Chapter · Story · Uncategorized

My Seventeen’s Days [Chapter 1]

14524e49694ffd23

01 ~Bulan Maret!~

Bulan Maret tiba!! Ahh.. aku sangat senang!! Hahaha.. bukan berarti aku tidak menyukai bulan yang lainnya, tapi bulan Maret itu sangat spesial! Dimana peralihan musim dingin menjadi musim semi. Matahari mulai bersinar terang, sebentar lagi hangatnya akan terasa lagi di kulitku. Pagi ini aku membuka kain jendela dan menatap langit yang sangat cerah. Bibirku membentuk senyuman lebar dan menoleh ke kalender meja di dekat jendela kamarku. Hari ini, hari pertama di bulan Maret. Terlihat ada lingkaran dengan spidol merah pada tanggal 3 di kalenderku. Dua hari lagi!

Aku segera menghampiri meja belajar untuk memasukkan sisa buku-bukuku ke dalam tas dengan bibir masih tersenyum lebar. Oh.. aku lupa memperkenalkan diriku. Hallo.. namaku Lee Suhyun. Aku kelas 2 di sebuah SMA di Seoul. Bukan sekolah favorit, juga bukan sekolah mahal. Jangan berpikir yang berlebihan. Aku hanya gadis sederhana. Maksudku, benar-benar sederhana.

Aku menghampiri cermin sambil merapikan rambut panjang dan poniku. Mataku yang kecil, pipi chubby dan bentuk tubuh kecil. Aku sangat jauh dari kategori cantik remaja Korea. Tapi aku tidak peduli, karena semua orang menyayangiku. Jika ada yang merasa aku tidak menarik, berarti mereka melewatkan seseorang yang luar biasa. Hahahaha.. ibuku selalu mengatakan itu dulu ketika menyisir atau menjalin rambutku.

Ketika aku membuka pintu kamar, aku melihat kakakku, Lee Chanhyun, berlalu dengan sweater motif garis, hoodie dan sebuah headphone yang bertengger di lehernya. Kakakku mahasiswa semester 4 fakultas musik. Aku tersenyum lebar dan segera mengikuti Kakakku. “Kak.. Kak Chanhyun..” panggilku.

Kak Chanhyun yang berhenti di lemari buffet untuk mencari sesuatu memandangku, “Ada apa?” tanyanya.

“Kak.. Kakak ingatkan dua hari lagi hari apa?” tanyaku dengan gaya imutku. Karena aku anggota termuda dalam keluarga, aku sangat terlatih dengan gaya imutku.

Kak Chanhyun memandang ke atas dengan dahi berkerut, lalu kepalanya akan berat ke satu sisi dan mulutnya terbuka sedikit. Ini adalah ekspresi ketika Kakakku sedang berpikir.

Aku menatapnya menunggu respon, masa dia lupa hari apa dua hari lagi.

Kak Chanhyun memandangku, “Hari Kamis..” jawabnya polos.

Aku terkena ‘mental breakdown’ karena jawaban Kakakku, “Bukan Kak! bukan itu.. Hari memperingati sesuatu..” ucapku berusaha membuatnya ingat.

Kak Chanhyun mengambil solasi bening di laci dan memandangku, “Nanti Kakak akan mengingatnya, ada sesuatu yang harus Kakak lakukan..” ucapnya dan langsung kembali ke kamarnya yang berada di seberang kamarku.

Aku terbengong-bengong memperhatikan kakakku masuk ke kamar. Sejak kuliah ia menjadi lebih sibuk dan melupakanku. Huuufffftt.. masa dia tidak ingat? Ahh.. tapi mungkin Kakak memang sibuk. Aku segera melangkah menuju ruang makan, “Ibu..” panggilku, namun hanya ruang kosong yang menyambutku. Dahiku berkerut memandang sekitar, “Mana Ibu dan Ayah?” gumamku bingung sembari melangkah menghampiri meja makan. Ada sebuah note tertempel di atas tudung makanan. Aku mengambil note itu dan membaca pesannya.

— Suhyun, Ibu dan ayah harus mengunjungi bibimu di Pulau Nami. Kami tidak akan lama, besok sudah kembali. Makanan ada di kulkas. —

Mataku yang kecil membesar membaca pesan Ibu. Bagaimana mungkin ibu dan ayah pergi tanpa memberitauku? Aku menghela nafas dalam dan membuka tudung makanan. Bibirku kembali membentuk senyuman melihat ibu meninggalkan makanan kesukaanku. Aku melepaskan tas dan bergerak duduk. Baiklah, bibi memang sedang sakit. Tidak apa-apa.. aku kan sudah besar.

+++

Setelah menunggu kurang lebih 5 menit, bis yang kutunggu tiba. Aku segera bergerak naik bersama beberapa orang lainnya. Tidak lupa aku menempelkan kartu bisku sebelum berlalu. Aku melangkah dengan hati-hati menuju kursi kosong di sisi kanan bis. Ketika itu aku melihat salah seorang pria yang juga berasal dari sekolahku, dia duduk di bagian belakang seorang diri dengan jaket tebal dan tudung kepala. Ia terlihat mengenakan earphone di kedua telinganya dan memandang ke jendela. Hmm.. lebih baik aku berpura-pura tidak mengenalnya. Dia sangaaaaat sombong dan terkenal sebagai trouble maker di sekolahku. Oke, jauhi dia. Aku bergerak duduk dan memandang keluar jendela. Bibirku membentuk senyuman melihat semuanya berkilauan karena salju sudah mulai mencair. Musim semi sudah di depan mata, aku akan segera mengucapkan selamat tinggal pada musim dingin. Hehehe..

Di halte berikutnya, aku melihat temanku, Lee Bona bersiap naik ke bus. Ia  tersenyum lebar karena melihatku.

Bona segera melangkah cepat menghampiriku dan duduk di sebelahku, “Akhirnya bis tiba..” ucapnya dengan helaan nafas lega.

Kami membicarakan banyak hal yang lucu sampai di halte berikutnya, kami turun dan melanjutkan perjalanan menuju sekolah yang tidak terlalu jauh.
“Oh.. oh.. lihat!” bisik Bona sambil menahan langkahku.

Aku memandang Bona penasaran, ia melirik ke arah lain sambil tersenyum. Aku memandang kemana ia melirik dan tiba-tiba… seluruh duniaku melambat. Seperti terjadi slow motion melihat seorang pria bertubuh tinggi, baju hangat melapisi baju seragamnya melangkah menuju gerbang dari arah lain. Kedua pipiku  merona dan seperti bunga-bunga bertumbuhan di sekitarku. Aku menjadi salah tingkah dan malu sendiri.

Pria ini, Kim Minhyun, cinta pertamaku. Dia duduk di dekat jendela, sedangkan aku di bagian tengah kelas dan satu baris di belakangnya. Ketika matahari bersinar terik, dia akan terlihat gemerlapan disana. Hahaha…

Semua slow motion ini berhenti ketika Minhyun memandang ke arahku dan Bona, ia akan melakukan hal yang sama. Hal paling cool yang pernah kulihat. Satu tangannya memperbaiki sandangan tas di satu bahu dan tersenyum cool, “Selamat pagi..” sapanya sembari berlalu.

OH! Panah cupid mengenai hatiku! Sangat tepat hingga aku tidak bisa mengatakan apa pun selain tersipu.

“Selamat pagi, Minhyun..” sapa Bona sambil melambai.

Aku hanya bisa melambai padanya yang sudah melangkah pergi. Ohh.. aku benar-benar terkena sihir cinta sekarang.

Bona menatapku jahil dan mendorong bahuku dengan bahunya, “Uuuu.. wajahmu memerah..” ledeknya.

Aku menunduk malu sambil memegang kedua pipiku malu, “Jangan seperti itu..” ucapku dan melangkah meninggalkan Bona.

Bona tertawa kecil dan mengikutiku, “Hahaha.. Lee Suhyun..” ucapnya lucu.

Aku hanya tersenyum malu mendengar ledekannya. “Bona!” ucapku sebal.

+++

“Jadi, kau sudah memikirkan hadiah ulang tahunmu?” Tanya Bona sembari bergerak duduk di meja sebelahku.

Pertanyaan Bona membuatku menghela nafas lesu, mengingat Kakakku yang sangat sibuk, ibu dan ayah pergi mengunjungi bibi. “Entahlah..” ucapku lesu.

Bona menatapku jahil, “Aaa… aku tau.. Kau pasti akan meminta ijin untuk operasi plastik kan?” tebaknya asal dan tertawa.

Aku menatap Bona kaget dan memandang sekitar memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar ucapannya, lalu menatap gadis itu kesal sambil memukul bahunya. “Kau ini! Nanti ada yang mendengarnya dan percaya aku akan melakukannya!” ucapku sebal.

Bona berusaha menahan tawanya sambil mengelus bahunya, “Aku hanya bercanda, kok..”

Namun kuakui lelucon Bona memang lucu. Kami pernah berangan-angan untuk operasi pelastik seperti remaja-remaja seusia kami agar memiliki wajah yang lebih proposional. Aku berkata ingin membuat lipatan mata, memancungkan hidungku, membentuk tulang pipi lebih tinggi dan menghilangkan pipi chubby-ku. Hahahha.. pasti akan memakan uang miliayaran won untuk itu. Tapi tenang saja, itu hanya lelucon kami. Kenapa harus operasi untuk di sukai orang? Bahkan kudengar orang-orang sekarang mengoperasi wajahnya agar mudah mendapatkan pekerjaan jika lebih menarik. Ya ampun.. jika memang begitu, aku akan melamar pekerjaan di luar Korea!

Ketika istirahat.

“Kenapa sih Bu Kim selalu jutek padaku? Padahal aku kan hanya bertanya tugas kemarin..” Keluhku. berjalan bersama Bona menuju kafetaria sambil membahas kejadian di kelas tadi.

Bona menghembuskan nafas panjang, “Bu Kim pasti memberikanku nilai rendah lagi, aku benar-benar tidak mengerti..”

“Hei.. Tidak perlu khawatir.. Aku juga tidak akan mendapat nilai bagus..” Jawabku sambil menahan tawa.

Bona tertawa lucu mendengar ucapanku.

Perhatianku teralih sejenak pada gerombolan pria yang duduk di dekat pintu masuk kafetaria. Salah satu yang duduk diantara mereka adalah anak laki-laki yang hampir setiap pagi naik bis yang sama denganku ketika pergi sekolah. Sudah kukatakan sebelumnya dia sangat sombong kan? Akan kutambahkan lagi, dia ketua gerombolan itu dan sangat menyebalkan! Mereka sangat suka mengusili anak lain. Sebaiknya jangan berhubungan dengan mereka.

“Hei.. Itu Minhyun dan teman-temannya..” Bisik Bona ketika kami berjalan ke sebuah meja.

Aku meletakkan nampan di meja yang akan kami duduki dan melirik ke arah anak-anak klub bola. Kedua pipiku langsung merona sembari segera duduk ketika melihat Minhyun ada disana. Dia adalah lapangan bola kaki di sekolah. Tubuhnya sangat keren, dia juga tidak segan untuk menyapa terlebih dulu. Ahhh… Minhyunku! (>_< )

Bona menahan tawa melihat ekspresiku. Namun suasana itu tak berlangsung lama karena perhatian kami teralih ke arah pintu masuk.

Aku menoleh untuk melihat keributan apa yang terdengar, ternyata hanya gerombolan anak-anak tadi.

Bona tersenyum memandangku, “Suhyun, Bobby tampan kan?” tanyanya padaku.

Aku menatap Bona aneh. Oh benar, dia suka pria tipe bad boy. Anak laki-laki yang kubicarakan tadi bernama Booby Kim, besar dan lahir di Amerika, aku tidak perlu mengatakan bagaimana menyebalkannya dia. “Dia itu menyebalkan, aku tidak ingin berhubungan apa pun dengannya..” ucapku dan melanjutkan makan.

Bona menatapku sebal, “Dia kan hanya bersenang-senang dengan temannya..” Ucapnya.
“Ya ampun, kau benar-benar naksir padanya..” Candaku.

Bona tertawa kecil, “Siapa yang tidak?”

+++

“Sampai besok..” ucap Minhyun ketika melewatiku dan Bona di pintu gerbang.

“Sampai besok, Minhyun..” balas Bona.

Aku tersenyum lebar melihat punggung Minhyun yang terus menjauh, lalu tanganku melambai padanya. “Sampai besok..” bisikku sendiri.

Bona menatapku lucu, “Hei.. jika kau terus melakukan itu kapan dia akan mengetahui perasaanmu.” Ucapnya aneh.

Aku tersenyum malu, “Habis jika bertatapan dengannya aku langsung terpaku dan hanya menatap wajahnya.” jawabku.

“Ya ampun.. ini akan menjadi cinta satu pihak selamanya jika kau tidak bertindak..” ucap Bona prihatin.

“Lalu aku harus melakukan apa? Tidak mungkin kan aku mengatakan perasaanku padanya..” ucapku aneh.

Mendadak Bona berhenti dan menatapku sambil tersenyum lebar seperti mengatakan ‘ide luar biasa!’.

Dahiku berkerut melihat ekspresi Bona, “Kenapa?”

“Kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu padanya? Bukankah itu bisa membuatnya tau tentang perasaanmu?” Usul Bona

“Ha?” tanyaku tak percaya, lalu menggeleng cepat. “Kau gila! Bagaimana jika dia menolakku dan tidak mau bertemu denganku lagi?”

“Eiiii.. tidak mungkin.. Minhyun itu pria yang berpikiran dewasa. Jika dia menyukaimu juga, dia akan menjadi kekasihmu. Jika tidak, dia pasti akan memberitaukanmu dengan cara yang halus. Benar kan?” ucap Bona yakin.

Aku memikirkan ucapan Bona sejenak. Hmm.. apa yang di ucapankannya tidak salah juga, Minhyun kan memang orang yang bijaksana. Entah mengapa bibirku membentuk senyuman mengingat betapa bijaksananya Minhyun-ku. Hahaha.. kedua pipiku terasa panas lagi.

“Kau sudah membayangkan sesuatu ha? Dasar..” ucap Bona sebal, lalu tertawa.

“Mmm.. menurutmu aku bisa mencobanya?” tanyaku pada Bona.

“Tentu saja.. cobalah..” ucap Bona dengan senyuman lebarnya.

Aku mengangguk dan high five dengannya. Ia memang teman yang selalu mendukungku apa pun yang kulakukan.

+++

“Aku pulaaaang..” sorakku dari pintu depan sambil membuka sepatuku dan menggantinya dengan sandal rumah. Namun tidak ada yang menjawab, kemana semua orang? Aku melangkah ke kamarku dan mengganti pakaian, lalu ke ruang makan mencari sesuatu untuk di makan. Ketika masuk ruang makan aku langsung melihat sebuah note tertempel di pintu kulkas. Ibuku memang menjadikan cara ini untuk berkomunikasi ketika terburu-buru. Aku mengambil note itu dan membacanya.

— Suhyun, Kakak pergi merekam demo musik. Panaskan sup di kulkas untuk makan malam. Ibu dan ayah pulang pukul 7 —

Helaan nafas lesu keluar dari mulutku. Berarti aku akan sendiri hingga malam tiba. Tanganku membuka pintu kulkas dan mengambil botol jus jeruk, lalu menuangnya ke gelas dan kembali meletakkannya ke kulkas. Setelah itu melangkah ke kamarku lagi. Aku harus melakukan sesuatu yang penting!! Hahaha…


Jangan lupa komentar dan bintangnya yaaa..

 

cr : https://www.wattpad.com/262053726-my-seventeen%27s-days-01-%7Ebulan-maret-%7E

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s