Uncategorized

My Seventeen’s Days [Chapter 3]

14524e49694ffd23

03 ~Arrggh!! Kenapa Harus Dia?!~

Setelah 20 menit menghabiskan waktu di kamar mandi, aku kembali ke kamar sambil mengeringkan rambutku dengan handuk. Ketika melewati cermin, aku berhenti karena melihat pantulan wajahku. Tubuhku berputar agar berhadapan dengan cermin. Kedua mataku menatap pantulan kedua mataku di cermin serius, lalu berkonsentrasi dan membayangkan jika Minhyun yang berdiri di hadapanku. Bayangan ketika ia memandangku dan tersenyum melintas, tiba-tiba aku memalingkan wajah karena malu. Ahhh.. Bagaimana ini? Aku tidak bisa menatap Minhyun lebih dari 2 detik.

Aku kembali mengeringkan rambut dan melangkah ke meja belajar, lalu mengeluarkan buku PR-ku. Namun sepertinya ada yang aneh. Dahiku berkerut dan mengeluarkan buku-bukuku yang lain dari tas dan membolak-baliknya. Setelah beberapa menit mata kecilku membesar dan langsung memeriksa tas lebih teliti lagi. Tidaaak! Buku agendakuuuuuuu!!!

Aku berusaha mengingat-ingat kapan terakhir aku memegangnya. ‘Apakah di sekolah? Bukan-bukan! Di……’ Aku berusaha memikirkannya hingga aku mengingat perjalanan pulang tadi, “Ahhh.. Pasti tertinggal di bis..” Ucapku sebal. Itu agenda kesayanganku. Berwarna pink dan berisi catatan-catatan penting tentang PR, jadwal-jadwal yang harus kupenuhi, bahkan cara mendekati Minhyun. Ahhh.. Kenapa aku tidak memeriksanya lagi?! Bodoh!

+++

“Apa? Hilang?” Tanya Bona ketika kami melangkah bersama menuju sekolah dari halte.

“Iya…” Jawabku lesu.

Bona tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum. “Tidak apa-apa.. Kau pasti sudah hafal kan, buat saja lagi..”

Aku memikirkan ucapan Bona sejenak, “Mmm.. Benar juga.. Aku akan membeli buku agenda baru nanti..” Ucapku.

“Ajak…” Ajak Bona sambil memeluk tanganku dan melangkah melewati pagar.

Ketika itu seseorang hendak memotong langkahku untuk masuk gerbang, karena jarak yang terlalu dekat aku hampir menabraknya.
“Ya ampun!” Seruku dan menatap orang itu kaget.

Orang yang tak lain adalah Bobby itu menoleh ke arahku dengan tatapan kesalnya, lalu melangkah pergi.

Aku dan Bona menatap pria berandal itu tak percaya.

“Dasar anak itu.. Dia bahkan tidak meminta maaf..” Ucapku kesal.

“Hmm.. Sudahlah.. Jangan di pikirkan, ayo..” Ajak Bona dan menarik tanganku melanjutkan perjalanan.

Aku melangkah bersama Bona menuju kelas. Hari ini, aku harus berhasil menyapa Minhyun! Apa pun yang terjadi!!

+++

Aku keluar dari toilet sambil merapikan rambutku, ketika itu aku melihat Bobby berdiri di depan toilet pria. Aku hanya melangkah melewatinya untuk kembali ke kelas.

“Lee Suhyun..”

Langkahku berhenti dan berbalik memandang Bobby, sepertinya dia baru saja memanggilku. Mengejutkan sekali, bagaimana dia tau namaku? Dari nama di bajuku? Matanya hebat sekali..

Bobby berdiri disana dengan kedua tangan terlipat di dada dan memandangku.

Aku memandang sekitar memastikan tidak ada orang lain disana, “Kau memanggilku?” tanyaku sambil menunjuk diriku.

Bobby tersenyum dan melangkah menghampiriku, “Benar, aku..” jawabnya.
“Ada apa?” tanyaku bingung.

Bobby mengeluarkan ponselnya dan melakukan sesuatu.

Dahiku berkerut melihat gelagat aneh pria di depanku, “Apa sih? Jika tidak ada yang ingin kau katakan, aku akan pergi..” ucapku dan melangkah lagi.

“Step 1..” Ucap Bobby, membuatku berhenti. “Menyapanya terlebih dulu..”

Aku terkejut dan berbalik menatapnya tak percaya.

Bobby tersenyum evil padaku, “Kim Minhyun?”

Dahiku berkerut, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa dia mengigau atau bagaimana?

Bobby memperlihat layar ponselnya padaku.

Mulutku terbuka dengan mata membesar melihat sebuah photo yang ia tunjukkan. Step-step untuk mendekati Minhyun. Sial!! Pasti dia yang menemukan buku agendaku!! “Hei! Kembalikan buku agendaku!” ucapku.

Bobby tertawa kecil, “Bukumu? Yang mana?” ucapnya pura-pura tidak tau.

“Buku agenda berwarna pink yang kau temukan di bis!” ucapku tegas.

Bobby mengerutkan dahinya dengan bibir mengerut dan memandang ke atas sambil mengetukkan telunjuknya ke dagu seperti ia sedang berpikir keras, “Hmm.. coba kuingat..” ucapnya, “Ahhh.. benar..” ucapnya sambil memandangku, lalu kembali tersenyum jahil. “Yang berisi obsesimu pada Kim Minhyun itu kan?”

Wajahku mendadak menjadi panas menahan malu, “Hei! Siapa yang mengijinkanmu membacanya?!”

“Disana juga tidak ada larangan untuk membacanya..” Ucap Bobby santai.

“Kembalikan bukuku!” Ucapku.

“Oke..” Ucap Bobby, lalu memasang ekspresi berpikirnya yang aneh itu, “Tapi.. dimana aku meletakkannya.” Ucapnya ragu.

Aku menatapnya tak percaya, “Kau menghilangkannya?!”

Bobby memandangku bingung, “Entahlah.. Mungkin..” ucapnya, lalu senyuman evil itu kembali muncul di wajahnya. “Mungkin aku memberikannya pada Kim Minhyun..”

DEG!! Tubuhku menjadi kaku dan jantungku berdegup kencang, “Apa?!” seruku kaget.

Senyuman Bobby semakin lebar dan memajukan wajahnya ke arahku, “Atau aku akan meletakkannya di mading sekolah?”

Aku  tak percaya pria di depanku ini! Dia benar-benar!! “Aisshh!! Kau ini!!”

“Apa? Tampan? Menarik? Cool? Iya, aku tau..” ucap Bobby santai, lalu tertawa dan melangkah melewatiku.

Aku berbalik dan mengikutinya, “Hei Bobby! Kembalikan saja buku agendaku, itu juga tidak ada gunanya bagimu..” ucapku. Aku terkejut dia tiba-tiba berbalik hingga menabrak bagian deoan tubuhnya, aku segera mundur menjauhinya.

Bobby tersenyum sembari melipat kedua tangannya di dada, “Kita akan lihat berguna atau tidak..” ucapnya, lalu mengedipkan sebelah mata dan melangkah ke lorong lain menuju kelasnya.

“Kenapa harus dia yang menemukannya?!” ucapku sebal.

Tiba-tiba aku merasa sebuah ledakan yang lebih dahsyat dari Hirosima dan Nagasaki telah meluluh lantakkan hidupku. Aku benar-benar habis! Jika semua orang di sekolah tau, terutama Minhyun, tentang isi agendaku itu. ahhh.. aku benar-benar tidak punya muka untuk bertemu siapa pun lagi. Apalagi jika yang mengungkapkannya si Bobby menyebalkan itu!!

+++

“Bona!! Apa yang harus kulakukan?” tanyaku frustasi.

Bona terlihat bingung, “Bagaimana ya? Dia pasti punya rencana yang mengerikan..” ucapnya khawatir.

Aku mengacak-acak rambutku frustasi, “Apa yang harus kulakukan???” ucapku sebal.

“Tapi..” ucap Bona dengan tatapan seriusnya, membuatku juga menatapnya serius. Biasanya dia memiliki ide bagus jika berekspresi seperti ini. “…kau bisa membuat Minhyun tau terlebih dulu sebelum Bobby..”

Dahiku berkerut, “Maksudmu?”

“Kau tidak punya pilihan lain..” ucap Bona, “Kau harus menyatakan perasaanmu pada Minhyun sebelum Bobby memberitau siapapun tentang buku agendamu itu..”

Aku berpikir sejenak, lalu mengangguk sendiri merasa ide Bona adalah yang terbaik saat ini. “Hmm.. kau benar..” ucapku setuju, namun tetap saja keputusan itu bukan keputusan yang mudah. “Ahh!! Tapi bagaimana aku bisa mengatakannya pada Minhyun?!” Rengekku sambil mengacak-acak rambut lagi.

Istirahat..

Aku seperti zombi yang tak punya nyawa. Kenapa menjadi anak SMA sangat sulit?

“Suhyun, itu Minhyun..” Bisik Bona ketika kami hendak memasuki kafetaria.

Aku terkejut dan segera mengedarkan pandanganku. Minhyun ada di lorong sedang berbicara dengan seorang gadis dari kelas lain.  Aku pernah melihat mereka mengerjakan tugas bersama ketika di perpustakaan. Kudengar mereka berasal dari SMP yang sama dulu. “Oh! Bagaimana ini? Aku harus pergi!” Ucapku panik dan bersiap kabur.

“Heiii! Jangan kabur!!” Bona menahan tanganku agar tidak pergi kemana-mana.

Aku menatap Bona memelas dan menggeleng menandakan aku tidak siap bertemu Minhyun sekarang.

“Suhyun! Ini kesempatan emas! Cepatlah hampiri dia! Sebelum dia bergabung dengan teman-teman bolanya!” Ucap Bona meyakinkanku.

Benar sih.. Ini kesempatan yang baik.. Aku memandang Minhyun yang tampak sedang membahas sesuatu yang serius, mungkin pelajaran. Oh! Tunggu! Siapa itu?

“Hm? Bukankah itu Bobby?” Ucap Bona ragu ketika seorang pria berjalan ke arah Minhyun.

Mataku membesar, “Aishh! Anak ini!” Erangku geram, apalagi pria itu tampak memegang sebuah buku berwarna pink. Tanpa sadar aku langsung berlari mengejar Bobby dan merebut buku agendaku.

Dengan sigap Bobby menarik buku agendaku lagi. Sekarang kami memegang kedua sisinya bersamaan.

Mataku melotot pada Bobby, “Berikan padaku!” Ucapku dengan gigi rapat agar tidak terdengar oleh Minhyun.

Bobby tersenyum evil dan melirik Minhyun.

Sial! Dia benar-benar gila!! Aku berusaha menarik buku agendaku agar terlepas dari tangannya, tapi ia tetap sangat kuat.

Bobby menyentak buku agendaku hingga terlepas dari tangan kami berdua.

Jantungku seperti berhenti berdetak ketika buku agenda pink itu meluncur ke dekat kaki Minhyun. Oh.. Tidak..

Minhyun memandang ke bawah dan mengambil buku agenda pink itu, lalu memandang ke arahku dan Bobby. “Kalian sedang bertengkar?” Tanyanya.

Aissh!! Aku tidak bisa bericara!! Aku juga tidak bisa bergerak!! Minhyun memegang buku agendaku…

Bobby berjalan dengan santainya menghampiri Minhyun, “Sorry..” Ucapnya sembari mengambil buku agendaku dari tangan pria itu dan melangkah pergi seperti tidak terjadi apa pun.

Minhyun tampak kebingungan dan memandang ke arahku.

Bona menghampiriku, “Hei Minhyun..” Sappanya, lalu menarikku pergi.

+++

Aku berjalan bersama Bona menuju halte bis sambil memperhatikan sekitar.

Bona menatapku heran, “Kau mencari siapa?” Tanyanya.

Hak! Orang yang kucari ketemu! “Sebentar Bona..” ucapku pada Bona dan melangkah mengejar Bobby yang sudah lebih dulu mencapai gerbang. “Hei! Kim Bobby!”

Bobby berhenti dan memandangku dengan dahi berkerut.

“Kembalikan buku agendaku sekarang!” ucapku kesal.

Bobby menatapku aneh, “Hei… Namaku Bobby Kim.. Bukan Kim Bobby..” ucapnya.

“Memangnya aku peduli? Cepat kembalikan saja bukuku!” tegasku, aku tidak akan terlihat takut. Walau sebenarnya aku takut setengah mati karena dia menyimpan buku agendaku.
Bobby memperbaiki sandangan tasnya di kedua bahunya, “Jika aku tidak mau?” tanyanya cuek.

“Aissh.. aku tidak ingin berurusan denganmu, aku juga tidak pernah memikirkannya. Jadi jangan buat keributan!” ucapku berusaha berbicara dengan kepala dingin.

Bobby seperti mendapatkan sebuah ide karena ucapanku, lalu tersenyum. “Sepertinya bagus juga.. Buat keributan saja, aku sudah lama tidak masuk ruangan BP..” ucapnya senang, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Aku terkejut dia malah senang karena  ucapanku, “Hei.. Berhenti disana! Kim Bobby!” panggilku sambil menunjuknya dan mengikuti langkahnya. “Kim Bobby!”

“Bobby Kim!” ucapnya tanpa berhenti.

“Siapa pun namamu! Cepat berhenti!” tegasku, tapi dia tetap tidak berhenti juga. “Hei!” seruku lagi. Tiba-tiba ia berbalik dan membuatku menabrak tubuhnya. Dengan cepat aku mundur dan menatapnya kesal, “Kenapa kau tiba-tiba berhenti?!”

Bobby menatapku lucu, “Tadi kau menyuruhku berhenti, sekarang kau bertanya kenapa aku berhenti..” ucapnya.

“Ini sama sekali tidak lucu! Cepat kembalikan bukuku!” ucapku kesal.

“Tidak mau..” ucap Bobby.

Ya Tuhan, apa dosaku sampai harus bermasalah dengan anak ini? Aku berusaha menenangkan diriku dan menghadapinya dengan cara dewasa, “Bobby, aku ingin buku agendaku..” Ucapku pelan.

Bobby diam sejenak, “Jika aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan?” Tanyanya.

“Aku tidak punya pilihan lain.. Aku akan melaporkanmu pada guru BP karena mencuri barangku..” ucapku tanpa ragu. Dalam hati aku berharap dia akan takut dan segera mengembalikan bukuku.

Bobby tersenyum lebar, “Baiklah, laporkan saja..”

Aku terkejut dan menatapnya bingung, “Ha?” ucapku, namun aku segera menata ekspresiku lagi seolah-olah aku sangat tenang sejak tadi.  “Aku benar-benar akan melaporkanmu!”

“Tidak apa-apa.. Jika kau melaporkannya, aku kan tinggal menjawab karena ini buku agendamu yang berisi obsesimu tentang Kim Minhyun..” jawab Bobby santai.

Aku menatapnya shock. Ya ampun.. dia benar-benar devil!!

Bobby mengangkat tangan dan melambai padaku, lalu berbalik dan melangkah santai meninggalkanku yang masih terpaku karena caraku gagal total.

Bona segera menghampiriku, “Ada apa? Apa katanya? Dia memberikan agendamu lagi?”

Aku menatap Bona frustasi, “Bona… Apa yang harus kulakukan?” Rengekku.

Bona menatapku bingung, “Dia tidak memberikannya?” tanyanya.


Cr : https://www.wattpad.com/myworks/73139045-my-seventeen%27s-days

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s