Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 6]

Chapter 6

6

-The Drama Begin-

 

Suhyun melangkah keluar dari gedung sekolah seorang diri, ia sudah bisa melihat mobil jemputannya dari sana.

“Suhyun-a.. Suhyun-a..” panggil Bobby sembari berlari menghampiri Suhyun.

Suhyun berhenti dan memandang Bobby bingung karena terlihat panik, “Wae?”

“Kau melihat Jenny? Aku tidak bisa menemukannya di mana pun..” ucap Bobby.

Suhyun tertegun, “Ne? tadi dia sudah keluar duluan kan.. Kupikir kalian sudah pergi pulang..”

“Aissh.. Kemana dia sebenarnya..” gumam Bobby kesal dan berlari kembali ke dalam gedung.

“Ya.. Bobby! Tunggu aku..” panggil Suhyun sambil mengejar Bobby.

Bobby berlari ke setiap kelas kosong mencari dimana saudarinya itu, namun gadis yang lebih muda 2 menit darinya itu tidak terlihat juga. “Aissh.. dimana dia? Jenny! Ya!! Jenny!!” panggilnya dan berlari ke lantai atas lagi.

Suhyun hampir kehabisan nafas mengejar Bobby, “Ya.. tunggu..” ucapnya pelan dan melangkah pelan ke lantai atas sambil mengatur nafasnya.

Bobby sangat kesal tidak menemukan Jenny di mana pun, “Aissh! Dimana dia sebenarnya?!” serunya kesal sambil mengelus belakang kepalanya gusar.

“Jenny-a..” panggil Suhyun, “Jenny-a!!” panggilnya lagi dan berhenti di sebelah Bobby, “Kemana dia? Tumben sekali dia pergi seorang diri..” ucapnya tak mengerti.

Bobby mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Jenny, “Aissh! Kenapa ponselnya mati?!” serunya pada ponsel.

Suhyun benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada temannya yang satu itu, “Ya.. apa kalian bertengkar lagi?”

Bobby mentap Suhyun aneh, “Kapan kami tidak bertengkar?” ucapnya, lalu berlari mencai lagi.

Suhyun menatap Bobby sebal. Tangannya mengeluarkan ponselnya yang berbunyi, terlihat nama supir yang menjemputnya. “Supir Kang, aku…”

“Suhyun-a..”

Suhyun tertegun mendengar suara seorang gadis, dahinya berkerut berusaha mengenali suara itu. “Jenny?”

Bobby berhenti dan menatap Suhyun karena mendengar nama Jenny, lalu segera kembali dan merebut ponsel gadis itu. “Ya! Neo odia?!” serunya.

Di depan sekolah.

Suhyun berdiri di sebelah mobil dengan kedua tangan terlipat di dada menatap dua teman kembarnya sedang menyelesaikan urusan mereka.

“Aissh!” Bobby mengangkat tangannya hampir memukul kepala Jenny, namun seperti biasa ia hanya menggertak.

“Kyaa!!” teriak Jenny sambil melindungi kepalanya, “Eomma!!” tangisnya.

Bobby mendengus kesal menatap saudarinya, “Jika ponselmu mati seharusnya kau tidak pergi duluan! Paboya?! Kau tidak tau aku berlari dari lantai satu sampai lantai tiga?!” serunya.

Jenny menatap Bobby sebal dengan air mata berlinang masih sambil melindungi kepalanya, “Aku tidak tau ponselku mati, setelah keluar aku baru tau.. Karena itu aku meminjam ponsel supir Suhyun..”

Bobby menatap Jenny kesal, “Aissh!” ia hampir memukul saudarainya lagi.

“Kyaa!!” jerit Jenny dengan mata terpejam.

“Ya! Kemanhe.. Kalian akan berada di sini seharian?” Tanya Suhyun sebal. Kedua temannya itu memandangnya, “Masuklah, aku akan mengantarkan kalian..” ucapnya lagi.

Jenny memandang Bobby dan langsung berlari ke arah Suhyun, lalu masuk ke mobil.

“Ppali..” panggil Suhyun pada Bobby dan ikut masuk.

Bobby mendengus kesal dan masuk ke mobil di sebelah supir.

Dalam perjalanan, Jenny dan Bobby masih terlihat kesal satu sama lain.

Suhyun melirik Jenny di sebelahnya dan Bobby yang duduk di depan, “Ya.. kalian benar-benar bertengkar?”

Jenny dan Bobby saling melirik di saat yang bersamaan, lalu memalingkan wajah. “Ne!” jawab mereka bersamaan juga.

“Kalian bahkan jadi lebih kompak kenapa bertengkar?” Tanya Suhyun aneh.

“Siapa yang kompak?” Tanya Bobby sebal.

Jenny menatap Bobby sebal, “Aku akan mengadukanmu pada eomma!”

Bobby menatap Jenny, “Ne, kadukan saja!”

Jenny melipat kedua tangannya di dada, “Kau akan di hukum! Kau dengar?!”

“Ne! katakan saja pada eomma, appa, halmoni dan semuanya! Aissh!” ucap Bobby sebal.

Suhyun menghela nafas dalam sambil memegang dahinya tak habis pikir. Ketika menoleh ke jendela matanya tidak sengaja melihat sebuah papan iklan besar di atas sebuah gedung yang memperlihatkan seorang gadis cantik memegang sebuah krim malam yang di iklankan. Dahinya berkerut dan memperhatikan dengan seksama.

Jenny memandang Suhyun bingung, “Wae?”

Suhyun tertegun dan memandang Jenny, “Hm? Oh.. aniya..” jawabnya sambil menggeleng.

 

=Food&Health=

Seunghyun memandang Chaerin yang berdiri di sebelahnya, “Bagaimana menurutmu, Chef-nim?”

Chaerin memperhatikan dekorasi baru dapur yang akan ia gunakan, ia mengangguk kecil dan memandang Seunghyun. “Aku suka..” ucapnya, lalu melangkah menghampiri meja dapurnya. “Asisten Kim!”

Hanbin yang berdiri di sebelah Chaerin tertegun dan melirik Seunghyun yang tampak mengerutkan dahi karena sikap dingin sang Chef, “Oh.. ne, Chef-nim..” ucapnya, ia membungkuk sopan pada Seunghyun dan segera menghampiri Chaerin.

Seunghyun menatap Chaerin yang langsung sibuk tak mengerti, lalu tersenyum tipis. “Ne, gadis elegan memang arogan..” gumamnya dan melangkah keluar dari dapur itu.

Minji yang menunggu Seunghyun di luar dapur langsung menghampiri pria itu, “Bagaimana sanbaenim?”

Seunghyun tersenyum, “Gwenchana, dia suka..”

Minji menghela nafas lega, “Ohh.. syukurlah..” ucapnya sambil mengelus dada, lalu memandang Seuunghyun penuh rasa terima kasih. “Jeongmal gamshamida sanbaenim..” ucapnya sambil membungkuk sopan.

Seunghyun tertawa kecil sambil memegang bahu Minji, “Kau harus bekerja lebih keras lagi, kau mengerti?”

Minji mengangguk cepat, “Ne, sanbaenim!”

Seunghyun mengangguk, “Tetaplah disini bantu Chef Lee, mungkin dia butuh sesuatu..”

“Ne, sanbaenim..” jawab Minji lagi.

Seunghyun melangkah kembali ke ruangan dengan tenang.

 

=Rumah Keluarga Choi=

Tok! Tok! Tok!

“Samchoon..”

Seunghyun menoleh ke pintu kamarnya, “Ne..”

Pintu terbuka dan muncul kepala Suhyun dari celah pintu, “Samchon..”

Seunghyun tersenyum, “Masuklah..”

Suhyun tersenyum dan melangkah masuk menghampiri pamannya yang sedang mempelajari berkas, “Samchon sedang apa?”

“Sedang mempejalari berkas, wae?” Tanya Seunghyun.

Suhyun berhenti di dekat meja kerja Seunghyun, ia ragu bagaimana mengatakan maksudnya.

Seunghyun bingung melihat ekspresi Suhyun, “Waeyo? Ada yang ingin kau katakan?”

“Ne? oh.. itu..” Suhyun berusaha mengatakan maksudnya, “Mmm.. apa samchon…”

Seunghyun tersenyum lucu, “Ada apa? Katakan saja..”

Suhyun tersenyum canggung, “Hmm.. itu tentang….”

“Apa kau sedang ingin mengganggu samchon?” Tanya Seunghyun lucu.

Suhyun tertawa kecil, “Aniya.. Aku hanya sedang bosan..” jawabnya, ia membatalkan niat untuk mengatakan maksudnya.

“Wae? Apa kau penasaran tentang hadiah ulang tahunmu nanti?” Tanya Seunghyun.

“Hm? Oh.. ne..” jawab Suhyun mengalihkan pembicaraan dan tersenyum lebar.

 

=Keesokan Harinya=

Suhyun yang diantarakan supir ke sekolah memandang keluar jendela ketika melewati jalan kemarin, ia ingin memastikan model di papan iklan kemarin memang orang yang ia kenal. Dahinya berkerut melihat itu benar-benar orang yang sama seperti ia lihat kemarin. “Mwoya? Kenapa dia jadi model?” gumamnya tak mengerti.

Food&Health.

Seunghyun masuk ke dapur dan melihat Chaerin sedang memasak sesuatu bersama Hanbin yang terlihat mendengarkan dengan seksama. Bibirnya membentuk senyuman dan melangkag menghampiri meja dapur.

Hanbin menyadari kemunculan Seunghyun dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo..”

Chaerin memandang Seunghyun.

Seunghyun tersenyum, “Sepertinya kalian sedang sibuk..”

“Jika kau tau kenapa masih datang kemari?” Tanya Chaerin.

Hanbin tertegun memandang Chaerin, lalu memandang Seunghyun bingung.

Seunghyun tertawa kecil, “Karena kau selalu sibuk, jadi kupikir akan menyenangkan untuk mengganggumu sebentar..” candanya.

Chaerin melipat kedua tangan di dada, “Apa keperluanmu kemari, Choi Seunghyun-ssi?”

Seunghyun tersenyum memandang Hanbin, “Asisten Kim, temui Gong Minji. Sepertinya dia ingin membahas sesuatu untuk show nanti..”

“Ne?” ucap Hanbin bingung, lalu mengangguk, “Ne, saya mengerti..” ucapnya, ia membungkuk sopan pada Chaerin dan segera melangkah keluar.

Chaerin melirik Hanbin yang berjalan pergi, lalu menatap Seunghyun. “Mwo?”

Seunghyun tersenyum manis, “Aku ingin mengatakan sesuatu..”

“Mwo? Makan malam? berkencan?” Tanya Chaerin.

Seunghyun diam sejenak, lalu menahan tawa. “Ani.. Aku tidak seberani itu mengajakmu makan malam..” ucapnya lucu.

Chaerin masih memasang wajah datarnya menatap Seunghyun.

Seunghyun merasa canggung sendiri dan berhenti tersenyum, “Mmm.. itu.. akhir minggu ini, kurasa kau dan Kim Hanbin bisa beristirahat sejenak..”

Chaerin mengerutkan dahi, “Wae?”

“Mmm.. aku ingin menggunakan dapur ini..” jawab Seunghyun sambil tersenyum canggung.

Chaerin diam sejenak, “Keperluan apa yang membuatmu harus menggunakan dapurku?”

Seunghyun menopang tubuhnya dengan kedua tangan di meja menatap Chaerin lebih lekat, “Aku ingin merayakan ulang tahun seorang gadis..”

Mata Chaerin menyipit menatap Seunghyun, lalu sudut bibirnya membentuk senyuman sinis. “Oh.. jadi seorang pria menggunakan ilmu memasak untuk membuat seorang gadis tertarik?”

Seunghyun tersenyum cool dan mengangguk, “Ne, kau tidak tau?”

Chaerin mendengus kesal, “Apa kau lupa mengapa aku menerima tawaranmu untuk bekerja sama dengan perusahaan ini?”

“Ani..” jawab Seunghyun tenang.

“Lalu?” Tanya Chaerin tak mengerti.

“Tidak perlu khawatir, meskipun itu terhitung hari libur.. Kau dan asistenmu tetap mendapatkan gaji full seperti kesepakatan..” ucap Seunghyun.

Chaerin menatap Seunghyun kesal, “Aku masih bisa membatalkan kontrak jika ada peraturan yang kukemukakan di langgar oleh pihak perusahaan.”

Seunghyun menghela nafas dalam sambil mengambil sesuatu dari balik jasnya, lalu menyodorkannya pada Chaerin.

Chaerin sempat berpikir Seunghyun akan memberikannya uang atau cek, namun ia tertegun melihat itu adalah tiket sebuah drama musical. Dahinya berkerut dan menatap pria itu tak mengerti.

“Pertunjukkan ini untuk akhir minggu ini, kau bisa menontonnya ketika tidak bekerja.. You know? Relax is good with music..” ucap Seunghyun sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Choi Seunghyun-ssi..” tegas Chaerin, namun Seunghyun langsung memberikan tiket itu ke tangannya.

“Chef-nim..” ucap Seunghyun lembut dengan senyuman mematikannya, “.. aku hanya akan meminjamnya semalam.. Kau tenang saja..” lanjutnya, lalu mengedipkan sebelah mata dan melangkah pergi dengan penuh kemenangan.

Mulut Chaerin terbuka tak percaya menatap Seunghyun, “Aissh!” gumamnya kesal, lalu menatap tiket pertunjukan musical di tangannya. “Mwo?!” ia langsung merobek tiket itu menjadi potongan kecil dan melemparkannya ke tempat sampah.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s