Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 17]

Chapter 17

17

-Na Napeun Gijibe!-

 

Puuuuuufff!!!

Jenny dan Bobby menyemburkan makanan di mulut mereka dan menatap Suhyun tak percaya.

“Mwo?! Kau akan pergi?!” Tanya Jenny tak percaya.

Suhyun mengangguk dengan senyuman penuh kemenangan, “Ne..”

“Eoteokhe? Pamanmu setuju?” Tanya Bobby tak yakin.

Suhyun tersenyum licik, “Aniyo.. harabeutji yang menandatanganinya.. Tadi aku membujuk wali kelas untuk menerima surat ijinku karena sudah lewat waktu penyerahannya, untuk wali kelas kita mau..”

Jenny berpandangan bingung dengan Bobby dan kembali memandang Suhyun, “Jika pamanmu tau bagaimana?”

“Gwenchana.. Samchon paling akan sibuk dengan nenek sihir itu, jadi dia tidak akan tau aku pergi. Lalu saat ia menyadarinya, aku sudah pulang kerumah..” jawab Suhyun senang.

Bobby menatap Suhyun lucu, “Horrrl.. kau sudah bukan gadis innocent lagi, Choi Suhyun..” candanya.

Suhyun mengibaskan rambutnya, “Na napeun gijibe.. na.. na napeun gijibe.. where is my bad girls at?!” ia menyanyikan lirik lagu The Baddest Female dari CL sambil menirukan gerakan tangan pada lagu itu.

Jenny tertawa dan ikut bernyanyi, “Eonni~~ Yo!! Whooo~~

Eonni.. eonni.. eonni.. hei~~” lanjut Suhyun.

Bobby menatap kedua gadis itu lucu, “Keure, napeun gijibe..” candanya.

 

=Sebuah Acara Amal=

Chaerin melangkah masuk dengan gaya eleganya yang selalu berkarisma. Ia tersenyum simpul pada orang-orang yang bertatapan dengannya dan mengangguk sopan sambil terus melangkah melewati orang-orang itu. ia tidak terlalu menyukai keramaian, namun acara seperti ini sangat penting baginya. Tangannya terulur mengambil gelas berkaki panjang dan menikmatinya sambil memandang sekitar.

Seunghyun keluar dari kerumunan orang dan menghampiri meja minuman. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah minuman, saat itu matanya tidak sengaja melirik gadis yang berdiri tak jauh darinya. dahinya berkerut merasa mengenal gadis berambut panjang itu, ia memperhatikan sang gadis sesaat dan tersenyum. “Chef Lee?”

Chaerin menoleh dan tertegun melihat Seunghyun. Dahinya berkerut dan memandang sekitar, lalu kembali memandang pria itu tak mengerti.

“Wuaa.. kenapa kita bisa bertemu disini?” Tanya Seunghyun tak mengerti.

“Sedang apa kau disini?” Tanya Chaerin.

“Mmm.. yang mengadakan acara ini temanku.. Dia punya sebuah fondation untuk anak-anak kurang mampu..” jawab Seunghyun.

“Temanmu?” Tanya Chaerin tak mengerti.

“Ne.. dia disana..” ucap Seunghyun sambil menunjuk di mana temannya, “Woo Jiho..” namun ia langsung tertegun melihat Jiho tampak berdebat dengan seorang gadis di seberang ruangan.

Chaerin memandang ke arah Senghyun menunjuk dan tertegun melihat Sungkyung juga ada disana dan sedang berdebat dengan pria bernama Jiho itu.

Seunghyun memperhatikan Sungkyung yang melangkah pergi meninggalkan Jiho, “Sebentar Chef-nim..” ucapnya sambil mengikuti kemana gadis itu pergi.

Chaerin memperhatikan Seunghyun yang terus pergi mengikuti Sungkyung.

“Dia menyihir Seunghyun samchon seperti orang bodoh..”

Sepertinya ia mengerti apa maksud Suhyun tempo hari. Seunghyun benar-benar tersihir oleh gadis itu.

Seunghyun mengikuti Sungkyung ke halaman belakang gedung yang di jadikan tempat acara amal itu. Gadis itu tampak menangis seorang diri disana. Ia berhenti sejenak memandangi gadis itu menangis, hatinya selalu terasa sakit melihat gadis itu menangis. Kakinya melangkah pelan ke sisi gadis itu sambil tersenyum, “Hei.. kau menangis lagi?”

Sungkyung menyeka air matanya dan memandang Seunghyun, “Kau sudah tiba?” tanyanya sambil tersenyum palsu.

Seunghyun mengangguk, “Kenapa lagi? Jiho membuatmu kesal?” tanyanya dengan nada bercanda.

Sungkyung memandang ke bawah menahan air matanya, “Aniya.. hanya…” bulir air matanya mulai berjatuhan lagi.

Seunghyun mengelus rambut Sungkyung lembut sambil menatap gadis itu sedih.

“Aku hanya tidak mengerti.. Kenapa dia selalu bersikap kasar padaku.. Aku melakukkan semua yang ia inginkan, juga datang kemari sebagai seorang model agar acaranya semakin besar..” ucap Sungkyung sambil menyeka air matanya.

‘Dia itu brengsek! Kenapa kau tidak mengerti?!’ batin Seunghyun kesal, “Mungkin dia hanya sedang banyak pekerjaan, kau tau kan dia tidak bisa berpikir jernih saat stress..” ucap bibirnya.

Sungkyung memandang Seunghyun, “Kenapa dia tidak bisa sepertimu, Seunghyun? Kau selalu mengerti aku apa pun yang terjadi.. Tapi dia selalu seperti itu..” ucapnya sebal dan memalingkan wajahnya.

Seunghyun menggenggam kedua tangannya untuk tidak memeluk Sungkyung atau pun mencium gadis itu disini. ‘Karena itu, kau seharusnya bersamaku Sungkyung..’ batinnya. Rasanya hati dan seluruh isi dadanya terjepit sesuatu melihat gadis di depannya terluka. ‘Haruskah aku mengatakannya sekarang?’ batinnya, tangannya terangkat untuk memegang pipi gadis itu dan memberitaunya tentang perasaan yang selalu membuatnya terluka ini. Namun semuanya berhenti ketika ponsel Sungkyung berbunyi.

Sungkyung mengeluarkan ponsel dari tas tangan dan segera mengangkat panggilan itu, “Ne, Jiho-a..”

Seunghyun tertegun dan kembali menarik tangannya.

Sungkyung menyeka sisa air matanya dan tersenyum, “Ne.. aku akan segera kesana..” ucapnya, lalu memutuskan telepon sambil memandang Seunghyun. “Seunghyun-a, aku harus kembali ke dalam.. Jiho mencariku..” ucapnya.

Seunghyun memaksakan bibirnya untuk tersenyum, lalu mengangguk. “Ne..”

Sungkyung berbalik dan melangkah cepat kembali ke tempat acara dengan senyuman lebarnya.

Seunghyun masih berdiri disana. Tersenyum seperti orang bodoh membiarkan gadis yang ia cintai pergi menemui pria lain. Bulir-bulir air matanya berjatuhan menyadari betapa bodohnya ia. Jika sejak dulu ia mengatakan perasaannya, semuanya tidak akan serumit ini. “Neo pabo, Lee Sungkyung..” gumamnya pelan. Kepalanya menoleh mendengar langkah kaki berhak tinggi berhenti di sebelahnya, ia tertegun melihat Chaerin.

Chaerin menatap Seunghyun dalam, lalu mengulurkan kedua tangannya ke pipi pria itu. Tanpa mengatakan apa pun ia menarik wajah pria itu ke arah wajahnya dan memejamkan mata ketika bibir mereka bertemu.

Seunghyun tertegun merasakan bibir Chaerin di bibirnya. Tangannya bergerak ke bahu gadis itu untuk mendorong, namun seperti ada percikan aneh di dalam dadanya merasakan ciuman lembut itu. Perlahan matanya terpejam dan memegang belakang kepala gadis itu.

Chaerin menarik wajahnya dan kembali menatap Seunghyun dengan air mata sudah membasahi kedua pipinya.

Seunghyun menatap Chaerin tak mengerti, gadis itu tampak terluka. “Chef-nim..”

“Kenapa kau menginginkan seseorang yang tidak menginginkanmu, Seunghyun-ssi?” Tanya Chaerin.

Seunghyun tertegun mendengar pertanyaan Chaerin.

“Jika semua orang yang kuinginkan menginginkan orang lain, bagaimana dengan perasaanku?” Tanya Chaerin dengan nada terluka.

Seunghyun kedua pipi Chaerin, ia merasa bersalah membuat gadis itu terluka. Lalu memeluknya erat seperti tidak akan melepaskannya lagi.

“Aku ada di sini, kenapa kau tidak melihatku?” Tanya Chaerin lagi.

Seunghyun mengelus rambut Chaerin dan memejamkan matanya merasakan tubuh gadis itu ada di pelukannya sekarang.

 

=Keesokan Harinya=

Chaerin berhenti begitu melihat Seunghyun sudah menunggu di depan gedung apartemennya.

Seunghyun tersenyum melihat Chaerin, “Annyeong..” sapanya sambil melambai.

Chaerin memandang ke bawah, malu dengan apa yang telah ia ucapkan kemarin malam di acara amal. Ia memalingkan wajah dan melangkah menuju parkiran mobilnya.

Seunghyun tersenyum lucu dan menarik tangan Chaerin, “Mobilku di sebelah sana..” ucapnya dan menarik sang gadis ke mobilnya.

Chaerin sangat malu untuk bertatapan dengan Seunghyun saat ini, ia seperti kehilangan dirinya semalam dan sekarang ia tidak tau harus mengatakan apa.

Seunghyun membukakan pintu dan memandang Chaerin, “Silahkan masuk..”

Chaerin mengangkat wajahnya memandang Seunghyun, “Mmm.. Seunghyun-ssi..”

Seunghyun memberikan kecupan manis ke bibir Chaerin, lalu tersenyum melihat ekspresi kaget sang gadis. “Wae?” tanyanya seperti tidak terjadi apa pun.

Chaerin terpaku menatap Seunghyun.

“Kau akan berdiri disana terus?” Tanya Seunghyun.

Chaerin tersadar, “Ne? oh.. ne..” ucapnya dan langsung masuk ke mobil.

Seunghyun menutup pintu dan melangkah ke kursi kemudi, ia mengenakan sabuk pengaman sambil memandang gadis di sebelahnya. “Wajahmu memerah..” ledeknya.

Chaerin memegang pipinya sambil memalingkan wajah.

Seunghyun menahan tawa dan menyalakan mesin, lalu meninggalkan area apartemen Chaerin. Suasana jadi canggung namun ia menyukainya, “Mmm.. Chef-nim..” ucapnya, “Oh.. aniya, Chaerin-a..” panggilnya.

Chaerin memandang Seunghyun.

“Aku ingin meluruskan kesalah pahaman kita sebelumnya..” ucap Seunghyun, “Anting-anting yang kau temukan ketika itu, aku memang membelikannya untukmu…” ucapnya.

Chaerin menatap Seunghyun tak percaya, “Ne?”

“Tapi kau berkata itu norak, jadi aku tidak berani mengatakannya..” ucap Seunghyun menyesal.

Chaerin menatap Seunghyun kesal, “Mwo?! Lalu kau membiarkan gadis itu mengenakannya?!” serunya.

Seunghyun terkejut Chaerin malah marah, “A-ani.. dia langsung mencobanya dan bertanya apakah itu hadiah untuknya, aku tidak mungkin membuatnya malu..” jawabnya pelan.

“Aissh!” Chaerin memukul bahu Seunghyun kesal.

“Aw! Ya! Aku sedang mengemudi!!” seru Seunghyun sambil memegang satu bahunya.

“Seharusnya kau memberitauku itu untukku!! Walaupun norak aku pasti mengenakannya jika kau yang memberiku!” seru Chaerin kesal, lalu melipat kedua tangannya ke dada dan memalingkan wajah ke jendela.

Seunghyun tertegun mendengar ucapan Chaerin dengan tatapan tak percaya, lalu tersenyum malu. “Jeongmal?” tanyanya.

“Shikeuro! Kau sudah memberikannya pada gadis itu!” ucap Chaerin kesal.

Seunghyun menahan tawa mendengar ucapan Chaerin, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan menyodorkannya pada sang gadis. “Ini..”

Chaerin memandang kotak kecil yang di berikan Seunghyun itu, lalu mengambilnya. “Ige mwoya?”

“Bukalah..” ucap Seunghyun sambil tersenyum.

Chaerin membuka kotak itu dan melihat sebuah kalung berlian dengan model minimalis di dalamnya.

Seunghyun memperhatikan ekspresi Chaerin sejenak, “Eotoekhe? Kau suka?”

Chaerin menatap Seunghyun sebal, “Apa seleramu memang selalu norak seperti ini?”

Senyuman Seunghyun memudar, “Ya sudah, kembalikan!” ucapnya sebal sambil mengulurkan tangannya.

Chaerin mendorong tangan Seunghyun, “Kau sudah memberikannya, tidak boleh di minta lagi..” ucapnya dan memasukkan kotak itu ke tas.

“Awal jika tidak kau kenakan..” ucap Seunghyun mengancam.

“Shikeuro! Perhatikan jalanannya!” ucap Chaerin sebal.

Seunghyun menatap jalanan sebal. Namun tak lama ia menahan senyuman karena Chaerin terlihat sangat lucu ketika mereka berdebat.

 

=Siangnya=

Hanbin memandang ke pintu ketika mendengar seseorang masuk dan membungkuk sopan melihat Seunghyun, “Annyeonghaseyo..”

Seunghyun tersenyum, “Kau tidak pergi makan siang, asisten Kim?”

Hanbin tersenyum, “Aniya.. Aku biasanya akan makan siang disini. Ada perlu apa anda kemari, Choi Seunghyun-ssi?”

Chaerin keluar dari ruang ganti sembari merapikan rambut panjangnya, “Asisten Kim, aku pergi sebentar..” ucapnya, namun langkahnya terhenti melihat Seunghyun ada disana.

“Ne, Chef-nim..” jawab Hanbin.

Seunghyun tersenyum memandang Chaerin, apalagi gadis itu mengenakan kalung yang ia berikan. Lalu menarik sang gadis ke sisinya sambil memandang Hanbin, “Aku datang untuk pergi makan siang bersama kekasihku..” ucapnya, “Permisi..” ia langsung menarik gadis itu keluar.

Hanbin melotot mendengar ucapan Seunghyun, “Mwo?! Ke-kekasih?” ucapnya tak mengerti.

Chaerin menatap Seunghyun aneh ketika mereka melangkah menuju lift, “Ya.. kenapa kau berkata seperti itu pada asisten-ku?”

Seunghyun tersenyum lebar, “Wae? Aku harus memberitau semua orang kau kekasihku.. Aku lengah sedikit orang lain akan mencurimu dariku..”

Chaerin tersipu malu mendengar ucapan Seunghyun, “Tidak perlu berlebihan..” ucapnya dan berhenti di depan lift.

Seunghyun menahan tawa dan menunggu lift.

Tak lama kemudian.

Chaerin bingung Seunghyun menghentikan mobil di depan panti asuhan yang biasa ia datangi, lalu menatap pria itu tak mengerti. “Kenapa kau kemari?”

Seunghyun tersenyum sembari melepaskan sabuk pengamannya, “Khaja.. Nanti mereka kelaparan menunggumu memasakkan makan siang untuk mereka..” ucapnya dan turun.

Chaerin tertegun mendengar ucapan Seunghyun. Ia juga tidak bergerak ketika pria itu berjalan ke pintu mobil di sisinya.

Seunghyun membuka pintu dan memandang Chaerin bingung, “Wae? Kau tidak akan turun? Apa aku yang akan memasak untuk mereka hari ini?”

“Ani..” jawab Chaerin sambil melepaskan sabuk pengamannya dan melangkah turun.

Seunghyun menutup pintu dan berjalan di sisi Chaerin sambil menggenggam tangan sang gadis.

Chaerin memandang tangannya dan memandang Seunghyun, bibirnya membentuk senyuman melihat betapa manisnya sikap pria itu.

 

=Apartemen Chaerin=

Chaerin meletakkan dua cangkir teh ke meja dan duduk di sebelah Seunghyun yang menonton tv, ia memandang pria itu aneh. “Apa kau memang seperti ini ketika berpacaran?”

Seunghyun tersenyum, “Ini pertama kalinya aku berpacaran..” jawabnya.

Chaerin menatap Seunghyun tak percaya, “Jeongmal?”

Seunghyun mengangguk, “Ne.. Lucu kan?” tanyanya.

Chaerin menahan tawa, lalu menatap Seunghyun serius. “Kau serius?”

Seunghyun tertawa kecil, “Aniya, aku bercanda..”

Chaerin menatap Seunghyun sebal, “Aissh.. kukira kau serius..”

Seunghyun mengangkat satu tangannya ke atas kepala Chaerin dan merangkul gadis itu, “Wae? Kau merasa aneh padaku?”

“Mmm.. tidak juga.. Aku lebih merasa takut dari pada aneh..” canda Chaerin.

Seunghyun tersenyum lucu, “Wae? Apa aku mengerikan?”

“Ani.. bukan itu..” ucap Chaerin, “Sebelumnya kau memang terlihat agresif mendekatiku, tapi aku tidak menyangka kau akan selalu menempel padaku seperti ini..”

Seunghyun tersenyum malu, lalu merebahkan kepalanya ke bahu gadis itu. “Seperti ini?”

Chaerin tertawa lucu sambil mendorong kepala Seunghyun, “Ya..”

Seunghyun menatap kedua mata Chaerin sambil tersenyum, “Mungkin akan terdengar seperti anak-anak.. Tapi saat aku jatuh cinta, aku akan melakukan apa pun untuk gadis yang kucintai itu. apalagi kekasihku, aku merasa dia milikku jadi aku bisa bersamanya kapanpun dan dimana pun..”

Chaerin tersenyum, “Seperti yang kau lakukan pada Lee Sungkyung?”

Seunghyun cemberut, “Kenapa kau merusak suasana?”

Chaerin tertawa kecil, “Miane.. Aku hanya bercanda..”

Seunghyun tersenyum, “Kita baru berpacaran beberapa hari, jangan buat kesal..” candanya.

Chaerin mengangguk mengerti, “Oh ya.. kau sudah berbaikan dengan Suhyun?”

Seunghyun menghela nafas dalam mengingat keponakannya, “Aku tidak punya waktu untuk bertemu dengannya. Ketika aku pulang, entah dia sengaja atau tidak, dia pasti sudah tidur. Juga ketika pagi, dia akan pergi sebelum aku turun dari kamarku..”

“Kau seharusnya lebih lunak padanya, dia remaja yang masih labil..” ucap Chaerin mengingatkan.

Seunghyun mengangguk, lalu tersenyum melirik Chaerin. “Hmm.. kau sudah terdengar seperti sangat mengenalnya sekarang..”

“Dia sering main ke dapurku akhir-akhir ini, dia selalu bercerita apa pun yang ia inginkan. Jadi aku tau..” jawab Chaerin.

Seunghyun menatap Chaerin dalam.

Chaerin mengerutkan dahinya, “Waeyo?”

Seunghyun memajukan wajahnya mendekati wajah Chaerin, “Apa kau mau menjadi ibu Suhyun?”

Chaerin tertegun mendengar pertanyaan Seunghyun yang terdengar sangat serius, “Ne?”

Seunghyun menatap Chaerin menunggu jawaban, namun perhatiannya teralih pada ponsel yang berbunyi. Ia mengambil ponselnya dan tertegun melihat siapa yang memanggil. Ia menutup layar dan memandang gadis di sebelahnya, “Sebentar..” ucapnya dan melangkah ke kamar mandi.

Chaerin tertegun Seunghyun sampai masuk ke kamar mandi untuk menjawab telepon.

Seunghyun mengunci pintu kamar mandi dan duduk di pinggir bath up, lalu mengangkat telepon. “Oh.. Ne Sungkyung-a..”

“Seunghyun-a, kau dimana?” Tanya Sungkyung di seberang.

“Mmm.. aku sedang di apartemen temanku..” jawab Seunghyun pelan, “Wae?”

“Mmm.. apa kau ada waktu? Aku sedang butuh teman berbicara..” ucap Sungkyung lesu.

“Hm? Kau dimana? Apartemenmu?” Tanya Seunghyun sembari bangkit, “Aku ke sana..” ucapnya, lalu memutuskan telepon dan melangkah keluar. Ia sempat bingung apa yang harus ia katakan pada Chaerin yang masih duduk di ruang tengah sambil menikmati teh. Ia melangkah pelan menghampiri gadis itu dan mengambil jasnya, “Mmm.. mian, aku harus pergi..” ucapnya.

Chaerin menyeruput tehnya sambil memandang tv, “Apakah tadi Lee Sungkyung?” tanyanya tanpa memalingkan wajah.

Seunghyun tertegun dan memandang ke bawah, “Mmm.. ne..”

Chaerin diam sejenak, “Pergilah..” ucapnya pelan.

Seunghyun justru merasa bersalah jika pergi begitu saja, ia memandang Chaerin menyesal. “Aku…” ia tidak tau harus mengatakan apa.

“Pergi sebelum aku menahanmu..” ucap Chaerin lagi.

Seunghyun merasa ingin memukul wajahnya sendiri karena membuat Chaerin terluka, “Ini yang terakhir kalinya..” ucapnya tanpa ragu.

Chaerin meletakkan gelas di tangannya ke maja tanpa menjawab ucapan Seunghyun.

Seunghyun bergerak duduk di sebelah Chaerin dan memegang pipi sang gadis agar memandangnya. “Aku bersungguh-sungguh, ini yang terakhir kalinya..”

Chaerin menatap kedua mata Seunghyun yang terlihat sangat serius. Perlahan kepalanya mengangguk mengerti.

“Kau percaya padaku, kan?” Tanya Seunghyun.

Chaerin tersenyum tipis dan mengangguk, “Ne..”

Seunghyun tersenyum dan mencium bibir Chaerin lembut, lalu memandang sanggadis lagi. “Aku pergi..”

Chaerin tersenyum, sekarang terlihat lebih tulus.

Seunghyun bangkit dan melangkah pergi tanpa beban karena Chaerin percaya padanya. Jika tadi ia pergi begitu saja, hubungan mereka pasti berakhir. Namun sekarang ia bisa tetap bersama gadis itu.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

2 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 17]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s