beast · Cube

How To Love [Chapter 19]

Chapter 19

image

-Love is Ouch!-

Gikwang masuk ke pepustakaan dan mengedarkan pandangannya sejenak, bibirnya membentuk senyuman melihat Hyerin sudah duduk di tempat biasa mereka bertemu sambil membaca buku. Gadis itu memang tidak bertubuh tinggi dan terlihat bak super-model. Oh Hyerin memiliki pipi chubby yang akan merona ketika tersipu, mata bundar dan bibir kecil. Selalu menggunakan model rambut berponi yang membuatnya terlihat imut.
Ketika ia hendak melangkah ke arah gadis itu, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Ia mengeluarkan ponsel dan melihat layarnya.
Im Na Na : Gikwang-i, odia? Aku ingin bertemu denganmu..
Gikwang diam sejenak setelah membaca pesan tadi, lalu mengangkat wajahnya memandang Hyerin yang menopang pipi dengan tangan sambil membaca buku. Ia menimbang sejenak apakah ia harus menemui Nana atau tidak. Namun akhirnya ia menyimpan ponsel di saku dan melangkah menghampiri Hyerin.
Hyerin mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang duduk. Ia tertegun melihat Gikwang duduk di depannya sambil tersenyum, ia langsung menunduk malu.
Gikwang melipat kedua tangannya di meja dengan senyuman manis yang memperlihatkan eye-smile-nya. “Annyeong.. Kau sudah lama disini?”
Hyerin terkejut mendengar pertanyaan Gikwang, “Ne? Oh… Ne..” Jawabnya gugup.
Gikwang tertawa lucu melihat kedua pipi Hyerin memerah, “Aigoo.. Keyomne..” Ucapnya gemas.
Hyerin menatap Gikwang kaget, “Ne?” Ucapnya bingung, lalu tersipu malu.
Gikwang sangat senang melihat Hyerin tersipu karena ucapannya. Lalu menopang dagunya dengan satu tangan, “Kau mau makan siang bersamaku?”
Hyerin menatap Gikwang kaget lagi.
“Aku sangat ingin membawa seorang gadis bertemu dengan teman-temanku, tapi tidak ada yang mau.. Hmm.. Sepertinya aku harus meminta orang lain lagi..” Ucap Gikwang berpura-pura memikirkannya.
“Aku!!” Ucap Hyerin cepat, lalu menunduk malu sendiri.
Gikwang mengangguk setuju, “Keure, nanti siang aku akan membawamu bertemu teman-temanku..” Ucapnya senang.
Hyerin tersenyum malu dan menyelipkan rambutnya di belakang telinga.
–|||–
“Oppa…” Panggil Hyuna ketika melihat Hyunseung di depan lift.
Hyunseung menoleh dan tersenyum melihat Hyuna, “Oh.. Hyuna-a..”
Hyuna berhenti di sebelah Hyunseung, “Oppa, apa aku masih belum bisa bertemu Joon oppa?” Tanyanya dengan mata memelas.
Hyunseung diam sejenak, “Mmm.. Entahlah.. Aku belum yakin..” Ucapnya ragu.
Hyuna menghela nafas dalam dan memandang ke bawah sedih, “Kenapa lama sekali? Ini sudah hampir sebulan..”
Hyunseung diam sejenak sambil berpikir, “Bagaimana jika begini..” Ucapnya memulai, membuat Hyuna memandangnya. “Aku akan menghubungi pihak panti dulu, jika mereka sudah menyetujuinya aku akan membawamu kesana..”
Hyuna langsung tersenyum lebar, “Jinjaru?!”
Hyunseung mengangguk dengan senyuman di wajahnya, “Ne..”
Hyuna terlihat kegirangan sendiri, “Yess!” Ucapnya riang.
Hyunseung menatap Hyuna lucu dan mengelus rambut gadis itu gemas.
–|||–
Suasana di ruangan itu menjadi sangat canggung ketika Jina datang untuk mengajar.
Jina melirik Dongwoon yang sedang mengerjakan soal. Ia ingin bertanya tentang kejadian kemarin, namun ia terlalu malu untuk melakukannya.
Dongwoon memberikan buku jawabannya, “Ini..” Ucapnya.
“Hm? Sudah selesai?” Tanya Jina bingung sambil memandang buku Dongwoon.
“Ne..” Jawab Dongwoon santai.
Dahi Jina berkerut melihat jawaban Dongwoon dan menatap pria di depannya tak mengerti, “Ya.. Son Dongwoon..”
“Wae?” Tanya Dongwoon dengan wajah tak berdosa.
Jina terlihat sangat kesal, “Ige mwoya?”
Dongwoon memandang buku di tangan Jina, “Jawabanku..” Ucapnya santai.
Jina menghela nafas dalam sambil memalingkan wajahnya, lalu kembali menatap Dongwoon. “Apa kau benar-benar tidak mengerti? Apa ini? Kau sengaja menjawabnya seperti ini kan?!”
“Guru macam apa yang mengatakan itu pada muridnya?” Tanya Dongwoon tak mengerti, “Jika muridmu tak mengerti, kau harus mengajarinya sampai mengerti..”
“Son Dongwoon!” Tegas Jina kesal.
“Wae?” Tanya Dongwoon sebal.
Jina menatap Dongwoon kesal sejenak, “Kau marah padaku?”
“Kenapa aku harus marah padamu?” Tanya Dongwoon tak mengerti.
“Lalu apa ini?” Tanya Jina sambil memberikan buku Dongwoon lagi.
“Waeyo? Ini jawabanku. Wae? Kau tidak suka? Lalu kenapa kau mengajariku?” Tanya Dongwoon santai.
PLAK!
Wajah Dongwoon menghadap ke satu sisi karena tamparan Jina. Ia terdiam sesaat dan kembali menatap gadis itu, “Apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan tatapan marah pada gadis itu.
“Lupakan, aku tidak akan datang kemari lagi.” Ucap Jina, lalu bangkit dan membereskan barang-barangnya.
Kemarahan Dongwoon memuncak, dengan cepat ia menendang meja di depannya hingga terjatuh dan membuat semua diatasnya berantakan ke lantai.
Jina terkejut dan menatap Dongwoon marah, “Son Dongwoon!!”
Dongwoon bergerak bangkit dengan tatapan dinginnya pada Jina, “Wae? Kau akan menamparku lagi? Atau kau akan memukulku dengan sesuatu di ruangan ini?”
Jina menatap Dongwoon marah. Wajahnya memerah seperti menahan sesuatu yang siap meledak di kepalanya. Ia tidak mempedulikan buku-bukunya yang berserakan di lantai dan hanya mengambil tasnya, lalu berbalik ke pintu.
“Kha..” Ucap Dongwoon ketika Jina sudah memegang pegangan pintu.
Jina terpaku di tempatnya tanpa berbalik.
“Meskipun kau dan semua orang pergi, aku tidak peduli..” Ucap Dongwoon dingin.
Jina menghela nafas dalam dan berbalik menatap Dongwoon, “Son Dongwoon, aku mengerti apa yang kau pikirkan. Kau ingin memberitau ibumu tentang apa yang kau rasakan kan?”
Dongwoon tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. “Pergilah.. Jangan kembali lagi..” Ucapnya.
Jina kembali menghela nafas dalam dan melangkah mendekati meja, lalu menegakkannya lagi. Setelah meletakkan tasnya di kursi, ia memunguti buku-buku, pena dan alat tulis lainnya. “Waktu yang tersisa masih satu jam.. Duduklah..” Ucap Jina sembari duduk lagi seperti tidak terjadi apa pun.
“Shiro..” Ucap Dongwoon, lalu mengambil jaket dan berjalan keluar dari kamarnya.
Jina menghela nafas dalam dan bangkit sambil membawa tasnya, “Dongwoon, tunggu..” Panggilnya sembari menuruni tangga mengikuti Dongwoon.
“Oh, Dongwoon-a..” Panggil ibu Dongwoon yang melihat putranya menuruni tangga.
Langkah Dongwoon berhenti, begitu juga dengan Jina yang terkejut melihat ibu pria itu dirumah. Biasanya wanita itu akan berada di perusahaan hingga malam.
“Ohh.. Sajangnim, anda sudah pulang? Annyeonghaseyo..” Sapa Jina sambil membungkuk sopan di anak tangga terakhir.
“Dongwoon-a, odiso?” Tanya ibu Dongwoon sambil melangkah menghampiri putranya.
Dongwoon memandang ibunya tanpa ekspresi.
Ibu Dongwoon memandang Dongwoon bingung dan memegang pipi putranya, “Waekeure? Kalian bertengkar lagi?”
Jina melirik Dongwoon yang hanya terdiam, “Mmm.. Aniya sajangnim, aku dan Dongwoon…”
“Shikeuro..” Potong Dongwoon pada Jina.
Jina terdiam dan menatap Dongwoon tak mengerti.
“Dongwoon-a, kenapa kau tidak sopan seperti itu? Dia gurumu..” Ucap Ibu Dongwoon tak mengerti.
Dongwoon memandang ibunya, “Eomma..” Ucapnya memulai, “Aku ingin melanjutkan kuliah di Inggris..”
Jina dan ibu Dongwoon tertegun.
“Ne?” Ucap ibu Dongwoon tertegun.
“Aku harus masuk ke Harvard..” Ucap Dongwoon tanpa ragu. “Eomma tidak perlu khawatir. Tanpa guru les aku bisa melakukannya..” Ucapnya, lalu membungkuk sopan dan melangkah ke pintu depan.
Jina menatap Dongwoon tak mengerti, lalu memandang ibu Dongwoon

<<Back          Next>>

Advertisements

4 thoughts on “How To Love [Chapter 19]

  1. Masalah cii maknae gg beres” malah makin ruwet :/
    cieee kwangie nana pergi hyerin pun jdi , hahaha
    atii” ahh jangan di jadiin pelarian kan kasian hyerin nya !!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s