Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 15]

Chapter 15

15

-This is a big TROUBLE!!-

 

Chaerin duduk di pinggir tempat tidurnya memandangi photo-photo masa lalunya bersama dua temannya ketika masih tinggal di Paris. Ia berhenti di photo yang menunjukkan photonya bersama seorang pria dan seorang gadis. Pria itu, pria keturunan asli Korea yang lahir dan tumbuh di Paris. Pria pertama yang membuatnya tertarik dan mengerti apa arti cinta. Ia mengorbankan perasaannya, waktunya, juga harga dirinya demi pria yang tidak menginginkannya. Bulir-bulir air berjatuhan dari matanya dan memasukkan kumpulan photo itu ke kotak semula. Ia tidak ingin merasakan cinta sejak saat itu lagi, saat ia pikir cinta hanya akan menyakitinya. Menyakiti siapa pun yang merasakannya.

Tapi sekarang air matanya kembali berjatuhan karena seorang pria yang bahkan belum ia kenal dengan baik. Pria yang akan melakukan apa pun demi gadis yang tidak menginginkannya. Ia tau bagaimana rasanya, namun tidak tau ketika melihat orang lain merasakan hal yang sama juga menyakitinya.

Di tempat lain.

Seunghyun menghampiri pintu kamar Suhyun dan membukanya, namun terkunci. Ia tau keponakannya pasti sangat marah hingga mengunci pintu. Tangannya terangkat dan mengetuk pintu, “Suhyun-a..” panggilnya. Tidak terdengar jawaban, “Suhyun, samchon tau kau belum tidur..” ucapnya lagi.

Akhirnya terdengar suara kunci pintu terbuka dan daun pintu juga terbuka lebar, tampak Suhyun yang langsung menatap Seunghyun dingin.

“Suhyun-a, ada yang ingin samchon bicarakan padamu..” ucap Seunghyun.

“Aku akan berbicara duluan..” ucap Suhyun, “Samchon sudah berjanji untuk tidak menemui nenek sihir itu lagi, tapi samchon melanggar janjimu!”

Seunghyun menghela nafas dalam dan berlutut dengan satu kakinya menyamakan tinggi mereka, ia menatap keponakannya dalam. “Ne, samchon bersalah. Tapi samchon memliki alasan di balik itu semua..”

“Mwo?!” Tanya Suhyun.

“Bagaimanapun Lee Sungkyung adalah teman samchon, samchon tidak bisa langsung memutuskan hubungan dengannya..” ucap Seunghyun menjelaskan.

Suhyun menatap Seunghyun tak percaya, “Mwo?!”

Seunghyun memegang kedua tangan Suhyun, “Samchon berjanji tidak akan sering menemuinya, ne?”

Suhyun tertegun sesaat, “Tidak mungkin..” gumamnya sendiri, “Apa teman yang samchon bantu hingga tidak pulang waktu itu adalah dia?!”

Seunghyun terdiam mendengar ucapan Suhyun, “Mmm.. Suhyun-a..”

Suhyun menatap Senghyun tak percaya dan menarik tangannya dari kedua tangan pria itu, “Aku tidak percaya..” ucapnya dengan nada terluka.

“Suhyun, samchon bisa menjelaskannya.. Dengarkan samchon dulu..” pinta Seunghyun sambil berusaha memegang tangan Suhyun lagi.

Bulir-bulir air berjatuhan dari kedua mata Suhyun menatap Seunghyun, “Dulu samchon berkata lebih memilihku dari pada nenek sihir itu! kenapa samchon berubah sekarang?!”

“Suhyun, saat itu kau masih kecil. Samchon tidak ingin kau marah, semua ini tidak sama seperti dulu..” ucap Seunghyun berusaha menjelaskan.

Suhyun merasa semakin terluka dengan ucapan Seunghyun, “Karena aku masih kecil? Jadi samchon tidak pernah serius dengan ucapanmu?! Kau berkata tidak pernah melanggar janjimu!!” serunya.

Seunghyun menunduk menyesal beberapa saat dan kembali memandang keponakannya, “Suhyun, dengarkan samchon dulu..” ucapnya berusaha tenang.

“Aku tidak ingin mendengar ucapanmu!! Kau akan berbohong lagi padaku!! Sampai kapan pun samchon tidak akan pernah memilihku dari pada nenek sihir itu!! aku tidak akan percaya padamu lagi!!” seru Suhyun sambil mendorong Seunghyun menjauh.

Tuan Choi yang mendengar keributan dari lantai atas segera naik, “Suhyun-a, waekeureyo?” tanyanya tak mengerti.

Suhyun berlari menghampiri Tuan Choi, “Harabeutji.. Samchon berbohong padaku, dia bilang tidak akan menemui nenek sihir itu lagi! tapi tadi samchon bersama nenek sihir itu!!” tangisnya.

Tuan Choi mengerutkan dahi, “Nenek sihir?” tanyanya bingung, lalu memeluk cucuknya agar tenang sambil memandang putranya.

Seunghyun bergerak bangkit dengan kepala tertunduk.

Tuan Choi menatap Seunghyun tak percaya, “Mungkinkah… Lee Sungkyung?”

Seunghyun memandang ayahnya menyesal, “Abeutji, kali ini tidak akan sama seperti dulu.. Tolong percaya padaku..”

“Andwaeyo! Jangan percaya pada samchon, harabeutji..” tangis Suhyun.

“Ne.. ne.. harabeutji mengerti..” ucap Tuan Choi menenangkan cucunya dan menatap putranya tegas. “Temui abeuji setelah ini..” ucapnya dingin, lalu membawa cucunya masuk ke kamar.

Seunghyun menghela nafas dalam di tempatnya.

Kamar Tuan Choi.

Tuan Choi menatap putranya tegas, “Jadi kau benar-benar kembali berhubungan dengan Lee Sungkyung?”

Seunghyun duduk di depan ayahnya dengan kepala tertunduk, “Abeutji, aku tidak pernah berhubugan dengannya. Kami hanya berteman..”

“Ne! kau sangat bodoh! Dia hanya menganggapmu teman tapi kau menganggap gadis sialan itu segalanya!!” seru Tuan Choi marah.

Seunghyun tidak bisa menyalahkan ayahnya karena menyebut Sungkyung seperti itu, “Abeutji, kumohon jangan berkata seperti itu…” pintanya pelan.

“Kau yang membuat abeutji berkata seperti itu?! kau tidak ingat apa yang telah dia sebabkan beberapa tahun lalu? Apa kau tidak punya otak untuk berpikir lagi?!” Tanya Tuan Choi.

Seunghyun menatap ayahnya menyesal, “Semua itu salahku, abeutji.. Aku yang pergi menemuinya malam itu, tolong jangan salahkan dia..”

“Mwo?! Kau sedang menentang ucapan ayahmu?!” seru Tuan Choi.

“Abeutji, jebal.. Aku tidak ingin memperpanjang ini..” ucap Seunghyun, lalu berdiri dan membungkuk sopan.

“Choi Seunghyun!!” seru Tuan Choi.

Seunghyun berhenti dan berdiri di tempatnya sebelum ayahnya mengamuk.

Tuan Choi berdiri dengan tatapan marahnya pada Seunghyun, “Mwo? Kau berkata kau akan membesarkan Suhyun seperti putrimu, bukan seperti ini cara membesarkan putrimu!! Kau harus mengutamakan putrimu!! Bukan gadis lain!! Jika putrimu tidak menyukainya, berarti kau tidak bisa bersama gadis itu!!”

Seunghyun menatap ayahnya, “Tapi pada kenyataannya Suhyun bukan putriku!!” seurnya kesal.

Tuan Choi menyipitkan matanya menatap Seunghyun, “Keure, dia memang bukan putrimu.” Ucapnya, “Wajar kau membiarkannya hampir mati membeku menunggumu di depan rumah saat itu..” ucapnya sinis.

Seunghyun menahan amarah mendengar ucapan ayahnya, “Abeutji!!”

“Choi Seunghyun! Seharusnya kau berpikir dengan otakmu! Kenapa Suhyun hampir celaka malam itu! Jika abeutji tidak meminta asisten Song kembali ke rumah malam itu, mungkin tidak akan ada yang tau kalau Suhyun telah menyelinap keluar dari kamarnya untuk menunggumu di halaman hingga pagi! Lalu apa?! Kau tidak akan melihatnya hidup saat ini!” ucap Tuan Choi penuh penekanan.

“Ne! Aku tau! Itu semua salahku! Aku menyadarinya! Sekarang dia sudah cukup besar, tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu lagi!!” tegas Seunghyun.

Tuan Choi menggeleng dengan tatapan kecewa pada putranya, “Kau tau kenapa hyungmu selalu yang terbaik? Dia tidak pernah mengutamakan egonya..” ucapnya.

“Abeutji!! Jangan pernah samakan aku dengan hyung!!” seru Seunghyun marah.

“Ne, mianata.. kau tidak akan mungkin sebaik dia..” ucap Tuan Choi dan memalingkan wajahnya.

Seunghyun mendengus kesal, lalu melangkah keluar dari kamar ayahnya. Begitu keluar ia melihat asisten Song memandang ke arah tangga.

Asisten Song memandang Seunghyun dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo..”

Seunghyun mengangguk, lalu melangkah melewati asisten Song.

“Mmm.. tuan..” panggil asisten Song ragu.

Seunghyun berhenti dan memandang asisten Song, “Ne?”

“Mmm.. maaf, tapi apakah tadi ada pembicaraan serius antara anda dan Sajangnim? Sepertinya Suhyun Agassi menguping tadi..” ucap asisten Song.

Seunghyun tertegun, “Mwo?” ia memandang ke lantai atas tak percaya.

“Ne, tadi saya melihatnya berlari dari arah kamar Tuan Choi dan naik ke atas..” jawab Asisten Choi.

Seunghyun langsung melangkah cepat menuju tangga dan naik ke atas, “Suhyun.. Suhyun!” panggilnya sembari mengetuk pintu kamar keponakannya.

Brak!!

Seunghyun terkejut mendengar sesuatu terbanting ke pintu dari dalam, ia diam sejenak dan kembali mengetuk perlahan. “Suhyun, buka pintunya sebentar..” pintanya pelan.

“AKU INGIN AYAH DAN IBUKU!!!” teriak Suhyun dari dalam.

Seunghyun sangat menyesali semua ucapannya tadi. Ayahnya benar, seharusnya ia tidak mengikuti rasa egonya. Seharusnya ia lebih mengutamakan Suhyun. “Suhyun.. Samchon sangat menyesal.. buka pintunya..” ucapnya, bulir air jatuh dari matanya mewakili perasaannya.

Suhyun berdiri di tengah kamarnya menatap pintu sambil menangis.

Tok! Tok! Tok!

“Suhyun.. buka pintunya..” pinta Seunghyun lagi.

Suhyun menutup telinga dengan kedua tangan dan memejamkan matanya, “APPA!!!” teriaknya, lalu membuka mata dan mendorong semua yang ada di mejanya hingga jatuh berantakan di lantai. “EOMMA!!!” teriaknya lagi. lalu terduduk ke lantai dan menangis, berharap sebuah ke ajaiban akan muncul dan membuat kedua orang tuanya kembali pulang.

Seunghyun tidak bisa menghentikan air matanya, ia hanya berdiri di depan pintu kamar Suhyun penuh penyesalan.

 

=Keesokan Harinya=

“Mwo? Suhyun sudah berangkat sekolah?” Tanya Seunghyun tak percaya pada pelayan saat makan pagi.

“Sudah biarkan saja…” ucap Tuan Choi yang sudah mulai makan, “Jangan bertingkah seperti kau peduli padanya lagi..” ucapnya dingin.

Seunghyun menatap ayahnya, “Abeutji..”

Tuan Choi menatap Seunghyun dingin, “Makan saja..” ucapnya, lalu kembali memandang makanannya.

Seunghyun menghela nafas dalam dan melanjutkan makannya.

Setengah jam kemudian.

Chaerin keluar dari gedung apartemennya, langkahnya terhenti melihat Seunghyun sudah berdiri disana.

Seunghyun tersenyum canggung, “Chef-nim, sudah siap pergi?”

Chaerin memandang ke depan dan kembali melangkah melewati Seunghyun, “Kau bukan supirku, kenapa datang setiap pagi?” ucapnya datar tanpa berhenti.

Seunghyun mengikuti Chaerin, “Mmm.. aku hanya ingin menjemputmu.. Mobilku di sebelah sana..” ucapnya.

“Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri..” ucap Chaerin sambil mengeluarkan kunci mobilnya dari tas.

Seunghyun berusaha memutar otak untuk menemukan cara agar Chaerin pergi bersamanya, “Mmm.. Chef-nim, kau sudah sarapan? Bagaimana jika kita pergi sarapan terlebih dulu?” tanyanya sambil tetap membuntuti Chaerin.

“Jangan sok perhatian..” ucap Chaerin cuek dan menghampiri mobilnya.

“Anting kemarin bukan untuk Sungkyung!!” ucap Seunghyun sebelum Chaerin masuk, berharap gadis itu tidak salah paham dengan semua yang terjadi.

Chaerin berhenti sesaat dengan pintu mobil terbuka, lalu menatap Seunghyun tanpa ekspresi. “Apa itu urusanku?” tanyanya dingin.

Seunghyun tertegun, “Ne? Chef-nim..”

Chaerin masuk ke mobil dan segera mengenakan sabuk pengamannya, lalu meninggalkan kawasan parkir apartemennya.

Seunghyun hanya bisa berdiri memperhatikan mobil Chaerin yang terus bergerak pergi.

Sementara itu di mobil Chaerin. Gadis itu berusaha menutupi sisi dirinya yang asli, dirinya yang sebenarnya sangat rapuh. Bulir air matanya berjatuhan begitu saja menyadari dirinya seharusnya tidak terlalu mudah memasukkan Seunghyun ke hatinya. “Kenapa kau masih saja bodoh, Lee Chaerin?” gumamnya.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 15]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s