Chapter · Cube

How To Love [Chapter 3]

Chapter 3wpid-tumblr_inline_ndbf8dqr161r3k9am.jpg

-The Love Begin-

“Ya.. kau kan pria.. Kau harus menyatakan perasaanmu pada gadis itu.. Atau kau akan menyesal tidak pernah mengatakannya.” Ucap Yoseop pada GIkwang ketika mereka menaiki mobil Hyunseung meninggalkan kafe.

Gikwang memutar bola matanya kesal, “Aku akan mencari suasana yang pas dulu.. Sekarang belum saatnya..” ucapnya.

“Hmm.. saat apa? Kau hanya mengulur-ulur waktu saja.. nanti saat dia ternyata sudah dimiliki orang lain kau akan menyesal..” ucap Yoseop sebal.

Gikwang menatap Yoseop sebal, “Keure, aku akan menyatakan perasaanku pada gadis itu setelah kau berhasil mendapatkan gadis yang kau kejar itu..”

Hyunseung yang sejak tadi hanya mendengarkan sambil menyetir menahan tawa mendengar ucapan Gikwang.

Yoseop menatap GIkwang sebal, “Wae? Kau meremehkanku ha?! Kau pikir aku tidak akan bisa mendapatkannya?”

Gikwang tersenyum mengejek, “Kita lihat saja nanti..” ucapnya dan menjulurkan lidah.

Hyunseung mengurangi kecepatan mobilnya ketika hendak berbelok dan memutar stir perlahan. Ketika itu matanya menangkap beberapa orang gadis berseragam SMA yang sedang berjalan di trotoar menuju halte. Ia tertegun sesaat melihat Hyuna berada diantara para gadis itu.

“Omo.. yang cantik sekali..” ucap Gikwang yang ikut memperhatikan dari kursi belakang.

“Mana?” Yoseop meninggikan kepalanya untuk melihat, “Hmm.. biasa saja, lebih cantik Soyu-ku..” ucapnya.

“Hmm..” gumam Gikwang sambil menatap Yoseop aneh.

Hyunseung tertawa kecil sambil tetap melirik kaca spion melihat Hyuna yang tertawa riang bersama teman-temannya.

–|||–

Dujun mengendarai mobilnya meninggalkan kafe tanpa mengatakan apa pun. Namun matanya melirik Jihyun yang sejak tadi sibuk dengan ponsel. Sepertinya sedang chat dengan seseorang.

Jihyun menahan senyumnya dan membalas sesuatu.

Dujun menghentikan mobil di lampu merah dan berpura-pura ia tidak memperhatikan Jihyun. Biasanya gadis itu akan mulai berbicara dan membahas sesuatu. Namun tidak terdengar apa pun. Dahinya berkerut mendengar gadis itu tertawa pelan. Kepalanya menoleh dan memandang gadis di sebelahnya, “Kau sedang apa?” tanyanya seolah-olah tidak tau apa yang gadis itu lakukan.

Jihyun memandang Dujun, “Hm? Oh.. aku sedang chating dengan temanku..” jawabnya sambil tersenyum.

“Oh..” jawab Dujun seperti tidak tertarik dan kembali memandang ke depan. Lalu menjalankan mobil lagi karena sudah lampu hijau. Namun sejujurnya ia tidak bisa tenang karena sangat penasaran dengan siapa Jihyun chatting.

“Oh ya, Dujun-a.. Bisakah kau menurunkanku di halte dekat sini?” Tanya Jihyun.

Dujun memandang Jihyun bingung, “Ne? wae? Aku akan mengantarkanmu ke rumah seperti biasa..”

“Aniya, aku lupa ada janji dengan temanku.. Aku pergi naik bis saja..” ucap Jihyun.

“Ne? temanmu? Siapa? Aku bisa antarkan..” ucap Dujun.

Jihyun tersenyum dan menggeleng, “Tidak.. nanti kau berputar sangat jauh..”

“Tapi naik bis? Kau tidak salah?” Tanya Dujun, mengingat Jihyun selalu mengenakan mobil dan supir pribadi kemana-mana.

“Gwenchana.. Akan lebih cepat jika menggunakan bis.. Jika mencari taxi dulu akan lama..” jawab Jihyun, lalu menoleh pada halte yang hampir mereka lewati. “Disana.. turunkan aku disana saja..” ucapnya.

Dujun tertegun mendengar Jihyun benar-benar serius, “Ya.. Nam Jihyun..” ucapnya bingung.

Jihyun menatap Dujun lucu, lalu mencubit pipi pria itu. “Sudah cepat turunkan aku..” ucapnya gemas.

Dujun mendorong tangan Jihyun sebal, “Jangan lakukan itu! Aku malu!” ucapnya sebal, lalu membelokkan mobil ke halte tadi.

–|||–

Junhyung kembali ke van agensinya setelah menghabiskan dua jam bersama teman-teman terdekatnya. Ia hanya duduk diam sambil memandang keluar jendela. Mereka sudah semakin dewasa, namun tetap terasa dekat seperti awal mereka bertemu. Terkadang ia merasa sangat kesepian karena kesibukannya sebagai penyanyi di dunia entertainment. Ia masih ingat jelas hari debutnya sebagai penyanyi. Teman-temannya datang untuk menyaksikan panggung pertamanya sebagai artis. Itu hal biasa yang di lakukan sahabat, namun terasa sangat mengesankan. Dan ia harus kembali berkutat dengan pekerjaannya kali ini.

Akhirnya van tiba di kantor agensinya. Ia mengambil tas dan turun dari van. Biasanya ia selalu mengenakan mobil pribadi, namun pasti ia akan lupa waktu jika sudah bertemu teman-temannya.

Ia langsung menuju studio rekaman untuk mengaransemen lagu. Tangannya terulur dan langsung membuka pintu, “Oh!” serunya kaget karena melihat Hyojin duduk disana.

Hyojin menoleh dan memandang Junhyung bingung, “Ada apa denganmu?”

“Hm? Oh.. ti-tidak ada apa-apa..” jawab Junhyung sambil melangkah masuk dan langsung menghampiri sofa.

Hyojin menatap Junhyung aneh, lalu kembali memandang kertas di tangannya dan memutar-mutar pena di tangannya.

Junhyung meletakkan tas dan bergerak duduk. Ia juga langsung mengeluarkan buku liriknya dan pena. Sembari membuka halaman demi halaman, matanya melirik Hyojin yang tampak sangat serius dengan kertas di tangan gadis itu. ia langsung menatap bukunya ketika gadis itu menoleh ke arahnya.

“Aku sudah menulis lirik untuk music yang di aransemen Jihoon oppa kemarin, kau bisa melihatnya dulu..” ucap Hyojin sambil menyodorkan kertas tadi.

Junhyung memandang Hyojin, “Kau yang membuatnya?” tanyanya sambil mengambil kertas yang di sodorkan Hyojin.

“Ne, mungkin perlu sedikit perubahan karena kau yang akan menyanyikannya..” jawab Hyojin.

Junhyung membaca tulisan di kertas itu sejenak. Namun begitu mulai membaca ia langsung terpaku dengan kalimat-kalimat luar biasa yang di tulis Hyojin. “Wuaa.. kau menulis ini?”

“Ne.. Bagaimana menurutmu?” Tanya Hyojin meminta pendapat.

Junhyung mengangguk pelan sambil menyelesaikan bacaannya, “Keren..” komentarnya.

Hyojin mengangguk, “Keure, ubah saja di bagian yang menurutmu tidak begitu cocok dan berikan pada Jihoon hyung..” ucapnya.

Junhyung memandang Hyojin yang kembali menulis sesuatu di kertas lain. ‘Wow.. aku tidak tau kau bisa menulis lirik sebagus ini..’ batinnya kagum.

–|||–

“Dongwoon, kerjakan halaman 10 ini..” ucap Jina sambil menyodorkan buku di tangannya pada Dongwoon.

Dongwoon menghela nafas kesal sambil mengambil buku dan membaca halaman itu.

Jina mengambil ponselnya dan menghidupkan timer, “Setengah jam..” ucapnya dan meletakkan ponsel di meja. Lalu membuka buku pelajarannya sendiri.

Dongwoon melirik buku di tangan Jina. Gadis itu memang seorang mahasiswi yang melakukan kerja paruh waktu mengajari anak SMA. Dan itu dia. Ia mendengus kesal dan menutup bukunya, “Aku bosan.. Tidak ada pelajaran lain?”

Jina memandang Dongwoon sebal, “Kenapa kau tidak mengerjakannya saja sih?”

“Aku sudah membahasnya di sekolah.. Belajar yang lain saja..” ucap Dongwoon malas.

Jina menghela nafas dalam dan menutup buku di tangannya. padahal ia berharap bisa belajar sejenak saat Dongwoon sibuk.”Baik, kau ingin belajar apa? Bahasa Inggris? Matematika? Biologi?”

“Aku ingin belajar itu..” jawab Dongwoon sambil menunjuk buku Jina.

Jina memandang bukunya dan menatap Dongwoon aneh, “Ya.. ini buku pembahasan untuk mahasiswa. Kau belum tiba di level ini.. Lagi pula kau tidak akan mengerti jika kuajari sekarang..” ucapnya.

“Ya sudah.. aku tidak akan belajar selain buku itu..” ucap Dongwoon cuek.

Jina sangat geram dengan sikap kekanakan Dongwoon. “Keure, tapi kau harus menguasainya dengan baik..” ucapnya menantang.

Dongwoon mengangguk setuju, “Keure..”

Jina tidak akan berbaik hati lagi sekarang, ia membuka bukunya dan meletakkannya di depan Dongwoon. “Ini buku Fisika. Disini mempelajari tentang…”

“Rumus Fisika..” potong Dongwoon sambil mulai membaca buku, Jina memang mahasiswi Teknik mesin yang harus menguasai rumus Fisika. “Aku mengerti..” jawabnya.

Jina tidak melanjutkan ucapannya dan hanya membiarkan Dongwoon membaca buku, “Baca hingga 30 menit, lalu kerjakan soalnya jika kau bisa..”

Dongwoon memandang Jina sambil mengambil pensil, “Tidak perlu, aku akan mengerjakan soalnya sekarang..”

Jina tertegun mendengar ucapan Dongwoon, “Ne?”

Dongwoon menarik kertasnya dan mulai mengerjakan.

Jina memperhatikan apa yang di tulis Dongwoon penasaran. dahinya berkerut melihat pria itu menulis sesuatu yang sangat panjang. Bahkan hampir memenuhi satu halaman kertas itu.

“Oke..” ucap Dongwoon sambil tersenyum dan memberikan kertasnya pada Jina.

Jina terkejut mengetahui Dongwoon sudah selesai, “Ne?!” ucapnya dan mengambil kertas tadi. Matanya tampak membaca kertas tadi dengan cepat, namun ternyata apa yang ia pikirkan tidak sesuatu dengan kenyataan. Ia menatap pria itu kesal, “Ige mwoya?”

Dongwoon menahan tawa, “Pabo.. Aku kan belum mempelajarinya..” ucapnya, lalu mengambil buku pelajarannya sendiri. “Halaman 10 kan?” tanyanya sambil mulai mengerjakan soal tadi.

Jina menatap Dongwoon sebal dan kembali memandang kertas di tangannya. pria itu hanya menulis kalimat yang terus di ulang-ulang.

Pabo.. pabo.. pabo..

Namun Jina juga merasa hal itu lucu. Ia melirik Dongwoon yang mulai mengerjakan dengan tenang di depannya.

 

<<Back        Next>>

 

Advertisements

9 thoughts on “How To Love [Chapter 3]

  1. ehm my seungie liat hyuna dr jauh aja senyum apalgy kl dr deket , hihihihi
    bang dudu kau cemburu kah , hahaha
    aigoo nie minions couple sama” pabo , hahahha
    jiahh bang jok demen yeh am hyojin !!!!
    wonnie emang maknae paling pinter *Tebarduittt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s