Chapter · Cube

How To Love [Chapter 9]

Chapter 9

Le

-It’s New-

Junhyung menunggu di mobilnya di pinggir sungai Han. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi, jadi tidak akan banyak orang disana. Ia menghela nafas dalam sambil mendengarkan music dari MP3 playernya.

Tok! Tok! Tok!

Junhyung tersentak dan memandang ke jendela sambil mengecilkan suara musik di mobilnya. Ia melihat seseorang yang mengenakan tudung jaket di depan jendelanya, satu tangannya menekan tombol otomatis dan jendela turun sedikit. Spontan bibirnya membentuk senyuman melihat Hyojin, “Hyojin-a..”

Hyojin tersenyum tipis, “Miane, aku tidak begitu tau daerah sini..” ucapnya menyesal.

“Masuklah..” ucap Junhyung, lalu menaikan kaca mobilnya lagi.

Hyojin memutari bagian depan mobil dan bergerak masuk.

“Oke.. kita pergi..” Junhyung menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan tempat itu.

Hyojin memasang sabuk pengaman dan memperhatikan keluar yang sangat sepi.

“Kau membawa mobilmu?” Tanya Junhyung sambil memperhatikan jalanan.

“Ani.. aku menggunakan taxi tadi..” jawab Hyojin.

“Ne?!” ucap Junhyung kaget. “Taxi? Jam segini?! Kenapa kau tidak menyuruhku menjemputmu saja?!” tanyanya kesal.

Hyojin menatap Junhyung aneh, “Wae? Kau ingin ada skandal? Kau ini..”

Junhyung tertegun sendiri mengapa ia sampai memberi respon seperti tadi, “Hmm.. aku hanya bertanya..” ucapnya berusaha menutupi rasa gugupnya.

“Jadi, kau ingin kemana?” Tanya Hyojin.

“Entahlah.. aku hanya ingin berjalan-jalan sambil mengobrol, tapi teman-temanku sudah punya renana masing-masing.” Jawab Junhyung.

So aku pilihan terakhir karena tidak ada yang ingin menemanimu?” Tanya Hyojin.

“Hm? Aniya.. bukan seperti itu.. Aku hanya berpikir mungkin bisa semakin dekat denganmu jika sering mengobrol..” jawab Junhyung.

Hyojin tersenyum lucu sambil memandang jendela, “Hmm.. kau masih sama, Yong Junhyung..”

Junhyung melirik Hyojin heran, “Apa maksudmu? Sama apanya?”

Hyojin memandang Junhyung, “Selalu menyelamatkan dirimu..”

Junhyung tertegun, “Ne?”

Hyojin tertawa kecil, “Hanya bercanda..” ucapnya, lalu mengulurkan tangan ke pemutar music. “Apa yang kau punya disini?”

Junhyung mematikan pemutar MP3, membuat Hyojin memandangnya bingung.

Dahi Hyojin berkerut, “Waekeure?”

“Daripada mendengarkan music, bicara saja denganku..” ucap Junhyung.

“Kau kan sedang mengendarai..” ucap Hyojin aneh.

“Tidak apa-apa, bicara saja..” ucap Junhyung.

Hyojin menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengangguk, “Keure..” ucapnya setuju. Ia diam sejenak memikirkan topic pembicaraan, “Mmm.. Apa teman-teman yang kau maksud itu masih sama? Jang Hyunseung, Lee Gikwang, Yang Yoseop, Yoon Dujun dan junior kita itu. Son Dongwoon?”

“Masih.. Aku tidak begitu bisa akrab dengan orang lain. Jadi aku berusaha tetap berhubungan dengan mereka..” jawab Junhyung.

Hyojin mengangguk mengerti, “Syukurlah…”

Hening…

“Oke, aku akan bertanya..” ucap Junhyung memecahkan keheningan, “Kau sudah lama mulai membuat music?”

Hyojin mengingat sejenak, “Sudah sejak SMA, aku pernah berbagung dengan sebuah grup rapper underground..”

Junhyung menatap Hyojin kaget, “Ne?! SMA?!”

“Ne, wae?” Tanya Hyojin heran.

“Ani.. bagaimana aku tidak tau? tidak ada beritanya sama sekali juga..” jawab Junhyung tak mengerti.

“Untuk apa berita?” Tanya Hyojin, “Aku melakukannya karena aku menyukainya, bukan untuk menjadi anak popular di sekolah..” ucapnya.

Junhyung tertegun. Ucapan Hyojin seperti tamparan keras ke wajahnya.

Hyojin memandang Junhyung bingung karena tidak mengatakan apa pun lagi, “Wae?”

“Hm? Oh.. ani..” jawab Junhyung.

“Lalu kau, sejak kapan kau menyukai music?” Tanya Hyojin.

“Mmm.. sejak SMA juga..” jawab Junhyung.

“Ahh… benar, kau pernah tampil di sekolah kan? Hmm..” ucap Hyojin yang kembali ingat.

“Hm? Kau tau? kupikir kau tidak datang..” ucap Junhyung heran.

Hyojin menatap Junhyung aneh, “Acaranya kan di sekolah.. Meskipun aku tidak datang, anak-anak di sekolah membicarakanmu hingga berminggu-minggu. Bahkan sampai kau lulus..”

“Oh.. begitu.. kupikir…” Junhyung langsung menghentikan ucapannya, ia hampir saja keceplosan lagi.

“Apa?” Tanya Hyojin bingung.

“Oh.. aniya.. hanya…… sudahlah..” ucap Junhyung mengalihkan pembicaraan.

“Kau pikir aku sengaja datang dan bersembunyi hanya untuk menyaksikan penampilanmu?” Tanya Hyojin menebak apa yang akan di katakan Junhyung.

Junhyung tertegun, “A-apa yang kau katakan?” tanyanya gugup.

Hyojin tertawa mendengar nada bicara Junhyung, “Apa menurutmu aku seputus asa itu sampai melakukan hal konyol yang kau pikirkan?” tanyanya.

Junhyung menatap Hyojin aneh sejenak, lalu kembali memandang jalanan. “Hmm.. semua gadis sama saja. Mereka akan terlihat tegar dan seperti semuanya baik-baik saja, tapi sebenarnya setiap malam mereka akan tertidur sambil menangis..”

Hyojin mengerutkan dahi dengan tatapan lucunya, “Apa aku harus?”

Junhyung memandang Hyojin bingung, namun gadis itu malah tertawa geli.

“Apa semua gadis itu seperti itu?” Tanya Hyojin lucu.

Junhyung tertegun melihat respon Hyojin. Entah mengapa ia merasa kesal dan menepikan mobilnya, lalu menatap gadis itu serius.

“Wae?” Tanya Hyojin bingung.

“Apa maksud ucapanmu?” Tanya Junhyung.

Hyojin mengerutkan dahinya, “Ucapanku? Memangnya kenapa dengan ucapanku?”

Junhyung menghela nafas dalam sambil mengenyampingkan poninya yang sudah diatas alis itu, “Maksudmu.. Kau sama sekali tidak merasa frustasi atau pun menangis semalaman karena aku?” Tanyanya tak percaya.

Hyojin menatap Junhyung aneh, lalu menatap Junhyung tak mengerti. “Mian, apa aku mengecewakanmu?”

“Sekali pun?!” Tanya Junhyung mulai frustasi.

“Apa aku harus?” Tanya Hyojin.

Junhyung menghela nafas dalam dengan tatapan dinginnya pada Hyojin.

Hyojin menatap Junhyung tak mengerti, “Wae?”

Junhyung memalingkan wajah dan melepaskan sabuk pengaman, juga membuka pintu dan keluar.

Hyojin mengerutkan dahi melihat tingkah aneh Junhyung seperti ini.

Junhyung pergi ke depan mobil dan mengacak-acak rambutnya frustasi, “Aisssh! Jinja?! Kenapa aku bodoh sekali?!” Ucapnya sendiri, lalu menendang aspal. Ia menoleh ke arah mobil menatap Hyojin yang menatapnya tak mengerti. Ia memalingkan wajahnya kesal, “Aku merasa bersalah hingga saat ini, kupikir dia sangat terluka..” Gumamnya kesal.

Hyojin menghela nafas dalam, lalu membuka sabuk pengaman dan menyandang tasnya.

Junhyung berbalik mendengar pintu terbuka, “Kenapa kau keluar?!”

Hyojin menatap Junhyung tanpa ekspresi, lalu melangkah menghampiri pria itu. “Sepertinya kita sudah menyalahi aturan di antara rekan kerja, Yong Junhyung-ssi..” Ucapnya.

“Aku tidak ingin berdebat sekarang, masuk saja ke mobil..” Ucap Junhyung dan berbalik sambil mengusap wajahnya.

Hyojin menyisir rambutnya dengan tangan dan menatap punggung Junhyung, “Sampai besok di studio..” Ucapnya, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Junhyung tertegun dan berbalik, “Ya.. Ahn Hyojin..” Panggilnya sambil mengejar langkah gadis itu dan menarik tangan gadis itu.

Hyojin berhenti dan menatap Junhyung.

Junhyung tertegun melihat tatapan Hyojin. Gadis di depannya, bukan Hyojin yang ia kenal beberapa tahun silam. Gadis di depannya di penuhi rasa percaya diri, kecintaan terhadap music dan ambisi menjadi seseorang yang sukses. Berbeda dengan Hyojin yang ia temui dulu.

Hyojin menarik tangannya, “Jika kau masih ingin hubungan kerja kita berjalan baik, jangan ikuti aku malam ini..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Junhyung menghela nafas dalam dan hanya berdiri di tempatnya memperhatikan Hyojin pergi.

–|||–

Hyunseung menyandarkan punggungnya ke dinding lift sambil memikirkan teman-temannya. Mereka jadi jarang bertemu akhir-akhir ini karena kesibukan masing-masing, hanya Yoseop yang tetap bertemu dengannya setiap hari. Ia kembali terdiri tegap ketika pintu terbuka.

“Andwaeyo oppa!!”

Langkah Hyunseung berhenti dan menoleh ke belakang.

Buk!!

Hyunseung terkejut mendengar bunyi sesuatu di pukul itu, sepertinya ada orangyang sedang berkelahi. Ia memandang sekitar namun tidak ada siapa pun, jadi kakinya melangkah mendekati asal suara tadi.

“Oppa hentikan!!” DUKK!!

Hyunseung kembali berhenti mendengar suara gadis tadi, lalu mempercepat langkahnya. Namun ia terkejut melihat seseorang berlari dari sebuah pintu apartemen dengan wajah panik. Juga darah terlihat memenuhi wajah gadis itu, “Oh! Kim Hyuna?!” ucapnya.

Hyuna tampak lega melihat Hyunseung dan langsung memeluk pria itu ketakutan, “Oppa! Tolong aku!!”

Hyunseung memegang kedua bahu Hyuna dan menatapnya, “Waekeure? Apa yang terjadi?”

“Ya! Hyuna!!” seru seorang pria yang muncul dari apartemen tempat Hyuna lari tadi.

Hyuna langsung bersembunyi di belakang tubuh Hyunseung ketakutan.

Hyunseung melindungi Hyuna dengan tatapan ngeri pada pria di depannya. Pria itu mengenakan celana jeans dan baju kaus tipis, bertubuh tegap dan tampak sangat bengis.

“Ya! Kemari sekarang!” panggil pria itu sambil melangkah mendekati Hyuna yang masih bersembunyi.

“Ya.. apa-apaan kau memukul seorang gadis seperti itu?!” Tanya Hyunseung kesal.

Pria itu menatap Hyunseung dingin, “Bukan urusanmu! Dia adikku, jangan ikut campur!”

Hyunseung tertegun mendengar ucapan pria itu dan melirik Hyuna yang terlihat sangat ketakutan.

“Kim Hyuna!!” panggil pria itu marah.

“Andwaeyo oppa..” tangis Hyuna dari balik tubuh Hyunseung.

Hyunseung menatap pria di depannya, “Ya.. aku bisa melaporkanmu atas kekerasan rumah tangga, hentikan..” ucapnya tenang.

“Tutup mulutmu!” ucap pria itu dingin, lalu melangkah maju untuk menarik adiknya. “Hyuna kemari..”

Hyunseung menghalangi pria itu untuk menarik Hyuna sambil menatapnya tanpa takut.

“Aissh.. aku tidak ada urusan denganmu!” ucap pria itu kesal.

“Jika kau ingin membawanya kembali ke apartemen itu dan memukulinya sepuas hatimu, kau harus melewatiku dulu..” ucap Hyunseung.

Pria itu menatap Hyunseung marah dan menarik kerah baju pria itu, “Mwo?!!”

Hyuna terkejut dan langsung mendorong kakak prianya, “Oppa!! Hentikan!!”

Melihat adiknya keluar dari balik tubuh Hyunseung, pria itu langsung menjambak rambut adiknya dan mendorongnya ke pintu apartemen mereka.

“Ya!!” seru Hyunseung marah dan melayangkan pukulannya ke wajah kakak Hyuna.

DUAK!!

Pria itu terjungkal ke belakang dan membentur dinding, lalu jatuh ke lantai.

Hyunseung menatap pria itu marah dan bersiap jika ada serangan lain. Namun pria itu tidak bergerak. Ia tertegun dan memperhatikan lawannya serius.

Hyuna tertegun melihat kakaknya tidak bergerak, “Oppa..” panggilnya, lalu merangkak menghampiri kakaknya. “Oppa..” panggilnya sambil mengguncang bahu pria itu. tetap tidak ada jawaban, matanya membesar dan memegang kedua pipi kakaknya. “OPPA!!” teriaknya histeris.

Hyunseung terpaku di tempatnya menatap pria itu terbaring disana.

<<Back           Next>>

Advertisements

5 thoughts on “How To Love [Chapter 9]

  1. aq yakin hyojin pasti ngerasa ssakit lah dulu sampe sekarang mungkin , tpi dya nyembunyiin perasaan nya :/
    nah nah lu kok kakak nya hyuna kasar bangett seh , ada kejadian apa seh sebener nya ???!
    masa di hajar am seungie cuman segitu bsa pingsan seh cemen :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s