Uncategorized

How To Love [Chapter 20]

Chapter 20

image

-Un Love Me-

PLAK!!
Wajah Jina menghadap satu sisi karena tamparan ibu Dongwoon.
“Kau memberitaunya?!” Tanya ibu Dongwoon marah.
Jina menunduk sambil memegang pipinya, “A-aniyo, sajangnim.. Dia sudah mengetahuinya.. Karena itu dia berlaku seperti itu.. Dia selalu bertingkah menyebalkan setiap kali aku mengajar juga tidak mau belajar..”
Ibu Dongwoon memijat pangkal hidungnya frustasi, “Ahh! Kenapa ini harus terjadi?!”
“Cesonghamida, sajangnim..” Ucap Jina menyesal.
Ibu Dongwoon menatap Jina kesal, “Kau bisa pergi..” Ucapnya dan memalingkan wajah.
–|||–
Junhyung sudah bersiap untuk pestanya malam ini. Teman-temannya akan datang, juga semua orang-orang yang berjasa untuk comeback-nya kali ini.
“Oke, selesai.. Kau tampan seperti biasa, Junhyung-a..” puji stylist Junhyung setelah mendandani pria itu.
Junhyung tersenyum tipis, “Gumawoyo noona..” ucapnya.
“Keure, kita akan berangkat ke klub setengah jam lagi. aku akan bersiap dulu..” ucap stylist itu dan melangkah pergi.
Junhyung memperhatikan stylistnya hingga menghilang di balik pintu, lalu merogoh saku di balik jaketnya dan mengeluarkan sesuatu. Ia memajukan duduknya dan menyandarkan tangannya yang memegang photo yang ia temukan kemarin. Kenangan itu, sekarang justru membuatnya merasa bersalah. Ia kembali menyimpan photo itu di tempat semula dan bergerak bangkit.
Studio.
Junhyung masuk ke studio dan memastikan tidak ada siapa pun disana, baru melangkah masuk dan menutup pintu. Ia memperhatikan ke bagian bawah sambil mengeluarkan photo tadi dari saku jaketnya, ‘Dimana sebaiknya aku meletakkan ini?’ batinnya. Matanya menemukan tempat yang pas, di bawah meja kendali music. Dengan cepat ia berjongkok kesana dan meletakkan photo, lalu segera berdiri lagi. ketika berbalik, ia terkejut tiba-tiba pintu terbuka.
Hyojin masuk dan juga terkejut melihat Junhyung, “Omo! Kenapa kau disini?”
“Hm? Oh.. aku.. aku mencari Jihoon hyung, tapi sepertinya tidak disini.. Ahh.. dimana dia di detik terakhir ini?” gerutu Junhyung sembari melangkah keluar melewati Hyojin.
Dahi Hyojin berkerut memperhatikan Junhyung pergi, “Mwoya?” gumamnya aneh dan bergerak duduk di kursinya.
Begitu keluar dari studio, Junhyung langsung menghela nafas lega sambil mengelus dadanya. “Ahhh.. hampir saja..” gumamnya, dan memandang ke pintu memastikan Hyojin tidak keluar. “Oh.. kenapa dia ada disini? Dia tidak pergi ke pestaku?” gumamnya sendiri.
Hyojin mendorong kursinya mundur karena terlalu dekat meja, namun matanya malah menemukan sesuatu. “Hm? Apa itu?” gumamnya dan mengambil kertas di bawah meja. Matanya membesar melihat itu adalah photo di buku liriknya, “Ohh.. ini dia!” ucapnya senang, bibirnya membentuk senyuman melihat photo itu masih disana.
Junhyung kembali membuka pintu, namun mulutnya tidak sempat bergerak karena melihat Hyojin tersenyum senang memandang photo di tangan gadis itu. melihat gadis itu terlihat senang membuatnya juga merasakan hal yang sama. Ia membatalkan niatnya untuk bertanya dan memutuskan keluar lagi.
–|||–
Dujun tergesa-gesa masuk ke tempat acara dan langsung mencari-cari dimana Junhyung, begitu menemukan temannya itu ia langsung menghampirinya. “Yong Junhyung!”
Junhyung menoleh dan tersenyum, “Dujun! Kau datang!!” serunya girang karena sudah lama tidak melihat temannya yang satu itu.
“Aku datang tidak untuk itu!” ucap Dujun memotong Junhyung yang hendak memeluknya.
Junhyung menatap Dujun sebal, “Mwo?”
“Darimana kau tau tentang Jihyun?!” Tanya Dujun langsung, matanya membesar dan memegang kedua bahu Junhyung, “Cepat katakan!”
Junhyung tertegun melihat tatapan Dujun, ini pertama kalinya ia melihat tatapan frustasi dari sahabatnya ini. “Dujun-a, tenangkan dirimu—“
“CEPAT KATAKAN!!” teriak Dujun.
Seluruh orang disana terkejut dan menatap kearah mereka berdua, bahkan DJ juga menghentikan music yang ia mainkan.
Yoseop, Hyunseung dan Gikwang yang sudah ada disana segera menyadari apa yang terjadi dan menghampiri teman mereka.
“Ya.. ada apa denganmu?” Tanya Yoseop tak mengerti.
Sebulir air jatuh dari mata Dujun, teman-temannya langsung terpaku dan hanya bisa saling berpandangan. “Bagaimana kau tau? Dimana dia? Jebal… beritau aku..” pintanya.
Junhyung melepaskan tangan Dujun dari bahunya perlahan, “Ne.. aku akan memberitaumu..” ucapnya.
–|||–
Hyojin melirik Dujun yang berdiri di sisi lift bersamanya. Pria itu masih tidak menyadari siapa dirinya, ia justru merasa risih sendiri.
“Aissh! Kenapa liftnya lama sekali?!” Tanya Dujun sambil menekan tombol lantainya berkali-kali.
Hyojin menahan tangan Dujun dan menariknya menjauh dari papan tombol, “Yoon Dujun-ssi! Jangan panic, kita akan segera tiba di lantainya.” Ucapnya menenangkan.
Dujun benar-benar kehilangan akal sehatnya. Tangannya bergerak memegang dahinya dan memejamkan matanya sesaat, lalu menatap Hyojin. “Apa kau yakin itu dia? Apa kau tidak salah lihat?!”
Hyojin menghela nafas dalam dan mengangguk, “Ne, aku yakin itu dia..”
Dujun merasakan sayatan di hatinya mendengar ucapan Hyojin. Kepalanya menoleh begitu pintu terbuka dan berlari keluar.
“Yoon Dujun-ssi..” panggil Hyojin sambil mengikuti Dujun dan memimpin jalan.
“Jihyun-a, kau mau jeruk lagi?” Tanya Jaebom pada Jihyun yang duduk di tempat tidur dengan seragam pasien.
Jihyun tersenyum dan menggeleng, “Aniya, aku masih kenyang..”
Jaebom tersenyum, “Jika kau ingin, katakan padaku..”
“Ne..” jawab Jihyun. Ia menoleh ke arah pintu karena ada seseorang yang masuk, senyumannya langsung menghilang dengan mata membesar begitu melihat Dujun.
Dujun terpaku melihat Jihyun ada disana menatapnya.
Jaebom berdiri dan menghampiri Dujun, “Maaf, kau tidak bisa masuk kemari..” ucapnya sambil mendorong pria itu.
“Lepaskan!” seru Dujun sambil mendorong Jaebom dan kembali menatap Jihyun tak percaya.
Hyojin masuk dan tertegun melihat suasana yang sudah panas.
Kedua mata Dujun memerah mengetahui kenyataan bahwa Jihyun benar-benar sakit keras.
“Dujun-a..” ucap Jihyun berusaha terdengar serius, “Kenapa kau disini? Tidak perlu khawatir, aku hanya demam biasa..” ucapnya.
Jaebom memegang bahu Dujun sambil mendorong pria itu, “Kumohon keluar..” ucapnya.
Dujun mendorong tangan Jaebom masih tetap menatap Jihyun. Kakinya melangkah pelan menghampiri tempat tidur gadis itu. sebulir air jatuh dari matanya.
Jaebom tidak bisa menghentikan Dujun setelah melihat tatapan pria itu.
Jihyun menatap Dujun sedih, namun tetap berusaha memberikan senyuman terbaiknya. “Waekeure? Aku tidak parah kok.. aku hanya—“ ucapannya terputus merasakan pelukan erat pria itu di tubuhnya.
Dujun mendekap Jihyun dan memejamkan matanya. Ia tidak tau harus mengatakan apa, yang ia ingin hanya mendekap gadis itu dan tak akan melepaskannya lagi.
“Du-Dujun-a..” ucap Jihyun sambil melepaskan pelukan Dujun, namun pria itu mempererat pelukan, “Dujun..”
“Jebal…” ucap Dujun akhirnya.
“Ne?” ucap Jihyun bingung.
“Jebal… Jangan tinggalkan aku, Nam Jihyun..” mohon Dujun sepenuh hati.
Jihyun terenyuh mendengar ucapan Dujun. Kedua matanya langsung di penuhi air.
“Meskipun tidak banyak waktuku bersamamu, aku akan menghabiskan semuanya.. seluruh hidupku..” ucap Dujun sepenuhn hati, bulir air menyelinap dari pelupuk matanya.
Bulir air mata Jihyun mulai berjatuhan dan memegang tangan Dujun yang memeluknya, “Dujun..”
“Hajima!” potong Dujun dan mempererat pelukannya, “Jangan katakan apa pun jika kau ingin aku pergi..”
Jihyun tidak bisa mengatakan apa pun lagi. matanya bergerak memandang Jaebom yang berdiri menatapnya dengan tatapan terluka.
Hyojin menatap Dujun dan Jihyun sedih, lalu memandang Jaebom. Pria itu terlihat sangat terluka. Tangannya terulur dan memegang bahu pria itu.
Jaebom memandang Hyojin yang menatapnya menyesal. Bibirnya membentuk senyuman tipis dan mengangguk mengerti, lalu kembali memandang Jihyun. “Aku akan keluar sebentar..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan keluar.
Hyojin memperhatikan Jaebom keluar dan memandang ke bawah sedih, lalu kembali memandang Dujun dan Jihyun yang sekarang sudah saling menatap satu sama lain dengan air mata bercucuran. Paling tidak ini happy ending yang lebih baik. Bibirnya membentuk senyuman tipis dan berbalik untuk keluar juga, namun saat itu ia baru menyadari tempat tidur di sebelah tempat tidur Jihyun kosong. dahinya berkerut dan segera keluar. Ia melihat Jaebom berdiri sambil menatap keluar jendela sedih dan menghampiri pria itu, “Park Jaebom-ssi..”
Jaebom menoleh, “Ne?”
“Mmm.. maaf, aku tau mungkin ini bukan saat yang tepat bertanya. Tapi kenapa tempat tidur yang satunya kosong? Apa Gwangsuk sudah mendapat donor paru-parunya?” Tanya Hyojin hati-hati.
Jaebom diam sejenak, “Gwangsuk?”
“Ne..” jawab Hyojin sambil mengangguk.
–|||–
Junhyung menghentikan mobilnya di depan rumah sakit dan memperhatikan, “Disini atau bukan ya?” gumamnya ragu. Ia merapatkan topi dan kacamata hitamnya lagi ketika ada orang yang berlalu. “Aissh.. kenapa aku tidak bertanya dulu sih?” gumamnya kesal. “Apa aku harus parkir disana?” gumamnya lagi karena melihat parkiran rumah sakit, ketika itu matanya melihat Hyojin yang melangkah keluar dari kawasan rumah sakit seorang diri. “Oh.. Hyojin..” ia segera menjalankan mobilnya mendekati trotoar tempat gadis itu berjalan. Ia menghentikan mobilnya lagi dan menurunkan kaca sambil menekan klakson.
DIN!
Hyojin tersentak dan menoleh ke arah mobil yang tiba-tiba membunyikan klakson.
“Hyojin-ssi!” panggil Junhyung dari dalam mobil.
Hyojin membungkuk sedikit dan melihat Junhyung, “Oh.. Junhyung-ssi..” ucapnya sambil menghampiri mobil.
Junhyung tersenyum tipis, “Bagaimana Dujun? Dimana dia?”
“Dujun-ssi? Oh.. dia masih di dalam, dia berkata akan tetap disini bersama Jihyun-ssi..” jawab Hyojin.
“Hmm.. syukurlah..” ucap Junhyung lega, “Masuklah.. kau akan kembali ke studio kan?”
“Ne? oh.. gwenchana. Aku akan mengurus sesuatu dulu. Kau pergi saja..” ucap Hyojin, lalu melangkah lagi.
Junhyung mengerutkan dahi melihat ekspresi Hyojin yang terlihat tidak fukos, ia menginjak gasnya perlahan mengikuti gadis itu, “Hyojin-ssi! Masuklah.. aku bisa mengantarkanmu..” panggilnya.
Hyojin berhenti sambil menghela nafas dalam, lalu bergerak menghampiri mobil dan masuk tanpa mengatakan apa pun.
Junhyung senang Hyojin masuk tanpa perlu membujuk lagi, “Oke, kenakan sabuk pengamanmu…” ucapnya.
Hyojin menarik sabuk pengaman di sisi kanannya dan mengenakannya, lalu hanya menatap lesu ke depan.
Junhyung kembali menjalankan mobilnya. Ia merasa canggung sesaat karena keheningan panjang disana, “Mmmm.. apa kau melihat Jihyun juga?” tanyanya memecahkan keheningan.
“Ne..” jawab Hyojin pendek sambil memandang keluar jendela.
Junhyung melirik Hyojin bingung, lalu kembali memandang ke depan. “Apa mereka berbaikan lagi?”
“Sepertinya..” jawab Hyojin lagi.
Junhyung merasa semakin canggung karena jawaban singkat Hyojin, “Mmm.. neo gwenchana?”
“Gwenchana…” jawab Hyojin pelan.
Junhyung berusaha memutar otak untuk mencairkan suasana disana, “Mmm.. kau bilang temanmu juga di rawat di kamar yang sama dengan Jihyun..” ucapnya memulai, “Apa kau bertemu dengannya tadi?” tanyanya, namun tidak ada jawaban. Matanya melirik gadis itu, namun gadis itu tampak memalingkan wajah menahan tangis. “Oh! Hyojin-ssi, waekeureyo?”
Hyojin menghela nafas dalam untuk menetralkan perasaannya dan memandang kedepan, “Aniya, gwenchana..” ucapnya tenang.
“Waeyo? Aku mengatakan sesuatu yang salah?” Tanya Junhyung tak mengerti.
“Aniya..” jawab Hyojin.
“Miane, aku tidak bermaksud membuatmu sedih..” ucap Junhyung sedih.
“Aniya!” seru Hyojin pada Junhyung.
Junhyung terkejut, “Oh! N-ne, arrasso..” gumamnya pelan.
Hyojin menghela nafas dalam dan memandang kebawah, “Bukan salahmu..” ucapnya pelan, “Ini semua karena Gwangsuk..”
Junhyung tertegun, “Gwangsuk? Nugu?”
Akhirnya pertahanan Hyojin runtuh. Bulir-bulir air berjatuhan dari matanya, “Gwangsuk… dia memberitauku tentang bahwa ada donor paru-paru untuknya.. Dia tersenyum lebar dan berkata akan sembuh.. Anak bodoh ini….” Ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.
Junhyung menepikan mobilnya dan menunggu apa yang akan di katakan Hyojin selanjutnya.
Hyojin memandang Junhyung, “Ibunya sangat menunggu hari itu.. semua orang berharap melihatnya kembali berlatih menari.. Tapi kenapa…..” ia tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.
Junhyung bingung sendiri apa yang harus ia lakukan melihat Hyojin menangis. Tangannya kaku mendekati gadis itu dan mengelus bahunya. Meskipun ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi paling tidak ia bisa membuat gadis itu merasa nyaman kan.

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “How To Love [Chapter 20]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s