Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 5]

Chapter 5

5

-Welcome To the New World-

 

Seunghyun keluar dari kamarnya dan melangkah ke tangga, ketika menuruni tangga langkahnya terhenti melihat Suhyun berdiri di photo keluarga kakak laki-lakinya yang terpajang di ruang tengah. Ia menghela nafas berat melihat ekspresi sedih keponakannya itu.

Suhyun menghela nafas sedih dan melangkah menuju ruang makan.

Seunghyun melangkah pelan menuruni tangga dan berhenti di depan phto keluarga kakak laki-lakinya. Dalam photo itu semuanya terlihat tersenyum lebar, Suhyun yang masih berusia 2 tahun, kakak iparnya yang selalu ramah. Namun semuanya hanya tinggal kenangan sekarang, kakak dan kakak iparnya meninggal dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun setelah photo ini di ambil. Saat itu Suhyun yang masih kecil berpikir kedua orang tuanya masih dalam perjalanan bisnis, hingga ia menyadari mereka telah meninggal. Sangat sedih mengingat Suhyun kecil selalu bertanya kapan ayah dan ibunya pulang. Ia mengedipkan kedua matanya merasakan air yang berkumpul, lalu memalingkan wajah dan melangkah ke ruang makan.

Setelah sarapan.

Seunghyun yang hendak masuk ke mobilnya berhenti untuk memandang Suhyun yang melangkah ke mobil yang akan mengantarkan gadis itu ke sekolah, “Suhyun-a..”

Suhyun berhenti dan memandang Seunghyun, “Ne..”

Seunghyun tersenyum, “Bagaimana jika samchon yang mengantarkanmu ke sekolah?”

Suhyun tersenyum lebar dan mengangguk cepat, “Ne!!” soraknya riang dan berlari ke mobil Seunghyun, lalu masuk ke mobil.

Seunghyun masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman, “Sabuk pengaman..” ucapnya mengingatkan.

“Sudah..” ucap Suhyun melaporkan.

“Khaja…” Seunghyun menghidupkan mesin dan menginjak gas pergi meninggalkan pekarangan rumah.

Suhyun memandang keluar jendela dengan senyuman lebar di wajahnya.

Seunghyun tersenyum melihat Suhyun kembali ceria, “Suhyun-a..”

“Ne..” jawab Suhyun sambil memandang Seunghyun.

“Kau ingin apa untuk ulang tahunmu?” Tanya Seunghyun.

Suhyun berpikir sejenak, “Apa ya.. Mmmm..”

“Kau mau samchon membuatkanmu sesuatu?” Tanya Seunghyun.

Suhyun menatap Seunghyun dengan mata berbinar, “NE! tapi samchon harus membuatnya di depanku!”

Seunghyun mengangguk, “Keure..”

Suhyun bertepuk tangan girang, “Yuhuu.. samchon akan memasak lagi!! yuhuu!!”

Seunghyun tertawa kecil melihat tingkah laku keponakannya yang akan segera berusia 16 tahun ini.

 

=Sekolah Suhyun=

Suhyun keluar kelas dan berhenti sejenak melihat si kembar Bobby dan Jenny sedang berdebat. Ia geleng-geleng kepala menghampiri kedua orang itu. “Ya..”

Bobby dan Jenny berhenti karena mendengar suara Suhyun.

“Apa kalian akan terus bertengkar?” Tanya Suhyun.

Bobby dan Jenny memandang Suhyun bingung, lalu saling berpandangan.

“Siapa yang bertengkar? Kami sedang bermain..” jawab Jenny polos.

Suhyun menatap Jenny tak percaya, “Horrrl..”

“Siapa yang bermain denganmu? Kau selalu mengganggu..” ucap Bobby sebal.

Jenny menatap Bobby sebal, “Mwo? Aku? Kau yang selalu menggangguku! Aissh..”

Suhyun memutar bola matanya kesal, lalu melangkah pergi.

“Oh.. Suhyun-a.. odiga?” panggil Jenny sambil mengikuti Suhyun.

Bobby mendengus kesal dan mengikuti Jenny dan Suhyun.

Jenny memeluk lengan Suhyun, “Suhyun-a, kau kenal Kim Jinhwan yang ketua klub seni itu?” Tanyanya dengan kedua pipi merona.

Suhyun mengerutkan dahi memandang Jenny, “Kenal, waeyo?”

“Kemarin, dia mengundangku ke ruang seni untuk belajar melukis..” jawab Jenny senang.

“Oh..” jawab Suhyun, ia sudah biasa mendengar tentang pria yang naksir temannya ini karena Jenny memang sangat cantik.

Jenny cemberut mendapat respon Suhyun, “Hanya ‘Oh’?”

“Lalu aku harus mengatakan apa lagi?” Tanya Suhyun heran.

“Hmm.. Suhyun-a..” rengek Jenny sembari menarik Suhyun berhenti.

“Wae?” Tanya Suhyun.

Jenny kembali tersenyum lebar, “Aku sudah mendaftarkan kita bertiga untuk ikut kelas seni..”

Suhyun dan Bobby tertegun menatap Jenny.

“Mwo? Kita bertiga?” Tanya Bobby tak mengerti.

Jenny mengangguk cepat, “Ne! bukankah menyenangkan kita bisa belajar melukis bersama?”

Mulut Suhyun dan Bobby terbuka tak percaya, lalu menatap Jenny kesal. “YA!!”

 

=Devisi Perencanaan=

Seunghyun yang sedang mengerjakan laporan berhenti mengetik melihat photo imut Suhyun di mejanya, ia menghela nafas dalam dan memperhatikan betapa lucunya gadis itu.

Seungyoon memandang ke meja Seunghyun dan mengetahui apa yang di pandangi oleh rekan kerjanya, “Seunghyun-ssi, gadis yang ketika itu datang. Benarkah keponakanmu?”

Seunghyun memandang Seungyoon, “Ne.. Waeyo?”

“Mmm.. hanya.. Aku tidak tau kau memiliki saudara..” ucap Seungyoon bingung.

Seunghyun mengangguk, “Ne.. Aku punya seorang hyung yang 8 tahun lebih tua dariku. Dulu ia sempat menjadi direktur di bawah ayahku disini. Dia meninggal 10 tahun lalu dalam perjalanan bisnis bersama istrinya, pesawat yang mereka naiki mengalami kerusakan mesin dan terjatuh..” ceritanya.

Mata Seungyoon membesar, “Omo.. begitu.. pantas saja..”

Seunghyun menghela nafas dalam, “Sejak saat itu aku yang menjadi ayah bagi putri hyungku..”

Seungyoon menatap Seunghyun tak percaya, “Wuaa.. aku benar-benar tidak percaya kau bisa selembut ini..” candanya.

Seunghyun menahan tawa dan melanjutkan pekerjaannya.

Klek.. pintu terbuka dan masuk Minji dengan wajah gusarnya.

“Seunghyun sanbaenim, ada masalah besar!” ucap Minji.

Seunghyun tertegun dan bergerak bangkit, “Wae?”

Minji menggigit bibir bawahnya ragu, “Mmm.. Chef Lee menolak memasak di dapur yang kita sediakan..”

Seunghyun mengerutkan dahi, “Wae? Bukankah itu sudah seperti yang ia minta?” tanyanya tak mengerti.

Seungyoon ikut berdiri memandang Minji tak mengerti.

“Ne, memang benar.. Tapi…” Minji bingung bagaimana menjelaskannya.

Seunghyun langsung melangkah cepat keluar dari ruangan menuju lantai 3 tempat dapur yang di sediakan untuk Chaerin memulai kegiatan memasaknya. Ia masuk ke dapur itu dan memperhatikan sekitar.

Chaerin yang berdiri di sudut ruangan bersama Hanbin di sudut ruangan, ia menatap Seunghyun yang berjalan menghampirinya kesal. “Choi Seunghyun-ssi, apa-apaan ini?”

Seunghyun mengerutkan dahi, “Wae? Ada apa ini?”

Chaerin mendengus kesal sambil melipat kedua tangan di dada, “Kau tidak lihat? Dapur apa yang kau siapkan ini?”

Seunghyun memperhatikan dapur itu, dahinya semakin berkerut tidak menemukan sesuatu yang salah. “Mwo? Semuanya baik-baik saja..”

Chaerin terlihat sangat kesal mendengar ucapan Seunghyun, “Asisten Kim!”

Hanbin segera menghampiri Seunghyun, “Mmm.. Choi Seunghyun-ssi, cesongeo.. Chef Lee tidak sudah bekerja di tempat kecil, juga ventilasinya tidak ada. Udara jadi pengap..” ucapnya menjelaskan.

Seunghyun menghela nafas dalam menatap Chaerin kesal, “Anda bisa mengatakannya sejak awal dapur seperti apa yang anda inginkan, Chef Lee..”

Chaerin menatap Seunghyun, “Selesaikan dapurnya, aku tidak akan bekerja di tempat seperti ini..” ucapnya, lalu melangkah keluar.

Minji yang berdiri di pintu membungkuk sopan ketika Chaerin berlalu di depannya dengan kepala tertunduk menyesal.

Seunghyun tau hal seperti ini akan terjadi jika bekerja sama dengan Chaerin, namun ia tidak menyangka secepat ini.

Hanbin menatap Seunghyun menyesal, “Cesonghamida, saya tidak bisa membantu apa pun..”

Seunghyun tersenyum tipis dan mengangguk, “Gwenchana, istirahatlah dulu.. Aku akan segera menyelesaikan masalah ini..”

Hanbin membungkuk sopan dan melangkah keluar.

Minji menghampiri Seunghyun dengan kepala masih tertunduk, “Cesonghamida, seharusnya aku memikirkan tentang hal itu juga..” ucapnya menyesal.

Seunghyun memegang bahu Minji, “Gwenchana, hal-hal seperti ini pasti terjadi.. Kau akan segera terbiasa..”

Minji mengangguk sopan, “Ne..”

Seunghyun tersenyum, “Keure, kita masih bisa memperbaiki keadaan. Khaja..” ajaknya.

 

=Ruang Seni=

Suhyun dan Bobby terpaksa mengikuti kelas tambahan ini bersama Jenny karena mereka bisa mendapat masalah jika tidak mengikuti kelas ini setelah nama mereka terdaftar.

Jenny dengan senyuman lebar menguaskan cat ke kanvas mengikuti apa yang telah di ajarkan oleh ketua kelas seni ini. Sementara Bobby dan Suhyun dengan wajah cemberut sembarang menggambar apa yang mereka inginkan.

“Ya.. lihat, aku melukis bunga..” ucap Jenny memberitau teman-temannya.

Suhyun dan Bobby memandang kanvas Jenny dan hanya bisa memutar bola mata kesal melihat hanya bunga dengan tangkai dan kelopak yang biasa di buat anak-anak.

Jenny memandang kanvas Suhyun, dahinya berkerut melihat garis-garis berantakan yang di buat temannya. “Kau menggambar apa?”

“Kau tidak lihat? Ini rumah..” jawab Suhyun.

Mulut Jenny terbuka tak percaya, “Jinja? Kupikir hanya gambar abstrak biasa..”

Suhyun menatap Jenny sebal, “Apa kau di tempat yang bisa mengomentari gambarku?”

Jenny beralih ke kanvas Bobby yang duduk di sisi lainnya, dahinya berkerut melihat tidak ada apa pun di kanvas putih itu. “Kau belum memulai?”

“Hm? Sudah.. Ini..” Bobby menunjuk sebuah titik di tengah kanvasnya.

Dahi Jenny berkerut, “Apa itu?”

“Titik.. kau tidak bisa lihat?” Tanya Bobby aneh.

“Ya.. seharusnya kau membuat gambar, bukan hanya titik saja..” ucap Jenny.

“Terserah aku kan.. Ini seni..” ucap Bobby tak mau kalah.

Jenny menatap Bobby aneh dan melanjutkan gambar bunganya.

 

=Rumah Keluarga Choi=

Asisten Song tersenyum melihat Suhyun masuk ke rumah, “Sudah kembali Agassi?”

“Ne..” jawab Suhyun lesu sembari berlalu.

Asisten Song bingung melihat Suhyun tidak bersemangat, ia menyadari gadis itu membawa sebuah gulungan. “Apa itu Agassi?”

Suhyun berhenti dan memberikan gulungan kanvas di tangannya, “Ini, buang saja..” ucapnya dan kembali melangkah ke tangga.

Asisten Song memandang Suhyun tak mengerti, lalu membuka gulungan itu. ia menahan tawa melihat apa yang terdapat di dalam kanvas itu, lalu melirik gadis itu lucu.

Begitu masuk kamar, Suhyun mengganti pakaian dan berbaring di tempat tidurnya sejenak. Tak lama ia mendengar sesuatu di pintu kamar dan menoleh, dahinya berkerut melihat selembar kertas meluncur dari bawah pintunya. Ia bangkit dan menghampiri pintu untuk melihat kertas tadi. Ia tertegun melihat di kertas itu ada gambar karikatur yang lucu, bibirnya membentuk senyuman menyadari itu adalah dirinya dengan mata dan kepala agar besar. Di sudut kertas tertulis inisial ‘S.M.H’. “Nugu?” gumamnya tak mengerti, lalu membuka pintu dan tertegun melihat asisten Song berdiri di sana sambil tersenyum.

“Anda suka gambar yang kubuat, Agassi?” Tanya Asisten Song.

Suhyun tertegun, “Mwo? Kau yang membuat ini?”

Asisten Song mengangguk membenarkan, “Ne.. Bagaimana menurutmu?”

Mata Suhyun membesar menatap gambar di tangannya dan kembali menatap Asisten Song, “Jeongmalyeo?! Bagaimana kau membuatnya?”

Asisten Song tersenyum lebar.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s