Uncategorized

How To Love [Chapter 32]

Chapter 32

IMG_20141224_235728

-Well, Not Good Enough-

-Junhyung’s POV-

Aku menghela nafas dalam membaca berita di internet tentang diriku melalui ponsel. Kenapa wartawan suka memberitakanku dengan seorang gadis? Dan sekarang mereka memberitakanku memiliki hubungan khusus dengan model video klip terbaruku, ahh.. kenapa agensi masih belum mengijinkanku mengumumkan siapa kekasihku? Kepalaku menoleh ketika merasakan pergerakan.

Hyojin dengan mata mengantuknya menyibak selimut dan bergerak bangkit sedikit sambil memperhatikan apa yang kulihat. “Hot-Line-News lagi?” tanyanya dan bersandar ke bahuku.

“Ne.. Dengan model video klipku..” jawabku memberitaunya.

Hyojin memandangku, “Sepertinya wajahmu terlihat seperti pria yang punya banyak kekasih..” candanya.

Aku tertawa kecil, “Menurutmu?”

Hyojin tertawa kecil dan bergerak menjangkau ponselnya di meja di sebelah tempat tidur sambil menahan selimut di tubuhnya. Hmm.. punggungnya sangat mulus.. hahaha.. Ia kembali bersandar padaku yang juga tidak mengenakan baju. “Penerbangan kita jam berapa?”

“Sekitar jam 1..” jawabku, “Hmm.. kenapa kita tidak bisa berlibur sejenak?”

Hyojin menatapku aneh, “Kita? Kurasa kau yang selalu sibuk..”

Aku memandang Hyojin heran, “Kau selalu ikut denganku kemana pun, apa kau tidak merasa lelah?”

Hyojin tersenyum, “Kenapa lelah? Aku bisa bersamamu setiap saat..”

Aku tertegun mendengar ucapannya, kenapa aku jadi terharu? Bibirku membentuk senyuman dan mengangkat satu tanganku ke atas kepalanya untuk merangkulnya lebih dekat ke dadaku sambil tetap menatapnya dalam, “Kau berpikir begitu?”

“Keurom..” ucap Hyojin. “Meskipun perjalanan kita sangat jauh, tapi aku bisa duduk di sampingmu dan memegang tanganmu. Dan setelah konser selain kau, aku juga merasa sangat lelah. Tapi ketika malamnya aku bisa berbaring bersamamu, berbicara hingga tertidur..” ia diam sejenak dan tersenyum, terlihat kebahagiaan di kedua matanya. “..aku merasa semuanya penuh arti..”

Ohh… aku benar-benar meleleh mendengar ucapannya. Apa setelah 5 tahun bersama, aku tidak pernah mendengar ucapan penuh arti sedalam ini darinya. Semenit penuh aku tidak tau harus mengatakan apa. Apakah ini yang di namakan speechless? Tidak ada satu lirik lagu pun yang dapat membuatku terbungkam seperti ini, tapi apa yang ia katakan akan menjadi lirik paling indah yang pernah kudengar.

Hyojin menahan tawa, “Wae?” tanyanya lucu.

Bibirku hanya bisa membentuk senyuman lagi.

Hyojin tertawa kecil, “Waekeure? Kau membuatku merasa canggung..”

Aku menatap kedua matanya dalam. Tanganku di bahunya terangkat dan mengelus rambutnya lembut. diawal karirku, aku berpikir mungkin setelah menjadi entertainer besar, aku akan di kelilingi gadis cantik yang sexi. Yang akan menemaniku di tempat tidur disaat-saat seperti ini. Tapi ketika bertemu Hyojin lagi, aku menyadari mengapa aku tergila-gila padanya dulu. Aku tidak lagi butuh gadis-gadis cantik yang sexi, aku hanya butuh satu gadis yang bersedia mendukungku apa pun yang terjadi dan berwawasan luas seperti gadis di depanku. Ahn Hyojin.

“Aku tau aku cantik, kau tidak perlu menatapku seperti itu..” ucap Hyojin lucu.

Tanganku yang lain terangkat dan memegang pipinya, kedua mataku tidak bisa berpaling dari mata indahnya. “Ahn Hyojin..”

“Mwo?” jawab Hyojin aneh.

“Kau tau? Detik ini, aku benar-benar merasa tidak akan bisa hidup tanpamu lagi..” ucapku, Hyojin tertawa mendengar ucapanku. Aku tidak akan runtuh, cepat selesaikan ini Yong Junhyung! Aku bergerak duduk tegap dan memegang kedua pipinya agar menatap ke dalam mataku, “Apa kau mau menikah denganku?”

Ekspresi Hyojin luntur perlahan dan menatapku tak percaya.

Bibirku membentuk senyuman sambil menatap kedua matanya, kali ini dia yang tidak tau harus mengatakan apa.

“Apa kau sedang berlatih akting?” Tanya Hyojin.

“Menurutmu?” Tanyaku, lalu memajukan wajahku dan menciumnya dalam.

=Gedung Agensi=

Aku memandangi sebuah cincin di dalam kotak kecil yang sudah kubeli sejak beberapa hari lalu ketika konserku di China. Hmmm.. Aku tinggal memberikannya pada Hyojin, tapi kenapa terasa canggung memberikannya ya? Seharusnya ketika memintanya menikah denganku, aku sudah menyiapkan cincin ini. Aissh..

Klek!

Aku terkejut dan langsung memasukkan kotak cincin itu ke saku jaket sambil memandang orang yang membuka pintu.

Hyojin memandangku bingung, “Kenapa kau disini? Semuanya sudah menunggumu di bawah..”

“Hm? Oh.. Ne..” Jawabku, lalu bergerak bangkit dan melangkah ke pintu.

Hyojin mengerutkan dahi melihat kegugupanku, “Ada apa denganmu?”

“Hm?” Aku terkejut mendengar pertanyaannya, “Aku? Tidak kenapa-kenapa..” Jawabku berusaha terdengar tenang.

Hyojin memandangku bingung sesaat, lalu melangkah keluar.

Aku menghela nafas lega dan mengikutinya. Aku benar-benar tidak bisa menemukan cara untuk memberikan cincin kecil ini. Ahhh.. Ternyata melamar seseorang lebih sulit dari pada tampil di depan ribuan penonton.  (-___-“)

Yong Jun Hyung : Yoseop, kau disana?

Yang Yo Seop : Ne, wae?

Yong Jun Hyung : Yoseop, saat kau melamar Soyu. Bagaimana caramu memberikan cincin padanya?

Yang Yo Seop : horrl.. Kau berencana melamar Hyojin?

Yong Jun Hyung : bisa tidak kau menjawab dulu baru bertanya?

Yang Yo Seop : hahaha.. Ne.. Ne.. Kenapa kau masih bertanya? Kasih saja cincinnya..

Yong Jun Hyung : apa semudah itu? Kenapa aku merasa sangat gugup hanya dengan membawa kotak cincinnya?

Yang Yo Seop : Hahahaha.. Jinjaru? Gunakan moment yang pas saja..

Yong Jun Hyung : Moment seperti apa?

Yang Yo Seop : misalnya seperti makan malam romantis, saat menghabiskan waktu bersama, atau kasih kejutan saja..

Junhyung berpikir sejenak.

Yong Jun Hyung : kau ada ide?

Yang Yo Seop : serahkan saja padaku..

-Junhyung’s POV end-

=Apartemen Hyojin=

Hyojin terbangun dari tidurnya karena mendengar suara-suara aneh dari luar. Dahinya berkerut sambil bergerak bangkit dan turun dari tempat tidur.

Trang!!

Hyojin terperanjat di tempatnya karena mendengar suara itu lebih jelas. Rasa takut mulai menguasai dirinya sekarang. Ia segera mengedarkan pandangan untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai alat pertahanan diri. Matanya menemukan hair-spray, dengan cepat ia mengambil botol itu dan segera melangkah ke pintu. Jantungnya berdegup sangat cepat dan menggenggam erat botol di tangannya. Perlahan ia menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan pergerakan di luar. Matanya membesar mendengar langkah kaki seseorang, ia menelan air ludah karena gugup. Ia segera bersandar ke dinding karena mendengar suara langkah kaki itu berhenti di depan pintu kamarnya.

Klek!

Ia menaha nafas ketika pintu kamar terbuka, lalu daun pintu bergerak terbuka perlahan. Matanya membesar melihat bayangan seseorang masuk. “KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” jeritnya sambil memejamkan mata dan menyemprotkan cairan hair-spray kearah orang itu.

“Ahk!! Ya!! Ya!!! Aaahhh!!!” teriak pria itu histeris.

Hyojin tertegun mendengar pria itu berteriak, dahinya berkerut dan membuka matanya.

“Aissh!! Apa yang kau lakukan, Ahn Hyojin?!” seru pria itu.

Hyojin terkejut mendengar suara sang pria dan segera menyalakan lampu, matanya melotot melihat siapa pria itu. “Yong Junhyung?!”

Junhyung mencengkeram wajahnya menahan sakit karena cairan hair-spray mengenai matanya.

“Omo! Junhyung! Gwenchana?” Tanya Hyojin sambil membuang botol di tangannya dan mnghampiri Junhyung, “Junhyung-a!!”

=UGD=

“Bagaimana mungkin kau menyemprotkan cairan hair-spray ke mata Junhyung?! Beruntung tidak melukai kornea atau pun bola matanya!” seru manajer Junhyung kesal pada Hyojin yang menunduk menyesal.

“Cesonghamida..” ucap Hyojin menyesal.

Manajer Junhyung mendengus kesal sambil mengelus dahinya kesal, lalu menatap Hyojin kesal. “Sekarang matanya membengkak dan akan memerah selama beberapa hari, apa yang harus kulakukan?! Dia harus menghadiri fans-signing, wawancara tv dan photoshoot!!” ucapnya frustasi.

Hyojin semakin menunduk menyesal, “Cesonghamida.. Aku benar-benar tidak tau jika yang masuk adalah Junhyung. Kupikir dia penjahat..” ucapnya pelan.

Manajer Junhyung memutar bola matanya mendengar ponsel yang kembali  bordering, “Ahhh.. aku benar-benar gila..” ucapnya kesal sembari mengeluarkan ponsel dan melangkah menjauh untuk mengangkat telepon.

Hyojin memandang manajer Junhyung yang melangkah pergi sambil menghela nafas dalam, lalu memandang ke pintu ruang UGD dan melihat Junhyung berdiri disana dengan kacamata hitam menutupi mata.

Junhyung menghela nafas dalam dan menghampiri Hyojin, “Tenang saja, manajerku memang seperti itu..” ucapnya menenangkan. “Dia akan mencari cara untuk menyelesaikannya..”

Hyojin menatap Junhyung kesal sambil melipat kedua tangan di dada, “Ya! Kenapa kau mengendap-endap di apartemenku tengah malam seperti ini?!”

Junhyung menghela nafas dalam lagi, “Ini karena ide Yoseop, aissh.. sudahlah.. Ayo pergi..” ajaknya sambil menggandeng tangan Hyojin pergi.

Hyojin mendengus kesal sambil melangkah bersama Junhyung.

=Apartemen Junhyung=

Yang Yo Seop : Mwo? Dia menyemprot matamu dengan hair-spray?!

Lee Gik Wang : Hahahaaha..

Jang Hyun Seung : Wuaa.. dia benar-benar berani.. aku harus memberikannya medali emas! Hahaha

Yoon Doo Joon : Horrlll.. kau seharusnya tidak membuat gadis itu takut.. hahaha

Son Dong Woon : Bagaimana matamu hyung? Apakah parah?

Junhyung menghela nafas dalam dan menyandarkan kepalanya ke sofa. Ia bahkan harus mengenakan kacamata hitam dimana pun untuk beberapa hari hingga bengkak dan infeksi di matanya sembuh, cahaya bisa membuat matanya semakin buruk. Ia diam sejenak, lalu kembali menegakkan kepala dan memandang layar ponselnya.

Yong Jun Hyung : kau masih bisa tertawa, Yang Yoseop?! Aissh.. Mataku tidak apa-apa, jika aku sampai buta kau orang pertama yang kuntut!

Yang Yo Seop : Hahaha.. Kan kubilang kejutan, bukan menakut-nakutinya.. Hahaha..

Ketika Junhyung hendak membalas lagi, ponselnya berbunyi. Ia segera mengambil benda itu dan menempelkannya ke telinga, “Ne, hyung..”

“Junhyung, ada rapat di agensi. Aku sedang menuju apartemenmu, segera bersiap..” Ucap manajer Junhyung di seberang.

Junhyung tertegun mendengar keseriusan dalam nada bicara manajernya. “Ohh.. Ne..” Jawabnya dan telepon terputus. Ia berusaha menebak-nebak masalah apa yang membuat manajernya seserius itu setelah sekian lama. “Oh.. Apa karena mataku?” Gumamnya menebak.

=Van=

Junhyung mengerutkan dahi melihat photo-photo yang beredar di internet sejak kemarin. Itu photo ia yang mengenakan kacamata hitam menarik Hyojin dari ruang UGD semalam.

“Aku tidak tau bagaimana wartawan itu tau tentang kau yang dibawa ke rumah sakit, dia mengikuti kita dan memotretmu ketika pergi bersama Ahn Hyojin-ssi..” Jelas manajer Junhyung.

Junhyung memandang manajernya, “Apakah CEO marah? Bukankah dia sudah tau tentang hubunganku dan Hyojin?”

“Ne, karena itu ia ingin rapat mendadak ini..” Jawab manajer Junhyung.

=Beberapa Hari Kemudian=

Hyojin menghampiri jendela apartemennya dan mengintip dari balik kain penutup, “Ahhhh.. Eoteokhe?” Gumamnya bingung, lalu berbalik dan melangkah ke sofa. Sudah beberapa hari ia tidak bisa pergi kemana pun karena wartawan selalu memenuhi gedung apartemennya. Ia menyalakan tv dan menonton drama yang terputar, namun ia sama sekali tidak bisa menikmati tontonannya. Kepalanya menoleh ke arah ponsel di meja yang berbunyi, dengan cepat ia mengambilnya dan melihat siapa yang memanggil. Yong Jun Hyung. Jarinya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga, “Yoboseyo..”

“Neo gwenchana?” Tanya Junhyung langsung.

Hyojin menghela nafas lega mendengar suara tenang Junhyung, “Ne..” jawabnya, “Kau bagaimana? Apakah keadaan di agensi masih memanas?”

Junhyung tertawa kecil, “Aniya.. Agensi biasa saja..” jawabnya tenang, lalu terdengar helaan berat. “Miane, aku membuatmu dalam kondisi seperti ini..”

Hyojin sedih mendengar ucapan Junhyung, “Kenapa kau meminta maaf? Kita sudah tau hal seperti ini pasti akan terjadi kan..”

“Aku berjanji akan segera memperbaikinya..” ucap Junhyung bersungguh-sungguh.

Bibir Hyojin membentuk senyuman, “Ne, aku percaya padamu..”

“Mmm.. Hyojin..” panggil Junhyung.

“Wae?’ Tanya Hyojin.

“Kau tidak bertanya kenapa aku datang malam itu ke apartemenmu?” Tanya Junhyung.

Hyojin tertawa kecil mengingat kejadian malam itu, “Waeyo?”

Junhyung tertawa kecil, “Kau tau? Aku berencana ingin memberikanmu cincin karena ketika itu aku melamarmu tanpa persiapan apa pun. Tapi ternyata sangat sulit hanya untuk memberikannya saja..” ucapnya memulai, “Aku bertanya pada Yoseop cara yang keren untuk memberikannya.. Dan dia berkata akan sangat romantic jika aku datang tengah malam ketika kau tidur, menyiapkan beberapa kalimat indah dan memberikan cincin itu. tapi kau malah berpikir ada penjahat..”

Hyojin tertawa kecil, “Jeongmal? Hmm.. itu tidak terdengar seperti dirimu, Yong Junhyung..”

“Ne.. aku juga berpikir seperti itu..” ucap Junhyung, “Aku benar-benar merasa kehilangan diriku ketika bersamamu..”

Hyojin senang Junhyung lebih terbuka sekarang padanya, “Bagaimana dengan matamu?”

“Gwenchana, sekarang sudah tidak bengkak lagi..” ucap Junhyung, “Mmm.. agensi sudah mengeluarkan pengumuman tentang hubungan kita, dan berarti kita bisa berkencan dengan bebas sekarang..” ucapnya senang. “Ternyata kejadian memalukan kemarin ada berkahnya juga..”

“Ne..” ucap Hyojin.

Hening.. suasana menjadi sangat canggung.

“Hyojin, kau masih disana?” Panggil Junhyung.

“Ne, aku masih disini..” jawab Hyojin.

“Hyojin-a, mungkin aku tidak bisa menemuimu beberapa hari ini. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja..” ucap Junhyung berjanji.

Hyojin tersenyum, “Ne, gumawoyo..”

“Dan…” lanjut Junhyung, “Setelah semua ini tenang, apa kau mau menjadi istriku?”

Hyojin tertegun mendengar pertanyaan Junhyung hingga tidak tau harus mengatakan apa.

“Miane, seharusnya aku membicarakan ini ketika kita bertemu..” ucap Junhyung menyesal.

Hyojin tersenyum dengan kedua mata mulai berkaca-kaca, “Gumawoyo..” ucapnya tulus.

“Wae?” Tanya Junhyung.

“Aku sangat bahagia selama 5 tahun ini bersamamu..” ucap Hyojin jujur.

Junhyung tersentuh mendengar ucapan Hyojin, bibirnya membentuk senyuman tulus. “Aku juga..”

“Juga, terima kasih kau sudah memintaku menikah denganmu..” ucap Hyojin lagi, “Aku akan menjadi istri yang lebih baik untukmu..”

Junhyung sangat senang mendengar ucapan Hyojin, “Ne..”

“Nanti, saat pernikahan Yang Yoseop, aku akan meminta Kang Soyu melemparkan buket bunganya padaku.” Ucap Hyojin menahan tawa.

Junhyung tertawa kecil, “Keure, aku akan menunggunya..”

<<Back Next>>

Advertisements

6 thoughts on “How To Love [Chapter 32]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s