Uncategorized

How To Love [Chapter 22]

Chapter 22

image

-Gray Paper-

Junhyung membuka pintu studio music perlahan sambil mengintip kedalam. Tangannya berhenti karena melihat Hyojin duduk di tempat biasa sambil mendengarkan music dan menulis sesuatu. Ucapan teman-temannya mengenai Hyojin kembali bergulir di ingatannya. Memang benar, itulah yang terlihat tentang seorang gadis bernama Ahn Hyojin di SMA ketika itu. namun, gadis itu sangat berbeda di matanya. Tapi ia tidak pernah bisa memberanikan diri untuk mengakui bahwa ia menyukai Hyojin pada teman-temannya, karena ia bisa di jadikan olok-olokan. Ia menghela nafas dalam dan melangkah masuk.
Hyojin menoleh ketika merasakan seseorang duduk di sebelahnya dan mengecilkan music, “Kau sudah tiba.. Pemanasan vocal beberapa menit dan mulai dengan lagu yang ini..” ucapnya memberi instruksi.
“Mmm.. kenapa kita tidak menunggu Jihoon hyung dulu? Aku masih lelah..” ucap Junhyung.
“Hm? Oh.. keure..” ucap Hyojin setuju dan kembali menulis sesuatu.
Junhyung memperhatikan tangan Hyojin menulis beberapa saat, “Hyojin..”
“Hm?” jawab Hyojin sambil membaca ulang tulisannya.
“Temanmu itu..” ucap Junhyung, “Kenapa kau tidak memberitauku?”
“Teman yang mana?” Tanya Hyojin.
“Temanmu yang meninggal sebelum sempat operasi..” jawab Junhyung.
Hyojin tertegun, tangannya spontan berhenti menulis. Ia membeku beberapa saat, hingga menoleh kearah Junhyung. “Oh..” ucapnya singkat dan kembali memandang bukunya untuk menghindari tatapan pria itu. “Aniya, itu juga bukan berita penting..”
“Tidak penting bagaimana? Nyawa seseorang melayang, bagaimana tidak penting?” Tanya Junhyung tak mengerti.
“Gwenchana, dia kan temanku. Juga kau tidak mengenalnya.. Fokus saja pada pemanasan vokalmu nanti..” ucap Hyojin.
Junhyung menghela nafas dalam, entah mengapa ia merasa sakit hati sendiri karena gadis itu tidak ingin berbagi bersamanya. Matanya melirik buku di tangan Hyojin, “Oh.. apa kau sudah menemukan yang kau cari ketika itu?” tanyanya berpura-pura tidak tau.
Hyojin tertegun dan memandang Junhyung, “Ne? oh.. sudah.”
“Hmm.. syukurlah..” ucap Junhyung, “Apa itu sangat berarti? Kau terlihat panik ketika itu.
Hyojin diam sejenak, “Mmm.. aku tidak tau juga apakah penting atau tidak.. Aku hanya tetap menyimpannya..”
Junhyung mengangguk mengerti, “Apa itu sesuatu yang bernilai history?” tanyanya memancing.
“Aniya.. hanya sampah yang tidak bisa kubuang..” jawab Hyojin, “Aku akan ke toilet..” ucapnya sembari bangkit.
Junhyung mengerutkan dahi mendengar jawaban Hyojin sebelumnya, “Mwo?!”
Hyojin terkejut dan menatap Junhyung bingung, “Waekeure?”
“Sampah?” Tanya Junhyung dan bergerak bangkit dengan tatapan tak mengertinya, “Jika sampah kenapa kau tetap menyimpannya? Buang saja!!” ucapnya kesal, lalu memalingkan wajah dan melangkah keluar.
Hyojin menatap Junhyung tak mengerti karena tiba-tiba kesal.
–|||–
“Oppa, apa aku belum bisa bertemu Joon oppa?” Tanya Hyuna ketika ia dan Hyunseung makan malam di apartemen pria itu.
Hyunseung yang sedang mengunyah makanan memandang Hyuna, “Seharusnya sudah, tapi aku belum mendapat kabar dari panti. Aku akan menghubunginya besok siang..”
Hyuna tersenyum lebar, “Gumawoyo oppa..” ucapnya senang.
Hyunseung tersenyum, “Ne..”
Hyuna kembali makan dengan riang, tak lama ia kembali teringat sesuatu. “Oh.. oppa, kemarin malam.. Bagaimana oppa tau aku takut petir?” tanyanya.
“Hm? Mmm.. nadoo molla, aku hanya terbangun karena mendengar suara petir. Lalu teringat padamu, jadi aku datang..” jawab Hyunseung.
Hyuna menatap Hyunseung lucu, “Hmm.. oppa sudah seperti Joon oppa saja, punya insting jika aku sedang ketakutan..” ucapnya, lalu tertawa lucu.
Hyunseung tertegun sendiri mendengar ucapan Hyuna. Saat itu, ia mulai berpikir apa yang sudah terjadi padanya. Sebelumnya ia tidak pernah sepeka ini pada seseorang selain teman-temannya.
Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Oppa, wakeure? Aku salah bicara ya?”
Hyunseung tersadar dari lamunannya, “Ne? oh.. aniya, aku sedang memikirkan tugas kuliah saja..” jawabnya sambil tersenyum.
Hyuna tersenyum, “Hmm.. begitu..” ucapnya mengerti, “Oh ya, oppa sudah punya kekasih?”
Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan Hyuna, “Ne? waeyo?”
“Aniya, aku hanya tidak ingin nanti kekasihmu salah paham jika suatu saat melihatku ada di apartemenmu..” jelas Hyuna.
“Hmm.. tenang saja.. Aku tidak punya kekasih..” jawab Hyunseung santai.
“Ne? waeyo? Oppa tampan dan keren, apa tidak ada gadis yang mendekatimu?” Tanya Hyuna penasaran.
“Aku? Sepertinya tidak ada..” jawab Hyunseung, “Aku tidak terlalu suka dekat dengan orang asing selain teman-temanku. Membicarakan tentang diriku sangat tidak menyenangkan..”
Hyuna terlihat bingung, “Waeyo? Lalu bagaimana denganku?”
“Hanya tidak nyaman saja..” ucap Hyunseung, “Kau bukan gadis yang mendekatiku, kau tetangga yang tinggai di dekat rumahku dan membutuhkan pertolonganku. Jadi kau tidak termasuk dalam hitungan..”
Hyuna cemberut, “Walau begitu kan aku tetap seorang gadis oppa..”
Hyunseung menatap Hyuna lucu, “Siapa yang mengatakan kau seorang pria? Kau ini..”
“Bukan seperti itu..” ucap Hyuna sebal, “Apa aku tidak membuatmu merasa tidak nyaman?” tanyanya, lalu memasang wajah cute dengan mata berkedip-kedip.
Hyunseung tertawa melihat tingkah Hyuna, “Apa maksudmu? Lanjutkan saja makanmu..”
Hyuna cemberut lagi, “Aissh… oppa..”
Hyunseung menahan tawanya melihat Hyuna cemberut, “Kenapa kau jadi cemberut seperti itu? aku tidak terganggu dengan gadis imut kok..”
Hyuna menatap Hyunseung sebal, “Aku akan segera tumbuh menjadi gadis dewasa, aku tidak akan menjadi imut lagi!”
“Hajima, justru karena kau imut kau terlihat menarik..” ucap Hyunseung.
Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung, “Ne?”
Deng! Hyunseung tertegun sendiri karena  ucapannya sendiri, ia tidak mengerti mengapa ia mengucapkan hal seperti tadi. “Oh.. maksudku, kau memang imut. Kenapa harus berubah?”
Hyuna memandang ke bawah sambil menahan senyumnya dengan pipi merona merah.
Hyunseung sekarang jadi malu sendiri.
–|||–
Dujun memperbaiki selimut ketika Jihyun sudah terlelap, bibirnya membentuk senyuman dan mengelus rambut gadis itu. lalu bangkit dan melangkah keluar dari ruang perawatan gadis itu.
Jaebom duduk di kursi tunggu sambil memandangi langit malam melalui jendela. Ia tersadar dari lamunannya dan menoleh ketik menyadari seseorang duduk di sebelahnya. “Jihyun sudah tidur?”
Dujun mengangguk, “Ne..”
“Hmm.. syukurlah..” ucap Jaebom, “Aku akan kembali setelah melihatnya..” ucapnya sembari bangkit.
“Jaebom-ssi..” panggil Dujun menahan Jaebom.
Jaebom berhenti dan memandang Dujun, “Ne?”
“Mmm.. bisakah aku berbicara padamu sebentar?” Tanya Dujun.
Jaebom mengangguk dan kembali duduk, “Apa yang ingin kau bicarakan?”
Dujun mengelus telapak tangannya, “Maaf, aku tidak bermaksud menggantikan posisimu..” ucapnya menyesal.
Jaebom tersenyum tipis, “Kenapa kau meminta maaf? Ini bukan salahmu..” ucapnya.
“Mmm.. bolehkan aku menanyakan sesuatu lagi?” Tanya Dujun.
“Silahkan..” jawab Jaebom mempersilahkan.
“Aku tau kita berdua mencintai Jihyun, tapi… ketika mengetahui Jihyun… mmm.. mencintaiku.. Apa yang membuatmu bisa melepaskannya?” Tanya Dujun hati-hati.
Jaebom tersenyum sedih, “Aniya, aku tidak bisa melepaskannya..” ucapnya, “Tidak mungkin..” lanjutnya, lalu menghela nafas dalam dan memandang langit lagi. “Tapi, aku juga tidak bisa memaksakan perasaannya agar membalas perasaanku..”
Dujun ikut menghela nafas dalam dan memandang langit.
“Ketika kau mencintai seseorang. Kau akan di kuasai rasa ego dan perasaanmu. Jika kau mengikuti egomu, mungkin orang yang kau cintai akan terluka, tapi jika kau mengikuti perasaanmu. Kau yang akan terluka..” ucap Jaebom, lalu menghela nafas dalam lagi. “Keuronika, satu hal yang kupelajari dari mencintai seseorang..” ucapnya dan memandang Dujun, membuat pria itu juga memandangnya. “Ketika kau mencintai seseorang, kau akan mendahulukan perasaan orang itu daripada perasaanmu sendiri. Itu adalah cinta yang tulus..”
Dujun sangat kagum dengan sosok Jaebom, meskipun pria itu terlihat tidak menyukainya dulu, tapi ia sudah mengerti alasannya.
“Dujun-ssi.. Jihyun sangat berarti bagiku..” ucap Jaebom tulus, “Kami menjalani pengobatan bersama, disaat aku merasa mungkin aku tidak bisa bertahan lama. Dia yang menghiburku dan membesarkan hatiku. Kau lihat, sekarang justru dia yang tidak mendapat kesempatan untuk sembuh..” ucapnya,  tatapannya terlihat sangat sedih dan mulai berkaca-kaca. “Ketika aku terbangun pagi itu setelah operasi, aku benar-benar merasa seperti mendapat kesempatan kedua dalam hidupku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Saat itu aku berjanji pada Jihyun untuk tidak meninggalkannya dan akan terus mendampinginya hingga ia juga bisa sembuh sepertiku. Ia tersenyum dan terlihat bahagia. Kupikir saat itulah pertama kalinya aku merasa aku mencintainya. Tapi perasaan manusia tidak bisa berubah seperti yang manusia lain inginkan, Jihyun hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Ia justru mencintaimu..”
Dujun seperti bisa merasakan apa yang di rasakan Jihyun. Perasaannya jadi terasa berat dan tidak tau apa yang harus di ucapkan.
“Karena itu..” lanjut Jaebom, “Kumohon… Jaga Jihyun seperti kau menjaga dirimu sendiri..” pintanya, sebulir air jatuh dari matanya.
Dujun mengangguk, “Ne, aku berjanji. Aku tidak akan meninggalkannya apa pun yang terjadi.. Aku akan menjaganya sebaik kau menjaganya dulu..”
Jaebom menyeka air matanya sembari tersenyum, “Gamshamida..” ucapnya.
–|||–
Ibu Dongwoon memandang jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul 10:45 malam, lalu memandang ke pintu depan. Belum terlihat tanda-tanda pria itu akan pulang. “Ahh… kemana dia sebenarnya?” gumamnya kesal dan memanggil nomor pria itu.
“Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif….”
“Aissh! Son Dongwoon!” ucap ibu Dongwoon kesal sendiri.
11.20 pm.
Ibu Dongwoon duduk di sofa karena lelah mondar-mandir menunggu putranya. Ia mendengar seseorang masuk dan segera bangkit. Ia merasa sangat lega dan kesal di saat bersamaan melihat pria muda itu melangkah masuk masih dengan seragam melekat, “Son Dongwoon!!”
Dongwoon memandang ibunya, “Oh.. eomma, sudah di rumah?” tanyanya sambil membungkuk sopan.
Ibu Dongwoon menghampiri pria itu dan memukul lengannya.
“Ahh!” rintih Dongwoon sambil mengelus lengannya, “Waekeure? Kenapa eomma memukulku?” tanyanya tak mengerti.
“Kau masih bertanya?!” Tanya ibu Dongwoon kesal, “Kau tidak tau jam berapa ini?! Apa seorang pelajar pulang jam segini?!!” serunya.
“Aku belajar di sekolah dulu tadi.. Ada jam malam khusus untuk anak tahun terakhir.. Eomma seperti tidak tau saja..” ucap Dongwoon tak mengerti.
Ibu Dongwoon menghela nafas dalam, “Bukan tidak mengerti Son Dongwoon! Kau bisa memberitau kan jika kau pulang terlambat! Ada apa denganmu?!”
Dongwoon tertegun sesaat mendengar ucapan ibunya, lalu tersenyum tipis dan membungkuk sopan. “Cesonghamida..”
“Sudahlah.. masuk ke kemarmu dan beristirahat..” ucap ibu Dongwoon kesal.
Dongwoon menunduk and berbalik menuju tangga, namun beberapa langkah ia berhenti dan kembali memandang ibunya. “Eomma, ujian akhir sudah hampir tiba dan aku akan segera kuliah keluar negeri. Jadi, kurasa aku akan menyampaikan pemikiranku lebih terbuka sekarang.” Ucapnya.
Ibu Dongwoon memandang pria itu, “Apa maksudmu?”
Dongwoon tersenyum, “Sebelumnya, ketika aku pulang larut atau pun tidak pulang pun tidak akan ada yang menghubungiku untuk bertanya dimana aku. Juga ketika aku pulang karena mabuk tidak ada yang memarahiku selain Choi sonsaengnim. Tidak ada yang bertanya, ‘Apa kau sudah makan? Bagaimana sekolahmu?’ padaku..” ucapnya. Lalu tertawa lirih, “Aku merasa sangat sedih karena tidak ada yang memperhatikanku..” ucapnya lagi, “Tapi saat aku mendengarmu memarahiku karena pulang terlambat, aku justru merasa aneh. Mungkin sebaiknya aku tetap seperti dulu..”
Ibu Dongwoon tertegun mendengar ucapan pria itu.
“Keurom, selamat malam eomma..” ucap Dongwoon sambil membungkuk dan kembali melangkah ke tangga.
Ibu Dongwoon menatap pria itu sedih dan memandang ke bawah.

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “How To Love [Chapter 22]

  1. I really believe that a home foreclosure can have a important effect on the
    debtor’s life. Property foreclosures can have a 6 to 10 years negative affect on a debtor’s credit report.
    The borrower who have applied for a home loan or just
    about any loans for that matter, knows that a worse credit rating is definitely, the more tough
    it is to get a decent mortgage loan. In addition, it may possibly affect
    a new borrower’s power to find a quality place to lease or hire,
    if that will become the alternative property solution. Great blog post.

  2. kassiiiaannnn bangettt dw :/
    hyojin am bang jok tarik ulur terussssss , hahhaha
    cieee Seung suka nieh am cwe imut , aq jga kan imutt Bebs *plakkkkkk
    Dujun harus rela kan jihyun donk , ntar am aq di kasih gayoon. deh , hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s