Chapter · Cube

How To Love [Chapter 15]

Chapter 15

tumblr_inline_nd2ch06KgW1qa533w

-Broken Heart-

 

Dujun menghentikan mobilnya di depan rumah Jihyun dan memandang gadis itu sambil tersenyum, “Kau senang?”

Jihyun tersenyum dan mengangguk, “Ne.. Sangat senang.. Temanmu sangat seru..” ucapnya.

Dujun senang mendengar ucapan Jihyun, lalu menoleh ketika melihat pintu pagar terbuka. Dahinya berkerut melihat Jaebom keluar dari sana.

Jihyun tertegun melihat Jaebom dan kembali memandang Dujun, “Dujun, segeralah pergi..” ucapnya sambil melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu. Namun pria itu menahannya.

“Aku bertanya padamu lagi, Nam Jihyun..” ucap Dujun serius, “Apa hubungan pria itu denganmu?” tanyanya, terdengar sangat kesal.

Jihyun tertegun sesaat, “Mmm.. Jaebom itu temanku sejak kecil, karena itu…”

“Jangan katakan omong kosong, Nam Jihyun!” potong Dujun kesal.

Jihyun terdiam dan memandang ke bawah, “Aku akan turun..” ucapnya sambil menarik tangannya dan membuka pintu.

“Ya..” panggil Dujun, lalu melepaskan sabuk pengamannya dan mengejar Jihyun keluar. “Nam Jihyun, aku belum selesai berbicara..” panggilnya.

Jaebom tidak mempedulikan Jihyun dan hanya menunggu gadis itu menghampirinya.

“Nam Jihyun!” Dujun menarik tangan Jihyun sebelum menghampiri Jaebom dan menatap gadis itu serius, “Jawab pertanyaanku..”

Jihyun menatap kedua mata Dujun sedih, “Aku akan masuk..” ucapnya dan memalingkan wajah, namun pria itu tidak mau melepaskan tangannya.

“Ya.. lepaskan tangannya..” ucap Jaebom pada Dujun.

Dujun hanya menatap Jaebom sekilas dan kembali menatap Jihyun, “Jebal.. jawab aku..” pintanya.

Bulir air mata Jihyun berjatuhan, “Aku harus masuk, Dujun..” jawabnya tanpa memandang pria itu.

Jaebom menatap Jihyun sedih, lalu melangkah maju dan merangkul gadis itu. “Aku dan Jihyun akan menikah akhir bulan ini..” ucapnya.

DUARRRRRRRRRRRRRRR!!!

Dujun terpaku mendengar ucapan Jaebom. Seluruh tubuhnya kaku seperti baru saja mendengar ledakan super besar. Lalu menatap Jihyun tak percaya, “Jihyun, omong kosong apa ini?”

Jihyun menarik tangannya dari Dujun dan melangkah masuk.

“Jihyun! Jawab aku!!” ucap Dujun sambil tetap menahan tangan Jihyun.

“Lepaskan tangannya!” ucap Jaebom sambil mendorong Dujun.

Dujun melotot menatap Jihyun yang hanya menangis sambil memalingkan wajah, “Nam Jihyun…” ucapnya dengan nada terluka.

Jaebom memandang Jihyun yang terlihat jauh terluka dengan ucapannya, lalu melepaskan tangan Dujun yang melemah di tangan gadis itu. “Silahkan pergi..” ucapnya, lalu merangkul Jihyun masuk.

Dujun terpaku di tempatnya memperhatikan Jihyun masuk. Ia tidak tau mengapa hatinya terasa sangat sakit mengetahui gadis itu akan menikah. Dengan pria yang bukan dirinya. Seharusnya ia tidak merasa seperti ini.

–|||–

“Aneh sekali Yoon Dujun tidak mengenaliku..” ucap Hyojin lucu ketika ia dan Junhyung menyelesaikan rekaman lagu terakhir.

Junhyung menahan tawa, “Tentu saja.. Kau terlihat sangat berbeda, semua orang akan pangling melihatmu..”

Hyojin memandang Junhyung aneh, “Kenapa kau tidak?”

“Aku kan sudah sering melihatmu..” jawab Junhyung, lalu tertegun sendiri.

Hyojin tertegun mendengar jawaban Junhyung, “Ne?”

“Mmm.. maksudku, melihatmu di sekolah dulu..” jawab Junhyung menjelaskan.

Hyojin mengangguk dan membaca buku liriknya.

Dalam hati Junhyung mengumpat pada dirinya sendiri karena mengatakan hal aneh lagi.

“Mmm.. Itu, siapa temanmu yang pendiam itu?” Tanya Hyojin.

Junhyung tertegun mendengar pertanyaan Hyojin, “Hyunseung?”

“Ah.. iya.. Hyunseung..” jawab Hyojin, “Aku melihatnya kemarin di rumah sakit..”

“Hmm.. ne, dia sedang membantu tetangganya. Tapi.. kenapa kau ke rumah sakit?” Tanya Junhyung ingin tau.

“Mengunjungi temanku, dia sedang sakit..” jawab Hyojin.

“Oh.. begitu..” ucap Junhyung lega.

“Oh ya.. sepertinya aku pernah bertemu gadis yang di bawa Yoon Dujun itu, apakah itu kekasihnya?” Tanya Hyojin.

“Mmm.. setahuku mereka hanya berteman, tapi tidak tau jika sekarang. Wae?” Tanya Junhyung.

“Gadis itu sakit parah..” ucap Hyojin memberitau.

Dahi Junhyung berkerut, “Ne? dari mana kau tau?”

“Temanku yang sakit itu, jika tidak salah.. Gadis itu pernah di rawat di ruangan yang sama dengan temanku itu..” jelas Hyojin sambil mengingat-ingat.

“Hm? Jinja? Memangnya temanmu sakit apa?” Tanya Junhyung mulai tertarik.

“Kanker Paru-paru..” jawab Hyojin.

“Omo! Jinja?” Tanya Junhyung tak percaya.

Hyojin mengangguk, “Ne.. Dulu ayahnya perokok berat, dia sering menghisap asap rokok itu dan membuatnya terkena kanker..”

“Horrll.. dampaknya besar sekali, lalu ayahnya temanmu itu?” Tanya Junhyung prihatin.

“Ayahnya sangat menyesal dan bersumpah tidak akan merokok lagi, juga mengharamkan semua keturunannya untuk merokok..” jawab Hyojin.

Junhyung mengangguk mengerti, “Lalu, bagaimana kau tau gadis itu sakit parah? Mungkin saja hanya demam biasa kan..”

“Aniya, mereka berdua saat itu baru saja kemoterapi..” jawab Hyojin.

Junhyung tertegun, “Ne?”

Hyojin mengangguk, “Ne..”

–|||–

Hyuna tersenyum melihat Joon sudah lebih ceria di panti rehabilitasi khusus pengidap skizofrenia, lalu memandang Hyunseung yang berdiri di sebelahnya.

Hyunseung tersenyum, “Kau lihat? Jika mendapat pengobatan dan terapi kondisi kakakmu akan segera membaik, tapi harus tetap melanjutkan pengobatan..”

Hyuna mengangguk, “Gumawoyo oppa..” ucapnya tulus.

Hyunseung mengangkat tangannya dan mengelus pipi Hyuna dengan punggung tangannya, “Khaja..” ajaknya, lalu menggenggam tangan Hyuna pergi.

Hyuna tertawa kecil karena sikap Hyunseung, “Oppa.. mau kemana? Aku belum bertemu oppaku..”

Hyunseung memandang Hyuna, “Hari ini tidak ada jadwal jenguk.. Juga biarkan Joon-ssi tidak melihatmu paling tidak dua minggu, ia akan menjadi lebih baik.. Kalian bisa berkomunikasi melalui telepon..”

“Hm?” Hyuna menahan langkahnya dan menatap Hyunseung tak mengerti, “Wae? Oppa pasti akan khawatir jika tidak bertemu denganku..”

Hyunseung menatap Hyuna dalam, “Ne.. Oppamu pasti akan sangat khawatir..” ucapnya, “Tapi dia belum bisa menahan dirinya sendiri.. Jika dia melihatmu, mungkin penyakitnya akan kambuh lagi. Dia bukan sekedar skizofrenia, dia juga memiliki obsesi terhadapmu. Itu tidak baik untuk kondisinya. Kau mengerti?”

Hyuna tampak sangat sedih, “Mmm.. tapi..”

Hyunseung memegang kedua bahu Hyuna, “Hanya beberapa minggu saja, jika pengobatan berjalan lancar, 2 minggu lagi kau sudah bisa bertemu dengannya. Tapi jika kau berkeras, mungkin perlu waktu bertahun-tahun untuk itu..”

Hyuna mengangguk mengerti, “Ne, arasso..”

Hyunseung tersenyum, “Gwenchana, selama oppamu di panti. Aku yang akan menjagamu, khaja..” ajaknya.

Hyuna tersenyum mendengar ucapan Hyunseung, “Oke..” ucapnya setuju.

Hyunseung memegang tangan Hyuna dan membawa gadis itu berjalan pergi.

–|||–

Yoseop yang sudah terlebih dulu duduk di kafe tersenyum sambil membalas pesan dari Soyu. Gadis itu sangat ingin bertemu teman-temannya, namun harus mengikuti rapat pengurusan acara yang akan di adakan kampus mereka. Ia mengangkat wajah ketika mendengar seseorang datang, “Gikwang!!” ucapnya riang.

Gikwang tersenyum tipis dan bergerak duduk.

Yoseop memandang Gikwang aneh, “Waekeure? Kau sudah tidak lama muncul dan terlihat tidak senang seperti itu..” ucapnya.

“Aniya.. bukan karena itu.” ucap Gikwang pelan.

“Lalu?” Tanya Yoseop ingin tau.

Gikwang menghela nafas dalam, “Aku merasa bersalah karena tidak menghubungi kalian..” ucapnya.

Yoseop tersenyum, “Ahh.. aku tau..”

Gikwang tersenyum, namun Yoseop bisa melihat sesuatu yang ia sembunyikan di dalam.

Yoseop menatap Gikwang serius, “Ya.. Waekeure? Terjadi sesuatu?”

Senyuman Gikwang memudar perlahan dan memandang Yoseop, “Aku ingin bertanya sesuatu..” ucapnya, temannya itu mengangguk dan menunggu apa yang akan ia katakan. “Jika seorang gadis menolak bertemu teman-temanmu, tapi hanya ingin bersamamu. Apa artinya itu?”

Yoseop diam sejenak untuk berpikir, “Hmm.. Menolak bertemu teman-temanku, tapi hanya ingin bersamaku..” Gumamnya sendiri, lalu memandang Gikwang. “Pertama, dia memang hanya tergila-gila padaku tapi malu bertemu teman-temanku karena merasa tidak pantas. Hal itu sering terjadi. Kedua, dia hanya ingin memanfaatkanku dan tidak mau dikenal teman-temanku agar tidak malu jika bertemu nanti..” Ucapnya.

Gikwang diam sejenak, hatinya terasa sangat sakit mendengar pilihan kedua merupakan apa yang selama ini ia pikirkan.

“Jadi, yang mana pilihanmu?” Tanya Yoseop.

Gikwang memejamkan mata dengan kepala tertunduk, lalu kembali membukanya dan memandang Yoseop. “Yang kedua..”

Yoseop tertegun sesaat, “Oh.. apa ini tentang gadis yang berkencan denganmu itu?”

Gikwang mengangguk, “Ne..”

“Hmm.. dia hanya memanfaatkanmu ya?” Tanya Yoseop.

Gikwang mengangguk lagi, “Ne..”

Yoseop diam sejenak, “Mmm.. tapi kau tidak perlu khawatir juga. Mungkin saja dia memang memiliki perasaan padamu, tapi hanya caranya yang berbeda..”

Gikwang tersenyum, “Aneh.. kau selalu konyol tapi aku tetap menanyaimu..”

Yoseop tertawa kecil, “Itu kelebihanku.. hehehe..” ucapnya bangga, “Yang jelas, jika gadis itu membuatmu jauh dari teman-temanmu. Dia tidak mencintaimu..” ucapnya.

Gikwang tertawa kecil, “Ne, araso..” ucapnya.

Yoseop mengangkat wajahnya ketika melihat Dongwoon muncul, “Dongwoon-a..”

Dongwoon tersenyum dan bergerak duduk, “Annyeong..” sapanya.

“Aigoo.. kau masih tidak tau sopan santun ha?” Tanya Gikwang sebal.

Dongwoon tersenyum lucu, “Sudahlah.. aku ingin memesan sesuatu.” Ucapnya dan memandang Yoseop, “Giliranmu mentraktirku hyung..”

Yoseop menatap Dongwoon aneh, “Memangnya siapa lagi yang pernah mentraktirmu? Pabo..” ucapnya dan tertawa kecil.

Ketiga pria itu langsung terdiam melihat Dujun muncul dengan kacamata hitam dan terlihat tanpa ekspresi.

“Ya.. waekeure? Kacamata hitam jadi style-mu sekarang?” Canda Yoseop.

“Hyung, wajahmu sangat pas untuk jadi model dewasa..” canda Dongwoon.

“Apakah kacamata yang menggunakan Junhyung sebagai modelnya?” Tanya Gikwang dan tertawa kecil sambil menunjuk kacamata itu.

Yoseop tertawa, “Hahaha.. benar, memang itu..”

Dongwoon berusaha menahan tawanya, “Horrl.. hyung, kau penggemar Junhyung hyung ya?”

Dujun menghela nafas dalam dan membuka kacamatanya. Seketika teman-temannya terdiam karena melihat wajah frustasi dan lingkaran hitam di bawah mata.

“Omo! Kau mengejutkanku!” ucap Gikwang sambil memegang dadanya karena melihat wajah Dujun.

“Horrll! Hyung! Apa ini caramu merayakan Hallowen?” Tanya Dongwoon tak mengerti.

Yoseop menatap Dujun tak mengerti, “Ada apa denganmu?”

Dujun melancarkan tenggorokannya sejenak, masih dengan tatapan kosong ke depan. “Ada seorang gadis..” ucapnya memulai, “Bahkan aku tidak pernah berpikir untuk memacarinya. Atau pun berpikir untuk menghabiskan waktu bersamanya.. Tiba-tiba akan menikah dan itu membuatku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa memikirkan apa pun selain alasan kenapa dia harus menikah dengan pria lain.. Wae? Apa dia tidak mencintaiku lagi? atau apa dia sudah menginginkanku lagi? kenapa aku merasa seperti ini?” ucapnya dengan mata bergerak-gerak tak mengerti.

Dongwoon, Yoseop dan Gikwang tertegun mendengar ucapan serius Dujun. Kedua mata pria itu juga tampak memerah menahan air yang hendak jatuh. Selama mengenal teman mereka ini, tidak pernah sekalipun pria itu menceritakan seorang gadis sampai seperti ini.

Gikwang yang duduk di sebelah Dujun memegang bahunya, “Ya.. Kau seharusnya menemui kami lebih cepat..”

“Hyung.. Apa kami mengenal gadis ini?” Tanya Dongwoon ingin tau.

“Nam Jihyun..” jawab Dujun pelan.

Yoseop terkejut, “Mwo?! Nam Jihyun?”

Gikwang dan Dongwoon berpandangan tak percaya. Beberapa bulan lalu mereka masih mendengar Dujun bersumpah tidak akan tertarik dengan gadis seperti Jihyun dan sekarang seperti ini?

Dujun memandang teman-temannya putus asa, “Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku seperti ini? seharusnya aku membuatnya seperti ini kan? Berani sekali dia..”

Gikwang menepuk bahu Dujun dan memegang bahu pria itu erat untuk memberikan dukungan.

“Dujun-a.. Sebenarnya, sejak awal kau mengatakan tidak akan menyukai Nam Jihyun, kau sudah jatuh cinta padanya..” ucap Yoseop, “Berhenti menutupi perasaanmu dan datang padanya, katakan apa yang benar-benar kau rasakan. Semuanya belum terlambat jika dia belum benar-benar menikah dengan pria itu..” ucapnya.

“Ne, hyung..” ucap Dongwoon membenarkan. “Kau tidak pernah membawa gadis kenalanmu kepada kami, tapi kau tidak pernah bisa menolak jika Nam Jihyun noona yang memintanya..”

Dujun memejamkan matanya sambil mengelus dahinya, lalu bergerak bangkit dan memandang teman-temannya. “Keure, aku akan datang padanya sekarang..” ucapnya, lalu berbalik pergi.

“Dujun-a fighting!!” sorak Yoseop menyemangati.

“Fighting hyung!!” sorak Dongwoon.

Gikwang berusaha mencerna ucapan Yoseop untuknya sendiri, lalu menatap teman-temannya. “Ya.. aku harus pergi.. Ada yang harus kubereskan..” ucapnya, lalu bangkit dan berjalan pergi.

“Gikwang fighting!!” sorak Yoseop lagi.

“Hm? Waekeure?” Tanya Dongwoon bingung pada Yoseop.

“Aigoo.. nanti kujelaskan..” jawab Yoseop, lalu tersenyum lebar melihat seorang pria yang mengenakan kacamata, jaket bertudung dan masker masuk ke kafe. “Oh.. itu Junhyung..” ucapnya.

Junhyung melangkah cepat menghampiri teman-temannya dan bergerak duduk, “Fiuhh.. akhirnya sampai..” ucapnya sambil melepaskan kacamata dan masker.

“Kupikir kau tidak datang hyung..” ucap Dongwoon.

Junhyung memandang sekitar, “Dujun belum tiba?”

“Hm? Baru saja pergi lagi, Gikwang juga..” jawab Yoseop.

“Ne? aigoo.. padahal ada yang ingin kubicarakan dengannya..” ucap Junhyung.

“Mwo?” Tanya Dongwoon ingin tau.

“Itu.. ada yang melihat gadis yang dia bawa waktu itu mengikuti kemoterapi di rumah sakit, sepertinya sakit parah..” jawab Junhyung.

Dongwoon dan Yoseop tertegun.

“Maksudmu, Nam Jihyun?” Tanya Yoseop memastikan.

“Ne.. jika itu memang namanya..” jawab Junhyung ragu.

Yoseop berpandangan dengan Dongwoon bingung.

Junyung semakin bingung melihat teman-temannya, “Wae?”

 

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “How To Love [Chapter 15]

  1. Andweeeee jihyun sakit 😦 jangan2 yg mau nikah sm jaebom itu bohongan agar doojoon gk tau penyakitnya 😦 😦 😦
    Horeeeee hyunseung sma hyuna makin sosweet aja ^_^
    Hwaiting gikwang-i
    ^_^
    Fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s