Chapter · Cube

How To Love [Chapter 16]

Chapter 16

tumblr_inline_nd2chbtQK21qa533w

-Stay! Just STAY!!-

 

Dujun melangkah cepat menyusuri kampus mencari Jihyun, ia tau gadis itu ada kelas siang. Ia melihat dari kejauhan kelas yang di masuki JIhyun sudah selesai dan orang-orang mulai berhamburan keluar. Dengan cepat ia menghampiri gadis itu. “Nam Jihyun..”

Jihyun tertegun melihat Dujun, lalu memalingkan wajah dan melangkah cepat kearah lain.

“Ya! Ya! Nam Jihyun!” Dujun mengejar langkah Jihyun dan menarik tangan gadis itu. “Tunggu! Aku ingin mengatakan sesuatu!”

Jihyun berhenti namun tidak memandang wajah Dujun.

Dujun menatap Jihyun di balik kacamata hitamnya, “Kau benar-benar akan menikah dengan pria itu?”

Jihyun menggigit bibir bawahnya dan mengangguk pelan.

Entah mengapa Dujun merasa terluka dengan jawaban Jihyun, “Wae?”

Jihyun menghela nafas dalam dan memandang Dujun, “Karena aku ingin..” jawabnya.

Hati Dujun terasa hancur dan jatuh dalam kepingan kecil, “Kau mencintainya?”

Kedua mata Jihyun memerah menahan air mata, “Jika aku bilang tidak, kau akan menikah denganku?” tanyanya tajam.

Mulut Dujun terbuka untuk menjawab, namun tidak ada kalimat yang keluar.

Jihyun terlihat terluka, ia menunduk dan menarik tangannya dari pegangan Dujun. “Aku sudah mengenal Jaebom untuk waktu yang lama.. Meskipun aku tidak mencintainya sebagai seorang pria sekarang, aku akan melakukannya setelah kami menikah..” ucapnya, lalu berbalik dan melangkah.

Dujun terpaku di tempatnya beberapa saat memperhatikan Jihyun pergi, lalu kakinya melangkah sendiri mengikuti gadis itu. “Jika aku berkata akan menikahimu, apa kau akan membatalkannya?”

Langkah Jihyun terhenti dan terpaku di tempatnya.

Dujun berhenti di belakang Jihyun, “Keure, aku akan menikahimu.. Aku akan melakukannya..”

Jihyun menghela nafas dalam, lalu berbalik menatap Dujun serius. “Kau bisa melakukannya hari ini?”

“Ne..” jawab Dujun tanpa ragu.

“Benar-benar hari ini?” Tanya Jihyun memastikan.

Dujun terdiam sesaat, ia mulai ragu dengan ucapannya sendiri.

Jihyun tersenyum sedih, “Ini bukan tentang janji Dujun, aku ingin kenyataan..” ucapnya.

Dujun memegang tangan Jihyun, “Aku akan melakukannya..” ucapnya bersungguh-sungguh, “Tapi mungkin tidak hari ini..” ucapnya jujur, “Berikan aku waktu beberapa tahun untuk menyiapkan semuanya, ani.. berikan aku waktu setahun. Aku akan menikahimu..”

Jihyun menggeleng, “Aniya, aku tidak bisa..”

Dujun melepaskan kacamatanya, membiarkan Jihyun melihat bagaimana kondisi matanya. “Kau lihat? Aku tidak bisa tidur selama dua hari karena selalu teringat kau akan menikah dengan orang lain.. Naega shiro! Jeongmal shiro!”

Jihyun diam sejenak, lalu mengulurkan tangannya memegang pipi Dujun. “Gwenchana, kau akan segera melupakanku. Seperti gadis-gadismu yang lain..” ucapnya.

“Jihyun…” ucap Dujun terluka.

Jihyun tersenyum sedih, lalu menarik tangannya dan melangkah lagi.

Dujun tidak tau harus mengatakan apa sekarang, rasanya apa pun yang akan ia katakan tidak akan mampu menahan Jihyun.

–|||–

Nana mengedarkan pandangannya begitu masuk ke sebuah kafe dan langsung tersenyum lebar melihat Gikwang, “Gikwang-i..” ucapnya senang sambil menghampiri pria itu.

Gikwang memandang Nana dan tersenyum tipis, “Hei…”

“Kau merindukanku kan? Hmm.. kenapa kau ingin kita memikirkannya segala?” ucap Nana sebal, lalu kembali tersenyum lebar.

“Aku sudah memesankan makanan untukmu..” ucap Gikwang.

“Ne, gumawo..” ucap Nana senang karena yang ada di meja memang makanan kesukaannya.

Gikwang memandang Nana sejenak, “Nana-a..”

“Ne?” jawab Nana dengan senyuman manisnya.

“Aku ingin bertanya padamu..” ucap Gikwang sambil tersenyum.

“Ne, tanyakan saja..” ucap Nana.

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Gikwang.

Nana tertawa kecil, “Tentu saja.. kenapa kau menanyakannya lagi?”

“Coba katakan..” ucap Gikwang masih dengan senyumannya.

“Itu memalukan, kenapa kau ingin aku mengatakannya di tempat umum seperti ini?” Tanya Nana malu.

Gikwang tertawa kecil, “Ayolah..” bujuknya sambil memegang tangan Nana.

Nana menggigit bibir bawahnya dan tersenyum malu, “Keure, aku akan mengatakannya..” ucapnya, lalu berbisik. “Saranghae..” bisiknya dan menunduk malu.

Gikwang tersenyum, “Waeyo?”

Nana menatap Gikwang lucu, “Tentu saja karena kau sangat baik.. Juga lucu, menyenangkan, perhatian padaku.. Selalu mengerti aku..”

Gikwang tertawa kecil.

Nana tertawa kecil juga namun tawanya memudar melihat Gikwang tertawa dengan air mata hendak berjatuhan. “Gikwang-i?”

Gikwang menunduk sambil mengambil tisu dan menyeka matanya sebelum air berjatuhan.

“Gikwang, wakeure? Kenapa kau menangis?” Tanya Nana.

Gikwang kembali memandang Nana sambil tersenyum, “Kau tidak mencintaiku Nana..”

Nana tertegun, “Apa maksudmu?”

“Kau hanya ingin memanfaatkanku, menggunakanku seperti dompet yang akan terus mengeluarkan uang untukmu..” ucap Gikwang. “Saat kau mencintai seseorang, kau tidak akan tau apa alasan kau selalu ingin bersama orang itu. kau hanya ingin bersamanya, apa pun yang terjadi. Tapi saat kau bisa menjawab dengan mudah mengapa kau mencintai seseorang, itu berarti kau tidak mencintai orang itu..”

“Gikwang..” ucap Nana pelan.

Gikwang memalingkan wajahnya sejenak, lalu mengambil barang-barangnya. “Aku sudah membayar makanan ini, aku akan pergi..” ucapnya dan langsung bangkit.

“Gikwang.. tunggu..” panggil Nana, namun pria itu terus pergi.

–|||–

Hyunseung menghubungi panti tempat Dujun di rawat dan memberikan gagang telepon portable itu pada Hyuna, “Ini..”

Hyuna langsung mengambil gagang telepon dan menempelkannya ke telinga.

“Yoboseyo..” sapa Joon di seberang.

Hyuna menatap Hyunseung senang karena mendengar suara kakaknya, membuat pria itu tersenyum lebar. “Oppa..”

“Hyuna-a..” Joon terdengar lega mendengar suara adiknya.

“Oppa gwenchana?” Tanya Hyuna.

“Ne.. oppa gwenchana.. Bagaimana denganmu?” Tanya Joon balik.

“Na gwenchana..” jawab Hyuna, “Hyunseung oppa banyak membantuku selama oppa tidak ada..” ucapnya sambil memandang Hyunseung.

Hyunseung mengangguk sendiri membenarkan ucapan Hyuna.

“Syukurlahh.. “ ucap Joon, “Oppa banyak berhutang budi padanya.” Ucapnya. Ia dan Hyuna diam sejenak. “Hyuna..”

“Ne..” jawab Hyuna.

“Oppa, akan segera pulih dan kembali pulang..” ucap Joon bersungguh-sungguh.

Kedua mata Hyuna mulai di penuhi air lagi mendengar ucapan kakaknya, “Ne, aku akan menunggu oppa kembali pulang..”

Joon menghela nafas panjang, “Karena itu, terus belajar. Jangan pikirkan apa pun, oppa akan segera sembuh..”

“Ne, oppa..” jawab Hyuna. Meskipun itu bukan ucapan perpisahan, ia sangat sedih kakaknya harus berada di tempat itu.

“Jika dokter sudah mengijinkan oppa bertemu denganmu, kita akan bertemu. Jadi jangan bersedih, arasso?” ucap Joon.

Bulir air mata Hyuna mulai berjatuhan, “Araso..”

Joon tertawa kecil, “Uljima..”

“Aniya, aku tidak menangis kok..” ucap Hyuna dengan suara bergetar.

Hyunseung menahan tawa mendengar ucapan Hyuna.

Hyuna menatap Hyunseung sebal.

“Keure..” ucap Joon menahan tawa, “Berikan teleponnya pada Hyunseung-ssi..”

Hyuna memberikan telepon pada Hyunseung sambil menyeka air matanya.

Hyunseung mengambil telepon dan menempelkannya di telinga, “Ne..”

“Hyunseung-ssi, annyeonghaseyo..” sapa Joon.

“Ne, annyeonghaseyo..” balas Hyunseung.

“Mmm.. bisakah aku meminta bantuanmu lagi?” Tanya Joon.

“Ne, katakan saja..” ucap Hyunseung tanpa ragu.

“Hyuna…” ucap Joon memulai, “..dia sangat takut ketika seorang diri, bisakah kau tetap memperhatikannya?”

Hyunseung tersentuh dengan perhatian Joon pada Hyuna, “Keurom, aku akan melakukannya..”

“Maaf jika permintaanku sangat banyak, tapi hanya kau yang bisa kupercayai saat ini..” ucap Joon.

Hyunseung memandang Hyuna, gadis itu juga memandangnya. Bibirnya membentuk senyuman, “Aku akan menjaganya lebih baik daripada kau menjaganya..” ucapnya dengan nada bercanda.

Joon tertawa kecil, “Ne.. aku tidak benar-benar menjaganya..” ucapnya. “Terima kasih banyak Hyunseung-ssi.. Waktu meneleponku sudah habis, aku akan menghubungimu lain kali..”

“Ne..” jawab Hyunseung dan telepon terputus.

Hyuna menatap Hyunseung penasaran, “Waeyo oppa? Apa yang Joon oppa katakan?”

Hyunseung tersenyum tipis, “Sesuatu..”

“Mwo?” Tanya Hyuna.

“Hanya sesuatu..” jawab Hyunseung dan bergerak bangkit.

“Oppa!” ucap Hyuna sebal.

Hyunseung tertawa kecil melihat wajah sebal Hyuna, “Kau tidak lapar? Ayo kita makan siang..” ajaknya.

–|||–

Soyu melangkah keluar dari kelasnya dan langsung memandang sekitar, ia menemukan orang yang ia cari. Bibirnya membentuk senyuman sambil melangkah menghampiri Yoseop yang sedang membaca buku di bangku. “Yoseop-a..” sapanya sembari duduk di sebelah pria itu.

Yoseop menoleh dan tersenyum, “Sudah selesai?” tanyanya sembari menutup buku ditangannya.

“Ne.. ayo..” ajak Soyu sembari bangkit.

Yoseop ikut bangkit dan melangkah bersama Soyu, “Kau benar-benar ingin bertemu teman-temanku?”

Soyu mengangguk, “Tentu saja..” jawabnya tanpa ragu, lalu menatap Yoseop curiga. “Wae? Kau tidak ingin aku bertemu teman-temanmu?”

Yoseop tertawa kecil, “Tentu saja aku ingin.. Aku hanya tidak ingin kau terpaksa..”

Soyu tersenyum dan memeluk lengan Yoseop, “Tentu saja tidak, aku juga ingin mengenal orang-orang yang dekat dengan kekasihku..”

Yoseop tersenyum malu mendengar sebutan Soyu untuknya, “Hmm.. kau makin imut saja..” ucapnya gemas.

Wajah Soyu merona merah, “Keurom.. Aku kan kekasihmu..”ucapnya dan merebahkan kepala ke bahu Yoseop.

Yoseop sangat senang mengetahui sisi lain Soyu yang terkenal dingin dan jutek ini. tiba-tiba seseorang menabrak bahunya hingga hampir tertungkai, “Oh!” ucapnya kaget, lalu memandang gadis tadi, “Neo gwenchana?”

“Omo! Kau baik-baik saja?” Tanya Soyu pada Yoseop.

Gadis tadi mengelus bahunya dan tersenyum canggung, “Ne, gwenchana.”

Soyu menatap gadis itu kesal, “Ya.. kau sengaja kan?”

Yoseop tertegun dan menatap Soyu tak mengerti.

Gadis tadi menatap Soyu kaget, “Ne?”

Soyu melipat kedua tangannya di dada dan menghampiri gadis itu, “Kau sengaja menyenggol bahu kekasihku kan?” tuduhnya.

“Soyu-a.. waekeure? Tadi itu hanya kecelakaan..” ucap Yoseop menenangkan Soyu.

“Ani.. aku tau kau sengaja..” ucap Soyu kesal.

“Mwoya?” ucap gadis itu dan langsung berjalan pergi.

“Aissh! Ya!” panggil Soyu kesal.

“Ya.. Soyu, kemanhe..” ucap Yoseop menahan Soyu.

Soyu menatap Yoseop sebal, “Kenapa kau menahanku? Dia itu sengaja..” ucapnya.

“Ne.. ne.. miane.. Aku tidak akan menahanmu lain kali, tapi aku benar-benar lapar. Ayo kita pergi..” ucap Yoseop dengan wajah imut sambil mengelus perut.

Soyu menghela nafas dalam dan mengelus pipi Yoseop, “Khaja..” ajaknya dengan senyuman manisnya.

Yoseop tersenyum dan menggenggam tangan Soyu pergi.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

7 thoughts on “How To Love [Chapter 16]

    1. Doojoon-a hwaiting!!!
      Gikwang-i yang sbr ya^_^
      2hyun yeayhhhh sosweet , hyuna makin lucu aja hehehehe
      aigooooo pasangan ini yoseob ama soyou lucu deh wkwkwkwkw
      soyou bnr2 lucu pas sebal sma cwek yg nabrak yoseob ckckck
      fighting eon!!!

  1. Ah,,,,,dramatisir bgd si Dujuni,,,diam ditempat kehabisan kata2,,,
    Gak usah disuruh Joon pun pasti si Hyunseung akan menjaga joon dgn baik….
    Good job kwangiee,,,,
    Bwt Yoseobie,u are so Cute 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s