Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 9]

Chapter 9

9

-She’s Back-

 

Seunghyun keluar dari kamarnya dan melangkah menuju tangga, saat itu ia melihat Suhyun keluar dari kamar dan menatapnya sebal.

Suhyun memalingkan wajah dan berjalan cepat menghampiri tangga.

Seunghyun menghela nafas dalam dan kembali berjalan. Ia mengerti mengapa sangat sulit menjadi orang tua.

Suhyun masuk ke ruang makan dan langsung menghampiri kakeknya, “Harabeutji..” ucapnya manja.

Tuan Choi tersenyum sambil mengelus pipi cucu kesayangannya, “Waeyo? Kenapa pagi-pagi wajah cucuku sudah cemberut?”

Suhyun menatap Seunghyun yang masuk ke ruang makan sebal, “Harabeutji, samchon melarangku ikut study tour..” kadunya.

Tuan Choi tertegun dan memandang Seunghyun, “Waeyo? Kenapa kau melarangnya?”

Seunghyun sudah tau senjata apa yang akan di gunakan Suhyun agar ia berubah pikiran, ia hanya bergerak duduk dengan tenang. “Itu tidak aman baginya..”

“Aniya.. aman kok.. Aku pergi bersama sekolahku, Jenny dan Bobby juga akan ikut..” ucap Suhyun memberitau kakeknya.

“Suhyun..” ucap Seunghyun dengan suara beratnya, itu berarti ia tidak ingin membahasnya lagi.

Suhyun menatap Seunghyun kesal.

“Kau tidak bisa terlalu keras padanya..” ucap Tuan Choi pada Seunghyun.

Seunghyun memandang ayahnya, “Suhyun tidak boleh pergi..” tegasnya, “Tidak perlu membahas ini lagi..” ucapnya dan mulai makan.

Tuan Choi menghela nafas dalam dan mengelus tangan cucunya, “Duduklah, sarapan bersama..”

Suhyun masih menatap Seunghyun kesal, “Ini tidak seperti hidupku harus di atur olehmu..” ucapnya, lalu berbalik dan berlari keluar dari ruang makan.

Tuan Choi terkejut melihat cucunya pergi, “Suhyun-a.. Suhyun..” ia menatap Seunghyun kesal, “Kenapa kau selalu keras padanya?!” tanyanya kesal, “Asisten Song! Asisten Song!” panggilnya sembari keluar dari ruang makan.

Seunghyun masih duduk di tempatnya. Namun ia sama sekali tidak berselera untuk makan. Ia sungguh tidak mengerti apa yang telah ia lakukan hingga membuat Suhyun marah, ia melakukan semua ini demi gadis itu. Agar sang gadis terhindar dari sesuatu yang buruk. ‘Na eoteokhe, hyung?’ batinnya.

 

=Food&Health=

“Wuaaa.. Chef Lee benar-benar professional.. Meskipun masih dalam masa pemulihan dia tetap datang bekerja untuk mengajari Asisten Kim..” ucap Dara kagum pada rekan-rekan kerjanya.

“Ne.. Chef Lee juga terlihat lebih cool dengn kacamata hitam..” ucap Minji menahan tawa.

“Kim Hanbin benar-benar beruntung terpilih sebagai asisten..” ucap Seungyoon, lalu menoleh pada rekan di sebelahnya. Namun Seunghyun tampak sedang melamun, “Seunghyun-ssi..” panggilnya sambil menepuk bahu rekannya itu.

Seunghyun tertegun dan memandang Seungyoon, “Ne?”

Seungyoon menatap Seunghyun lucu, “Horrl.. ada apa denganmu? Memikirkan Chef Lee?” candanya.

Seunghyun tersenyum lucu, “Mwoya?”

“Sanbaenim, apa kau ada hubungan khusus dengan Chef Lee?” Tanya Minji ingin tau.

“Ne, kau sangat akrab dengannya akhir-akhir ini..” ucap Dara membenarkan.

Seunghyun tertawa kecil, “Aku masih sangat jauh dari pria yang bisa mendekatinya, dia memiliki criteria yang tinggi..”

“Hmm.. tapi kau bisa membuatnya luluh, benarkan?” Tanya Minji.

Seunghyun tersenyum jahil dan memandang Minji, “Seharusnya, aku yang bertanya..” ucapnya, “Apa kau ada hubungan khusus dengan Kim Hanbin?”

Minji tertegun dan spontan wajahnya merona merah, “Ne? oh.. a-aniya..”

Seungyoon dan Dara menatap Minji curiga, “Omo.. jadi kalian yang sudah mulai dekat?” Tanya Seungyoon.

“Aniya, sanbaenim..” ucap Minji malu.

“Jika tidak kenapa wajahmu merah? Hahahaha..” tawa Dara lucu.

Makan siang.

Seunghyun menghampiri pintu dapur dan mengintip ke dalam melalui kaca transparan di pintu, bibirnya membentuk senyuman melihat Chaerin yang mengenakan kacamata hitam dan pakaian Chef sedang memberikan petunjuk pada Hanbin apa yang harus di lakukan. Tangannya mendorong pintu dan melangkah masuk.

Hanbin yang sedang mencatat sesuatu memandang Seunghyun, lalu membungkuk sopan. “Annyeonghaseyo..”

Chaerin memandang Seunghyun tanpa mengatakan apa pun.

“Chef-nim, ini sudah waktunya makan siang.. Kenapa kau membuat pekerjamu tertahan disini?” Tanya Seunghyun dengan senyuman manisnya.

Chaerin menghela nafas dalam, “Asisten Kim kau bisa istirahat, kita sambung dua jam lagi..”

“Ne..” jawab Hanbin sambil membungkuk sopan dan melangkah pergi.

Chaerin memandang Seunghyun yang masih berdiri di depannya, “Kenapa kau tidak pergi?”

Seunghyun memandang Chaerin bingung, “Wae? Apa aku tidak boleh makan siang disini?”

Chaerin menghela nafas dalam lagi, “Keure, karena kemarin kau sudah membantuku. Aku akan membuatkanmu makan siang..” ucapnya sembari melangkah ke balik meja dapur.

“Eiiiiits..” Seunghyun langsung menahan tangan Chaerin, “Kau tidak dengar ucapan dokter kemarin? Kau tidak bisa mengemudi, melakukan pekerjaan yang harus berhati-hati. masak adalah pekerjaan yang harus kau lakukan dengan hati-hati..” ucapnya dan tersenyum lebar, “Aku yang akan melakukannya..” ia langsung masuk ke balik meja dapur.

Chaerin menatap Seunghyun tak mengerti, lalu bergerak duduk, “Keure, segeralah masak..” ucapnya.

Seunghyun tersenyum lucu, lalu membuka jasnya. Melipat kedua lengan bajunya, juga mengenakan celemek di pinggangnya. Kemudian mulai memilih bahan makanan yang akan ia gunakan dari kulkas.

Chaerin memperhatikan Seunghyun bekerja dengan sangat rapi. Ia mengenal banyak pria yang pintar masak di Paris dan Korea, namun hanya satu pria ini yang memiliki penampilan menarik dan pandai merayu.

“Hati-hati, jangan tertarik terlalu jauh padaku..” canda Seunghyun karena melihat Chaerin memperhatikannya dengan serius.

Chaerin menatap Seunghyun aneh dan melipat kedua tangan di dada, “Cih.. jangan besar kepala karena aku membiarkanmu membantuku kemarin..”

Seunghyun tertawa kecil, “Araso.. Aku masih orang asing kan?”

“Ne..” jawab Chaerin singkat.

Seunghyun tertawa sembari melanjutkan kegiatannya.

 

=Sekolah Suhyun=

“Ne? pamanmu tidak menginjinkan?” Tanya Jenny kecewa.

Suhyun menggeleng lesu, “Ne..”

“Eoteokhe? Jadwal mengumpulkan suratnya tinggal 2 minggu lagi..” ucap Jenny.

Bobby memandang Suhyun aneh, “Minta tanda tangan kakekmu saja..”

Suhyun menatap Bobby sebal, “Jika kakekku yang menandatanganinya, nanti kakekku dan pamanku akan bertengkar lagi..”

“Ya sudah, kau bisa menonton tv di rumah ketika kami study tour..” ucap Bobby santai.

Mata Suhyun menyipit menatap Bobby, “Terima kasih untuk tidak membantu..”

Jenny berpikir sejenak, “Apa tidak ada cara untuk membuat pamanmu berubah pikiran?”

“Entahlah.. Pamanku tidak pernah main-main tentang hal seperti ini..” ucap Suhyun lesu.

“Kalau begitu, kakekmu saja yang tanda tangan. Lalu berikan pada guru. Jangan sampai pamanmu tau, ketika hari keberangkatan, katakan saja kau menginap di rumah Jenny..” ucap Bobby memberi solusi.

Jenny dan Suhyun menatap Bobby tak percaya, lalu tersenyum lebar. “Omo! Itu ide yang bagus!” ucap Jenny bersemangat.

Suhyun mengangguk, “Ne.. aku akan mencobanya!” ucapnya bersemangat.

 

=Malamnya=

Seunghyun menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen Chaerin dan menarik rem tangan.

Chaerin melepaskan sabuk pengaman dan memandang Seunghyun, “Gamshamida, Choi Seunghyun-ssi..” ucapnya, lalu keluar dan melangkah pergi tanpa memandang ke belakang lagi.

Seunghyun tersenyum lebar memperhatikan Chaerin pergi, “Benar-benar dingin..” gumamnya, lalu melepaskan rem tangan dan hendak menginjak gas ketika ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponsel dan melihat hanya nomor yang tertera, lalu mengangkatnya, “Yoboseyo..”

“Seunghyun-a…” panggil suara seorang gadis di seberang, terdengar gadis itu sedang menangis.

Seunghyun mengerutkan dahi, “Siapa ini?”

“Kau… kau sudah lupa pada suaraku?” Tanya gadis itu di tengah tangis.

Seunghyun diam sejenak dan membesarkan matanya, “Lee Sungkyung?” tanyanya tak percaya.

“Seunghyun-a…” tangis gadis itu.

“Sungkyung, dimana kau sekarang?! kenapa kau menangis?!” Tanya Seunghyun panik.

 

=Sebuah Apartemen=

Seunghyun menekan kombinasi password dan membuka pintu apartemen itu, “Sungkyung!” panggilnya sembari setengah berlari ke dalam. Ia menemukan gadis yang ia cari di ruang tengah.

Gadis cantik bernama Sungkyung itu mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar melihat Seunghyun, “Seunghyun-a..” ucapnya, ia hampir meluncur jatuh dari sofa untuk menyambut pria itu.

“Oh! Sungkyung!” Seunghyun dengan sigap menampung gadis itu dan mendudukkannya lagi ke sofa, “Sungkyung-a, ada apa denganmu? Kenapa kau mabuk-mabukan seperti ini?”

Sungkyung memeluk Seunghyun dan menyandarkan pipinya ke dada pria itu dengan senyuman lebar di wajahnya, “Seunghyun-a…” ucapnya seperti anak kecil yang menemukan ibunya.

Seunghyun menghela nafas dalam dan mengelus rambut panjang gadis itu, “Wae? Kenapa kau seperti ini?”

Sungkyung mulai terisak di dada Seunghyun, “Seunghyun-a..” ucapnya dengan suara bergetar.

“Ne.. Aku disini.. Jangan menangis..” ucap Seunghyun lembut.

“Seunghyun, kenapa aku harus hidup seperti ini?” Tanya Sungkyung sambil menangis.

Seunghyun seperti merasakan apa yang di rasakan gadis dalam pelukannya, “Seharusnya kau menghubungiku lebih cepat, kenapa kau menanggung ini seorang diri?” tanyanya sambil mengelus rambut gadis itu.

 

=Keesokan Paginya=

“Samchon tidak pulang semalaman?” Tanya Suhyun ketika sarapan.

“Ne, mungkin samchon harus lembur kemarin malam.. Jangan khawatir, ayo makan..” ucap Tuan Choi menenangkan cucunya.

Suhyun sangat khawatir Seunghyun tidak pulang, ia juga merasa bersalah karena kejadian kemarin. ‘Apa samchon tidak pulang karena ucapanku ya?’ batinnya.

Perjalanan ke sekolah.

Suhyun memanggil nomor ponsel Seunghyun dan menempelkannya ke telinga, dahinya berkerut ponsel pamannya tidak aktif. “Hm? Kenapa mati?” gumamnya tak mengerti, lalu mencoba lagi dan lagi. tetap mendapat jawaban yang sama. ia menghela nafas dalam dan memandang keluar jendela.

Sementara di tempat lain.

Sungkyung yang terlelap di sofa dengan selimut hangat terbangun mencium aroma makanan. Matanya terbuka perlahan dan bergerak bangkit sambil memandang sekitar, ia melihat banyak kaleng-kaleng bis kosong berserakan di meja. Juga kepalanya terasa sangat pusing, “Ahh.. apa aku sangat mabuk semalam?” gumamnya sambil memijat pelipisnya.

“Sudah terbangun, putri tidur?” terdengar suara berat seorang pria dari dapur.

Sungkyung menoleh dan tertegun melihat Seunghyun tersenyum padanya sambil menyiapkan sesuatu. “Seunghyun..”

Seunghyun tersenyum lebar, “Kepalamu pusing? Aku sudah menyiapkan the herbal dan obat sakit kepala.. Kemarilah..”

Sungkyung menyibak selimut dan melangkah menghampiri dapur dengan tatapan tak percayanya menatap Seunghyun, “Choi Seunghyun? Kenapa kau ada disini?”

“Mmm.. seseorang mabuk dan menghubungiku..” jawab Seunghyun dengan nada bercanda.

“Ne?” ucap Sungkyung tak percaya, “Oh.. mian..” ucapnya menyesal.

“Tidak perlu merasa bersalah, duduklah.. Sarapan sudah selesai..” ucap Seunghyun sembari menyalin masakannya.

Sungkyung menatap Seunghyun, ia melangkah menghampiri pria itu dan memeluk pinggangnya dari belakang.

Seunghyun tertegun merasakan tangan Sungkyung di pingganggnya, “Sungkyung-a..”

“Gumawoyo, Seunghyun-a..” ucap Sungkyung menahan tangis.

Seunghyun kembali merasa hatinya sakit mendengar suara Sungkyung yang akan menangis, ia meletakkan peralatan masak di tangannya dan berbalik menatap gadis itu.

Kedua mata Sungkyung memerah dan terlihat air berkumpul hendak terjatuh dari sana menatap kedua mata Seunghyun.

Seunghyun lebih terluka melihat gadis di hadapannya terluka, tangannya memegang pipi gadis itu dan tersenyum. “Kenapa kau menangis? Semalam kau belum puas menangis?” candanya.

Sungkyung memeluk Seunghyun dan memejamkan matanya, “Mianeyo, Seunghyun..”

Seunghyun seperti merasakan sabetan dalam ke hatinya, namun ia tetap memaksakan bibirnya membentuk senyuman sambil mengelus rambut gadis itu. “Aniya.. Aku senang membantumu..” ucapnya lembut.

Sungkyung melepaskan pelukannya dan memandang Seunghyun, “Kau tidak akan bertanya?”

Seunghyun tersenyum tulus dan kembali memegang pipi Sungkyung, “Aku tidak akan bertanya, jika kau ingin mengatakannya aku akan mendengarkan..” ucapnya.

Sungkyung sangat tersentuh mendengar ucapan Seunghyun, bulir-bulir air berjatuhan ke pipinya. “Semuanya sangat berat.. Aku tidak tau harus melakukan apa lagi..”

“Jangan katakan itu, aku akan membantumu..” ucap Seunghyun.

Sungkyung memeluk Seunghyun erat seperti tidak akan melepaskannya lagi.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 9]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s