Uncategorized

How To Love [Chapter 26]

Chapter 26images-2

-Not a Game-

Junhyung memandang jam tangannya lagi, sudah pukul 12 malam tapi Hyojin belum keluar meninggalkan gedung agensi. “Ahh.. kenapa dia belum keluar juga?” gumamnya kesal. Ia kembali menunggu. Namun karena hingga sejam kemudian tetap tidak terlihat juga, ia sampai hampir tertidur. “Aissh.. gadis ini..” ia melepaskan sabuk pengaman dan segera turun dari mobil. Karena sudah malam tidak begitu banyak orang yang berada di kantor agensi, jadi ia bisa melangkah dengan santai tanpa harus bertemu siapa pun. Ia tiba di studio music dan mendorong pintu perlahan sambil memandang ke dalam, ia pikir tidak ada siapa pun. Tapi ketika menoleh ke sofa, ia tertegun Hyojin duduk disana dan juga memandangnya.

Deg! Tatapan mereka bertemu dan terpaku beberapa saat.

Hyojin menjadi orang pertama yang memalingkan wajah, “Waekeureyo, Junhyung-ssi? Kupikir kau sudah pulang..” tanyanya sambil berdiri.

“Hm? Oh.. aku sepertinya meninggalkan sesuatu, jadi aku kembali..” ucap Junhyung berbohong dan mulai mencari-cari sesuatu.

“Hmm.. begitu..” ucap Hyojin, lalu melangkah menuju pintu.

Junhyung memejamkan matanya dan mengerang kesal, lalu segera berbalik dan menarik tangan Hyojin.

Hyojin terkejut dan menatap Junhyung.

Junhyung terdiam sejenak, ia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu..”

Hyojin memandang Junhyung menunggu apa yang akan di bicarakan pria itu.

Junhyung menghela nafas dalam, “Mmm.. tentang apa yang di katakan teman-temanku..”

Hyojin memandang ke bawah dan memalingkan wajahnya, “Aku akan ke toilet..” ucapnya, namun Junhyung tetap menahan tangannya.

“Maafkan aku..” ucap Junhyung.

Hyojin diam sejanak, lalu memandang Junhyung. “Untuk apa?”

“Karena aku…” Junhyung terdiam sesaat, “..karena aku tidak punya keberanian untuk mengakui hubungan kita saat itu..” jawabnya dengan kepala tertunduk.

“Hubungan apa?” Tanya Hyojin, “Yang kuingat, aku hanya orang yang mengejarmu  hingga kau membentakku di depan semua teman-temanmu..”

Junhyung tertegun mendengar ucapan Hyojin, “Hyojin-a..”

Hyojin menatap Junhyung kecewa, “Sejauh ini, hanya itu yang kuingat.. Yong Junhyung..” ucapnya, lalu melangkah pergi. Namun pria itu tetap menahan tangannya, “Lepaskan!!” serunya sambil menyentak tangan pria itu.

Junhyung semakin mempererat pegangannya dan menarik Hyojin ke arahnya dan memeluk gadis itu erat.

“Yong Junhyung!” seru Hyojin sambil mendorong Junhyung, namun pria itu sangat kuat. “Junhyung!!”

Junhyung memejamkan matanya dan mempererat pelukannya, “Maafkan aku, Hyojin..” ucapnya sepenuh hati.

Perlawanan Hyojin berhenti dan terpaku mendengar ucapan Junhyung.

Junhyung benar-benar menyesal atas semua perbuatannya dulu, juga ketika di bandara. “Jika aku bisa memperbaikinya, kau akan memaafkanku?”

Hyojin mendorong Junhyung dan melepaskan pelukan pria itu perlahan, “Hentikan..”

Junhyung menatap Hyojin dalam, “Aniya, tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang..” ucapnya.

Hyojin menatap Junhyung, “Kau tidak butuh masa lalu.. Sekarang jalanilah hidupmu yang sekarang..” ucapnya, lalu berbalik.

Junhyung kembali menarik tangan Hyojin, “Tidak akan ada masa depan, jika tidak ada masa lalu..”

Hyojin diam sejenak, lalu memandang Junhyung. “Cari saja apa yang kau inginkan, lalu pergi..” ucapnya.

“Kau…” ucap Junhyung.

Hyojin tertegun.

“Kau yang kuinginkan..” lanjut Junhyung.

Hyojin merasakan jantungnya berdegup kencang, ia memalingkan wajah dan langsung melangkah pergi.

-|||-

Hyunseung keluar dari apartemen sambil memanggil nomor ponsel Hyuna, tapi gadis itu tak juga menjawab. “Kemana dia?” tanyanya bingung. “Apa dia di apartemen-nya ya?” ia melangkah menuju apartemen gadis itu. ia teringat sesuatu dan memandang layar ponselnya, lalu memeriksa panggilan masuk. Ia teretgun melihat panggilan dari panti tempat Joon di rawat. “Hyuna pasti menjawabnya..” gumamnya panic dan langsung menghubungi nomor itu balik.

-|||-

Hyuna melangkah di antara perumahan sempit tempat ia dan keluarganya tinggal dulu sebelum kejadian di malam yang membuat Joon sakit itu terjadi. Ia memperhatikan ke kanan dan kiri sambil terus melangkah. Meskipun ragu, ia puny firasat kakaknya akan pergi kesana. Akhirnya ia tiba di rumah petak yang sudah tak terawat itu. bahkan pintu depannya ditutup menggunakan papan. Sejak kejadian malam itu tidak ada yang berani menempati rumah ini lagi. ia melangkah pelan menghampiri pintu depan dengan hati-hati. ‘Apa oppa kemari?’ batinnya ragu karena tidak mungkin bisa melewati pintu depan yang tertutup papan. Matanya memperhatikan sekitar dan menemukan lubang ventilasi yang tidak tertutup. Ia memandang sekitar untuk memastikan tidak ada siapa pun disana, lalu memanjat tumpukan kotak kayu yang ada disana sambil berpegangan pada lubang ventilasi, lalu menarik tubuhnya naik.

Setelah perjuangan melewati lubang ventilasi, akhirnya Hyuna berhasil masuk ke rumah tua itu. ia memperhatikan sekitar untuk melihat tanda-tanda seseorang masuk, “Oppa..” panggilnya. “Joon oppa..” panggilnya dan melangkah masuk dengan hati-hati. ia melihat salah satu pintu kamar tidak tertutup rapat, tangannya terulur dan mendorongnya perlahan sambil mengintip ke dalam. Ia bisa menghela nafas lega melihat Joon meringkuk di sudut ruangan masih dengan pakaian pasien dan terlihat tertidur. Tanpa rasa takut ia melangkah masuk dan menghampiri Joon, “Oppa..” panggilnya. Tangannya terulur dan mengguncang tangan pria itu, “Oppa..” panggilnya lagi.

Dahi Joon berkerut dan membuka matanya perlahan, ia tertegun melihat Hyuna.

Hyuna tersenyum hangat, “Oppa..”

Joon menatap Hyuna menyesal, kedua matanya memerah dan mengulurkan tangannya memegang pipi gadis itu.

Kedua mata Hyuna ikut basah. Apalagi melihat tangan Joon terluka. Tangannya terangkat dan menggenggam tangan sang pria di pipinya. “Gwenchanayo oppa..” ucapnya.

Bulir-bulir air berjatuhan dari kedua mata Joon menatap wajah adiknya, tangannya yang lain memegang pipi Hyuna yang satunya. “Oppa miane..”

Hyuna menggeleng dengan bulir air ikut berjatuhan, “Aniya.. oppa tidak salah..” ucapnya.

Joon menangis tersedu-sedu menyesali apa yang telah ia lakukan pada Hyuna, “Mianeyo, Hyuna..”

Hyuna merasa sangat sedih melihat Joon menangis seperti ini. “Uljimayo oppa..” ucapnya dan ikut menangis juga. Ia bergerak maju dan memeluk leher kakaknya, “Oppa uljima..”

-|||-

=Flashback=

Junhyung berhenti melangkah ketika melihat Hyojin menghampiri loker dari ujung lorong. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang melihat gadis itu. ia memperhatikan sekitar memastikan tidak ada siapa pun, lalu melangkah cepat menghampiri gadis itu.

Hyojin mengambil bukunya dan menutup loker, “OH!” serunya kaget karena tiba-tiba Junhyung sudah berada di balik pintu loker.

Junhyung tersenyum, “Kau terkejut?”

Hyojin tertawa kecil dan mengunci lokernya, “Apa-apaan kau? untung aku tidak berteriak..” candanya, lalu melangkah menuju kelas.

Junhyung mengikuti Hyojin, “Ahn Hyojin..”

Hyojin memandang Junhyung, “Ne?” tiba-tiba tubuhnya terpaku dengan mata melotot, wajah pria itu berada beberapa senti dari wajahnya dan bibir mereka bertemu.

Junhyung menarik wajahnya dan tersenyum memandang wajah shock Hyojin, “Aku menyukaimu..”

Hyojin tertegun lagi, “Ne?”

“Mulai hari ini, kau kekasihku…” ucap Junhyung dengan senyuman di wajahnya.

Hyojin tersipu mendengar ucapan Junhyung dan menunduk malu, “Apa maksudmu? Dasar..” ucapnya dan melangkah pergi dengan senyumannya.

Junhyung tertawa kecil, “Aku akan menghubungimu nanti..” ucapnya.

Hyojin menoleh ke belakang sambil tersenyum dan kembali memandang kedepan.

=Flashback End=

“Ya… Yong Junhyung!” seru Yoseop sambil melambaikan tangannya di depan wajah Junhyung yang melamun.

Junhyung tersentak dan menatap Yoseop kaget, “Ne?”

“Hyung.. ada apa denganmu?” Tanya Dongwoon tak mengerti.

“Apa ini karena Ahn Hyojin?” Tanya Gikwang ingin tau.

Junhyung hanya memandang teman-temannya bingung.

“Kau jadi sangat aneh, ada apa sih?” Tanya Yoseop.

Junhyung memandang teman-temannya dan memandang ke bawah.

“Ya.. Junhyung..” panggil Gikwang khawatir.

Dongwoon menatap Junhyung tak mengerti, lalu memegang bahu Junhyung. “Hyung..”

Junhyung mengangkat wajahnya dan menatap teman-temannya serius, “Aku…”

Dongwoon, Yoseop dan Gikwang menatap Junhyung serius menunggu apa yang akan di katakan pria itu.

Junhyung diam sejenak. ‘Sekarang, atau aku akan menyesalinya..’ batinnya. “Ahn Hyojin..” ucapnya memulai, teman-temannya terlihat semakin penasaran mendengar ucapannya. “..adalah kekasihku ketika SMA..”

Hening..

Gikwang menatap Junhyung dengan dahi berkerut. Dongwoon memiringkan kepalanya ke satu sisi dengan wajah tak mengerti. Yoseop terbengong menatap Junhyung dengan mulut sedikit terbuka.

“Eiii… jangan bercanda Junhyung..” ucap Gikwang dan tertawa geli.

Yoseop dan Dongwoon ikut tertawa.

“Hyung.. aku hampir tertipu..” ucap Dongwoon lucu.

“Ne.. aku juga.. dasar kau ini..” tawa Yoseop.

Ketiga pria itu tertawa geli beberapa saat hingga menyadari ekspresi Junhyung masih terliht serius.

“K-kau, serius?” Tanya Gikwang tak percaya.

Junhyung menghela nafas dalam, “Aku… benar-benar berpacaran dengan Hyojin dulu..”

“Ne?” ucap Dongwoon tak mengerti.

“Keurom, kenapa kau berkata dia mengejarmu?” Tanya Yoseop tak mengerti.

Junhyung memandang ke bawah menyesal, “Aku.. aku…” ia bingung bagaimana menjelaskan situasinya ketika itu. akhirnya ia memutuskan untuk tidak mempertahankan harga dirinya lagi dan memandang teman-temannya tanpa ragu, “Aku sangat malu untuk mengakui Hyojin yang termasuk kutu buku ketika itu sebagai kekasihku..” jawabnya pelan.

Ketiga teman Junhyung tertegun menatap pria itu.

“Maksudmu, karena kau anak populer dulu di sekolah?” Tanya Yoseop memperjelas.

Junhyung mengangguk membenarkan.

Gikwang menatap Junhyung tak percaya, “Horrl.. kau benar-benar melakukan itu?”

Junhyung menunduk menyesal, “Ne..”

“Hyung..” ucap Dongwoon kecewa.

“Kau benar-benar, Junhyung..” ucap Yoseop tak percaya.

“Aku tau apa yang kulakukan salah..” ucap Junhyung menyesal, “Dan aku sangat menyesal. Kuharap aku bisa memperbaiki semuanya..”

Gikwang melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajah, “Ahh.. aku tidak percaya aku percaya padamu selama ini..”

“Yong Junhyung, kau tau apa yang sudah kau lakukan pada Ahn Hyojin?” Tanya Yoseop tak percaya.

“Hyung, aku benar-benar kecewa padamu..” ucap Dongwoon.

“Maafkan aku..” ucap Junhyung menyesal.

“Aniya.. bukan pada kami..” ucap Yoseop, lalu bergerak bangkit dan berjalan pergi.

Gikwang mendengus kesal dan bangkit mengikuti Yoseop.

Dongwoon diam sejenak di tempatnya memandang Junhyung. “Hyung..”

Junhyung memandang Dongwoon.

“Semua orang melakukan kesalahan..” ucap Dongwoon, “Tapi, untuk orang yang selalu kukagumi. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang..” ucapnya, lalu bangkit dan berjalan pergi.

Junhyung menghela nafas dalam dan menunduk lesu.

<<Back    Next>>

Advertisements

4 thoughts on “How To Love [Chapter 26]

  1. jadi emang dulu tuh hyojin ama junhyung pacaran, bagus deh junhyung dah jujur…
    wahh… joon udah ketemu.. mudah2an dia gak ngamuk lagi plis.. :”

  2. tuh kan gara” gengsi jd aja pada ninggalin kan bang jok !!!!!!
    hassh hyuna malah nyamperin kesana , bisa” di bunuh am joon . palii pergi !!!!
    susah ya keras kepala hyuna nya :/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s