Chapter · Cube

How To Love [Chapter 6]

Chapter 6

wpid-tumblr_inline_ndba6bt3rh1qa533w.jpg

-Funny Story-

 

“Hmm..” Gumam Hyunseung sambil mengelus matanya, lalu mengerang karena kepalanya terasa sakit. “Ahhh.. Appo…” Rintihnya, lalu bangkit perlahan dan duduk sambil mengacak-acak rambutnya untuk mengurangi rasa sakit. “Ahhhh.. Jeongmal appo..” Rengeknya sendiri. Lalu membenturkan kepalanya ke sandaran sofa, “Eomma appo..” Rengeknya lagi. “Hmm.. Aku tidak akan minum lagi..” Gumamnya, lalu mengangkat kepala sambil memandang tubuhnya. Dan menyadari ia tak mengenakan apa pun selain boxernya, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut. “Aku melakukannya lagi..” Gumamnya sebal. Lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa sambil memejamkan mata. “Hmm.. Appo..” Rintihnya sendiri. Namun tak lama ia kembali membuka mata dan memandang sekitar, “Kenapa aku tidur disini?” Gumamnya bingung. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya, yang ia ingat ia sedang menunggu lift dan merasa kepalanya sangat sakit, lalu…….. Blur.

“Ahh.. Kepalaku..” Rintihnya sambil memijat dahi bagian depannya. Namun matanya tiba-tiba membesar karena bayangan blur tadi menjadi jelas di kepalanya. “Oppa? Dia memanggilku oppa?” Ucapnya tak percaya, “Aissh!! Ahh!! Eoteokhe?!! Aissssh!!!” Serunya frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

–|||–

“Yoseop-a.. Waekeure? Kau tidak ke kuliah?” Tanya ibu Yoseop sambil mengguncang tubuh putranya yang masih berkutat di bawah selimut.

“Hmm.. Aniya.. Kepalaku sakit eomma..” Rengek Yoseop sambil menyembunyikan kepala di bawah bantal.

“Aigoo.. Karena itu berhentilah minum! Kau masih muda, seharusnya kau melakukan hal yang lebih berguna dari pada menghabiskan malam dengan minum-minum!” Ucap ibu Yoseop kesal. “Aissh!!” Ucapnya sebal, lalu berbalik dan keluar dari kamar putranya.

Yoseop kembali bisa tenang dengan tidurnya. Tak tau berapa jam kemudian, ia terbangun dan bergerak bangkit sambil mengelus kepalanya, “Ahhh.. Appo..” Rintihnya pelan. Lalu mengambil ponsel dan memandangnya dengan satu mata terpejam, dahinya berkerut melihat ada beberapa panggilan tak terjawab. Juga sebuah pesan. Matanya terbuka dan menatap layar ponselnya lebih jelas, namun apa yang ia lihat tetap tak berubah. Yang memanggilnya adalah Soyu. Yang mengirim pesan juga.

Kang So Yu : Yoseop-a, kau sakit? Kenapa tidak datang ke kampus?

Yoseop menghela nafas kesal dan mengetik cepat, ‘Ya rubah betina! Jangan pura-pura peduli!!’ Begitu jarinya hendak menekan tombol kirim, ia berhenti. Setelah beberapa detik, ia menghela nafas dalam dan menghapus apa yang ia ketik tadi dan mengirimkan yang lain. ‘Gwenchana, tidak perlu khawatir. :)’

“Hmm.. Ne, bajayo..” Ucapnya sendiri, “Sekuat apa pun aku ingin membalasmu, aku tidak akan bisa menyakitimu.. Aigoo.. Hidup tidak adil..” Ucapnya dan membanting tubuh lagi ke tempat tidur.

–|||–

Gikwang menempelkan punggungnya di tembok dan mengatur nafasnya sambil memegang dada, lalu mengintip ke balik tembok. Disana terlihat Nana dan teman-teman gadis itu sedang duduk di lorong sambil membicarakan sesuatu. Ia kembali berdiri tegap dan mengumpulkan keberaniannya. Ia harus melakukannya sekarang atau tidak selamanya. Ia menghela nafas dalam dan berbalik, lalu melangkah dengan penuh percaya diri menghampiri Nana.

“Ehem..”

Nana dan teman-temannya terdiam dan memandang Gikwang.

Gikwang melancarkan tenggorokannya sejenak, “Mmm.. Annyeong.. Aku Lee Gikwang.. Aku ingin mengatakan sesuatu..” ucapnya malu-malu.

Nana diam sejenak mendengar ucapan Gikwang, lalu bergerak bangkit dan berdiri di depan pria itu. “Ohh.. kau yang mengirimkan chat padaku itu kan?”

Gikwang mendapat tamparan secara mental mendengar ucapan Nana. Ia menunduk malu sambil tersenyum, “Miane, kau pasti terkejut.” Ucapnya menyesal, “Mmm.. sebenarnya saat itu..”

“Gumawoyo..” ucap Nana.

Gikwang tertegun dan menatap Nana tak percaya, “Ne?”

Nana tersenyum lebar, memperlihatkan senyuman bak bidadarinya. “Tidak banyak orang yang mengatakan aku cantik melalui chat..” ucapnya.

Gikwang seperti merasakan padang gersang di dadanya mulai di tumbuhi bunga-bunga indah. bibirnya membentuk senyuman dan mengelus belakang kepalanya malu. “Oh.. begitu..”

“Apa kau mau makan siang denganku nanti?” Tanya Nana.

Gikwang tersentak dan menatap Nana kaget, “NE?!” serunya.

Teman-teman Nana saling berpandangan bingung mendengar ucapan teman mereka.

Nana tersenyum manis, “Kau mau kan?”

Gikwang berusaha mencerna ucapan Nana sejenak, lalu tersenyum lebar dan mengangguk cepat. “Keurom!! Aku akan makan siang denganmu!” ucapnya girang.

“Keure, beritau aku jika kau akan pergi makan siang..” ucap Nana, lalu mengajak teman-temannya pergi.

Gikwang terpaku di tempatnya sambil memperhatikan Nana pergi. juga, gadis itu memandang ke arahnya dan tersenyum. “Ahh.. ini mimpi atau tidak?” gumamnya, lalu mencubit pipinya sendiri. “Yess!! Ini bukan mimpi!! Wohooooooooooooooooo!!!” soraknya riang dan berlari pergi.

–|||–

Dujun memarkirkan mobilnya di parkiran kampus dan melepas sabuk pengaman, lalu membuka pintu dan turun. Dengan santai ia melangkah menuju gedung kampusnya.

“Yoon Dujun!!” panggil seseorang.

Dujun berhenti dan memandang ke belakang.

“Jaebom-a.. Jangan seperti ini..” ucap Jihyun sambil menarik tangan pria bernama Jaebom yang memanggil Dujun tadi.

Jaebom tidak mendengarkan Jihyun dan terus melangkah menghampiri Dujun dengan wajah marahnya.

Dujun memandang pria itu bingung, “Waekeure?”

“Ya, Yoon Dujun..” ucap Jaebom memulai.

“Jaebom-a, ayo kita pergi..” bujuk Jihyun sambil menarik tangan temannya yang di penuhi tato itu.

Jaebom menahan tangannya dan tetap menatap Dujun, lalu menunjuk wajah pria itu dengan jari telunjuknya. “Kuperingatkan padamu.. Jangan dekati Nam Jihyun lagi! kau mengerti?!” ancamnya.

“Park Jaebom! Ayo pergi!” Jihyun mendorong tubuh Jaebom agar beranjak dari sana, namun tetap sia-sia.

Sebelah alis Dujun naik mendapat teguran seperti itu, “Mwo? Kau sedang memperingatiku? Wae? Apa kau kekasih Jihyun?” tanyanya aneh.

“Kekasihnya atau bukan! Aku tidak suka dia bergaul denganmu!” tegas Jaebom, “Dia tidak pernah pulang larut malam meskipun pulang bersama teman-temannya, tapi semalam dia pulang menjelang pagi karena pergi denganmu ke pesta di klub!! Kau memberikannya pengaruh buruk!! Jadi perhatikan jarakmu dari Nam Jihyun mulai sekarang!!” ucapnya, lalu berbalik dan menarik tangan Jihyun pergi.

Dujun tertegun sesaat, lalu tersenyum lucu. “Ya.. kau..” panggilnya.

Jaebom berhenti dan memandang Dujun tajam.

Dujun melangkah maju sambil melipat kedua tangannya di dada, “Dengar dulu, sepertinya ada yang salah disini..” ucapnya, “Kau bisa bertanya pada Nam Jihyun, siapa yang memaksa ingin pergi ke klub? Aku tidak pernah mengajaknya, dia yang ingin pergi. kau tidak tau ia sangat merepotkan jika sudah merengek?” tanyanya lucu.

Jaebom menggemertakkan giginya mendengar ucapan Dujun dan langsung menarik kerah baju pria itu.

“Jaebom! Hentikan!” seru Jihyun sambil mendorong Jaebom menjauh dari Dujun, namun tetap saja ia tidak bisa menggerakan pria itu sedikit pun.

“Apa kau tidak menyayangi wajah tampanmu?” Tanya Jaebom dengan nada mengancam.

Dujun sama sekali tidak terlihat takut dan hanya tersenyum sinis.

“Jaebom-a, Dujun benar.. Aku yang ingin ikut.. Sudah, jangan di perpanjang lagi..” ucap Jihyun menjelaskan.

Kedua pria itu saling menatap beberapa saat, hingga Jaebom melepaskan kerah baju Dujun dan memandang Jihyun. “Pria ini? Kau pasti memiliki selera yang buruk, Nam Jihyun..” ucapnya sambil melirik Dujun. Lalu menarik tangan gadis itu pergi bersamanya.

Jihyun tidak mengatakan apa pun dan hanya mengikuti Jaebom.

Dujun kesal mendengar ucapan Jaebom, “Aishh.. selera apa?” gumamnya kesal. Ia mendadak menjadi kesal karena Jihyun pergi bersama pria itu, bibirnya membentuk senyuman sinis. “Selera buruk? Hmm.. kita bisa lihat selera buruk itu baik atau tidak..” ucapnya dengan sebuah rencana di kepalanya, lalu melangkah menuju gedung kampus.

–|||–

Siang itu Hyunseung terpaksa keluar dari apartemennya karena ada kelas. Sembari menunggu lift ia memijat pundaknya dan merenggangkan otot lehernya sejenak.

Hyuna melangkah menuju lift berhenti sejenak melihat Hyunseung.

Hyunseung menoleh dan tertegun melihat Hyuna. Suasana jadi sangat canggung saat mereka saling bertatapan.

Hyuna menunduk malu dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo..” sapanya sopan.

“Ne.. annyeonghaseyo..” ucap Hyunseung sambil membungkuk sedikit.

Hyuna tetap menunduk ketika melangkah ke depan lift di sebelah Hyunseung.

Hyunseung bisa merasakan jantungnya berdegup kencang dan wajahnya mulai terasa panas karena malu. “Mmm.. soalnya semalam..” ucapnya memulai.

Hyuna melirik Hyunseung, “Ne?”

“Mmm…” Hyunseung sangat malu untuk membahasnya namun Ia harus menjelaskan situasi agar tidak di sebut pria cabul. “Mmm.. aku… terima kasih membantuku semalam..” ucapnya pelan.

“Oh… ne..” ucap Hyuna canggung, ia juga tidak bisa mengangkat wajahnya karena malu.

Keadaan menjadi canggung lagi.

Hyunseung menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya, “Mmm.. dan juga..” ucapnya memulai, “Aku punya kebiasaan aneh jika mabuk..” ucapnya dengan wajah semerah tomat.

Hyuna tampak mengerutkan mulutnya agar tidak tertawa, “Hmm.. Ne..” jawabnya. Kedua pipinya menggembung menahan tawa.

Melihat ekspresi Hyuna yang berbanding terbalik dari apa yang ia pikirkan, Hyunseung menahan tawa mengingat kekonyolannya semalam.

Hyuna menutup mulutnya menahan tawa.

“Jangan tertawa, itu memalukan!” ucap Hyunseung sebal, meskipun Ia sendiri menahan tawa.

“Cesonghamida..” ucap Hyuna dan tertawa kecil.

Hyunseung memandang Hyuna sambil tertawa, gadis itu sangat lucu. Mereka segera masuk ke lift dan menunggu hingga tiba di lantai bawah sambil tetap menahan tawa.

“Kau akan kemana? Bukankah ini sudah pukul 10? Kau baru akan ke sekolah?” Tanya Hyunseung bingung pada Hyuna ketika melangkah keluar dari gedung apartemen.

“Aniya.. aku hanya akan mengambil sesuatu dan kembali pulang..” jawab Hyuna.

Dahi Hyunseung berkerut, “Jadi kau tidak sekolah?”

Hyuna menggeleng, “Aku akan pergi bersama oppaku keluar kota, jadi hari ini aku hanya akan mengurus itu..”

“Hmm.. begitu..” ucap Hyunseung mengerti.

“Keure, sampai jumpa oppa..” ucap Hyuna sambil membungkuk sopan, lalu melangkah ke arah lain.

“Hei.. haksaeng! Aku belum tau namamu..” ucap Hyunseung memberitau.

Hyuna berbalik sambil berjalan mundur, “Namaku Kim Hyuna..” ucapnya dan tersenyum, lalu kembali berbalik dan berjalan normal lagi.

Hyunseung diam sejenak, “Kim Hyuna..” gumamnya, lalu tersenyum dan melangkah menuju mobilnya.

 

 

<<Back                                Next>>

 

Advertisements

9 thoughts on “How To Love [Chapter 6]

  1. Wuaaa ffnya udh keluar,ffnya keren bngt,aku selalu suka ff hanna eon >_<

    Cerita Hyuna sama Hyunseung lucu bngt,aku ketawa trus bacanya.Yoseob dan Soyou juga lucu ceritanya.Tapi Jaebom itu pacarnya Jihyun ya????

    Keep writing thorr,jangan lama2 nge postnya ^-^

  2. Yoseob kok unyu sih.. imut :3
    Gikwang seneng banget kayaknya diajak lunch bareng.. kkkk~
    Wahh… ada Jaebom!! yeah! xD tapi dia siapanya jihyun ya?
    next~

  3. Nama ku mayang , will you marry me hyunseungie *abaikan
    ahh yg am jihyun tu mungkin oppa nya dya ..,
    puk puk kasian ucuba slalu ditolak , sini am nunna , hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s