Chapter · Story · Uncategorized

My Seventeen’s Days [Chapter 2]

14524e49694ffd23

02 ~Misi mendapatkan Cinta Pertamaku!~

00.00 am, 3 Maret

“Suhyun..” panggil seseorang sambil mengguncang tubuhku.

Tapi aku masih tenggelam dalam dunia mimpiku. Siapa sih yang membangunkanku?

“Suhyun…” bisik orang itu di telingaku.

“Hmmm…” gumamku. Namun kedua mataku masih sangat berat untuk di buka.

“Lee Suhyun, bangun sekarang..” bisik orang itu lagi.

“Hmmm…” gumamku kesal dan menarik selimut naik menutupi wajahku.

“Lee Suhyun, ada kecoa di dalam selimutmu..” bisik orang itu lagi.

Tunggu, apa? KECOA?!! Aku terkejut merasakan sesuatu bergerak di balik selimutku dan langsung terlonjak bangkit, “Apa itu?!!” seruku kaget.

Ctarrr!!!

Aku terkejut mendengar sesuatu meletus, lalu lampu kamarku menyala dan konfeti berjatuhan menerpaku.

“Selamat Ulang Tahun, Suhyun!!!” sorak ibu, ayah dan kak Chanhyun hampir bersamaan.

Aku menatap mereka tidak percaya. Butir-butir konfeti masih berterbangan menerpa kepalaku. Mereka terlihat tidak peduli dan pergi tanpa kabar tapi ternyata menyiapkan ini untukku. “Oh… ibu, ayah, kakak..” ucapku terharu.

“Selamat ulang tahun..” ucap Kak Chanhyun sambil memelukku lalu, memandangku dengan senyuman lebarnya, “Kau pasti berpikir kami lupa ulang tahunmu kan?” ucapnya dengan tatapan jahil.

Aku menatap kak Chanhyun sebal dengan senyuman di bibirku, “Tentu saja, kukira tidak ada yang akan mengingatnya..”

“Eiiii.. mana mungkin, kami sengaja melakukan ini untuk memberikan kejutan padamu..” ucap ayah sambil tersenyum bangga.

“Ayo… Buat permohonan dan tiup lilinnya..” ucap Ibu yang memegang kue ulang tahun besar dengan angka 17 tahun diatasnya.

Oke, kini saatnya! Aku menghela nafas dalam dan memejamkan mata. Bibirku membentuk senyuman memikirkan usiaku yang telah menginjak angka 17 tahun. Aku akan mengatakan keinginanku, hanya satu kalimat pendek yang semoga di dengar oleh Tuhan yang maha pendengar. Hihihi… ‘Kuharap, aku mendapatkan kekasih pertamaku tahun ini..’ batinku, lalu membuka mata dan memandang lilin di kueku. Dengan penuh harapan aku meniupnya hingga padam.

“Wuhuuuu!!!” sorak ayah dan kak Chanhyun sambil bertepuk tangan.

“Selamat ulang tahun, Suhyun..” ucap Ibu dan mencium dahiku.

“Ayo kita makan kuenya!!” Ayah mengambil kue dari tangan ibu dan membawanya keluar kamar bersama kak Chanhyun.

“Kue!! Kue!!” Ucap kak Chanhyun bersemangat.

Aku terbengong-bengong kueku di bawa pergi, “Ayah! Kakak!! Itu kueku!!” Aku segera mengejar mereka keluar.

Ibu tertawa lucu dan mengikuti kami juga.

+++

“Wuaaa…” ucapku girang karena Ibu menyiapkan sup rumput laut untuk ulang tahunku.

“Makan yang banyak, Suhyun..” ucap Ibu.

“Terima kasih, bu..” ucapku dan mengambil sendok untuk mencicipi sup buatan ibuku.

“Semoga Suhyun kita sehat dan panjang umur!!” ucap kak Chanhyun sambil mengelus rambutku, lalu memakan sup rumput lautnya.

Aku tersenyum lebar pada kakakku. Perhatianku langsung berfokus pada sebuah kado yang di letakkan ayah di atas meja.

“Ini hadiah dari ayah dan Ibu..” ucap ayah yang tersenyum lebar bersama Ibu.

“Wuaaa.. hadiah..” ucapku riang sambil mengambil kado itu dan membukanya. Mataku yang kecil membesar dan menatap Ibu dan ayah tak percaya, lalu tertawa mengeluarkan satu set alat make up yang pernah kuminta pada Ibu dulu. “Yeaaaay… alat make up!” ucapku senang, “Terima kasih ayah, Ibu!”

“Iya.. Tapi kau tidak bisa mengenakannya ketika ke sekolah. Tentu saja?” ucap Ibu mengingatkan.

“Tentu saja! Aku akan mengenakannya ketika berjalan-jalan..” ucapku berjanji.

Kak Chanyun tersenyum lebar memandangku, “Sekarang giliran kakak..” ucapnya.

“Kakak juga? Mana?” tanyaku bersemangat.

“Ulurkan tanganmu..” ucap kakak, ia terlihat menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.

Aku langsung mengulurkan tanganku ke arah kak Chanhyun. Bibirku membentuk senyuman lebar melihatnya mengeluarkan sebuah gelang dengan gantungan-gantungan indah berbentuk hati dan not-not balok, juga mengenakannya ke pergelangan tanganku.

“Ini.. Kakak mencari gantungannya sendiri selama beberapa minggu, jadi jaga baik-baik.. Kau mengerti?” ucap Oppa.

Aku menatap gelang itu takjub dan menatap kakakku penuh rasa terima kasih, “Terima kasih, kak..” ucapku senang.

Kak Chanhyun tersenyum dan mengangguk, matanya yang kecil sepertiku seperti hilang di telan pipinya. Hahaha..

+++

Aku masih tersenyum lebar ketika duduk di bis menuju sekolah sambil memandangi gelang pemberian kakakku. Kepalaku menoleh ketika bis berhenti dan melihat Bona naik.

Bona melambai padaku dan langsung melangkah cepat ke tempat duduk di sebelahku, “Selamat ulang tahun!!” ucapnya sambil memelukku sekilas.

Aku tersenyum lebar mendengar ucapannya, “Terima kasih..”

“Aku punya hadiah untukmu..” ucap Bona sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

Aku menatap sebuah kado berbentuk kotak panjang kecil itu penasaran, “Apa ini?” tanyaku ingin tau.

“Bukalah..” ucap Bona sambil memberikan hadiah itu padaku.

Aku langsung dengan tergesa-gesa membuka bungkus kotak itu.

“Eiii.. kau harus membukanya dengan hati-hati..” protes Bona, namun karena aku tidak sempat berhati-hati ia hanya tertawa.

Setelah semua bungkus terbuka, aku menemukan sebuah tempat pensil berwarna pink dengan gambar kepala kucing yang lucu. “Ya ampun.. Lucu sekali!” ucapku gemas.

Bona mengeluarkan tempat pensil yang sama namun dengan warna merah dari tasnya, “Lihat.. ini couple..”

Aku senang melihat kami akan mengenakan tempat pensil yang sama, “Wuaaa.. couple!” ucapku girang.

Bona tersenyum lebar, “Apa kau mendapat hadiah dari keluargamu?”

“Iya.. Ternyata mereka sudah menyiapkan kejutan di tengah malam untukku. Hufft… aku sempat sebal karena mereka terlihat sibuk di hari ulang tahunku.. Malah ayah dan kak Chanhyun yang menghabiskan kue ulang tahunku..” ucapku menahan tawa, lalu menunjukkan gelang di tanganku. “Lihat, ini dari Kak Chanhyun..” ucapku memberitau.

Mata Bona membesar, “Ya ampun.. Lucu sekali.” ucapnya iri.

Aku tersenyum bangga melihat Bona iri dengan pemberian kak Chanhyun, “Ibu dan ayah memberikanku satu set alat make up.. Kita bisa menggunakannya ketika pergi berbelanja..” ucapku memberitaunya.

Bona menatapku tak percaya, “Benarkah?! Wuaa! Kapan kita berbelanja?!” tanyanya semangat.

Aku tertawa melihat respon Bona, aku sudah menebak itu respon yang kudapat darinya. Dia memang lebih memperhatikan penampilannya akhir-akhir ini. Dia bahkan sampai mengajakku berdiet.

Aku dan Bona segera turun dari bis ketika tiba di halte dekat sekolah dan melangkah melanjutkan perjalanan.

“Oh iya, bagaimana rencanamu itu? Sudah memikirkannya?” Tanya Bona ingin tau.

Bibirku membentuk senyuman dengan lirikan jahil.

Bona menatapku penasaran, “Apa? Katakan padaku..” desaknya.

“Nanti akan kutunjukkan tenang saja..” ucapku.

“Aissh.. aku jadi penasaran setengah mati!” ucap Bona sebal, “Awas jika tidak menarik ya!” ucapnya memperingatiku.

“Iya.. Iyaa.. tenang saja..” ucapku dan menggandengnya berjalan di sisiku.

Setibanya di kelas.

Aku mengeluarkan buku agendaku yang ber-cover pink dari tas dan memperlihatkan halaman terakhir yang berisi di depan wajah Bona. “Tadaa…” ucapku bersemangat.

Bona memperhatikan halaman itu beberapa saat, lalu mengambilnya dan memperhatikannya sekali lagi. setelah itu menatapku tak percaya, “Apa ini? Apa kau ahli cinta sekarang?”

Aku tertawa bangga, “Aku mencarinya semalaman di internet hingga berhasil membuat rencana ini..” ucapku.

Bona tersenyum lebar menatap halaman di buku agendaku, “Wuaaa.. keren sekali! Boleh aku menggunakan cara ini setelah kau selesai?” tanyanya.

“Boleh kok..” jawabku sambil mengangguk.

Bona tampak kegirangan mendengar ucapanku. Bagaimana tidak, aku benar-benar membuat semuanya dengan baik. “Apa kau akan memulainya hari ini?” Tanyanya.

Aku tersenyum malu sambil menutup wajahku dengan tangan, lalu melirik ke arah Minhyun yang sudah duduk di tempatnya dari sela-sela jariku. Dengan cepat aku memalingkan wajah karena jantungku berdegup kencang.

Bona menatapku aneh, “Hei.. kau harus menahan sikapmu itu jika ingin menarik perhatianya!” ucapnya sebal sambil memukul dahiku dengan buku agenda.

Aku cemberut menatap Bona sambil mengelus dahiku, “Apa sih?!”

“Jika kau ingin melakukan semua hal yang kau tulis disini..” Bona mengangkat agendaku, “Kau harus menahan sikap pemalumu itu, jika kau seperti itu bagaimana bisa melakukannya!” jelasnya sebal.

“Iya, aku mengerti..” ucapku mengerti masih dengan wajah cemberut, kepalaku menoleh ke arah Minhyun lagi. senyuman kembali ke bibirku dan tersipu malu sendiri.

“Aissh.. kau ini..” ucap Bona sebal.

+++

Bona mendorongku agar keluar dari balik tembok, “Cepat.. Kau tinggal melewatinya dan berkata ‘Hai!’ padanya..” ucapnya memberitauku.

Aku menelan ludah dan mengatur nafasku sejenak, “Hanya itu?”

Bona mengangguk cepat, “Benar! Cepat! Semangat!”

Baiklah! Aku harus melakukan ini! Sekarang atau tidak sama sekali! Aku menghela nafas dalam dan menghembuskannya lagi, lalu berbalik dan berjalan keluar dari balik dinding menuju Minhyun yang sedang mengobrol bersama teman-teman klubnya di teras kelas. Deg! Deg! Deg! Deg!

Jantungku mulai berdebar kencang melihatnya tertawa disana. Aku bisa melakukannya! Aku bisa melakukannya!! Sekarang tinggal beberapa langkah hingga aku mendekatinya!

Tiga langkah lagi.. Dua langkah lagi.. Satu langkah lagi.. OH TUHAN!! Minhyun tiba-tiba menoleh ke arahku!! Mendadak tubuhku mematung dan menatapnya tanpa berkedip.

Awalnya mata Minhyun tidak sengaja memandang ke arahku, ia kembali memandangku untuk memastikan penglihatannya. Tatapan kami bertemu untuk beberapa detik.

‘Sapa dia! Aku harus menyapanya!’ batinku, namun aku hanya terpaku di sana menatapnya seperti orang idiot! Aisssh!

Kedua sudut bibir Minhyun perlahan tertarik dan tersenyum manis padaku, lalu mengangguk sopan.

Akhirnya aku kembali pada diriku. Aku berusaha memaksakan bibirku membentuk senyuman, namun bibirku terasa sangat kaku. Lalu segera menunduk dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Ahh.. Bodoh sekali!! Bodoh!! Suhyun bodoh!! (TㅅT)

+++

Aku menelungkup di mejaku menahan malu karena kejadian tadi. Rasanya aku ingin menangis dan tidak ingin bertemu Minhyun lagi.

Bona yang duduk di sebelahku menghembuskan nafas panjang, “Kenapa kau hanya terpaku menatapnya? Apa susahnya sih berkata…” Bona mengangkat satu tangannya dan tersenyum manis, “Hai..” ucapnya mencontohkan, lalu kembali menatapku sebal. “Seperti itu?!”

Aku mengangkat wajah menatap Bona sebal, “Kau bisa mengatakannya karena  tidak merasakan apa yang kurasakan..” ucapku.

“Jika kau menyukainya, katakan saja..” ucap Bona, “Tulis surat cinta juga bisa..”

“Surat cinta itu sangat memalukan!” ucapku sambil menggeleng.

“Memangnya caramu tidak memalukan?! Aku bahkan tidak ada muka bertemu Minhyun setelah melihatmu tadi!” ucap Bona sebal.

“Kenapa kau yang malu?” tanyaku aneh.

Bona menghela nafas dalam menetralkan emosinya, “Ya sudah, kita coba lagi besok.. Kau mengerti?” tanyanya sambil merangkulku.

Bibirku menghembuskan nafas panjang dan mengangguk.

+++

Aku membuka agendaku dan membaca rencana yang kubuat. ‘Apa aku benar-benar bisa melakukannya? Menatap Minhyun saja aku tidak bisa. Ahhh.. Aku bisa gila..’ batinku sambil menutup buku agendaku dan memandang keluar jendela. Bona sudah turun dari halte sebelumnya, aku menunggu bis ini tiba di halte menuju rumahku. Setelah beberapa saat aku segera bangkit dan dengan hati-hati berpegangan menuju bel di dekat pintu keluar. Tangan kiriku memegang tiang sementara tangan kananku terulur untuk menekan bel. Supir bus mendengar bel itu dan meminggirkan bus di halte depan. Setelah pintu terbuka, aku segera melangkah turun dan berjalan tenang kembali ke rumah.


Cr : https://www.wattpad.com/262447783-my-seventeen%27s-days-02-%7Emisi-mendapatkan-cinta

Advertisements

4 thoughts on “My Seventeen’s Days [Chapter 2]

  1. Hallo authorr, aku readers baru nihh, izin bacabaca tulisanmu yang kerenkeren ini yaaa hehe, semangat thor buat ffnyaa!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s