Chapter · Cube · Story · Uncategorized

Suicide Boy❤ [Chapter 1]

[MV] Triple H(트리플 H) _ 365 FRESH.mp4_000064022 copy

01 —I Hate This Life!—

Cast :

Lee Hyojong = E’Dawn

Yang Sohee = Hyuna

Shin Inho = Hui

“Yang Sohee! Kau tidak mendengar panggilan bos?!!” Teriak Melanie dari pintu ruang ganti.

Sohee yang terpaku di depan cemin menoleh. Make up-nya sedikit luntur setelah menari selama tiga jam lebih.

Melanie melipat kedua tangan di dada mentapa Sohee kesal, “Apa?! kau melotot padaku?!”

Sohee memutar bola matanya kesal, lalu bergerak bangkit dan berjalan melewati Melanie keluar dari ruang ganti. Musik terdengar bergema di lorong tempatnya bekerja sebagai penari. Kebulan asap rokok memenuhi ruangan dari para pria yang sedang berkencan dengan penari-penari disana.

“Yang Sohee, kau di panggil bos lagi?” Tanya Jihye sembari mengikuti rekan kerjanya itu.

Sohee hanya terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan Jihye.

Jihye menghembuskan nafas frustasi, “Sampai kapan kau akan bertahan seperti ini? Orang-orang seperti kita tidak punya banyak pilihan, kau tau?”

Sohee berhenti dan menatap Jihye.

Jihye berhenti dan memandang ke bawah menyesal.

Sohee memalingkan wajah dan kembali berjalan menuju ruangan bos.

Jihye hanya bisa memperhatikan Sohee pergi.

Ruangan Tuan Kim.

Tuan Kim memijat dahinya setelah Sohee duduk di hadapannya, lalu menatap gadis itu tak mengerti. “Sebenarnya apa maumu, Yang Sohee?!”

Sohee dengan wajah tanpa ekspresi hanya duduk tanpa memberi respon apa pun.

“Ini tidak seperti kau remaja yang baru datang kemari untuk bekerja! Kau juga pernah melayani tamu yang tertarik padamu! Lalu apa sekarang?! Kenapa kau berlaku seperti ini?! Kau ingin menghancurkan bisnisku?!” Tanya Tuan Kim marah.

Sohee tetap tidak mengatakan apa pun.

Tuan Kim yang emosi mengambil pajangan meja ang terbuat dari kayu dan melemparkannya ke arah Sohee.

DUAK!

Pajangan itu mengenai wajah Sohee. Ia meringis sesaat dan memejang pipi kirinya yang terasa nyeri.

“Kau ingin bermain sok suci ha?!” Tanya Tuan Kim marah, ia bergerak bangkit dan menghampiri Sohee. Dengan kasar ia menarik gadis itu dari kursi dan mendorongnya ke sofa. “Oke! Kita lihat sesuci apa kau malam ini!” ia membuka baju sexy yang dikenakan gadis itu sembari menciumi leher jenjangnya

Sohee memejamkan matanya menahan tangis. Ia ingin melawan namun tidak punya keberanian untuk itu.

+++

Hyojong menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi. Rambut dan tubuhnya masih basah setelah mandi. Tatapannya memperlihatkan betapa putus asanya ia. Tangannya membuka lemari untuk mengambil bungkus rokok dan pemantik api, juga mengeluarkan sebatang rokok. Ia menyelipkan benda itu di antara bibirnya, lalu dengan pemantik api menyalakan rokok. Asap langsung mengepul dari mulutnya. Ia menghisap rokok itu dalam dan menghembuskannya.

Klek!

Hyojong menghisap rokoknya sembari menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka, lalu menghembuskan asapnya.

Di ambang pintu, berdiri seorang gadis berusia akhir 20-an menatap Hyojong marah. Ia melangkah masuk dan merebut rokok di tangan pria itu, lalu melemparkannya ke wastafel dan menyalakan air untuk mematikan benda itu.

Hyojong hanya memandangi rokoknya yang telah di basahi air.

Gadis itu menatap Hyojong lagi, “Kau benar-benar, Hyojong! Sampai kapan kau akan meneruskan kegilaanmu ini?!!” serunya.

Hyojong memandang gadis itu dengan wajah tidak berdosa, “Kau masuk ke kamar mandi ketika aku telanjang seperti ini, siapa yang lebih gila?”

Gadis itu, Hyorin, yang tidak lain adalah kakak Hyojong mendengus kesal dan mengambil handuk baju, lalu memberikannya pada Hyojong. “Ini tidak seperti ada yang tidak kuketahui dari tubuhmu..” ucapnya.

Hyojong mengenakan handuk baju itu.

Hyorin menarik handuk baju yang dikenakan adiknya dan membawa pria itu keluar dari kamar mandi, “Kenakan baju tidurmu, minum obat dan langsung tidur!”

Hyojong menghela nafas dalam dan mengambil piayama berwarna biru di tempat tidur, juga mengambil celana dalam yang telah di siapkan. Matanya melirik Hyorin yang tidak beranjak dari sisinya, “Aku akan mengenakan ini, kau akan menonton disana?”

“Iya, aku akan tetap disini..” jawab Hyorin.

Hyojong mengangguk mengerti dan dengan santai membuka handuk bajunya, lalu mengenakan celana dalam dan piayamanya.

Hyorin mengambil handuk baju Hyojong dan menghampiri bufet di sebelah tempat tidur, “Minum obatmu..” ucapnya sembari mengambil pil dari botol dan segelas air, ketika berbalik ia terkejut tiba-tiba Hyojong memegang belakang rahangnya dan mencium bibirnya. Ia menendang kaki pria itu dengan tenang.

Hyojong terlonjak ke belakang akibat tendangan Hyorin hingga terduduk di pinggir tempat tidurnya.

Hyorin menatap Hyojong marah, “Kau akan menggunakan cara ini lagi?” tanyanya dingin.

Hyojong tertawa, “Kau tidak seru..”

Hyorin menyodorkan pil berwarna putih pada Hyojong, “Ini..”

Hyojong mengambil pil itu dan memasukkannya ke mulut, lalu mengambil gelas untuk mendorong obat itu.

“Tidurlah..” Hyorin meletakkan gelas tadi ke meja dan berjalan pergi.

Hyojong menahan tangan Hyorin dan menatap gadis itu, “Apa kita tidak akan melewati malam yang hot setelah kau melihat tubuhku?”

Hyorin menyentak tangan Hyojong, “Hentikan kegilaanmu Hyojong!”

Hyojong tersenyum, “Jika begitu, kenapa kau tidak memberikan laptopku lagi? Atau buku juga boleh..”

Hyorin mendorong dahi Hyojong agar berbaring, “Tidurlah..” ucapnya cuek dan berjalan pergi.

Hyojong tertawa sendiri di tempat tidur.

Hyorin menjemurkan handuk baju tadi di kamar mandi dan berjalan ke pintu. Ia melirik Hyojong yang sudah berbaring di tempat tidur sebelum keluar dari kamar adiknya, rona sedih muncul diwajahnya. Ia segera memalingkan wajah dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.

+++

Sohee berjalan sempoyongan keluar dari klub ketika jam menunjukkan pukul 4 pagi. Satu tangannya memegang botol bir berwarna coklat.

Jihye yang menunggu di depan gang dekat klub segera menghampiri rekan kerjanya itu, “Oh! Sohee!”

Sohee menenggak bir di tangannya hingga tumpah ke pipi dan bajunya.

“Sohee!” Jihye dengan sigap menahan tubuh Sohee yang bergoyang, “Kau baik-baik saja? Bos melakukan ‘itu’ lagi padamu?” tanyanya khawatir.

Sohee berusaha menyadarkan dirinya dan memandang Jihye, “Memperkosaku?” tanyanya mabuk.

Jihye menatap Sohee sedih, “Sohee..”

Sohee memalingkan wajahnya, “Bukankah kita ‘orang-orang’ yang tidak punya pilihan?” ucapnya pelan.

Jihye memeluk Sohee, “Aku tau kau tidak suka melakukan ini.. Aku juga..” ucapnya sedih, “Tapi hanya ini yang dapat kita lakukan untuk hidup dan membayar hutang keluarga kita..” suaranya bergetar menahan tangis.

Sohee menghela nafas dalam, lalu mendorong Jihye. “Menjauh dariku..” ucapnya dingin, lalu berjalan sempoyongan lagi meninggalkan tempat itu. Ia menenggak bir di dalam botolnya, berharap apa yang terjadi hari ini hanya mimpi buruk dan ia akan terbangun dari semua mimpi buruk ini nanti.

Ia kembali ke rumah kecil yang ia tinggali seorang diri. Begitu masuk ia langsung menuju tempat tidur dan membanting tubuhnya disana. Matanya terpejam melepaskan lelah dan efek dari alcohol yang ia konsumsi tadi. Namun bayangan apa yang dilakukan Tuan Kim padanya tadi kembali terbayang di pelupuk matanya. Matanya terpejam erat dan memegang kepalanya, di sudut matanya mengalir bulir air. Ia sangat benci apa yang telah terjadi. Ia sangat membenci dirinya. Matanya terbuka dan menatap langit-langit beberapa saat, lalu bangkit dan masuk ke kamar mandi. Tangannya menyalakan shower dan duduk di bawahnya. Membiarkan air membasahi tubuhnya. Ia memejamkan mata dan menutup kedua telinganya.

+++

Hyojong duduk termenung di meja makan.

Hyorin yang duduk di hadapan adiknya menatap pria muda itu, “Lee Hyojong, habiskan makananmu..” ucapnya.

Hyojong memandang kakaknya, “Aku tidak mau..”

Hyorin menghela nafas dalam dan mengambil piring Hyojong, “Ya sudah, kau tidak akan makan sampai besok pagi..” ucapnya.

Hyojong tersenyum, “Aku tidak akan makan lagi kok..” ucapnya.

Hyorin terdiam beberapa saat, lalu menatap Hyojong kesal.

Terdengar pintu depan terbuka dan seorang pria masuk. “Kalian disini?” sapanya begitu menemukan kedua orang itu di ruang makan.

Hyojong menoleh, “Oh.. Sejong, kau datang..”

Hyorin mengembalikan piring Hyojong dan bergerak bangkit, “Terserah kau mau makan atau tidak..” ucapnya sembari berjalan pergi.

Pria bernama Sejong itu memperhatikan Hyorin pergi dan duduk di kursi yang gadis itu tinggalkan, “Kau membuatnya kesal pagi-pagi, dasar..”

Hyojong tertawa kecil, “Dia selalu kesal padaku..”

Sejong menghembuskan nafas panjang, “Makanlah makananmu, kak Hyorin sudah memasaknya untukmu..”

“Aku tidak selera makan..” jawab Hyojong santai.

Sejong mengambil sendok dan memberikannya ke tangan Hyojong, “Jangan berkata seperti itu, kau harus makan!” tegasnya.

Hyojong memandang sendok di tangannya, “Kenapa sendok tidak ada sudutnya?” tanyanya seperti tidak mendengar perintah Sejong.

“Hyojong!” tegas Sejong.

Hyojong tersenyum dan menyendokkan makanannya, “Kenapa repot-repot memasakanku makanan jika bisa membiarkanku saja..” gumamnya dan mulai makan.

Sejong menatap Hyojong sedih, “Hyojong..”

Hyojong mengunyah makanan di mulutnya dan memandang Sejong, “Kemarin Hyorin masuk ke kamar mandi ketika aku belum mengenakan apa pun. Apa aku sama sekali tidak terlihat seperti seorang pria?” tanyanya lucu.

“Lebih baik melihat tubuhmu, dari pada melihat mayatmu..” jawab Sejong.

“Eiii.. mayatku juga belum tentu seburuk itu..” ucap Hyojong santai.

“Hei!” hardik Sejong.

Hyojong tersenyum lucu, “Apa? Kau yang memulai pembicaraan tadi..”

Sejong berusaha menahan dirinya. Urat di lehernya sampai menyembul keluar, “Lee Hyojong, aku mengerti kau memiliki waktu yang sangat berat. Tapi kenapa kau tidak pernah memikirkan Kak Hyorin? Sekali saja!” pintanya.

Senyuman Hyojong menghilang perlahan karena ucapan Sejong.

“Hanya kau yang kak Hyorin miliki setelah orang tua kalian meninggal, kenapa kau tidak bisa membuatnya tenang?” Tanya Sejong.

Wajah Hyojong berubah dingin, “Karena aku membenci Hyorin..”

Sejong mengepalkan tangannya menahan emosi, “Lee Hyojong..”

“Aku juga membencimu, Lee Sejong..” ucap Hyojong lagi.

Sejong mengambil gelas di meja dan menyiram seluruh isinya ke wajah Hyojong.

Hyojong memejamkan mata merasakan semburan air itu. Sedetik kemudian ia tersenyum dan memandang Sejong lucu. “Padahal aku berharap kau melemparkan gelas itu ke wajahku..”

Sejong memejamkan mata menahan emosi dan menghela nafas dalam.

Hyojong mengambil serbet dan menyeka air di wajahnya, lalu bergerak bangkit. “Aku sudah selesai..” ucapnya, lalu berjalan meninggalkan ruang makan. Ia berpapasan dengan Hyorin yang mendengarkan pembicaraannya dan Sejong.

Hyorin menatap Hyojong sedih. Kedua matanya tampak di genangi air.

Hyojong tersenyum melihat kakaknya, “Kenapa? Kau tau aku tidak pernah menyukaimu..” ucapnya lucu, ia bergerak maju menghampiri Hyorin. Satu tangannya memegang belakang kepala gadis itu dan mencium dahinya, lalu menatapnya lagi. “Kau jelek sekali ketika melotot..” ucapnya lucu, lalu berjalan ke kamar.

Bulir air mata Hyorin berjatuhan ke pipinya.

Sejong menghampiri Hyorin dan merangkulnya, “Hei..”

Hyorin menyeka air matanya dan tersenyum memandang Sejong yang tak lain adalah sepupunya, “Kau sudah sarapan?”

Sejong menatap Hyorin, “Tidak perlu berpura-pura kuat kak, kau bisa bersandar padaku..”

Pertahanan Hyorin runtuh. Ia memalingkan wajah ketika bulir air berjatuhan lagi.

Sejong melirik ke arah Hyojong pergi tadi, lalu memandang Hyorin. “Kakak bisa istirahat hari ini.. Aku akan mengawasi Hyojong..”

Hyorin menyeka air matanya sembari mengangguk, “Terima kasih, Sejong..”

Sejong tersenyum, “Jangan mendengarkan ucapan Hyojong, apa yang ia ucapkan tadi adalah kebalikan dari apa yang ada di hatinya. Dia sangat menyanyangimu, kakak tau kan?”

Hyorin tersenyum tipis, “Kuharap..”

“Istirahatlah ke kamarmu, aku akan mengikuti Hyojong..” ucap Sejong.

Hyorin mengangguk lagi.

Sejong mengelus bahu Hyorin, lalu berjalan menuju kamar Hyojong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s