Uncategorized

How To Love [Chapter 21]

Chapter 21

image

-2nd Chance-

Yoseop menekan bel rumah Soyu dan menunggu beberapa saat dengan kedua tangan tersembunyi ke belakang.
Tak lama pintu terbuka dan terlihat Soyu di baliknya.
Yoseop langsung tersenyum lebar melihat gadis itu, “Annyeong..”
Soyu menatap Yoseop sebal, “Mwo?”
Yoseop menunduk menyesal mendengar nada bicara Soyu sambil mengeluarkan buket bunga dari belakang tubuhnya dan menyodorkan buket bunga itu pada Soyu.
Soyu tertegun melihat bunga-bunga cantik di depannya dan memandang Yoseop tak mengerti.
Yoseop mengangkat wajahnya dengan tatapan menyesal, “Pilihlah kertas-kertas itu…”
Soyu memandang bunga-bunga itu lagi, memang ada lipatan kertas kecil terselip di beberapa bunga, ia mengambil sebuah lipatan kertas dan membukanya.
Mianeyo..
Yoseop memperhatikan eskpresi Soyu yang tetap tanpa emosi. Ia mengedip-kedipkan matanya imut ketika gadis itu memandangnya. “Kau bisa ambil yang lain..” ucapnya memberitau.
Soyu mengambil yang lain dan membukanya.
Saranghae..
Yoseop mulai putus karena ekspresi Soyu masih belum berubah, “Yang satu lagi juga masih ada..” ucapnya memberitau.
Soyu mengambil semua lipatakan kertas di bunga, lalu mengambil bunga itu.
Yoseop terkejut tiba-tiba Soyu merebut bunga itu darinya.
“Pulanglah, sudah malam..” ucap Soyu, lalu menutup pintu.
Yoseop terpaku di tempatnya menatap pintu tak mengerti, “Mwoya?” gumamnya tak mengerti.
Begitu menutup pintu, Soyu bersandari di baliknya sambil menatap bunga itu dengan senyuman lebarnya. “Yepeuta..” gumamnya senang, lalu membaca kertas-kertas yang sudah ia buka. “Hmmm.. aku akan membaca yang lain..” ucapnya riang dan berlari kecil ke kamarnya.
Yoseop berjalan lesu kembali ke halte bis. “Aigoo! Apa ini?! Aku tidak berhasil?! Ahh.. kenapa dia jadi marah sekali?!” gerutunya sendiri, lalu menendang kerikil yang terlihat di jalanan. Ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk, ia mengeluarkan ponselnya malas dan melihat siapa yang mengirim pesan. Begitu membuka pesan tersebut, ia langsung berhenti dan menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Soyu mengiriminya photo gadis itu tersenyum manis bersama buket bunga yang ia berikan tadi bersama caption: Gumawo.. mulutnya terbuka tak percaya, “Ini…” ucapnya tak percaya sambil tersenyum lebar, lalu berbalik dan memandang ke arah rumah Soyu. Gadis itu terlihat di jendela lantai dua tersenyum padanya. Ia melambai pada gadis itu sambil tersenyum lebar.
Soyu menunduk malu sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga, lalu memandang Yoseop sambil melambai kecil. Kemudian langsung menutup jendela dan berlari menjauhi jendela.
Yoseop gemas sendiri dengan kelakuan Soyu, “Aigoo.. neumo keyowa!” ucapnya. Ia terkejut merasakan rintik-rintih hujan menjatuhi kepalanya, “Omo! Hujan!!” serunya dan berlari menuju halte bis.
Soyu yang sangat malu berguling-guling di tempat tidurnya sambil menutup kedua pipinya dengan tangan. Senyumannya menghilang mendengar suara rintik hujan, matanya membesar menatap ke jendela. “Hujan?! Omo! Yoseop!” ia langsung bangkit dan berlari keluar dari kamar.
Yoseop tiba di halte tepat waktu sebelum hujan membasahi seluruh tubuhnya. Namun, halte bukan tempat yang tepat. Karena atap halte bocor di setiap sisinya. Ia berdiri sambil mendongak memandang tetesan-tetesan air yang mengenai bahunya dari langit-langit, lalu menghela nafas dalam sambil menunduk lesu. “Aigoo.. kenapa harus hujan?” keluhnya sembari bergerak duduk, tidak peduli tetesan air terus berjatuhan. Beberapa menit kemudian, ia tak merasakan tetesan air lagi. kepalanya menoleh ke bahu dan mendongak, ada sebuah payung. Kepalanya menoleh ke sisi lain dan tertegun melihat Soyu berdiri di sebelahnya bersama sebuah paying besar. “Soyu-a..”
Soyu tersenyum tipis, “Kenapa kau tidak membawa payung?’
Yoseop tersenyum, “Untung aku tidak bawa payung..”
Soyu tertawa kecil dan bergerak duduk di sebelah Yoseop masih sambil memegang payung untuk melindungi mereka dari hujan.
Keadaan hening cukup lama.
“Mmm.. kau masih marah padaku?” Tanya Yoseop hati-hati.
Soyu memandang kebawah dan menggeleng pelan.
Yoseop tersenyum, “Jeongmal?”
Soyu memandang Yoseop dengan kedua pipi merona, lalu tersenyum sambil mengangguk.
“Aigoo! Neomu yeppeutta!” ucap Yoseop gemas sambil mencubit pipi Soyu.
“Ya..” ucap Soyu malu.
Yoseop tertawa kecil, ia sangat senang hujan turun saat itu. ia menatap gadis itu dalam. Dengan pipi merona Soyu terlihat semakin imut. Satu tanganya terulur memegang pipi gadis itu, lalu memajukan wajahnya.
Mata Soyu membesar merasakan bibir Yoseop di bibirnya. Seluruh tubuhnya kaku untuk beberapa detik.
Yoseop menarik wajahnya dan tersenyum melihat wajah shock Soyu. Kedua tangannya bergerak memegang kedua pipi gadis itu dan memajukan wajahnya lagi.
Soyu mencengkeram pegangan payung di tangannya, namun lama kelamaan ia bisa menguasai diri dan memejamkan matanya.
–|||–
DARRRR!!!
Hyuna terbangun dari tidurnya karena suara petir yang menyambar. Ia mencengkeram selimutnya sambil memandang sekitar. “Eo-eoteokhe?” gumamnya takut. Tangannya terulur dan menghidupkan lampu meja, namun tidak menyala. “Ahh.. eoteokhe?!” ucapnya takut karena listrik padam.
DARRRR!!
“KYAAAA!!!” teriaknya sambil menutup kedua telinganya dengan tangan dan memejamkan mata erat. Jantungnya berdegup kencang. “Oppa…” panggilnya dan mulai menangis.
Sementara itu.
Hyunseung juga terbangun karena bunyi petir yang besar itu. tangannya terulur ke lampu meja namun tidak menyala, “Aissh.. pemadaman listrik..” gumamnya sebal. Awalnya ia kembali merapatkan selimutnya dan memejamkan mata, namun sedetik kemudian matanya kembali terbuka dan menoleh ke pintu. “Hyuna..” gumamnya, lalu bangkit sambil menyibak selimut dan mencari senter di laci. Setelah ketemu ia melangkah keluar dengan hati-hati dari kamar dan menuju apartemen Hyuna.
Hyuna meringkuk di bawah selimut dengan menutup kedua telinga dan matanya sambil menangis ketakutan. “Oppa.. aku takut..”
DARRR!!!
“KYAAAAA!!” teriak Hyuna lagi.
Hyunseung tersentak mendengar suara petir yang tiba-tiba tadi, “Aissh..” gumamnya sambil mengelus dadanya, lalu kembali melangkah menuju pintu apartemen Hyuna. Tangannya terulur dan menekan bel, namun ia baru ingat listrik tidak menyala, jadi tidak ada gunanya menekan bel. Tangannya bergerak mengetuk pintu, “Hyuna! Kau di dalam?” panggilnya sambil mengetuk.
Hyuna membuka matanya karena mendengar ketukan di pintu.
“Kim Hyuna!! Ini Hyunseung oppa!!” seru Hyunseung karena Hyuna tak kunjung membuka.
Hyuna langsung menyibak selimutnya, “Hyunseung oppa?” ucapnya, lalu segera turun dari tempat tidur dan berlari kecil keluar kamar.
“Hyuna-a..” panggil Hyunseung lagi, ia terkejut tiba-tiba pintu terbuka.
Hyuna lega melihat Hyunseung, “Oppa…” ucapnya dan langsung memeluk pria itu sambil menangis ketakutan. “Oppa, aku takut..”
“Ne.. ne..” ucap Hyunseung sambil mengelus rambut Hyuna, “Gwenchana, oppa ada disini. Khaja.. ke apartemen oppa..” ucapnya sambil menutup pintu dan merangkul gadis itu kembali ke apartemennya.
–|||–
Dongwoon melangkah keluar dari kawasan sekolah sambil membaca forum chat, ia agak heran tidak ada satu pun yang memulainya.
“Son Dongwoon..”
Dongwoon berhenti dan menoleh. Wajahnya berubah tanpa ekspresi begitu melihat Jina.
Jina tersenyum canggung dan melangkah menghampiri Dongwoon, “Annyeong..” sapanya.
“Mwo?” Tanya Dongwoon dingin.
Jina mengelus belakang telinganya bingung, “Mmm.. Kudengar kau sudah kembali serius belajar lagi.. Itu sangat bagus..” ucapnya sambil tersenyum kaku.
Dongwoon diam sejenak, lalu mengangguk. “Ne..” ucapnya, lalu membungkuk sopan dan melangkah pergi.
“Son Dongwooon..” panggil Jina lagi.
Dongwoon kembali berhenti namun tidak langsung berbalik.
Jina menatap punggung Dongwoon penuh sesal, “Cesongeyo..”
Dongwoon memejamkan matanya mendengar ucapan Jina. Ia benar-benar tidak ingin mendengar kalimat itu.
“Aku tidak minta maaf agar kau menjadikanku guru les-mu lagi, tapi….” Jina menunduk bingung sambil menggigit bibir bawahnya. “Mmm.. aku hanya ingin minta maaf padamu..” ucapnya melanjutkan.
Dongwoon berbalik memandang Jina dan tersenyum.
Jina lega melihat senyuman Dongwoon, bibirnya langsung membentuk senyuman juga.
“Aku tidak butuh permintaan maafmu..” ucap Dongwoon.
Senyuman Jina lenyap seketika, “Ne?”
Dongwoon masih tersenyum manis, “Aku.. tidak.. butuh..” ucapnya jelas setiap katanya, “..Kau..” lanjutnya. Ia sama sekali tidak memperlihatkan wajah dingin, melainkan senyuman manisnya.
Jina tertegun mendengar ucapan Dongwoon, “Dongwoon-a?”
“Sonsaengnim.. Terima kasih waktu sia-sia yang kau berikan untukku.. Semoga kau mendapatkan murid lain yang lebih menurutimu..” ucap Dongwoon, lalu membungkuk sopan. Lalu kembali berdiri tegap dan tersenyum pada gadis itu dan melangkah pergi.
Jina hanya berdiri tempatnya. Memandangi punggung Dongwoon yang semakin jauh. Saat itu, ia benar-benar merasa terluka. Bukan karena ucapan pria itu melukai hatinya, tapi karena ia telah menyakiti pria itu.
–|||–
“Ne? Jadi dia benar-benar sakit?” Tanya Yoseop tak percaya ketika ia dan teman-temannya berkumpul di kafe biasa.
Dujun meminum air di gelasnya melalui pipet, lalu mengangguk sambil tersenyum sedih. “Ne..”
“Omo.. omo.. kau tersenyum tapi kenapa membuatku merinding?” ucap Gikwang sambil mengelus lengannya.
“Apa tidak bisa di sembuhkan?” Tanya Hyunseung ingin tau.
Dujun memandang Gikwang, Yoseop dan Hyunseung yang menatapnya menunggu jawaban bergantian. Lalu memandang ke bawah sedih, “Dokter berkata mungkin tidak bisa..”
“Mungkin? Masih mungkin kan? Kenapa dia tidak mencoba pengobatan di luar negeri? Mungkin masih bisa di sembuhkan kan?” Tanya Yoseop yang tidak terima dengan fakta itu. bahwa temannya yang playboy akhirnya menemukan gadis yang benar-benar di cintai tapi malah tidak bisa bertahan lama.
Dujun memandang teman-temannya sambil tersenyum, “Keurom, aku sudah mencari beberapa informasi. Dan aku menemukan tentang pengobatan Leukimia di Jepang yang sedang di bicarakan.”
“Lalu, apa dia akan melakukannya?” Tanya Gikwang.
“Keluarganya masih membicarakan hal itu, kuharap dengan ini Jihyun bisa bertahan..” jawab Dujun.
“Horrl.. kenapa mataku berkaca-kaca?” ucap Yoseop sambil menahan tawa dan memejamkan matanya.
“Gadis ini benar-benar mengubahmu, aku salut padanya..” ucap Hyunseung kagum.
“Oh.. itu Junhyung..” uacp Gikwang yang melihat seorang pria mengenakan jaket bertudung dan kacamata masuk.
Junhyung menghampiri teman-temannya dan duduk, “Huuft.. akhirnya..” gumamnya sambil melepaskan kacamata, “Hei semua..” sapanya dan tertegun melihat Dujun, “Oh.. ceritakan tentang Jihyun. Kalian sudah terbuka satu sama lain? Bagaimana?” tanyanya penasaran.
“Ya… kau baru tiba jangan terburu-buru seperti itu..” ucap Yoseop lucu.
“Ne.. kau ini..” ucap Gikwang menahan tawa.
“Wajar saja, dia kan sangat sibuk untuk bertanya pada Dujun..” ucap Hyunseung membela.
“Diamlah..” ucap Junhyung sebal dan kembali menatap Dujun ingin tau.
Dujun tersenyum tipis, “Ne..”
Junhyung menghela nafas lega, “Ahh.. syukurlah..” ucapnya sambil mengelus dada.
“Wae? Hyojin-ssi tidak memberitaumu?” Tanya Dujun tak mengerti.
“Aniya.. Dia selalu tidak mau membicarakannya.. Saat aku bertemu dengannya di hari dia membawamu kesana, dia malah menangis dan tidak mau menceritakan apa pun padaku. Aissh..” gerutu Junhyung kesal.
“Ohh.. ne.. wajar jika dia tidak mau membicarakannya..” ucap Dujun menyesal.
“Wae?” Tanya Junhyung bingung.
“Ya.. jelaskan dulu siapa ‘Hyojin-ssi’ yang kalian bicarakan ini..” ucap Gikwang sebal.
Junhyung menatap Gikwang sebal, “Aissh.. nanti dulu!” ucapnya dan kembali menatap Dujun. “Waekeure? Apa yang terjadi saat itu?”
Dujun menghela nafas dalam, “Itu.. teman yang biasa ia kunjungi di ruangan yang sama dengan Nam Jihyun. Kau tau tentangnya?”
“Ohh.. dia.. Aku pernah mendengar tentangnya beberapa kali..” jawab Junhyung sambil mengangguk.
“Ne.. Pria itu sudah mendapat jadwal operasi untuk pencangkokan paru-paru, tapi karena kondisinya yang terus menurun..” Dujun menggantung ucapannya sejenak dengan wajah sedih.
Junhyung tertegun dan menatap Dujun tak percaya dengan mata membesar. “Andwae.. jangan bilang dia….”
“..meninggal..” lanjut Dujun.
Junhyung mendapat titik terang dari semua sikap aneh Hyojin saat itu. mendadak ia jadi merasa bersalah karena tidak peka. Seharusnya ia menghibur gadis itu, bukan semakin mengganggunya.
“Ya.. kenapa kalian membahasnya hanya berdua? Kami juga ingin tau..” ucap Hyunseung sebal.
Dujun tersenyum memandang teman-temannya karena Junhyung masih terlihat shock. “Dia penulis lagu Junhyung, namanya Ahn Hyojin..”
Tiga pria lain mengangguk mengerti.
“Hmm.. begitu..” ucap Gikwang.
Dahi Yoseop berkerut, “Ahn Hyojin?”
“Ne, wae?” Tanya Dujun.
Yoseop memandang Hyunseung, “Kenapa aku seperti pernah mendengar nama itu ya? Bagaimana denganmu?”
Junhyung tertegun dan menatap teman-temannya.
Hyunseung berpikir sejenak, “Mmm.. sepertinya..”
Junhyung mulai di dera panic karena teman-temannya yang lain mungkin masih mengingat Hyojin walaupun waktu sudah lama berlalu.
“Nugu?” Tanya Dujun ingin tau.
“Aku ingat!” ucap Gikwang, “Itu.. gadis yang menyukai Junhyung ketika SMA itu! bukankah namanya Ahn Hyojin?”
Seluruh tubuh Junhyung terasa dingin.
“Ahh.. benar.. gadis itu.. Wuaa.. nama seperti itu pasaran ya? Hahahaha..” canda Yosep.
Dujun mengerutkan dahinya berusaha mengingat-ingat karena setelah mendengar ucapan teman-temannya membuat kenangan di masa lalu kembali muncul.
Hyunseung memandang Junhyung, “Apa Ahn Hyojin yang kalian maksud orang yang sama?”
Junhyung  terkejut, “Ne? “ ia langsung berusaha memutar otak untuk menjawab pertanyaan Hyunseung.
“Eiii.. tidak mungkin. Ahn Hyojin yang itu gadis aneh.. Kutu buku.. Juga penggemar Junhyung. Dia bahkan menyatakan cintanya pada Junhyung di muka umum, mana mungkin orang yang sama dengan yang membuat lagu-lagu keren Junhyung..” ucap Yoseop memberikan opininya.
Junhyung terpaku mendengar ucapan Yoseop, ‘Mati aku!’ batinnya.
“Mmm.. kurasa benar juga..” ucap Dujun, “Sepertinya aku tidak pernah melihat Ahn Hyojin yang ini sebelumnya..”
Gikwang tertawa kecil, “Lagi pula mana mungkin Junhyung bergaul dengan orang seperti itu.. hahaha.. benarkan?”
Junhyung benar-benar tidak tau harus mengatakan apa, namun ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena sangat memalukan. Bibirnya langsung membentuk senyuman kecut dan mengeluarkan ponselnya berpura-pura sibuk agar tidak di tanyai lagi.

<<Back           Next>>

Advertisements

5 thoughts on “How To Love [Chapter 21]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s