!!” seruku kesal pada Bobby. Aku menghentakkan kakiku kesal dan berusaha menahan kegeramanku padanya. Aisshh.. aku ingin memelintir telinganya hingga dia menangis memintaku berhenti!!

++

Aku duduk di meja belajar sambil memikirkan bagaimana caranya aku bisa merebut buku agendaku kembali. “Aissh.. Bobby gila itu benar-benar..” gumamku kesal. Ini bukan sekedar keisengan lagi! INi perang!! Aku tidak akan mundur! “Baik, kau yang memulai ini. Kim Bobby..” ucapku.

Tanganku terulur mengambil buku untuk mengerjakan PR, namun ketika itu aku teringat sesuatu. Tadi ketika pulang sekolah. Bukankah aku berbicara pada Minhyun? Mulutku terbuka tak percaya, lalu tersenyum lebar dan memegang kedua pipiku yang terasa panas. “Oh! Aku berbicara pada Minhyun!! Aku berbicara padanya!!” ucapku girang, lalu bangkit dan berloncat-loncat girang sendiri sambil mengingat bagaimana aku berbicara pada Minhyun tadi. “AKU BERBICARA PADA MINHYUN!!!” sorakku riang dan meloncat ke tempat tidur, lalu mengambil boneka teddy bear-ku sambil menatapnya bahagia, “Aku berbicara padanya.. oh.. Minhyunku..” ucapku sambil membelai pipi boneka itu seperti itu adalah Minhyun, lalu memeluknya erat.

Tok! Tok! Tok!

Aku tertegun dan menatap ke pintu sambil bergerak duduk.

“Suhyun!! jangan ribut!!” seru kak Chanhyun dari luar.

Upss.. aku lupa kamarku tidak kedap suara. “Maaf kak!” seruku, lalu tertawa kecil dan kembali memandang bonekaku. “Teddy, aku berbicara pada Minhyun..” bisikku girang dan memeluk boneka kesayanganku gemas, lalu menarik selimut sambil berbaring. Aku akan memimpikan Minhyun malam ini!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s