Chapter · YG Family

Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 2]

Chapter 2

Copy (2) of rrbdw

-Meet Chef Lee-

Suhyun mendengar kakeknya telah kembali dari kantor, dengan cepat ia keluar dari kamar dan berlari ke lantai bawah. “Harabeutji….” Soraknya menyambut sang kakek sambil bergelayut manja.

Tuan Choi tersenyum lebar memeluk cucunya, “Ne.. Harabeutji sudah pulang..” ucapnya sambil mencubit gemas pipi cucunya.

Suhyun merengut lucu, “Harabeutji sudah berbicara pada samchon? Kapan samchon akan pulang?” tanyanya dengan mata berbinar.

Tuan Choi tertegun sesaat, lalu kembali memberikan senyuman terbaiknya. “Samchon belum bisa pulang beberapa saat ini, setelah urusannya selesai samchon pasti akan pulang..”

Suhyun kembali cemberut dan melepaskan pelukannnya, “Harabeutji pasti belum berbicara dengan samchon kan?”

Tuan Choi tertawa kecil, “Aigoo.. kau selalu bisa membaca situasi..”

Suhyun menatap kakeknya sebal, “Aku akan mogok makan! Aku tidak akan makan sampai samchon pulang!!” ucapnya, lalu melangkah cepat ke lantai atas.

Tuan Choi menghela nafas dalam, “Suhyun-a..” panggilnya.

Suhyun berhenti di anak tangga pertama dan berbalik, “Pokoknya aku mogok makan!!” teriaknya, kemudian berlari ke lantai atas.

Tuan Choi hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah cucunya.

Asisten Song melangkah ke sisi Tuan Choi sambil memperhatikan Suhyun, lalu memandang pria setengah baya itu. “Haruskah saya menghubungi Tuan muda, tuan?”

Tuan Choi memandang asistennya, “Aku akan menghubunginya..” ucapnya, lalu melangkah ke kamarnya.

 

=Apartemen Seunghyun=

Seunghyun yang sedang menonton tv menoleh mendengar ponselnya berbunyi, ia mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubungi. Helaan nafas berat keluar dari mulutnya melihat nama sang ayah muncul. Lalu menjawab panggilan tersebut, “Ne..” jawabnya.

“Seunghyun-a, kapan kau akan pulang?” Tanya Tuan Choi langsung.

“Aku sudah di rumahku sekarang..” jawab Seunghyun dingin.

Tuan Choi mendengus kesal, “Sampai kapan kau akan keras kepala? Suhyun ingin kau kembali ke rumah..”

“Abeutji, Suhyun hanya anak kecil berusia 16 tahun. Kenapa abeutji tidak bisa mengendalikannya?” Tanya Seunghyun kesal, “Selamat malam..” ucapnya dan memutus telepon itu. “Huuuffft..” ia menghembuskan nafas panjang, “Mwoya ige?” gumamnya tak mengerti. Ia menonton tv lagi seperti tidak terjadi apa pun, tak lama ponselnya kembali berbunyi. Ia memandang layar dan terlihat nama Suhyun muncul disana. Ia sudah tau keponakannya itu pasti akan menghubunginya. “Ne, Suhyun-a..”

“Samchon! Kenapa tidak pulang juga?” protes Suhyun langsung.

Seunghyun tersenyum tipis, “Samchon akan tinggal di apartemen sekarang, kau harus menuruti harabeutji..”

“Shiro! Aku juga akan kabur dari rumah jika samchon tidak kembali!” ucap Suhyun sebal.

“Wae? Kabur dari rumah itu tidak enak, tetaplah di rumah bersama harabeutji..” ucap Seunghyun.

“Ugh! Samchooooon…” rengek Suhyun.

Seunghyun menahan tawa, “Kau sudah belajar? Kenapa malah menghubungi samchon?”

“Aku sudah berkata pada harabeutji akan mogok makan hingga samchon pulang!” ucap Suhyun memberitau.

“Hmm.. begitu? Apa kau yakin akan melakukannya?” Tanya Seunghyun.

“Aku benar-benar akan mogok makan! Pokoknnya aku tidak akan makan sampai samchon pulang!” ucap Suhyun kesal.

Seunghyun merasa lucu mendengar omelan Suhyun, “Ne.. arasoo..” ucapnya.

“Samchon!” seru Suhyun sebal.

Seunghyun tertawa, “Keure, selamat malam. jangan tidur terlalu larut..” ucapnya dan memutuskan telepon. Ia masih tersenyum memandang ponselnya membayangkan wajah cemberut Suhyun.

Keponakannya itu telah kehilangan orangtua di usia yang sangat muda, ia yang menggantikan sosok ayah bagi keponakannya itu. namun, ia tidak bisa berdamai dengan ayahnya terlalu lama meskipun ia berusaha menahannya demi Suhyun. Sekarang ia akan melanjutkan jalannya sendiri.

 

=Keesokan Harinya=

Suhyun tidak mau membuka pintu kamar hingga pagi agar tidak di paksa pergi ke sekolah. Ia akan melanjutkan aksi mogok makannya terus hingga Seunghyun kembali ke rumah dan membujuknya makan. Cara ini berhasil sebelumnya, jadi ia akan menggunakannya lagi.

Tuan Choi yang sudah duduk di meja makan menyadari Suhyun tidak kunjung muncul, “Ahjuma, Suhyun sudah bangun?”

“Ne, tuan..” jawab pelayan yang menghidangkan makanan, “Tapi Agassi menolak membuka pintu dan berkata ia akan terus mogok makan..”

Tuan Choi menghela nafas dan mengangguk mengerti, “Hmm.. keure..” ucapnya. Ia diam sejenak sambil berpikir, “Asisten Song..”

Asisten Song masuk ke ruang makan dan menghampiri Tuan Choi, “Ne, tuan..”

Tuan Choi memandang asisten Song, “Hari ini tetap di rumah..” ucapnya, “Pastikan Suhyun keluar dari kamarnya, atau pakai cara apa pun agar Suhyun makan..”

Asisten Song mengangguk mengerti, “Saya mengerti, tuan..” ucapnya.

Kamar Suhyun, 10 a.m

Suhyun duduk di pinggir tempat tidur sambil mengelus perutnya yang keroncongan, “Ahh.. kenapa kau tidak bisa bekerja sama?” ucapnya kesal pada perut, “Aissh.. aku tidak akan makan hingga Seunghyun samchon pulang..” gumamnya kesal.

Tok! Tok!

Suhyun memandang ke jendela kamarnya bingung, “Hm? Apa itu?” gumamnya tak mengerti, lalu melangkah menghampiri jendela. Ia memperhatikan jendela kamarnya sejenak, “Tadi bunyi apa?” ia terkejut melihat sebuah tangan dari sisi kanan jendela dan kembali mengetuk kacanya.

Tok! Tok!

“Siapa itu?” gumamnya, lalu membuka jendela dan melihat siapa sang pemilik tangan.

Asisten Song berdiri di sebuah pijakan kecil sambil memegang sekotak pizza ukuran besar di satu tangan dan yang lainnya berpegangan ke besi di dinding rumah, “Pesanan pizza anda sudah tiba, Agassi..”

Suhyun menatap asisten Song sebal, “Siapa yang memesannya?! Aku sedang mogok makan, tau!”

Asisten Song tersenyum, “Jika begitu, bolehkan saya masuk untuk makan ini? Anda tau berapa tinggi dari sini ke bawah?”

Suhyun langsung memandang ke bawah dan terkejut melihat jaraknya, asisten Song bisa mengalami patah tulang jika terjatuh dari jarak setinggi itu.

“Apa anda lebih memilih membiarkan saya jatuh, Agassi?” Tanya Asisten Song.

“Aissh! Cepat masuk!” ucap Suhyun dan menyingkir dari jendela.

Asisten Song memanjat jendela dan turun dengan selamat di lantai kamar, “Ahhh.. akhirnya..” ucapnya, lalu berjalan ke tengah ruangan kamar yang besar itu, lalu duduk di atas karpet beludru indah berwarna marun. “Hmm.. pizza..” ucapnya sembari membuka tutup kotak pizza dan menghirup aromanya, “Hmmmm…” ia melirik Suhyun yang berdiri di sudut ruangan dengan kedua tangan terlipat menatapnya sebal.

“Kenapa melirikku?! Aku tidak akan makan!!” ucap Suhyun dan memalingkan wajahnya.

Asisten Song menahan tawa dan mengambil sepotong pizza, lalu memakannya dengan nikmat. “Mmmm!! Enak sekali..” ucapnya.

Kriyuuukk…

Suhyun memegang perutnya yang semakin keroncongan mencium aroma pizza. ‘Aissh.. aku harus mogok makan!’ batinnya menguatkan dirinya. Matanya melirik Asisten Song yang terlihat sangat nimat memakan potongan pizza. Air liurnya sampai berkumpul hendak menetes di mulutnya, ‘Ahh.. paprika.. kesukaanku..’ batinnya, namun sedetik kemudian ia segera menggeleng dan memalingkan wajahnya. ‘Andwae! Aku tidak akan makan!’ batinnya lagi.

Saat hampir menghabiskan potongan pizzanya,b asisten Song mengeluarkan ponselnya dan mengangkat sebuah panggilan, “Yoboseyo?” jawabnya, “Oh.. ne, tuan..” jawabnya, “Sekarang? oh.. ne.. ne.. saya mengerti..” ucapnya dan segera bangkit, namun ia tertegun melihat sisa potongan pizza di tangannya, lalu memandang pizza di bawah.

Suhyun memandang asisten Song penasaran, “Waeyo?” tanyanya.

Asisten Song menyimpan ponselnya dan menatap Suhyun menyesal, “Cesongeo Agassi, saya harus segera pergi menemui tuan. Saya tidak sempat menghabiskan semua pizzanya, bisakah anda membuang sisanya ini?”

Suhyun tertegun, “Asisten Song! Kau baru makan sedikit dan akan di buang!?”

“Oh.. cesonghamida.. Saya akan memberikannya pada pelayan lain saja..” ucap asisten Song dan hendak mengambil kotak pizza itu.

Mata Suhyun membesar dan langsung bangkit, “Andwae!” serunya tanpa sadar.

Asisten Song memandang Suhyun bingung, “Waeyo Agassi?”

Suhyun sendiri tertegun mengapa ia berseru, “Ne? oh.. itu.. Mmmm.. kau bilangkan buru-buru.. aku akan membuangnya nanti, masa kau memberikan sisa pada pelayan lain..” ucapnya memberikan alasan.

“Hm? Oh.. keure.. saya permisi..” ucap Asisten Song dan membungkuk sopan, lalu segera melangkah ke pintu untuk keluar.

Suhyun berlari kecil ke pintu dan memperhatikan Asisten Song melangkah cepat menuju tangga, lalu segera menutup pintu dan menguncinya lagi. bibirnya membentuk senyuman lebar dan memandang pizza tadi. “Aku akan membuangnya..” ucapnya dan menghampiri pizza tadi, “Aku benar-benar tidak akan memakannya, aku akan membuangnya..” ucapnya senang, lalu mengambil sepotong pizza dan menggigit ujungnya. Matanya terpejam erat merasakan betapa enaknya pizza itu, namun ia menahan rasa girangnya agar tidak ada yang mendengar. “Aku membuangnya..” ucapnya lagi dan memakan pizza demi pizza.

Sementara di luar kamar. Asisten Song mengendap-endap ke pintu kamar dan menguping ke dalam, bibirnya membentuk senyuman dan melangkah pergi.

 

=Sebuah Restaurant Perancis=

Sebuah mobil sport berwarna putih berhenti di depan restaurant, lalu turun seorang gadis modis dengan kacamata hitam dan tas tangan dari brand luar negeri. Ia berhenti sejenak memperhatikan sekitar sembari melepaskan kacamatanya, “Kenapa sangat sepi?” gumamnya, lalu melangkah masuk. Didalam juga tidak terlihat siapa pun menikmati makanan

“Annyeonghaseyo, Chef-nim.. Anda baru kembali?” Tanya manajer restaurant begitu melihat sang gadis masuk.

“Ne..” jawab gadis yang tak lain adalah Chef utama di restaurant itu, “Apa yang terjadi? Mengapa tempat ini sepi? Juga ada tulisan tutup di depan pintu..” ucapnya tak mengerti.

Manajer tersenyum, “Ne, ada seseorang yang telah menyewa tempat ini untuk tiga jam kedepan. Jadi semua karyawan dan para chef bisa beristirahat..”

Sang chef tampak bingung, “Begitu? Hmm.. kenapa tidak ada yang memberitauku?”

“Karena orang yang menyewa tempat ini ingin bertemu denganmu, ia sudah bersiap di dapur..” ucap manajer memberitau.

Chef itu mengerutkan dahi, “Oh.. ne.. aku akan ke dapur..” ucapnya, lalu melangkah ke ruang ganti untuk mengenakan pakaian chefnya. Lalu masuk ke dapur untuk melihat siapa yang menyewa seluruh restaurant untuk bertemu dengannya.

Tak! Tak! Tak! Tak!

Chef itu berhenti di ambang pintu mendengar suara potongan yang sangat rapi. Seorang pria tampak dengan handal memotong bahan di atas talenan. Sangat rapi, bersih dan berkelas.

Pria yang tak lain adalah Seunghyun itu melirik seorang gadis berpakaian koki di ambang pintu dan tersenyum simpul sambil melanjutkan pekerjaannya. Memasukkan semua yang sudah ia potong ke air mendidih di dalam periuk, memotong daging, menyiapkan saus pelengkap dan menghidangkannya di piring serta hiasan terakhirnya. Bibirnya membentuk senyuman puas melihat hasil masakannya, lalu memandang koki tadi. “Bagaimana menurutmu, Chef-nim?”

Chef itu melipat kedua tangan di dada dan melangkah menghampiri meja dapur memperhatikan hasil masakan Seunghyun. “Tidak buruk..” ucapnya, lalu memandang pria itu, “Mwoya ige? Kau chef dari restaurant mana?”

Seunghyun tersenyum lucu, “Restaurant? Apa aku terlihat seperti seorang chef?”

Chef itu tersenyum lucu juga, lalu mengambil sendok dan mencicipi masakan Seunghyun. Ia diam sejenak merasakan rasa yang tidak biasa itu di mulutnya, lalu menatap pria di depannya tak percaya. “Darimana kau mendapatkan resep ini?”

“Apa kau akan percaya jika aku berkata aku menemukannya?” Tanya Seunghyun.

Gadis itu tersenyum sinis, “Mwo? Kau menemunya?”

“Ne..” jawab Seunghyun, lalu mengambil bahan daging mentah di dalam mangkuk. “Keponakanku sangat suka daging, tapi dia tidak mau mengimbanginya dengan makan sayur.. Jadi aku memikirkan cara lain untuk membuatnya makan daging dan sayur di saat bersamaan..” ucapnya sambil mengambil bahan-bahan sayur yang tadi ia gunakan.

Chef itu terlihat terkesan dan mengangguk mengerti, “Hm.. keponakan..” ucapnya.

“Apakah anda Chef Lee?” Tanya Seunghyun.

Gadis itu tersenyum, “Ne.. Lee Chaerin..”

Seunghyun mengangguk, “Hmm.. pantas saja..”

“Pantas kenapa?” Tanya Chef bernama Lee Chaerin itu.

“Aku tidak heran orang-orang menyebutmu arogan..” jawab Seunghyun sambil tersenyum.

Senyuman Chaerin luntur dan menatap Seunghyun kesal, “Apa maksudmu?”

Seunghyun tertawa kecil, “Gadis berkelas memang arogan..” ucapnya.

Chaerin diam sejenak mendengar ucapan Seunghyun, lalu menatapnya lucu. “Apa kau sedang menggodaku?”

“Aniya..” ucap Seunghyun sambil menggeleng, lalu mengambil kartu namanya dari saku celemek dan menyodorkan lembaran kertas kecil itu pada Chaerin. “Namaku Choi Seunghyun..”

Chaerin mengambil kartu nama itu dan membacanya, dahinya berkerut dan menatap Seunghyun kesal. “Healt&Food?”

Seunghyun tersenyum, “Ne..”

Chaerin tersenyum sinis, “Bukankah aku sudah berkata kemarin? Aku tidak punya waktu bermain-main dengan perusahaan bisnis seperti kalian..” ucapnya, lalu melempar kartu nama itu ke meja. “Memasak bukan sesuatu yang bisa kau perjual belikan.. Aku belajar hingga ke Paris bukan hanya untuk menjual ide-ideku begitu saja..” tegasnya, “Silahkan pergi setelah kau selesai..” ucapnya dan berbalik.

“Chef-nim..” panggil Seunghyun.

Chaerin berhenti dan berbalik menatap Seunghyun.

Seunghyun tersenyum, “Jika menurutmu perusahaan kami hanya memikirkan bisnis, kenapa tidak kau ajarkan kami bagaimana caranya membuat makanan untuk di nikmati..”

Chaerin menatap Seunghyun kesal, “Apa aku terlihat terlalu mudah bagimu?”

Seunghyun mengangkat bahu, “Seperti yang kukatakan tadi, gadis berkelas itu arogan..” ucapnya.

Chaerin menatap Seunghyun tajam, lalu berbalik dan keluar dari dapur.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Ring.. Ring.. Baby Don’t Worry.. [Chapter 2]

  1. haha kya seunghyun hrus bner2 berjuang tuk menaklukan hati chef kim, agak sulit ..terlalu arogan tpi menrik
    kelakuan keponakan seunghyun membuat ff ini lebih fress dg sgla tingkah laku jg keinginannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s