Chapter · Cube

How To Love [Chapter 17]

Chapter 17

tumblr_inline_nd2cgrsPrP1qa533w

-I Know It-

 

Hyojin melangkah seorang diri di lorong rumah sakit dengan sekantung buah di satu tangannya, ia langsung mengambil ponsel ketika mendengarnya berbunyi, dahinya berkerut melihat nama yang muncul ‘Yong Jun Hyung’. Lalu mengangkatnya, “Ne?”

“Odia? Aku kembali ke ruang studio kau sudah tidak ada..” ucap Junhyung bingung.

Hyojin menahan tawa, “Cih.. apa aku kekasihmu? Suka-sukaku akan pergi kemana kan..”

“Ckck..” decak Junhyung sebal, “Aniya, kau kan harus mengarahkan rekaman lagu hari ini. dasar.. jangan terlalu cepat besar kepala..”

“Hmm.. aku sudah meminta Jihoon oppa menggantikanku.. Aku ada urusan..” jawab Hyojin dan berhenti di depan lift, lalu menekan tombolnya.

“Wae? Berkencan? Dengan siapa?” Tanya Junhyung malas.

“Aku akan mengunjungi temanku yang sakit itu.. Sudah, kututup teleponnya..” ucap Hyojin dan memutuskan telepon, lalu masuk ke dalam lift. Ketika menunggu, tiba-tiba Ia tertawa sendiri membayangkan wajah sebal Junhyung karena telepon yang ia tutup. “Dia sama sekali belum berubah..” gumamnya, lalu melangkah keluar begitu pintu terbuka. Ia menuju sebuah ruang perawatan yang di isi dengan dua tempat tidur. Ia membuka pintu dan mengintip masuk, “Annyeonghaseyo..” sapanya.

Seorang pria yang mengenakan pakaian pasien langsung tersenyum begitu melihat Hyojin, “Hyojin-a..” sapanya.

“Aigoo.. Hyojin-a..” ucap ibu sang pria senang.

Hyojin tersenyum lebar dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo, eommanim..” ucapnya, lalu memberikan bungkusan di tangannya. “Ini, aku membawakan buah..”

“Aigoo.. kau selalu repot.” Ucap sang ibu.

“Gwenchana, aku tidak mungkin datang tidak membawa apapun..” jawab Hyojin dan menghampiri tempat tidur, “Gwangsuk-a.. bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?”

Gwangsuk yang mengenakan selang oksigen tersenyum, “Lebih baik..”

“Eomma akan mengambil tempat untuk ini..” ucap ibu Gwangsuk dan melangkah keluar.

Hyojin mengangguk dan memandang Gwangsuk, “Hmm.. kau terlihat semakin sehat saja..” ucapnya.

Gwangsuk tersenyum lebar, “Aku ada sebuah berita baik..”

Hyojin menatap Gwangsuk penasaran, “Mwo?”

“Aku akan mendapatkan donor paru-paru..” jawab Gwangsuk senang.

Mata Hyojin membesar, “Omo! Jinja?! Wuaaa!! Cukhae!!” ucapnya senang.

Gwangsuk tersenyum lebar, “Ahh.. sebentar lagi aku akan sembuh..”

“Aigoo.. aku sudah tidak sabar melihatmu kembali latihan menari, pasti seru..” ucap Hyojin bersemangat.

“Keurom..” ucap Gwangsuk senang. Ia menoleh ke pintu karena melihat seseorang masuk, begitu juga dengan Hyojin.

“Oh.. miane.. aku hanya ingin mengambil sesuatu..” ucap pria yang memiliki tato di tangannya itu.

“Ne..” jawab Gwangsuk.

Pria tadi segera melangkah ke tempat tidur sebelah untuk mengambil sesuatu, lalu kembali keluar. Ia mengangguk sopan dan menghilang di balik pintu.

“Hmm.. nugu? Pasien juga?” Tanya Hyojin.

“Dulunya, sekarang dia sudah sembuh.. Namanya Park Jaebom.. Dulu dia mengidap kanker Leukimia..” ucap Gwangsuk memberitau.

“Oh.. lalu kenapa dia disini?” Tanya Hyojin tak mengerti.

“Dia menemani teman dekatnya sejak sakit dulu yang masih menjalani pengobatan..” jawab Gwangsuk, “Kudengar mereka akan menikah..” ucapnya dengan senyuman lebar di wajah.

Hyojin tersenyum, “Jinja? Omo.. itu sangat keren..”

Gwangsuk mengangguk, lalu menghela nafas sedih. “Tapi gadis itu mungkin tidak akan sembuh..”

Senyuman Hyojin luntur, “Wae? Pria itu bisa kenapa gadis itu tidak bisa?”

“Tdak bisa.. Kondisi darah gadis itu tidak stabil. Selain mengalami kanker Leukimia tingkat akhir, gadis itu juga mengalami kegagalan fungsi jantung karena terlalu sering berhubungan dengan obat kimia. Karena itu dia hanya menjalani kemoterapi 2 kali selama 6 bulan. Jika terlalu sering gadis itu akan kena serangan jantung..” jelas Gwangsuk prihatin.

Hyojin jadi merasa kasihan pada gadis itu, “Hmm.. sayang sekali.. Apa sekarang kondisinya sangat… mmm…” ia sulit menyampaikan maksudnya.

Gwangsuk tersenyum, “Aniya, dia masih cantik. Rambutnya masih panjang dan dia tidak terlihat sakit sama sekali..”

Hyojin tertegun, “Jinja? Bagaimana bisa?”

“Keluarganya kaya, ibunya selalu memberikan suntikan vitamin setiap hari dan membuat gadis itu menjalani perawatan khusus pengidap kanker. Kau akan terkejut ketika bertemu dengannya, dia sama sekali tidak terlihat seperti pasien dengan kanker stadium akhir..” ucap Gwangsuk kagum.

“Omo.. berapa banyak yang harus di keluarkan keluarga gadis itu ya?” ucap Hyojin tiba-tiba penasaran.

Gwangsuk tertawa, “Yang jelas lebih mahal dari perawatan untuk orang sehat..”

Hyojin tertawa, “Ne, araso..” ucapnya, lalu memandang jam tangannya, “Omo.. aku hanya punya waktu 2 jam, aku harus kembali sekarang..” ucapnya menyesal.

Gwangsuk menatap Hyojin sebal, “Mwo? Secepat ini?”

“Miane, aku akan datang saat waktuku kosong lagi..” ucap Hyojin sambil tersenyum, “Katakan pada ibumu aku pergi.. Sampai jumpa lagi..” ucapnya.

Gwangsuk tersenyum dan melambai, “Ne.. Doakan saja minggu depan saat kau tiba aku sudah mendapatkan donorku..”

“Ne.. pasti.. Sampai jumpa..” ucap Hyojin sebelum keluar dan menutup pintu di belakangnya. Ia melangkah cepat menuju lift dan menekan tombolnya. Kepalanya menoleh ke lift pasien di sebelah lift umum, saat itu Jaebom keluar bersama Jihyun yang duduk di kursi roda.

Jaebom tersenyum melihat Hyojin sambil mendorong Jihyun.

Hyojin mengangguk sopan, namun langsung tertegun melihat Jihyun dengan pakaian pasien dan jarum infus yang tertancap di tangannya. “Oh.. Nam Jihyun-ssi..” panggilnya.

Jihyun memandang Hyojin dan tertegun.

Hyojin tersenyum, “Kau ingat aku kan? Kita bertemu saat Junhyung tampil..” ucapnya mengingatkan.

Jaebom memandang Jihyun yang terlihat panik. Lalu tersenyum memandang Hyojin, “Miane, sepertinya kau salah orang.” Ucapnya sambil mendorong kursi roda gadis itu.

“Ne?” ucap Hyojin bingung sendiri, dahinya berkerut memperhatikan Jaebom mendorong kursi roda. “Hmm.. mungkin aku salah orang..” gumamnya dan masuk ke dalam lift yang terbuka.

–|||–

Hyerin bergerak duduk di meja yang biasa ia duduki bersama Gikwang, dahinya berkerut melihat pria itu terlihat sedih lagi. “Hei.. apa kau selalu sedih seperti itu?”

Gikwang memandang Hyerin dan tersenyum sedih, “Miane..”

Hyerin menatap Gikwang lucu, “Waekeure? Karena kekasihmu lagi?”

“Aniya, kami sudah putus..” jawab Gikwang.

Hyerin tertegun, “Oh.. miane..”

Gikwang menggeleng sambil tersenyum, “Gwenchana..”

Hyerin diam sesaat memikirkan apa yang harus ia katakan untuk menghibur Gikwang, “Hmm.. jangan bersedih, masih banyak gadis-gadis yang lebih baik kan..”

Gikwang mengangguk, “Ne..”

Hyerin tersenyum, “Aku akan memberitaukanmu sesuatu..” ucapnya.

“Mwo?” Tanya Gikwang ingin tau.

“Seorang gadis, akan merasa senang jika ada seseorang yang menyukainya. Meskipun ia terlihat kesal atau pun jijik.” Ucap Hyerin, Gikwang mengangguk mengerti. “Tapi jika orang yang menyukainya rela memberikan apa pun, dia akan mulai berpikir untuk memanfaatkan orang itu. kau mengerti?”

Gikwang diam sejenak, lalu mengangguk, “Hmm.. begitu..”

Hyerin mengangguk dan membuka bukunya, lalu mulai membaca.

Gikwang memperhatikan wajah Hyerin yang semakin cantik karena bobot yang menurun, juga gadis itu sudah mulai pintar menggunakan make-up. “Hyerin, bagaimana dengan pria yang kau sukai itu?”

Hyerin tertegun dan memandang Gikwang, “Wae?”

Gikwang tersenyum dengan tatapan curiga, “Kau sudah menyampaikan perasaanmu?”

Wajah Hyerin memerah, “M-mwo? Aku? Aniya!”

Gikwang tertawa kecil melihat wajah Hyerin memerah, “Wae? Pria itu seperti polisi yang tidak akan tau tentang sesuatu yang terjadi jika tidak ada yang memberitaukannya.”

“Andwae! Aku tidak akan pernah melakukannya.. Itu memalukan..” ucap Hyerin malu.

Gikwang tertawa lucu, “Waekeure? Jaman sekarang sudah biasa jika wanita yang menyampaikan perasaannya, dari pada pria yang kau sukai itu tidak akan tau perasaanmu..”

Hyerin menunduk malu dan menggeleng cepat, “Pokoknya tidak, aku akan menunggu saja. Jika dia tidak menyadarinya juga, aku tidak akan mengingatnya lagi.”

“Hmm.. jinja? Kau sampai diet ketat untuk menurunkan berat badanmu, lihat.. wajahmu sudah sangat cantik dan tubuhmu sangat ramping sekarang…” ucap Gikwang memberi semangat.

Hyerin tertegun dan menatap Gikwang tak percaya, “Menurutmu aku cantik?” ucapnya malu-malu.

“Ne.. aku bersungguh-sungguh, jika pria itu menolak perasaanmu, dia pasti sudah gila..” ucap Gikwang yakin.

Hyerin tersenyum malu dan memegang kedua pipinya yang terasa panas.

“Karena itu, cepat sampaikan perasaanmu sebelum dia mendapat gadis impian lain..” ucap Gikwang memberitau.

Hyerin memandang Gikwang ingin tau, “Menurutmu, bagaimana cara menyampaikan perasaan dari seorang gadis ke seorang pria?”

Gikwang berpikir sejenak, “Hmm.. berdandan cantik, lalu datangi pria itu dan katakan perasaanmu padanya..”

“Ne? ahh.. itu terlalu gugup..” ucap Hyerin cemberut.

“Oke.. Mmm..” Gikwang kembali berpikir. “Begini saja, kau berdiri di tempat yang cukup jauh, tapi tetap bisa di lihat oleh pria itu. Lalu kirimkan pesan perasanmu padanya, ketika ia melihatmu. Ia akan langsung terpesona melihatmu dan menjawabnya dengan senang hati..” ucapnya memberi usul lain.

Hyerin berpikir sejenak, “Tidak buruk..”

Gikwang mengangguk, “Tapi, jika ternyata pria itu sudah menikah tapi tidak memperlihatkannya atau ternyata sudah memiliki kekasih yang telah berhubungan untuk waktu yang lama. Jangan berkecil hati, paling tidak kau sudah mengungkapkan perasaanmu..” ucapnya menyemangati.

Hyerin tersenyum, “Ne..” jawabnya, “Aku tidak akan berkecil hati. Aku melakukan diet ketat, olahraga, juga ikut kelas kecantikan memang awalnya untuk pria ini. tapi setelah menjalaninya, aku sadar..” ucapnya, “Aku tidak akan pernah dicintai siapa pun jika tidak mencintai diriku sendiri..”

Gikwang tersenyum, “Ne.. itu benar. Jika kau mencintai dirimu, kau tidak akan terluka..” ucapnya.

Hyerin mengangguk, “Ne! nah.. aku akan pergi menyampaikan perasaanku padanya sebelum aku kehilangan semangatku..” ucapnya sambil bangkit dengan bukunya.

“Ne! fighting!!” ucap Gikwang memberi semangat.

Hyerin tersenyum lebar dan melangkah riang meninggalkan Gikwang.

Gikwang tersenyum lebar dan membaca buku di depannya dengan perasaan riang. Tadi ia merasa sangat sedih hingga tidak ingin melakukan apa pun, tapi setelah berbicara dengan Hyerin semuanya jadi sangat ringan dan menyenangkan.

Drrt.. drrrt…

Gikwang memandang ponselnya dan melihat ada pesan masuk, tangannya mengambil ponsel dan melihat pesan disana. Ia langsung tertegun melihat apa yang tertera disana.

Oh Hye Rin : Lee Gikwang, saranghae..

Gikwang mengangkat wajahnya dan melihat Hyerin berdiri di ambang pintu perpustakaan memandangnya. Ia sampai tidak tau harus mengatakan apa-apa mengetahui pria yang selama ini mereka bicarakan adalah dirinya.

Hyerin tersenyum tipis, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan perpustakaan.

Gikwang kembali memandang ponselnya. Ia merasa sangat aneh setelah mendapatkan pengakuan dari seseorang yang sudah menjadi temannya itu.

–|||–

Dongwoon duduk tenang sambil bermain game di ponselnya ketika Jina menjelaskan pelajaran mereka hari ini.

Jina membalik halaman dan memandang Dongwoon, “Dongwoon, kerjakan ini..”

“Hmm..” gumam Dongwoon sambil tetap serius pada ponselnya.

Jina menghela nafas dalam dan menyodorkan buku itu, “Jika kau mengerjakan semuanya benar, aku akan membawa Sungjae ke tempat yang kau inginkan itu..” ucapnya.

Dongwoon diam sejenak, lalu memandang Jina. “Kenapa aku harus melakukannya?”

“Karena aku menginginkannya..” ucap Jina.

“Kenapa aku harus melakukannya karena kau menginginkannya? Memangnya aku pembantumu?” Tanya Dongwoon sinis.

Jina menatap Dongwoon sedih, “Dongwoon-a, aku tau apa yang sedang ingin kau lakukan. Aku tidak akan memaksamu untuk belajar, aku akan membantumu melakukan apa yang kau inginkan..”

Dongwoon menatap Jina tanpa ekspresi, “Keure, aku ingin bertemu teman-temanku..” ucapnya sembari bangkit.

Jina menahan tangan Dongwoon.

Dongwoon menatap Jina aneh, “Waekeure, jangan sentuh aku..” ucapnya sambil melepaskan tangan gadis itu.

“Miane..” ucap Jina pelan.

“Untuk apa kau meminta maaf? Sudahlah, aku ingin pergi..” ucap Dongwoon.

Jina bangkit dan menarik tangan Dongwoon lagi, “Sungjae ingin menggambar dinding lagi, kau bisa membawanya ke tempat yang kau inginkan itu?”

Dongwoon akhirnya berhenti, lalu menatap Jina. “setelah aku berkata aku tau semuanya, bukan berarti aku ingin kau mengasihaniku..”

Jina menatap Dongwoon sedih dan menggeleng, “Aniya, aku hanya sangat menyesal..”

“Sikeuro, aku malas berdebat sekarang..” ucap Dongwoon dan melangkah ke pintu.

“Aku sudah melihat lapormu dan semuanya sangat baik..” ucap Jina langsung, membuat Dongwoon berhenti di ambang pintu. “Bahkan tanpa bantuanku kau bisa mendapatkan beasiswa apa pun yang kau ingin kan..”

Dongwoon kembali merasakan luka di hatinya ketika mengetahui dirinya hanya anak haram dan ibu yang sangat ia sayangi ingin membuangnya jauh dari rumah.

“Miane..” ucap Jina menyesal, “Aku hanya memikirkan biaya yang akan di berikan nyonya besar padaku, seharusnya aku memikirkan perasaanmu juga..” ucapnya.

Dongwoon menghela nafas dalam dan memandang Jina, “Jika kau memang menyesal, bawa aku masuk ke klub..” ucapnya, lalu melangkah keluar.

Jina terkejut, “Ne?”

 

<<Back           Next>>

Advertisements

14 thoughts on “How To Love [Chapter 17]

    1. Aigooo jaebum am jihyun yg sakit … jaebom bise sembuh tapi knpa jihyun gk 😦
      Kan hyerin suka sama gikwang 🙂 ^,^
      Terima ne gikwang-i ^-^
      Dongwoon fighting ya ,yg sbr^_^
      Next eon
      #keepwritingeon^_^

  1. Ahhh kesian,rupanya jaebom&jihyun sama2 sakit 😦

    Wah,hyerin ternyata suka sama gikwang,terima ya gikwang ^-^

    Wihh,dongwoon knp tuh ngajak jina ke club,mau ngapain hayo?

    Keep writing thorrr,harus semangat tulis ffnya \^o^/

  2. Kak sambungannya mana? Aku gak sabar ni mau tau seterusnya,hari2 aku buka blog ini ingin tau sambungannya,eunnie lagi sibuk ya?

  3. Hanna eonni br post kalw da acarah MAMA 2014 In Hong Kong ya? zo aku penasaran dgn ffx eonni sama penasarangnya dgn berita yg beredar tentan persembahan spesial seperti di MAMA 2013,kirah2 di sensor lg ga ya sm seperti tahun2 sebelumnya?

  4. Aigoooo,,,,apa ini Penyakit jihyun smkn parahhh,,,Andweeee#poorDujuni

    Kekek,,,,Keren gaya lu Hyerin ssi,,,nembak cowok stlh tau caranya dr tu cowok ~

    & untuk si wonta Sabar bang,,,,Jina g salah kok,,ksbentak2 jika lu wonta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s