One Shoot · YG Family

Empty

04 EmptyCast:
– Kang Seung Yeol ‘Winner’
– Kim Dasom ‘Sistar’

Ngiuuung.. Ngiuuuuung..

Dahiku berkerut mendengar suara sirene yang memekakkan telinga. Perlahan mataku terbuka dan memandang langit biru kelabu diatasku. Awan terlihat seperti gelombang laut yang indah. Tapi kenapa aku berbaring disini? Dahiku mulai berkerut karena merasa ada keanehan. Perlahan aku bangkit dan memandang sekitar. Kenapa aku berbaring di tengah jalan seperti ini? Dahiku semakin berkerut melihat sekelompok orang mengerumuni sesuatu. Suara sirene tadi berasal dari sana.
Aku bergerak bangkit dan menghampiri kerumunan itu. Aku perlu berjinjit melihat apa yang sedang mereka lihat. Ada kecelakaan, tapi aku tidak bisa masuk ke sana. Namun tiba-tiba orang-orang di depanku seperti bergeser ke kanan dan kiri, memberikan ruang untukku melihat. Kakiku melangkah maju dan melihat sebuah mobil yang penyok bagian depannya menabrak sebuah pagar pembatas. Ada darah dari dalam kaca depannya. Para medis membawa sesosok tubuh dari dalam mobil dan membawanya ke depan ambulan dengan tandu. Polisi memberi garis batas dan meminta wartawan dan warga yang melihat menjauh. Entah mengapa aku sangat ingin bergerak maju, tidak peduli nantinya akan di hardik oleh polisi-polisi tadi. Aku ingin melihat apa yang terjadi pada orang itu. Oh! Dia sudah meninggal! Sebuah kain menutupi tubuh orang itu hingga menutupi seluruh tubuhnya. Darah merembes hingga ke kain yang menutupinya.
Tapi wajar sih jika melihat bagaimana kondisi mobilnya. Aku melirik mobil itu dan memperhatikan kondisinya.
“Ini kecelakaan tunggal.. Sepertinya korban mabuk atau karena kelelahan, waktu kematian 6:43 KST..” Ucap seorang polisi.
Aku menoleh dan memandang ada polisi yang melaporkan analisis sementara dari TKP. Sang pria yang terlihat lebih tinggi jabatannya mengangguk mengerti.
“Apa ada tanda pengenal di tubuh korban?” Tanya sang pemimpin.
“Ada komandan..” Jawab sang polisi, lalu mengeluarkan dompet sang korban. “Kang Seungyoon.. Berusia 20 tahun..”
Deg!
Kang Seungyoon? Kang… Seung.. Yoon????!!!
Jantungku berdegup kencang mengetahui nama korban. Tunggu! Jantungku! Tidak berdetak sama sekali!!
Aku memegang dada kiriku panik, lalu segera menghampiri tandu jasad tadi. Tanganku terulur dan menarik kain penutup wajah korban. Aku terkejut setengah mati! Disana! Yang terbaring berlumuran darah! AKU?! Bagaimana bisa? Lalu aku?
“Ckckckck..”
Kepalaku menoleh ke arah orang yang berdecak. Dahiku berkerut bingung. Kenapa dia ada disini? Aku memandang sekitar dan sepertinya tidak ada yang menyadari keberadaan gadis itu.
“Kematian yang cukup tragis, benarkan?” Tanya gadis itu, membuatku menatapnya kaget. Dia berbicara dengan siapa? Gadis itu menoleh ke arahku, “Sebelummu ada yang meninggal karena masuk ke penampungan air panas..” Ucapnya dan mengerutkan hidungnya ngeri, “Kau tau? Seluruh tubuhnya melepuh dan mengerikan..”
Aku menatapnya tak mengerti. Apa yang sedang ia bicarakan.
“Hmm..” Gadis itu memandang i-pad di tangannya sambil menggeser layar. “Oke.. Kang Seungyoon, meninggal karena kecelakaan tragis.” Ucapnya pelan.
Aku semakin tak mengerti, jika aku sudah meninggal bagaimana dia bisa melihatku?
Gadis itu menginput sesuatu, lalu memandangku. “Ayo kita pergi ke tempat yang lebih nyaman untuk berbicara..” Ucapnya dan menarik tanganku sambil melangkah.
Aku tak sempat menanyakan kemana kami akan pergi ketika tiba-tiba tubuhku terasa melambung sejenak, lalu kembali tertarik gravitasi ke bawah. Aku terkejut tiba-tiba kembali menginjak tanah hingga aku jatuh tersungkur, “Ahhh…” Rintihku menahan sakit.
“Aigoo.. Kau pria kan? Dasar..” Ucap gadis itu aneh.
Aku mengangkat wajah dan menoleh ke gadis berparas cantik dan berambut panjang itu. Aku tidak mengatakan apa pun dan hanya bergerak bangkit sambil merapikan bajuku. Saat itu aku langsung tertegun menyadari dimana kami sekarang. Untuk pertama kalinya seumur hidupku, maksudku, juga setelah mati. Aku berdiri di atas sebuah tebing yang sangat tinggi. Kedua kakiku terasa gemetaran dan kembali berlutut dan memegang tempatku berpijak panik, ditambah dengan angin yang berhembus kencang membuatku seperti akan melayang jatuh meskipun aku tidak berdiri di pinggirnya. “Ya!! Kenapa kita ada disini?! Kau gila?!” Tanyaku panik.
Gadis tadi menatapku kaget, lalu tertawa terbahak-bahak melihat responku. “Ya.. Kau pria kan, kenapa berlebihan sih? Disini sangat indah tau..” Ucapnya sambil tertawa, lalu melangkah ke pinggir tebing dengan santainya.
“Ya! Ya!! Kau!!” Panggilku berusaha menghentikannya, tapi dia tidak berhenti. Aku juga tidak bisa bergerak karena terlalu takut. Mataku membesar melihat gadis itu duduk di pinggir tebing dan kembali membaca layar i-padnya. “Ya! Itu berbahaya!!” Serunya.
Gadis itu memandangku aneh. Rambutnya berterbangan tertiup angin, “Kau ini pikun atau bagaimana? Kau kan sudah mati tadi, kenapa masih takut?”
Oh.. Benar juga. Aku kan sudah mati. Jika terjatuh juga tidak mungkin mati lagi. Meskipun rasa takutku belum hilang, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku memberanikan diri berdiri, tubuhku kembali mematung ketika angin berhembus. Lalu berusaha membiasakan diriku lagi.
Gadis itu memutar bola matanya kesal, “Ya! Cepatlah kemari!” Panggilnya.
Kakiku melangkah satu, dua, tiga dan akhirnya aku tiba di pinggir tebing. Kakiku kembali gemetaran melihat pemandangan ke bawah tebing yang luar biasa mengerikan. Jika aku masih hidup pasti jantungku berdegup sangat kencang hingga berhenti mendadak saat ini.
“Cepatlah duduk, waktuku tidak banyak..” Ucap gadis itu mulai tidak sabaran.
“I-iya, aku duduk..” Ucapku gemetaran sembari duduk di sebelahnya. Namun aku belum berani menggantung kakiku di pinggir tebing itu seperti gadis di sebelahku. “Aku sudah duduk..” Ucapku.
Gadis itu mengangguk dan memandang layar i-pad yang di belakangnya ada gambar bintangnya. “Oke.. Kau pasti ingin tau kenapa aku ingin berbicara padamu..” Ucapnya. Aku mengangguk membenarkan, lalu tertegun melihat kertas berwarna emas keluar dari bawah i-pad seperti struk belanjaan.
Mataku membesar kembali melihat kertas tebal seperti kartu itu.
Gadis itu mengambil kertas seperti kartu berwarna emas itu dan memberikannya padaku, “Ini.. Golden ticket-mu..” Ucapnya.
Dahiku berkerut, “Golden ticket?” Ucapku bingung dan memperhatikan kartu itu.
“Ne.. Baca disini..” Ucap gadis itu sambil membalik kertas dan menunjuk tulisan disana.
Aku membaca isinya dan semakin bingung karena tulisan disana.
Kuharap aku bisa menyampaikan perasaanku padanya..
Kang Seung Yoon, 16 September 2008
“Apa ini?” Tanyaku pada gadis itu.
“Itu keinginanmu saat usia 15 tahun..” Jawab gadis itu.
Dahiku berkerut dan kembali memandang kartu di tanganku. Benarkah? Kapan? Kenapa aku tidak ingat? Aku kembali memandangnya, “Kapan? Aku sama sekali tidak ingat..”
“Mana kutahu.. Itu kan ingatanmu..” Jawab sang gadis.
“Mana mungkin ini ingatanku jika aku tidak ingat sama sekali..” Ucapku tak mengerti.
Gadis itu mengambil kartu tadi dan membacanya, “Tapi disini tertera namamu..” Ucapnya.
“Memang, tapi aku tidak tau!” Ucapku kesal.
Gadis itu menggaruk kepalanya bingung, “Mmm.. Kenapa ya..” Ucapnya bingung.
Aku menghela nafas sebal dan kembali memandang kartu di tanganku sambil berusaha mengingat kapan aku membuat keinginan ini.
“Oh!” Ucap gadis aneh itu sambil menepuk dahinya sendiri. Aku menatapnya aneh dan ia menatapku seperti baru saja teringat sesuatu.
“Kenapa? Ada apa denganmu?” Tanyaku tak mengerti.
“Aku lupa, pasti ketika kecelakaan tadi kepalamu terbentur dengan keras kan?” Tanyanya.
Aku mengerutkan dahi dan berusaha mengingat, tapi apa yang terjadi saja aku tidak tau.
“Wajar saja.. Hal ini sering terjadi saat arwah tidak mengingat semua atau sebagian ingatannya karena benturan keras di kepala sebelum meninggal…” Ucap gadis itu sambil memberitauku sambil menunjuk kepalanya.
Dahiku berkerut menatapnya, “Lalu?”
Gadis itu tersenyum, untuk pertama kalinya dan terlihat sangat cantik. “Gwenchana.. Kau akan segera mengingatnya dalam beberapa hari..” Ucapnya dan kembali memeriksa sesuatu di layar i-padnya. Lalu kembali terkejut dan memandangku dengan dahi berkerut seperti teringat sesuatu yang mengerikan.
“Kenapa lagi kau?” tanyaku tak mengerti.
“Aku baru ingat, waktumu hanya dua hari ini untuk melakukan keinginanmu itu..” ucap gadis tadi.
Dahiku berkerut, “Dua hari? Apa maksudmu?”
“Iya, waktumu hanya dua hari.. Aku harus mencari caranya..” ucapnya dan mulai mencari di layar i-padnya.
“Sudahlah.. aku tidak ingat, langsung bawa aku ke dunia lain saja.” Ucapku yang tidak ingin ribet dengan masalah lupa ingatan ini.
Gadis itu memandangku dengan tatapan anehnya, “Jika kau tidak menemukannya disini, kau tidak akan pernah bertemu cinta sejatimu di kehidupanmu yang selanjutnya..”
Mataku membesar, “Apa?! Siapa yang membuat peraturan itu?! aissh!!”
“Sudah.. simpan waktumu untuk menemukan caranya..” ucap gadis itu sambil kembali mencari lagi di layar i-padnya.
Tidak bertemu cinta sejatiku di kehidupan selanjutnya? Apakah itu tidak keterlaluan. Sekarang saja aku mati di usia 20 tahun. Ini lebih keterlaluan lagi. jika saja aku sempat berkencan dengan gadis-gadis cantik. -____-“
“Aha! Ini dia!” ucap gadis itu karena menemukan sesuatu.
Aku langsung menatap layar i-padnya serius, “Apa itu?!”
Gadis itu memandangku sambil tersenyum, “Kita ke rumahmu saja, kita cari apa yang ada disana!”
Aku menatapnya heran, “Kenapa kerumahku?”
“Sudah.. ayo..” gadis itu bergerak bangkit dan menarikku, tapi belum sempat aku berdiri tubuhku sudah melambung di udara dan kembali terbanting lagi ke tanah.
Buk! Aku terbanting di sebelah gadis itu itu dengan posisi tersungkur. Lagi.
“Ini rumahmu?” Tanya gadis itu sambil memperhatikan rumah indah di depannya, apa ia tidak sadar aku tersungkur di bawah?
Aku mengangkat wajah dan menatap gadis itu kesal, lalu bergerak bangkit sambil membersihkan pasir di bajuku.
“Rumahmu indah sekali..” ucap gadis itu padaku.
Aku menoleh ke rumah itu dan menghela nafas dalam, “Ini bukan rumahku..”
“Hm? Tapi kau memikirkannya..” ucap gadis itu.
Aku menatapnya aneh, “Kapan aku memikirkannya?”
“Barusan, saat aku menarikmu untuk teleportasi. Secara otomatis kita berpindah ke rumah ini.. Karena kau memikirkannya, rumahmu..” jelas gadis itu.
Aku diam sejenak menatap gadis itu sambil berusaha mencerna apa yang ia ucapkan, “Tunggu, jadi semuanya berpusat pada pikiranku?” tanyaku memastikan.
“Tentu saja, aku kan bukan pembaca pikiran. Bagaimana aku tau dirimu..” jawab gadis itu.
Aku mengangguk mengerti.
“Jadi ini rumahmu atau bukan?” Tanya gadis tadi memastikan.
Aku kembali memandang rumah besar itu, lalu menghela nafas dalam. “Aku memang tinggal disini, berarti ini rumahku kan..” ucapnya lesu.
“Kenapa? Kau tinggal dengan nenek sihir ya?” Tanya gadis itu penasaran.
Aku menatap gadis itu aneh, “Mana ada nenek sihir di dunia ini..” ucapku, “Ayo, kau bilang waktuku hanya dua hari..” aku melangkah duluan sebelum ia mulai mengatakan hal-hal aneh lagi.
“Tapi kan di film-film banyak..” jawab gadis itu sambil mengikutiku.
Aku hanya memutar bola mataku dan menghampiri pintu depan, lalu mengulurkan tangan dan membuka pintu. Aku terkejut ketika pintu bergerak terbuka. Lalu menatap tanganku tak percaya, bagaimana mungkin?
“Wuaaah.. di dalamnya juga besar!!!” ucap gadis tadi riang.
Aku terkejut mendengar suaranya dari dalam rumah dan memandang ke belakangku, tidak ada siapa pun. Dengan cepat aku melangkah masuk dan mencari dimana gadis itu. Ternyata dia sudah duduk di ruang tengah. Bukan, dia sedang merasakan betapa empuknya benda itu.
Gadis itu tersenyum lebar sambil mementalkan tubuhnya ke sofa, “Wuuu.. lembut sekali..” ucapnya sambil mengelus permukaan sofa itu.
Dahiku berkerut melihat kelakuannya, “Ya.. memangnya malaikat pencabut nyawa itu aslinya sepertimu ya?” ucapku tak mengerti.
Gadis itu memandangku aneh, “Enak saja, aku bukan malaikat pencabut nyawa.” Ucapnya sebal, lalu berdiri dan berjalan menghampiriku. “Aku di sebut ‘penolong’ para arwah yang  memiliki keinginan belum terwujud yang di beri kesempatan untuk menggapainya sebelum benar-benar meninggalkan dunia..” ucapnya bangga sambil menunjuk dirinya dengan ibu jari.
“Penolong?” tanyaku tak mengerti, “Tunggu, apa maksudmu kesempatan? Apa ini kesempatan? Jika aku tidak bisa menemukan gadis misterius ini dalam dua hari, aku tidak akan bertemu cinta sejatiku di masa selanjutnya. Apa menurutmu itu kesempatan?!”
Gadis itu memutar bola matanya kesal, “Kau itu seharusnya merasa beruntung! Karena mereka yang tidak mempunyai kesempatan ini harus menerima kehidupan selanjutnya dengan lapang dada tanpa bisa melakukan apa pun..” ucapnya menjelaskan, gayanya seperti guruku saat SMA yang terlihat sok pintar tapi sebenarnya sangat bodoh. Menilai tugas murid saja tidak bisa, aku sampai mendapat tugas itu. >,
“Kenapa kau tidak bilang sejak tadi?” tanyaku aneh, lalu memandang sekitar. Rumah itu tampak kosong, “Kenapa tidak ada siapa pun disini?”
Gadis itu ikut memandang sekitar, “Ada kok, dua pembantu di dapur, satu sedang membersihkan halaman belakang.” Jawabnya.
Aku menatapnya bingung, “Bagaimana kau tau? aku tidak melihat siapa pun.”
“Tentu saja, kau kan arwah biasa. Sedangkan aku selevel diatasmu..” ucapnya bangga, lalu melangkah dengan senyuman senangnya. “Dimana kamarmu?”
Dahiku berkerut menatapnya, lalu mengikuti gadis itu. “Jadi disini ada orang dan hanya aku yang tidak bisa melihatnya?” tanyaku, “Kamarku diatas..” lanjutku sambil melangkah ke tangga.
Gadis itu ikut naik dan mengangguk, “Saat ini kau di sebut arwah penasaran, jadi jika nanti kau tidak bisa menemukan apa yang kau cari. Mungkin kau baru melihat manusia-manusia hidup dan bergentayangan di antara mereka..” ucapnya menjelaskan.
“Hm? Bergentayangan? Apa maksudnya?” Tanyaku tak mengerti.
“Iya, bergentayangan kesana kemari di tengah-tengah manusia hidup.” Jawabnya santai dan kami tiba di lantai atas.
Spontan aku langsung melangkah menuju kamarku sambil berpikir, “Jika aku bergentayangan, bagaimana aku bisa ke masa selanjutnya?”
“Masa kau bergentayangan itu di sebut masa percobaan, jika kau tetap tidak bisa menyelesaikan apa yang kau cari. Walaupun hanya dengan melihatnya tanpa ia ketahui, kau baru akan dibawa menyeberang ke dunia arwah. Dan setelah itu kau akan mendapatkan hidup yang menyedihkan.” Ucap gadis itu. “Ini kamarmu kan?” tanyanya sambil menunjuk pintu kamarku. Tentu saja dia tau, ada tulisan namaku di pintunya. Ia langsung membuka pintu dan melangkah masuk.
“Tunggu, jika aku masih punya kesempatan untuk melakukannya setelah dua hari berlalu. Kenapa kau harus bersusah-susah membantuku?” tanyaku sembari melangkah masuk.
“Karena aku hanya akan membantumu selama dua hari. Jika kau tetap berkeras tidak ingin menemukannya sekarang, kau harus menemukannya sendiri nanti. Kau tidak akan tau bagaimana sulitnya itu..” jawab gadis itu yang mulai melihat-lihat pajangan di lemariku.
Aku diam sejenak mencerna ucapannya. Jadi aku harus menyelesaikannya dengan bantuan gadis ini? baiklah..
“Dimana kau menyimpan barang-barang ketika kau SMP?” Tanya gadis itu yang ternyata sudah membongkar-bongkar barang-barangku.
“Ya! Kenapa kau membuatnya berantakan?!” tanyaku kesal sambil menahan tangannya.
Gadis itu memandangku heran, “Ini cara tercepat menemukannya, cepat cari sana..” ucapnya dan kembali mencari-cari.
Dahiku berkerut menatapnya, gadis aneh! Sudahlah, aku juga tidak perlu merapikannya lagi nanti. Aku melangkah ke bawah tempat tidur dan menarik sebuah kotak keluar. Aku mengangkatnya ke tempat tidur dan duduk disebelah kotak itu. jika tidak salah, semua barang-barang yang tidak lagi kubutuhkan aku masukkan kesini. Tanganku membuka kotak dan melihat-lihat isinya. Hanya barang-barang dari teman-temanku, juga buku puisi yang pernah kubuat. Bola baseball. Hmm.. hanya ini? tapi ini barang-barang dimasa SMA-ku saja, gadis itu kan di SMP.
“Kau sudah menemukannya? Wuaaa.. apa ini?” Tanya gadis itu sambil mengambil bola baseball dan duduk di sisi lain kotak, “Kau bermain baseball? Aku suka melihat pria bermain baseball, otot tangan mereka sangat keren..” ucapnya.
“Dulu.. tapi tidak lagi..” jawabku sambil kembali memasukkan barang-barang yang kukeluarkan ke dalam kotak.
“Kenapa? Baseball kan keren..” ucap gadis itu sambil melempar-lempar kecil bola di tangannya.
“Tanganku cedera saat pertandingan antar sekolah, dokter berkata aku sebaiknya berhenti sebelum aku harus mengamputasi tanganku..” jawabku dan meminta bola itu dengan uluran tanganku.
Gadis itu memberikannya ke tanganku, “Kau menemukan sesuatu?” tanyanya sambil memperhatikanku memasukkan bola ke kotak dan kembali menutupnya.
“Tidak ada, ini barang-barang saat aku SMA..” jawabku.
“Lalu, barang-barangmu saat SMP dimana?” Tanya gadis itu.
Aku berpikir sejenak, dimana kira-kira aku meletakkannya? Sepertinya dulu ada sesuatu yang membuatku terluka dan tidak ingin mengingat masa SMPku. Karena itu sekarang aku tinggal di rumah besar ini. tapi apa ya?
“Hmmm.. ibumu sudah kembali..” ucap gadis itu memberitauku.
Aku tertegun menatapnya, “Kembali darimana?” tanyaku.
“Dari acara pemakamanmu..” jawab gadis itu.
Aku diam sejenak, “Pemakaman? Aku kan baru meninggal hari ini..” ucapku bingung.
“Tidak.. Di waktu manusia kau sudah meninggal selama tiga hari..” jelas gadis itu.
“Ne?! bagaimana bisa begitu?” tanyaku tak percaya.
“Waktu di dunia orang hidup dengan dunia arwah itu berbeda.. Sehari di dunia arwah itu sekitar 7 hari di dunia orang hidup..” jelas gadis itu.
Aku tertegun lagi, “Aku baru tau tentang hal itu..” ucapku jujur.
“Tentu saja.. tidak ada yang mati yang bisa memasukkannya ke buku pelajaranmu..” ucap gadis itu sambil menahan tawa.
“Jadi, bagaimana caranya mengetahui sudah berapa hari berlalu di dunia arwah?” tanyaku ingin tau.
Gadis itu mengambil i-pad dari udara kosong, dia jadi seperti seorang pesulap dimataku. Ia memandang layarnya sejenak dan memperlihatkannya padaku, “Lihat ini..”
Aku memandang di layar ada dua tabung berwarna hijau. Tabung pertama sudah berkurang seperempatnya, “Ini apa?”
“Sisa harimu..” jawab gadis itu, “Jika dilihat disini, berarti kau sudah menggunakan seperempat hari, masih ada sehari setengah lagi untuk digunakan.”
“Berarti masih banyak waktu..” ucapku sendiri.
“Oh iya, jika kau mau.. Kau bisa melihat ibumu beberapa saat, aku bisa membuatmu melihat ibumu..” ucap gadis itu menawari.
“Tidak terima kasih, dia bukan ibuku..” ucapku, lalu berdiri dan mengembalikan kotak ke bawah tempat tidur.
“Hm? Bukan? Tapi dia sedang menangis di lantai bawah..” ucap gadis itu heran.
Aku tertegun dan menatapnya tak percaya, “Dia menangis?”
Gadis itu mengangguk, “Benar..”
Dia menangis? Kenapa?
“Kau tidak ingin melihatnya?” Tanya gadis itu memastikan.
“Hm?” aku tertegun mendengar pertanyaannya. Sebenarnya aku tidak ingin, tapi aku ingin memastikan apakan wanita itu benar-benar menangis. “Boleh, beberapa menit..” jawabku.
“Ayo..” gadis itu memimpin jalan ke bawah. Aku mengikutinya dengan perasaan gugup.
Benarkah? Apa itu memang dia? Tapi dia menangis. Wanita yang dulunya sempat membuangku menangis karena kematianku?
Gadis itu berhenti di depan pintu kamar wanita itu, lalu membukanya. Aku ikut masuk tapi tidak terlihat siapa pun disana. Ia berhenti dan menatap ke tempat tidur sedih, “Itu dia disana..”
Aku menatap ke tempat tidur, namun tetap tidak terlihat siapa pun.
Gadis itu memandangku, “Jika kau ingin melihatnya, cukup pikirkan ibumu sambil memejamkan mata dan katakan ‘Aku mencintaimu’.” Ucapnya.
Aku terkejut mendengar ucapan gadis itu, “Apa? Aku mencintaimu? Aissh.. kenapa menggelikan begitu?”
“Memang begitu peraturannya.. Mau tidak? Waktumu terus berlalu tau..” ucap gadis itu mengingatkan.
Aissh.. kenapa harus mengatakan itu sih? Kenapa tidak abracadabra seperti pesulap-pesulap itu?
“Cepat…” ucap gadis itu mendesak.
Aku tidak tau apa aku bisa. Tapi jika tidak melihatnya juga tidak mungkin. Aku menghela nafas dalam dan memejamkan mataku. Aku berusaha berkonsentrasi memikirkan wanita itu. kenangan demi kenangan masuk ke kepalaku. Senyumnya ketika menyambutku di rumah besar ini. perhatiannya selama aku tumbuh seperti sekarang. Juga ucapan maafnya saat tidak sengaja membuka barang-barang yang di kirimkan ayah padaku. Sial.. kenapa mataku jadi basah? Aku tidak mengerti, tapi ingatan saat aku bayi pun muncul kembali. Aku melihatnya tersenyum memandangku di gendongannya, berkata aku sangat mirip seperti ayah dan mencium dahiku. Lalu mengatakan kata-kata lembut padaku. Juga kalimat itu..
“Eomma menyayangimu, Seungyoon-a..”
Bulir air mataku mengalir begitu saja di kedua pipiku dan mulutku bergerak menyebutkan kata kuncinya. “Aku mencintaimu, eomma..” gumamku. Mataku terbuka perlahan. Saat itu, yang pertama kali kulihat adalah sosok wanita itu. duduk di pinggir tempat tidur dengan pakaian serba hitam dan menangis sedih seorang diri disana. Hatiku… terasa sangat sakit melihatnya menangis seperti itu. Aku ingin mendatanginya dan menyeka air matanya.
“Kau tidak berhubungan baik dengan ibumu?” Tanya gadis itu padaku.
Aku baru sadar ia ada disini dan segera menyeka air mataku, “Hmm.. begitulah..” ucapku tanpa memandangnya.
“Hmm.. sekarang seharusnya kau menyadari kalau ibumu sangat menyayangimu.” Ucapnya.
Aku memalingkan wajah dan berbalik, “Ayo kita mencari tentang gadis itu..” ucapku, lalu melangkah keluar dari kamar wanita itu. wanita yang telal melahirkanku 20 tahun lalu, kemudian meninggalkanku bersama ayahku yang berandalan.
Gadis itu segera mengikutiku, “Apa kau sudah mulai mengingat? Kemana kita akan mencarinya sekarang?” Tanya gadis itu.
“Entahlah.. tapi sepertinya aku harus ke rumah ayahku..” ucapku sembari melangkah menuju pintu depan.
“Oh.. ayah dan ibumu tidak tinggal bersama ya? Apa mereka sudah bercerai?” Tanya gadis itu sambil mengikutiku.
“Jangan bertanya lagi, waktuku tidak banyak..” jawabku. Aku selalu tidak suka membicarakan tentang itu.
“Baiklah.. Pikirkan saja rumah ayahmu..” ucapnya dan memegang lenganku dari belakang.
Aku terkejut mendadak tubuhku tidak tertarik gravitasi lagi. tapi kali ini sebelum terbanting ke bawah, aku sudah mendarat di kakiku. Fiuuh.. untung saja.
Gadis itu tersenyum melihatku tidak tersungkur lagi, “Hmm.. kemajuan yang baik..” ucapnya sambil mengacungkan ibu jarinya padaku.
Bibirku membentuk senyuman, “Tentu saja.. Aku ini cepat beradaptasi..” ucapku tidak mau kalah dan memandang sekitar. Dahiku berkerut memperhatikan tempat itu, “Oke, dimana kita?” tanyaku bingung.
“Rumah ayahmu..” jawab gadis itu itu.
“Rumah ayahku?” tanyaku padanya tak percaya.
“Ne, kan sudah kubilang pikirkan tentang rumah ayahmu..” ucap gadis itu lagi.
Aku mendesah kesal, “Aissh.. aku tidak sempat memikirkannya karena kau langsung menarikku!” ucapku.
Gadis itu tertegun, “Jinja? Lalu dimana kita? Kenapa kita muncul disini ya?” ucapnya sambil memandang sekitar bingung.
Aku garuk-garuk kepala sambil memandang sekitar. Mungkin aku tidak mengingat sebagian ingatanku, tapi aku tau persis ini bukan lingkungan rumah ayahku. Yang benar saja preman sepertinya tinggal di kawasan mewah ini? aku memandang gadis di sebelahku yang tampak terpaku melihat sebuah rumah, lalu ikut memandang rumah itu. rumah keluarga pada umumnya, lalu kembali memandang gadis itu. “Kau tau rumah itu?”
“Hm? Tidak… warnanya cantik..” ucap gadis itu dan tertawa kecil.
Aku hanya bisa menatap gadis itu aneh, lalu kembali memandang sekitar. “Lalu untuk apa kita disini? Langsung ke rumah ayahku saja.. Cepat..” aku mengulurkan tangan agar dia memegangku dan langsung berpindah ke rumah ayahku.
Tapi ia terlihat ragu dan kembali memandang rumah tadi.
“Kenapa lagi?” tanyaku.
“Entahlah.. aku hanya merasa ada sesuatu disana..” ucap gadis itu tanpa memalingkan wajahnya dari rumah itu.
Aku kembali memandang rumah itu dan memperhatikannya seksama, “Jika begitu kenapa tidak melihatnya sebentar?” tanyaku padanya.
Ia tertegun memandangku, “Hm?” matanya yang bundar berkedip-kedip sejenak, “Aniya, jangan sekarang. waktumu tidak banyak.. Setelah urusanmu selesai aku bisa kemari lagi..” ucapnya dan memegang tanganku.
Tubuhku kembali terlambung ke atas beberapa detik dan di tarik gravitasi lagi ke bumi. Hup! Aku kembali berhasil mendarat dengan kakiku! Hahahaa.. langit sudah mulai gelap ketika kami tiba.
Gadis itu memandang sekitar dengan mata membesar, lalu memandangku. “Ayahmu tinggal di tempat sampah?” tanyanya tak percaya karena di depan kami  memang tempat pembuangan sampah kota besar ini.
Aku hanya menghela nafas dalam dan memutar tubuhnya bebalik, “Ini rumah ayahku..” ucapku memberitaunya. Rumah ayahku hanya seperti pondok kecil di dekat pembuangan sampah ini. bukan hanya dia, ada banyak pondok-pondok seperti itu disini. Well, sudah kukatakan kan ayahku seorang berandalan. Preman yang hidup tak tentu arah, tapi terus menyuruhku pergi ke sekolah hingga akhirnya mengusirku ke tempat wanita yang telah membuangku padanya. Aissh.. memangnya aku bola di buang ke sana kemari?!
Namun gadis itu bukannya tenang malah semakin melotot melihat pondok-pondok itu, “Omo! Ayahmu tinggal di tempat mengerikan ini?!”
“Sudah diam..” ucapku dan melangkah maju menuju rumah ayahku. Disini juga banyak anak-anak yang tumbuh bersama keluarga mereka. Tentu saja akan menjadi berandalan seperti yang sudah-sudah. Mungkin karena itu ayahku mengirimku untuk tinggal bersama wanita itu. kepalaku menoleh merasa gadis itu memegang lenganku sambil menatap sekitar ngeri. Aku tidak mengerti, bagaimana dia masih merasa ngeri disaat dia adalah ‘penolong’ para arwah.
“Yang mana rumahmu?” tanyanya karena kami hanya berjalan sejak tadi.
“Yang ini..” jawabku dan melangkah ke sebuah pintu, lalu membukanya. Di dalam sangat gelap, namun langsung terang benderang ketika aku memikirkanya.
“Menyeramkan sekali..” ucap gadis itu, ia tidak pernah melepaskan tangannya dari lenganku.
Aneh, padahal aku hanya arwah tapi masih merasa gugup merasakan tangannya di lenganku. Aku segera mengedarkan pandanganku mencari dimana kira-kira ayahku menyimpan barang-barangku ketika SMP dulu. Kakiku melangkah ke tumpukan kotak-kotak tua di sudut ruangan, gadis itu juga masih mengikutiku. Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengannya, waktuku tidak banyak. Ketika aku mengangkat satu kotak, yang lainnya langsung berjatuhan dan terlihat lebih banyak kotak lagi disana. “Aissh.. yang mana barang-barangku?” gumamku sebal dan meletakkan kotak di tanganku ke lantai, lalu membukanya.
“Apa isinya? Potongan tubuh manusia ya?” Tanya gadis itu sambil menatap kotak antusias.
Aku menatap gadis itu kesal, “Memangnya ayahku kanibal?” tanyaku kesal, lalu kembali membuka kotak itu.
Gadis itu masih memegang satu lenganku dan menatap isi kotak itu ngeri.
Ternyata isinya hanya buku-buku tua, mungkin ayahku mendapatkan itu dari pembuangan sampah. Tidak penting sekali.. aku meletakkan meninggalkan kotak tadi dan bangkit lagi untuk melihat kotak lainnya, tapi sepertinya gadis ini terlalu mengganggu jika terus memegang lenganku. Aku menatapnya aneh karena terlihat antusias dengan kotak lainnya tapi tidak mau melepaskan tanganku, “Ya..”
Gadis itu memandangku bingung, “Apa?”
“Apa kau akan memegang tanganku sepanjang waktu?” tanyaku sambil menunjuk tangannya di lenganku.
“Hm?” gadis itu memandang tangannya dan langsung menariknya, sepertinya tadi ia tidak sadar memegang lenganku. -____-“ “Upss.. maaf.. hehehe..” ucapnya menahan tawa.
Aku memutar mata dan menghampiri tumpukan kotak tadi.
Beberapa hari kemudian…
“Kyaaa!! Kecoaaaa!!!” teriak gadis itu ketika aku hampir menyelesaikan kotak-kotak di rumah ayahku itu sambil berlari ke arahku dan meloncat ke punggungku.
Aku terkejut dan menatapnya yang memejamkan mata di bajuku, “Ya!!”
Gadis itu membuka mata dan menatapku sebal, “Ini bukan tempat tinggal, dimana-mana ada kecoa!” serunya.
“Aissh!! Turun!!” seruku sambil berusaha mendorongnya dari punggungku, tapi dia malah memeluk pinggangku dari belakang dengan kakinya. “Ya!”
Gadis itu cemberut dan menggeleng, “Shiro! Disini sangat menyeramkan! Kapan kau akan selesai?!”
“Aissh.. turun!” seruku sambil menggoyangkan tubuhku ke kanan dan kiri agar gadis itu melepaskanku.
Akhirnya gadis keras kepala itu turun dan menatapku sebal, “Aissh.. sampai kapan kau akan memeriksa kotak-kotak bodoh itu? tidak ada apa pun disini selain sampah! Waktumu sudah berkurang banyak dan tinggal sehari lagi!” ucapnya kesal.
“Aku juga tidak akan selama ini jika kau juga membantu! Kau bilang kau disini untuk membantuku!” ucapku tak mau kalah.
“Bahkan malaikat maut pun enggan datang ke tempat seperti ini! ini menjijikkan!” ucap gadis itu sambil menunjuk sekitarnya.
Aku menatap gadis itu kesal, “Menjijikkan? Aku tumbuh di tempat seperti ini! ini rumahku hingga aku di buang ke rumah wanita itu!!” seruku marah.
Gadis itu tersentak karena seruanku, lalu menatapku sebal dengan dahi berkerut. “Aissh.. tidak usah berseru juga kan! Cari saja sendiri! aku akan menunggu di luar..” ucapnya sembari melangkah ke pintu.
Aku memejamkan mata dan menghela nafas dalam sambil mengelus wajahku. Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku jika sudah mendengar ucapan seperti tadi. Terutama jika itu membahas ayahku. Meskipun dia bukan orang keren yang mempunyai banyak perusahaan, dia orang yang sangat loyal. Ayah terhebat yang pernah kumiliki. Sejujurnya aku tidak mengerti mengapa ia memilih untuk memberikanku pada wanita yang melahirkanku itu padahal dia yang membesarkanku. Tapi ternyata ayahku meninggal setelah itu, mungkin ia tidak ingin aku melihatnya sakit-sakitan dan mati. bahkan setelah meninggal ia tetap menganggumkan di mataku.
“Dasar telinga gajah..” gerutu gadis itu di belakangku sebelum keluar dari pintu.
Aissh.. aku tau telingaku besar, tapi bukan telinga gajah! Tapi tunggu, telinga gajah? Telingaku?
Tanganku bergerak memegang telinga dan berusaha mengingat siapa saja yang pernah memanggilku dengan ejekan itu.  aissh.. kenapa aku tidak mengingat apa  pun? Cepat ingat! Otak bodoh! Aku memejamkan mata dan berusaha mengingat dengan keras. Sedetik kemudian, sebuah ingatan masuk ke kepalaku. Mataku kembali terbuka untuk mengingatnya lebih jelas.
=Flashback=
Aku melangkah menuju sebuah rumah sambil menggendong seorang gadis di punggungku. Gadis itu mendapat cedera kaki dan tidak bisa melangkah dengan normal, jadi aku menawarkan diri untuk menggendongnya pulang. Tas ranselku disandang di depan jadi tidak akan mengganggu gadis itu di punggungku.
“Apa tidak berat?” Tanya gadis itu, suara merdunya membuat jantungku berdegup kencang.
Aku tersenyum dan menggeleng, “Tidak kok..” ucapku. Sebenarnya, dia tidak berat. Sama sekali. Tapi jika menggendongnya selama hampir setengah jam dan sambil berjalan, apa itu tidak berat? Tapi aku pria! Tidak boleh membuatnya merasa tidak nyaman!
Terdengar gadis itu tertawa kecil di belakangku, juga kurasa kedua tangannya di leherku di pererat dan aku bisa merasakan wajahnya di dekat telingaku. “Kalau begitu lain kali aku akan mencederai kakiku dengan sengaja agar kau menggendongku pulang terus..” canda gadis itu dengan wajah merona.
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya, “Keure.. aku akan menggendongmu setiap hari jika kau mau..” ucapku.
Gadis itu tertawa malu lagi, “Oh ya, kau tau telingamu besar sekali?” candanya sambil memegang ujung telingaku..”
Wajahku terasa panas menahan malu, “Sudah, jangan bahas itu..”
‘Hihihi.. kuping gajah..” ledek gadis itu.
Aku hanya tertawa mendengar ucapannya.
=Flashback end=
Itu dia! Gadis yang kusukai ketika SMP! Gadis itu cantik, bersuara lembut dan berhati seperti malaikat. Aku bersungguh-sungguh! Dia adalah jelmaan malaikat yang terlahir dalam wujud manusia! Aku ingat! Aku ingat tentang dia!!!
Aku langsung tersenyum lebar dan berlari keluar menghampiri gadis tadi yang duduk di depan rumah sambil memandang sekitar, “Ya! Aku ingat!!”
Gadis itu memandangku dan langsung bangkit, “Ingat apa?” tanyanya ingin tau.
“Aku ingat gadis itu!! cinta pertamaku saat SMP!!” ucapku girang.
Gadis itu membesarkan matanya, “Jinja?! Wuaaaaaah!!!!” soraknya girang dan kami berloncat-loncatan seperti sekumpulan gadis yang mendapatkan ajakan kencan dari senior. Hahaha.. untung tidak ada yang bisa melihat kami. “Lalu, seperti apa dia? Namanya? Dimana terakhir kali dia tinggal?” tanyanya cepat.
Aku membuka mulut untuk menyebutkan namanya. Namun tidak ada yang teringat olehku. Siapa namanya? Tiba-tiba aku menjadi bingung sendiri. aku berusaha mengingat nama gadis itu, tapi tidak teringat apa pun. Juga, saat aku membayangkan wajah gadis itu. aku hanya berpikir dia cantik, tapi tidak teringat bagaimana rupanya olehku.
Gadis itu masih menatapku penasaran menunggu apa yang akan kuucapkan, “Jadi, siapa namanya?” desaknya.
Aku mengerutkan dahi dan memandang gadis itu bingung, “Aku tidak ingat..”
Gadis itu langsung menghela nafas lesu, “Aisshh.. kupikir pekerjaanku akan segera selesai!” ucapnya sebal.
Aku garuk-garuk kepala bingung. Tadi sepertinya aku sudah mengingat semuanya tapi masih ada yang lupa.
“Apa yang kau ingat dari gadis itu? wajahnya tidak ingat juga?” Tanya gadis itu mengorek informasi.
Dahiku mengerut ketika aku berusaha mengingat, “Aku tidak begitu ingat..” jawabku ragu.
Gadis itu menghentak kakinya kesal, “Aissh..” gumamnya sambil mengeluarkan i-pad entah darimana, lalu melihat waktuku yang tersisa. Aku tidak mengerti mengapa gadis seperti ini bisa menjadi penolong arwah-arwah. Bukankah seharusnya yang menjadi penolong itu orang yang penyabar, baik hati dan rela membantu apa pun? Sepertinya manajemen di akhirat tidak sebaik di dunia. -____- “Sekarang sudah  masuk hari kedua waktumu.. Kau benar-benar tidak memiliki banyak waktu lagi sekarang..” ucapnya padaku.
“Apa kau tidak bisa menemukan sesuatu di benda ini?” tanyaku sambil menunjuk i-padnya. “Misalnya seperti melihat kenanganku ketika SMP, atau juga memeriksa bagaimana kehidupanku saat itu..”
Gadis itu menatapku aneh, “Kau pikir aku cenayang? Aku juga sama sepertimu.. Aku juga arwah yang di berikan tugas penting ini..” ucapnya sebal.
Aku tertegun mendengar ucapan gadis itu, “Hm? Jadi kau arwah juga?”
“Tentu saja, memangnya dari mana aku muncul?” tanyanya aneh, lalu memandang sekitar.
Aku mengerutkan dahi memikirkan ucapan gadis itu. jadi dia arwah juga?
“Sudah hampir pagi, sebaiknya kita pergi ke tempat selanjutnya..” ucapnya mengingatkanku, membuatku memandang langit yang memang mulai terang. “Cepat pikirkan tempat yang mungkin bisa memberikan informasi tentang gadis itu..” ucapnya.
Aku berpikir sejenak. Kebiasaanku ketika berpikir: aku akan melipat satu tanganku di dada, lalu satunya bertumpu dengan tangan lain sambil menopang dagu, juga jari telunjukku akan mengetuk daguku. “Aha!” ucapku sambil menjentik jari karena mendapat ide.
Gadis itu langsung menatapku antusias, “Apa? Cepat katakan!”
“Kenapa kita tidak ke SMP kudulu saja?” ucapku heran, “Tentu saja disana tempat yang paling tepat!”
Gadis itu tersenyum lebar, “Kenapa tidak memikirkannya sejak tadi? Khaja!” ia memegang tanganku dan langsung memegang tanganku.
Sekali lagi, tubuhku melambung terlepas oleh gravitasi dan tertarik lagi ke bawah. Tapi kali ini, tempat yang kuinjak tidak keras. “WUAAAAA!!” seruku kaget ketika aku terbanting dari udara ke sebuah kolam berenang.
BYUUUURR!!!!
Aku berusaha menyelematkan diri dengan menggapai-gapai dan menahan nafasku sedalam-dalamnya. Namun, ketika mataku terbuka. Aku tertegun melihat gadis itu tersenyum ceria sambil berenang dengan lancarnya mengitariku. Tunggu, kami kan arwah. Mana bisa mati tenggelam. Akhirnya dengan ragu-ragu aku melepaskan nafasku. Hm.. benar, aku bahkan tidak merasakan air itu masuk ke hidung, mata dan juga mulutku. Well, aku kan sudah mati. bibirku membentuk senyuman melihatnya menari-nari di dalam air seperti penari renang yang professional. Aku tidak pernah berenang seumur hidupku. Saat kecil, ketika masih tinggal bersama ayahku. ada yang membuat lubang besar untuk memasukkan sampah untuk di timbun. Tapi tidak bisa langsung di kerjakan karena hujan turun dengan derasnya, aku dan anak-anak lain bermain di halaman karena jarang-jarang hujan turun sederas itu. dan aku masuk ke lubang itu, bahkan nyaris mati jika ayahku tidak menemukanku disana. Sejak itu aku bersumpah tidak akan masuk ke kolam berisi air. Apa pun jenisnya.
Tapi saat ini berbeda. Aku tidak merasa takut sama sekali. Karena aku tidak akan tenggelam. Di dalam air itu, aku memperhatikan gadis itu berenang-renang mengitariku. Ia berenang menghampiriku dan memegang kedua bahuku, lalu membawa kami ke permukaan.
“Bwuuuuh…” ucapku sepontan ketika kami keluar dari air, aku langsung menyeka air di wajahku dan memandang gadis di sebelahku yang tampak sangat senang.
“Bagaimana? Aku cukup berbakat kan?” Tanya gadis itu bangga.
Aku tersenyum lucu, “Sedikit..” ucapku, sebenarnya ia sangat berbakat, tapi aku tidak ingin ia semakin besar kepala karena pujianku.
Gadis itu mengerutkan hidungnya sebal, lalu tertawa kecil.
“Apa sebelum mati kau penari renang?” tanyaku ingin tau.
Gadis itu menggeleng, “Sepertinya bukan..” ucapnya, “Aku mempelajarinya di sebuah sanggar tari bawah air saat waktu senggangku setelah menjadi penolong ini..” jawabnya.
“Hmm..” aku mengangguk mengerti. Ternyata menyenangkan juga menjadi penolong seperti ini. aku bisa melakukan hal yang kusuka sembari membantu arwah lainnya. “Apa kau juga bisa melihat orang-orang yang kau sayangi?” tanyaku, mungkin saja aku nanti bisa menjadi penolong juga. Hahaha..
Gadis itu menggeleng lagi, “Tidak, sekali kau memutuskan untuk jadi penolong. Ingatan semasa hidupmu akan di hapuskan..”
Aku tertegun, “Ne? jadi kau sama sekali tidak ingat apa pun?”
“Ne..” jawab Dasom santai, “Tapi tidak apa-apa.. setelah semua tugasku berakhir, aku akan mengingat semuanya dan bisa masuk ke masa selanjutnya. Itu seperti amnesia selama masa jabatanku saja. Sama sepertimu saat ini..” ucapnya sambil tersenyum. “Ayo kita keluar..” gadis itu memegang tanganku dan TRING! Kami sudah berdiri di pinggir kolam dengan pakaian kering.
Aku terkejut merasa bajuku kering seperti tidak pernah masuk ke air. Juga rambut dan seluruh tubuhku.
“Ayo cepat, mungkin kita bisa menemukan sesuatu dari buku tahunanmu..” ucap gadis itu senang sembari berlari terlebih dulu.
Aku memandang gadis itu tak mengerti, sepertinya dia bisa melakukan semua hal yang kupikir hanya ada di film. Tunggu! Buku tahunan?! Aissh! Aku terlihat cupu sekali disana!! Dengan cepat aku mengejar gadis itu sebelum menemukan buku tahunanku dulu. “Aissh! Ya! Tunggu!” panggilku.
Aku mengejarnya ke lorong. Di ujung jalan sana langsung masuk ke perpustakaan. Disana ada ruangan khusus tempat penyimpanan buku-buku tahunan sejak sekolah ini di buka puluhan tahun lalu. Aku tidak bisa membiarkannya menemukan buku itu.
Gadis itu tertawa riang sambil tetap berlari, namun tiba-tiba ia berhenti dan memegang kepalanya seperti menahan sakit.
Aku terkejut dan langsung menghampirinya, “Ya.. kau baik-baik saja?” tanyaku khawatir.
Gadis itu tampak mengerutkan dahi dan memandangku, “Kepalaku seperti di pukul palu..” ucapnya.
Aku juga mengerutkan dahi memandangnya, “Kepalamu? Kenapa? Kita kan arwah, berarti tidak merasakan sakit, lapar atau haus lagi..”ucapku tak mengerti.
Gadis itu mengangguk pelan, “Ne, memang begitu.. tapi ini adalah pekerjaan terakhirku.. Jika aku tidak berhasil aku akan lenyap dan tidak bisa pergi ke masa selanjutnya..”
Aku tertegun, “Ne? kenapa semuanya jadi sekejam itu?” tanyaku tak mengerti, namun tiba-tiba gadis itu terhuyung dan hampir tumbang. “Oh!” seruku kaget dan menangkap tubuhnya, “Ya! Gwenchana?!”
“Gwenchana..” ucapnya lemah.
Aku memandang sekitar dan melihat kursi panjang, “Ayo duduk disana..” ucapku sambil membawanya ke kursi tadi.
Ia terlihat benar-benar lemah. Siapa sih yang membuat peraturan mengerikan itu? bukankah dia sudah berjasa membantu arwah-arwah?
“Apa ada rumah sakit untuk arwah juga?” tanyaku tak mengerti.
Gadis itu menatapku lucu, “Kau ada-ada saja, tentu saja tidak..”
“Lalu, kenapa kau merasakan sakit seperti ini?” tanyaku tak mengerti.
Gadis itu menghela nafas dalam dan memandangku sedih, “Maaf, sepertinya misiku kali ini akan gagal..”
Aku tertegun mendengar ucapannya, “Apa maksumu?”
Gadis itu memandang ke bawah sedih, “Sebenarnya.. waktumu tinggal beberapa jam lagi..” ucapnya berat.
Aku sangat terkejut mendengar ucapannya, “Apa? Bagaimana mungkin?! Kau bilang tadi masih ada sehari lagi!”
Gadis itu kembali mengambil i-pad dari udara kosong dan memperlihatkan layarnya padaku. Bukan dua tabung lagi, tapi sebuah jam pasir. Dan disana tinggal seperempat waktu lagi. “Sebenarnya…” ucapnya berat, membuatku menatapnya antusias. “Ini adalah waktuku..” ucapnya.
“Waktumu apa?” tanyaku tak mengerti.
“Sebenarnya kau berhasil atau tidak, kau akan tetap pergi ke masa selanjutnya. Tapi jika aku tidak berhasil. Aku akan menghilang begitu saja. Karena itu, aku sangat takut dan mengarang cerita tentang bergentayangan itu..” ucapnya mengakui.
“Lalu?” tanyaku tak mengerti.
“Karena aku berbohong, waktuku di potong banyak sekali. Jadi hanya tersisa beberapa jam untuk membantumu..” ucapnya.
Aku terkejut mendengar ucapannya, “Jika kau tau kenapa kau berbohong?! Kau bodoh atau bagaimana?!”
Gadis itu memandang ke bawah sedih, “Maafkan aku..” ucapnya menyesal.
“Aissh! Jadi jika dalam beberapa jam aku tidak berhasil kau akan menghilang?” tanyaku tak percaya.
Gadis itu mengangguk pelan.
“Aissh!” ucapku kesal, aku tidak tau mengapa aku sangat kesal mengetahuinya padahal itu tidak ada urusannya denganku.
Gadis itu memandangku, “Aku tidak apa-apa, pergilah mencari informasi yang mungkin bisa kau temukan..”
“Kau serius? Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu padamu?” tanyaku khawatir.
Gadis itu tersenyum, “Tidak akan.. aku kan sudah mati, tidak mengerikan untuk mati lagi..” ucapnya.
“Oh benar juga..” ucapku baru ingat.
“Pergilah.. ingat, jika kau tidak berhasil, kau tidak akan menemukan cinta sejatimu..” ucapnya sambil mendorongku.
“Keure, tunggu disini..” ucapku, lalu bangkit dan berlari menuju perpustakaan. Mungkin dengan melihat buku tahunan aku bisa menemukan siapa gadis itu. bukan berarti aku sangat ingin membantu gadis penolong itu.. Aissh! Aku memang ingin membantunya!
Aku masuk ke perpustakaan, lalu langsung ke ruang penyimpanan buku tahunan. Tidak butuh waktu lama untuk menemukannya kan? Namun pemikiranku salah. Ternyata di dalam sana ada belasan rak dengan buku tahunan didalamnya.
Tapi aku tidak boleh memakan waktu lama. Dengan cepat aku berlari menyusuri rak mencari tahun kelulusanku dulu. “2008..” gumamku sambil mencari. Aisssh! Siapa yang menyusun buku-buku ini? kenapa di deretan buku 2000-an juga terselip dari tahun 80-an dan 90-an? Jika aku masih hidup aku akan menegur penjaganya! Aissh! Dimana dia?! Batinku kesal sambil berlari ke setiap rak mencari-cari,
Hak! Aku menemukannya! Dengan cepat aku memanjat rak itu untuk mengambil buku tahunan di atas yang tertera 2008 disana. Lalu meloncat ke lantai dan membuka buku itu. halaman demi halaman hingga aku menemukan kelasku dulu. Saat itu, yang pertama kulakukan adalah menghela nafas lega, karena photo cupu ini tidak di lihat siapa pun.  Ah! Tidak seharusnya aku memikirkan itu sekarang. aku langsung memperhatikan kelasku, “Aissh.. kenapa aku terlihat jelek sekali?” gumamku ketika melihat diriku disana. Aissh! Kembali focus! Aku berpindah ke halaman sebelah dimana disana ada photo masing-masing teman-temanku dan informasi singkat mereka.
“Kim Seungyong, Kim YonAh, Lim Chunji..” gumamku membaca nama-nama gadis yang sekelas denganku dulu. Aku ingat Kim Seungyong pernah di ejek kembar denganku karena nama kami mirip. Seungyoon dan Seungyong. Aissh.. aku tidak suka, gadis itu suka mengenakan rok pendek hingga celana dalamnya terlihat jika aku membungkuk. -___-“ aissh! Aku mulai lagi!
Jariku bergerak menyusuri photo-photo disana yang mungkin tampak seperti gadis yang kusukai itu. dahiku berkerut, pastinya aku tidak akan menyukai mereka semua kan. Yang benar saja, hanya mereka semua? Tidak mungkin. Batinku dan mencari lagi, lagi dan lagi. tetap tidak ada. Aku ingat wajah mereka semua, teman-teman SMP-ku yang menyebalkan, tapi juga sangat menyenangkan. Atau mungkin kami tidak sekelas ya? Aku harus mencari ke kelas lain juga. Mulai dari awal lagi, aku memperhatikan siswi di setiap kelas.
Di kelas 3-6, gadis bernama Jeum Han Ni pernah melemparkan bola voli ke wajahku hingga mimisan. Dia memang cantik, tapi sepertinya bukan dia. Aku kembali mencari lagi. tapi tetap tidak ada yang menurutku adalah cinta pertamaku. Dalam ingatanku ,yang hanya serpihan sekarang, sepertinya dia sangat lembut. Baik hati. Dan seperti yang kukatakan sebelumnya. Dia itu jelmaan malaikat. Aku berpikir sendiri sambil membolak balik halaman mencari mungkin saja yang terlewat olehku. Ini sia-sia saja, aku tidak akan menemukan apa pun jika seperti ini. aku kembali meletakkan buku tadi di tempatnya, namun sepertinya aku tidak berhati-hati. Buku itu  bukannya masuk ke deretan buku lain malah terlepas dari tanganku hingga jatuh kebawah. “Aissh.. kenapa harus sekarang?” ucapku sambil mengambil buku itu. dan ketika aku mengangkatnya, tanganku tidak memegang semuanya hingga halaman buku terbuka lebar. “Untung tidak sobek..” ucapku sambil menegakkan buku di tanganku. Saat itu, aku baru sadar di halaman belakang masih ada sebuah photo. Aku membuka halaman belakang dan memperhatikannya.
Saat itu. mataku langsung terpaku pada sebuah photo yang memenuhi setengah halaman. Jika jantungku masih berdetak, mungkin aku sudah terkena serangan jantung sekarang. disini, terlihat sebuah peti mati di sebuah rumah duka. Dengan sebuah photo seorang gadis tersenyum manis di depan peti itu. senyuman itu. aku tidak akan melupakannya. Gadis tercantik di sepanjang hidupku. Gadis bak malaikat yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Bulir air mataku mulai berjatuhan karena ingatan-ingatan itu kembali masuk ke kepalaku. Gadis cantik ini, telah meninggal. Karena itu aku berharap aku sempat menyatakan perasaanku padanya. Tepat di depan peti matinya saat itu. Aku tidak percaya, gadis cantik ini….
Nama : Kim Dasom
Lahir : Seoul, 6 Mei 1994
Hobbi : Berenang
Cita-cita : Penari bawah air professional
Aku benar-benar tidak percaya. Satu tanganku yang lain menutup mulutku menahan tangis. Aku ingat sekarang. dia meninggal beberapa bulan sebelum kelulusan kami karena kanker otak. Dia selalu tersenyum padaku. Meskipun semuanya memanggilku anak sampah karena tinggal di kawasan kumuh itu, ia tetap memanggil namaku dan berbaik hati padaku. Tunggu, waktunya! Aku harus memberitau gadis itu sebelum waktunya habis! Dengan cepat aku meletakkan buku tadi lagi dan berlari keluar dari perpustakaan.
Aku terkejut tiba-tiba angina berhembus sangat kencang di lorong. Aku jadi kesulitan membuka mata karena angin ini. Tanganku terangkat dan berusaha melindungi mataku, aku harus menemui gadis itu dan memberitau apa yang kutemukan. “Ya!!” panggilku.
“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Mataku melotot mendengar jeritan itu dan menatap ke arah gadis itu berteriak. Ternyata angin ini berasal dari lubang hitam yang muncul du tengan lorong. Apakah waktunya sudah habis? Dan ini saatnya gadis itu menghilang?! Tidak!! Dia tidak gagal!! “Ya!!” panggilku dan berusaha melangkah melawan angin yang terus mendorongku.
Gadis itu tampak berpegangan pada kursi karena tubuhnya terhisap ke dalam lubang hitam itu. ia menangis ketakutan dan tetap berpegangan.
Buk! Aku tertiup ke belakang hingga membentur dinding. Aissh! Kenapa aku lemah sekali?! Aku kembali mengangkat wajahku memandang ke arah gadis tadi di tengah angin yang berhembus.
“Ya! K… uhukk…” ada seusatu masuk ke tenggorokanku! Ketika aku sibuk melancarkan tenggorokkanku, dari lubang hitam itu muncul sesosok tubuh tinggi besar berjubah hitam. Sosok itu tidak memliki wajah. Hanya lubang hitam yang terlihat dari balik tudung kepalanya. Mataku melotot tak percaya. Apakah itu yang di sebut malaikat pencabut nyawa? Pantas saja orang-orang takut padanya.
Gadis itu melotot melihat sosok tadi berjalan ke arahnya, “Andwae! Berikan aku waktu lagi!!” mohonnya.
“Andwae!! YA!!” seruku ketika sosok mengerikan itu mengulurkan tangannya yang berupa tulang belulang ke arah gadis itu. tidak!! Dia tidak bisa mengambil gadis itu! cinta pertamaku!! “KIM DASOM!!” teriakku. Tidak peduli tenggorokanku akan termasuki sesuatu lagi.
Gadis itu tertegun dan menatapku.
Sekarang tatapan kami bertemu satu sama lain. Sekarang waktunya! Cepat Kang Seungyoon!!
“Aku menyukaimu!!!” ucapku lantang.
Gadis itu menatapku tak percaya.
“AKU MENYUKAIMU KIM DASOM!!” teriakku karena sosok mengerikan di belakang gadis itu belum beranjak.
Dengan teriakan itu. semuanya berhenti. Angin, waktu, juga masa. Berhenti karena sang pencabut nyawa terpaku sebelum sempat menyentuh bahu gadis itu. Kim Dasom. Ternyata dia adalah arwah cinta pertamaku. Kekasih tidak nyata yang selalu kurindukan selama ini. Alasan kenapa aku pindah ke rumah ibuku, aku menyebutkannya sekarang, karena aku sangat terpukul dengan kematiannya. Bahkan aku tidak mengikuti ujian di sekolah. Melainkan di rumah karena ibuku orang yang berkuasa. Aku hanya datang untuk photo buku tahunan dan kembali pulang. Karena itu wajahku terlihat sangat cupu. Karena rasa kehilanganku.
Tes…
Aku melihat bulir air berjatuhan dari mata indah Dasom. Ia sepertinya juga baru mengingat semuanya. Kalau selama ini kami mencari dirinya. Bukan orang lain. Perlahan kepalanya menoleh dan memandang sosok mengerikan tadi.
Sosok itu perlahan bergerak mundur dan masuk ke lubang hitam tadi. Angin kembali berhembus kencang menandakan waktu sudah kembali berjalan. Aku memejamkan mata karena merasa seperti akan terhisap ke dalam sana. Aku menelungkup di lantai sambil melindungi kepalaku. Jangan lagi! aku tidak ingin berurusan dengan makhluk mengerikan itu!
“Ehem..”
Aku tertegun mendengar seseorang berdehem, lalu mengangkat kepalaku. Hm? Ada apa ini? dimana aku?
“Ehem..” terdengar deheman lagi.
Aku memandang sekitar bingung karena ini sepertti kapas lembut yang tidak pernah kulihat sebelumnya di jadikan karpet. Tapi kapan aku ada disini. Hingga aku melihat sepasang kaki dengan pakaian panjang berwarna putih, karena masih menelungkup aku perlu mendongak hingga hampir memutar kepalaku.
Omo! Seorang bidadari!! Dia cantik sekali! Juga ada sepasang sayap di belakang tubuhnya. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Mari kubantu..” ucapnya lembut.
Tanganku terulur dan memegang tangannya, lalu bergerak bangkit perlahan. Kemudian memandang sekitar yang terasa sangat menenangkan. “Oh.. apakah ini surga?” tanyaku tak percaya.
“Ini akirat..” jawab bidadari itu.
“Oh.. begitu..” ucapku mengerti.
“Disini adalah tempatmu untuk masuk ke masa selanjutnya..” ucap bidadari itu sambil tersenyum.
Aku tertegun, “Ne? masa selanjutnya?”
Bidadari itu mengangguk, lalu mengambil sebuah cawan indah dan mengambil air dari sebuah sungai kecil di dekat sana dan kembali menghampiriku. “Ini minumlah..”
“Apa ini?” tanyaku ingin tau.
“Itu disebut air reinkarnasi..” jawab sang bidadari.
Aku tertegun dan memandang air itu tak percaya, “Jadi, dengan meminum ini. aku akan terlahir lagi ke dunia?”
Bidadari itu mengangguk membenarkan.
Aku teringat sesuatu dan menatap bidadari itu, “Apakah Dasom juga akan meminum ini?” tanyaku.
Bidadari memang makhluk paling indah. tidak salah orang-orang yang mendeskripsikannya. Dengan senyuman saja aku sudah terpesona seperti ini. “Aku tidak berwenang menjawabnya. Jika kau memang ingin tau, minum dan jalani kehidupan barumu. Dan kau akan menemukannya..” ucapnya.
Bibirku membentuk senyuman, lalu meminum air itu tanpa ragu. Aku yakin Dasom juga menimumnya dan kembali terlahir ke dunia. Jadi, tidak perlu ragu.

=Masa Selanjutnya=
Tok! Tok! Tok!
Kepalaku menoleh ke pintu, “Ne…”
“Hyung.. eomma memintamu turun, ada tetangga baru yang datang!!” seru adikku dari luar.
Aku memutar bola mata kesal dan bergerak bangkit, lalu melangkah keluar. Memangnya kenapa sih kalau ada tetangga? Berurusan dengan ibu saja kan sudah selesai.. aku terus menggerutu sembari melangkah turun menuju ruang tamu.
“Eomma, itu hyung..” ucap adikku ketika aku muncul.
Ibuku memandangku dan tersenyum, “Seungyoon-a, ucapkan salam pada tetangga baru kita. Bibi Jung dan putrinya..”
Aku monoleh ke arah tamu kami. Saat itu. duniaku langsung berhenti. Seorang gadis berambut panjang dan berwajah innocent yang sangat-sangat-sangat cantik bergerak bangkit dari sofa tersenyum memandangku.
“Annyeonghaseo.. Kim Dasom imnida..” ucapnya memperkenalkan diri. “Kudengar dari bibi kita akan bersekolah di tempat yang sama, mohon bantuanmu..”
Jantungku langsung berdegup kencang karena senang mengetahui kami akan satu sekolah, “Oh.. ne.. Annyeonghaseo.. Kang Seungyoon imnida..” ucapku. Bibirku membentuk senyuman melihat wajah cerahnya. Ini terasa seperti takdir yang mempertemukanku dengannya.

===THE END===

Advertisements

9 thoughts on “Empty

  1. Wowwww , daebak eonni. Eonni lagi suka winner bukan?? Hahaha habis castnya 2x berturut” winner sihhh. Hahaha keep writing ya thorr , Hwaiting!!!

  2. Wuaaa akhirnya thor nge post ff lagi,udh hampir sebulan hanna eon gak nge post ff baru… T_T

    Ceritanya keren banget,abis itu castnya bias aku,Dasom >_<

    Keep writing Hanna eon~♡

  3. Wuaaa akhirnya thor nge post ff lagi,udh hampir sebulan hanna eon gak nge post ff baru… T_T

    Ceritanya keren banget,abis itu castnya bias aku,Dasom >_<

    Fighting buat nulis ffnya \^o^/

  4. Waahh ff nya seru!!! Kirain siapa cewek yg di sukain seungyoon, tau nya malah penolongnya sendiri ;;;
    Daebak for Author!! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s