Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 8]

Chapter 8

8

-Chef Lee, Are You Okay?-

 

Seunghyun memutar kemudi mobilnya ke sisi kanan jalan dan berhenti di lampu merah. Ia mengetuk-ketukkan jarinya di stir mobil. Saat itu matanya tidak sengaja melihat sebuah mobil sport putih berlalu dari lampu merah di sisi kiri, bibirnya spontan membentuk senyuman mengetahui itu adalah mobil Chaerin. “Hmm.. dia selalu tepat waktu..” gumamnya.

Namun dari arah lain sebuah mobil terus melaju melewati lampu merah dan menabrak bagian depan mobil Chaerin. BRAAAKK!!

Mata Seunghyun membesar dan langsung membuka sabuk pengamannya, ia keluar dari mobil dan berlari menghampiri mobil putih itu. orang-orang sekitar juga mulai keluar dari kendaraan mereka untuk melihat apa yang terjadi.

“Chef Lee!” panggil Seunghyun sembari menarik pintu, namun terkunci. “Chef Lee!!” panggilnya sambil mengintip ke dalam mobil melalui kaca jendela. Dahinya berkerut melihat kepala gadis itu terkulai ke satu sisi bahu, “Chef Lee!!” panggilnya sambil mengetuk jendela, “Chef Lee sadarlah!!” serunya sambil menggedor-gedor jendela.

Dahi Chaerin berkerut dan meringis menahan sakit, perlahan ia menegakkan kepalanya namun terasa sangat nyeri di leher. “Ahh..” rintihnya sembari memegang leher.

Seunghyun menghela nafas lega melihat Chaerin bergerak, “Chef Lee!!” panggilnya sembari mengetuk jendela lagi.

Chaerin memandang sekitar bingung, terlihat juga gelembung kecelakaan dari dashboard mobil yang sudah mengempis. Detik terakhir yang ia ingat tiba-tiba ada benturan dan gelembung berwarna putih itu keluar dari balik stir mobilnya. Kepalanya menoleh perlahan ke jendela.

“Chef Lee, buka pintunya!!” seru Seunghyun, dari kejauhan ia sudah bisa mendengar suara ambulans.

Tangan Chaerin terulur ke pintu dan menekan pembuka kuncinya.

Seunghyun membuka pintu dan menatap Chaerin khawatir, “Neo gwenchana?” tanyanya.

Chaerin mengerjapkan matanya beberapa kali, “Kepalaku… seperti….” Ucapnya sambil memegang dahi.

“Ne.. ne.. jangan khawatir, petugas medis sudah disini..” ucap Seunghyun sembari melepaskan sabuk pengaman Chaerin, lalu menarik gadis itu keluar dari kursi kemudi.

Kedua kaki Chaerin terasa bergetar, pergelangan kakinya juga lemas.

Seunghyun menahan tubuh Chaerin dan memapahnya ke arah petugas medis.

“Tuan, anda bisa membaringkannya disini..” ucap seorang petugas medis.

Seunghyun dengan hati-hati mendudukkan Chaerin di pinggir ambulance, lalu membantu gadis itu berbaring di tandu di dalam mobil putih itu.

“Kami akan membawanya ke rumah sakit, apa anda walinya?” Tanya petugas tadi.

“Ne? oh.. aku…” ucapan Seunghyun terhenti merasakan tangan Chaerin menarik ujung jasnya, lalu memandang gadis yang tampak setengah sadar itu. ia memandang sang petugas lagi, “Cangkaeman..” ucapnya sembari mengeluarkan ponsel dan memanggil seseorang.

“Ne, Seunghyun-a..”

“Jiyong, bisakah kau mengirim seseorang untuk mengambil mobilku di lampu merah dekat kantor? Chef Lee kecelakaan dan aku harus ikut bersamanya di ambulance..” ucap Seunghyun memberitau.

“Oh.. ne, aku akan meminta Seungyoon mengambilnya.” Ucap Jiyong.

“Keure, gumawo..” ucap Seunghyun dan memutuskan telepon, lalu naik ke ambulance.

 

=Rumah Sakit=

Seunghyun berhenti di depan ruang tunggu setelah membeli minuman, Kakinya melangkah maju namun kembali mundur lagi. ia menghela nafas dalam memikirkan apa yang akan ia katakan pada gadis itu, “Haruskah aku berkata semuanya akan baik-baik saja? Atau berlaku seperti aku tidak tau apa pun?” gumamnya.

=Flashback=

Chaerin yang baru tersadar di ruang UGD mengerutkan dahi dan melindungi matanya dengan tangan dari cahaya yang terlalu menusuk matanya.

Seunghyun tertegun melihat Chaerin sadar dan bergerak bangkit, “Chef-nim, kau sudah sadar?”

Chaerin menyipitkan mata memandang Seunghyun, “Apa yang terjadi? Kenapa terang sekali?”

Seunghyun tertegun dan memandang sekitar, lalu kembali memandang Chaerin. “Oh.. Kau baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas..”

Chaerin bergerak duduk perlahan, “Ahh..” rintihnya sambil memegang leher. Namun ia masih merasa cahaya di sekitarnya sangat menyilaukan, “Dimana ini? Kenapa cahayanya terang sekali?”

Seunghyun bingung mendengar ucapan Chaerin, “Kau merasa seperti itu?”

Chaerin memejamkan mata sambil melindungi cahaya yang terus masuk ke bawah pelupuk matanya.

Seunghyun bingung sejenak, lalu mengeluarkan kacamata hitam dari saku dalam jasnya. “Coba kenakan ini..” ucapnya sembari memasangkan kacamata itu ke mata Chaerin.

Chaerin membuka matanya perlahan dan memandang Seunghyun.

“Apa masih silau?” Tanya Seunghyun.

“Sedikit..” jawab Chaerin, lalu memandang sekitar bingung. “Apa yang terjadi padaku?”

“Sebentar, aku akan memanggil dokter..” ucap Seunghyun dan bergegas pergi.

Setelah pemeriksaan dokter.

“Hmm.. ini karena efek benturan di dahi anda, mungkin matamu mendapat trauma akibat benturan itu.” ucap sang dokter pada Chaerin.

“Ne? berapa lama ini akan berlangsung?” Tanya Chaerin.

“Perkiraan saya ini akan terjadi selama seminggu, tapi bisa juga kurang dari seminggu. Jika tetap terjadi setelah seminggu, kan di adakan pemeriksaan yang lebih serius pada korena mata anda..” jelas sang dokter.

Chaerin terkejut, “Mwo?! Seminggu?!”

“Dokter, apakah selama efek yang di timbulkan belum hilang pasien harus menetap di rumah sakit?” Tanya Seunghyun memotong Chaerin yang hendak mengomel.

“Tidak perlu, setelah pasien merasa kondisinya lebih baik pasien bisa kembali ke rumah dan kembali ketika masalah di matanya terus berlanjut..” ucap dokter tersebut.

=Flashback end=

Seunghyun melirik Chaerin yang duduk di kursi tunggu seorang diri dengan kacamata hitam melindungi mata, ia menghembuskan nafas dan melangkah menghampiri sang gadis. “Hei.. ini..” ucapnya sambil menyodorkan sebotol air minum.

Chaerin memandang botol yang di sodorkan Seunghyun dan memandang pria itu.

Seunghyun tersenyum, “Minumlah, setelah itu ayo pulang…”

Chaerin mengambil botol dan membukanya, lalu meneguk airnya sedikit untuk melancarkan tenggorokan.

“Aku sudah menghubungi layanan Derek untuk membawa mobilmu ke bengkel..” ucap Seunghyun memberitau.

“Hmm..” gumam Chaerin memberi jawaban.

Seunghyun memandang Chaerin khawatir, “Apakah kau bisa melihat dengan jelas setelah mengenakan kacamata hitam?”

“Ne..” jawab Chaerin.

“Mmm.. keure, ayo..” ajak Seunghyun sembari bangkit.

Chaerin ikut bangkit dan melangkah, namun ia malah menabrak tanaman hidup yang di telakkan di dekat tiang.

Seunghyun mengerutkan dahi melihat Chaerin menabrak dan menarik gadis itu menjauh dari tanaman itu, “Kau baik-baik saja? Kau benar bisa melihat?” tanyanya khawatir.

Chaerin mndengus kesal, “Aniya.. semuanya sangat silau!”

Seunghyun menatap Chaerin aneh, “Kenapa kau tidak mengatakannya?” ia menarik tangan gadis itu ke lengannya, “Ayo..” ucapnya dan melangkah.

Chaerin yang selalu melakukan semuanya sendiri sangat malu harus berjalan sambil berpegangan pada Seunghyun seperti ini.

“Sebaiknya kau berisitirahat di rumah saja, kau tidak akan bisa memasak dengan kondisi mata seperti itu..” ucap Seunghyun sembari melangkah.

“Aku tidak bisa, asisten Kim masih harus mempelajari banyak hal hingga dia bisa melakukannya sendiri..” ucap Chaerin.

Seunghyun memandang Chaerin bingung, “Kenapa sepertinya kau sangat peduli padanya?”

Chaerin menghela nafas dalam, “Entahlah, aku hanya merasa dia berbakat tapi tidak punya orang yang bisa membantunya..”

Seunghyun diam sejenak mencerna ucapan Chaerin, bibirnya diam-diam membentuk senyuman kagum. “Dan kau ingin kau yang membantunya?”

Chaerin diam sejenak, “Ketika pertama kali aku memutuskan untuk menjadi seorang Chef, aku harus belajar keras hingga mampu memiliki cipta rasaku sendiri..” ucapnya, “Lalu setelah aku menjadi chef, aku harus membantu orang lain yang ingin menjadi seorang chef..” ia diam sejenak lagi dan memandang Seunghyun, “Bukankah semua chef itu sama?”

Seunghyun tersenyum, “Ne.. Aku juga merasakan hal yang sama..”

Chaerin tersenyum, “Kau tidak di sebut seorang chef senior jika hanya memiliki ilmu untuk dirimu sendiri..”

Seunghyun menatap Chaerin tak percaya, “Omo.. kau akhirnya tersenyum.. Wuaa.. hari ini aku benar-benar beruntung..”

Chaerin menahan tawa, “Jangan berpikir untuk kau bisa berbicara santai padaku, kau masih orang asing..”

Seunghyun tertawa kecil, “Ne, araso Chef-nim..”

 

=Sekolah Suhyun=

“Anak-anak, kalian ingat kan sekolah kita akan mengadakan study tour ke hutan hijau bulan depan?” Tanya wali kelas.

“Ne!!!” jawab seluruh kelas bersemangat.

Sang wali kelas tersenyum, “Ketua kelas akan membagikan surat persetujuan pada orang tua kalian, jangan lupa minta tanda tangan sebagai bukti kalian bisa ikut dalam study tour ini..”

Suhyun cemberut mendengar ucapan wali kelasnya dan menopang dagu dengan tangan.

Jenny terlihat sangat senang mengetahuinya, “Suhyun-a, pasti seru! Iya kan?”

Suhyun memandang Jenny lesu, “Seunghyun samchon pasti tidak akan mengijinkanku pergi..”

Jenny tertegun, “Ne? wae? Ini kan perjalanan bersama sekolah..” ucapnya tak mengerti.

“Molla.. ahhh.. membosankan..” keluh Suhyun.

Bobby yang duduk di belakang Suhyun memandang gadis itu aneh, “Kau kan tinggal mogok makan lagi.. Atau minta saja kakekmu yang menandatanginya..”

“Jika aku meminta kakekku yang menandatanginya, pamanku akan marah dan mungkin akan bertengkar lagi dengan kakekku..” jawab Suhyun lesu.

“Tenang saja, masih bulan depan kok.. Bujuk saja pamanmu dulu..” ucap Jenny memberi jalan keluar.

Suhyun menghela nafas lesu, lalu mengangguk. “Keure..”

 

=Rumah Keluarga Choi=

Suhyun mendengar seseorang menaiki tangga dan segera berlari ke pintu, ia membukanya dan keluar.

Seunghyun tersenyum melihat Suhyun, “Hei.. kenapa belum tidur?”

Suhyun tersenyum canggung, “Samchon.. Aku ingin membicarakan sesuatu..” ucapnya.

“Tentang apa?” Tanya Seunghyun.

“Mmm.. itu.. sekolahku akan mengadakan study tour..” ucap Suhyun hati-hati.

Ekspresi Seunghyun mulai berubah, “Study tour?”

Suhyun mengangguk cepat, “Ne..” jawabnya, “Ke hutan hijau.. Bulan depan.. Ini surat persetujuannya, samchon bisa tanda tangan disini..” ucapnya langsung sebelum pamannya mengatakan sesuatu sambil menyodorkan pena dan surat ijinya.

Seunghyun diam sejenak mencerna apa yang baru saja di katakan Suhyun padanya, “Mmm.. tunggu Suhyun..”

Jantung Suhyun mulai berdegup kencang mendengar ucapan pembuka dari pamannya.

Seunghyun menatap Suhyun dalam, “Samchon sudah pernah berkata kau tidak bisa ikut acara sekolah seperti itu..”

Suhyun cemberut, “Tapi sekarang aku sudah besar.. Aku bisa menjaga diriku sendiri..”

Seunghyun menghela nafas dalam dan memegang bahu Suhyun, “Ini bukan tentang kau sudah besar atau tidak, tapi sangat berbahaya kau pergi tanpa pengawasan samchon atau pun harabeutji..”

“Aku pergi bersama sekolahku, Jenny dan Bobby juga ikut..” ucap Suhyun memberitahu.

Seunghyun berusaha menahan dirinya, “Suhyun, kau tidak bisa pergi..” ucapnya.

Suhyun menatap Seunghyun sebal, “Waeeeee?”

“Dengarkan samchon..” ucap Seunghyun, lalu melangkah ke kamarnya.

“Samchoooon..” rengek Suhyun sambil mengikuti pamannya, “Samchon..”

Seunghyun berhenti dan memandang Suhyun, “Samchon melakukan ini untukmu..” ucapnya, lalu kembali melangkah.

“Tapi semua teman-temanku akan pergi.. Hanya aku yang tidak.. Sampai kapan aku akan hidup seperti ini?!” Tanya Suhyun kesal, namun Seunghyun tidak berhenti. Kedua matanya memerah menahan kekesalannya, “Kuharap eomma dan appa masih disini dan mengijinkanku pergi!!!” teriaknya, lalu berlari masuk ke kamar.

Langkah Seunghyun terhenti mendengar teriakan Suhyun, hatinya terasa sakit membuat gadis itu terluka. Namun ia tidak bisa membiarkan gadis yang tumbuh di bawah pengawasannya seperti putrinya sendiri pergi seorang diri dan tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Ia memandang ke belakang sejenak, lalu masuk ke kamarnya.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 8]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s