Uncategorized

How To Love [Chapter 18]

Chapter 18

image

-Beginning For Us-

Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi ketika Jina memapah Dongwoon yang mabuk berat ke kamar. “Dongwoon, kau bilang hanya dua gelas..” ucapnya sebal.
“Hmm..” gumam Dongwoon yang setengah sadar.
Jina membaringkan Dongwoon perlahan ke tempat tidur, namun ia terkejut ketika pria itu menariknya juga.
Dongwoon jatuh ke tempat tidur bersama Jina dan terbaring berhadapan dengan gadis itu. matanya perlahan terbuka dan memandang gadis itu depannya.
Jina masih shock dengan keadaan tiba-tiba ini, “Dongwoon, tidurlah..” ucapnya, lalu bergerak bangkit, namun pria itu menahannya.
Dongwoon dengan cepat mendorong Jina berbaring dengan punggung dengan ia di atas tubuh gadis itu.
Jina terkejut dan menatap Dongwoon dengan mata membesar, “Dongwoon!”
“Ssshh..” bisik Dongwoon dengan mata sayunya.
“Dongwoon, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku..” ucap Jina terdengar mulai khawatir.
Dongwoon memegang kedua pipi Jina dan memejamkan matanya.
Jina panik Dongwoon menciumnya, ia berusaha mendorong tubuh pria itu namun ia tak bisa, priai tu terlalu kuat. “Hmmp!!” ia berusaha berteriak namun tidak mungkin ada yang mendengarnya di jam itu.
Dongwoon memegang kedua tangan Jina dan menahannya di atas kepala gadis itu, lalu menatap gadis itu. “Kau pikir aku benar-benar mabuk?”
Jina tertegun mendengar pertanyaan Dongwoon.
Dongwoon bergerak bangkit dan melepaskan kedua tangan Jina.
Jina bergerak duduk sambil memandang Dongwoon tak mengerti.
Dongwoon melepaskan baju luarnya dan kembali ke tempat tidur, “Matikan lampu ketika keluar..” ucapnya sambil menyelimuti tubuhnya.
Jina masih terduduk di tempatnya menatap Dongwoon tak mengerti, “Son Dongwoon..”
Dongwoon membuka mata dan memandang Jina, “Mwo?”
“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” Tanya Jina tak mengerti.
“Aku akan mengatakannya besok, sekarang biarkan aku tidur..” ucap Dongwoon dan kembali memejamkan matanya.
Jina mengerutkan dahinya, lalu bergerak bangkit dan melangkah ke pintu.
–|||–
Yong Jun Hyung : Ya.. kenapa kau tidak membalas pesanku? Ada yang ingin kuberitau!
Dujun menghela nafas dalam dan membalas pesan Junhyung malas.
Yoon Doo Joon : Wae? Aku sedang tidak mood..
Yong Jun Hyung : Aku ingin memberitaumu langsung, tapi sepertinya tidak bisa karena jadwal comeback-ku. Aku juga mendengar dari yang lain kau sedang patah hati karena gadis yang bawa waktu itu akan menikah. Sebenarnya dia bukan akan menikah, tapi dia sakit keras..
Awalnya Dujun mengerutkan dahi saja membaca pesan dari Junhyung, lalu mengetik lagi.
Yoon Doo Joon : Darimana kau tau?
Yong Jun Hyung : Temanku.. Jika kau ingin tau lebih lanjut, datang ke party-ku besok malam. Yang lain sudah kuberitau..
–|||–
Soyu melangkah keluar kelas dan mengedarkan pandangannya, hari ini Yoseop tidak memiliki kelas siang. Biasanya pria itu akan menunggunya, tapi kali ini tidak ada. Ia mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan.
Kang So Yu : Yoseop-a, odia?
Yang Yo Seop : Kau sudah selesai ya? Aku di kafetaria? Mau aku kesana?
Kang So Yu : Ani.. aku saja yang kesana.. :*
Bibir Soyu membentuk senyuman dan melangkah menuju kafetaria. Namun yang ia pikirkan tidak semanis kenyataannya. Senyumannya langsung menghilang melihat pria itu duduk bersama Jieun dan tertawa lucu bersama. Wajahnya berubah datar dan melipat kedua tangannya di dada.
Yoseop menoleh ketika melihat Soyu, “Soyu-a..” sapanya riang.
Soyu menatap Yoseop sebal, lalu menatap Jieun.
Yoseop tertegun melihat tatapan Soyu dan langsung berdiri, “Oh.. aku lupa memberitaumu, tadi aku dan Jieun…”
“Apa kau tidak bisa mengganggu pria lain?” Tanya Soyu pada Jieun tanpa membiarkan Yoseop menyelesaikan ucapannya.
Jieun tertegun, “Ne?” ucapnya bingung.
“Soyu-a, jebal.. Jieun ini teman dekatku sejak SMA..” ucap Yoseop sambil memegang kedua bahu Soyu.
Soyu menatap Yoseop kesal, “Lalu jika temanmu sejak SMA kenapa? Kau tidak akan tertarik padanya? Hanya satu momen saja dan kau akan berpacaran dengannya, Yang Yoseop!”
Yoseop tertegun, “Ne? a-aniya.. tidak begitu..”
Jieun ikut berdiri, “Aniya, kami tidak seperti itu..”
Soyu menatap Jieun kesal, lalu menatap Yoseop. Kemudian mengambil tas pria itu dan menarik kekasihnya pergi.
“Ohh.. Soyu-a..” Ucap Yoseop bingung, lalu memandang Jieun dan menyampaikan permintaan maafnya tanpa suara.
Soyu terus menarik Yoseop hingga menjauh dari kafetaria.
“Kang Soyou!” Ucap Yoseop kesal sambil menahan langkahnya.
Soyu berhenti dan menatap Yoseop kesal, “Kau serius tidak denganku?! Kenapa kau masih mendekati gadis lain?!”
Yoseop menatap Soyu tak mengerti, “Gadis lain siapa? Jieun itu temanku, bukan orang lain..”
Soyu diam sejenak dengan tatapan marahnya.
Yoseop menatap Soyu tak mengerti, “Waekeure? Kau seperti bukan dirimu yang kukenal, Soyu.. Kenapa kau jadi berlebihan seperti ini? kita selalu bertengkar dan bertengkar setiap hari hanya karena hal sepele.. Apa ini yang kau inginkan dalam hubungan kita?”
“Hal sepele? Yang mana hal sepele? Berlebihan apanya? Apa kau tidak bisa mengerti bagaimana aku?” Tanya Soyu kesal.
Yoseop menghela nafas dalam, “Kau selalu curiga tentang berbagai hal.. Karena seorang gadis melirikku, karena seorang gadis tak sengaja menyenggolku, atau aku berbicara dengan teman sekelas maupun junior. Bukankah itu hal sepele? Aku mengerti jika kau cemburu, tapi tidak seperti ini kan?!”
Soyu kembali diam menatap Yoseop.
“Aku benar-benar lelah jika harus bertengkar setiap hari.. Apa yang benar-benar kau inginkan? Katakan padaku..” ucap Yoseop pelan.
Soyu menghela nafas dalam, “Aku…” ucapnya memulai. “..bukan gadis yang cemburuan atau pembuat masalah..” ucapnya. “Tapi…” ia diam sejenak untuk menetralkan perasaannya, “..apa pun yang milikku, berarti itu milikku.. aku tidak ingin berbagi. Tidak akan!” ucapnya tegas, lalu berbalik dan berjalan pergi.
Yoseop tertegun mendengar ucapan Soyu. Ia ingin bergerak maju untuk menahan gadis itu, namun ia tidak melakukannya. Mendadak ia merasa sangat bersalah karena tidak mengerti apa yang di pikirkan gadis itu.
–|||–
Junhyung membuka pintu studio music dan melangkah masuk, ia bingung tidak menemukan siapa pun disana. “Hm? Kemana mereka?” gumamnya sembari melangkah duduk disofa. Jadi ia memutuskan untuk menunggu disana, tangannya mengeluarkan ponsel dan melihat apakah ada chat dari teman-temannya. Bibirnya membentuk senyuman membaca curhatan Gikwang yang akhirnya putus dengan gadis yang membuat temannya itu jadi jauh, ‘Ternyata Yoseop benar-benar hebat..’ batinnya. Matanya tak sengaja melirik ke sebuah buku kecil di meja. Sepertinya itu buku lirik Hyojin. Matanya melirik ke pintu studio, tidak ada tanda-tanda gadis itu akan segera kembali. Satu tangannya terulur untuk mengambil buku itu, matanya kembali melirik ke pintu ketika sudah mendapatkan buku itu. lalu menarik buku itu dan langsung membukanya. Ia tidak pernah melihat isi buku yang selalu berada di tangan Hyojin ini. halaman demi halaman terbuka dengan baik, ia sangat terkesan dengan kemampuan menulis lirik gadis itu. Ia memang tau gadis itu tertarik dengan music dulu, namun gadis itu terlalu pemalu untuk mengungkapkannya.
Srekk..
Junhyung terkejut sesuatu terjatuh dari celah halaman ke bawah sofa. Ketika ia hendak mengambil sesuatu itu, pintu terbuka. Dengan cepat ia meletakkan buku ke tempat semula dan bertingkah seolah-olah ia sedang menunggu dengan wajah bosan dan serius dengan ponselnya.
Hyojin melihat Junhyung sudah disana, “Kau sudah tiba?” ucapnya berbasa-basi sambil menghampiri meja untuk mengambil buku liriknya.
“Ne.. Sudah sejak tadi..” jawab Junhyung, matanya melirik buku yang sekarang sudah di pegang Hyojin itu.
“Hmm.. ne, aku dan Jihoon oppa harus menemui CEO..” jawab Hyojin sembari menghampiri kursi di sebelah meja pengaturan music dan duduk.
“Waekeure? Tentang proses rekaman albumku?” Tanya Junhyung ingin tau.
“Ne.. CEO ingin perilisannya di tunda karena kau masih promosi. Jadi akan ada pergantian suasana dulu agar bisa keluar dengan lagu baru lagi..” jawab Hyojin.
“Hmm.. begitu ya..” ucap Junhyung mengerti.
Hyojin memutar kursinya ke arah Junhyung, “Junhyung-ssi, kau ingat gadis yang bersama Dujun itu kan?”
Junhyung merasa sangat canggung mendengar Hyojin berbicara dengan sangat formal seperti itu padanya. “Ne, waeyo?”
“Mmm.. kupikir aku bertemu dengannya lagi kemarin..” jawab Hyojin ragu.
Junhyung tertegun, “Jinja? Odia?” tanyanya.
“Di rumah sakit, ketika aku menjenguk temanku.” Jawan Hyojin, “Dia baru saja kemoterapi..”
Dahi Junhyung berkerut, “Apa kau bertanya mengapa dia disana?”
“Aniya, dia berpura-pura tidak mengenalku..” jawab Hyojin tak mengerti.
Junhyung terlihat bingung, “Mmm.. ada apa dengan mereka sebenarnya?” ucapnya tak mengerti.
Hyojin memutar kursinya lagi membelakangi Junhyung dan membuka buku liriknya.
Junhyung melirik belakang kursi yang di duduki Hyojin, lalu melirik sesuatu yang terjatuh tadi di bawah dekat kakinya. Matanya kembali melirik gadis itu sambil perlahan mengulurkan tangannya ke bawah untuk mengambil benda tadi. Ia terkejut dan segera menyandarkan punggungnya sambil menatap ponselnya serius ketika Hyojin bergerak. Beberapa detik ia diam dengan kondisi itu, matanya kembali melirik gadis itu. ternyata tadi gadis itu hanya merubah posisi duduk saja. Ia menghela nafas lega dan kembali mengulurkan tangannya untuk mengambil benda tadi lebih cepat, juga langsung memasukkan kertas tadi ke dalam saku jaketnya. Ia diam sejenak memikirkan bagaimana caranya ia bisa melihat apa isi kertas itu. memalukan memang, karena belum tentu sesuatu disana sangat penting, namun ia benar-benar ingin melihatnya. Matanya melirik ke arah Hyojin memastikan gadis itu tidak memandangnya, lalu bergerak bangkit. “Aku akan ke toilet sebentar..” ucapnya sembari melangkah ke pintu.
Hyojin menoleh ke pintu sejenak memperhatikan Junhyung keluar, lalu kembali memandang buku liriknya. Ia membalik halaman demi halamannya, namun hingga ke halaman terakhir ia tak menemukan apa yang ia cari. Wajahnya mulai terlihat panik dan memeriksa halaman demi halaman lagi, juga menggoyang-goyangkannya agar sesuatu yang terselip terjatuh. Namun tidak ada apa pun yang jatuh. Matanya membesar menyadari barangnya tidak ada. Ia mendorong kursi dan mencari-cari di bawah meja, lalu ke sekitaran sofa dan juga di bawah mejanya. Tetap tidak ada. “Oh.. eoteokhe?” gumamnya panik.
Sementara Junhyung masuk ke toilet pria dan lansgung menyerbu sebuah bilik dan menguncinya. Ia menempelkan telinganya ke pintu sejenak memastikan tidak ada orang disana. Matanya memandang tangannya di dalam saku jaket, lalu perlahan tapi pasti mengeluarkan benda itu dan melihat apa isinya. Entah mengapa jantungnya berdegap sangat cepat. Ia menghela nafas dalam dan membalik kertas di tangannya.
Hening……
Junhyung terpaku di tempatnya melihat sebuah photo di tangannya.
=Flashback=
Cekreeet.. Cekreeeet..
Junhyung yang sedang membaca komik di atap mengangkat wajah memandang ke arah gadis di depannya yang asik memotret ini dan itu dengan kamera canggih itu. “Ya.. Apa kau akan memotret semuanya?”
Gadis yang tak lain adalah Ahn Hyojin itu memandang Junhyung sambil tersenyum, “Aku hanya ingin mengingat saat ini saja..” Ucapnya, “Nah.. Tersenyumlah..” Ucapnya sambil mengarahkan kameranya pada pria itu.
Junhyung memalingkan wajahnya sambil menutup lensa kamera, “Eiii.. Hentikan..” Ucapnya sebal.
Hyojin tertawa kecil, “Satu kali saja.. Ayolah..” Bujuknya.
“Shiro..” Ucap Junhyung menolak.
“Keure, berdua denganku..” Hyojin menggeser duduknya ke sebelah Junhyung dan mengarahkan kamera kepada mereka. “Cepat.. Kimchi..” Ucapnya sambil berpose dengan tangan membentuk V di pipinya dan tersenyum cerah.
Junhyung melirik Hyojin sambil menahan senyumnya dan memandang kamera sambil meniru gaya gadis itu.
Cekreeet!
=Flashback end=
Hyojin langsung berpura-pura duduk di sofa ketika pintu terbuka. Ia jadi canggung sendiri saat melihat Junhyung yang masuk.
Junhyung tertegun di pintu melihat Hyojin duduk di sofa juga menatapnya.
“Kau sudah kembali.. Siap untuk rekaman?” Tanya Hyojin canggung, lalu bangkit dan berjalan ke kursinya.
Junhyung juga tidak tau apa yang harus ia katakan, “Ne..” Jawabnya, lalu berjalan ke sofa untuk duduk.
Hyojin berpura-pura mempersiapkan musik, meskipun pikirannya masih memikirkan sesuatu yang hilang itu. Ragu-ragu ia memandang Junhyung, “Mmm.. Junhyung-ssi..”
Junhyung menatap Hyojin kaget, “N-ne?”
“Mmm.. Saat kau datang tadi, apa kau.. Mmm.. Melihat sesuatu terjatuh?” Tanya Hyojin hati-hati.
Junhyung tertegun, “Ne? Oh.. Aniya, aku tidak memperhatikan..” Jawabnya setenang mungkin.
“Mmm.. Begitu..” Ucap Hyojin, lalu kembali duduk membelakangi Junhyung. ‘Aissh.. Pabo! Dimana benda itu terjatuh?’ Batinnya kesal.
Junhyung menghela nafas lega karena Hyojin tak curiga, lalu melirik saku jaketnya dan melirik gadis itu.
Beberapa jam kemudian.
Hyojin membereskan barang-barangnya dan bergerak bangkit. Kali ini ia tinggal lebih lama di studio karena ingin merampungkan musiknya, matanya tak sengaja melihat sesuatu terselip di antara sofa. Ia langsung menghampiri benda itu dan menarik sesuatu yang terselip tadi. Matanya membesar dan tersenyum lebar menemukan photo yang ia cari. “Ahhh.. Syukurlah.. Kupikir hilang..” Ucapnya senang.
Diluar studio.
Junhyung tersenyum mendengar Hyojin senang menemukan photo itu. Ia memang tak melihat bagaimana ekspresi gadis itu, ia sudah bisa membayangkannya. Perlahan ia berbalik dan melangkah pergi.

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “How To Love [Chapter 18]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s