Uncategorized

How To Love [Chapter 33]

Chapter 33

IMG_20141224_235732

-Yes, You Are-

-Yoseop’s POV-

Kesadaranku meningkat mendengar suara ponselku berbunyi nyaring sejak tadi. “Hmmm..” gumamku sambil mengulurkan tangan mengambil dimana ponselku. Aku tidak melihat siapa yang memanggil dan langsung menjawab panggilan itu, “Ne..” jawabku mengantuk. Mataku terbuka perlahan mendengar ucapan orang seberang, “Ne?” ucapku karena merasa tidak mendengar dengan jelas. Mataku sekarang melotot dan segera duduk, “Mwo?!!” seruku kaget, “Ne! aku segera kesana!” ucapku sambil bangkit dan berlari ke lemari bajuku.

-|||-

Aku melangkah secepat yang kubisa menghampiri ruang UGD. Aissh! Kenapa harus terjadi hal seperti ini menjelang pernikahanku?! Akhirnya aku tiba di ruangan yang tiba-tiba terasa sangat jauh ini. Keure, dimana dia sekarang? Kepalaku berputar ke kisi dan kanan mencari dimana gadis itu.

“Yoseop-a..” panggil seseorang.

Aku berhenti dan menoleh. Ahhh.. akhirnya, aku bisa menghela nafas lega melihat gadis ini. Dengan cepat aku melangkah menghampiri gadis itu dan memeluknya erat.

“Ya.. waekeure?” tanyanya bingung sambil menahan tawa.

Aku melepaskan pelukanku dan menatap gadis itu khawatir, “Neo gwenchana?” tanyaku sambil memegang kedua pipinya, lalu memperhatikan tubuhnya memastikan tidak ada luka satu pun disana.

Gadis itu menatapku lucu, “Mwo? Kau pikir aku terluka parah hingga di bawa ke UGD?”

Aku menatapnya bingung, “Wae? Kau kan berkata kau dibawa ke UGD tadi..”

“Pff..” gadis itu menahan tawa, “Ya, Yang Yoseop.. Kau seharusnya mendengarkan ucapanku hingga selesai, baru memutuskan telepon..”

Dahiku berkerut sambil garuk-garuk kepala bingung, “Lalu, kenapa kau dibawa kemari?”

“Aigooo…” gadis yang tak lain adalah Kang Soyu itu mencubit pipiku gemas, “Kau pasti sangat shock hingga tidak mendengar ucapanku dengan jelas..” ucapnya.

“Ucapan yang mana? Aku dengar kok..” ucapku membela diri.

Soyu menyingkir dari depanku sambil memandang kebelakang, “Kau lihat? Aku membawa nenek itu kemari karena hampir pingsan di jalanan..”

Aku memandang ke belakang Soyu dan melihat seorang nenek yang duduk di sebuah tempat tidur, terlihat seorang gadis seusia Soyu sedang berbicara dengan sang nenek. “Hm?” aku kebingungan sendiri, karena sepertinya tadi aku mendengar dia berkata dirinya yang dibawa ke UGD.

Soyu menatapku lucu, “Apa kau sangat khawatir aku yang di bawa?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan Soyu dan menatapnya tak percaya, “Mwo? Kenapa kau masih bertanya?!”

Soyu tertawa kecil dan memeluk lenganku, “Keure, arassoyo..” ucapnya manis, “..cagiya..”

Aku langsung menahan tawa mendengar panggilannya, “Sekarang ini kau baru memanggilku seperti itu?” tanyaku berpura-pura sebal.

Soyu tersipu malu dan mengajakku melangkah bersamanya, “Aniya, kau sangat romantic berlari kemari karena berpikir terjadi sesuatu padaku..” ucapnya.

Aku tersenyum melihat wajah meronanya, “Keuromyeon, aku akan menikahimu minggu depan. Tentu aku akan khawatir jika mempelai wanitaku tidak muncul di acara pernikahan..”

Soyu tertawa kecil, “Ne, arasoyo..” ucapnya dan menyandarkan kepala ke bahuku sambil terus melangkah.

-|||-

“Kau sudah memesan semuanya?” Tanya Soyu di telepon, ini tinggal beberapa hari menjelang pernikahan kami, dia jadi lebih cerewet dari biasanya.

“Ne, aku sudah membooking hotel, makanannya, tiket pesawat, juga resort yang akan kita tempati ketika bulan madu nanti..” jawabku menjelaskan semuanya.

“Bagaimana dengan teman-temanmu? Apakah mereka sudah mengukur pakaian untuk pakaian pendamping pria?” Tanya Soyu lagi.

Kali ini aku tertegun, o’ow! Aku benar-benar lupa!!

“Yang Yoseop..” ucap Soyu dengan nada kesal, sepertinya ia tau aku lupa meminta Dongwoon mengukur setelan jasnya.

“A-aku akan meminta Dongwoon melakukannya sore ini..” ucapku cepat.

“Mwo?! Sore ini?! Pernikahan kita tinggal beberapa hari, kau ini!” ucap Soyu kesal.

Aku menghela nafas dalam sambil mengusap dahiku, “Miane, aku benar-benar lupa. Dongwoon sangat sibuk akhir-akhir ini. Tapi tenang saja, tubuhnya sangat proposional seperti Dujun, tidak sulit mencari setelan yang pas…” ucapku menenangkannya.

“Kenapa kau melupakan hal penting seperti itu? mereka itu teman dekatmu..” ucap Soyu sebal.

“Ne.. ne.. arasso.. miane..” ucapku lagi.

Terdengar Soyu menghela nafas dalam di seberang.

“Mmm.. Soyu-a, apa kita tidak bisa bertemu sebentar saja hari ini?” tanyaku.

“Wae? Kita kan sudah sepakat untuk tidak bertemu hingga hari pernikahan..” jawabnya mengingatkan.

“Ne.. memang benar..” ucapku lesu, “Tapi aku bisa gila karena merindukanmu..”

Soyu tertawa kecil, “Memangnya aku tidak?”

Aku tertawa kecil mendengar tawanya, “Hmm.. aku tidak percaya akhirnya aku benar-benar akan menikahimu..”

“Jangan memikirkannya, nanti kau berubah pikiran..” ucap Soyu bercanda.

“Eiii.. apa yang kau katakan? Aku tidak akan berubah pikiran. Tidak akan pernah..” ucapku sepenuh hati.

Soyu tidak menjawab untuk beberapa saat, tapi aku tau dia pasti sedang menahan senyuman lebar di wajahnya. ahh.. dia pasti sangat cute seperti itu. “Keure, sampai jumpa beberapa hari lagi calon suamiku..”

“Ne.. mimpikan aku, calon istriku..” ucapku.

-Yoseop’s POV end-

-|||-

“Oppa, ini bagaimana?” Tanya Hyuna setelah keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang akan ia kenakan di pernikahan Yoseop nanti.

Hyunseung menoleh dan tersenyum melihat pakaian itu terlihat sangat pas di tubuh Hyuna, “Wuaa.. yeppeuta..” ucapnya.

Hyuna cemberut, “Oppa selalu mengenakannya pada baju yang sebelumnya..”

Hyunseung tertawa kecil, “Habis kau memang sangat cocok dengan semua pakaian itu..”

Hyuna memandang baju di tubuhnya bingung, “Jadi yang mana yang harus kupilih?”

“Ambil saja semuanya jika kau suka..” jawab Hyunseung sambil tersenyum.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung, “Ne?”

“Ne.. ambil saja semuanya jika kau suka..” ucap Hyunseung santai.

Hyuna tersenyum malu mendengar ucapan Hyunseung, “Jeongmal?”

Hyunseung mengangguk, “Ne.. Kau sepertinya suka semua itu, jadi kau bisa mengenakan semuanya saat kau ingin..”

Hyuna memeluk lengan Hyunseung sambil tersenyum lebar dan menatap pria itu manja, “Gumawoyo oppa..”

Hyunseung mengelus tangan Hyuna di lengannya sambil menatap gadis itu dengan senyuman manisnya, “Ini bukan apa-apa dibanding dirimu..”

Wajah Hyuna merona dan menunduk malu sambil memukul bahu Hyunseung, “Oppa..”

Hyunseung tertawa kecil dan mengelus rambut Hyuna, “Keure, ganti bajumu lagi. kita bayar semua ini dan pergi makan..”

Hyuna mengangguk, “Oke..” ucapnya dan kembali masuk ke ruang ganti.

-|||-

Dujun berdiri di sebelah tempat tidurnya sambil memandangi photo Jihyun di dinding yang tersenyum manis padanya. Hatinya masih terasa sakit mengingat gadis itu sudah tidak ada disisinya. Bibirnya membentuk senyuman hangat, “Jihyun-a, apa aku bisa mencintai gadis lain seperti aku mencintaimu?” ia menghela nafas dalam dan bergerak duduk ke pinggir tempat tidur mengingat betapa bahagianya ia bersama gadis itu.

=Flashback, Jepang=

Dujun tersenyum pada Jihyun yang membuka matanya di tempat tidur rumah sakit, “Hei..” sapanya sambil mengelus pipi gadis itu.

Jihyun tersenyum lemah. Ia harus mengenakan selang oksigen sejak beberapa hari terakhir ini.

“Merasa lebih baik?” Tanya Dujun.

Jihyun mengangguk pelan, “Ne..”

“Kau ingin sesuatu untuk di makan?” Tanya Dujun, meskipun ia tau Jihyun tidak akan bisa memakan apa pun.

“Aniya, gwenchana..” jawab Jihyun.

Dujun tersenyum dan menggenggam tangan Jihyun yang semakin kurus, “Setelah kau membaik dan bisa pulang, bagaimana jika kita pergi pantai?”

Jihyun mengangguk lemah, “Ne..”

“Kita akan duduk di bawah sinar matahari, memandangi ombak yang indah hingga matahari terbenam..” ucap Dujun.

Jihyun tersenyum senang, “Aku suka idemu..”

Dujun masih mempertahankan senyumannya menatap Jihyun, namun kedua matanya mulai memerah dan di penuhi air. Ia segera berpaling dan berpura-pura mengambil minum agar Jihyun tidak melihat matanya.

Jihyun menatap Dujun sedih, tangannya yang lain mengelus punggung tangan pria itu yang menggenggam tangannya.

Dujun menenangkan dirinya sejenak dan kembali memandang Jihyun dengan senyuman manisnya.

“Gumawoyo Dujun..” ucap Jihyun sepenuh hati, kedua matanya tampak memerah menahan air mata.

“Kenapa kau berterima kasih?” Tanya Dujun sambil mengelus rambut Jihyun.

Jihyun tersenyum menatap ketulusan di kedua mata Dujun, “Dujun-a..”

“Ne?” jawab Dujun.

“Aku tidak akan bertahan lama..” ucap Jihyun pelan.

Senyuman Dujun memudar perlahan, “Apa maksudmu? Kau akan bertahan sangat lama, aku akan selalu bersamamu..”

Jihyun tersenyum lebar, meskipun air matanya mulai mengalir.

“Jihyun-a, jangan menangis.. Semuanya akan baik-baik saja..” ucap Dujun sambil menyeka air mata Jihyun ibu jarinya.

“Kupikir, mungkin kau akan bosan setelah setahun atau dua tahun bersamaku..” ucap Jihyun, “Tapi kau tetap disini..”

“Tentu saja, aku tidak akan meninggalkanmu..” ucap Dujun berjanji.

“Ne..” ucap Jihyun dengan wajah memancarkan kebahagiaan, “Aku tau..”

Dujun tersenyum dan mencium punggung tangan Jihyun, “Aku akan disini hingga kau sembuh..”

Jihyun juga ingin Dujun selalu ada disisinya hingga ia sembuh, namun ia tau tubuhnya tidak akan bisa menahan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya dari dalam lebih lama. Tangannya terangkat dan memegang pipi pria itu, “Aku ingin kau tetap bahagia meskipun aku tidak ada..”

Kedua mata Dujun kembali memerah menahan air mata, kali ini ia tidak bisa memalingkan wajahnya.

“Aku ingin, kau tetap melanjutkan hidupmu seperti sekarang. Aku tidak ingin kau merasa bersalah atau terus sedih, aku tidak ingin kau seperti itu…” ucap Jihyun.

“Jihyun-a..” ucap Dujun dengan suara bergetar, sebulir air mata jatuh dari matanya.

“Aku…” bulir-bulir air berjatuhan dari mata Jihyun, namun ia tetap tersenyum, “Aku yakin kau akan menemukan seseorang yang bisa menggantikanku nanti..”

Dujun tidak sanggup menahan air matanya lagi, meskipun ia sudah berjanji tidak akan menangis di depan Jihyun. Saat ini ia benar-benar sedih. “Jihyun, kenapa kau mengatakan hal seperti itu?”

“Karena aku ingin kau mendengarnya sebelum aku tidak sanggup berbicara lagi..” ucap Jihyun.

“Aku tidak suka pembicaraan ini..” ucap Dujun.

Jihyun diam sejenak, lalu mengangguk. “Ne..” ucapnya, “Miane…”

Dujun menggeleng dan bergerak bangkit untuk memeluk gadis itu, “Kau tidak perlu meminta maaf..” ucapnya, “Aku mencintaimu, kau akan baik-baik saja. Aku akan selalu disini untukmu..”

Jihyun tersenyum mendengar ucapan Dujun dan mengelus belakang kepala pria itu, “Ne, aku akan segera baik-baik saja.. Kau juga akan baik-baik saja..”

Sebulan Kemudian.

Hyunseung, Yoseop dan Gikwang melangkah masuk ke rumah sakit dengan pakaian serba hitam. Mereka langsung menuju tempat rumah duka di bagian lantai dasar rumah sakit tersebut.

“Itu, Dujun..” ucap Gikwang sambil menunjuk temannya yang duduk dengan wajah putus asa di sebuah tempat rumah duka.

Hyunseung, Yoseop dan Gikwang sempat terdiam sejenak menatap sahabat mereka sedih. Mereka terbang jauh dari Korea ke Jepang untuk memberi dukungan pada Dujun yang baru saja kehilangan Jihyun. Akhirnya dengan langkah berat mereka menghampiri teman mereka.

“Dujun-a..” panggil Yoseop sambil memegang bahu temannya itu.

Dujun tersadar dari lamunannya dan menoleh, bibirnya membentuk senyuman lemah melihat teman-temannya. “Kalian sudah tiba?”

Hyunseung tersenyum, “Ne..”

Gikwang memandang kearah peti mati dengan photo Jihyun yang terpajang disana, lalu memandang Dujun sedih.

“Wajahmu terlihat pucat, kau baik-baik saja?” Tanya Yoseop.

Dujun mengangguk, “Ne..”

“Jihyun-ssi sudah lebih baik sekarang..” ucap Hyunseung memberi semangat.

Dujun mengangguk lagi, “Ne..” namun kedua matanya tampak menahan air.

Yoseop menepuk bahu Dujun memberikan semangat secara mental pada temannya.

Gikwang dan Hyunseung melakukan hal yang sama pada Dujun.

Dujun berusaha menetralkan perasaannya dan memandang kearah photo Jihyun yang tersenyum manis. Ia seperti merasa seluruh hidupnya juga ikut bersama gadis itu masuk ke peti mati, namun ia tetap berusaha tegar.

=Flashback end=

<<Back     Next>>

Advertisements

6 thoughts on “How To Love [Chapter 33]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s