Chapter · Cube

How To Love [Chapter 7]

Chapter 7

htl

-Revenge vs Revenge-

 

Dongwoon melangkah lesu dengan seragam sekolahnya. Ujian sudah semakin dekat, ia tidak punya waktu bermalas-malasan lagi di rumahnya. Ibunya sangat ingin ia bisa melanjutkan kuliah keluar negeri, sedangkan ia lebih ingin tinggal disini dan berkuliah disini. Ia menghela nafas dalam dan memperbaiki posisi tas ranselnya. Langkahnya terhenti melihat seorang pria yang terlihat lebih muda beberapa tahun darinya menggambari dinding sebuah toko dengan kapur berwarna warni. Dahinya berkerut memperhatikan pria itu. ‘Apa toko itu punyanya?’ batinnya heran.

Namun jawaban Dongwoon terjawab ketika sang pemilik toko keluar dan langsung melotot melihat dinding tokonya di corat-coret, “Aissh!! YA!! Kau lagi!! kau lagi!!” seru nenek tua itu sembari menghampiri pria muda tadi dan memukul kepalanya.

Pria tadi tersentak, namun tetap mengulurkan tangannya untuk menggambar.

“Aissh!! Dasar idiot!! Hentikan!!” seru nenek tua tadi sambil memukul tangan pria tadi dan mendorongnya hingga terjatuh.

“Ahh.. gambarku… gambarku..” ucap pria tadi sambil mencari-cari kapur yang terlepas dari tangannya di lantai.

“Hentikan!! Kau mengerti tidak?!” seru nenek itu sambil memukul bahu pria tadi.

Dongwoon seperti terhipnotis dan terpaku di tempatnya. Juga orang-orang sekitar memperhatikan dengan dahi berkerut.

“Halmoni! Hentikan!” seru seorang gadis sambil menghampiri pria tadi, “Hentikan halmoni!” ucanya sambil melindungi pria tadi.

Nenek tadi berhenti berkacak pinggang, “Ya! Jika kau tidak bisa merawat adikmu yang idiot ini, berikan dia pada panti social!!” serunya kesal.

Dongwoon tertegun melihat gadis itu adalah Jina, ia tidak tau gadis itu tinggal di sekitar sini.

“Halmoni! Adikku tidak idiot! Ia autis!” seru Jina kesal.

“Apa pun itu!! pokoknya jauhkan adikmu dari dinding tokoku!! Lihat! Apa yang ia lakukan!! Kau harus membersihkannya! Sudah berapa kali dia melakukannya?!” seru nenek itu dengan mata melotot.

Jina menatap nenek itu kesal, lalu memandang adiknya yang kembali mengulurkan tangan ke dinding dengan kapur yang berhasil ia temukan. “Sungjae-a, kemanhe.. Ayo kita pulang..” ucapnya sambil menahan tangan adiknya dan menarik pria itu berdiri bersamanya.

“Shiro! Gambarku!!” seru Sungjae sambil melepaskan tangan Jina dan kembali menggambar.

“Sungjae.. kau bisa melanjutkannya di rumah.. Ayo..” ajak Jina.

Sungjae tidak bergeming dan hanya serius dengan apa yang ada di depannya.

“Aissh!! Anak ini!” nenek tadi kembali kehilangan kesabaranya dan mendorong kepala Sungjae.

“Halmoni!!” seru Jina pada nenek itu.

“Mwo?! Kau ingin menyalahkanku?! Salahkan adikmu yang idiot ini! kau beruntung sangat miskin! Jadi aku tidak mungkin mengharapkan ganti rugi padamu!” ucap nenek itu kesal.

Emosi Jina benar-benar memuncak, rasanya ia ingin memaki nenek tua di depannya. namun ia tidak punya kuasa untuk menyelesaikan masalah yang ia timbulkan nanti.

“Berapa ganti rugi yang kau inginkan?” Tanya Dongwoon sambil menghampiri si nenek tadi.

Jina tertegun dan menoleh, matanya membesar melihat pria itu ada disana.

Nenek tadi tertegun mendengar pertanyaan Dongwoon, “Mwo?”

Dongwoon mengeluarkan dompetnya dan mengambil banyak uang lembaran besar, lalu mengulurkannya pada sang nenek. “Ini lebih dari cukup untuk ganti rugi, dia hanya menggambar. Apa yang salah dengan itu? apa anda tidak lihat? Gambar yang dibuatnya sangat indah, ini akan mempercantik tokomu..” ucapnya.

Jina terkejut melihat Dongwoon memberikan uang pada nenek itu, “Ya! Apa yang kau lakukan?!” tanyanya kesal.

Nenek tadi memandang dinding dan memperhatikan sejenak, memang benar apa yang di katakan Dongwoon. Gambar Sungjae memang sangat indah.

“Jadi, anda perlu ganti rugi atau tidak?” Tanya Dongwoon.

Nenek tadi menatap Dongwoon sebal, lalu mengambil uang itu. “Keure! Segeralah pergi setelah ini!” ucapnya dan melangkah pergi.

“Halmoni! Kembalikan uang itu!! halmoni!” panggil Jina sambil mengejar nenek tadi, namun Dongwoon menarik tangannya. ia berhenti dan menatap pria itu kesal. “Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mencampuri urusanku?!”

Dongwoon menatap Jina heran, “Memangnya urusanmu sangat penting hingga aku perlu ikut campur?” tanyanya.

Jina menyentak tangan Dongwoon dan menghampiri adiknya, “Sungjae-a, jibe khaja..” bujuknya sambil menarik lengan Sungjae.

Sungjae menghindari Jina dan terus menggambar.

“Sungjae-a..” bujuk Jina lagi.

“Ya.. sonsaengnim..” panggil Dongwoon sebal.

Jina menatap Dongwoon kesal, “Mwo?!”

“Neo paboya?” Tanya Dongwoon aneh.

Jina menatap Dongwoon kesal.

“Kau tadi berkata dia autis.. Apa kau tidak tau kebiasaan anak autis? Dia tidak akan berhenti hingga ia menyelesaikan gambarnya..” ucap Dongwoon aneh.

“Aku tau! tapi dia tidak bisa terus menggambar disini!” ucap Jina dan merangkul adiknya, “Ayo Sungjae…”

Sungjae mendorong Jina dan terus menggambar.

“Ckckck..” decak Dongwoon sambil geleng-geleng kepala, “Apa dia benar-benar adikmu? Apa kau baru saja memungutnya dari tempat sampah?”

Jina menatap Dongwoon marah, “Tutup mulutmu! Jangan campuri urusanku!!” serunya, lalu menarik tangan Sungjae dengan kasar, “Choi Sungjae! Kita pulang!!” tegasnya.

“Gambarku! Gambarku!!” seru Sungjae sambil berontak dan meneruskan gambarnya lagi.

Dongwoon memutar bola matanya ketika Jina kembali menarik Sungjae, lalu menarik lengan gadis itu agar menjauh dari pria itu.

“Ya!” seru JIna kesal,

“Bertaruh denganku..” ucap Dongwoon memotong ucapan Jina, “Jika adikmu tidak berhenti setelah melukis, uang yang tadi kuberikan sebagai ganti rugi akan kuanggap tidak ada. Tapi jika adikmu tidak berhenti, aku akan menuruti semua ucapanmu. Semuanya! Aku juga akan mengerjakan semua tugas yang kau berikan padaku..” ucapnya yakin.

Jina menatap Dongwoon tak mengerti, “Apa-apaan kau? Kau menjadikan adikku bahan taruhan?”

“Setuju saja!” tegas Dongwoon.

Jina diam sejenak dan memandang adiknya yang masih menggambar.

“Oke, diam berarti setuju..” ucap Dongwoon dan memperhatikan Sungjae menggambar dengan tenang,

Jina memandang Dongwoon aneh dan memperhatikan adiknya lagi.

20 menit kemudian..

Sungjae menarik tangannya dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan dinding yang sudah penuh dengan gambarnya.

Jina tertegun melihat Sungjae pergi begitu saja dan menatap Dongwoon tak percaya.

Dongwoon mengangkat bahu dan tersenyum penuh kemenangan, “Oke.. Dia berhenti.. Aku tidak perlu mendengarkan ucapanmu.. Sampai jumpa pukul dua..” ucapnya lega, lalu berjalan pergi.

Jina memperhatikan Dongwoon sejenak, lalu mengejar adiknya. “Sungjaeu-a..” panggilnya.

–|||­–

Jihoon mengerutkan dahi membaca lirik yang di berikan Hyojin padanya, lalu memandang gadis itu dan Junhyung yang duduk di sofa. “Ya.. kalian sudah membicarakan perubahan liriknya?”

Hyojin dan Junhyung tertegun, lalu saling melirik.

Jihoon melempar kertas itu ke meja, “Kalian tau apa yang kulihat disana?” tanyanya, kedua orang itu menggeleng. “Apa kalian pasangan yang sedang pisah ranjang?” tanyanya kesal, membuat kedua orang itu tertegun.

“Ne?!” ucap mereka tak mengerti.

“Aku melihat seperti kalian ada di dua sisi yang berlawanan..” ucap Jihoon tak mengerti, “Kalian membuat satu lagu dengan lirik yang sama, kenapa malah seperti ini?” tanyanya tak mengeri.

Hyojin mengelus belakang kepalanya canggung.

Junhyung garuk-garuk kepala canggung.

“Malam ini!” ucap Jihoon, “Kalian harus tetap di studio dan bicarakan tentang lirik ini! besok aku ingin mendengar hasilnya..” ucapnya.

Hyojin dan Junhyung tertegun, “Ne? kami?”

“Ne! kalian berdua!” ucap Jihoon, lalu bangkit dan berjalan menuju pintu.

“Tapi hyung..”

“Tidak ada tapi! Berikan harsilnya!” ucap Jihoon, lalu keluar.

Hyojin dan Junhyung menatap pintu bingung, lalu saling berpandangan canggung.

Hyojin memalingkan wajahnya, “Aku akan menulisnya ulang, tidak apa-apa jika kau ingin pulang..” ucapnya, lalu membuka buku liriknya.

Junhyung tertegun, “Ne? oh… a-aniya.. aku akan membantumu..” ucapnya canggung.

Hyojin memandang Junhyung, “Hmm.. keure..” ucapnya, lalu memandang kertas liriknya.

Tiba-tiba Junhyung merasa sangat gugup karena akan berduaan mala mini bersama Hyojin.

“Apa kau bisa membaca lirikku dari sana?” Tanya Hyojin sambil mulai menulis.

“Ne? oh.. ne..” Junhyung berpindah ke sebelah Hyojin dan memperhatikan apa yang gadis itu tulis. “Mmm.. apa kita tidak memutuskan tema dulu?” tanyanya.

“Hip hop/rap..” jawab Hyojin tanpa mengalihkan pandangannya.

Junhyung mengangguk mengerti sambil tetap memperhatikan apa yang di tulis gadis itu. “Mmm.. kau tidak merundingkan liriknya denganku?”

“Aku akan menulis satu verse, kau tulis verse yang lainnya.. Lalu kita cocokkan dan buat reffrainnya bersama..” Jawab Hyojin.

“Oh.. keure..” jawab Junhyung dan bangkit untuk mengambil buku liriknya, kemudian mulai menulis lirik yang muncul di kepalanya.

Setengah jam kemudian.

“Kau sudah selesai?” Tanya Hyojin.

“Hm? Oh.. sudah.. ini..” jawab Junhyung sembari bangkit dan kembali duduk di sebelah Hyojin.

“Ini punyaku…” ucap Hyojin sambil memberikan isi tulisannya pada Junhyung, lalu membaca tulisan Junhyung.

Junhyung terkesan dengan pemilihan kata dan tulisan yang rapi dari Hyojin. Dahinya bekerut dan memandang gadis itu di depannya, ternyata sang gadis melakukan hal yang sama.

“Kenapa kau menulis sama seperti yang kutulis?” Tanya Hyojin tak mengerti.

“Aku juga ingin bertanya seperti itu..” ucap Junhyung bingung. “Kenapa kau menulis tentang seseorang yang dengan berani menutup teleponmu juga?”

Hyojin menghela nafas dalam, “Suka-sukaku, kau kenapa?”

“Karena aku melakukannya padamu..” ucap Junhyung, lalu terkejut sendiri dan menutup mulutnya.

Hyojin tertegun mendenga jawaban Junhyung.

Junhyung terserang kepanikan mendadak, ia tidak tau kenapa mulutnya mengatakan itu. “Mmm.. maksudku.. aku.. mmm..”

Hyojin memalingkan wajahnya, “Aku juga menulis itu..” ucapnya.

Junhyung tertegun, “Ne?”

Hyojin diam sejenak, lalu memandang Junhyung. “Sepertinya kita terlalu terpengaruh dengan masa lalu..” ucapnya memulai, “Mulai sekarang kita bisa melupakan semuanya dan bersikap seperti rekan kerja. Bagaimana?”

Junhyung tertegun mendengar jawaban bijaksana dari mulut Hyojin. “Mmm.. oke..”

Hyojin tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya, “Senang bekerja sama denganmu, penyanyi Junhyung..”

Junhyung menahan tawa mendengar ucapan Hyojin, lalu menjabat tangan gadis itu. “Senang bekerja sama denganmu, composer Hyojin..”

 

<<Back           Next>>

Advertisements

7 thoughts on “How To Love [Chapter 7]

  1. Sungjae, sedih lhtnya berarti dongwoon itu bnr2 pintar dong ckckxkxk
    Yeayhhhh junhyung sm hyojin mau menutupi masa lalu dn hidup di masa dpn heheh mau kerja sma dengan baik
    Next
    fighting!!

  2. woonie emang hebat pinter cakep lgy ,,,,
    kwangie jd makan siang nya am nana , cielahhh kwangKwang , awas ati” ntar ditipu loh ,,kkkkkk
    jihoon lucu bangett . apa kalian seperti pasangam suami istri yang sedang pisah ranjang LOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s