Chapter · Cube

How To Love [Chapter 12]

Chapter 12

G.NA

-It’s Still so Hard, This Thing Called Love-

Junhyung berbaring di tempat tidurnya sambil memikirkan sesuatu. Ia dan Hyojin tidak pernah berbicara informal sejak kejadian malam itu. Ia sangat menyesal mereka jadi seperti ini. ia menghela nafas dalam dan mengambil ponselnya.

Yong Jun Hyung : Ya.. kau sibuk?

Yang Yo Seop : Aniya, wae?

Yong Jun Hyung : Aku ingin membicarakan sesuatu..

Yang Yo Seop : Mwo?

Yong Jun Hyung : Jika kau pernah membuat seseorang kecewa, tapi tidak tau cara memperbaikinya. Apa yang akan kau kulakukan?

Yang Yo Seop : ??

Yong Jun Hyung : Jawab saja..

Yang Yo Seop : horrll.. apakah ini untuk orang yang kukenal?

Yong Jun Hyung : Jawab saja atau aku akan bertanya pada yang lain..

Yang Yo Seop : Hahaha.. tentu saja minta maaf.. pabo..

Junhyung tertegun, ‘Minta maaf?’ batinnya sendiri.

–|||–

Junhyung duduk di sofa setelah melakukan rekaman untuk lagu yang akan masuk ke album barunya. Matanya melirik Hyojin yang sedang membicarakan sesuatu bersama Jihoon.

“Aku akan bertemu CEO sebentar, tetap disini..” ucap Jihoon sembari bangkit dan melangkah pergi.

Junhyung menghela nafas dalam dan langsung bangkit untuk berpindah ke sebelah Hyojin, “Hei..” sapanya.

Hyojin memandang Junhyung sekilas, “Hm.. waekeure, Junhyung-ssi?” tanyanya formal.

Junhyung mengumpulkan keberaniannya. Meminta maaf termasuk hal yang sangat sulit ia katakan meskipun pada teman-temannya, “Mmm.. aku ingin…” mulutnya tidak bisa melanjutkan apa yang ingin ia katakan.

Hyojin memandang Junhyung bingung, “Mwo?”

Junhyung jadi panas dingin karena gugup, “Aku.. tentang malam itu.. aku min…” ucapannya kembali terputus.

Hyojin mengerutkan dahi, “Wae?” tanyanya karena merasa terganggu.

Junhyung menghela nafas dalam dan mengepalkan tangannya, “Aku minta maaf..” ucapnya dengan penyebutan yang jelas.

Hyojin terdiam beberapa saat, “Untuk apa?”

“Untuk apa yang kulakukan di masa lalu..” jawab Junhyung.

Hyojin diam sejenak lagi, “Memangnya apa yang kau lakukan?”

Junhyung tetap berusaha menahan harga dirinya meskipun hanya di depan Hyojin, “Yaaaa.. semuanya..”

“Apa? Aku tidak ingat..” ucap Hyojin.

Junhyung menatap Hyojin sebal, “Kau ingat kan? Kau hanya berpura-pura tidak ingat..”

Hyojin menatap Junhyung aneh, “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”

“Sudah.. lupakan..” ucap Junhyung sembari bangkit, lalu kembali ke sofa.

Hyojin menghela nafas dalam, lalu kembali menulis sesuatu di buku liriknya.

–|||–

Jina terus membacakan pelajaran agar Dongwoon mendengarnya. Pria itu justru terlihat semakin cuek dengan pelajaran menjelang ujian akhir ini.

“Kemanhe..” ucap Dongwoon bosan.

Jina berhenti dan memandang Dongwoon, “Wae? Kau ingin belajar yang lain?”

Dongwoon memperbaiki posisi duduknya, “Aku tau tempat yang cocok untuk adikmu menggambar dinding sepuasnya..” ucapnya langsung.

Jina menghela nafas dalam, “Kita lanjutkan pelajaran lagi..”

“Jika dia tidak menemukan dinding yang cocok, dia akan membuat masalah dengan menggambari rumah orang lagi..” ucap Dongwoon.

Jina membuka halaman lain, “Keure, sekarang kerjakan soal ini..”

Dongwoon merebut buku itu dari tangan Jina, membuat gadis itu menatapnya kaget. “JIka aku bisa mengerjakannya, kau harus mau membawa adikmu ke tempat ini..”

Jina menatap Dongwoon tak mengerti, “Apa kau sangat suka bertaruh? Kau bisa menjadi penjudi handal jika begitu..” ucapnya sebal.

“Keure, aku akan mengerjakannya..” ucap Dongwoon sambil mengambil pensil dan mulai mencorat-coret kertas.

“Aku tidak akan menyetujuinya walaupun kau mengerjakan soal itu..” ucap Jina.

Dongwoon menarik tangannya dan menatap Jina sebal, lalu meletakkan pensilnya lagi. “Ya sudah…” ucapnya dan mengeluarkan ponselnya.

“Ini bukan urusanmu, Dongwoon.. Aku..” jina terdiam melihat Dongwoon menempelkan ponsel ke telinga.

“Noona, kau sibuk? Mau pergi main denganku?” Tanya Dongwoon dengan senyuman di wajahnya, “Jinja? Keure, aku akan menjemputmu. Ne.. saranghae..” ucapnya dan memutuskan telepon.

Jina menatap Dongwoon tak mengerti, “Kau tidak akan kemana-mana hingga kelas kita selesai..”

Dongwoon tersenyum pada Jina, “Maksumu, kau yang tidak akan kemana-mana?” tanyanya, lalu bangkit dan menghampiri lemari pakaiannya.

Jina tak percaya pria muda itu selalu bersikap tidak sopan padanya, “Ya! Kau harus mematuhi gurumu!”

Dongwoon membuka pintu lemari dan mencari-cari jaket yang pas untuk di kenakan saat itu, “Hmm.. aku tidak pernah mengacuhkan guru di sekolah, kenapa kau special?”

Jina menggenggam kedua tangannya kesal, lalu mengambil buku dan melemparkannya pada Dongwoon.

Buk!

Dongwoon terdiam di tempatnya merasakan sesuatu membentur punggungnya, lalu berbalik menatap Jina. Gadis itu terlihat seperti akan menangis dan menatapnya marah, lalu buku lain terbang ke tubuhnya.

“Apa kau tidak bisa sekali saja berpura-pura menghargaiku? Aku menghabiskan banyak waktuku hanya untuk mengajarimu! Apa susahnya duduk diam hingga jam pelajaran selesai?!” Tanya Jina tak mengerti.

Dongwoon menghela nafas dalam dan berbalik untuk mengambil sebuah jaket, lalu kembali menutup pintu. Ia melangkah menuju pintu kamar tanpa menjawab ucapan Jina.

“Son Dongwoon!” seru Jina sambil menarik tangan pria itu.

Dongwoon berhenti dan menatap Jina marah, lalu menyentak tangannya. “Diam.. jangan pernah mendikteku..” ucapnya dingin.

Bulir air mata Jina mulai berjatuhan, “Son Dongwoon…” ucapnya dengan suara bergetar. “Apa yang telah kulakukan hingga kau seperti ini padaku?”

Dongwoon diam sejenak, lalu terseyum sinis. “Entahlah.. hanya kau yang tau jawabannya..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan ke pintu. BUK! Langkahnya berhenti merasakan buku lain membentur punggungnya.

Jina mengambil semua buku di atas meja dan melemparkannya ke arah Dongwoon yang masih terpaku di ambang pintu. “Pergilah.. aku tidak akan pernah kembali kemari lagi..” ucapnya.

Dongwoon berbalik menatap Jina, lalu tersenyum sinis. “Ne.. untuk apa kau mengajari anak haram sepertiku..” ucapnya, lalu membuka pintu dan keluar.

Jina tertegun mendengar ucapan Dongwoon, “Dongwoon-a..” panggilnya sambil mengejar langkah kaki pria itu. “Son Dongwoon!” panggilnya sambil menarik tangan pria itu.

Dongwoon berhenti namun tidak langsung berbalik.

Jina menarik Dongwoon untuk berhadapan dengannya, “Dongwoon, bagaimana.. darimana kau mengetahui itu?”

Dongwoon menghela nafas dalam dan menatap Jina.

=Flashback=

Dongwoon yang baru pulang sekolah melewati ruangan kerja ayahnya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu sambil memandang layar ponselnya. Ini beberapa hari setelah teman-temannya yang lain memulai hari sebagai mahasiswa.

“Aku akan menanggung semua biaya hidupmu dan adikmu yang autis, tapi kau harus mengajari anakku hingga lulus dengan nilai yang sangat baik..”

Dongwoon berhenti karena mendengar suara ibunya, “Hm? Appa sudah kembali?” gumamnya dan menghampiri pintu yang tidak tertutup rapat.

“Ne? maksud anda, anak tunggal anda sajangnim?” Tanya seorang gadis tak percaya.

“Ne.. Aku ingin dia bisa lulus ke universitas luar negeri dengan jalur beasiswa agar semua orang semakin mengagumi kepintaran putraku..” jawab ibu Dongwoon.

“Mmm.. tapi kan.. dia..” gadis itu tampak ragu untuk berbicara.

Dongwoon mengintip ke celah pintu dan melihat ibunya terlihat sangat serius.

“Anak haram suamiku? Ne.. dia memang anak haramnya..” ucap ibu Dongwoon.

Dongwoon terpaku mendengar ucapan ibunya. seluruh dunianya terasa seperti berhenti.

“Mmm.. sajangnim, bagaimana jika anda mencari tenaga yang lebih professional? Aku tidak yakin bisa melakukannya..” ucap gadis yang tak lain adalah Jina itu.

“Aniya.. Aku percaya padamu..” ucap ibu Dongwoon, “Kau harus membuatnya keluar dari rumah ini. jika dia sudah berkuliah di luar negeri, dia tidak akan kembali..”

“Hmm.. pasti sulit bagimu membesarkan anak haram seperti itu..” ucap Jina prihatin.

“Karena itu kau harus membantuku..” ucap ibu Dongwoon.

“Ne.. aku akan berusaha semampuku..” ucap Jina bersungguh-sungguh.

=Flashback End=

“Apa pun hubunganmu dan ibuku, ani.. wanita yang kupikir adalah ibuku..” ucap Dongwoon dingin, “Aku tidak peduli.. Tugasmu hanya untuk membuatku bisa lulus beasiswa kan? Akan kupastikan kau tidak akan bisa..” ucapnya sambil tersenyum sinis, lalu berbalik pergi.

“Dongwoon! Sebentar! Dengarkan aku!” ucap Jina sambil menarik tangan Dongwoon.

Dongwoon menyentak tangannya, namun malah membuat Jina terdorong dan jatuh ke lantai. Ia hanya menatap gadis itu dingin, “Jangan menyentuhku, sonsaengnim.. Kau akan kotor menyentuh anak haram..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Jina hanya bisa menatap Dongwoon sedih, “Dongwoon-a..”

–|||–

Hyuna menoleh ketika Hyunseung masuk, “Oppa..” sapanya sambil tersenyum.

Hyunseung menutup pintu di belakangnya dengan wajah bingungnya melihat Joon yang tidur di tempat tidur dengan kedua tangan terikat ke besi di sisi kanan dan kiri tempat tidur. “Waekeureyo??” tanyanya tak mengerti.

Hyuna memandang Joon dan kembali memandang Hyunseung, “Hmm.. tadi oppa kembali mengamuk, jadi perawat mengikatnya jika nanti tiba-tiba terbangun lagi..” jawabnya.

“Ne?” ucap Hyunseung kaget dan menghampiri Hyuna, “Neo gwenchana?” tanyanya khawatir.

Hyuna tersenyum dan mengangguk, “Ne, gwenchanayo..” ucapnya.

Hyunseung tersenyum lega dan spontan memeluk Hyuna, “Syukurlah..” ucapnya. Tangannya bergerak mengelus rambut panjang gadis itu lembut.

Hyuna tertegun merasakan pelukan hangat Hyunseung, juga elusan lembut pria itu di rambutnya. “O-Oppa..” ucapnya gugup sambil mengetuk lengan pria itu.

Hyunseung tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Juga menjaga jarak, “Oh.. mian..” ucapnya canggung.

Hyuna tersenyum lucu, “Ne..” ucapnya sambil menyelipkan rambutnya belakang telinga.

Hyunseung tersenyum malu sambil mengelus belakang kepalanya, “Hmm.. kau sudah makan malam?”

Hyuna mengangguk, “Ne..” jawabnya, “Gumawoyo oppa..”

Hyunseung mengangguk pelan, ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk, ia segera mengangkat panggilan itu karena dari Jieun. “Ne, Jieun-a..” jawabnya.

“Hyunseung, kau dimana? Bisa datang kemari?” Tanya Jieun di seberang, terdengar musik keras di seberang.

Dahi Hyunseung berkerut, “Waekeure? Kau di klub?”

“Ne.. Dongwoon berkata bosan dan ingin pergi ke klub, tapi dia malah mabuk berat sekarang..” ucap Jieun menyesal.

Hyunseung menghela nafas kesal, “Aissh… Song Jieun! dia masih di bawah umur!” ucapnya kesal, “Aku kesana sekarang!” ia memutuskan telepon dan memandang Hyuna yang memandangnya bingung, “Aku harus pergi, tapi setelah selesai nanti aku akan kembali..” ucapnya, lalu berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruang perawatan Joon.

<<Back           Next>>

Advertisements

14 thoughts on “How To Love [Chapter 12]

  1. Waahhhh,ff baru lagi
    Ceritanya makin menarik,aku suka aku suka

    Kesian Dongwoon dan Hyuna,dongwoon ank haram,trus hyuna punya kakak yng sakit.
    Yoseob kayaknya udh mau mulai menjauh dri soyou T_T

    Keep writing thoorrr,ceritanya harus lebih seru&menarik \^o^/

  2. ‘,’ dongwoon ternyata anak haram sedihnya , pantasan dia bersikap sprti itu kpd jina hefhhhhhhh
    aigooo cute nya hyuna sma hyunseung hehehe
    fighting buat junhyun dn hyojin !!!
    Next eon
    fighting!! Jjang2hyun

  3. Yoon seolcan ada pada di diri Yong Junhyung~
    EHMM,,,,dongwonii anak haram,,o o o oo

    Bwt Hyuna,,jangan cemburu yaaa,,,,itu cm tmb Seung kok,,,,,

  4. jdi woonie ank haram ???!!!!???
    gg nyangka ihh :/
    gg ngerti kenapa hyojin gtu ke jh apa bener gg inget atau gimana seh , lama”sebel jga am hyojun -_-
    aigoo maknae mabuk ,. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s