Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 11]

Chapter 11

11

-My Samchon In Love-

 

Sekolah Suhyun.

Jenny menatap Suhyun tak percaya, “Kau benar-benar tidak akan pergi?!”

Suhyun mengangguk, “Ne..”

Jenny cemberut, “Waeee??”

Suhyun menghembuskan nafas panjang, “Seunghyun samchon sudah melarangku, aku tidak ingin dia marah..”

“Jika kau tidak ada aku pasti kesepian..” ucap Jenny kecewa.

Suhyun tersenyum, “Gwenchana.. Kan ada Bobby..”

“Bobby? Aissh.. dia hanya akan mengejek dan mengangguku di sana..” keluh Jenny sebal.

Bobby yang sejak tadi duduk diam sambil membaca komik menatap Jenny sebal, “Jangan terlalu percaya diri.. Memangnya tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain mengganggumu?!”

“Tuh kaan.. belum apa-apa dia sudah menggangguku..” ucap Jenny sebal.

Suhyun memandang Bobby dan Jenny bergantian, “Ya.. kapan kalian akan berhenti?” tanyanya sebal.

Food&Health.

Seunghyun mempercepat langkahnya begitu melihat Chaerin melangkah memasuki kantor, “Chef Lee..” panggilnya.

Chaerin menoleh sekilas dan kembali memandang ke depan.

“Chef Lee..” panggil Seunghyun lagi dan berhasil menarik tangan gadis itu.

Chaerin berhenti dan memandang Seunghyun tanpa ekspresi, lalu menatap tangan pria itu yang memegang tangannya.

Seunghyun dengan cepat melepaskan tangan Chaerin, “Oh.. cesonghamida..”

Chaerin berbalik dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun.

Seunghyun sangat kesal karena tidak berkutik di depan gadis itu.

Ruang Devisi Perencanaan.

Seunghyun duduk bersandar memandangi ponselnya. Ia sudah melakukannya sejak satu jam yang lalu namun tau apa yang akan ia lakukan. Akhinya ia menghela nafas dalam dan membuka layar pesan baru, lalu mengetik sesuatu.

Neo gwenchana?

Ia mengirimkan pesan itu dan menunggu balasan.

Lee Sungkyung : Ne, gwenchana.. Aku akan pergi ke Milan untuk pemotretan, begitu kembali aku akan segera mengabarimu..

Seulas senyum muncul di wajah Seunghyun dan mengetik balasan.

Selamat bersenang-senang..

Minji bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Seunghyun dengan berkas di tangannya, “Sanbaenim..”

Seunghyun mengangkat wajah memandang Minji, “Oh.. ne, ada apa?”

“Ini.. daftar resep yang sudah di siapkan oleh Chef Lee..” ucap Minji sambil memberikan berkas di tangannya pada Seunghyun.

Seunghyun menerima berkas itu dan melihatnya, ia mengangguk kecil membaca daftar resep disana. “Hmm.. ini sangat bagus..” ucapnya dan memandang Minji sambil tersenyum, “Kerja bagus.. Kita bisa segera melakukan syuting untuk menayangkan resep-resep ini..” ucapnya sambil memegang bahu gadis itu.

Minji tersipu malu dan membungkuk sopan sembari mengambil berkasnya lagi, “Gamshamida sanbaenim..” ucapnya, lalu kembali ke tempat duduk.

Seungyoon melirik Minji yang mendiskusikan sesuatu pada Dara tentang berkasnya sebelum memberikannya pada Jiyong, lalu mendekat dengan Seunghyun. “Seunghyun-ssi, sepertinya kau sangat memperhatikan anak baru kita?” bisiknya.

Seunghyun memandang Seungyoon aneh, “Wae? Bukankah sudah seharusnya membantu junior?”

“Eiii.. kau hanya mengkritikku dulu ketika baru masuk..” ucap Seungyoon sebal.

“Itu karena itu masuk bersama-sama, paboya?” Tanya Seunghyun aneh, “Sudah, kembali bekerja sana..” ucapnya menahan tawa.

Seungyoon tertawa kecil dan melanjutkan pekerjaannya.

Semuanya menoleh ketika mendengar ponselnya berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk, ia mengambil ponselnya dan membaca pesan itu.

Kwon Jiyong : Ya.. temui aku sebentar..

Dahi Seunghyun berkerut, lalu bergerak bangkit. “Aku akan ke toilet sebentar..” ucapnya dan melangkah keluar.

Chaerin membuka pintu tangga darurat dan melangkah masuk. Ia berhenti di balik pintu dan menghela nafas dalam. Ia tidak bisa berkonsentrasi sejak semalam. Ekspresi Seunghyun yang tampak menyesal terus berputar-putar di kepalanya. ‘Kenapa dia sangat menyesal?’ batinnya tak mengerti. Ia mengelus dahinya dan melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan. Efek kecelakaan waktu itu sudah tidak separah sebelumnya, namun masih menimbulkan cahaya silau ke matanya. “Mengapa aku selalu seperti ini?” gumamnya pelan, lalu bergerak duduk di tangga untuk menenangkan perasaannya sejenak.

“Ya.. Ya.. apa-apaan ini?”

Chaerin mendongak mendengar suara pria yang di tarik masuk ke ruang tangga darurat oleh seseorang dari lantai atas.

“Ya.. apa-apaan kau? nanti orang berpikir ada sesuatu diantara kita!” ucap suara berat pria tadi.

“Aissh! Memangnya kau pikir kau itu tipeku?! Sudah diam!” seru pria lain sebal.

Dahi Chaerin berkerut, ‘Bukankah itu suara Seunghyun?’ batinnya sembari berdiri dan mengenakan kacamatanya lagi.

Sementara itu.

Seunghyun menatap Jiyong tak mengerti karena sudah menyeretnya ke tangga darurat, “Kenapa kau menarikku kemari?”

Jiyong menatap Seunghyun serius, “Ya.. Apa Lee Sungkyung menghubungimu?”

Seunghyun tertegun, “Hm? W-Wae?”

“Kudengar Lee Sungkyung sudah kembali ke Korea dan menjadi model disini, apa Woo Jiho juga kembali kemari?” Tanya Jiyong.

“Ne? mmm.. keurom, kau tau mereka selalu bersama..” jawab Seunghyun pelan.

Jiyong mendengus kesal, “Jadi dia benar-benar menghubungimu?”

Seunghyun tertegun, “Oh.. itu..”

“Ya Choi Seunghyun! Kau akan terus seperti ini?! Kau akan terus menjadi budaknya?!” Tanya Jiyong tak percaya.

Seunghyun tidak bisa mengelak lagi, ia mengelus belakang kepalanya ragu. “Mmmm.. budak siapa? Dia tidak seperti itu, ada apa denganmu?”

Jiyong melipat kedua tangannya di dada, “Seunghyun-a, aku berbicara sebagai temanmu.. Jebal, kau harus berhenti seperti ini.”

Seunghyun memandang ke bawah sambil menghela nafas dalam, ia sudah sering mendengar ucapan seperti itu dari teman terdekatnya jika sudah membahas mengenai Lee Sungkyung. “Kemanhe, aku tidak ingin mendengarnya lagi..” ucapnya, lalu melangkah ke pintu.

Jiyong menahan Seunghyun dan menatapnya, “Seunghyun-a..”

Seunghyun memandang Jiyong, lalu tersenyum tipis sambil memegang bahu pria itu, “Jangan khawatirkan aku..” ucapnya, lalu keluar terlebih dulu.

Chaerin tertegun mendengar percakapan kedua pria itu, ia mendongak untuk melihat ke atas. Tampak Jiyong masih berdiri disana selama beberapa saat dengan wajah kesal dan keluar dari ruangan itu. tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh mendengar sesuatu mengenai Seunghyun, ‘Kenapa aku harus mendengarnya?’ batinnya.

 

=Apartemen Chaerin=

Chaerin keluar dari gedung apartemennya sambil menyisir rambut panjangnya dengan tangan, langkahnya terhenti ketika melihat Seunghyun berdiri di sebelah mobil.

Seunghyun menoleh ketika menyadari seseorang menatapnya, ia tersenyum canggung melihat Chaerin.

“..Kau akan terus seperti ini?! Kau akan terus menjadi budaknya?!”

Ucapan Jiyong seperti terdengar lagi di telinga Chaerin, ia diam sejenak dan melangkah menghampiri Seunghyun. “Kau sudah menunggu lama? Bukakan pintu..” ucapnya.

Seunghyun tertegun mendengar ucapan Chaerin, “Ne? oh.. Ne..” ia segera membukakan pintu untuk Chaerin.

Chaerin melangkah masuk ke mobil dan duduk dengan tenang.

Seunghyun bingung dengan sikap Chaerin karena kemarin gadis itu tampak sangat membencinya.

Chaerin mengenakan sabuk pengaman dan memandang Seunghyun yang masih memandangnya tanpa menutup pintu, “Wae? Kau tidak akan pergi ke kantor?”

Seunghyun tertegun, “Oh.. ne..” ia menutup pintu dan segera masuk ke mobil. Entah mengapa ia jadi sangat gugup berada di dekat Chaerin. Begitu masuk, ia melirik gadis di sebelahnya sembari mengenakan sabuk pengaman. Juga menghidupkan mesin dan menjalankan mobil. Suasana sangat hening hingga membuatnya gugup, ia melirik gadis itu lagi karena terlihat sangat tenang. “Mmm.. bagaimana matamu, Chef-Lee? Kau masih harus mengenakan kacamata hitam?”

“Ne.. efeknya masih menggangguku..” jawab Chaerin.

Seunghyun mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu..”

Hening..

Seunghyun benar-benar gugup hingga tidak bisa menggerakkan jarinya dari stir mobil. Matanya melirik Chaerin lagi, ia menyadari gadis itu mengelus lengan. “Oh.. kau kedinginan?” tanyanya sambil membesarkan penghangat.

Chaerin memandang Seunghyun.

Seunghyun tertegun menyadari Chaerin memandangnya, “Waeyo?”

Chaerin menghela nafas dalam sambil melepaskan kacamata hitamnya, “Aniya..” jawabnya sembari memandang ke depan lagi.

Seunghyun mengangguk sendiri, namun pikirannya tidak bisa beralih dari gadis di sebelahnya. “Kau sudah sarapan?”

“Sudah..” jawab Chaerin singkat tanpa mengalihkan pandangan.

Seunghyun terkena ‘mental breakdown’ mendengar jawaban Chaerin, “Hmm.. apa kau masih marah padaku?”

“Wae?” Tanya Chaerin.

“Karena kejadian malam itu..” jawab Seunghyun canggung, “Saat aku lupa menunggumu..”

Chaerin menyibak rambut dari satu bahunya dan memandang Seunghyun, “Choi Seunghyun-ssi, apa aku tampak semudah itu bagimu?”

Seunghyun tertegun sesaat mendengar pertanyaan Chaerin, “Ne? oh.. Aniya..” jawabnya, lalu kembali memandang ke depan. Seulas senyum muncul di wajahnya, ‘Aniya.. kau tidak semudah itu..’ batinnya senang karena mengetahui gadis itu memang tertarik padanya.

 

=Food&Health=

Suhyun memandang ke kanan dan kiri dari balik dinding, setelah memastikan situasi aman, ia merapikan rambutnya dan melangkah riang menuju dapur. Ia membuka pintu dan memperhatikan ke dalam, bibirnya langsung membentuk senyuman lebar melihat Hanbin sedang memasak sesuatu.

Chaerin yang baru kembali ke kantor setelah makan siang mengerutkan dahi melihat seorang gadis mengenakan seragam mengintip dari pintu dapur. Sebelum bertanya ia sudah tau siapa gadis itu. Ia membungkuk ke sebelah gadis itu agar bisa mengintip ke dalam.

Suhyun merasakan seseorang di sisinya dan menoleh, ia tertegun melihat Chaerin, “Omo! Ahjumma!”

Chaerin memandang Suhyun aneh, “Wae? Kau sedang memata-matai dapurku?”

Hanbin mendengar suara dari pintu dan menoleh, ia bingung melihat Chaerin dan Suhyun berdiri disana. “Apa yang terjadi?” tanyanya.

Chaerin memandang Hanbin, “Tidak ada..” jawabnya dan melangkah menuju ruang ganti.

Suhyun tersipu malu karena Hanbin memandangnya. Ia menunduk sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, lalu melangkah menghampiri meja dapur. “Annyeonghaseyo, oppa..” sapanya.

Hanbin tersenyum manis, “Annyeonghaseyo, Suhyun-ssi..”

Suhyun kegirangan mendapat balasan semanis itu dari Hanbin, “Hmm.. oppa sedang masak apa?”

“Ini resep terbaru yang di ciptakan Chef Lee, kau ingin mencobanya?” Tanya Hanbin menawarkan.

Suhyun tertegun menatap Hanbin, lalu tersenyum lebar. “Ne!!”

Dengan senyuman manis, Hanbin mengambil piring dan menyalin masakannya ke piring. Lalu meletakkannya ke hadapan Suhyun dan memberikan sendok, “Silahkan kau coba..”

Suhyun melepaskan tasnya dan meletakkannya ke kursi, lalu bergerak duduk. “Aku akan coba..” ucapnya sembari mengambil sendok dan mencicipi masakan Hanbin.

Hanbin melipat kedua tangannya di meja dapur memperhatikan ekspresi Suhyun.

Suhyun mengunyah makanan di mulutnya dan merasakannya sejenak, tak lama dahinya berkerut memandang Hanbin.

Hanbin menatap Suhyun penasaran, “Wae? Tidak enak?”

“Mmm.. bukannya tidak enak sih, oppa.. Tapi seperti ada sesuatu yang kurang.. Mmm.. bagaimana menyebutkannya ya?” ucap Suhyun bingung.

Chaerin keluar dari ruang ganti dan menghampiri meja dapur, “Itu resep yang kita ciptakan?”

Hanbin langsung berdiri tegap, “Ne, Chef..”

Chaerin memperhatikan penampilan makanan itu sejenak, lalu mengulurkan tangannya pada Hanbin.

Hanbin langsung memberikan sendok ke tangan Chaerin.

Chaerin mencicipi masakan Hanbin dan merasakannya sejenak di mulutnya, lalu menatap pria muda itu. “Kau sebut ini masakan?”

Hanbin menunduk menyesal, “Cesonghamida, Chef-nim.. saya akan bekerja lebih keras lagi..” ucapnya sambil membungkuk menyesal.

Chaerin menghela nafas dalam sambil meletakkan sendoknya ke meja dan melipat kedua tangan di dada, “Kau tau apa kesalahanmu di masakan ini?”

“Ne?” Hanbin tertegun, lalu mengelus belakang kepalanya. “Kurasa aku melupakan sesuatu..” ucapnya.

“Kau mengikuti semua yang tertulis di buku?” Tanya Chaerin.

Hanbin mengambil buku catatan kecilnya dan memeriksa lagi, “Ne, Chef-nim..” jawabnya sambil mengangguk.

“Itu kesalahanmu..” ucap Chaerin.

Hanbin tertegun, “Ne? apa maksudmu, Chef-nim?”

Chaerin mengambil buku di tangan Hanbin dan meletakkannya di meja, “Apa menurutmu memasak hanya sekedar resep yang ada di buku?”

Hanbin menatap Chaerin tak mengerti.

Chaerin melepaskan kacamata hitamnya dan menatap Hanbin, “Kau tidak tau apa yang di perlukan seorang Chef untuk membuat makanannya?”

Hanbin berpikir sejenak, “Kemampuan memasak?” jawabnya ragu.

“Indra perasa..” ucap Chaerin dan menghela nafas dalam, “Kau sebut dirimu chef?”

Hanbin menunduk menyesal, “Cesonghamida..”

“Ketika memasak, kau tidak hanya terpaku pada resep yang ada di buku! Kau mempunyai indra perasamu untuk mengetahui apakah masakanmu sudah pas atau belum.. Ketika kau salah menggunakan bumbu, apakah resep itu bisa disalahkan? Tidak! Kaulah yang salah!” tegas Chaerin.

Hanbin mengangguk masih dengan kepala tertunduk, “Ne, Chef-nim..”

Chaerin diam sejenak, lalu mengambil buku tadi dan menyodorkannya pada Hanbin.

Hanbin memandang bukunya dan Chaerin.

“Bahkan Chef terhebat pun melakukan kesalahan, jangan menyesal. Tegakkan kepalamu dan perbaiki kesalahanmu. Jadikan kesalahan sebagai tanda kau masih harus belajar dan tetap berusaha keras..” ucap Chaerin.

Hanbin tersentuh mendengar nasehat Chaerin mengangguk sambil mengambil bukunya lagi, “Ne, Chef-nim..”

Suhyun terperangah memperhatikan betapa berkarismatiknya Chaerin mengkritik dan memberi nasehat membangun untuk Hanbin. Ia bergerak bangkit dan bertepuk tangan dengan tatapan kagumnya pada gadis itu.

Chaerin memandang Suhyun bingung.

“Ahjumma.. kau sangat keren..” puji Suhyun sambil mengacungkan kedua tangannya pada Chaerin.

Chaerin diam sejenak menatap Suhyun, mengacak-acak poni gadis itu. “Kau bisa di sini jika tidak mengganggu..” ucapnya, lalu melangkah menghampiri peralatan masaknya.

Suhyun menatap Chaerin sebal sambil merapikan poninya, namun langsung tersenyum karena gadis itu tidak menyuruhnya pergi lagi.

Hanbin tersenyum pada Suhyun, lalu menghampiri Chaerin dan memulai pekerjaannya membantu gadis itu.

Suhyun mengambil sendoknya dan menikmati makanan buatan Hanbin sambil memperhatikan kedua orang itu bekerja, ia mengerutkan dahinya mengingat rasa yang masih terasa kurang, ia mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa ia tambahkan untuk memperbaiki rasa makanan di depannya. Matanya menemukan sebotol saus tomat dan irisan keju dalam sebuah tempat, ia bangkit untuk mengambil kedua benda itu dan memasukkannya ke dalam makanan di piring. Tidak lupa ia mengembalikan ke tempat semula dan kembali duduk dan mencoba makanannya, ‘Hmm.. tidak buruk..’ batinnya senang dan kembali makan.

Chaerin menjelaskan apa yang harus Hanbin lakukan, lalu berbalik untuk melakukan hal lain. Namun ia berhenti melihat Suhyun tampak menikmati masakan asistennya dengan tenang. Dahinya berkerut dan menghampiri gadis itu, “Kau bisa menikmatinya seperti itu?” tanyanya aneh.

“Rasanya lebih baik setelah kutambahkan saus tomat dan parutan keju..” jawab Suhyun.

Chaerin tertegun mendengar jawban Suhyun, “Kau menambahkan apa?”

“Saus tomat dan keju..” ulang Suhyun, “Aku mengambilnya disana dan sudah mengembalikannya..” jelasnya sambil menunjuk tempat ia mengambil kedua benda tadi.

Chaerin memandang ke arah Suhyun menunjuk dan kembali memandang gadis itu, “Kau menambahkannya sendiri?” tanyanya tak yakin sambil mengambil sendoknya tadi dan mencicipi makanan di piring.

“Ne.. kenapa kau tidak yakin begitu?” Tanya Suhyun sebal.

Chaerin merasakan makanan itu di mulutnya dan tertegun menatap Suhyun.

“Wae?” Tanya Suhyun tak mengerti karena ekspresi Chaerin.

“Kenapa kau berpikir untuk memasukkan saus tomat dan parutan keju?” Tanya Chaerin.

“Hm? Mmm.. hanya.. kupikir akan lebih enak jika di tambahkan itu..” jawab Suhyun polos.

Chaerin diam sejenak menatap Suhyun, sudut bibirnya membentuk senyuman dan mengangguk. “Keure.. Habiskanlah..” ucapnya.

Suhyun mengerutkan dahi bingung, namun ia hanya melanjutkan makan.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 11]

  1. Jangan2 suhyun juga mempunyai darah chef heheheheh
    aigooo hanbin bnr2 kyeopta.
    Keundae budak? Maksudnya ap coba ,jangan2 sungkyung hanya menjadikan seunhyeung budak seperti disuruh2 atau juga t4 bersandar sementara gara2 jiho nya gk ad atau pergi ckckckck bnr2 murahan”,”
    Next eon fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s