Uncategorized

How To Love [Chapter 30]

Chapter 30IMG_20141224_235717

-Love Love Love-

-Dujun’s POV-

Aku membuka pintu apartemenku dan melangkah masuk sambil melepaskan baju hangat. Hari ini terasa sangat special karena Dongwoon telah kembali dari Inggris. Aku langsung menuju ke dapur untuk membuat makan malam. ketika masuk dapur, aku langsung di sambut oleh photo cantik Jihyun yang tergantung besar di dinding. Bibirku membentuk senyuman sambil membuka kulkas. “Dongwoon sudah kembali hari ini.. Dia terlihat sangat ceria..” ceritaku sambil mengeluarkan bahan-bahan untuk dimasak malam ini. Aku tersenyum pada photo cantik yang sudah menjadi istriku itu, “Kau melihat wajahnya kan? Hmm.. dia pasti sangat merindukan rumah karena itu terlihat sangat kegirangan..” ucapku lagi, lalu tertawa kecil.

Hmm.. aku selalu berbicara pada Jihyun seolah-olah dia masih disini mendengarkanku. Hal yang paling berat di hidupku adalah ketika melepaskan kepergiannya. Walaupun keluargaku tidak pernah memberikan ijin untukku menikahi gadis sekarat seperti Jihyun, tapi aku tetap menikahinya. Dan aku melepaskannya dengan tenang. Setelah bertahun-tahun melawan penyakit mematikan itu, dia akhirnya menyerah. Aku tau ini sangat berat, bahkan jika aku mengingatnya lagi. hatiku akan terasa sangat sakit!

Malam ini, setelah membersihkan diri dan mengenakan piyamaku. Aku melangkah ke tempat tidur. Sambil tersenyum pada photo Jihyun di dinding aku menyibak selimut dan naik ke tempat tidur. Tanganku mematikan lampu meja dan berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam. Malam semakin larut.  Disaat seperti ini, adalah saat aku paling merindukan Jihyun. Jantungku berdegup lebih cepat seperti merasakan seseorang membaringkan kepala ke dadaku. Aku juga merasa seperti mendengar seseorang bernafas, bergumam kecil ketika tidur. Tanganku bergerak mengelus dadaku, namun tidak ada apa pun disana. Dahiku berkerut dan memejamkan mataku erat, namun air tetap menyelinap dari sudutnya sekeras apa pun aku menahannya. Aku berusaha tegar, tapi aku tetap merindukannya. Sekarang ia sudah tidak ada disisiku.

Aku membalik tubuhku ke sisi kanan dan berusaha melupakan rasa rinduku. Namun aku kembali merasakannya. Seperti dia masih ada di sisiku. Aku selalu merasa mungkin aku tidak cukup keras mengusahakan pengobatannya. Atau… jika aku lebih baik padanya dulu, mungkin dia tidak akan pergi secepat ini…

-|||-

Aku melihat janjiku sore ini dengan seorang desain interior, aku tidak boleh terlambat. Perhatianku teralih karena mendengar suara ponselku berbunyi. Aku segera mengangkatnya karena tidak ada nama siapa pun tercantum disana. “Yoboseyo..”

“Yoon Dujun-ssi?” ucap seorang pria di seberang.

“Ne, benar.. Siapa ini?” tanyaku.

“Ini Park Jaebom..”

Aku tertegun mendengar nama itu. Park Jaebeom?

-|||-

Aku duduk canggung di depan Park Jaebom di sebuah kafe di dekat kantorku. Sudah sangat lama sejak terakhir aku bertemu dengannya.

Park Jaebom tersenyum, “Sudah lama tidak bertemu, Yoon Dujun-ssi..”

Bibirku membentuk senyuman tipis, “Ne, sudah sangat lama sekali..” ucapku, mataku tidak sengaja melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya ketika mengambil gelas. “Kau sudah menikah?” tanyaku.

Park Jaebom memandang cincin di jarinya sambil tersenyum, “Ne.. Aku juga sudah memiliki seorang putra…” jawabnya.

Entah mengapa aku senang mendengar berita itu darinya, “Wuaaa.. aku sama sekali tidak tau tentang itu. chukae..”

Park Jaebom tertawa kecil, “Kenapa kau menyelamatiku?”

“Aku hanya senang mendengarnya..” ucapku sambil menahan tawa.

Park Jaebom menatapku, “Kudengar kau masih belum mendekati gadis mana pun..”

Aku tersenyum kecut, “Apa itu yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Ne..” ucap Jaebom santai.

“Waeyo?” tanyaku ingin tau.

“Aku hanya tidak ingin, kau menutup dirimu karena kematian Jihyun..” ucap Park Jaebom. Sejak kapan ia jadi teman yang mengerti aku?

Aku terdiam sesaat mendengar nama Jihyun. Hatiku kembali terasa sakit mengingat gadis yang kucintai sudah meninggal. Bibirku berusaha membentuk senyuman, “Na gwenchana..”

Park Jaebom menggeleng, “Aniya..” ucapnya.

Senyuman palsuku menghilang. Kenapa aku jadi merasa haru biru ketika mengingat Jihyun? “Aku tidak butuh gadis lain.. Jihyun masih disini bersamaku..” ucapku.

Park Jaebom tersenyum, “Aku tau ini terasa sangat berat..” ucapnya, “Bahkan setelah memiliki keluargaku sendiri, aku masih merasakan perasaan kehilangan yang besar ketika Jihyun meninggal.” Ia memajukan duduknya untuk menatapku, “Yoon Dujun-ssi, Jihyun sangat mencintaimu. Dia tidak akan meninggalkanmu.. Tapi dia sudah meninggal. Kau tidak boleh membuatnya tidak tenang karena menutup diri gadis lain yang bisa membuatmu bahagia setelah Jihyun..”

Aku menggeleng pelan, “Aku tidak butuh gadis lain..” ulangku.

Park Jaebom diam sejenak sambil menyandarkan punggungnya lagi, “Kau hanya butuh waktu..” ucapnya. “Aku hanya memintamu untuk tidak merasa seperti kau sedang mengkhianati Jihyun saat kau merasa ada seseorang yang menarik perhatianmu..” ucapnya.

Dahiku berkerut, “Mwo?”

Park Jaebom tersenyum lagi, “Jihyun akan tetap melihatmu. Dia akan bahagia selama kau bahagia. Jika kau menyukai seseorang, dia tidak akan kecewa. Melainkan merestuimu karena akan ada orang lain yang membuatmu bahagia..” ucapnya.

“Park Jaebom-ssi..” ucapku sedikit tersinggung karena ia terdengar seperti sedang meremehkan cintaku pada Jihyun.

“Gwenchana.. Kau akan mengerti nanti..” ucap Park Jaebom, “Kuere, senang bertemu denganmu lagi, Yoon Dujun-ssi..” ucapnya, lalu bergerak bangkit dan berjalan pergi.

Mulutku terbuka menatapnya tak percaya. Apa menurutnya aku akan semudah itu tertarik pada gadis lain? Aissh.. jika memang ada gadis yang bisa menarik perhatikanku, gadis itu pasti memiliki rasa seperti Jihyun.

-|||-

Aku termenung di meja kafe yang kupesan tempat aku akan bertemu dengan desainer interior itu. entah mengapa aku malah memikirkan ucapan Park Jaebom. Apa aku bisa menemukan gadis lain? Jihyun-a, aku tidak tau apakah aku bisa. Jika kau mengirimkan seseorang, kirimkan saja aku kloningmu.

“Yoon Dujun-ssi?”

Aku menoleh mendengar suara seorang gadis, “Ne..” jawabku.

Gadis itu tersenyum, “Annyeongaseyo.. Heo Gayoon imnida, aku desainer interior yang akan membantu projekmu..” ucapnya memperkenalkan diri.

Aku tersenyum sambil mengangguk, “Ne.. Silahkan duduk..” ucapku.

Gayoon bergerak duduk di hadapanku. “Keure, kita mulai pembahasannya dari bagian mana?”

“Mmm… Bagaimana jika dengan ruang keluarga?” tanyaku.

Gayoon terlihat senang aku membahas itu, “Ne.. Itu tempat favoritku. Dimana keluarga akan berkumpul dan berbicara satu sama lain.” Ucapnya, lalu mengeluarkan bukunya dan menceritakan panjang lebar tentang furniture-furniture yang sangat cocok di ruangan itu.

Aku mendengarkan dengan baik hingga semua ruangan di satu rumah selesai di bahas.

“jadi, apa anda ingin melihat interiornya juga? Saya bisa memberikan masukan lainnya..” ucap Gayoon.

Aku diam sejenak, “Mmm.. apa tidak apa-apa?”

Gayoon kembali tersenyum, “Gwenchanayo.. Itu memang tugasku..” ucapnya.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Keure.. Kita bisa membicarakan kapan waktunya.

-|||-

Aku memarkirkan mobil dan segera keluar. Aku sudah terlambat 10 menit karena kemacetan jalanan yang luar biasa. Jadi aku tidak bisa berjalan santai. Kakiku langsung melangkah memasuki sebuah show-room furniture rumah tangga dan mencari-cari dimana Heo Gayoon. Aku mengeluarkan ponsel dan mencari nomornya. Ketika hendak menempelkan ponsel ke telinga, aku tertegun melihat sesosok gadis yang mengenakan dress dan blazer manis di seberang sana. Rambut panjang gadis itu di biarkan terurai indah. Hatiku terasa sangat sakit lagi. Andai aku masih bisa melihat Jihyun yang berdandan seperti itu lagi. kenapa gadis itu memiliki selera fashion seperti Jihyun sih? Aku terkejut mendengar ponsel di tanganku berbunyi dan langsung menatap layarnya. Heo Gayoon. Aku menempelkan ponsel ke telinga, “Yoboseyo.. Heo Gayoon-ssi, maaf aku terlambat.. Aku sudah di tempat yang kau katakan..” ucapku langsung.

“Jeongmal? Odio?” Tanya Gayoon.

“Mmm.. di sekitar bagian sofa..” jawabku karena melihat berbagai model sofa-sofa di depanku.

“Hm? Aku di dekat bagian tempat tidur..” ucap Gayoon.

“Tempat tidur?” kepalaku menoleh ke arah bagian tempat tidur di pajang. Saat itu, gadis yang tadi kulihat juga menoleh ke belakang. Mataku membesar melihat gadis itu adalah Heo Gayoon.

Gayoon memandang kearahku dan tersenyum, “Oh.. anda disana..” ucapnya dan memutuskan telepon, lalu melangkah menghampiriku.

Aku masih terpaku menatapnya. Jadi gadis itu Gayoon?

“Yoon Dujun-ssi.. Disebelah koleksi meja makannya sangat bagus.. Ayo kesana..” ajak Gayoon sambil menarik tanganku kearah yang ia maksud.

Aku hanya mengikutinya sambil memperhatikan gadis itu dari belakang. Cara ini. Jihyun juga menggunakan cara ini untuk menarikku. Gayoon memandangku sambil tersenyum, lalu memandang ke depan lagi. ada apa ini? Kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh? Nam Jihyun, aku meminta kloningmu. Bukan gadis yang sepertimu..

-Dujun’s POV end-

-|||-

“Aku pulang..” ucap Dongwoon sambil melangkah masuk.

Ibu Dongwoon langsung menyambut putranya, “Aigoo.. Son Dongwoon timjang-nim, ini belum sebulan bekerja tapi kenapa pulang selarut ini?” ucapnya sambil mengelus bahu putranya.

Dongwoon tersenyum, namun terlihat jelas rasa lelah di wajahnya. “Keuromyeon eomma, aku harus memeriksa semua pekerjaan dan mempelajarinya secepat mungkin..”

Ibu Dongwoon tersenyum, “Kau benar-benar seperti ayahmu..” ucapnya sambil mengelus pipi sang putra. “Istirahatlah sebentar, makan malam akan segera di hidangkan..” ucapnya.

Dongwoon mengangguk, “Ne, eomma..” ucapnya, lalu melangkah ke tangga. Namun baru selangkah ia berhenti dan kembali berbalik. “Eomma…”

Ibu Dongwoon memandang putranya, “Ne?”

“Mmm..” Dongwoon menimbang sejenak apakah ia harus bertanya tentang Jina atau tidak. “Apa eomma tau kepala tim pemeriksa mesin alat berat yang kita sewa?”

Ibu Dongwoon diam sejenak dan tersenyum tipis, “Ne.. Choi Jina..”

Dongwoon tertegun, “Eomma tau?”

“Ne.. Eomma tau dia melamar di perusahaan itu sejak dua tahun lalu. Kau lihat, ia sangat kompeten dan sudah menjadi kepala tim yang hebat..” ucap Ibu Dongwoon.

“Tapi… kenapa eomma tidak memberitauku?” Tanya Dongwoon tak mengerti.

Ibu Dongwoon menatap putranya lucu, “Waeyo? Agar kau bisa sering-sering ke proyek untuk menemuinya?”

Dongwoon menahan tawa, “Aniya.. Aku hanya bertanya..” jawabnya.

“Sudah.. ganti bajumu dan istirahat sejenak..” ucap Ibu Dongwoon, lalu berjalan menuju dapur.

Dongwoon tersenyum sendiri, “Jadi eomma sudah tau?” ucapnya senang, lalu segera naik ke kamarnya riang.

<<Back Next>>

Advertisements

7 thoughts on “How To Love [Chapter 30]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s