Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 13]

Chapter 13

13

-You Got Me-

 

“Kau akan ke perusahaan kakekmu lagi setelah ini?” Tanya Jenny sembari menorehkan cat di kanvasnya.

“Ne..” jawab Suhyun yang melakukan yal yang sama.

“Kenapa kau sering sekali kesana akhir-akhir ini?” Tanya jenny ingin tau.

Suhyun tersenyum malu, “Hanya karena aku ingin saja..” jawabnya, sebenarnya karena ia ingin bertemu Hanbin.

“Aissh.. Apa kita akan kemari setiap Sabtu?!” gerutu Bobby yang tidak tau harus membuat apa di kanvasnya.

Suhyun dan Jenny memandang Bobby aneh, “Biasanya kau hanya akan menggambar balon..” ucap Jenny heran.

Bobby meletakkan tempat catnya ke meja, “Aissh.. ini sangat membosankan..” ucapnya, “Aku akan makan es saja di kafetaria..” ucapnya sembari bangkit dan melangkah pergi.

“Ne? Ya.. tunggu aku..” ucap Suhyun sambil meletakkan kuas dan tempat catnya, lalu mengikuti Bobby.

Jenny memandang dua temannya bingung, “Ya.. kenapa kalian pergi?”

Di kafetaria.

Suhyun dan Bobby duduk bersama menikmati es krim dengan tenang.

Suhyun melirik Bobby, “Ya.. jika kau tidak suka ekstrakurikuler seni kenapa tidak keluar saja?”

Bobby menatap Suhyun aneh, “Kau sendiri?”

“Kalau aku, tidak ada yang kusukai lagi. Jadi jika keluar aku harus mencari yang lebih aneh dari ini..” jawab Suhyun, “Kau?”

Bobby menggigit es krim dan membiarkan benda beku itu mencair di mulutnya, “Hanya.. tidak ada yang ingin kulakukan..” jawabnya.

Suhyun menatap Bobby aneh, “Kau pikir aku akan percaya jika kau berkata seperti itu?“

Bobby menatap Suhyun aneh, “Jadi aku berkata aku ada di kelas itu untuk menjaga Jenny?” tanyanya.

“Kalau yang itu aku baru percaya..” jawab Suhyun santai.

Bobby menatap Suhyun kaget, “Mwo? Kau pikir aku melakukan itu?”

“Ne…” jawab Suhyun tanpa ragu.

Bobby memperlihatkan ekspresi seperti apa yang di ucapkan Suhyun sangat menjijikkan, “Kenapa aku melakukan itu? dia juga bukan anak kecil lagi..”

“Aissh.. terus saja sangkal..” ucap Suhyun dan menggigit es di tangannya.

“Benar kok..” ucap Bobby berkeras.

Suhyun memandang Bobby lucu, “Jeongmal?”

“Ne..” jawab Bobby sambil memalingkan wajahnya dan memakan es lagi.

Diam-diam Suhyun menjulurkan lidah meragukan ucapan Bobby dan kembali memakan es krimnya. Tak lama tangannya mengeluarkan ponsel dari saku dan menempelkannya ke telinga, “Ne, Jenny..” ucapnya pelan.

Bobby memandang Suhyun sekilas menunjukkan dia tidak tertarik.

Suhyun tertegun, “Mwo? Dimana kau sekarang?” tanyanya mulai panic.

Bobby memandang Suhyun lebih antusias.

Suhyun menatap Bobby tak percaya, “Mwo?! Sedang apa kau di gudang?! Tadi kau kan masih di kelas lukis!” ucapnya kesal.

“Aissh! Apa yang lakukan sekarang?!” ucap Bobby kesal, lalu bangkit dan melangkah cepat meninggalkan kafetaria.

Suhyun tersenyum lucu melihat Bobby pergi, lalu menarik ponsel dari telinganya dan menikmati es krim dengan tenang.

Bobby berhenti karena Suhyun tidak mengikutinya, lalu berbalik menatap gadis itu tak mengerti. “Kenapa kau masih disana?!”

“Kau bilang tidak untuk menjaga Jenny..” ucap Suhyun lucu.

Bobby mendengus kesal mengetahui ia hanya di permainkan Suhyun, “Aissh! Kau tidak bisa menjadikan hal seperti ini lelucon!!” serunya kesal.

“Aku kan tidak berkata dia kenapa-kenapa..” jawab Suhyun membela diri.

“Hahaha! Lucu sekali!”ucap Bobby sinis, lalu melangkah keluar dari kafetaria.

Suhyun tertawa lucu dan mengejar Bobby, “Ya.. tunggu..”

 

=Saat Makan Siang =

Seunghyun melangkah di antara pertokoan di sebuah mall di Seoul. Langkahnya terhenti untuk memperhatikan perhiasan yang terpajang di balik kaca etalase sebuah toko, bibirnya membentuk senyuman dan melangkah masuk kesana. Tak lama ia kembali keluar dari tempat itu dengan sebuah tas belanjaan kecil, ia tersenyum memandang bawaannya, lalu melangkah pergi.

Seunghyun masuk ke mobilnya sembari meletakkan tas bawaannya ke tempat duduk di sebelahnya, lalu mengenakan sabuk pengaman dan segera meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan ia mengambil sebelah ear phone dan memasangnya, lalu memanggil sebuah nomor.

“Ne..” jawab seorang gadis dengan nada monoton.

Seunghyun tersenyum, “Kau dimana? Sudah kembali ke kantor?”

“Ani.. aku masih di suatu tempat..” jawab Chaerin di seberang.

“Suatu tempat? Dimana?” Tanya Seunghyun.

“Suatu tempat..” jawab Chaerin lagi.

“Pffff.. dasar, kau masih sok misterius ha?” canda Seunghyun.

“Ada apa? Aku masih ada urusan..” ucap Chaerin.

“Aku akan menjemputmu, kau dimana sekarang?” Tanya Seunghyun.

“Tidak perlu, kututup..” jawab Chaerin dan memutuskan telepon.

Seunghyun memandang layar ponselnya, “Oh.. benar-benar..” gumamnya, lalu tersenyum. “Ne, gadis elegan itu memang arogan..” ucapnya, namun bukan dia jika tidak bisa menaklukan gadis itu. “Keure, lihat di GPS saja..” ia langsung membuka layar GPS-nya dan mencari dimana gadis itu sekarang.

Di tempat lain.

Seunghyun berhenti di sebuah tempat dan memandangnya bingung, “Dia benar-benar kemari?” tanyanya tak percaya, lalu memandang layar ponselnya lagi. “Mmm.. okay..” ucapnya tak yakin sembari melepaskan sabuk pengaman dan turun. Kakinya melangkah menghampiri gedung sederhana bertuliskan ‘Panti Asuhan’ itu. Meskipun tidak yakin, ia masuk ke tempat itu sambil memperhatikan sekitar.

Seorang wanita awal 30-an melihat Seunghyun masuk dan segera menghampiri pria itu, “Ada yang bisa saya bantu tuan?”

Seunghyun tersenyum tipis, “Annyeonghaseyo, aku kemari karena mendengar Chef Lee Chaerin ada disini..”

Wanita itu tersenyum, “Oh.. ne, chef-nim baru saja sedang makan siang bersama anak-anak..” jawabnya.

Seunghyun tertegun, “Ne? makan bersama anak-anak?”

Wanita itu mengangguk, “Mari tuan..” ucapnya sembari memimpin jalan masuk.

Seunghyun mengikuti langkah wanita itu dengan dahi berkerut, “Anak-anak yang anda maksud, anak-anak siapa?” tanyanya penasaran.

“Anak-anak di panti ini..” jawab wanita itu, “Dia selalu kemari ketika makan siang untuk memasakan makanan sejak tahun lalu..”

Seunghyun menatap wanita itu tak percaya, “Ne?”

Wanita itu berhenti di depan ruang makan dan memandang ke dalam, “Itu Chef-nim..” ucapnya.

Seunghyun berhenti di sebelah wanita itu dan ikut memandang ke dalam. Ia langsung terpaku melihat Chaerin duduk di antara anak-anak yang terlihat masih di bawah 10 tahunan di lantai beralas karpet, juga memangku seorang bayi laki-laki gemuk yang sangat menggemaskan. Gadis itu terlihat sangat berbeda. Dari gadis yang selalu dingin dan menolak orang lain, menjadi seorang ibu yang tersenyum seperti seorang malaikat memperhatikan anak-anak di sekitarnya makan. Bahkan juga menyupai bayi di pangkuannya.

Wanita itu tersenyum penuh rasa terima kasih memperhatikan Chaerin, “Chef-nim sudah seperti malaikat bagi anak-anak disini..” ucapnya.

Bibir Seunghyun membentuk senyuman kagum, “Ne, dia memang seorang malaikat..”

“Meskipun aku berkata tidak perlu datang setiap hari, ia tetap datang setiap hari untuk membuatkan makan siang. Juga ketika kami berada di masa sulit karena tidak ada bantuan dana akhir tahun lalu, Chef-nim yang membantu kami. Dia memberikan hadiah, membuatkan makanan, juga memberikan kehangatan pada anak-anak disini..” cerita wanita itu.

Mendadak sosok mengagumkan Chaerin berubah menjadi seorang dewi cantik bersayap indah dimata Seunghyun. “Apa anda penjaga panti asuhan ini?” tanyanya masih dengan tatapan kagum pada Chaerin.

“Ne, saya yang menjaga anak-anak ini sejak panti di buka..” jawab wanita itu.

Seunghyun memandang wanita itu sambil tersenyum, “Aku akan mengambil alih panti ini dan memastikan mereka semua mendapat pendidikan dan kehidupan yang lebih baik..”

Wanita itu tertegun menatap Seunghyun, “Ne?”

Seunghyun mengeluarkan kartu namanya dan memberikan pada wanita itu, “Tidak perlu beritau pada Chef-nim siapa aku, aku akan membantu tanpa memunculkan namaku..” ucapnya, lalu membungkuk sopan dan melangkah pergi.

Wanita itu masih terpaku di tempatnya dengan kartu nama Seunghyun di tangannya, lalu membungkuk sopan pada pria itu. “Gamshamida..” ucapnya penuh haru.

Seunghyun tidak pergi dari tempat itu, melainkan duduk di dalam mobilnya menunggu Chaerin keluar. Setelah hampir 2 jam, akhirnya gadis itu keluar dari panti asuhan. Bibirnya membentuk senyuman dan menurunkan kaca jendela ketika sang gadis berlalu, “Annyeonghaseyo..”

Chaerin terkejut dan menoleh, dahinya berkerut melihat Seunghyun. “Choi Seunghyun-ssi?”

Seunghyun tersenyum lebar memamerkan giginya yang rapi, “Kau akan kembali ke kantor?”

Chaerin memandang sekitar dan kembali memandang pria itu, “Sedang apa kau disini?”

Seunghyun mengangkat ponselnya menunjukkan layar GPS, “GPS..”

Chaerin menatap Seunghyun tak mengerti, “Kenapa kau mengikutiku? Kau penggemar rahasiaku?”

Seunghyun tertawa kecil, “Masuklah.. aku akan memberikan tumpangan..” ucapnya dan menaikkan jendela mobilnya lagi.

Chaerin menahan senyuman dan melangkah memutari mobil. Ia membuka pintu dan bergerak naik, karena melihat ada sebuah tas kertas kecil di kursi sebelah supir, ia mengambil tas itu ketika duduk sambil menutup pintu. “Ige mwoya?” tanyanya.

Seunghyun tersenyum, “Lihatlah..” ucapnya sambil memutar kunci mobilnya.

Chaerin mengintip ke dalam tas kecil itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak di dalamnya. “Kau beli perhiasan?” tanyanya sambil membuka kotak itu. ia terpaku melihat sepasang anting-anting berlian indah disana. “Kenapa kau membeli ini?”

“Mmm.. hanya…” Seunghyun berusaha menemukan alasan yang bagus, “Bagaimana menurutmu?”

Chaerin menutup kotak itu dan memasukkannya ke dalam tas lagi, “Norak sekali..” jawabnya sambil meletakkan tas tadi ke dashboard.

Seunghyun tertegun, “Ne?”

Chaerin menyandarkan punggungnya ke kursi memandang keluar.

Mulut Seunghyun terbuka tak percaya, lalu mengumpat sendiri dalam hati karena telah membeli anting-anting itu.

Chaerin memandang Seunghyun, “Untuk siapa kau membelikannya?”

Seunghyun terkejut mendengar pertanyaan Chaerin, “Ne?! oh… se-seorang..” jawabnya pelan.

“Hmmm..” gumam Chaerin menjawab ucapan Seunghyun.

Seunghyun sangat kesal karena tidak berpikir Chaerin tidak suka anting-anting model seperti itu. ‘Kenapa aku tidak mencari jenis yang lebih elegan?’ batinnya kesal sendiri.

Setibanya di kantor.

Seunghyun menghentikan mobilnya dan bergerak turun bersama Chaerin, ia berusaha terlihat biasa agar tidak mencurigakan. Ia mengeluarkan ponselnya yang berbunyi dan melihat nama Sungkyung di sana, “Ne..” jawabnya sambil tetap melangkah di sebelah gadis itu. Mendadak langkahnya terhenti mendengar ucapan Sungkyung di seberang, “Mwo? Oh.. arasso..” ucapnya, “Ne, aku segera kesana..” jawabnya dan memutuskan telepon.

Chaerin ikut berhenti sambil memandang Seunghyun, “Wae?”

Seunghyun tersenyum, “Aku harus pergi, sampai nanti..” ucapnya dan kembali ke mobil.

Chaerin diam di tempatnya memperhatikan mobil Seunghyun bergerak pergi meninggalkan area kantor. Ia kembali melangkah memasuki gedung kantor.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 13]

  1. aigo…seunghyun terpesonakah ama kepribadian chaerin yg lain & soal anting2 itu pasti dia ksel bgd krn d.bilng norak hehe
    tpi kyanya seunghyun blm bisa moveon dr sungkyung hufttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s