Chapter · Story · Uncategorized

Suicide Boy❤ [Chapter 4]

[MV] Triple H(트리플 H) _ 365 FRESH.mp4_000064022 copy

04 —Have Fun!—

Hyorin memegang kepalanya frustasi karena Hyojong belum ditemukan, “Seharusnya aku tidak membiarkannya..” gumamnya penuh sesal.

Sejong berlari memasuki apartemen dengan wajah paniknya, “Kak Hyorin..”

Hyorin langsung berdiri dan menatap Sejong serius, “Bagaimana? Kau mendengar dimana dia?! Apa kata detektif?!”

Sejong tampak ragu untuk berbicara, “Tadi pagi pihak kepolisian menemukan mayat laki-laki tanpa identitas di pinggir jalan.” Ucapnya pelan.

Jantung Hyorin seperti berhenti. Nafasnya juga langsung tertahan, “Apa… apa itu… Hyojong?” tanyanya tercekat.

“Belum bisa di pastikan itu Hyojong atau tidak, aku akan ke rumah sakit sekarang untuk memeriksa apakah itu memang Hyojong atau bukan.” Ucap Sejong, “Aku pergi sekarang..” ia berbalik pergi.

“Tidak!! Sejong! Aku harus ikut!!” ucap Hyorin sembari menyandang tas tangannya dan berjalan cepat ke pintu.

Sejong segera menahan kedua bahu Hyorin, “Kak Hyorin! Sebaiknya kakak tunggu di rumah, aku yang akan pergi kesana!” ucapnya.

Hyorin menggeleng cepat dengan bulir air mata berjatuhan, “Aku harus memastikan dengan mataku sendiri, kalau itu bukan Hyojong!”

Sejong menatap Hyorin dalam.

“Aku harus memastikannya..” ucap Hyorin berusaha tegar, namun akhirnya ia memandang ke bawah melepaskan tangisnya.

Sejong mengelus bahu Hyorin, “Baiklah, ayo kita pergi..” ajaknya.

+++

Perawat pria yang di dampingi seorang polisi menarik sebuah keranda tempat mayat di simpan, “Kondisinya terlalu baik, apa kalian siap melihatnya?” tanyanya.

Sejong menghela nafas dalam menguatkan dirinya dan mengangguk pelan.

Hyorin memegang erat lengan Sejong yang ia pegang dengan tatapan tegang pada mayat yang terbungkus kantung berwarna hitam.

“Baiklah, saya akan membukanya..” Perawat itu membuka resleting kantung mayat berwarna hitam di depannya perlahan hingga sebatas dada.

Sejong langsung memejamkan mata sembari berpaling melihat wajah mayat di depannya di penuhi luka akibat kecelakaan.

Hyorin memalingkan wajahnya kaget karena kondisi mayat didalam sana terlalu menyeramkan.

“Apa kalian mengenalinya?” tanya Perawat tadi.

Sejong menelan ludah dan memberanikan diri memandang mayat itu lagi. Jantungnya berdegup kencang. “Bukan.. Dia bukan orang yang kami cari..” jawabnya.

Hyorin memberanikan diri memandang mayat tadi dan menghela nafas lega mengetahui itu bukan mayat adiknya.

“Syukurlah..” ucap perawat itu dan kembali menutup kantung mayat tadi.

Lorong rumah sakit.

Hyorin yang berjalan di sebelah Sejong tiba-tiba merasa kedua kakinya melemah.

Dengan sigap Sejong memegangi Hyorin agar tidak jatuh, “OH! Kak, kau baik-baik saja?”

Wajah Hyorin memucat dan keringat dingin mengalir di dahinya.

“Ayo, kita duduk..” Sejong membawa Hyorin duduk di kursi tunggu, “Kakak baik-baik saja? Perlu aku panggilkan perawat?”

Hyorin menggeleng pelan, “Aku baik-baik saja..” ucapnya pelan.

Sejong menatap Hyorin khawatir, “Kak, sudah kubilang kakak sebaiknya tunggu di rumah.”

Hyorin terdiam menatap lantai, “Bagaimana aku bisa menunggu?”

“Hyojong tidak sebodoh yang terlihat..” ucap Sejong, “Tidak akan semudah itu baginya untuk bunuh diri, dia sekarang pasti akan melepaskan rasa frustasinya terlebih dulu..”

Hyorin tertegun memandang Sejong, “Apa maksudmu?”

“Kemarin Hyojong berkata kalau dia hanya ingin menulis..” ucap Sejong, “Aku yakin dia pasti mencari tempat untuk menulis terlebih dulu. Setelah itu mungkin dia akan melaksanakan rencananya untuk bunuh diri.” Jelasnya memprediksi, “Biasanya dia akan menulis sebuah novel selama 3 minggu sampai 1 bulan, atau mungkin jika bisa lebih cepat hanya 2 minggu. Itu berarti masih ada banyak waktu untuk menemukannya.”

Hyorin mulai mengerti maksud pembicaraan Sejong, “Hyojong membawa dompetnya.” Ucapnya mengingat-ingat, “Benar.. Dia tentu tidak ingin mati sebagai mayat tanpa tanda pengenal, dia ingin kita menemukannya. Di dalam dompetnya ada uang cash dan kartu kreditku. Dia mungkin saja menggunakan kartu itu..”

Sejong mengangguk, “Kita bisa melacak dimana dia melalui kartu kredit itu.” Ucapnya setuju.

“Kita harus meminta Detektif melebarkan pencarian mereka, Hyojong pasti tidak akan pergi jauh..” ucap Hyorin.

+++

Hyojong mengerutkan dahi karena cahaya menerobos masuk ke matanya. Ia bergerak sedikit sembari melindungi mata dengan tangan, “Hmmm..” gumamnya. Matanya terbuka sedikit dan memperhatikan sekitar. Tidak ada siapa pun di sebelahnya, terdengar dentingan alat masak dari kejauhan. Ia merenggangkan tubuh dan memandang tubuhnya yang hanya di tutupi selimut. Ia bangkit duduk dan mengambil celananya di lantai, lalu menyibak selimut untuk mengenakan celana.

Sohee yang baru selesai menyiapkan makanan menoleh ketika Hyojong muncul, bibirnya langsung membentuk senyuman. “Kau sudah bangun? Makanan sudah selesai..” ucapnya dan meletakkan sup ke atas meja.

Hyojong menghampiri meja dan memperhatikan makanan yang Sohee masak.

“Aku tidak tau apa kau menyukainya, tapi kau bisa duduk dan menikmatinya..” ucap Sohee.

Hyojong mengangguk setuju dan bergerak duduk.

Sohee duduk dihadapan Hyojong dan menunggu pria itu mencicipi masakannya.

Hyojong mengambil sendok dan mengambil kuah sup, lalu mencicipinya.

Sohee menatap Hyojong ingin tau.

Hyojong mengangguk sendiri, “Tidak buruk..” ucapnya, lalu mulai makan tanpa komentar.

Sohee berusaha menahan senyumannya, “Selamat makan..” ucapnya dan mulai makan.

Hyojong mengunyah makanan sembari memperhatikan rumah Sohee, “Kau tinggal sendiri?”

Sohee mengangguk membenarkan, “Kau?”

“Aku tinggal bersama kakakku. Dia sangat cerewet..” ucap Hyojong menahan senyuman.

Sohee diam sejenak, “Senang sekali masih memiliki keluarga..” ucapnya, terdengar iri.

“Kenapa? Kau tidak punya keluarga lain?” tanya Hyojong ingin tau.

Sohee menggeleng, “Ibuku meninggal ketika melahirkanku. Ayahku meninggal bunuh diri setelah perusahaannya bangkrut 3 tahun yang lalu. Semua keluarga menjauhiku karena hutang yang ditinggalkan ayahku sangat banyak..” ceritanya.

Hyojong tersenyum lucu, “Lalu kau yang harus membayar hutang dengan bekerja dengan rentenir yang membeli surat hutang ayahmu di bank?” tebaknya.

Sohee tertegun menatap Hyojong, “Bagaimana kau tau?”

Hyojong menahan tawa, sedetik kemudian ia segera tersadar bukan saatnya tertawa. “Oh.. maaf aku tertawa..” ucapnya menyesal.

“Bagaimana kau bisa mengetahui tentang itu?” tanya Sohee ingin tau, “Apa cerita seperti itu sangat umum saat ini?”

Hyojong menggeleng, “Aku hanya menebak.. Aku juga tidak tau ternyata benar..” jawabnya santai.

Dahi Sohee berkerut, “Benarkah?”

“Hanya sekedar informasi, aku menulis puluhan novel sejak usiaku 16 tahun. Jadi sedikit banyak aku sudah bisa membaca kehidupan orang dari pengalamanku menulis..” jawab Hyojong santai.

Sohee tidak tau harus percaya atau tidak, namun ia tidak punya alasan untuk tidak percaya. “Kau penulis novel? Benarkah? Novel apa?”

Hyojong mengunyah makanan di mulutnya dan menunjuk ke tumpukan buku di dekat tempat tidur. “Salah satu novelku ada disana..” ucapnya.

Sohee menoleh ke arah Hyojong menunjuk, “Hm?” ia memandang pria itu bingung, namun ia tetap bergerak bangkit dan menghampiri tumpukan bukunya. “Buku yang mana?” ucapnya sembari mencari-cari. Tangannya berhenti pada sebuah novel dengan 150 halaman bersampul hitam dan ada gambar pria bertopeng merah. Matanya tertuju pada penulisnya, Lee H.J. Ia memandang pria tadi yang masih asik makan tak percaya.

Hyojong menyadari tatapan tak percaya Sohee, “Kenapa? Kau ingin tanda tangan?”

Sohee membawa buku tadi ke meja makan dan kembali duduk, “Ini bukumu?” tanyanya sembari memperlihatkan buku yang ia bawa.

Hyojong mengangguk, “Ini buku ketigaku..” jawabnya, “Tokoh utamanya melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali, namun malah berakhir dengan kematian orang lain yang berusaha menggagalkan percobaan bunuh dirinya.”

“Mmm.. aku tau ini sangat terlambat..” ucap Sohee pelan, “Tapi aku belum tau siapa namamu..”

Hyojong tertawa mendengar ucapan Sohee.

Sohee bingung melihat Hyojong tertawa.

“Kau bahkan sudah naik ke tempat tidur denganku, kau tidak bertanya namaku sejak awal?” tanya Hyojong lucu.

Sohee memalingkan wajahnya malu.

Hyojong berusaha mengendalikan tawanya, “Namaku Lee Hyojong..” ucapnya memberitau.

Sohee membaca nama penulis di bukunya dan tertegun memandang Hyojong.

“Lee H.J.. Lee Hyo Jong..” jelas Hyojong, “Nama yang keren untuk penulis novel kan?” tanyanya, ia menatap Sohee lekat. “Aku belum tau namamu..”

“Yang Sohee..” jawab Sohee.

Hyojong tertegun beberapa saat karena merasa pernah mendengar nama itu, “Yang Sohee?”

Sohee membuka halaman depan novel dan memperlihatkan tandatangan disana, “Aku datang beberapa kali ke acara penandatanganan bukumu..” ucapnya.

Hyojong memandang tanda tangannya yang tertera di halaman depan. Bahkan tertulis ‘To : Yang Sohee’

“Kau tidak terlihat seperti penulis yang pernah menandatangani bukuku..” ucap Sohee pelan.

Hyojong tersenyum lucu, “Ya.. Aku memang tidak terlihat seperti dulu lagi..” jawabnya.

“Aku membaca beberapa novelmu, hampir semuanya mengenai pembunuhan sadis atau bunuh diri.” Ucap Sohee pelan, “Apa kau menulis tentang dirimu sendiri?”

Hyojong berpikir sejenak, “Mmm.. sepertinya..” ucapnya sembari tersenyum dan melanjutkan makannya lagi.

Sohee menatap Hyojong dalam, “Kau benar-benar ingin bunuh diri?”

Hyojong mengangguk tanpa ragu, “Aku tidak pernah ingin melanjutkan hidupku, tapi orang-orang berusaha mempertahankannya. Aku bertahan karena aku bisa menulis apa yang ada dikepalaku, tapi sekarang aku juga tidak bisa menulis. Jadi… kenapa aku ingin tetap hidup?”

Sohee terdiam beberapa saat menatap Hyojong, “Boleh aku ikut denganmu?”

Hyojong memandang Sohee, “Jika kau ingin melakukan hal menyenangkan..”

Sohee tersenyum lebar dan mengangguk, “Aku mau..”

Hyojong tersenyum, “Kau punya laptop? Ada yang ingin kutulis..”

“Aku punya..” Sohee bangkit dan menghampiri lemarinya untuk mengambil sebuah notebook, lalu kembali ke meja makan. “Ini.. Notebook tua yang dulu kugunakan saat kuliah..”

Hyojong mengambil notebook itu, “Kau sudah lulus kuliah?” tanyanya ingin tau.

Ekspresi Sohee berubah sedih, “Pekerja di klub sepertiku tidak perlu kuliah, jadi aku berhenti..”

Hyojong mengangguk mengerti, “Tidak masalah, hidup memang sangat membosankan.” Komentarnya.

Sohee tersenyum mendengar ucapan Hyojong, “Benar..”

Pukul 6 sore.

Hyojong yang sejak siang berkutat dengan notebook mengetik sebuah cerita fiksi yang terus muncul di kepalanya mencium aroma parfum dan menoleh. Ia tertegun melihat Sohee sudah rapi dan mengenakan make up tebal. “Kau akan pergi?”

Sohee mengenakan anting yang menggantung di telinganya, “Aku harus pregi ke klub.. Jika tidak bos-ku akan datang dan menerorku.” Jawabnya, lalu berbalik memandang Hyojong. “Dia itu bukan manusia, dia iblis..” ucapnya. Satu tangannya mengambil tas tangan, “Aku akan kembali jam 1 pagi, tetaplah disini dan tulis ceritamu..” ucapnya dan berjalan ke pintu.

Hyojong memperhatikan Sohee yang mengenakan sepatu hak tinggi dan keluar dari rumah. Ia menutup notebook dan segera turun dari tempat tidur, mengambil baju luar dan keluar dari rumah. “Yang Sohee..” panggilnya mengejar langkah gadis itu.

Sohee memandang ke belakang, “Ada apa?” tanyanya bingung.

“Aku bosan di rumah, boleh aku ikut denganmu?” tanya Hyojong.

Sohee mengedip-kedipkan matanya bingung, “Hm? Ikut denganku?”

Hyojong tersenyum dan berjalan duluan, “Ayo ke klub!” ucapnya bersemangat.

Sohee menyamai langkahnya dan Hyojong, “Kau benar-benar akan ikut ke tempatku bekerja?”

Hyojong mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celana, “Aku membawa uang banyak.. Malam ini aku akan membayar untuk gadis tersexy disana..” ucapnya dan mengedipkan sebelah matanya.

Sohee menahan tawa, “Kau ingin melihat betapa sexy-nya gadis-gadis disana? Cih.. kau bisa membayar 2 sampai 3 gadis yang menurutmu sexy..” ucapnya lucu.

Hyojong kembali memasukkan dompetnya, “Jika semuanya sexy aku akan membayar mereka semua..” ucapnya.

Sohee tertawa, “Dasar mesum..”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s