Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 10]

Chapter 10

10

-It’s Hurt, For Them-

 

Suhyun berhenti di depan perusahaan Food&Health, ia berencana menemui Seunghyun karena tidak ingin pria itu sampai tidak pulang karena dirinya. Namun untuk masuk seorang diri ia tidak berani, juga tidak tau apa yang akan ia katakan nanti. Kepalanya menoleh mendengar suara hak sepatu dan melihat Chaerin berlalu mengenakan kacamata hitam, “Oh.. ahjumma..” panggilnya.

Chaerin berhenti dan memandang Suhyun kesal, “Siapa yang ahjumma?!”

Suhyun mengerutkan dahi memandang Chaerin, “Jika kau bukan ahjumma kenapa berhenti?”

Chaerin mendengus kesal dan kembali melangkah.

Suhyun langsung mengikuti langkah Chaerin, “Ahjumma, apa kau melihat Seunghyun samchon?”

“Aku belum melihatnya seharian ini..” jawab Chaerin tanpa berhenti.

“Jeongmal?” Tanya Suhyun lagi.

“Ne..” jawab Chaerin dan berhenti di depan lift.

Suhyun berhenti bersama Chaerin dan ikut menunggu, kepalanya memandang gadis itu. “Ahjumma, apa Seunghyun samchon masuk kantor hari ini?”

Chaerin memutar bola matanya di balik kacamatanya, “Apa aku pengasuhnya?” tanyanya sebal, lalu melangkah masuk ke lift yang terbuka.

Suhyun ikut masuk dan memandang Chaerin lagi, “Apa kau bisa menghubungi Seunghyun samchon? Ponselnya mati sepanjang hari..”

Chaerin memandang Suhyun, “Haksaeng, kenapa kau bertanya seperti aku tau semua yang pamanmu lakukan?”

“Habis aku harus bertanya pada siapa lagi? hanya kau yang aku tau di sini..” ucap Suhyun sebal.

“Cari orang lain untuk di ajak bermain..” ucap Chaerin sebal, lalu melangkah keluar dari lift. Namun seseorang yang terburu-buru masuk ke lift menabraknya hingga kacamata yang ia kenakan terjatuh.

“Oh.. cesonghamida!” sorak orang itu dari dalam lift dan segera menutup pintunya.

Suhyun menatap orang itu tak percaya, “YA! Ibayo!” serunya, namun orang itu sudah menghilang dari balik pintu besi itu. “Aissh..” gumamnya kesal dan memandang Chaerin yang tampak berjongkok sambil meraba-raba dimana kacamatanya sambil melindungi mata dari cahaya. “Ahjumma, waekeureyo?” tanyanya bingung.

“Kacamataku.. Ahh..” rintih Chaerin karena cahaya yang masuk sangat menusuk matanya.

Suhyun segera mengambil kacamata Chaerin dan memberikannya pada gadis itu, “Ini…”

Chaerin menerima kacamata dan segera mengenakannya, lalu menghela nafas lega.

Suhyun memperhatikan wajah Chaerin, “Gwenchanayo?”

Chaerin bergerak bangkit dan memandang Suhyun, “Ne..” ucapnya, lalu melangkah menuju dapurnya.

Suhyun kembali mengikuti Chaerin, “Ahjumma, kau benar seorang chef?”

Chaerin berhenti dan memandang Suhyun bingung, “Kenapa kau malah mengikutiku?”

Suhyun menatap Chaerin aneh, “Wae? Memangnya tempat ini punyamu, ahjumma? Kakekku pemilik perusahaan ini..” ucapnya, lalu melangkah duluan ke dapur.

Chaerin menghela nafas dalam dan kembali melangkah.

Suhyun membuka pintu dapur dan langsung masuk, ia tertegun melihat seorang pria berpakaian koki sedang memotong wortel di atas papan pemotong.

“Annyeong……” ucapan Hanbin terhenti melihat Suhyun yang masuk.

Tak lama Chaerin masuk.

“Annyeonghaseyo, Chef-nim sudah kembali?” sapa Hanbin.

“Ne.. Aku akan ganti baju..” ucap Chaerin sembari melangkah ke ruang ganti.

Hanbin membungkuk sopan pada Chaerin, lalu memandang Suhyun. “Mmm.. ada yang bisa kubantu?” tanyanya.

Suhyun tersipu malu melihat ketampanan Hanbin dan menghampiri meja dapur, “Mmm.. Annyeonghaseyo, Choi Suhyun imnida..” sapanya sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga sambil menunduk malu.

Hanbin tertegun, “Choi? Oh.. apa kau ada hubungan dengan Choi Seunghyu-ssi?”

Suhyun tersenyum lebar, “Ne! Choi Seunghyun adalah pamanku..” jawabnya, “Oppa mengenal pamanku?”

Hanbin tersenyum, “Ne.. Choi Seunghyun-ssi sering datang kemari untuk memeriksa perkembangan resep terbaru..”

“Oppa juga chef disini?” tanya Suhyun.

Hanbin tersenyum malu sambil mengelus belakang kepalanya, “Ani.. aku hanya asisten chef..”

Mata Suhyun berbinar menatap Hanbin, “Oppa bisa masak?”

“Mmm.. sedikit..” jawab Hanbin malu-malu.

“Wuaa.. oppa keren!” puji Suhyun sambil mengacungkan kedua ibu jarinya pada Hanbin.

Hanbin tertegun,”Ne?” lalu tersipu malu, “Oh.. ne..”

Chaerin keluar dari ruang ganti dengan pakaian chef dan masih dengan kacamata hitam, “Asisten Kim..” panggilnya sembari menghampiri meja dapur.

“Ne, Chef!” jawab Hanbin.

Suhyun melepaskan tas dan duduk di kursi sambil meletakkan tas ke kursi di sebelahnya, lalu menopang dagu memperhatikan Hanbin yang kembali serius dengan pisau dan wortel.

Chaerin memperhatikan hasil potongan Hanbin, “Terlalu besar..”

“Ne..” Hanbin mengecilkan ukuran wortel yang ia potong.

“Terlalu kecil..” ucap Chaerin.

“Ne..” Hanbin memperbaiki ukuran wortelnya lagi.

Suhyun menatap Chaerin sebal, “Ahjumma! Kenapa protes terus sih?!”

Hanbin dan Chaerin memandang Suhyun.

“Apa kau akan terus disini?!” tanya Chaerin kesal.

“Aissh..” gumam Suhyun kesal dan bergerak bangkit, lalu melangkah keluar dari dapur.

“Anak sekarang..” gumam Chaerin sebal, “Lanjutkan lagi..” ucapnya pada Hanbin.

“Ne, Chef-nim..” jawab Hanbin dan melanjutkan.

Suhyun melangkah di lorong, “Ahjumma cerewet.. Aku kan hanya berbicara..” gerutunya sebal. Langkahnya terhenti dan melotot melihat kakeknya bersama asisten Song di ujung lorong, “Omo!” ia segera berbalik dan berlari kembali ke dapur.

Asisten Song menoleh karena mendengar seseorang berlari, ia tertegun melihat gadis berseragam masuk ke dapur. “Oh.. Agassi?” gumamnya tak percaya.

Tuan Choi memandang asistennya bingung, “Mwo?”

“Ne? Oh.. a-animida sajangnim.. Saya pikir tadi saya melihat Suhyun agassi..” ucap Asisten Song ragu.

Tuan Choi tertegun, “Mwo?! Dimana?!”

“Ke sebelah sana, sajangnim..” ucap asisten Song menunjukkan jalan.

Suhyun masuk ke dapur dan mencari-cari tempat bersembunyi, “Omo! Omo!” ucapnya panik.

Chaerin dan Hanbin menatap Suhyun bingung karena tiba-tiba berlari masuk dan menyerobot ke balik meja dapur untuk bersembunyi di sana.

“Ya, apa yang kau lakykan?!” tanya Chaerin kesal.

“Ssssssh… Pura-pura saja aku tidak ada..” ucap Suhyun.

Hanbin mengerutkan dahi dan memandang Chaerin.

Chaerin kembali memandang ke pintu ketika seseorang masuk.

Hanbin tertegun dan langsung membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo sajangnim..”

Tuan Choi tersenyum tipis, “Ceaonghamida, saya tidak akan lama..” ucapnya.

Asisten Song menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dan melihat tas Suhyun di kursi di depan meja dapur, “Sajangnim..” ucapnya sambil menunjuk tas itu.

Tuan Choi menghela nafas dalam dan melangkah masuk, “Suhyun-a..” panggilnya.

Hanbin memandang Suhyun yang bersembunyi dan memandang Tuan Choi lagi.

“Suhyun-a, harabeutji tau kau disini..” ucap Tuan Choi lagi.

Suhyun menghela nafas sebal karena ia ketahuan, lalu bangkit perlahan memandang kakeknya. “Harabeutji..”

“Suhyun-a, kenapa kau bermain disini?” tanya Tuan Choi bingung.

Suhyun tertegun, “Ne?” Ia berusaha berpikir cepat menemukan jawaban dan melihat wortel yang di potong Hanbin tadi, “Oh.. belajar memotong wortel..” jawabnya sambil menunjuk potongan wortel.

Tuan Choi menghela nafas dalam dan menatap Suhyun tegas.

Suhyun cemberut dan melangkah keluar dari balik meja dapur, “Aku hanya bermain sebentar..” ucapnya sebal.

“Seharusnya kau langsung kembali ke rumah begitu pulang sekolah..” ucap Tuan Choi mengingatkan.

“Arasoyo..” ucap Suhyun, lalu melangkah keluar.

Tuan Choi memperhatikan Suhyun sejenak, lalu memandang Chaerin, “Cesonghamida.. Silahkan melanjutkan lagi..” ucapnya, lalu melangkah keluar.

Hanbin membungkuk sopan ketika uan Choi keluar.

Asisten Song mengambil tas Suhyun dan membungkuk sopan pada Chaerin dan Hanbin, lalu berjalan keluar.

Hanbin kembali membubgkuk sopan dan memperhatikan asisten Song keluar.

Chaerin menghembuskan nafas sebal, “Keponakan dan pamannya sangat menyusahkan..” gumamnya, “Lanjutkan lagi..” ucapnya pada Hanbin.

“Ne, Chef-nim..” ucap Hanbin dan mulai lagi.

Chaerin merasakan ponselnya di saku bergetar dan mengeluarkannya. Dahinya berkerut melihat pesan masuk dari Seunghyun.

Choi Seunghyun: Bagaimana matamu Chef-nim? Sudah lebih baik? Butuh tumpangan pulang?? ??:)

Chaerin menahan senyumannya membaca pesan Seunghyun, ‘Cih.. dasar pria..’ batinnya dan kembali menyimpan ponsel.

 

=Malamnya=

Seunghyun berdiri di sebelah mobilnha di depan gedung kantor menunggu Chaerin keluar. Bibirnya membentuk senyuman ketika memandang jam tangan, gadis itu selalu keluar pukul 7 dari dapur. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana dan kembali memperhatikan pintu keluar. Perhatiannya teralih pada ponselnya yang berdering dari saku dalam jasnya. Ia segera mengeluarkan benda itu dan melihat siapa yang memanggil, ia tertegun melihat nama Sungkyung muncul dan segera mengangkatnya. “Ne, Sungkyung-a..” jawabnya, ia terkejut mendengar ucapan gadis itu di seberang. “Mwo?! Dimana lokasinya? Aku kesana sekarang!” ucapnya cepat sembari berlari masuk ke mobil dan tanpa berpikir lagi langsung memasang sabuk pengaman, lalu tancap gas meninggalkan kawasan kantor.

Sementara itu, Chaerin melangkah keluar dari dapur seperti biasa. Namun kali ini entah mengapa ia merasa lebih gugup. Ia masuk ke lift yang saat itu kosong dan berdiri di sudutnya. Begitu pintu lift tertutup ia memandang pantulan wajahnya di dinding lift, tanganya bergerak merapikan rambut panjangnya dan kembali memandang ke depan. Begitu pintu terbuka ia langsung melangkah keluar. Ketika keluar dari gedung kepalanya langsung menoleh ke kanan dan kiri mencari seseorang, namun tidak terlihat siapa pun. Ia menghela nafas kecewa dan melangkah keluar dari area perusahaan untuk mencari taxi.

Di waktu yang bersamaan, Seunghyun mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi pemotretan Sungkyung. Matanya melirik ponselnya yang berbunyi, tangannya yang lain mengambil ponsel untuk menjawab panggilan itu. “Ne, Sungkyung-a.. Kau masih disana kan?” tanyanya lamgsung, bibirnya membentuk senyuman melihat gedung studio tempat pemotretan dari kejauhan, “Kau tenang saja, aku…..” ucapannya terputus seiring senyuman yang luntur dari wajahnya. Juga kakinya melepaskan gas perlahan membuat mobil melambat. “Ohh.. dia menjemputmu? Hmm.. syukurlah..” ucapnya dengan senyuman palsu. “Ne.. Gwenchana.. Pergilah.. Aku masih sangat jauh dari sana, kau tau.. macet sekali..” jawabnya, “Ne..” jawabnya lagi, lalu telepon terputus. Ia melepaskan ponsel dan menepikan mobil tak jauh dari studio. Padahal sedikit lagi ia bisa menjemput Sungkyung, namun ia melepaskan kesempatan itu. Karena sang gadis terdengar bahagia di jemput oleh pria yang sudah dua tahun terakhir menjadi kekasih sang gadis, Woo Jiho.

Seunghyun tertegun melihat Sungkyung keluar dari studio dengan senyuman lebar karena memeluk lengan pria itu, lalu masuk ke sebuah mobil. Ia hanya bisa menatap gadis yang selalu ada dalam hatinya di bawa pergi oleh pria yang sebenarnya tidak ia senangi. Namun bibirnya membentuk senyuman, “Yang penting kau bisa tersenyum lebar seperti itu..” ucapnya pelan. Sedetik kemudian ia terkejut teringat sesuatu, “Oh! Chef Lee!!” serunya sembari mengambil ponsel dan memanggil nomor Chaerin, iya juga segera memutar arah untuk ke tujuan selanjutnya. “Aissh.. kenapa dia tidak menjawab panggilanku?!” ucapnya geram.

Di tempat lain.

Chaerin yang sudah dalam perjalanan pulang dengan taxi hanya memandangi ponselnya yang memperlihatkan nama Seunghyun. Lalu memasukkan ponsel ke dalam tas dan memandang keluar jendela. Tak sampai 20 menit kemudian taxi berhenti di depan gedung apartemennya, ia membayar sang supir taxi dan keluar.

“Chef Lee..”

Chaerin berhenti dan menoleh, tampak Seunghyun yang sepertinya sudah menunggu menghampirinya.

Seunghyun tersenyum lega, “Oh.. syukurlah.. Aku menghubungimu terus tapu kau tidak menjawabnya..”

Chaerin menatap Seunghyun tanpa ekspresi, “Sedang apa kau disini?”

“Mmm.. Cesongeo, tadi aku menunggumu di depan kantor tapi tiba-tiba ada sesuatu yang harus kulakukan.. Karena itu aku pergi..” jelas Seunghyun menyesal.

Chaerin diam sejenak, “Apa itu urusanku?”

Seunghyun tertegun, “Ne? Oh.. aku hanya tidak ingin kau lama menunggu..” jawabnya.

Chaerin mendengua kesal dan melipat kedua tangannya di dada, “Choi Seunghyun-ssi, sejak awal aku sudah memperingatimu untuk tidak berakting seperti kau dekat denganku. Kau hanya orang asing.. Tidak perlu bertingkah seperti kau sudah mengenalku. Kau mengerti?” tegasnya, lalu melangkah masuk.

Seunghyun menatap Chaerin tak tercaya. Meskipun tak mengharapkan mendengar kata-kata seperti itu, ia tetap menyesal karena tidak menghubungi gadis itu lebih cepat.

 

=Rumah Keluarga Choi=

Seunghyun menaiki tangga dan melangkah menuju kamarnya sembari melonggarkan dasi, kakinya berhenti ketika melewati pintu kamar Suhyun. Sudah seharian ini ia tidak bertemu gadis kesayangannya itu. Ia menghampiri pintu dan membukanya, bibirnya membentuk senyuman melihat sang gadis sudah tertidur. Perlahan ia melangkah masuk, lalu duduk di pinggir tempat tidur memperhatikan keponakannya tidur. Tangannya terulur dan mengelus rambut gadis itu, ‘Mianeyo, Suhyun-a.. Samchon akan berusaha lebih baik lagi untuk menjadi ayah bagimu..’ batinnya.

Dahi Suhyun betkerut merasakan elusan lembut di rambutnya, matanya terbuka dan memandang orang yang mengelua rambutnya.

Seunghyun tersenyum melihat Suhyun terbangun, “Hei..”

Setelah beberapa detik Suhyun baru menyadari orang yang ada di depannya adalah Seunghyun, “Samchon..” ucapnya sembari bangkit dan memeluk pamannya itu.

Seunghyun memeluk Suhyun sambil mengelus rambut gadis itu lembut.

Suhyun melepaskan pelukannya dan menatap Seunghyun menyesal, “Kenapa samchon tidak pulang? Juga ponselmu tidak aktif..”

“Miane.. Ada sesuatu yang harus samchon lakukan kemarin malam dan ternyata ponselku kehabisan batray..” jawab Seunghyun menjelaskan.

“Apa samchon tidak pulang karena ucapanku kemari?” tanya Suhyun menyesal.

Seunghyun tertegun mendengar ucapan Suhyun, “Ne?” ia tidak sadar keponakannya memikirkan hal itu. “Tentu saja tidak, Suhyun..” ucapnya sambil menggeleng.

“Lalu kenapa samchon tidak pulang?” Kedua mata Suhyun mulai berkaca-kaca menahan air mata.

Seunghyun merasa jauh lebih menyesal mengetahui Suhyun berpikir seperti itu, dengan lembut ia memeluk gadis itu. “Samchon pergi membantu teman, karena dia butuh teman bicara samchon menginap di tempatnya..” jelasnya. Hatinya seperti teriris mendengar Suhyun menangis. “Sssssh.. uljima..” ucapnya sambil mengelus rambut gadis itu.

“Mianeyo samchon..” ucap Suhyun menyesal.

“Gwenchana.. Uljima..” Ucap Seunghyun.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 10]

  1. chaerin mulai jatuh hati sama seunghyun tapi dia belum sadar…
    seunghyun sangat menyayangi suhyun…
    jadi penassra siapa yeoja yg d i teuin seunghyun…

  2. wah, Seughyun sibuk nemenn Sungkyung ya? Tapi Sungkyung aneh ya.. padahal udah punya pacar tapi kenapa deketin Seunghyun .-.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s