Uncategorized

Suicide Boy❤ [Chapter 3]

[MV] Triple H(트리플 H) _ 365 FRESH.mp4_000064022 copy

03 —Destiny!—

Sohee berjalan pelan di trotoar dengan tatapan putus asa ke depan. Ia memeluk tubuhnya yang terus gemetaran sejak meninggalkan klub. Ia tidak bisa membawa jasad Jihye untuk di makamkan dengan layak karena Tuan Kim akan membuangnya di sebuah tempat. Dan itu membuatnya semakin membenci dirinya sendiri. Ia bahkan tidak bisa melakukan apa pun untuk Jihye yang selama ini selalu menyemangatinya. Langkahnya berhenti seiring tangis yang tak bisa ia tahan lagi. Ia menangis seorang diri disana meratapi hidupnya yang memilukan dan hidup Jihye yang sudah berakhir. Tidak ada siapa pun lagi di jalanan karena sudah pukul 3 pagi. Dari kejauhan ia melihat sebuah mobil melaju kencang. Saat itu ia berpikir, ‘Aku tidak bisa menjalaninya lagi.. Aku tidak bisa.. Aku akan mengakhirinya..’ Kakinya bergerak ke pinggir trotoar. Ia menoleh kearah mobil tadi untuk melihat jaraknya, pandangannya teralih pada seorang pria yang berdiri di pinggir jalan jauh darinya.

Hyojong berdiri di pinggir jalan menerawang ke depan. Matanya terpejam karena sinar lampu mobil yang menyilaukan matanya. Ia melindungi mata dengan tangan untuk melihat asal sinar itu. Setelah membiasakan matanya dengan cahaya itu, ia langsung melangkah ke tengah jalan.

Sohee terkejut melihat pria itu berjalan ke tengah jalan.

Pengemudi mobil segera menyadari ada seseorang di tengah jalan dan menginjak rem sedalam yang ia bisa.

CKIIIIIIIIT!!!

Sohee memejamkan mata tidak ingin menyaksikan kecelakaan itu.

Mobil berhenti beberapa senti sebelum mengenai Hyojong.

Hyojong menatap mobil itu tanpa ekspresi.

Setelah beberapa detik Sohee kembali membuka matanya karena tidak mendengar apa pun.

Sang supir mobil keluar dengan wajah marahnya, “Hei!! Kau sudah gila?!” semburnya, “Jika ingin bunuh diri jangan di depan mobilku!!!” teriaknya. Namun Hyojong tidak memberikan respon apapun, membuatnya semakin emosi. “Aisssh!!” ia menarik kerah baju pria itu dan melayangkan tinjunya.

Duak!!

Hyojong terjerembab ke jalanan.

Supir itu kembali menarik kerah Hyojong dan memukuli wajahnya berkali-kali.

Duak! Duak!! Duak!!

Sudut bibir Hyojong berdarah, mata kirinya juga membengkak akibat pukulan tadi. Giginya yang putih berlumuran cairan merah. Ia meringis merasakan nyeri itu, namun tak lama ia mulai tertawa.

Supir tadi tertegun melihat Hyojong malah tertawa.

Hyojong tertawa geli sembari memegang perutnya di aspal.

Supir tadi melirik kanan dan kiri, ia terkejut melihat Sohee berdiri di kejauhan. Ia segera mundur dan kembali masuk ke mobilnya. Ia memutar arah mobil dan memacunya pergi.

Sohee memperhatikan Hyojong yang masih terbaring di aspal, ‘Apa dia mati?’ batinnya tak percaya. Ia menghela nafas lega melihat pria itu masih bergerak.

Hyojong bergerak duduk perlahan masih sambil tertawa geli.

Sohee berjalan cepat menghampiri pria itu, “Tuan, anda baik-baik saja?” tanyanya.

Hyojong memandang Sohee.

Sohee terkejut melihat wajah babak belur Hyojong, “Wajahmu..”

Hyojong tersenyum lebar, satu tangannya bergerak ke belakang kepala Sohee dan menarik gadis itu ke arahnya.

Mata Sohee membesar merasakan bibirnya menyentuh bibir pria yang baru ia temui itu. Dengan cepat ia mendorong pria itu sembari menyeka bibirnya, ia bisa merasakan asin darah di mulutnya. Tangannya tanpa sadar bergerak menampar Hyojong.

PLAK!!

Wajah Hyojong  menghadap satu sisi. Ia mulai tertawa lagi.

Sohee menatap Hyojong tak mengerti.

Hyojong memandang Sohee, “Bibirmu cantik sekali..” ucapnya, “Boleh aku menciumnya sebelum mati?”

Sohee tau seharusnya ia memukul Hyojong atau segera melarikan diri. Namun tatapan pria itu membuatnya tidak beranjak. Tatapan penuh penderitaan dan putus asa.

Tangan Hyojong bergerak ke belakang leher Sohee dan mendekati wajah gadis itu lagi.

Sohee tidak tau apa yang membuatnya tidak melawan. Ia tau mungkin ia akan menyesali kejadian hari ini, namun ia tidak ingin pergi sekarang. Matanya terpejam merasakan bibir pria itu dengan lembut menyentuh bibirnya. Tangannya bergerak ke baju pria itu dan mencengkeramnya erat. Ia membalas ciuman lembut itu tanpa mempedulikan rasa asin darah yang terasa dari mulut Hyojong.

+++

Hyojong menatap Sohee membersihkan luka di sudut bibirnya dengan alcohol. Mata kirinya membengkak.

Sohee mengambil plester dan menempelkannya di sudut bibir Hyojong, ia memperhatikan ekspresi pria itu tak mengerti. “Tidak sakit?”

“Sakit..” jawab Hyojong.

Sohee membereskan kotak P3K-nya dan bangkit untuk meletakkan benda itu di tempatnya semula.

Hyojong mengedarkan pandangannya memperhatikan rumah Sohee.

Sohee kembali dengan dua gelas teh hangat, “Ini, minumlah..” ia memberikan segelas pada Hyojong.

Hyojong menerima gelas itu dan menyeruputnya sedikit.

Sohee duduk di sebelah Hyojong dan menatap pria itu ingin tau.

Hyojong memandang Sohee, menunggu gadis itu berbicara.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu..” ucap Sohee.

“Apa?” Tanya Hyojong ingin tau.

Sohee mengingat kejadian di jalanan tadi, “Tadi.. kenapa kau malah tertawa setelah di pukul?”

Hyojong diam sejenak, tak lama bibirnya membentuk senyuman. “Aku menyukai rasa sakit..” jawabnya.

Dahi Sohee berkerut, “Menyukai rasa sakit?”

Hyojong mengangguk, “Aneh kan?” tanyanya lucu.

Sohee tampak bingung untuk berbicara, “Mmm.. kenapa kau menyukainya?”

“Hanya… menyukainya..” jawab Hyojong, “Ketika merasakan rasa sakit, aku menjadi sangat puas. Berharap dengan rasa sakit itu, aku akan segera mati..”

Sohee tertegun, “Apa tadi kau berencana bunuh diri?”

Hyojong menahan tawa, “Hanya rencana, tapi tidak berhasil..” jawabnya dan meminum teh di gelasnya, lalu meletakkan benda itu ke meja. “Aku akan pergi sekarang..” ucapnya sembari bangkit.

Sohee menahan Hyojong agar tidak bangkit.

Hyojong memandang Sohee.

Sohee menatap kedua mata Hyojong, “Mati sendirian bukankah sangat menyedihkan?” tanyanya, “Bagaimana jika kita mati bersama?”

Hyojong terdiam beberapa saat, bibirnya membentuk senyuman. “Itu bukan hal yang buruk..”

Sohee meletakkan gelas di meja tanpa memalingkan pandangannya dari mata Hyojong, “Sebelum mati, aku juga memiliki permintaan sepertimu tadi. Apakah bisa?”

Hyojong tersenyum lucu, “Permintaan? Apa itu?”

Sohee menatap kedua mata Hyojong dalam, kedua tangannya bergerak ke wajah pria itu dan menciumnya dalam.

Hyojong menyambut ciuman itu. Tangannya memegang rahang Sohee untuk memperdalam ciuman mereka.

Sohee bergerak perlahan ke pangkuan Hyojong dan melanjutkan ciuman panas mereka.

+++

Sejong bergerak sedikit dan merentangkan tangan, dahinya berkerut tidak merasakan siapa pun di sebelahnya. Matanya terbuka dan menoleh ke samping. Hyojong tidak ada. Matanya membesar dan terlonjak kaget, “Hyojong!! Lee Hyojong!!” panggilnya, namun tidak ada jawaban. Ia segera mencari ke toilet, tetap tidak ada. “Lee Hyojong!” ia keluar dari kamar mencari sepupunya.

Hyorin keluar dari kamarnya, “Ada apa?! Kenapa kau berteriak di pagi buta seperti ini?!” tanyanya panik.

Sejong menatap Hyorin panik, “Hyojong…”

Hyorin tertegun, “Ada apa dengan Hyojong?”

Di tempat lain.

Hyojong berbaring di tempat tidur tanpa sehelai pakaian di tubuhnya, ia berada di bawah selimut yang sama dengan Sohee yang berbaring di sebelahnya. Ia menatap gadis di sisinya.

Sohee yang menelungkup di tempat tidur membuka matanya perlahan. Punggung mulusnya terekspos karena tidak tertutup selimut.

Hyojong tersenyum, tangannya terulur ke rambut gadis itu. “Ini permintaanmu sebelum mati? Berhubungan sex?”

Sohee menggeleng pelan, “Aku ingin merasakan hubungan intim yang manusiawi..” jawabnya.

Hyojong menatap Sohee beberapa saat, “Manusiawi?”

“Jika kau tau siapa aku, mungkin kau menyesal telah melakukan sex denganku..” ucap Sohee.

“Benarkah? Memangnya kau siapa?” Tanya Hyojong.

“Aku penari telanjang di klub..” jawab Sohee, “Terkadang aku juga melayani tamu.. atau di perkosa bos-ku..” matanya mulai berkaca-kaca, “Tapi sekarang, aku ingin semuanya berakhir, aku akan mati..”

Hyojong hanya diam menatap Sohee.

Sohee menatap Hyojung menyesal, “Maaf, seharusnya aku tidak melakukannya denganmu..” ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis.

“Bisa kita lakukan lagi?” Tanya Hyojong.

Sohee tertegun, “Hm?”

Hyojong mengelus rambut Sohee sembari memajukan wajahnya lebih dekat dengan gadis itu, bibirnya membentuk senyuman. “Ayo kita lakukan lagi..”

Sohee menatap kedua mata pria itu, “Karena kau tau aku pelacur?”

Hyojong mencium pipi Sohee, lalu menatap gadis itu dalam. “Aku ingin melakukan sex yang ‘manusiawi’ denganmu..”

Sohee tersenyum lucu, lalu mengulurkan tangannya ke leher Hyojong.

Hyojong menyambut Sohee dengan ciuman hangatnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s