Uncategorized

How To Love [Chapter 29]

Chapter 29IMG_20141224_234811

-I Know How to Love.. –

5 tahun berlalu…

-Dongwoon’s POV-

“…terima kasih sudah mempercayai penerbangan kami..”

Aku mendengarkan pengumuman dari pramugari sambil mengambil tasku dari atas tempat duduk dan menyandangnya. Aku mengenakan kacamata hitamku dan melangkah keluar dari pesawat yang telah membawaku selama 18 jam lebih dari Amerika kembali ke tanah kelahiranku, Korea Selatan. Begitu keluar dari pintu pesawat, bibirku membentuk senyuman merasakan matahari pagi menerpa wajahku. Aku menghirup udara khas ini sedalam mungkin, lalu melangkah turun. Ini perjalanan yang sangat melelahkan. Tapi memngingat aku sudah kembali ke ‘rumah’, aku tidak merasa lelah sama sekali. Seluruh tubuhku sangat bersemangat hingga ingin berloncat-loncatan kegirangan.

Setelah mengambil barang-barang dan membawanya dengan troli, aku keluar dari pintu kedatangan luar negeri dan mengedarkan pandanganku. Setelah berjalan beberapa langkah, aku tertegun melihat sebuah papan besar bertuliskan: ‘Welcome Home, Dongwoon!!’ dan aku tau yang membawanya teman-temanku. Aku tertawa melihat Yoseop hyung kegirangan dan berkata pada yang lain sambil menunjukku.

“Itu Dongwoon!! Itu Dongwoon!!”

Yang lain mencari-cari dimana aku dan tersenyum lebar melihatku. Ahh.. mereka terlihat lebih dewasa sekarang. Disana ada Yoseop hyung, Hyunseung hyung, Gikwang hyung dan Dujun hyung.

“Dongwoon!!!” panggil Gikwang sambil melambaikan kedua tangannya padaku.

“Dongwoon!!” sorak Hyunseung hyung.

Aku melambai dan mempercepat langkahku menuju pintu keluar. Mereka juga melakukan hal yang sama. “Hyung!!!” sorakku sambil melepaskan troli dan memeluk mereka semua.

“Ya! Ya!!” seru Gikwang hyung sambil menarik troli yang kulepaskan begitu saja sebelum berjalan terlalu jauh.

“Ya! Kau bisa membuat orang cedera!” ucap Yoseop hyung tak mengerti.

Aku tertawa kecil, “Mian, hyung.. Aku sangat bersemangat!”

“Aigoo! Kau sangat keren sekarang!” ucap Dujun hyung sambil merangkulku.

“Kau disana belajar kan? Tidak mencari kekasih?” Tanya Hyunseung hyung sambil memukul perutku pelan.

Aku tertawa lagi, “Keuromyeon, hyung. Setelah lulus tahun lalu aku sengaja bekerja di instansi sana dulu baru kembai ke Korea..” jawabku bangga.

“Aigoo! Aku bangga padamu!” ucap Yoseop hyung riang.

Aku tersenyum lebar, namun sesuatu membuatku kembali tersadar dari semua kebahagiaan ini. Aku terdiam dan memandang Dujun hyung sedih, “Oh.. hyung, aku sudah mendengar tentang Jihyun noona..” ucapku pelan.

Ekspresi Dujun hyung berubah sedih dengan senyuman tipisnya, “Ne.. gwenchana..”

Aku tersenyum hangat dan menjabat tangannya, “Dia pasti mendapatkan hidup yang indah selama beberapa tahun terakhir ini bersamamu.. Maaf, aku tidak bisa hadir saat pernikahanmu..”

Dujun hyung mengangguk, “Ne.. Aku mengerti. Untunglah kau tidak datang, kau tidak perlu menangis seperti Yoseop di pernikahanku..” candanya.

Aku tertawa kecil dan memandang Yoseop hyung yang terlihat bingung.

“Waeyo? Aku melepaskan sahabat terbaikku menikah. Apa aku tidak boleh menangis? Tempatnya kan di rumah sakit, para perawat saja menangis melihat kalian menikah..” ucap Yoseop hyung membela diri.

Aku hanya tertawa bersama yang lain.

“Sudah.. sudah.. ayo kita bawa Dongwoon pulang. Kalian tidak ingat pesan eommanim? Kita akan makan besar menyambut Dongwoon!!” ucap Gikwang hyung riang.

“Ne.. Khaja..” ajak Hyunseung hyung sambil mendorong troli.

Yoseop hyung dan Dujun hyung merangkulku dan berjalan bersama. Aku tersenyum hangat pada Dujun hyung, ia pasti masih kehilangan Jihyun noona.

Aku mendapatkan kabarnya awal tahun ini. Jihyun noona tidak bisa bertahan karena penyakitnya, tapi dia bisa bertaan 4 tahun lebih lama sejak mereka pindah ke Jepang. Dan paling tidak Dujun hyung tidak akan menyesal melepaskan gadis yang di cintainya setelah melakukan berbagai usaha untuk mengobatinya. Setahun setelah pindah ke Jepang, semua hyung pergi kesana untuk menghadiri pernikahan mereka. sayang sekali saat itu aku tidak bisa kembali karena masa percobaan kuliahku. Tapi kulihat semuanya baik-baik saja sekarang.

-|||-

Aku turun dari mobil Hyunseung hyung dan memandang rumah yang sudah kutinggalkan selama 5 tahun.

“Dongwoon, masuklah.. kami akan mengurus barang-barangmu bersama pelayan..” ucap Yoseop hyung.

Aku memandangnya dan tersenyum, “Gamshamida..” ucapku, lalu melangkah masuk ke dalam. Aku merindukan wanita yang telah membesarkanku. Wanita yang selalu berkeras untuk ikut pindah ke Inggris bersamaku.

“Dongwoon-a..”

Aku berhenti dan menoleh. Wanita ini.. wanita yang tidak bisa kubenci meskipun aku mau. Kedua matanya tampak berkaca-kaca melihatku. Bibirku membentuk senyuman dan langsung menghampirinya. “eomma..” ucapku sambil memeluknya erat.

Eomma memelukku dan mengelus belakang kepalaku lembut. “Hmm.. akhirnya kau pulang..”

“Ne, eomma..” ucapku lega. aku melepaskan pelukanku dan memandang eomma sambil tersenyum.

Eomma terlihat sangat senang melihatku kembali, “Putra eomma sudah pulang..” ucapnya sambil memegang kedua pipiku.

Aku mengangguk sambil memegang tangannya di pipiku, “Ne, eomma.. Dan aku tidak akan pergi lagi..”

-|||-

Aku sangat senang. Setelah makan malam bersama para hyung, mereka pamit dan kembali ke rumah masing-masing. Aku langsung membongkar semua koperku dan merapikan isinya kembali ke lemari.

Eomma masuk ke kamarku dan bingung melihatku membuka koper, “Omo.. kenapa kau membereskannya malam ini? Biarkan pelayan yang membereskannya besok.. Kau pasti lelah kan..” ucapnya khawatir.

Bibirku membentuk senyuman sambil memasukkan baju-bajuku ke lemari, “Gwenchanayo eomma.. Aku tidak bisa tidur karena perbedaan waktu disana dan di Korea. Jadi aku membereskannya saja. Juga, aku ingin memastikan semua barang-barangku sudah terbawa dari apartemenku disana.”

Eomma duduk di pinggir tempat tidur dan ikut membantuku mengeluarkan baju-baju.

“Eomma, istirahatlah dulu.. Aku akan melakukannya sendiri..” ucapku sambil menahan tangannya.

“Aigoo.. eomma sangat bersemangat. Bagaimana eomma bisa tidur?” ucap eomma sambil menahan tawa dan melipat ulang baju-bajuku di koper yang sebenarnya masih rapi.

Aku tersenyum dan duduk di sisi lain koper untuk mengeluarkan sisanya, “Eomma tenang saja.. Sekarangkan aku sudah kembali, aku akan melanjutkan perusahaan appa dan membuatnya lebih baik lagi..” ucapku.

Eomma tersenyum mendengar ucapanku, “Kau baru kembali hari ini, Dongwoon. Bersenang-senanglah dulu hingga kau merasa ingin ke perusahaan..”

“Aniya, semakin cepat aku menangani perusahaan, semakin cepat eomma bisa beristirahat di rumah dan hanya mengawasi pekerjaanku..” ucapku.

Eomma menatapku lucu, “Keure.. tapi kau bisa menghabiskan waktumu besok untuk beristirahat, baru setelah itu eomma akan memaksamu mempelajari semua seluk beluk perusahaan..” ucapnya.

Aku tertawa kecil, “Ne eomma..” ucapku senang. Tak lama aku teringat seseorang, “Ohh… mmm.. eomma..”

“Ne?” jawab eomma.

“Mmm.. apa eomma masih mendengar kabar dari Choi sonsaengnim?” tanyaku hati-hati.

Ekspresi eomma tampak berubah, “Ne? ohh.. eomma sudah lama tidak mendengar tentangnya..”

Aku mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu..”

“Apa kau masih berbuhungan dengannya selama di Inggris?” Tanya eomma.

“Beberapa kali pernah..” jawabku jujur.

Eomma berhenti sejenak dengan tatapan ingin taunya. “Kapan saja itu?”

Aku tersenyum melihat wajah eomma seperti itu, “Waeyo eomma? Apa aku akan mendapat larangan mendekati gadis biasa?” tanyaku.

Eomma  menahan tawa, “Ani.. bukan seperti itu. eomma hanya ingin tau saja..”

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan eomma. Sejujurnya, aku tidak berharap Choi sonsaengnim masih menungguku. Aku berharap dia akan mendapat pria yang lebih baik dariku. Maksudku, lebih baik dariku yang selalu memberikan masalah baginya.

-|||-

Sesuai ijin eomma. Aku langsung pergi menghabiskan waktuku di keesokan harinya. Pagi itu aku melangkah di kawasan pertokoan sambil memperhatikan sekitar. Hmm.. ternyata seperti ini perkotaan ya. Baru 5 tahun dan semuanya sudah berubah. Tidak ada toko-toko kecil yang dulu sering kulalui menuju sekolah. Sekarang sudah berubah menjadi pertokoan besar dengan kaca etalase yang memajang barang-barang bermerk. Aku berhenti sejenak melihat sebuah celah di antara dua toko. Kenangan masa lalu muncul di kepalaku. Sungjae dulu pernah menggambar disana dan di marahi oleh pemilik toko. Entah mengapa bibirku membentuk senyuman sendiri. Kepalaku menoleh ke satu sisi, apa mereka masih tinggal di sana? Kakiku melangkah ke arah celah toko itu dan melihat masih ada perumahan di belakang sana. Meskipun beberapa rumah sudah berubah, aku masih bisa melihat lingkungan yang sama. Kakiku kembali melangkah menuju perumahan sederhana itu sambil memperhatikan.

Akhirnya aku tiba disini. Di depan rumah yang dulu di tinggali Choi sonsaengnim dan adiknya. Apa mereka masih tinggal disini? Haruskah aku mengetuk pintunya untuk mengetahui tentang itu? aku menimbang beberapa saat apakah aku akan menghampiri rumah itu atau tidak. Kakiku akhirnya melangkah maju, namun langsung memutar tubuhku ketika pintu depan tiba-tiba terbuka. Aku berpura-pura memperhatikan sebuah bunga liat di sebelahku hingga orang yang keluar berlalu. Kepalaku menoleh sedikit dan melihat seorang ibu yang pergi terburu-buru, sepertinya mau ke pasar. Tapi… berarti Choi sonsaengnim tidak tinggal disini lagi? hmm.. tentu saja.. Apa yang kupikirkan? Dia kan pintar, setelah lulus kuliah pasti ia mendapatkan pekerjaan yang sangat baik dan bisa membawa adiknya ke tempat yang jauh lebih baik. Huffftt.. kenapa aku sangat bodoh untuk berpikir dia masih tinggal disini? Aku menendang kerikil di jalan dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu.

Aku berjalan-jalan di sekitar pusat perbelanjaan untuk melihat-lihat. Mungkin ada sesuatu yang bisa kubeli. Tapi pikiranku tidak kesana sekarang. Mana bisa aku berpikir untuk belanja disaat aku masih memikirkan seseorang. Aissh..

-|||-

Akhirnya aku memulai hariku di perusahaan peninggalan appa yang selama ini di tangani ibuku. Aku harus berusaha bekerja sebaik mungkin hingga eomma bisa bisa beristirahat tanpa mengkhawatirkan perusahaan lagi. oke, hari pertama tidak terlalu berat. Aku hanya perlu mempelajari berkas-berkas dan dengan bantuan sekretarisku. Aku akan memulai pekerjaanku dari kepala tim perencanaan di perusahaan, kuharap setelah setahun aku bisa mengambil posisi eomma sebagai direktur utama dan mengurus semuanya.

Sekarang sudah masuk minggu pertamaku bekerja, aku menemukan banyak keganjilan dari laporan manajer yang lama. Sepertinya pihak dari kantor jarang pergi ke proyek untuk memeriksa berjalannya pekerjaan. Aku harus melihatnya secara langsung.

“Anda yakin, Timjang-nim?” Tanya sekretaris Min. pria yang lebih tua beberapa tahun dariku itu terlihat tak percaya mendengar aku akan turun ke lapangan.

“Ne..” jawabku sambil mengenakan jas, “Ayo, kita segera pergi..” ucapku sambil melangkah keluar dari ruanganku.

“Ne?” ucap sekretaris Min sambil mengikutiku, “Apa anda harus turun langsung? Kenapa tidak mengutus anggota kita? Biasanya kepala tim yang lain melakukan itu..” ucapnya.

Aku tersenyum memandangnya sembari terus melangkah, “Itu manajer yang lama, aku tidak begitu..” jawabku.

Sekretaris Min bingung sesaat, namun sepertinya ia suka caraku dan tersenyum sambil mengikutiku.

-|||-

Aku mempelajari berkas tentang proyek terbaru perusahaan selama perjalanan menuju lokasi. Hmmm.. semuanya terlihat masuk akal, tapi kenapa kepala tim sebelumnya tidak membuat laporannya dengan benar? Ternyata sangat banyak yang harus kuperbaiki disini.

“Timjang-nim, kita sudah tiba..” ucap sekretaris Min memberitauku.

Aku memandangnya dan memandang keluar jendela. Mobil memang baru berhenti di depan lokasi proyek. Perusahaan ayahku sudah menangani proyek pembangunan berskala besar, jadi wajar saja proyek ini sangat di perhatikan oleh perusahaan. Aku membuka pintu dan langsung turun. Aku berhenti sejenak sambil memperhatikan proses pembangunan gedung perkantoran 10 lantai yang sudah berdiri besi penopangnya.

“Timjang-nim, ini..” ucap sekretaris Min sambil memberikan helm proyek padaku.

Aku mengenakannya dan membaca berkas di tanganku lagi, “Sekretaris Min, siapa pengawas disini?” tanyaku.

“Itu pengawas Han Junki, timjang-nim..” ucap sekretaris Min sambil menunjuk seorang pria yang tergopoh-gopoh menghampiri kami.

“Aigoo.. annyeonghaseyo timjang-nim..” sapa pengawas Han sambil membungkuk sopan.

Aku tersenyum tipis sambil mengangguk sopan, “Annyeonghaseyo.. Namaku Son Dongwoon, kepala tim perencanaan yang baru..”

“Ne, saya sudah mendengar tentang anda timjang-nim. Mari, saya akan membawa anda berkeliling..” ucap pengawas Han menawarkan.

Aku mengangguk dan mengikutinya melihat-lihat proyek. Ia bekerja cukup baik. Pengawasannya sangat teliti. Ia bahkan bisa menjelaskan tentang saluran air yang sudah tertimbun di dalam pondasi. Aku mengangguk-anggukan kepalaku sambil mendengarkan. Ketika melewati mesin berat yang akan mengangkat besi ke atas pondasi, aku melihat beberapa orang sedang memperbaiki salah satu mesin. “Ada apa dengan mesin itu?” tanyaku.

Pengawas Han memandang ke arah yang kumaksud, “Oh… itu tuan, pihak dari mesin berat yang kita sewa sedang melakukan pengecekan. Ini termasuk servis yang mereka berikan pada perusahaan kita karena sudah lama bekerja sama…”

“Hmm.. begitu..” ucapku mengerti.

“Oh.. saya akan memperkenalkan anda dengan kepala tim lapangannya..” ucap pengawas Han dan membimbingku menghampiri para teknisi yang mengenakan pakaian merah dengan oli berlumuran di tubuh mereka.

Begitu semakin dekat, dahiku berkerut melihat salah seorang dari 3 orang yang sedang mengecek bertubuh lebih kecil, juga berambut panjang yang terikat satu di balik helm yang ia kenakan.

“Choi timjang-nim..” panggil pengawas Han.

Aku melirik pengawas Han, ‘Choi?’

“Jangan lupa yang itu..” ucap orang yang di panggi Choi timjang-nim itu, lalu berbalik. “Ne..” jawabnya.

Duarr!!!!

Mataku melotot melihat kepala timnya seorang perempuan. Dan dia CHOI JINA!!

Choi timjang-nim terpaku melihatku yang juga terpaku melihatnya. Kami bahkan tidak mendengarkan apa yang di bicarakan pengawas Han.

-Dongwoon’s POV end-
<<Back  Next>>

Advertisements

7 thoughts on “How To Love [Chapter 29]

  1. Wahhhh,akhirnya keluar juga ffnya >_<

    Wah,lama juga ya 5 tahun bertemu,tapi si jihyun meninggal ya?kasian dujunnyaT___T

    Hmm cerita para member yng lain mana ya?kok cmn dongwoon yng diceritain sih :v

    Fighting buat thornya ^.^

  2. yeaayy… akhirnya di update juga~~
    Cepet banget yaa, udah 5 tahun berlalu aja…
    Itu Jihyun meninggal? kasian banget dujun 😦
    Tapi seneng deh akhirnya Dongwoon udah balik ke Korea lagi… dan ketemu Jina lagi! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s