Uncategorized · Chapter · Cube · Story

Suicide Boy❤ [Chapter 2]

[MV] Triple H(트리플 H) _ 365 FRESH.mp4_000064022 copy

02 —Let’s Die Now—

Jihye memasuki toilet perempuan dan mencari-cari seseorang, ia menemukan Sohee di salah satu bilik dengan sebatang rokok di tangan gadis itu.

Sohee menghembuskan asap rokok mulutnya dan memandang Jihye di ambang pintu toilet.

Jihye menatap Sohee sedih, “Sohee, kau baik-baik saja?” tanyanya.

Sohee menghisap rokok di tangannya sedalam yang ia bisa, lalu menghembuskannya lagi.

Jihye mengambil rokok dari tangan Sohee, “Sohee…” pintanya.

Sohee terdiam beberapa saat, “Melayani tamu tidak seburuk itu..” gumamnya tanpa memandang Jihye.

Jihye menatap Sohee iba, lalu menghisap batang rokok di tangannya.

Sohee sangat jijik pada dirinya sendiri. Ia benci dengan hidupnya. Di usianya yang ke 23 ia harus menjadi penari telanjang di sebuah klub akibat hutang mendiang ayahnya. Ia di perkosa oleh bosnya, Tuan Kim, ketika pertama kali datang ke tempat itu 3 tahun yang lalu. Meskipun ia tidak mau, ia juga harus menjual tubuhnya untuk memuaskan nafsu pria-pria hidung belang yang datang.

Jihye  menjatuhkan batang rokok ke lantai dan menginjaknya hingga mati, “Sohee, bagaimana jika kita kabur saja?”

Sohee tertegun mendengar ucapan Jihye.

“Ayo kita kabur! Kita pergi ke tempat yang jauh! Jika perlu keluar negeri! Agar rentenir gila itu tidak akan menemukan kita!” ucap Jihye bersungguh-sungguh.

Di depan toilet, Melanie yang masuk mendengar suara Jihye. Ia mengintip ke dalam memastikan siapa yang ada di dalam.

“Kita bisa memulai hidup kita yang baru! Jauh dari tempat terkutuk ini! Tidak ada pria-pria yang akan menggunakan kita untuk memuaskan hasrat mereka!” ucap Jihye lagi.

Sohee memalingkan wajahnya, “Kau sudah gila?”

“Benar! Aku memang sudah gila!!” ucap Jihye frustasi, “Aku harus membayar hutang ayah tiriku yang tukang mabuk itu! Kenapa aku harus melakukannya?! Aku bahkan bukan putrinya, aku tidak ingin hidup seperti ini lagi!”

Sohee bangkit dan memegang kedua bahu Jihye, “Sohee, jangan memikirkan hal seperti ini lagi! Kau mengerti?! Jika bos tau dia akan sangat marah!”

Jihye menatap Sohee tak mengerti, “Lalu kau ingin terus seperti ini? Menerima takdir yang sangat kejam pada kita?”

Sohee memandang ke bawah, “Seperti yang kau katakan, kita tidak punya pilihan.” Ucapnya, lalu menatap Jihye dalam. “Siapa yang akan memperkerjakan PSK seperti kita? Kita ini sampah masyarakat, Jihye!”

Jihye mendorong Sohee, “Siapa yang sampah masyarakat? Meskipun kita pelacur, bukankah kita tetap manusia?! Kita bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup kita kan?!”

“Son Jihye!!” tegas Sohee.

“Kesempatan kedua?”

Sohee dan Jihye spontan menoleh dan terkejut melihat Tuan Kim sudah berdiri di ambang pintu dengan senyuman sinisnya.

Jihye menunduk ketakutan karena ucapannya di dengar oleh bos mereka.

Sohee langsung melindungi Jihye dengan tubuhnya, “Bos.. Jihye hanya mengatakan omongan kosong! Dia pasti sudah mabuk!”

Tuan Kim bergerak maju.

Sohee dan Jihye menahan nafas ketika bos mereka mendekat, “B-bos..”

“Son Jihye..” panggil Tuan Kim.

Jihye tidak berani mengangkat wajahnya. Kedua tangannya saling tergenggam erat. Matanya bergerak-gerak panik.

“Bos..” Pinta Sohee.

Tuan Kim menatap Sohee, “Kau ingin menyingkir atau mati?” ancamnya.

Tubuh Sohee gemetaran mendengar ancaman Tuan Kim. Ia memandang ke bawah dan menggeser tubuhnya.

Tuan Kim maju selangkah dan mengulurkan tangannya ke pipi Jihye, “Son Jihye…”

Jihye memejamkan mata merasakan sentuhan Tuan Kim di pipinya.

“Kau benar, semua manusia memiliki kesempatan kedua..” ucap Tuan Kim, lalu senyuman sinis muncul di wajahnya. “Tapi kau tidak..” lanjutnya, “Karena semua gadis yang bekerja disini, adalah hewan peliharaanku..”

Sohee tertegun mendengar ucapan Tuan Kim.

Tangan Tuan Kim bergerak ke leher Jihye dan mencekiknya.

“Ahk!” Jihye terkejut mendapatkan cekikan dari Tuan Kim.

Mata Sohee membesar, “Bos!! Bos!! Kumohon hentikan!!!” serunya sembari berusaha melepaskan tangan Tuan Kim.

Dengan satu dorongan, Tuan Kim membuat Sohee terpelanting ke belakang.

Kepala Sohee membentur klosed dan kehilangan kesadarannya.

Mata Jihye melotot, “Sohee!!”

Tuan Kim memperkuat cekikannya, “Kau tidak dalam kondisi bisa mengkhawatirkan orang lain!” ucapnya, lalu menarik leher Jihye keluar dari toilet.

+++

Hyojong menatap layar tv di kamarnya tanpa ekspresi. Kamarnya sudah di renovasi oleh Hyorin. Seluruh permukaan dinding sudah di lapisi dengan bantalan tebal, tidak ada alat tajam atau apa pun yang bisa ia gunakan untuk melukai dirinya sendiri.

Sejong yang duduk di sebelah Hyojong di tempat tidur melirik sepupunya itu, “Sudah jam makan obat..”

“Aku tau..” jawab Hyojong.

Sejong mengambil pil dari botol dan segelas air putih yang sudah di sediakan disana, lalu menyodorkannya pada Hyojong. “Ini, minumlah.. Sudah malam, kau harus tidur..”

Hyojong mengambil pil dan memasukkannya ke mulut, lalu mengambil gelas untuk mendorong pil itu.

Sejong bergerak turun dari tempat tidur bersama gelas kosong, “Tidurlah..” ia mematikan tv dan memandang sepupunya yang masih duduk di tempat tidur. “Aku menyuruhmu tidur..”

Hyojong memandang pintu kamarnya, “Hyorin tidak mengucapkan selamat tidur?”

“Sudahlah, biarkan kakakmu beristirahat. Mengurusimu lebih sulit dari orang tua, kau tau?” ucap Sejong mengingatkan.

Hyojong tersenyum lucu, “Kenapa dia tidak datang? Apa dia tidak takut kalau ternyata  besok pagi aku tidak bangun lagi?”

“Hei!!” seru Sejong kesal.

Hyojong tertawa, “Hyorin!! Aku mati besok!! Kemarilah!!” teriaknya.

“Lee Hyojong!            “ tegas Sejong kesal.

Hyojong memandang Sejong lucu, “Aku tidak bisa menulis, juga tidak bisa mati. Lalu apa yang harus kulakukan?”

Sejong berusaha menahan diri. Tangannya yang tidak memegang gelas tergenggam erat, “Tidurlah..” ucapnya, lalu berjalan ke pintu. Langkahnya terhenti melihat Hyorin muncul di ambang pintu.

Hyojong tersenyum lebar melihat Hyorin, “Dan ini gadis yang kutunggu..”

“Kak Hyorin, kembalilah ke kamarmu. Dia sudah minum obat dan akan segera tidur..” ucap Sejong.

Hyorin menatap Hyojong tanpa ekspresi, “Sejong, tolong temani Hyojong malam ini..” ucapnya.

“Hm? Oh.. baiklah..” ucap Sejong mengerti.

Hyorin melangkah masuk mendekati Hyojong.

“Kak..” Sejong menahan tubuh Hyorin.

Hyorin mendorong tangan Sejong dan menghampiri Hyojong.

Hyojong mendongak memandang Hyorin dengan senyuman manisnya, “Apakah ada ciuman selamat tidur untukku? Boleh yang sedikit hot?”

“Lee Hyojong!” tegas Sejong.

Hyorin membungkuk dan mendaratkan kecupan ke bibir Hyojong.

Sejong terpaku melihat kedua kakak adik itu berciuman.

Hyorin menatap Hyojong tanpa ekspresi, “Tidurlah..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan keluar.

Hyojong mengerutkan hidungnya kecewa, “Yang sedikit hot, dong..” ucapnya sebal sembari berbaring di tempat tidur.

Sejong segera mengikuti Hyorin keluar dari kamar Hyojong, “Kak..” panggilnya.

Hyorin berhenti dan menghembuskan nafas panjang.

“Kenapa kau melakukannya?” Tanya Sejong tak mengerti.

Hyorin mengedip-kedipkan matanya agar air mata tidak berjatuhan, lalu berbalik menatap Sejong. “Hyojong hanya ingin membuatku kesal, ia ingin aku lepas kendali dan memukulnya. Itu yang ia inginkan, rasa sakit..”

“Iya, aku tau.. Tapi… menciumnya.. bukankah itu tidak perlu?” Tanya Sejong tak habis pikir.

Hyorin menatap Sejong, “Kau tidak akan mengerti..” ucapnya, “Aku akan melakukan apa pun selama tidak membahayakan hidup Hyojong..” lanjutnya, lalu memalingkan wajah. “Kumohon temani dia malam ini, aku harus menemui seseorang..” ia segera melangkah ke kamar.

Sejong mengelus belakang kepalanya, “Lee Hyojong, kau benar-benar..” gumamnya, lalu berjalan ke dapur untuk meletakkan gelas kosong.

Di kamar Hyojong.

Sejong berbaring di sebelah Hyojong sembari memandangi langit-langit kamar. Matanya melirik pria yang berbaring membelakanginya. Ia menghela nafas dalam dan memejamkan mata.

Hyojong memandang kegelapan, “Sejong..”

Mata Sejong terbuka dan memandang Hyojong, “Kau belum tidur?”

“Bisakah kau menjaga Hyorin?” Tanya Hyojong.

Dahi Sejong berkerut, “Kenapa? Kau berpikir untuk bunuh diri lagi?” tanyanya sebal.

Hyojong diam sejenak, “Aku hanya ingin menulis..” ucapnya.

“Kau penulis yang baik, Hyojong. Kau sudah mengeluarkan novel-novel luar biasa yang di cintai masyarakat.” Ucap Sejong, “Tapi apa yang kau tulis terlalu mengerikan. Pembunuhan, pemerkosaan dan mutilasi. Kenapa kau tidak menulis cerita cinta saja?”

Hyojong tersenyum lucu, “Kenapa harus cerita cinta?”

Sejong menatap punggung Hyojong dalam, “Aku tau kau sangat menyukai tulisanmu. Aku mengerti kau hanya ingin mengerluarkan apa yang ada dipikiranmu.” Ucapnya mengerti, “Tapi aku juga mengerti perasaan kak Hyorin yang khawatir dengan mentalmu. Dokter juga berkata kau sebaiknya tidak menulis lagi. Semua yang kau tulis hanya akan membuatmu semakin gila..”

Senyuman Hyojong pudar perlahan. Tatapannya menerawang jauh, “Karena kejadian itu selalu terputar di kepalaku. Aku tidak bisa memikirkan hal lain..”

Sejong mengulurkan tangannya ke punggung Hyojong, “Hei brother.. Kau hanya perlu menemui psikolog dan menerima terapi. Setelah itu kau bisa menulis apa pun yang kau mau lagi..” ucapnya, namun tidak ada jawaban. “Hyojong?” ia mendengus kesal mendengar dengkuran halus dari sepupunya itu. “Aissh! Anak ini..” gumamnya.

+++

Sohee bergerak sedikit dan merasakan nyeri di belakang kepalanya, “Ahhh..” rintihnya sembari memegang belakang kepalanya. Ia membuka mata dan memperhatikan sekitar, dahinya berkerut menyadari ia terbaring di lantai di kamar mandi. Setelah beberapa detik ia kembali teringat apa yang terjadi sebelumnya, ia segera bangkit dan berlari keluar dari toilet. Klub sudah sepi. Dengan panik ia mencari Jihye ke seluruh ruangan yang ada disana. “Son Jihye!” panggilnya, “Son Jihye!!”

Melanie keluar dari sebuah ruangan karena mendengar teriakan Sohee.

Sohee tertegun melihat Melanie, “Melanie! Dimana Jihye?! Kau tau kan dimana dia?!”

Melanie tersenyum sinis, “Jihye? Kau bertanya padaku?”

Sohee terdiam beberapa saat, “Kau… Kau yang memanggil bos kan?!” tuduhnya.

“Mungkin iya, mungkin tidak..” jawab Melanie.

Sohee mengepalkan kedua tangannya kesal, “Melanie!”

Melanie tertawa sinis, “Tidak perlu berseru, dia ada di ruangan bos..” ucapnya.

Mata Sohee membesar dan segera berlari. Ia langsung membuka pintu ruangan Tuan Kim, namun tidak ada siapa pun disana. “Son Jihye!! Son Jihye!!” panggilnya sembari masuk. Matanya melotot menemukan Jihye tergeletak di bawah meja dengan tubuh babak belur dan tanpa sehelai benang pun menutupi kulitnya. “Jihye..” ucapnya menahan tangis. Ia membuka baju luarnya dan menutupi tubuh Jihye. Darah berserakan di lantai, “Jihye… Jawab aku.. Son Jihye..” panggilnya sembari mengguncang tubuh gadis itu. Namun tidak ada respon. Bulir air matanya berjatuhan dan menangis tersedu-sedu menyadari temannya itu telah meninggal karena siksaan Tuan Kim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s