Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 16]

Chapter 16

16-Everything..-

 

Suhyun duduk lesu di tempatnya memikirkan kejadian kemarin di rumahnya.

“Suhyun, saat itu kau masih kecil. Samchon tidak ingin kau marah, semua ini tidak sama seperti dulu..”

“Tapi pada kenyataannya Suhyun bukan putriku!!”

Suhyun merasa seperti tidak mengenal pamannya. Mengingat ucapan Seunghyun kemarin malam, rasanya seperti selama ini ia tinggal bersama orang asing. ‘Kenapa samchon lebih mementingkan nenek sihir itu dari padaku?’ batinnya sedih.

Jenny duduk di sebelah Suhyun dan memandang temannya itu tak mengerti, “Suhyun-a, gwenchana?”

“Ne..” jawab Suhyun lesu.

“Jeongmal?” Tanya Jenny lagi.

“Aku hanya sedang datang bulan..” jawab Suhyun agar Jenny tidak bertanya lagi.

Jenny mengangguk mengerti, “ohh.. Keure..”

Di tempat lain.

Chaerin termenung mengingat anting-anting yang di kenakan Sungkyung kemarin, ‘Dengan bodohnya aku berpikir dia membelikannya untukku..’ batinnya.

Hanbin memandang Chaerin bingung, “Chef-nim..” panggilnya, namun gadis itu hanya termenung seperti tenggelam pemikirannya sendiri. Tangannya terulur dan memegang bahu gadis itu sekilas, “Chef-nim..”

Chaerin tertegun dan memandang Hanbin, “Ne?”

Hanbin bingung melihat ekspresi Chaerin, “Chef-nim, masakanmu..” ucapnya.

“Ne?” Chaerin memandang ke depan dan terkejut masakannya gosong, “Omo!” serunya sambil mematikan kompor. Ia terpaku menatap masakannya sejenak, lalu memadnang Hanbin.

“Waekeureyo chef-nim? Sepertinya anda tidak focus sejak pagi.. Apakah anda sakit?” Tanya Hanbin.

“Hm? Oh.. aniya.. aku hanya…” Chaerin mengelus dahinya tak mengerti.

“Anda bisa beristirahat dulu, chef-nim..” ucap Hanbin khawatir.

Chaerin menghela nafas dalam dan memandang Hanbin, “Kau berkata ibumu sedang sakit, kau bisa libur hari ini.. Aku merasa tidak bisa memasak hari ini..” ucapnya.

“Ne? oh.. gwenchanayo chef-nim?” Tanya Hanbin.

Chaerin mengangguk, “Ne..” jawabnya.

Hanbin membungkuk sopan dan melangkah ke ruang ganti.

Chaerin menghela nafas dalam dan bergerak duduk memandangi masakannya yang gosong.

Beberapa jam kemudian..

Chaerin berdiri di dekat jendela memandangi langit siang yang sangat cerah. Dapur terasa sangat tenang karena hanya ia seorang diri disana. Kepalanya menoleh mendengar seseorang masuk. Ia tertegun sesaat melihat Suhyun.

Suhyun melangkah lesu masuk dan duduk di kursi tanpa mengatakan apa pun.

Chaerin memandang Suhyun, “Asistenku tidak bekerja hari ini..” ucapnya.

Suhyun memandang kosong ke depan seperti tidak ada semangat yang tersisa di tubuhnya, “Ne..” jawabnya pelan.

Chaerin menghela nafas dalam dan berjalan ke balik meja dapur, “Kau sudah makan?” tanyanya sambil mengeluarkan bahan makanan.

Suhyun memandang Chaerin, “Ahjumma, apakah ada ramyun?”

Chaerin tertegun mendengar pertanyaan Suhyun.

20 menit kemudian.

Suhyun dan Chaerin duduk bersama menikmati ramyun yang baru saja di masak sang chef.

Chaerin mengunyah ramyun di mulutnya sambil memperhatikan ekspresi Suhyun, “Apa terjadi sesuatu kemarin?” tanyanya.

Suhyun berhenti sejenak dan menghembuskan nafas panjang, lalu memandang Chaerin. “Ahjumma, kau lihat gadis yang bersama Seunghyun samchon kemarin kan?”

Chaerin mengangguk pelan, “Ne..”

“Dia itu nenek sihir..” ucap Suhyun, “Nenek sihir yang sangat jahat..”

Chaerin menatap Suhyun tak mengerti, “Wae?”

“Dia menyihir Seunghyun samchon seperti orang bodoh.. Samchon tidak peduli padaku lagi jika sudah berhubungan dengan nenek sihir itu. Samchon juga selalu melakukan ini dan itu untuk nenek sihir itu.. Samchon tidak pernah lagi bertanya apakah aku sudah belajar atau belum setelah sibuk dengan nenek sihir itu.. Selama berbulan-bulan aku harus tinggal di rumah sendirian karena samchon pergi mengikuti nenek sihir itu kabur ke luar negeri..” Suhyun sangat terluka mengingat masa lalu yang terjadi akibat Sungkyung, kedua matanya terlihat memerah dan mulai di penuhi air. “Saat itu samchon berkata akan segera pulang, jadi aku menyelinap keluar dari kamarku untuk menunggunya di halaman. Aku ingin memberikan kejutan ketika ia tiba di rumah.. Tapi samchon tidak pulang-pilang juga hingga aku tertidur di halaman, keesokan harinya aku tersadar di ruang perawatan rumah sakit..” bulir-bulir air berjatuhan dari matanya, “Samchon.. berkata ia sangat menyesal membiarkanku menunggu dan berkata tidak akan menemui nenek sihir itu lagi.. Samchon berjanji akan menjagaku lebih baik… Tapi samchon tidak menepati ucapannya..”

Chaerin seperti bisa merasakan kesedihan Suhyun dengan melihat ke dalam mata gadis muda itu. Tangannya terulur memegang punggung tangan gadis itu dengan senyuman hangat tersungging di wajahnya, “Gwenchana, Seunghyun-ssi akan segera menyadari kesalahannya.. Dia akan selalu menjagamu, kau bisa mempercayainya..”

Suhyun memandang Chaerin penasaran, “Ahjumma, kau sangat mengenal samchon-ku?”

Chaerin diam sejenak karena pertanyaan Suhyun, “Awalnya kupikir begitu, tapi ternyata aku salah..” ucapnya pelan.

Suhyun menatap Chaerin tak percaya, “Aku juga..” ucapnya langsung, “Awalnya aku berpikir sangat mengenal Seunghyun samchon, tapi ternyata aku tidak mengenalnya sama sekali..”

Chaerin tersenyum lucu mendengar ucapan seperti itu dari anak seusia Suhyun, lalu mengangguk. “Ne.. kita merasa mengenal orang yang sama tapi sebenarnya tidak..” tanyanya.

Suhyun menahan tawa, perasaannya jadi lebih baik setelah berbicara dengan Chaerin.

Seunghyun menghampiri dapur namun tidak berani masuk karena tidak tau apa yang harus ia katakan pada Chaerin nanti. Ia menghela nafas sedalam-dalamnya dan bergerak untuk membuka pintu, ia berhenti karena melihat Suhyun di dalam sedang makan ramyun bersama sang chef melalui kaca di celah pintu. Ia terpaku di tempatnya melihat kedua gadis itu tampak tertawa kecil dan sudah akrab sekarang. tangannya yang memegang pegangan pintu jatuh lemas ke bawah, lalu menunduk dan melangkah pergi. Ia hanya akan merusak suasana baik di dalam sana jika masuk sekarang.

Kembali ke dalam dapur.

Setelah menghabiskan ramyun, Chaerin dan Suhyun melanjutkan obrolan mereka sambil menikmati minuman soda.

“Ahjumma, kau sudah menikah?” Tanya Suhyun.

Chaerin tersenyum lucu, “Aniya..”

“Wae? Tidak ada pria yang tahan denganmu?” canda Suhyun.

Chaerin menahan tawa, “Tentu saja tidak, aku yang belum berpikir untuk menikah..”

“Waeyo?” Tanya Suhyun ingin tau.

“Mmm.. hanya… aku merasa sendiri masih menyenangkan..” jawab Chaerin sambil tersenyum.

Suhyun mengangguk, “Ne.. Memang sendiri lebih menyenangkan..” ucapnya, “Nanti, setelah lulus kuliah aku juga ingin berkarir sepertimu dulu. Tidak perlu terlalu cepat menikah, pokoknya aku harus menikmati hidupku dulu..”

Chaerin mengangguk, “Ne.. itu ide yang bagus…” komentarnya dan tertawa.

Suhyun tersenyum lebar, “Kau tau? Ini pertama kalinya aku berbicara panjang lebar bersama wanita dewasa..”

Chaerin tersenyum tipis, mengingat Suhyun tidak memiliki orang tua membuatnya sedih.

Suhyun menerawang jauh ke depan, “Nanti, jika aku menikah dan punya anak. Aku tidak akan membiarkannya jauh dariku sedikit pun, juga tidak akan pergi kemana pun tanpa anakku..” ucapnya sedih, “Juga, aku tidak akan meninggalkan anakku hanya untuk menemani suamiku bertugas keluar negeri..”

Chaerin mengerti apa yang di rasakan Suhyun saat ini, memang sangat sulit kehilangan orang tua di usia muda seperti gadis di depannya. “Ne.. Kau akan menjadi ibu yang baik..”

Suhyun tersenyum menengar ucapan Chaerin, “Lalu, dimana orang tuamu Ahjumma?”

“Orang tuaku ada di Perancis..” jawab Chaerin, “Orang tua angkatku…”

Suhyun tertegun, “Ne? Orang tua angkat?”

Chaerin tersenyum sambil menopang dagunya dengan tangan, “Ne, aku tidak tau orang tua kandungku. Entah mereka masih hidup atau tidak.. Yang kutau, aku tumbuh di sebuah keluarga yang sangat hangat. Memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri dan mendukung apa pun yang kulakukan..”

Suhyun tampak bingung harus mengatakan apa setelah mendengar cerita Chaerin.

“Gwenchana.. Kau bisa mengatakan apa pun yang ada di pikiranmu..” ucap Chaerin.

“Mmm.. apa kau pernah merindukan orang tua kandungmu?” Tanya Suhyun ragu.

Chaerin tersenyum lagi, “Bagaimana bisa kau merindukan orang yang tidak kau kenal?”

Suhyun mengangguk membenarkan, “Ne, benar juga..”

“Sekarang aku sudah mempunyai keluarga yang sayang padaku, kenapa aku harus memikirkan hal yang akan membuatku sedih? Lebih baik menjaga apa yang ada di sekitarku sekarang..” jawab Chaerin.

Suhyun diam sejenak mencerna ucapan Chaerin, lalu tersenyum kagum memandang gadis di depannya. “Tiba-tiba kau terdengar bijaksana..” candanya.

Chaerin tertawa kecil, “Setiap orang memiliki kebijaksanaannya sendiri.. Kau juga akan bijaksana jika bisa menemukan hal positif yang ada di sekitarmu.. Sesuatu yang membuatmu sedih dan sulit tidak seharusnya menghentikanmu, benar kan?”

Suhyun mengangguk setuju, “Ne..”

Chaerin memandang jam di dinding, “Sudah sore, kau tidak akan pulang? Nanti kakek dan pamanmu khawatir..”

Suhyun mengangguk dan menyandang tasnya lagi sembari, “Aku pergi.. Annyeonghaseyo..” ucapnya sambil membungkuk sopan, lalu melangkah ke pintu.

“Choi Suhyun..” panggil Chaerin.

Suhyun berhenti sejenak memandang Chaerin, “Ne?”

Chaerin tersenyum, “Jangan mampir ke tempat mana pun lagi, langsung ke rumah..”

Suhyun tersenyum lebar, “Yes Chef!!” ucapnya, melangkah keluar.

 

=Rumah Keluarga Choi=

Suhyun duduk di meja belajarnya sambil memandangi photo ayah dan ibunya yang telah meninggal. Satu tangan menopang dagu dan satu lagi memegang pena, “Eomma, appa.. apakah sekarang sudah saatnya aku untuk tidak merepotkan samchon lagi?” tanyanya. Ia menghela nafas dalam dan memandang bukunya, lalu membalik halaman demi halaman hingga berhenti karena ada sebuah lipatan surat disana. Ia mengambil kertas itu dan membukanya, itu surat ijin untuk study tour sekolahnya. Bibirnya membentuk senyuman karena mendapat sebuah ide. Kepalanya menoleh ke jam dinding, “Oh.. samchon pasti belum pulang..” ucapnya sambil bangkit dan melangkah riang keluar kamar.

Begitu menuruni tangga, Suhyun tersenyum lebar melihat kakeknya duduk di ruang tengah menonton tv. Ia segera menghampiri sang kakek, “Harabeutji..” sapanya manja.

Tuan Choi memandang cucu kesayangannya sambil tersenyum, “Wae?” tanyanya sambil membelai rambut Suhyun.

Suhyun membuka surat ijin untuk study tour-nya, “Harabeutji, ini surat ijin untuk study tour-ku.. Aku sangat ingin pergi, semua teman-temanku akan pergi.. Masa aku tidak..” ucapnya manja.

Tuan Choi membaca surat itu sejenak, lalu memandang Suhyun. “Seunghyun samchon sudah setuju?”

Suhyun cemberut, “Kenapa samchon? Aku minta ijin sama harabeutji saja..”

“Ne, tapi nanti jika dia memarahimu lagi bagaimana?” Tanya Tuan Choi.

Suhyun tersenyum lebar dan bergelayut manja pada kakeknya, “Gwenchana, kan harabeutji akan membelaku..” ucapnya sambil mengedip-kedipkan matanya manja.

Tuan Choi tertawa melihat keimutan sikap Suhyun, “Aigoo.. kau benar-benar bisa membujuk harabeutji..” ucapnya gemas, “Dimana harabeutji harus tanda tangan?” tanyanya.

Suhyun langsung memberikan pena ke tangan Tuan Choi, “Disini harabeutji..” ucapnya sambil menunjuk tempat tanda tangan orang tua/wali.

Tuan Choi menandatangai surat itu dan tersenyum pada Suhyun, “Nah.. kau senang?”

Suhyun mengangguk girang, “Ne.. gumawoyo harabeutji..” ucapnya manja.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 16]

  1. Hahah mereka berdua cocok sepertinya =)
    Aigoooo suhyun mmng bnr2 … tapi gk papalh kan sekali2 hheehhe nanti keseringan pula kkkk.
    kan suhyun udh besar pandai jga diri =)
    Next eon
    fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s