Uncategorized

How To Love [Chapter 24]

Chapter 24wpid-page-5.jpg.jpeg

-Step By Step-

“Ne? jadi kau akan pergi ke Jepang bersama Jihyun dan keluarganya untuk pengobatan gadis itu?” Tanya Yoseop tak percaya.

Dujun tersenyum, “Ne.. Kami akan berangkat besok..”

“Horrrl.. apa kau benar-benar Yoon Dujun yang kami kenal?” Tanya Gikwang tak percaya.

Dujun tertawa kecil, “Keurom..”

“Kenapa aku justru merasa aneh melihatmu jadi dewasa seperti ini?” ucap Hyunseung tak mengerti.

Dongwoon memandang Dujun bingung, “Apa akan lama hyung?”

“Mmm.. aku masih belum tau..” jawab Dujun, “Aku sudah mengurus cuti kuliah semester ini. Dan aku akan lihat, jika pengobatan Jihyun disana memang berjalan baik. Aku akan melakukan transfer ke Jepang..”

Keempat pria yang lain terpaku menatap Dujun. Mereka seperti baru saja melihat sesuatu yang langka.

Dujun memandang teman-temannya bingung, “Waeyo?”

“Hyung, kau benar-benar serius?” Tanya Dongwoon tak percaya.

“Hm? Keurom..” jawab Dujun tanpa ragu.

“Ahh.. kenapa aku jadi merinding ya?” Tanya Yoseop sambil mengelus kedua lengannya seperti orang kedinginan.

“Ne, nadoo..” ucap Hyunseung sambil mengelus pundaknya.

Dujun menatap teman-temannya kesal, “Ya! Apa-apaan kalian?!”

Hyunseung menahan tawa, “Ya, Yoon Dujun. Kau benar-benar sudah dewasa sekarang..”

Dujun tersenyum malu.

“Ne.. aku sangat bangga padamu..” ucap Yoseop dengan mata berkedip-kedip kagum.

“Ohh.. jika Dujun hyung pergi ke Jepang, pasti semakin sepi. Junhyung hyung kan sulit bergabung jika sedang promosi..” ucap Dongwoon lesu.

“Eiii.. kan sudah ada chat, video call..” ucap Dujun dengan senyuman menawannya.

“Gwenchana, jika Dujun di Jepang. Kita ada alasan berlibur kesana kan?” usul Yoseop dengan senyuman lebarnya.

“Ne! benar sekali!” ucap Hyunseung senang.

“Wuaaa… pasti seru jika kesana saat musim gugur..” ucap Gikwang senang.

“Oh.. berhubung kita semua ada disini, aku akan mengatakan sesuatu.” Ucap Dongwoon sambil mengangkat tangannya.

“Hm? Mwo?’ Tanya Gikwang ingin tau.

Dongwoon tersenyum, “Aku sudah memutuskan..” ucapnya, “Aku akan melanjutkan kuliah ke Inggris..”

Dujun, Yoseop, Gikwang dan Hyunseung tertegun mendengar ucapan Dongwoon.

“Ne? inggris?” Tanya Hyunseung dengan dahi berkerut.

Dongwoon mengangguk, “Ne.. keren kan? Aku akan berusaha keras masuk ke Harvard. Aku akan seperti orang-orang jenius dunia lainnya..” ucapnya bangga.

Keempat pria itu terdiam sesaat dan saling berpandangan bingung.

“Tu-tunggu dulu..” ucap Yoseop, “Kami semua tau kau sangat jenius, Dongwoon. Tapi Inggris, apa tidak terlalu jauh?”

Dongwoon tetap tersenyum, “Aku ingin membuktikan aku bisa masuk Harvard ke ibuku..”

“Ne? tapi kenapa jauh sekali?” Tanya Gikwang.

“Apa kau yakin? Inggris sangat jauh, Son Dongwoon..” ucap Hyunseung tak mengerti.

“Ne, bahkan Jepang hanya beberapa jam dari sini.. Kenapa kau pergi lebih jauh?” Tanya Dujun.

Dongwoon tertawa kecil, “Aniya, hanya ingin saja.. Eropa yang tempat yang sangat bagus untuk belajar.. Aku akan kembali sebagai orang hebat..” ucapnya.

Yoseop mengerutkan dahi mendengar ucapan Dongwoon.

“Hmm.. keure, Dongwoon sudah memilih jalannya. Kita harus menghargai keputusannya..” ucap Dujun dengan senyuman bangganya, lalu mengulurkan tangan dan menepuk bahu Dongwoon. “Kau sudah tumbuh sekarang..”

Dongwoon tertawa kecil, “Keuromyeon, hyung..”

“Ahhh.. kenapa kalian semua pergi?” ucap Gikwang sebal.

“Jadi kita ada alasan ke Jepang dan Inggris? Aku suka..” ucap Hyunseung dengan senyumannya.

Yoseop memandang Dongwoon yang tersenyum senang sekarang.

-|||-

“Dongwoon-a, ayo kita bermain dulu..” ajak Yoseop sambil merangkul Dongwoon ketika mereka keluar dari kafe bersama yang lain.

“Bermain? Aku harus belajar hyung, mian..” ucap Dongwoon menyesal sambil melepaskan rangkulan Dongwoon.

“Eii.. bermain beberapa jam tidak akan membuat nilaimu jatuh..” ucap Yoseop sebal.

“Kau tidak kembali ke kampus?” Tanya Hyunseung heran pada Yoseop.

“Nah.. hyung kan harus kembali ke kampus..” ucap Dongwoon.

“Aniya, aku tidak ada kelas sore ini. Tenang saja..” ucap Yoseop senang.

“Kalau begitu aku duluan.. Bye..” ucap Gikwang sambil melangkah pergi dan melambai pada teman-temannya.

“Aku juga.. sampai jumpa..” ucap Dujun dan melangkah pergi.

“Hyung, kembali ke kampus saja.. Aku harus pulang..” ucap Dongwoon pada Yoseop.

Yoseop cemberut, “Wae? Kau tidak menyukaiku lagi ya? Apa sekarang aku bukan hyung favoritmu lagi?” tanyanya seperti anak kecil yang akan di tinggal ibunya.

Dongwoon menahan tawa, “Apa maksudmu hyung? Tentu saja tidak benar, hyung masih tetap favoritku kok..”

“Aigoo… ya sudah, dia milikmu Dongwoon..” ucap Hyunseung dan melangkah pergi.

“Bye Hyunseung!!” ucap Yoseop senang.

“Ahh.. hyung.. kau ini..” ucap Dongwoon menahan tawa, “Ya sudah, kau ingin bermain kemana?”

Yoseop terlihat kegirangan, “Yuhuuu!! Khaja.. kita pergi dulu..” ajaknya sambil menggandeng Dongwoon pergi.

-|||-

Dongwoon menahan tawa melihat Yoseop menari sambil menyanyikan lagu dari girl group 4Minute di sebuah ruang karaoke yang biasa mereka datangi ketika SMA dulu.

Yoseop membanting tubuhnya di sebelah Dongwoon setelah menyanyikan lagu beat itu. “Ahhh!! Seru sekali!” soraknya riang.

“Hyung, kau sudah menyanyikan 5 lagu. Apa kau belum lelah juga?” Tanya Dongwoon heran sambil tertawa.

“Aniya.. aku masih sangat bersemangat! Ayo pilih lagu lagi!!!” ucap Yoseop sambil memilih lagu.

Dongwoon hanya bisa tertawa geli melihat kelakuan Yoseop yang terkadang seperti jauh lebih muda darinya.

Yoseop membolak-balik daftar lagu sejenak, lalu melirik Dongwoon. “Kau tidak memilih lagu?”

“Hm? Oh.. aku sedang tidak mood bernyanyi..” jawab Dongwoon.

“Eiii.. kita sudah tiba disini masa kau tidak bernyanyi..” ucap Yoseop, “Pilihlah.. paling tidak nyanyikan satu lagu..” ucapnya sebal.

“Hm? Aniya.. hyung saja..” ucap Dongwoon.

“Kalau begitu aku akan memilihkan lagu..” ucap Yoseop dan memulai lagu yang ia pilih, “Ini.. nyanyilah..” ucapnya sambil memberikan mikropone pada Dongwoon.

Dongwoon tertawa mendengar yang terputar lagu Sunmi-24 hours. Karena Yoseop terlihat sangat bersemangat, ia berdiri dan mulai bernyanyi dalam versinya. Membuat pria itu tertawa terbahak-bahak dan ikut menari juga.

“Wohooo!! Son Dongwoon! Lagi!! lagi!! lagi!!” sorak Yoseop memberi semangat begitu Dongwoon selesai.

“Aniya, hyung.. aku malu..” ucap Dongwoon sambil menutup wajahnya yang memerah.

Yoseop duduk di sebelah Dongwoon, “Kenapa malu? Hanya ada kita disini..” ucapnya.

“Aniya… aku jadi lapar lagi, ayo kita makan dan pulang..” ucap Dongwoon.

“Sekarang? Shiro.. kita juga baru mulai.. nyanyi beberapa lagi baru pulang..” ucap Yoseop membujuk.

“Keure, aku akan menontonmu bernyanyi lagi..” ucap Dongwoon setuju.

Yoseop mengangguk setuju dan mencari lagu lagi. matanya melirik Dongwoon, sebenarnya alasan ia membawa pria itu kemari bukan untuk bersenang-senang. Melainkan ingin berdua agar bisa berbicara serius.

Dongwoon bingung Yoseop menutup buku lagu, “Wae? Sudah selesai?”

Yoseop memandang Dongwoon, “Dongwoon-a, kau percaya padaku kan?”

“Hm? Tentu saja..” jawab Dongwoon.

“Mmm.. aku tau ada alasan lain kenapa kau ingin pergi ke Inggris..” ucap Yoseop yakin.

Dongwoon tertegun, “Ne?”

“Gwenchana, kau bica menceritakannya padaku. Mungkin ini pembicaraan canggung diantara pria, tapi hanya ada kita disini. Kau bisa mengatakannya..” ucap Yoseop.

Dongwoon terdiam sesaat, lalu tersenyum. “Apa maksudmu hyung?” tanyanya, seperti tidak terjadi sesuatu.

“Dongwoon-a..” ucap Yoseop, “Gwenchana, kau bisa mempercayaiku.” Ucapnya membujuk.

Senyuman Dongwoon luntur perlahan, “Na Gwenchana hyung..” jawabnya pelan.

“Aniya, kau tidak baik-baik saja..” ucap Yoseop, “Sebelumnya kau mengatakan jika ingin berkuliah disini agar tetap bisa bersama kami. Sekarang tiba-tiba kau ingin berkuliah di luar negeri..” ucapnya membuka fakta yang ia tau. “Waekeure? Sesuatu telah terjadi kan?”

Dongwoon tidak bisa berkelit lagi sekarang. Yoseop memang orang yang sangat sensitive di antara teman-temannya yang lain. Ia memandang ke bawah sedih.

Yoseop menatap Dongwoon hangat, “Waekeure?”

Dongwoon menghela nafas dalam dan kembali memandang Yoseop, “Sebenarnya, ada yang kusembunyikan dari kalian semua..” ucapnya memulai dan diam sejenak, “Aku sebenarnya bukan anak kandung ibuku..” akunya.

Yoseop tertegun, “Ne?”

Dongwoon kembali memandang ke bawah sedih, “Aku anak haram ayahku dan kekasihnya karena ibuku tidak bisa mempunyai keturunan..” ucapnya.

Mata Yoseop membesar, “Ne?! kapan kau mengetahuinya?”

“Beberapa bulan lalu..” jawab Dongwoon. “Saat itu aku mendengar ibuku meminta seorang gadis untuk menjadi guru privatku agar aku bisa lulus masuk ke universitas luar negeri. Dengan begitu, aku bisa menghilang dari pandangannya. Agar aku tidak perlu ada di hidupnya lagi..” ucapnya sedih. Hatinya sangat terluka mengetahui ibu yang ia sayangi bukan ibu kandungnya, juga menginginkannya menghilang.

“Dongwoon-a..” ucap Yoseop sedih.

“Aku hanya punya ibuku sekarang.. Awalnya aku ingin memberontak dengan berhenti belajar dan membuat masalah..” Dongwoon diam sejenak lagi, “Tapi malam itu, aku sadar kalau tidak ada gunanya aku tetap disana. Aku tidak akan pernah berubah menjadi anak kandung ibuku. Walaupun aku terus berbakti dan menjadi anak yang paling baik sedunia, ibuku akan terus menganggapku duri di jalannya..” ia menghela nafas berat, “Aku akan pergi agar ibuku merasa lebih tenang..”

Yoseop menatap Dongwoon sedih, tangannya terulur dan memegang bahu pria itu.

Dongwoon mengangat wajahnya memandang Yoseop dengan kedua mata berkaca-kaca menahan air mata. “Aku sudah melakukan hal yang benar kan, hyung?”

Yoseop tersenyum tipis dan mengangguk pelan.

“Paling tidak, aku harus membalas semua kebaikan ibuku dengan menghilang seperti yang dia inginkan kan?” Tanya Dongwoon terluka. Kedua matanya di penuhi air yang siap berjatuhan.

Yoseop mengangguk lagi. karena ia tidak bisa mengatakan apa pun untuk menghibur Dongwoon saat ini.

Dongwoon memejamkan mata dan mulai menangis untuk melepaskan rasa sakitnya. Kepalanya tertunduk dan menutup matanya dengan tangan.

Yoseop seperti bisa merasakan kesedihan Dongwoon. Ia mengelus bahu pria itu dan membiarkan sang pria muda menangis beberapa saat.

-|||-

Junhyung menyandang tasnya dan berpamitan pada dancernya sebelum keluar dari ruang latihan. Hari ini Dujun akan berangkat ke Jepang bersama Jihyun, jadi ia harus ikut melepaskan temannya itu. ia tertegun melihat Hyojin juga terlihat akan pergi ketika ia tiba di pintu depan kantor agensi.

Hyojin memandang Junhyung, “Oh, kau sudah akan pergi?” tanyanya.

“Ne..” jawab Junhyung.

“Hmm.. keure, sampai besok..” ucap Hyojin dan melangkah duluan.

Junhyung hanya mengangguk dan memperhatikan gadis itu menghampiri taxi yang sudah menunggu. Dahinya berkerut sendiri, “Kemana dia akan pergi?” tanyanya penasaran.

<<Back    Next>>

Advertisements

4 thoughts on “How To Love [Chapter 24]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s