Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 12]

Chapter 12

12

-My Samchon In Love 2-

 

Seunghyun melangkah menuju lift sambil memandang ponselnya, ia menghela nafas dalam dan memanggil sebuah nomor. Kakinya berhenti sejenak mendengarkan bunyi nada tersambung di seberang.

“Oh.. Seunghyun-a..” sapa suara ceria Sungkyung di seberang.

Seunghyun tersenyum mendengar suara Sungkyung, “Hei.. kau baik-baik saja? Bagaimana Milan?”

“Hmm.. sebenarnya sangat melelahkan karena aku bekerja di sini, tapi sangat menyenangkan..” jawab Sungkyung senang, “Bagaimana denganmu? Apakah pekerjaanmu berjalan lancar?”

“Ne.. sangat lancar..” jawab Seunghyun, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding. “Apa kau akan langsung kembali atau akan pergi ke tempat lain lagi?”

Sungkyung tertawa kecil, “Dari Milan aku akan langsung ke Jepang, Jiho sedang berada disana untuk pekerjaannya..”

Seunghyun tertegun merasakan sesuatu teriris di hatinya mendengar nama Jiho, “Oh.. hmm.. sepertinya Jiho lebih sibuk darimu..” ucapnya berpura-pura bercanda.

“Aniya.. aku juga sibuk tau..” ucap Sungkyung sebal.

Seunghyun tersenyum sedih, “Ne.. Aku tau kau sangat sibuk..”

Sungkyung tertawa kecil lagi, “Kenapa kau selalu membenarkan ucapanku?” tanyanya lucu, “Jiho selalu membantah dan membuat kami bertengkar..” candanya.

Seunghyun memejamkan matanya, ‘Seharusnya kau bersamaku, Sungkyung..’ batinnya.

“Yoboseyo.. Seunghyun-a..” panggil Sungkyung di seberang.

Seunghyun membuka matanya perlahan dan kembali tersenyum, “Keure, aku harus pergi.. Sampai jumpa..”

“Ne..” jawab Sungkyung dan telepon terputus.

Seunghyun menarik ponsel dari telinganya dan memandang ke bawah sejenak untuk menetralkan perasaannya, ketika berdiri tegap ia menyadari Chaerin berdiri tak jauh darinya. Menatapnya tanpa ekspresi. “Oh.. Chef-nim, kau juga akan pulang?”

Chaerin yang tidak mengenakan kacamata hitamnya memandang ke depan dan melangkah menuju lift tanpa memandang Seunghyun lagi.

Seunghyun mengikuti Chaerin berjalan menuju lift, bibirnya membentuk senyuman melihat sang chef tidak mengenakan kacamatanya lagi. “Matamu sudah lebih baik?”

Chaerin memandang ke bawah sejenak tanpa menjawab pertanyaan Seunghyun, lalu memandang pria itu. “Keponakanmu, Choi Suhyun..”

Seunghyun tertegun, “Ne? wae?”

“Sepertinya dia mempunyai bakat menjadi seorang Chef..” ucap Chaerin memberitau.

Seunghyun mengerutkan dahi, “Bagaimana kau tau?”

“Aku hanya ingin memberitaumu itu..” ucap Chaerin, lalu melangkah ke lift yang sudah terbuka.

Seunghyun memandang Chaerin tak mengerti, kepalanya berat ke satu sisi.

Chaerin menekan tombol yang menahan pintu lift tetap terbuka dan memandang Seunghyun, “Kau tidak akan masuk?”

Seunghyun tertegun, “Ne? oh.. Ne..” ia segera melangkah masuk dan berdiri di sisi lain lift.

Chaerin menekan tombol lantai dasar dan menunggu.

Seunghyun melirik Chaerin, ia masih bingung memikirkan ucapan gadis itu tadi tentang Suhyun. “Mmm.. Chef-nim..” panggilnya ragu.

Chaerin memandang Seunghyun.

“Mmm.. tentang ucapanmu tadi, kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” Tanya Seunghyun.

Chaerin mengangkat bahu tanda tak tau, “Kenapa kau tidak mencari taunya sendiri?”

Seunghyun mengerutkan dahi, “Kau sedang mempermainkanku ya?”

Chaerin memalingkan wajah sambil menahan senyum.

Mata Seunghyun membesar melihat Chaerin tersenyum, “Oh.. kau tersenyum lagi!” ucapnya senang sambil menunjuk wajah gadis itu.

Senyuman Chaerin menghilang dan menatap Seunghyun kesal, “Wae? Apa aku tidak boleh tersenyum?”

“Hm? Oh.. aniya.. bukan begitu..” ucap Seunghyun salah tingkah.

Chaerin mendengus kesal dan memalingkan wajahnya kesal.

Seunghyun jadi bingung sendiri apa yang harus ia katakan sambil garuk-garuk kepala.

Brak! Brak!!

Chaerin dan Seunghyun terkejut tiba-tiba lift berguncang dan berhenti.

Seunghyun spontan langsung menahan tubuh Chaerin yang hampir hilang keseimbangan karena mengenakan sepatu hak tinggi, “Oh! Kau baik-baik saja?” tanyanya panic.

Chaerin berusaha mengendalikan rasa paniknya beberapa saat, lalu memandang Seunghyun yang masih merangkul bahunya. Ia terpaku sejenak menatap kedua mata pria itu, sedetik kemudian ia memalingkan wajah dan melepaskan tangan Seunghyun dari bahunya.

“Oh.. cesonghamida..” ucap Seunghyun menyesal sambil menjaga jaraknya dan Chaerin.

Chaerin merapikan bajunya dan memandang sekitar, “Apa yang terjadi?”

Seunghyun menghampiri tombol panel dan menekan tombol darurat, laku memandang Chaerin. “Gwenchana.. teknisi akan segera memperbaikinya..”

Chaerin menghela nafas dalam dan mengangguk.

Setengah jam kemudian..

Chaerin dan Seunghyun duduk di lantai sambil mengipas-kipas wajah mereka dengan tangan.

Chaerin menatap Seunghyun kesal, “Kau bilang teknisi akan memperbaikinya! Kenapa kita masih terkurung disini?!”

Seunghyun tersenyum canggung, “Aku juga tidak tau akan selama ini..” ucapnya, lalu memandang layar ponselnya, tidak ada sinyal hingga ia tidak bisa menghubungi siapa pun. Udara semakin panas karena mereka terkurung disana, “Ahh.. aku bisa meleleh..” ucapnya sembari melepaskan jas, lalu bangkit dan menekan tombol darurat berkali-kali.

Chaerin menghela nafas dalam berusaha menenangkan pikirannya, rambutnya sudah mulai basah karena keringat dan membuatnya semakin merasa panas. kedua tangannya mengangkat tinggi rambutnya sambil mengipas-kipas lehernya, “Sampai kapan kita akan terjebak disini?” gumamnya sebal.

Seunghyun memandang Chaerin iba, lalu memukul pintu lift pelan. “Aissh! Kenapa harus saat aku berada di dalam sini?!” ucapnya kesal.

Chaerin mengeluarkan ponselnya dan menghela nafas lesu karena tidak ada sinyal yang tertangkap disana. “Kenapa mereka menyebut ini smartphone?!” serunya kesal.

Seunghyun bergerak duduk lagi dan memandang Chaerin, “Cesongeo..”

Chearin memandang Seunghyun tak mengerti, “Wae?”

“Karena kau terjebak di situasi seperti ini bersamaku..” jawab Seunghyun.

Dahi Chaerin berkerut, “Kenapa kau meminta maaf karena itu?”

Seunghyun tersenyum, “Dengan begitu kau harus menjawab semua pertanyaanku..”

Chaerin memutar bola matanya kesal.

Seunghyun tertawa kecil, “Ayolah.. akan membosankan jika kita hanya duduk diam dan menunggu kematian..”

Chaerin menatap Seunghyun kesal, “Kematian siapa?!”

Seunghyun tertawa, “Aku hanya bercanda..” ucapnya lucu, lalu menyandarkan punggungnya ke dindin. “Boleh aku tau kenapa kau ingin menjadi chef?”

Chaerin diam sejenak, “Hanya ingin..” jawabnya malas.

“Eii.. ayolah.. kenapa kau masih menganggapku orang asing?” ucap Seunghyun sebal sambil mendorong bahu Chaerin dengan jari telunjuknya.

Chaerin menatap Seunghyun kesal.

“Ayolah..” bujuk Seunghyun dengan senyuman manisnya, “Jika kau menceritakan punyamu, aku akan menceritakan punyaku..” ucapnya, namun karena melihat Chaerin menatapnya seperti ingin menyumbat mulutnya dengan sesuatu, ia berubah pikiran. “Oke, aku akan menceritakan kenapa aku ingin menjadi chef dulu..” ucapnya.

Chaerin memalingkan wajahnya karena Seunghyun tidak memaksanya berbicara lagi.

Seunghyun memandang ke depan sambil mengenang masa lalunya sebagai chef, “Karena ayahku menjalankan bisnis makanan, aku hanya berpikir mungkin menyenangkan membuat makanan baru yang akan di nikmati banyak orang..” ucapnya memulai, bibirnya membentuk senyuman tipis. “Sejak kecil, aku sudah tau ayahku lebih menyukai hyungku karena lebih tertarik dengan bisnis keluarga. Sementara aku yang jauh lebih muda tertarik dengan seni memasak.. Hyungku sering memujiku di depan ayah kami bahwa aku akan menjadi koki hebat yang membuat perusahaan semakin besar…” ia diam sejenak mengingat tatapan ayahnya ketika hyungnya mengatakan itu, “..tapi ayahku tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatapku seperti hal itu tidak akan terjadi..”

Chaerin memandang Seunghyun dan mendengarkan dengan seksama.

“Seujurnya aku tidak terlalu terpengaruh, karena hyungku selalu ada disana untuk membantuku. Lalu hyungku menikah dengan seorang gadis idamannya, gadis paling luar biasa yang pernah kutemui.” Ucap Seunghyun, lalu memandang Chaerin dengan senyuman bangganya, “Kau tau? Aku yang memasak semua makanan di pernikahan mereka 17 tahun lalu..”

Chaerin tersentuh melihat tatapan Seunghyun, perlahan bibirnya membentuk senyuman.

“Setahun kemudian Suhyun lahir, aku sangat senang akhirnya di rumah kami akan tumbuh seorang gadis..” lanjut Seunghyun, “Aku belajar keras dan mendalami kemampuan memasakku. Setelah lulus SMA aku tidak melanjutkan kuliah karena ingin mempelajari dunia masak.. Aku pergi dari rumah dan bekerja di dapur sebuah kapal pesiar, kepala Chef saat itu adalah teman hyungku. Jadi aku bisa dengan mudah masuk ke sana. Setelah dua tahun aku menjadi kepala chef..” ucapnya, “Aku hebatkan?”

Entah mengapa Chaerin merasa senang mendengar cerita Seunghyun, ia mengangguk masih dengan senyuman di wajahnya.

Seunghyun menghela nafas berat sebelum melanjutkan ceritanya, “Lalu aku terpaksa kembali kemari dan mempelajari bisnis, setelah ini bekerja disini..”

Chaerin diam sejenak mencerna ucapan terakhir Seunghyun, “Mmm.. kau waktu itu berkata kau pernah menjadi kepala chef selama 5 tahun, kenapa kau berhenti? Bukankah lebih baik bekerja di tempat yang lebih besar lagi?”

Seunghyun mengangguk, “Saat itu, seharusnya aku berkeliling dunia untuk mempelajari masakan baru untuk menambah ilmuku..” jawabnya.

Chaerin tak mengerti melihat Seunghyun terlihat sedih, “Lalu?”

“Hyungku….” Seunghyun berhenti sejenak, “Di tahun kelima saat aku mulai merancang perjalananku ke Negara-negara lain, pesawat yang di naiki hyungku dan istrinya terjatuh ketika mereka pergi ke China untuk mengurus pekerjaan disana..”

Chaerin tertegun mendengar jawaban Seunghyun.

Seunghyun memandang ke bawah mengenang hari itu, “Aku kembali ke Korea untuk pemakamannya.. Aku berencana hanya akan tinggal beberapa minggu hingga keadaan kembali tenang..” ia berhenti sejenak lagi, lalu tersenyum tipis. “Tapi malam sebelum aku pergi, Suhyun mendatangiku dan menatapku dengan mata polosnya. Bertanya kenapa kedua orang tuanya belum kembali.. Ia bertanya apakah mereka telah melupakannya hingga tidak akan kembali ke rumah..” ia menghela nafas dalam sejenak agar air matanya tidak terjatuh, “Saat itu aku tidak bisa bergerak sedikit pun, aku tidak tau mengapa. Lalu, aku memeluk Suhyun dan berkata kalau semuanya akan baik-baik saja. Karena aku akan menjaganya lebih baik dari siapa pun..” ia tertegun merasakan bulir air matanya terjatuh, “Oh.. cesongeo..” ucapnya sambil memalingkan wajah dan menyeka air matanya. Ia berhenti merasakan Chaerin memegang tangannya dan menoleh, ia tertegun melihat kedua mata gadis itu basah dan bulir air telah membasahi kedua pipi sang gadis.

Chaerin tersenyum hangat, “Kau sudah melakukan hal yang sangat baik..”

Seunghyun tersenyum, lalu mengulurkan tangannya menyeka air mata Chaerin.

Chaerin menahan tawa sambil menyeka air matanya, “Kau melihatku yang sebenarnya..” ucapnya pelan.

“Aku senang melihatmu yang sebenarnya..” ucap Seunghyun.

Chaerin tertegun mendengar memandang Seunghyun.

Seunghyun tersenyum lebar, “Lalu, ceritamu bagaimana?”

Chaerin menahan tawa, “Pff.. kau ini..”

Seunghyun tertawa kecil, “Keure, ceritakan lain kali saja.. Aku masih punya banyak waktu luang untuk mendengarkannya..”

Chaerin tersenyum memandang Seunghyun, lalu mengangguk.

 

=Rumah Keluarga Choi=

Suhyun menatap Seunghyun tak percaya, “Samchon terkurung di dalam lift selama 1 jam?” Tanyanya tak percaya ketika mendengar sang paman di ruang makan.

Seunghyun mengangguk, “Keren kan?” tanyanya sambil tersenyum bangga.

Tuan Choi menatap Seunghyun aneh karena mengatakan hal itu keren.

“Apa samchon panic hingga putus asa dan berteriak-teriak seperti orang yang akan mati?” Tanya Suhyun.

Seunghyun tertawa mendengar imajinasi keponakannya, “Tentu saja tidak.. Ada Chef Lee disana, nanti samchon tidak terlihat keren jika melakukannya..”

Suhyun tertegun, “Chef Lee juga? Wuaaa.. apa ada kejadian seperti di film Final Destination?”

Seunghyun tertawa lagi, “Ada, Chef Lee tiba-tiba bersikap baik. Itu sebuah pertanda juga kan?”

Suhyun tertawa, “Hahaha.. mungkin..”

“Sudah.. sudah.. selesaikan makan kalian..” ucap Tuan Choi.

Suhyun menahan tawa dan melanjutkan makannya.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Chaerin menghampiri mobilnya yang sudah keluar dari bengkel sembari mengeluarkan kunci dan menekan kunci otomatisnya, ia berhenti melihat sebuah note tertempel di kaca jendela.

Chef-nim, ketika kau berbalik.. Berarti kau akan pergi bersamaku..

Dahi Chaerin berkerut, “Ige mwoya?” gumamnya, lalu berbalik ingin mengetahui apa yang di maksud tulisan itu. ia tertegun melihat Seunghyun berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum lebar.

“Good morning..” sapa Seunghyun.

Chaerin menahan senyumannya, pria itu selalu tau cara membuatnya tersentuh.

Perjalanan menuju kantor.

Seunghyun melirik Chaerin yang terlihat melepaskan anting-anting di kedua telinga gadis itu, “Waekeure? Kenapa kau melepaskan antingmu?”

“Warnanya tidak cocok dengan bajuku..” jawab Chaerin sembari menyimpan anting-antingnya ke dalam tas tangan.

Seunghyun mengerutkan dahi, “Lalu kenapa kau mengenakannya?”

“Tadi kupikir warna biru akan cocok dengan bajuku, tapi setelah kuperhatikan lagi ternyata tidak cocok..” jawab Chaerin sambil berkaca di kaca spion diatas kepalanya, ia juga merapikan rambut panjangnya dan mengembalikan posisi kaca spionnya.

Seunghyun memperhatikan Chaerin tanpa rasa canggung di sebelahnya melepaskan anting-anting dan merapikan rambut, lalu tersenyum memandang ke depan.

“Oh ya.. apa kau tau keponakananmu selalu datang ke dapurku setelah pulang sekolah?” Tanya Chaerin.

Seunghyun tertegun, “Ne? Jeongmal?”

“Ne..” jawab Chaerin.

“Kenapa dia kesana? Apa dia membuat keributan atau mengganggumu?” Tanya Seunghyun.

“Ani.. Dia sepertinya tertarik pada asistenku..” jawab Chaerin menahan senyumannya.

Seunghyun tertegun sesaat, lalu memandang Chaerin sekilas dan kembali memandang ke depan. “Kim Hanbin?” ucapnya tak percaya.

“Ketika masuk ke dapur, dia akan langsung menghampiri asistenku dan memanggilnya ‘oppa’, ‘oppa’..” cerita Chaerin menirukan cara Suhyun memanggil Hanbin.

Seunghyun menghela nafas dalam, “Apa di sekolahnya tidak ada pria keren ya? Kenapa Kim Hanbin?” gumamnya tak mengerti.

Chaerin tertegun dan menatap Seunghyun kesal, “Apa maksudmu?”

“Hm? Oh.. a-aniya.. maksudku.. itu.. Mmm…” Seunghyun kebingungan menjawab pertanyaan Chaerin.

“Cukup.. tidak perlu menjawab..” ucap Chaerin sambil memalingkan wajahnya ke jendela.

Seunghyun kesal sendri telah mengatakan hal seperti tadi.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

2 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 12]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s