Uncategorized

Color Ring

01 color ring

Cast:

  • Seunghoon ‘Winner’
  • Alice ‘helLOVEnus’
  • Taehyun ‘Winner’
  • Jinhwan ‘Team B’

Seunghoon berhenti begitu melihat semua orang mulai mengerumuni papan pengumuman. Ia menghela nafas dalam dan memandang ke bawah lesu.

Taehyun yang berjalan bersama Seunghoon penasaran melihat kerumunan itu, “Oh.. Hasil ujian semester ini pasti sudah keluar..” Ucapnya riang, “Khaja..” Ajaknya dan langsung ikut dalam kerumunan.

Seunghoon hanya memperhatikan temannya Taehyun berusaha menerobos kerumunan untuk melihat hasil ujian. Sedangkan ia, entah mengapa, sudah mengetahui hasilnya tanpa perlu pergi ke sana.

Tak lama Taehyun keluar dari kerumunan orang menghampiri Seunghoon dengan wajah shocknya, “Ya.. Kau diurutan terendah lagi di fakultas kita..”

Seunghoon menghela nafas dalam karena tebakannya benar, “Arayo..” Ucapnya pelan, lalu melangkah pergi dengan wajah lesunya.

Taehyun tertawa kecil mengikuti Seunghoon, “Ya.. Kau sudah berada di urutan terbawah selama satu semester ini.. Lebih baik kau meminta di transfer ke fakultas lain sebelum di D.O..” Ucapnya sambil menepuk bahu temannya itu.

“Sikeuro(diam)!” Ucap Seunghoon kesal.

Taehyun tertawa lucu, “Aku serius, Seunghoon.. Kau tidak cocok dengan ekonomi.. Sudah, pindah ke musik saja..”

Seunghoon berhenti dan menatap Taehyun kesal, “Kubilang diam!” Ucapnya kesal.

Taehyun malah semakin tertawa, “Arasso.. Arasso..”

Seunghoon menghela nafas dalam dan kembali melangkah.

 

=Rumah Seunghoon=

Seunghoon duduk di meja belajarnya sambil membaca buku ekonomi yang tergeletak di depannya. Ia menghela nafas dalam dan mengelus wajahnya. “Ahh.. Kenapa aku tak bisa melakukannya dengan benar?” Gumamnya kesal. Ia diam sejenak, lalu menoleh ke pintu kamarnya. Perlahan ia bangkit dan melangkah menghampiri pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Dari sana ia bisa melihat sebuah piano putih di lorong menuju yang tertutupi sebuah kain dan terlihat sudah lama tak pernah disentuh.

Di ingatannya masih teringat jelas seorang gadis bermata kecil memainkan piano itu dengan indahnya, ketika gadis itu menyadari keberadaannya, gadis kecil itu akan tersenyum lebar hingga kedua matanya menghilang tertutupi eye-smile yang juga ia miliki. Tapi semua itu hanya kenangan. Tidak ada gadis kecil lagi yang pernah memainkannya. Ia juga tak ingin memainkannya sejak gadis itu tiada.

 

=Kampus=

Seunghoon berdiri sambil menyandarkan tangan untuk menopang tubuhnya sambil memperhatikan halaman kampus yang di penuhi anak-anak muda yang sedang menikmati waktu senggang. Kedua telinganya tertutup earphone dan mendengarkan musik hip hop keras yang membuatnya hanya berfokus pada pendengarannya. Ia tertegun ketika satu earphone-nya terlepas dan langsung menoleh.

Taehyun menghela nafas dalam sambil menatap Seunghoon serius, “Seunghoon-a, ini sangat serius.. Jika kau tidak pindah fakultas kau akan di D.O.. Kenapa kau malah berdiri disini?”

Seunghoon menghela nafas dalam dan kembali memandang ke depan, “Aku masih memikirkannya.. Mungkin aku akan pindah ke Sosiologi atau psikologi..”

Taehyun memutar bola matanya kesal dan ikut menyandarkan kedua tangan di pagar pembatas, “Kau tidak cocok di semua fakultas itu! Kau sangat berbakat di musik, Lee Seunghoon! Pindah ke musik!”

Seunghoon menatap Taehyun kesal, “Diamlah.. Masih banyak yang bisa kulakukan selain itu!” Ucapnya dan melangkah pergi.

Taehyun menatap temannya itu kesal dan membiarkan Seunghoon pergi sendiri.

Seunghoon memasang satu earphone yang di lepaskan Taehyun tadi sambil melangkah seorang diri di koridor. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Ia tak tau kemana ia harus pergi jadi hanya berputar-putar di sekitaran gedung itu. Tanpa sadar ia tiba di ruang musik, tempat yang biasanya selalu ia hindari. Namun kali ini, ia tidak ingin pergi begitu saja. Kakinya melangkah pelan kesana dan mengintip kedalam, tidak ada siapa pun. Lalu melangkah masuk sambil memperhatikan sekitar. Ada berbagai alat musik disana. Memang fakultas musik di kampusnya sangat terkenal dengan kemampuan entertaining yang luar biasa, namun ia tak ingin mendalami fakultas ini. Matanya terpaku pada sebuah piano klasik berwarna hitam disana. Ia menghela nafas dalam sambil melepaskan earphone di telinganya dan mematikan musik yang terputar dari ponselnya, lalu mendekati piano itu. matanya mejelajahi jejeran tuts piano itu sesaat, lalu mengulurkan tangan dan menekan satu tuts hingga menimbulkan bunyi.

“Kau akan berlatih?” Tanya seorang gadis.

Seunghoon terkejut dan berbalik, ia tertegun melihat seorang gadis cantik yang mewarnai rambutnya putih.

Gadis itu memandang Seunghoon yang hanya terpaku, “Kau akan berlatih?” tanyanya lagi.

Seunghoon segera kembali ke dirinya, “Ne? oh.. aniya.. aku bukan anak musik..” jawabnya.

Gadis itu tersenyum dan mengangguk mengerti, “Hmm.. kau hanya ingin melihat-lihat ya?”

Seunghoon tersenyum canggung sambil mengelus belakang kepalanya, “Ne.. Cesongheo, aku akan pergi..” ucapnya dan berjalan ke sisi gadis itu untuk berlalu.

Gadis itu berputar mengikuti Seunghoon, “Kau bisa disini jika kau mau..”

Seunghoon berhenti dan memandang gadis itu bingung, “Ne?”

Gadis itu tersenyum, “Aku sudah berlatih keras untuk pertunjukkan semester pertamaku, tapi aku merasa belum percaya diri.. Apa kau mau mendengarkannya?”

Seunghoon terdiam sesaat, lalu tersenyum dan mengangguk. “Keure..”

“Keure, aku akan bersiap..” gadis itu meletakkan tas biolanya di lantai dan mulai mengeluarkan sebuah biola indah.

Seunghoon merasa undangan seperti ini tidak akan datang pada sembarang orang, jadi ia cukup bersemangat sekarang. Ia kembali mendekati piano dan duduk di kursinya menghadap ke gadis tadi.

Gadis tadi meletakkan ujung biolanya ke bahu dan memandang Seunghoon, “Ini musik klasik yang kupelajari selama dua bulan terakhir. Kau bisa memberi penilaian dengan apa yang kau dengar..” ucapnya.

Seunghoon mengangguk, “Oke.. Silahkan mulai..”

Gadis tadi menghela nafas dalam untuk menghilangkan rasa gugupnya, lalu berkonsenterasi dan mulai menggesek senar biolanya dengan penuh pengkhayatan.

Seunghoon mendengarkan dengan seksama dan mulai terbawa dengan alunan lembut itu, matanya terpejam dan mendengarkan dengan serius. Musik klasik yang mempertegas kesedihan seseorang yang membuat siapa pun yang mengerti akan menangis dan hanyut di dalamnya.

Gadis itu menyelesaikan permainannya dan menarik biola itu dari bahunya sambil memandang Seunghoon, “Othe?”

Seunghoon membuka mata dan memandang gadis itu, “Mmm.. kau mempelajarinya dengan baik..” ucapnya.

Gadis tadi tersenyum.

“Tapi kurasa kau terlalu gugup..” lanjut Seunghoon yang membuat senyuman gadis itu terlihat canggung.

“Mmm.. ne..” jawab gadis itu sambil memandang ke bawah.

“Gwenchana, kau hanya perlu membiasakan diri dan rasa gugup itu akan hilang.” Ucap Seunghoon memberi semangat.

Gadis tadi memandang Seunghoon sambil tersenyum, “Apa kau benar-benar bukan anak musik?”

Seunghoon tertawa kecil sambil kembali berdiri, “Ne, aku di fakultas ekonomi.” Jawabnya.

“Pendengaranmu sangat baik tentang musik..” ucap gadis itu, “Biasanya hanya professor yang menyadari aku gugup, teman-temanku hanya akan berkata permainanku sudah baik..”

Seunghoon tersenyum malu,”Ne, keluargaku memiliki backgroundmusik..” ucapnya memberitau.

“Hmm.. pantas saja..” ucap gadis itu, “Oh ya, perkenalkan…” ia mengulurkan tangannya, “Namaku Song Joohee..” ucapnya, “Tapi teman-teman memanggilku Alice karena mereka pikir aku seperti Alice in The Wonderland..” ucapnya sambil tertawa malu.

Seunghoon tertawa kecil sambil membalas uluran tangan gadis bernama Alice itu, “Ne, namaku Lee Seunghoon..” ucapnya.

Alice menarik tangannya lagi, “Senang berkenalan denganmu, Lee Seunghoon..” ucapnya.

Seunghoon mengangguk, “Aku juga, Alice..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

 

=Kafe=

“Jadi, kau sudah memutuskannya?” Tanya Taehyun pada Seunghoon.

“Sudahlah.. dia tidak mungkin berubah pikiran..” ucap Jinhwan, teman dekat Taehyun dan Seunghoon yang belajar di fakultas dance, lalu meminum minumannya melalui pipet.

Sementara Seunghoon, duduk bersandar di kursinya sambil mendengarkan musik klasik seperti yang tadi di mainkan Alice melalui earphone-nya. Ia merasa ada percikan kembang api yang indah ketika ia mendengarkan alunan musik itu di telinganya. Dulu ia selalu merasa seperti ini jika sudah berhubungan dengan musik, namun sejak adiknya meninggal percikan semangat itu meredup dan tak pernah terasa lagi.

“Aissh.. dia bahkan tidak mendengarkan kita..” ucap Taehyun kesal.

Bibir Seunghoon membentuk senyuman sendiri.

Dahi Taehyun dan Jinhwan berkerut melihat ekspresi Seunghoon, lalu saling berpandangan. “Ada apa dengannya?”

Seunghoon melepaskan earphone di kedua telinganya dan memandang teman-temannya, “Kurasa aku akan pindah fakultas..”

Taehyun dan Jinhwan memandang Seunghoon bingung.

“Kau sudah memutuskannya? Kemana?” Tanya Taehyun ingin tau.

Seunghoon tersenyum lebar, “Musik..” jawabnya, lalu bangkit dan berjalan pergi dengan senyuman percaya diri.

Taehyun dan Jinhwan terdiam di tempatnya dengan dahi berkerut.

“Dia berkata musik?” Tanya Jinhwan memastikan.

 

=Rumah Seunghoon=

Seunghoon makan malam bersama kedua orang tuanya seperti biasa. Ibunya adalah seorang guru seni di sebuah sekolah yang bisa memainkan semua jenis alat musik. Ayahnya seorang konduktor yang sudah memimpin orchestra ke seluruh dunia. Ia memandang kedua orangtuanya yang sudah berhenti membicarakan musik di meja makan setelah adiknya meninggal sambil tersenyum, “Eomma, abeutji..”

Kedua orangtua Seunghoon menatap putra mereka kaget, “Ne?”

“Aku akan melakukan transfer antara fakultas..” ucap Seunghoon memberitau.

“Hmm.. keure, jika itu yang memang kau inginkan..” ucap ayahnya mendukung.

Ibu Seunghoon tersenyum, “Bagus, kau bisa memilih yang lebih baik sebelum terlambat..”

“Ne eomma..” jawab Seunghoon dan kembali makan.

“Mmm.. fakultas mana yang kau pilih?” Tanya ayah Seunghoon.

Seunghoon memandang ayahnya dengan senyuman diwajahnya, ia menunggu pertanyaan ini datang. “Musik..”

Ayah dan ibu Seunghoon tertegun.

Seunghoon memandang ayah dan ibunya bergantian, “Aku akan mempelajari musik lagi..” ucapnya.

Ayah dan ibu Seunghoon baru menyadari apa yang mereka dengar dan tersenyum lebar.

“Jinja? Omo.. ini benar-benar luar biasa..” ucap ibu Seunghoon bersemangat.

“Apa kau ingin alat musik baru? Katakan saja.. abeutji akan mencarikan yang terbaik untukmu..” ucap ayah Seunghoon.

Seunghoon menggeleng, “Aniya, aku akan menggunakan gitar dan piano Soohyun..” ucapnya.

Ibu Seunghoon sampai terharu mendengar keputusan Seunghoon, tangannya terulur dan mengelus punggung tangan putranya. “Ne, kau bisa menggunakannya..”

Setelah makan. Seunghoon melangkah kembali ke kamarnya dengan perasaan senang. Langkahnya terhenti di dekat piano dan memandanginya sesaat. Hatinya kembali terasa remuk mengingat gadis berusia 14 tahun yang dulu selalu memainkan musik bersama piano itu. bibirnya membentuk senyuman dan memegang permukaan piano itu, “Oppa akan mempelajarinya lagi, Soohyun-a..” ucapnya pelan.

 

=Fakultas Musik=

Seunghoon memulai semester barunya dengan ceria. Ia merasa lebih hidup setelah mempelajari musik lagi. namun kali ini ia tidak mempelajari musik klasik seperti orang tuanya, ia mempelajari musik modern namun tetap menggunakan musik klasik sebagai dasarnya.

Beberapa bulan berlalu dengan baik. Hingga suatu hari.

Seunghoon melangkah menuju ruang musik sambil menyandang tas gitar di satu bahunya, begitu masuk ia tertegun melihat seseorang berambut putih panjang duduk di kursi piano dan memandang ke bawah sedih. Kakinya melangkah lagi dan langsung tersenyum begitu menyadari gadis itu adalah Alice, namun senyumannya langsung luntur melihat satu tangan gadis itu memegang busur dan satu lagi tergeletak di pangkuannya dengan jari-jari yang berdarah, sedangkan biolanya tergeletak di lantai. Ia terkejut dan langsung meletakkan tas gitarnya sambil menghampiri gadis itu, “Alice, waekeureyo?” tanyanya sambil berlutut di hadapan gadis itu.

Mata Alice bergerak memandang Seunghoon, saat itu bulir-bulir air mulai berjatuhan dari matanya.

Seunghoon mengeluarkan sapu tangannya dan membalut jari-jari Alice yang berdarah, lalu memandang gadis itu menunggu jawaban.

“Professor berkata lebih baik aku tidak bermain biola lagi..” ucap Alice pelan.

Seunghoon tertegun, “Ne? wae?”

Alice menunduk sedih, “Professor bilang aku tidak bisa mengendalikan diriku dan selalu melakukan kesalahan karena terlalu gugup..” ucapnya.

Seunghoon mulai mengerti ucapan Alice dan menghela nafas dalam, “Seperti yang kubilang sebelumnya, kau hanya perlu membiasakan dirimu..”

Alice menghela nafas dalam dan kembali menunduk memandang jarinya yang masih di pegang Seunghoon menggunakan sapu tangan. Lalu kembali memandang pria itu, ia baru menyadari ada tas gitar, “Hmm.. kau bilang bukan anak musik.” Ucapnya bingung.

Seunghoon memandang tas gitarnya dan kembali memandang Alice, “Mmm.. aku memutuskan pindah ke fakultas musik..” jawabnya sambil tersenyum.

Alice tersenyum, “Musik modern?”

Seunghoon mengangguk, “Ne..” jawabnya.

Alice mengangguk mengerti dan menyeka air matanya dengan tangannya yang lain, namun ia lupa masih memegang busur biolanya hingga nyaris menyolok mata Seunghoon yang berlutut di depannya.

Spontan Seunghoon memejamkan mata dan memegang mata kanannya, “Ahkk!!” rintihnya.

Mata Alice membesar dan melempar busur biola ditangannya, “Omo! Seunghoon-ssi! gwenchanaseyo? Cesonghamida!!” ucapnya panic.

Seunghoon mengelus mata kanannya dan melirik Alice dengan mata kirinya. Lalu tertawa kecil, “Gwenchana..” ucapnya.

Alice menggigit bibir bawahnya sambil memegang bibir bawah itu menyesal, “Mianeyo..”

Seunghoon mengangguk dan membuka mata kanannya, “Gwenchana, aku masih bisa melihatmu dengan jelas..” ucapnya.

Alice garuk-garuk kepala menyesal.

Seunghoon tertawa kecil dan bergerak bangkit, “Gwenchana, ayo.. Kau harus membalut lukamu..” ucapnya sambil mengambil busur biola gadis itu dan membantunya menyimpan biola itu ke dalam tas. Ia juga dengan gentle membawakan tas biola Alice.

Alice memperhatikan mata kanan Seunghoon sembari melangkah menuju kafe tak jauh dari kampus, satu tangannya masih memegang sapu tangan yang membalut lukanya. “Jeongmal gwenchana? Matamu terlihat bengkak..” ucapnya khawatir.

Seunghoon menahan tawa, “Alice, mataku memang terlihat membengkak dan kecil.” Candanya.

Alice tersenyum lucu, “Hmm.. benar juga..” ucapnya.

Seunghoon tersenyum melihat Alice kembali ceria, “Mmm.. Alice, boleh aku bertanya mengapa kau bermain biola?”

Alice memandang Seunghoon sambil tersenyum, “Wae?”

“Hanya saja.. errr… biasanya gadis seusiamu yang kukenal memilih piano atau cello..” jawab Seunghoon mengungkapkan kebingungannya.

Alice mengangguk mengerti, lalu memandang langitsambil mengenang masa lalu. “Menurutku, biola itu unik..” ucapnya, lalu memandang Seunghoon. “Saat kecil ayahku bertanya apa yang kusukai, lalu aku berkata kalau aku suka melihat alat musik yang seperti ini..” ucapnya sambil mempraktekkan cara bermain biola di bahunya.

Seunghoon tertawa melihat bagaimana Alice mempraktekkannya.

Alice ikut tertawa dan kembali melanjutkan, “Lalu ayahku membelikanku biola, aku sangat suka mendengar suaranya. Ngek.. ngek.. ngok..” ucapnya menirukan bunyi biola saat pertama kali ia memainkannya.

Seunghoon tertawa lagi melihat kelucuan gadis itu.

“Kemudian aku mengikuti kursus biola, disana ada anak-anak yang sudah lebih pandai dariku. Mereka selalu mengolokku dan berkata aku terlalu pemalu untuk tampil.. Tapi mereka tidak salah sih..” ucapnya dengan dahi berkerut.

Seunghoon tak bisa berhenti tertawa melihat Alice yang sangat baik mengekspresikan semua yang gadis itu rasakan. “Lalu?”

“Aku belajar keras hingga setiap hari yang kudengar hanya musik-musik klasik. Belajar sendiri maupun di bantu guruku.. hingga saat ini sudah 10 tahun aku menguasainya, tapi aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa gugupku..” ucap Alice sambil memandang Seunghoon bingung, “Apa itu termasuk tidak berbakat?”

Seunghoon menatap Seunghoon lucu, “Aniya, kau bukan tidak berbakat. Tapi hanya pemalu..”

Alice tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Benarkan? Ahh.. sudah kuduga..” ucapnya senang sendiri.

Seunghoon tersenyum, “Ayo, aku akan bertemu teman-temanku disini..” ucapnya sambil masuk duluan ke kafe.

Alice mengikuti Seunghoon.

Taehyun yang sedang membaca buku dan Jinhwan yang sedang menonton video cover di ponselnya menoleh begitu menyadari Seunghoon muncul.

“Kau sudah datang?” Tanya Taehyun, ia tertegun melihat ada Alice juga.

“Annyeong..” sapa Seunghoon sambil meletakkan tas biola Alice ke kursi dan meletakkan tas gitarnya ke sebelah kursi.

“Ya, siapa ini?” Tanya Jinhwan yang langsung terpesona melihat Alice, “Neomu yepeutta..”

Alice tersipu malu mendengar ucapan Jinhwan.

“Ini Alice, dari fakultas musik klasik..” ucap Seunghoon memperkenalkan.

“Annyeonghaseo..” sapa Alice sambil membungkuk sopan.

Taehyun tersenyum, “Annyeong..”

“Silahkan duduk Alice-ssi..” ucap Jinhwan sambil menarik kursi untuk Alice duduk.

“Gamshamida..” ucap Alice sambil bergerak duduk.

Seunghoon duduk di sebelah Alice, “Ini Kim Jinhwan, Fakultas dance. Dan ini Nam Taehyun, fakultas ekonomi..” ucapnya memperkenalkan teman-temannya.

“Senang bertemu kalian..” ucap Alice.

“Taehyun-a, kau masih membawa kotak P3K-mu?” Tanya Seunghoon.

“Hm? Masih, wae?” Tanya Taehyun.

“Tangan Alice tadi terluka, kau bisa mengobatinya?” Tanya Seunghoon balik.

“Ne? tanganmu terluka?” Tanya Jinhwan.

Alice mengangkat tangannya yang terbalut sapu tangan Seunghoon, “Ne, tadi aku tali biolaku putus.” Ucapnya memberitau.

Taehyun membawa tasnya berpindah ke sebelah Alice, “Coba kulihat..”

Alice membuka sapu tangan tadi dan menyodorkan tangannya pada Taehyun.

“Aku akan memesan minuman..” ucap Seunghoon sambil bangkit dan berjalan pergi.

Alice memperhatikan Seunghoon pergi dan memandang tangannya yang sedang di obati Taehyun.

“Sakit?” Tanya Taehyun sambil memberikan obat merah.

“Sedikit..” jawab Alice.

Jinhwan menopang dagunya dengan tangan sambil memperhatikan wajah Alice, “Hmm.. wajahmu cantik sekali Alice-ssi, apa kau operasi?”

Kulit wajah Alice yang pucat merona merah memandang Jinhwan, “Ne?”

Taehyun menatap Jinhwan kesal, “Ya.. itu pertanyaan yang tidak boleh kau tanyakan pada seorang gadis..”

Jinhwan menatap Taehyun aneh, “Aku kan hanya ingin tau..”

Alice tersenyum malu, “Aniya.. aku tidak operasi, belum..” jawabnya.

“Belum? Apa kau berencana akan operasi?” Tanya Jinhwan kaget.

“Mmm.. teman-temanku berkata bibirku terlalu kecil..” jawab Alice.

“Mwo?! Andwae! Jangan pernah mengoperasinya! Bibirmu sangat imut.. ahh.. neomu keyomne..” ucap Jinhwan dengan mata di penuhi cinta.

Alice tertawa kecil.

“Operasi wajahmu dulu baru mendekatinya..” ucap Taehyun dengan nada bercanda, lalu tertawa.

“Wae? Memangnya ada yang salah dengan wajahku?” Tanya Jinhwan, lalu memandang Alice. “Apa wajahku jelek?”

Alice menggeleng, “Aniya, kau tampan Jinhwan-ssi.” Ucapnya.

Jinhwan tersenyum malu.

“Jangan berbohong demi dia Alice-ssi..” canda Taehyun sambil membalut luka di jari Alice dengan plaster obat.

Alice tertawa kecil melihat Jinhwan menatap Taehyun kesal, “Aniya, aku suka pria bermata sipit..” ucapnya.

Taehyun dan Jinhwan yang memiliki mata kecil dan ala orang Korea biasa menatap Alice serius, “Jinjaru?”

Alice mengangguk, matanya bergerak memandang Seunghoon yang kembali ke meja mereka setelah memesan. Bibirnya kembali membentuk senyuman melihat pria itu. tiba-tiba sekitarnya seperti bergerak lambat dan hanya Seunghoon yang tersorot.

Taehyun dan Jinhwan kegirangan sendiri mendengar ucapan Alice.

Seunghoon kembali ke tempat duduknya sambil memandang kedua temannya bingung, “Ada apa dengan kalian?”

Taehyun dan Jinhwan hanya tertawa kecil.

Seunghoon memandang tangan Alice, “Sudah selesai?”

Alice mengangguk dan memperlihatkan tangannya, “Sudah..” ucapnya, lalu memandang sapu tangan Seunghoon yang berlumuran darahnya. “Mmm.. aku akan mencuci sapu tanganmu dulu dan mengembalikannya..”

Seunghoon mengangguk sambil tersenyum, “Keure..” ucapnya.

Keesokan harinya.

Seunghoon melangkah keluar dari kelasnya dan berjalan di lorong, saat itu ia menyadari ia melewati kelas musik klasik dan memperlambat langkahnya dan menghampiri pintu kembar yang tertutup itu. terdengar alunan musik dari dalam, tangannya terulur dan membuka satu pintunya sedikit untuk mengintip kedalam. Terlihat anak-anak dari musikklasik sedang mendengarkan penjelasan dosen mereka dengan posisi orchestra. Ia mengedarkan pandangannya untuk bisa melihat lebih luas. Nah! Orang yang ia cari terlihat.

Alice tampak memperhatikan dengan serius dan sesekali menganggukkan kepala.

Seunghoon penasaran apa yang akan mereka lakukan dan terus memperhatikan. Terlihat dosen itu memilih beberapa orang di sekitar Alice, namun gadis itu bahkan sama sekali tidak di lirik oleh dosen itu.

Alice terlihat menghela nafas dalam dan terlihat kecewa.

Seunghoon menghela nafas dalam juga melihat ekspresi gadis itu.

Setelah kelas.

Alice melangkah keluar dari kelasnya dengan wajah lesu dan wajah memandang ke bawah.

Seunghoon yang menunggu Alice sambil bersandar ke dinding dengan kedua tangan terlipat melihat gadis itu berlalu dan langsung mengikutinya, “Alice..”

Alice berhenti dan langsung berbalik, tas biolanya ikut berputar dan membentur kaki Seunghoon.

“Ahk!” rintih Seunghoon sambil memegang lututnya.

Alice terkejut dengan mata dan mulut terbuka lebar, “Omo! Seunghoon-ssi, gwenchanaseyo? Cesongeo..” ucapnya panic.

Seunghoon tertawa kecil dan kembali berdiri tegap, “Sebaiknya lain kali aku mengenakan baju pengaman sebelum mendekatimu..” candanya.

Alice tersenyum malu sambil garuk-garuk kepalanya malu, “Cesongeo..” ucapnya pelan.

Seunghoon tersenyum, “Apa yang kau lakukan di kelas tadi? Sepertinya menyenangkan..” ucapnya.

Senyuman Alice memudar, “Ne? oh.. ne.” ucapnya dan kembali tersenyum, “Ne, sangat menyenangkan..”

Seunghoon memandang Alice lucu sambil memainkan tali tas di bahunya, “Lalu kenapa kau terlihat lesu ketika keluar?”

Alice tak bisa berpura-pura lagi dan kembali memandang kebawah, lalu menghela nafas dalam. “Sama sekali tidak menyenangkan..” ucapnya.

“Waeyo?” Tanya Seunghoon ingin tau.

Alice memandang Seunghoon dengan wajah sedihnya, “Kau tau.. Professor memilih orang yang akan tampil di pementasan antar fakultas nanti.. Sudah pasti aku tidak di pilih..” ucapnya.

“Professor ini yang menyuruhmu berhenti bermain biola?” Tanya Seunghoon.

Alice mengangguk, “Ne..”

Seunghoon diam sejenak, lalu tersenyum. “Gwenchana.. Kau bisa membuktikan padanya..”

Wajah Alice tampak bingung, “Bagaimana caranya?”

Seunghoon tersenyum, “Kita akan temukan caranya..” ucapnya, lalu memegang tangan Alice. “Khaja..” ajaknya dan membawa gadis itu pergi.

Alice bingung mengapa Seunghoon mengajaknya ke halaman kampus yang di penuhi orang.

Seunghoon berhenti sambil tersenyum melihat kumpulan orang disana sini.

Alice memandang sekitar bingung dan memandang Seunghoon, “Kenapa kita kemari?”

Seunghoon memandang Alice sambil tersenyum, “Seperti yang selalu kukatakan, kau hanya perlu pembiasaan..” ucapnya, lalu mengambil tas biola gadis itu dan mengeluarkan isinya.

“Ne?” Alice benar-benar bingung bercampur panic ketika Seunghoon memberikan busur dan biolanya, “Seunghoon-ssi, aku… aku….”

Seunghoon naik ke sebuah pot bunga yang terbuat dari batu dan berseru, “Perhatian semuanya!!!”

Alice membesarkan mata mendengar Seunghoon berseru dan memandang sekitar, orang-orang mulai memandang mereka dan terlihat penasaran.

“Disini..” Seunghoon memegang kedua bahu Alice, “Song Joohee, dari fakultas musik klasik akan menampilkan sesuatu untuk kita.. Tolong perhatiannya sebentar..” ucapnya.

Alice terpaku di tatap banyak orang. Ia tak tau harus melakukan apa, kedua tangannya mulai bergetar.

Seunghoon turun dari pot dan memandang Alice yang terlihat panic, “Gwenchana..” bisiknya.

Alice memandang Seunghoon.

Seunghoon tersenyum, “Mainkan lagu yang kau mainkan untukku saat itu..” ucapnya.

“N-ne?” ucap Alice gugup.

“Apa yang dia lakukan?” Tanya seorang pria pada temannya dan tertawa melihat Alice gemetaran.

Alice tertegun mendengar ucapan itu dan menunduk malu.

“Ayolah.. kau bisa memainkannya..” ucap Seunghoon terus mendukung.

Alice mengangkat biolanya ke bahu, namun ketika hendak menggesek busur tangannya menjadi kaku. Semua not musik di kepalanya menghilang begitu saja dan ia tak bisa mengingat satu lagu pun.

“Ya! Enyahlah jika kau tidak bisa melakukan apa pun!” seru seorang gadis.

Alice tertegun memandang gadis itu. orang-orang juga mulai menggerutu sebal dan ada yang menertawainya. Bola matanya mulai di penuhi air dan menunduk malu.

Seunghoon merasa bersalah melihat ekspresi Alice dan memandang orang-orang itu, “Ya! Diam dan tunggu!” serunya kesal.

Bulir air mata Alice berjatuhan begitu saja, ia segera mengambil tas biolanya dan berlari pergi.

“Alice!” panggil Seunghoon, lalu menatap orang-orang disana kesal. Kemudian mengejar Alice.

Alice terus menangis sambil memeluk biola dan tasnya pergi meninggalkan tempat itu. Tas biola itu meluncur dari pelukannya dan terjatuh ke aspal bersama biola dan busurnya. Ia berhenti memandang barang-barangnya, lalu berlutut dengan satu kaki dan segera memasukkan biolanya ke tas sambil terus menangis.

Seunghoon berlari kecil sambil memandang ke kanan dan kiri mencari Alice, saat itu ia melihat sang gadis bangkit dan kembali berjalan sambil memeluk tas biolanya. Ia segera mengejar gadis itu namun menyadari busur biola masih tergeletak di aspal. Ia memandang busur itu dan Alice bergantian, lalu segera mengambilnya dan kembali mengejar gadis itu. “Alice!” Panggilnya sambil menarik lengan gadis itu.

Alice berhenti dan menunduk sambil tetap memeluk tas biolanya.

Seunghoon merasa sangat bersalah melihat Alice menangis seperti ini, “Cesongeo, seharusnya aku memberitaumu dulu..”

Alice menggeleng, “Aku akan berhenti main biola.. Aku tidak pantas bermain seperti ini.. Aku bukan violinis..” Ucapnya sambil tetap menangis.

“Andwaeyo.. Kau violinis terhebat yang kukenal, Alice..” Ucap Seunghoon menyesal dan menarik gadis itu ke pelukannya, “Cesongeo.. Jangan berkata seperti itu.. Kau pasti bisa tampil seperti violinis lainnya..” Ucapnya menyemangati.

 

=Rumah Seunghoon=

Seunghoon menelungkup di tempat tidurnya sambil memandang ke pintu kamar yang tertutup. Ia sangat menyesal pada Alice. Gadis itu sudah tidak masuk kuliah selama dua hari dan ia tak tau bagaimana menghubungi gadis itu. Setelah cukup lama berdiam diri dengan posisi itu, ia bergerak bangkit dan melangkah keluar kamar. Ia berhenti sejenak di ambang pintu memandangi piano putih itu, lalu kembali melangkah menghampirinya. Dengan lembut ia menyibak kain penutup piano dan duduk di kursinya. Tangannya membuka penutup tuts, lalu meletakkan jari-jarinya diatas tuts berwarna putih dan hitam itu. Terdengar dentingan musik dari gerakan jari-jarinya sembari berpikir apa yang harus ia lakukan.

=Flashback=

“Oppa, tau tidak kenapa aku ingin jadi musisi?” Tanya Soohyun saat ia dan Seunghoon duduk di depan piano.

Seunghoon memandang Soohyun ingin tau sambil memainkan melodi lembut dengan jari-jarinya, “Wae?”

Soohyun tersenyum, membuat matanya hilang oleh eye-smile. “Karena aku ingin orang-orang mendengarkanku.. Dengan begitu mereka tau apa yang kurasakan. Saat aku sedih, mereka akan mengangguk dan terlihat sedih. Ketika aku senang, mereka akan tersenyum dan merasa bahagia..”

Seunghoon tersenyum mendengar ucapan adiknya.

“Oppa tau kan maksudku?” Tanya Soohyun.

“Ne, oppa arayo..” Ucap Seunghoon.

Soohyun tampak senang dan ikut bermain bersama Seunghoon.

=Flashback End=

Jari-jari Seunghoon berhenti karena mendapat sebuah ide. Bibirnya perlahan membentuk senyuman, “Ne.. Dengan musik.. Dengan musik!” Ucapnya sembari bangkit dan melangkah cepat masuk ke kamar.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Akhirnya Alice kembali ke kampus. Namun ia tetap menunduk dan berusaha tidak di ketahui siapa pun. Sejak kejadian di halaman orang-orang akan tertawa atau menatapnya lucu, jadi ia harus menghindari orang sebanyak yang ia bisa.

“Kau sudah memiliki pertunjukkan yang luar biasa, Song Joohee..” ucap Professor Baek sambil memberikan selembar kertas musik pada Alice.

Alice semakin menunduk dan menerima kertas musik itu.

Setelah membagikan semua kertas musik, Professor Baek kembali memandang mahasiswanya. “Pelajari itu dalam dua minggu, aku ingin kalian memainkan ini dalam orchestra..” ucapnya, “Selamat sore..” ia menyandang tasnya dan berjalan keluar.

Alice menghela nafas dalam dan memasukkan kertas itu ke dalam tasnya, lalu melangkah keluar kelas seperti yang lainnya. Ia hanya bisa menunduk ketika teman sekelasnya mulai membahas kejadian di taman.

Treng…

Alice berhenti melangkah mendengar seseorang mulai memetik gitar dan bernyanyi.

“Saranghandaneun mal akkiji malgo deo manhi haejul geol..

(I shouldn’t have saved the words “I love you” but said it more to you)

Gwichanteorado pigonhadeorado bogo sipda nege dallyeogal geol..

(Even if I was lazy, even if I was tired, I should’ve ran to you because I missed you)

Neoui jip apkkaji maeilmaeil neol deryeoda jul geol..

(I should’ve dropped you off at your home every single day)

Jumaren chingudeulgwaui mannambodan neowa isseojul geol..

(Instead of meeting friends on the weekend, I should’ve been with you)”

Alice tertegun melihat Seunghoon menyanyikan I’m Sorry dari boyband Beast. Pria itu berjalan menghampirinya sambil terus bernyanyi sepenuh hati. Ia melirik sekitar yang memandangi pria itu penasaran.

“Wae ijeseoya dwineujeun huhoereul haneungeoya geuttaen alji motaetdeon geoya..

(Why am I regretting now? Why didn’t I know back then?)

I’m sorry.. i’m sorry, baby..

Wae ijeseoya dwineujeun huhoereul haneungeoya nega neomu sojunghangeoya..

(Why am I regretting now? You are so precious to me)

Joheun gieogeuro neoege namgil baraenneunde..

(I hoped that I would remain as a good memory to you)”

 

Seunghoon berhenti di hadapan Alice sambil terus bernyanyi dan menatap kedua mata gadis itu dalam.

“Geuttaen eoryeosseunikka amugeotdo mollasseunikka rago..

(Because I was young back then, because I didn’t know any better)

Byeonmyeongirado deureojullae geurigo nae son dasi jabajullae..

(Will you at least hear my excuses? And will you hold my hand again?)

Jigeumeun anirado jogeum sigani geollindaedo..

(Even if it’s not now, even if it takes a little time)

Ne jarin geudaero biwodulge na gyesok i jarie isseulge..

(I will keep your spot empty, I will continue to stay here)

 

Neol doedolligien neutji ankireul barae (ne jarin geudaero biwodulge)..

(I hope it’s not too late to bring you back (I will keep your spot empty))

Daheul su eobsi meolji ankireul barae (na gyesok i jarie isseulge)..

(I hope you won’t get so far that I can’t reach you (I will continue to stay here))”

 

Alice tersenyum mendengar lirik lagu dan permainan yang baik dari Seunghoon.

Seunghoon menyelesaikan lagunya dan menunggu tanggapan Alice. “Bagaimana menurutmu?”

Alice tertawa kecil, “Kau bisa bernyanyi dengan baik..”

Seunghoon menahan tawa, “Aniya, bukan itu..” ucapnya.

“Lalu?” Tanya Alice bercampur bingung.

Seunghoon menghela nafas dalam dengan kepala tertunduk lesu karena Alice tidak mengerti maksudnya yang sebenarnya.

Alice menahan tawa melihat ekspresi Seunghoon, “Waeyo?”

Seunghoon memandang Alice dan tersenyum, “I’m sorry..” ucapnya pelan.

Alice tertegun mendengar ucapan tulus itu.

“Cesongeo, seharusnya aku tidak melakukannya seenak hatiku. Aku membuatmu menjadi lelucon.. Aku benar-benar menyesal..” ucap Seunghoon menyesal.

Alice diam sejenak, lalu tersenyum.

Seunghoon menunggu jawaban Alice yang masih tersenyum, “Jadi?”

Alice tampak terkejut sendiri, “Oh.. aku harus menjawabnya?” ucapnya bingung, lalu tertawa malu. “Ne..”

Seunghoon tertawa kecil melihat respon Alice dan baru menyadari orang-orang memandangi mereka, “Hm? Kenapa mereka memandangi kita?”

Alice memandang sekitar juga, “Kau tau? biasanya di film-film kejadian seperti ini terjadi saat pria hendak menyatakan cintanya..” ucapnya menahan tawa.

Seunghoon tertegun, matanya yang kecil tampak membesar. “Ne?” ia memandang sekitar malu dan langsung menarik Alice pergi.

 

=Trotoar=

Alice tertawa memperhatikan wajah Seunghoon yang masih terlihat malu.

“Sudahlah.. jangan tertawa lagi..” ucap Seunghoon malu dan memalingkan wajahnya.

Alice berusaha menahan tawanya, “Kenapa kau malu seperti itu?”

“Orang-orang akan berpikir yang macam-macam tentang kejadian tadi.. Ahh.. aku malu sekali..” ucap Seunghoon frustasi.

Alice tertawa sambil menutup mulutnya, “Lalu kenapa kau melakukannya? Sudah tau disana sangat banyak orang..” ucapnya lucu.

“Aku kan ingin meminta maaf padamu..” ucap Seunghoon sebal.

“Kau kan tinggal datang menghampiriku dan berkata kau meminta maaf..” ucap Alice.

Seunghoon menatap Alice sebal, “Aku kan seniman.. jadi harus dengan cara seniman juga..”

Alice tertawa lucu dan menyentuh wajah Seunghoon yang memerah dengan ujung telunjuknya, “Wajah tomat!”

Seunghoon tersenyum dan menahan tawa karena sikap lucu Alice, lalu mendorong tangan gadis itu pelan. “Ya.. jangan seperti itu.. aku malu…”

Alice tertawa kecil lagi dan berjalan bersama Seunghoon. “Oh ya..” ucapnya sambil kembali memandang pria di sebelahnya.

“Hm?” jawab Seunghoon sambil memandang Alice.

“Alat musik apa saja yang bisa kau gunakan?” Tanya Alice.

Seunghoon berpikir sejenak, “Hmm.. Aku biasanya menggunakan gitar. Tapi aku juga bisa memainkan piano. Biasanya aku dan adikku akan bermain piano setiap sore untuk melatih perkembangannya..” jawabnya sambil tersenyum, namun hatinya terasa remuk mengingat adiknya sudah tidak ada.

Alice tersenyum, “Adikmu? Siapa namanya?”

Seunghoon tersenyum cerah lagi ketika memandang wajah Alice, “Lee Soohyun.. dia punya mata sipit sepertiku juga..” ucapnya sambil menunjuk matanya.

“Jinja? Pasti sangat imut.. Apa aku bisa bertemu dengannya?” Tanya Alice bersemangat. Ia tertegun melihat perubahan ekspresi Seunghoon, pria itu bahkan terlihat memalingkan wajah. “Waeyo?”

Seunghoon menghela nafas dalam dan kembali tersenyum memandang Alice, “Mmm.. dia sudah berada di tempat yang tidak bisa di kunjungi orang hidup.” Jawabnya pelan.

Wajah Alice tampak terkejut dan berhenti melangkah, mata bundarnya berkedip-kedip menatap Seunghoon. “Apa dia…..”

Seunghoon mengangguk, “Ne.. 7 tahun lalu..”

Dahi Alice berkerut dan raut wajahnya tampak menyesal, “Mianeyo..”

Seunghoon tersenyum, “Gwenchana, dia sudah berada di tempat yang lebih baik.. Khaja..” ajaknya dan melangkah duluan.

Alice mengerutkan bibirnya sambil memukul kepalanya pelan, “Aissh.. seharusnya aku tidak bertanya..” gumamnya dan mengikuti Seunghoon.

 

=Rumah Seunghoon=

Alice melangkah masuk sambil memperhatikan rumah Seunghoon yang di penuhi pajangan berbentuk alat musik, juga kertas dindingnya di penuhi not Mozart, “Wuaaa.. ini Mozart?”

Seunghoon tertegun memandang dindingnya dan kembali memandang Alice, “Kau tau?”

“Ne..” jawab Alice dan menunjuk satu persatu not yang ia lihat.

Seunghoon tersenyum, “Ibuku berkata mozart sangat menginspirasinya.. Jadi ia memesan kertas dinding khusus seperti ini..”

Alice mengangguk mengerti dengan senyuman di wajahnya sambil tetap melihat-lihat.

“Ayo, kamarku ada disana..” ucap Seunghoon sambil melangkah menuju kamarnya.

“Orangtuamu tidak dirumah?” Tanya Alice sambil mengikuti Seunghoon.

“Ibuku akan pulang sekitar pukul 3, ayahku sedang di luar negeri..” jawab Seunghoon.

Alice mengangguk mengerti, matanya terpaku pada piano putih dan langsung menghampirinya. “Piano..” ucapnya sambil mengelus permukaan piano itu.

Seunghoon berhenti dan memandang piano itu.

“Seunghoon-ssi, mainkan satu lagu dulu..” pinta Alice sambil menarik Seunghoon duduk di kursi piano itu.

Seunghoon tertawa kecil dan membuka penutup tuts piano, “Lagu apa?”

“Apa saja, aku ingin dengar.” Ucap Alice sambil tersenyum dan menyandarkan sikut ke atas piano sambil menopang dagunya memperhatikan.

“Keure..” Seunghoon merenggangkan jari-jari tangannya, lalu mulai melantunkan musik merdu.

Alice tersenyum lebar melihat bagaimana lincahnya tangan Seunghoon.

Seunghoon memandang Alice sambil tetap bermain dan tersenyum. Hatinya terasa sangat senang bisa bersama gadis ini, apalagi memperdengarkan musik yang ia mainkan.

Alice langsung bertepuk tangan kecil begitu Seunghoon menyelesaikan lagunya, “Wuhuu… Lee Seunghoon..” ucapnya menyemangati.

Seunghoon tertawa kecil dan bangkit, “Ayo..” ajaknya dan melangkah ke kamarnya.

Alice kembali mengkuti Seunghoon. Ia sangat penasaran akan masuk ke kamar pria itu.

Seunghoon membuka pintu kamarnya dan membiarkan Alice masuk terlebih dulu.

Alice memperhatikan kamar Seunghoon, “Hmm.. kamar pria pada umumnya..” candanya.

Seunghoon tersenyum, “Ne..”

Alice melihat gitar Seunghoon bersandar di sebelah tempat tidur dan langsung duduk di pinggirnya, “Ini gitar yang kau bawa ke kampus setiap hari?” tanyanya sambil mengambil gitar itu dan meletakkannya di pangkuannya.

“Ne..” jawab Seunghoon lagi sambil menarik kursi agar bisa berhadapan dengan Alice.

Alice memandang bagian leher gitar dan menekan apa pun yang tercapai oleh jari-jari mungilnya, lalu sembarang memainkannya. “Jreng~~ jreng~~ jreng~~” ucapnya mengikuti apa yang terdengar olehnya. Hal itu membuat Seunghoon tertawa dan ia juga.

“Kau sangat lucu..” ucap Seunghoon sambil mencubit pipi Alice gemas.

Alice tertegun dengan wajah merona merah, lalu tersenyum malu.

Seunghoon mengambil gitarnya dan memainkan melodi lembut.

Alice mendengarkan dengan seksama, “Mmm.. Seunghoon-ssi..”

“Ne..” jawab Seunghoon masih sambil memainkan gitarnya.

“Apa aku boleh tau kenapa adikmu meninggal?” Tanya Alice.

Seunghoon tertegun, spontan gerakan jarinya berhenti.

Alice memandang tangan Seunghoon yang berhenti memainkan gitar, lalu kembali memandang pria itu menunggu jawaban.

“Mmm..” Seunghoon mengalihkan pandangannya dari wajah Alice, “Adikku mengalami kelainan jantung sejak lahir.. ketika usianya mencapai 14 tahun penyakitnya semakin parah dan ia meninggal..” ucapnya, lalu memandang gadis di depannya karena tak memberikan jawaban.

Alice menangguk mengerti, “Hmm..”

Seunghoon memandang Alice heran, “Hanya ‘hmm’?”

Alice tertawa kecil, “Ne..”

Seunghoon tersenyum lucu, “Aku penasaran kenapa kau selalu tertawa..” ucapnya sambil meletakkan gitar di tempatnya semula dan mulai pembicaraan serius mereka. “Kau tau kenapa aku mengajakmu ke rumahku?”

Alice menggeleng dengan wajah innocent-nya.

Seunghoon tak bisa menahan senyumannya jika sudah memandang wajah Alice, “Dan kau tidak ingin bertanya?”

“Wae?” Tanya Alice langsung.

“Karena aku ingin memperkenalkanmu pada ibuku..” jawab Seunghoon.

Alice tertegun. Kulit wajahnya yang putih pucat berubah merah, “Ne?” matanya berkedip-kedip bingung, lalu tersenyum malu.

Seunghoon mengerutkan hidung dan mengetuk dahi Alice pelan, “Jangan berekspektasi apa pun dulu.. Aku tidak membawamu kemari sebagai kekasihku..”

Alice cemberut sambil mengelus dahinya yang tertutup poni, “Lalu untuk apa?”

“Kau terlalu pemalu untuk tampil. Yang kau butuhkan bukan guru untuk mengasah bakatmu, tapi guru untuk menguasai rasa gugupmu..” ucap Seunghoon memberitau.

Alice memandang Seunghoon serius, “Ne? ibumu bisa membantuku?”

Seunghoon mengangguk, “Keurom, ibuku seorang guru seni di sekolah musik..”

Mata Alice yang bulat tampak semakin besar, “Jinja?”

“Ne.. Aku belajar banyak dari ibuku..” ucap Seunghoon bangga.

“Apa ibumu sudah pulang? Kapan aku bisa bertemu dengannya?” Tanya Alice bersemangat sambil mengguncang tangan Seunghoon.

“Sabar dulu..” ucap Seunghoon sambil melepaskan tangan Alice, “Sebentar lagi..” ucapnya.

Alice tersenyum ceria, ia tak sabar untuk bertemu dengan ibu Seunghoon.

“Selama menunggu ibuku kembali kau bisa melakukan apa pun yang kau mau, aku akan menyiapkan cemilan..” ucap Seunghoon sambil bangkit.

“Ne? kau yang menyiapkan? Aku saja yang menyiapkannya..” ucap Alice sambil ikut berdiri.

“Hajima.. aku yang akan membuatnya, kau tamunya.. Duduklah..” ucap Seunghoon sambil melangkah keluar.

Alice tersenyum karena Seunghoon membiarkannya disana. Ia melangkah ke sekitar kamar sambil memperhatikan apa yang menarik perhatiannya. “Komik..” ucapnya sambil mengambil sebuah komik dan berjalan kembali ke tempat tidur untuk membacanya.

Sementara itu.

Seunghoon berjalan ke dapur dan mengeluarkan makanan di kulkas, lalu memanaskannya sejenak di microwave. 10 menit kemudian ia mengeluarkan makanan itu dan menyalinnya. Saat itu telinganya mendengar seseorang masuk dan menoleh, “Oh eomma..” sapanya.

Ibu Seunghoon menghampiri Seunghoon di dapur, “Seunghoon-a, menyiapkan cemilan? Ada temanmu ya? Eomma melihat sepatunya di depan..” ucapnya.

Seunghoon mengangguk sambil tersenyum, “Ne, eomma.. Aku akan memperkenalkannya pada eomma setelah ini. Eomma beristirahatlah dulu..”

Ibu Seunghoon menatap putranya curiga, “Temanmu itu perempuan ya?”

“Ne..” jawab Seunghoon, ia merasa aneh dengan tatapan ibunya. “Waeyo eomma?”

“Yeppo?” Tanya ibu Seunghoon lagi.

Dahi Seunghoon berkerut, “Dia bukan kekasihku..”

Ibu Seunghoon tertawa kecil, “Keure, eomma akan beristirahat sebentar di kamar..” ucapnya dan melangkah pergi.

Seunghoon menahan tawa dan kembali menyiapkan makananya, lalu membawanya menggunakan nampan beserta dua gelas jus ke kamar. Begitu masuk ia menemukan Alice tertidur di tempat tidurnya dengan komik yang masih terbuka di tangannya. bibirnya membentuk senyuman dan meletakkan nampan di meja, kemudian menghampiri gadis itu. MenurutnyaAlice terlihat sangat menggemaskan ketika tidur. Ia memperhatikan hidung mancung, mata bundar yang tertutup, bibir kecil yang indah.Tangannyaterulur untuk menyingkirkan sejumbut rambut yang menutupi wajah Alice.

“Hmmm…” Gumam Alice karena merasakan sesuatu menyentuh wajahnya dan membuka mata perlahan.

Seunghoon terkejut dan segera menarik tangannya sebelum Alice benar-benar tersadar.

Dahi Alice berkerut dan memandang sekitar, “Mmm.. Aku tertidur..” Gumamnya sambil bergerak duduk dan menutup komik di tangannya.

“Kau menikmati komik seperti itu?” Canda Seunghoon.

Alice tertawa kecil sambil memukul bahu Seunghoon pelan, “Tentu saja tidak..”

“Ayo.. Aku membawakan cemilan dan minuman..” Ajak Seunghoon.

Alice bangkit dan mengikuti Seunghoon.

Ruang Tamu.

Alice tersenyum lebar dan membungkuk sopan pada ibu Seunghoon, “Annyeonghaseo eommanim, Song Joohee imnida..”

“Ne, annyeonghaseo.. Duduklah..” Ucap ibu Seunghoon sambil tersenyum.

Alice bergerak duduk di sebelah Seunghoon.

“Panggilannya Alice eomma, panggil Alice saja..” Ucap Seunghoon memberitau.

“Keure..” Ucap ibu Seunghoon, “Jadi, apa yang bisa kubantu Alice-ssi?”

“Ne eommanim.. Aku sudah mempelajari cara bermain biola selama 10 tahun..” Ucap Alice memulai, ibu Seunghoon mengangguk mengerti. “Tapi aku selalu gugup dan tidak bisa bermain saat semua orang hanya menatapku.. Professorku sampai menyuruhku untuk berhenti bermain biola karena itu..” Ceritanya.

Ibu Seunghoon mengangguk lagi, lalu memandang putranya. “Seunghoon-a, bisa ambilkan biola di ruang musik kita?”

Alice tertegun dan memandang Seunghoon, “Ruang musik?”

“Ne, sebentar aku akan ambilkan..” Ucap Seunghoon dan bangkit, lalu berjalan pergi.

Alice menatap ibu Seunghoon tak percaya, “Eommanim, keluargamu memiliki ruang musik sendiri?”

Ibu Seunghoon tersenyum dan mengangguk, “Ne..”

Alice tersenyum kagum, “Keren..” Ucapnya, kepalanya menoleh ketika mendengar Seunghoon kembali dengan sebuah biola dan busurnya.

“Ini..” Seunghoon memberikan biola tadi pada Alice.

Alice memandang biola itu bingung dan memandang ibu Seunghoon.

“Mainkan satu lagu untukku..” Pinta ibu Seunghoon sambil tersenyum.

“Ne?” Ucap Alice kaget, lalu memandang Seunghoon.

Seunghoon tersenyum dan mengangguk.

Alice memandang ibu dan anak itu bergantian, “Sekarang?”

“Gwenchana, mainkanlah..” Ucap Ibu Seunghoon.

Alice menelan ludah. Lalu bergerak bangkit dan meletakkan biola di bahunya, ia menghela nafas dalam dan mulai memainkan sebuah lagu.

Seunghoon memperhatikan Alice bermain sambil tersenyum, lalu memandang ibunya yang terlihat terkesan dengan permainan gadis itu. Entah mengapa ia merasa bangga telah membawa gadis cantik itu.

Ibu Seunghoon tersenyum ketika Alice menyelesaikan lagunya dan bertepuk tangan.

Alice menghela nafas lega dan menarik biola dari bahunya, lalu memandang ibu Seunghoon menunggu komentar.

Ibu Seunghoon memandang Alice beberapa saat, “Mmm.. Kau luar biasa..”

Alice tersenyum lebar.

“Tapi memang terdengar kau gugup saat bermain..” Ucap ibu Seunghoon lagi.

Senyuman Alice luntur perlahan dan menunduk, “Ne.. Semakin banyak orang yang menatapku aku akan semakin gugup..”

Ibu Seunghoon diam sejenak, “Apa yang membuatmu merasa gugup?”

Alice diam sejenak sambil berpikir, “Mmm.. Entahlah.. Aku hanya merasa takut.. Di kepalaku selalu terdengar ‘Bagaimana jika mereka tidak menyukai permainanku?’, ‘Bagaimana jika aku salah memainkannya?’, ‘Bagaimana jika mereka tau aku tidak begitu percaya diri?'” Ucapnya.

Ibu Seunghoon menatap Alice serius, “Wae? Kau pemain violinis yang berbakat Alice..”

Alice kembali tersenyum memandang ibu Seunghoon, “Jinjaru?”

Ibu Seunghoon mengangguk, “Ne..” Jawabnya, “Yang kau perlukan hanya percaya pada dirimu sendiri kalau kau bisa dan semua orang akan terkagum-kagum padamu..”

Alice tampak berpikir, “Apa aku bisa?”

“Keurom.. Kau bermain biola untuk di perdengarkan pada semua orang, maka buktikanlah pada mereka..” Ucap ibu Seunghoon menyemangati.

Alice diam sejenak memandang ibu Saeunghoon, lalu tersenyum lebar. “Ne, eommanim..”

 

=Perjalanan Pulang=

Langit sudah gelap ketika Seunghoon mengantarkan Alice pulang.

Alice tak bisa berhenti tersenyum memandangi langit mengingat semangat dari ibu Seunghoon.

“Ya.. Berhentilah tersenyum.. Nanti gigimu kering..” Canda Seunghoon.

Alice memandang Seunghoon masih sambil tetap tersenyum, “Gumawoyo, Seunghoon-ssi.. Aku senang sekali bertemu ibumu..”

Seunghoon mengangguk, “Aku tau kau akan senang..”

“Tentu saja! Ibumu wanita paling hebat di dunia setelah ibuku.. Hehehe..” Tawa Alice.

Seunghoon tersenyum dan memandang jalanan, “Ne, memang wanita yang paling hebat di dunia..” Ucapnya.

“Kau pasti sangat bangga pada ibumu kan?” Ucap Alice.

Seunghoon memandang Alice dan mengangguk, “Keurom..” Ucapnya, lalu memandang langit. “SetelahSoohyun meninggal, eomma orang yang paling mengerti kalau sangat terpukul. Saat aku tak mau lagi mempelajari musik karena kepergian adikku, ibuku dengan bijaksana mengijinkan aku melakukan apa pun yang kumau..” Ucapnya sedih.

Alice tersenyum hangat dan memegang tangan Seunghoon, membuat pria itu memandangnya.

Seunghoon merasa nyaman dengan tatapan Alice, “Kenapa kau selalu tersenyum dan tertawa? Aku sangat penasaran..” Candanya.

Alice tertawa kecil, “Ibuku berkata selama aku masih bisa tersenyum dan tertawa, aku harus melakukannya.. Meskipun terasa sangat sakit dan menyesakkan, aku akan tersenyum secara spontan dan membuat semuanya menjadi lebih baik..”

Seunghoon mengangguk mengerti, “Keure.. Aku mengerti sekarang..”

Alice menatap Seunghoon lucu. Namun tiba-tiba ia tersentak kaget sambil memegang perut kirinya dan meringis menahan sakit, “Ahh…” Rintihnya.

Seunghoon tertegun dan menatap Alice kaget, “Ya.. Waekeure?” Tanyanya.

“Aww.. Perutku sakit..” Jawab Alice menahan sakit.

“Ne? Wakeure?” Tanya Seunghoon panik sambil merangkul Alice.

Alice berusaha tersenyum di tengah rasa sakitnya, “Gwenchana, sepertinya magh-ku kambuh..”

“Ne? Aissh.. Seharusnya aku mengajakmu makan malam dulu tadi.. Ayo, yang mana rumahmu?” Tanya Seunghoon sambil memandang sekitar.

“Yang itu..” Jawab Alice sambil menunjuk rumah berpagar hitam.

“Keure, ayo.. Jalan pelan-pelan..” Ucap Seunghoon sambil membantu Alice melangkah menuju rumahnya.

Keringat memenuhi wajah Alice ketika mereka mencapai pintu depan.

Seunghoon menekan bel dan menunggu pintu terbuka.

Muncul seorang wanita setengah baya di dari balik pintu, “Oh.. Agassi..” Ucapnya kaget karena Alice terlihat di papah Seunghoon.

“Ahjumma-nim, eomma odiso?” Tanya Alice.

“Nyonya ada didalam, ayo masuk agassi..” Ucap wanita itu sambil menggantikan Seunghoon memapah Alice.

“Aku bisa membawamu ke dalam..” Ucap Seunghoon menawarkan diri.

Alice tersenyum, “Gwenchanayo.. Nanti kau pulang terlalu larut. Lain kali mainlah ke sini, ibuku suka bercerita..” Ucapnya.

Seunghoon mengangguk mengerti, “Ohh.. Keure..” Ucapnya.

“Sampai besok Seunghoon-ssi..” Ucap Alice dan masuk bersama wanita tadi.

Seunghoon mengangguk dan pintu tertutup. Ia menghela nafas dalam sambil memperhatikan halaman rumah Alice, “Hmm.. Ternyata dia anak orang kaya..” Gumamnya, lalu melangkah pergi.

 

=Kelas Sore Seunghoon=

Seunghoon melangkah keluar dari kelasnya dengan tas gitar di punggung.

“Lee Seunghoon..”

Seunghoon berhenti dan berbalik, ia tertegun melihat Professor Kang berdiri di ambang pintu menunggunya kembali. “Ne, Professor?” Jawabnya sambil melangkah menghampiri pria setengah baya itu.

Professor Kang tersenyum, “Kudengar kau memiliki bakat alami, apa kau mau tampil di pertunjukkan antar fakultas nanti?” Tanyanya.

Seunghoon diam sejenak sambil berpikir, “Mmm.. Keure.. Saya akan mempersiapkan diri, Professor..” Jawabnya.

Professor Kang memegang bahu Seunghoon, “Aku percaya padamu..” Ucapnya.

Seunghoon membungkuk sopan ketika pria itu pergi. Ia menghela nafas dalam dan melangkah pergi sambil berpikir, “Apa yang akan kutampilkan nanti?” Gumamnya sambil berpikir.

 

=Kafe=

“Ne? Kau akan tampil? Keren..” Ucap Jinhwan iri.

Seunghoon menggaruk kepalanya, “Sebenarnya aku hanya tidak ingin menolak saja.. Tapi aku bingung apa yang akan kutampilkan..” Ucapnya bingung.

“Sebaiknya kau benar-benar serius sebelum menerimanya, nanti kau sendiri yang merasa tidak enak..” Ucap Taehyun mengingatkan.

“Kau benar, tapi aku sudah terlanjur menerimanya..” Ucap Seunghoon.

“Seunghoon-a, kau butuh penari latar?” Tanya Jinhwan dengan mata berbinar.

Seunghoon dan Taehyun menatap Jinhwan dengan satu alis terangkat.

Jinhwan cemberut mendapat tatapan seperti itu, “Aissh.. Jaman sekarang tidak seru jika tidak ada penari latar..” Ucapnya sebal.

“Kau terlalu berlebihan..” Ucap Taehyun dan tertawa.

Seunghoon tiba-tiba mendapat sebuah ide dan menjentikkan jarinya sambil berseru, “Aha!”

Taehyun dan Jinhwan menahan Seunghoon kaget, “Mwo?”

Seunghoon tersenyum lebar sambil memandang kedua temannya bergantian, “Kurasa aku butuh bantuan kalian..”

Sekarang sebelah alis Taehyun danJinhwan yang naik karena bingung.

 

=Fakultas Musik klasik=

Seunghoon mencari-cari dimana Alice namun tak terlihat, jadi ia memutuskan untuk menanyai seorang gadis yang berlalu. “Cokiyo, kau mengenal Song Joohee?”

“Song Joohee? Ne.. Waeyo?” Tanya gadis itu balik.

“Mmm.. Kau tau dimana dia? Aku sudah mencarinya kemana-mana..” Ucap Seunghoon bingung.

“Ohh.. Paling dia ada di ruang musik.. Coba saja lihat kesana..” Ucap gadis itu.

“Ruang musik? Oh.. Keure.. Gamshamida..” Ucap Seunghoon sambil mengangguk sopan dan melangkah menuju ruangan musik. Setibanya disana ia mengintip kedalam sebelum masuk, ia melihat Alice berdiri di tengah ruangan dengan kepala tertunduk di depan Professor Baek yang menatap gadis itu dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia diam di tempatnya sambil memperhatikan.

“Kau pemain violinis Song Joohee, kau bukan model yang tampil di panggung untuk berpose. Tugasmu hanya bermain biola.. Bahkan orang-orang yang baru belajar setahun dua tahun sudah berhasil menjadi violinis dunia! Kenapa kau tetap seperti ini?!” Tegas Professor Baek.

Alice menunduk sambil mengelus tangan kanannya dengan telunjuk kirinya untuk menghilangkan gugup.

Professor Baek menghela nafas dalam sambil melepaskan lipatan tangannya dan berkacak pinggang, “Aku mengatakan ini untuk memberimu masukan Song Joohee. Kau sangat berbakat, tapi kau tidak bisa menguasai dirimu sendiri..” Ucapnya pelan, lalu memegang bahu Alice, membuat gadis itu memandangnya. Ia menghela nafsa dalam sambil menatap gadis itu serius, “Jika hingga semester ini kau masih belum bisa menguasai dirimu, kusarankan lebih baik kau mencari bakatmu yang lain..” Ucapnya, lalu melangkah pergi.

Alice membungkuk sopan dan diam di tempatnya beberapa saat dengan kepala tetap menunduk.

Seunghoon segera menjauh dari pintu dan membalikkan badan ketika Professor Baek keluar. Setelah beberapa saat ia melirik ke belakang untuk memastikan Professor Baek sudah pergi, lalu berbalik dan menghampiri pintu ruang musik. Ia menghela nafas dalam dengan tatapan sedih melihat Alice berdiri di tengah ruangan dengan wajah hampir menangis. Ia memperbaiki posisi tas gitarnya dan melangkah masuk.

Alice mendengar langkah kaki seseorang dan mengangkat wajahnya.

Seunghoon berhenti di depan Alice sambil menatapnya dalam.

“Kau mendengarnya?” tanya Alice pelan.

Seunghoon mengangguk kecil.

Alice memandang kebawah lesu, “Padahal aku sudah bertemu ibumu, tapi tetap saja seperti ini..”

Seunghoon diam menatap Alice karena tidak tau apa yang harus ia katakan.

“Mungkin.. Sebaiknya aku berhenti bermain biola..” ucap Alice berat.

Seunghoon memegang dagu Alice dan mengangkatnya agar gadis itu menatapnya, “Andwae! Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukannya!”

Alice memandang Seunghoon bingung, “Lalu apa lagi yang harus kulakukan?”

Seunghoon melepaskan dagu Alice dan menunjuk dada kiri gadis itu, “Tanamkan disini kalau kau adalah bintang! Semua orang harus mendengarkanmu apa pun yang terjadi. Tidak peduli mereka suka atau tidak, mereka harus berhenti sejenak dan mendengrkan permainanmu..” ucapnya serius.

Alice diam menatap Seunghoon tanpa ekspresi, namun pria itu tau jika dia tidak tau bagaimana caranya.

Seunghoon menghela nafas dalam sambil memutar bola mata kesal, lalu menarik tangan gadis itu. “Ikut aku..”

Alice menahan langkahnya, “Tunggu, biolaku..” ucapnya sambil mengambil tas biolanya di lantai dan kembali mengikuti Seunghoon.

Seunghoon membawa Alice ke halaman dan melepaskan tangan gadis itu.

Alice bingung kenapa Seunghoon kembali membawanya kesana. Ia tertegun melihat pria itu membuka tas gitar dan mengambil gitar yang berada di dalamnya, kemudian mengalungkan tali gitar itu ke bahunya. “Seunghoon-ssi, apa yang kau lakukan?” tanyanya.

Seunghoon memandang Alice, “Aku akan menunjukkan bagaimana kau harus membuat semua orang mendengarkanmu..” ucapnya, lalu mulai serius dengan gitarnya.

Alice memperhatikan Seunghoon mulai bermain gitar, lalu memperhatikan orang sekitar yang masih terlihat sibuk sendiri. Tapi begitu pria di sebelahnya mulai bernyanyi beberapa orang mulai sadar dan memperhatikan. Ia tertegun menyadari sekarang seluruh orang di sana memperhatikan penampilan pria itu, lalu memandang pria di sebelahnya yang menyanyikan lagu Can’t Stop dari band CN Blue.

Can’t stop me now Can’t stop me now..

Geudaereul darmeun bom hyanggiga ajik chaneyo..

Can’t stop me now Can’t stop me now..

Naneun meomchul su eomneyo I can’t stop loving you..”

Seunghoon menyelesaikan lagunya dengan penuh karismatik. Semuanya hening sesaat, namun berubah menjadi tepuk tangan riuh dari semua orang disana. Ia tersenyum dan menoleh ke arah Alice yang masih berdiri disisinya sambil memperhatikan orang-orang yang bertepuk tangan.

Sebuah jalanan.

Seunghoon berjalan di sebelah Alice yang terlihat terus berpikir sambil menggenggam tas biolanya. “Ya..” panggilnya.

Alice menoleh pada Seunghoon, “Hm?”

Seunghoon menatap Alice penasaran, “Waeyo? Kau tidak tersenyum sejak tadi, kau bilang kau harus tersenyum atau tertawa selagi kau bisa…” ucapnya heran.

Alice menghela nafas dalam sambil memandang kebawah, “Ne, seharusnya memang seperti itu..” ucapnya lesu, “Tapi aku tidak bisa untuk saat ini..”

“Wae?” tanya Seunghoon ingin tau.

Alice memandang langit dengan dahi agar berkerut, lalu memandang Seunghoon. “Aku hanya berpikir, apa yang kau pikirkan ketika kau bernyanyi di depan semua orang itu?”

Seunghoon diam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Cukup berpikir.. ‘Aku adalah bintangnya..’” ucapnya sambil menunjuk dirinya dengan ibu jari, lalu menunjuk kedepan dengan telunjuknya seperti ada seseorang di depan, “..dan mereka ada disana untuk menyaksikanku!” ucapnya lagi.

Mata Alice terpaku pada kedua jari Seunghoon dan kembali berpikir, lalu memandang Seunghoon. “Apakah itu selalu berhasil?”

Seunghoon mengangguk, “Keurom..” jawabnya yakin, “Sebenarnya semua ini ada pada apa yang kau pikirkan..” ucapnya sambil menunjuk kepalanya.

Alice mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu..” ucapnya sambil berpikir.

“Tenang saja.. kau pasti bisa menguasai dirimu..” ucap Seunghoon menyemangati.

Alice memandang Seunghoon, ia merasa kepercayaan dirinya meningkat karena semangat dari Seunghoon dan tersenyum.

“Nah.. lihat kau tersenyum..” ucap Seunghoon sambil menyentuh pipi Alice dengan ujung jarinya.

Alice tertawa malu sambil mendorong tangan Seunghoon pelan, “Seunghoon-ssi, tiba-tiba aku merasa ingin mencoba idemu itu..” ucapnya.

“Jinja? Itu bagus.. Kita coba besok di halaman kampus..” ucap Seunghoon senang.

Alice berhenti melangkah, “Bagaimana jika sekarang?”

Seunghoon tertegun, “Ne? Sekarang?” tanyanya sambil memandang sekitar yang banyak orang berlalu lalang.

“Ne..” jawab Alice tanpa ragu.

“Disini?” tanya Seunghoon tak percaya.

“Keurom..” jawab Alice dengan senyuman lebarnya, “Ayo kesana..” ia langsung melangkah menghampiri sebuah kolam air mancur tak jauh disana.

Seunghoon menatap Alice tak percaya, “Alice..” panggilnya sambil mengikuti gadis itu.

Alice berhenti di sebelah kolam air mancur dan mengeluarkan biolanya.

Seunghoon terkejut Alice benar-benar serius dan memandang sekitar, orang-orang terlihat memandangi Alice penasaran. “Ya.. kau serius?” bisiknya.

Alice tersenyum pada Seunghoon dan meletakkan biola di bahunya.

“Ya.. Tunggu dulu..” ucap Seunghoon sambil menahan tangan Alice sebelum menggesekkan busur biola.

Alice memandang Seunghoon bingung, “Wae? Mundur sana.” Ucapnya sambil mendorong pria itu agar memberikannya ruang untuk bermain biola.

Seunghoon melirik orang-orang yang sudah menunggu apa yang akan di lakukan Alice khawatir. Ia takut mereka akan memberikan respon yang kurang baik dan membuat gadis itu semakin merasa tak percaya diri.

Alice menghela nafas dalam dan mulai memainkan sebuah lagu sebelum Seunghoon menghalanginya lagi. Ia hanya berfokus pada permainannya dan menikmati musik yang di ciptakan biola kesayangannya dengan mata terpejam.

Seunghoon tertegun mendengar permainan Alice yang sangat baik. Tidak terdengar gugup atau melakukan kesalahan lagi. Matanya tidak berkedip menatap gadis itu bermain seperti seorang profesional. Bibirnya membentuk senyuman kagum. Selama beberapa menit menyaksikan ia langsung menjadi fans berat Alice.

Alice menyelesaikan permainannya dan membuka mata, saat itu jantungnya berdegup kencang karena tidak mendengar apa pun. Ia bahkan tidak sanggup mengangkat wajahnya karena mendadak merasa malu karena tiba-tiba berpikir cara ini akan berhasil.

Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!

Alice tertegun dan memandang ke sekitar tak percaya, semua orang tersenyum dan bertepuk tangan untuknya.

Seunghoon juga terpaku dengan tepukan tangan orang-orang yang menikmati permainan Alice.

Alice tersenyum haru mengetahui ia baru saja membuktikan dirinya memang seorang violinis. Ia bisa menguasai dirinya dan rasanya sangat menyenangkan.

Seunghoon memandang Alice yang terlihat sangat senang, lalu tertegun melihat ada seorang polisi lingkungan yang sedang berpatroli dan terlihat tertarik dengan kerumunan yang mereka timbulkan. “Oh! Kita harus pergi!” serunya sambil mengambil tas biola Alice.

Alice memandang Seunghoon bingung, “Waeyo? Mereka menyukai permainanku, aku bisa memainkan satu lagu lagi kan?” tanyanya senang.

“Tidak sekarang! Kau tau disini tidak boleh melakukan pertunjukkan jalanan?” ucap Seunghoon sambil memasukkan biola Alice ke tas.

Alice tertegun dan menatap Seunghoon kaget, “Ne?!”

“YA!” seru polisi tadi begitu melihat Alice dan Seunghoon hendak kabur.

Alice dan Seunghoon terkejut mendengar seruan itu. “Aisssh!!” seru Seunghoon dan langsung menarik Alice kabur.

“Aissh! Ya!!” panggil polisi lingkungan itu dan mengejar kedua anak muda itu.

Alice berusaha berlari sekencang yang ia bisa mengikuti langkah besar Seunghoon, “Omo! Ahjussi itu mengejar kita!!” serunya panik.

“Terus berlari..” ucap Seunghoon dan menarik Alice berbelok ke sebuah gang.

Polisi lingkungan tadi ikut masuk ke gang itu hingga ke ujungnya, namun tak melihat kedua anak muda tadi. “Aissh!! Lain kali tidak akan kulepaskan!” serunya kesal, lalu melangkah pergi dengan gusar.

Sementara itu di samping sebuah gedung, Seunghoon dan Alice bersembunyi di tempat kecil itu sambil menahan nafas mereka. Bahkan Alice memejamkan mata dan memeluk lengan pria itu ngeri.

Seunghoon mengintip keluar untuk memastikan polisi tadi sudah pergi, lalu menghela nafas dalam. “Fiuuuhhh… dia sudah pergi..” ucapnya.

Alice membuka matanya dan ikut mengintip keluar, lalu menghela nafas lega dan memandang Seunghoon.

Seunghoon berpandangan dengan Alice dan mulai tertawa karena kejadian barusan.

“Baru kali ini aku kabur seperti ini..” ucap Alice sambil tertawa.

“Nadoo..” ucap Seunghoon sambil tertawa, “Ayo kita pergi..” ajaknya sambil menarik tangan Alice.

Alice mengikuti Seunghoon masih sambil tertawa. Tangannya berpegangan dengan pria itu tanpa mereka sadari. Mereka masuk ke sebuah toko es krim dan membelinya, kemudian keluar lagi melanjutkan perjalanan.

“Oh iya..” Seunghoon kembali berhenti dan memandang Alice.

“Wae?” tanya Alice dan menjilat es krim di tangannya.

“Aku di tunjuk professor Kang untuk tampil di pentas antar fakultas..” ucap Seunghoon memberitau.

Alice hanya memandang Seunghoon sambil menjilati es krimnya.

Seunghoon menunggu Alice berkomentar dengan menatapnya serius.

Alice tertegun sendiri, “Oh.. apa yang tadi kau katakan?” tanyanya polos.

Seunghoon menghela nafas dalam dan menjauhkan es krim dari mulut Alice agar gadis itu berkonsentrasi pada ucapannya, “Aku akan tampil di pentas antar fakultas..” ulangnya.

“Ohh..” komentar Alice sambil mengangguk dan kembali menjilat es krimnya.

Seunghoon tertegun melihat respon Alice, “Hanya ‘ohh’?”

Alice memandang Seunghoon bingung, “Oh benar..” ucapnya sendiri, lalu memegang bahu pria itu sambil tersenyum. “Cukhae.. aku akan menonton paling depan..” ucapnya.

Seunghoon menatap Alice tak mengerti dan mendorong dahi gadis itu dengan ujung jari telunjuknya.

Alice memegang dahinya dan menatap Seunghoon tak mengerti, “Wae?”

Seunghoon berusaha menahan emosinya, “Sepertinya yang ada di kepalamu hanya garis lurus ya?” tanyanya, membuat gadis itu mengerutkan dahi. “Oke.. aku akan mengatakannya dengan jelas..” ucapnya mengalah. “Aku ingin kau tampil bersamaku di pentas itu..”

Alice diam sejenak, lalu menjilat es krimnya lagi.

“Aissh! Berhenti dulu dan jawab aku!” ucap Seunghoon kesal sambil mendorong tangan Alice yang memegang es krim menjauh dari mulut gadis itu.

Alice menjilat sisa es krim di bibirnya dan memperlihatkan ekspresi kaget, “Ne? Aku? Wae?”

Seunghoon melepaskan tangan Alice dan kembali mendorong dahi gadis itu dengan ujung jarinya.

Alice cemberut sambil memegang dahinya, lalu kembali memakan es krim.

“Aissh! Jika kau kekasihku, aku pasti sudah menggigitmu!!” ucap Seunghoon geram dan melangkah pergi sambil memakan es krimnya yang sudah mulai mencair.

Alice tertegun dan langsung tersenyum malu dengan wajah merona, lalu mengejar langkah Seunghoon. “Seunghoon-ssi.. gigit saja, aku tidak marah kok..” ucapnya sambil tertawa.

Seunghoon tidak mengatakan apa pun dan terus melangkah pergi.

Alice tertawa lucu di sisi Seunghoon.

 

=Tiga Minggu Sebelum Pentas=

“Pertunjukkan seperti apa yang kau inginkan?” tanya Taehyun yang menjadi koordinasi mereka.

“Hmmm…” Seunghoon memandang Alice dan Jinhwan bergantian, “Karena Alice menggunakan biola, aku akan memainkan piano.. Jadi kau harus melakukan dance ballet atau gerakan slow yang baik..” ucapnya pada Jinhwan.

Jinhwan mengangguk setuju, “Keure, aku akan mulai merangkai koreo-nya setelah mendengar kalian bermain bersama..” ucapnya.

“Lagu apa yang akan kita mainkan?” tanya Alice.

Seunghoon diam sejenak, “Hmmm…” gumamnya sambil berpikir, “Begini saja, hari minggu berkumpul di rumahku..” ucapnya.

Semuanya mengangguk mengerti.

 

=Minggu Siang=

Alice duduk bersila di atas tempat tidur sambil membaca komik yang waktu itu belum selesai ia baca. Jinhwan berbaring di sebelahnya sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Sementara Taehyun duduk bersandar di sebelah tempat tidur dengan headphone di kepala dan membaca sebuah buku ekonomi.

Seunghoon mengobrak-abrik lemarinya mencari sebuah buku musik yang dulu pernah ia tulis, “Aissh.. dimana dia?” gumamnya sambil terus mencari.

Alice mendengar ponselnya berbunyi dan melihat layarnya, “Hm?” gumamnya bingung dan mengangkat panggilan itu sembari bangkit dari tempat tidur. “Ne eomma..” jawabnya sambil melangkah ke pintu. “Aku dirumah Lee Seunghoon..” jawabnya.

Seunghoon melirik Alice yang menghilang di balik pintu kamarnya, lalu mencari ke tumpukan buku paling bawah. “Nah! Ini dia!” ucapnya, lalu menghampiri teman-temannya. “Ya.. aku menemukannya!” ucapnya senang.

Jinhwan langsung bangkit dan memandang kertas musik itu, “Ini?”

Taehyun melepaskan headphone-nya dan naik ke tempat tidur, “Bagaimana lagunya?”

“Lagu ini kubuat saat adikku mulai sakit. Judulnya ‘sunflower’..” jelas Seunghoon pada teman-temannya, lalu menoleh ketika mendengar Alice kembali masuk.

“Apa itu?” tanya Alice sembari duduk di sebelah Seunghoon.

“lagu yang akan kita mainkan..” ucap Seunghoon.

Alice melihat not lagu itu, “Hmm.. lagu sedih?”

“Aniya.. memang awalnya di isi dengan melodi lembut, namun akan berubah menjadi tempo cepat dengan emosi yang sangat memuncak..” jelas Seunghoon.

Alice memandang Seunghoon ingin tau, “Wae?”

Seunghoon diam sejenak dan memandang lembar kertas itu sedih, “Aku membuatnya ketika adikku di nyatakan akan sulit bertahan. Ini tentang perasaan sedihku mengetahui adikku yang ceria ternyata sakit parah.. Aku terus merevisinya hingga adikku meninggal..” ceritanya sedih.

“Hei… apa tidak apa-apa menggunakan lagu ini?” tanya Jinhwan.

Seunghoon memandang Jinhwan dan tersenyum, “Gwenchana.. aku ingin semua orang mendengar lagu ini..”

Alice tersenyum, “Ayo kita mulai berlatih..” ucapnya bersemangat.

 

=Malamnya=

Seunghoon kembali mengantarkan Alice pulang setelah dari selesai berlatih. “Oh ya, bukankah tadi ibumu menelepon? Wae?” tanyanya yang menyandang tas biola gadis itu.

Alice memandang Seunghoon, “Kau mendengarnya? Hmm.. ne, eomma hanya khawatir aku tidak di rumah..”

“Hmm…” gumam Seunghoon sambil mengangguk mengerti. “Ibumu tidak marah kan?”

“Aniya, aku sudah bilang aku di rumahmu..” jawab Alice sambil tersenyum.

“Syukurlah..” ucap Seunghoon lega. Ia memandang Alice ketika gadis itu merapikan rambut yang tertiup angin, saat itu ia menyadari ada cincin di jari manis jari kirinya. “Hm? Kau selalu memakai cincin ini, apa sangat penting?”

Alice memandang cincin itu dan tertawa kecil, “Tidak juga.. Ini pemberian seorang dokter tampan di rumah sakit..” jawabnya.

Seunghoon tertegun, “Rumah sakit? Kau sakit?”

“Aniya, dulu saat kecil aku pernah sakit parah hingga harus di rawat dirumah sakit. Kebetulan dokter yang menanganiku masih muda dan sangat tampan, dia memberikanku cincin ini ketika aku keluar dari rumah sakit dan memintaku tidak melupakannya.. hahaha..” cerita Alice lucu.

Seunghoon menatap Alice aneh dan tertawa, “Kau masih mengenakannya hingga sekarang?”

“Ne.. dulu cincin ini sangat kebesaran, tapi sekarang sudah pas.. Lihat kan?” tanya Alice sambil memperlihatkan jari-jarinya.

“Hmm.. itu hanya cincin imitasi. Jika pria menyukai seorang gadis, dia akan memberikan cincin berlian..” ucap Seunghoon meremehkan.

Alice cemberut, “Biarkan saja.. Yang penting itu siapa yang memberikannya..” ucapnya tak mau kalah dan kembali tersenyum memandang cincin di jarinya.

Seunghoon hanya tertawa mendengar ucapan Alice.

Setelah hari itu, biasanya setelah kuliah Alice akan menghabiskan waktu bersama Seunghoon untuk berlatih.

Sehari sebelum pementasan.

“Ahh.. lelah sekali..” keluh Alice sambil bergerak duduk dan meletakkan biolanya di lantai.

Seunghoon dan Jinhwan ikut duduk di dekat Alice.

“Kalian sudah berlatih keras, pasti saat pementasan nanti kalian akan jadi yang terbaik..” ucap Taehyun menyemangati.

“Fighting!!” ucap Alice dengan kedua tangan terkepal di udara.

“Aigoo keyowaaaa…” ucap Jinhwan gemas sambil mencubit pipi Alice.

Seunghoon menatap Jinhwan kesal sambil mendorong tangan temannya itu dari pipi Alice, “Ya.. kau pikir dia boneka bisa kau pegang seenaknya?”

Jinhwan cemberut, “Aissh.. aku hanya menyubit pipinya sedikit.”

Taehyun tertawa, “Aku akan membeli minuman sebentar..” ucapnya sembari bangkit dan berjalan pergi.

“Mwo? Ya.. aku ikut..” ucap Jinhwan sembari bangkit juga.

Seunghoon memperhatikan teman-temannya sejenak, lalu memandang Alice yang menyetel busurnya. Saat itu ia melihat cincin yang waktu itu dan mengerutkan dahinya. “Ya.. apa kau harus selalu mengenakannya?” tanyanya sambil menunjuk cincin itu.

Alice memandang Seunghoon, lalu cincinnya. “Wae? Ini cincin keberuntunganku..” ucapnya bingung.

“Keberuntungan? Itu hanya cincin..” ucap Seunghoon aneh.

Alice tersenyum dan melepaskan cincinnya itu, “Karena ini cincin keberuntunganku, aku akan meminjamkannya padamu sebagai cincin keberuntungan..” Ucapnya sembari mengambil tangan Seunghoon dan memasukkan cincin itu ke jari kelingking pria itu, namun hanya muat sampai ke ruas kedua jari pria itu. “Hmm.. Tidak muat..” Ucapnya kecewa.

Satu sudut bibir Seunghoon tertarik membentuk senyuman sambil memandang cincin itu di jarinya, “Cih.. Ini yang dinamakan cincin keberuntungan?”

Alice cemberut dan menatap Seunghoon sebal, “Ya sudah.. Kembalikan..” Ucapnya sambil menarik cincinnya lagi. Namun cincin itu tersangkut di sana. Ia tertegun menatap cincinnya yang tersangkut, lalu memandang Seunghoon yang juga terpaku.

“Waekeure?” Tanya Seunghoon.

“Hmm.. Tersangkut..” Jawab Alice, lalu berusaha menariknya dengan keras.

“Ahh!! Ya! Pelan-pelan!” Seru Seunghoon sambil menyembunyikan tangannya.

“Tapi itu cincinku..” Ucap Alice tak mau kalah sambil berusaha menarik tangan Seunghoon.

Jinhwan dan Taehyun kembali dengan cemilan dan 4 botol minuman.

“Ya.. Sedang apa kalian?” Tanya Taehyun sembari duduk.

“Ini untukmu..” Ucap Jinhwan sambil memberikan sebotol minuman pada Alice.

Alice tersenyum lebar menerima minuman itu, “Gamshamida..” Ucapnya riang dan langsung meminumnya.

Taehyun mengerutkan dahi melihat Seunghoon berusaha melepaskan sesuatu dari jari pria itu, “Kenapa dengan jarimu?”

Seunghoon menghela nafas dalam dan memperlihatkan jari kelingkingnya, “Alice berbaik hati meminjamkan cincin keberuntungannya dan sekarang tersangkut di jariku..” ucapnya datar.

Alice menunduk menyesal.

Jinhwan memperhatikan cincin itu dan tertegun, “Omo.. itu yang biasa kau kenakan di jari manismu kan?” tanyanya pada Alice.

Alice mengangguk, “Ne..”

Mata Jinhwan membesar melihat cincin di ruas tengah jari kelingking Seunghoon, “Omo.. omo.. kalian tau? Jika cincin seorang gadis pas di ruas tengah jari kelingking pria yang dekat dengannya, mungkin saja mereka memang di takdirkan bersama..”

Seunghoon dan Alice tertegun mendengar ucapan Jinhwan. Alice langsung tersenyum lebar dan memandang Seunghoon, sementara pria itu terlihat terkejut dengan mulut terbuka sedikit sambil memandang gadis itu.

Alice tertawa lucu melihat ekspresi Seunghoon.

Seunghoon menatap Jinhwan kesal, “Kau hanya bercanda kan?”

Jinhwan dan Taehyun tertawa karena ekspresi kaget Seunghoon.

“Ya.. itu hanya ada di film. Kenapa kau serius sekali?” Tanya Taehyun lucu.

“Aissh.. lalu bagaimana melepaskan ini?” Tanya Seunghoon sambil memandang cincin itu.

“Aku akan membantumu melepaskannya setelah pertunjukkan kita besok..” ucap Alice.

“Mwo? Maksudmu aku harus tampil dengan ini?” Tanya Seunghoon tak percaya.

“Sudahlah.. hanya cincin kecil.. tidak akan ada yang menyadarinya. Lagi pula Alice sudah berbaik hati meminjamkanmu cincin keberuntungannya, itu termasuk hal yang patut kau banggakan Seunghoon..” ucap Taehyun memberitau.

Seunghoon terdiam dan memandang Alice yang memasang wajah polosnya sambil mengangguk cute, akhirnya ia menghela nafas dalam. “Ne.. Gumawo..”

Alice tersenyum lebar, memperlihatkan kecantikannya. “Ne..”

Seunghoon tersenyum lucu dan mendorong dahi Alice dengan ujung telunjuknya, “Keyowa..” ucapnya gemas dan mengambil botol minumnya.

Alice tertawa kecil sambil mengelus dahinya.

 

=Malamnya=

Kamar Alice.

“Seunghoon sangat lucu eomma.. Dia berhasil membuatku menguasai diriku ketika bermain piano di depan orang banyak..” cerita Alice yang sudah duduk di bawah selimutnya sambil menunggu sang ibu mengambilkan beberapa pil obat dan cangkir.

Ibu Alice tersenyum dan duduk pinggir tempat tidur menghadap putrinya, “Hmm.. syukurlah kau menemui orang yang baik..” ucapnya sambil menyodorkan piring kecil berisi pil-pil obat, “Ini, minum dulu..”

Alice mengambil piring kecil itu dan langsung memasukkannya ke mulut, lalu mengambil gelas dan mendorong pil-pil tadi masuk. “Selesai..” ucapnya sambil tersenyum lebar.

Ibu Alice mengelus rambut putrinya dengan senyuman lebar, “Anak pintar.. tidurlah, besok kau ada acara besar..”

Alice mengangguk dan berbaring, “Eomma akan menontonku kan?”

“Keurom.. ini penampilan pertamamu..” ucap ibu Alice senang.

Wajah ceria Alice berubah sedih, “Dan mungkin juga yang terakhir..”

Ibu Alice masih tersenyum memandang putrinya, “Aniya.. Masih ada pertunjukkan berikutnya.. Kau tenang saja..”

Alice kembali tersenyum, “Ne, eomma..”

“Nah.. tidurlah.. mimpi indah..” ucap ibu Alice sambil bangkit dan mencium dahi putrinya, lalu melangkah keluar sambil mematikan lampu.

Kamar Seunghoon.

Seunghoon menyibak selimut dan naik ke tempat tidur, ketika ia berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhnya, ia berhenti sejenak melihat cincin Alice yang masih tersangkut di jari kelingkingnya. Bibirnya membentuk senyuman, “Cincin keberuntungan?” gumamnya lucu, lalu mematikan lampu meja dan tidur dengan senyuman di wajahnya.

 

=Hari Pementasan=

Seunghoon merapikan dasi yang ia kenakan bersama stelan jas berwarna marun yang senada dengan dress anggun yang di kenakan Alice, lalu menoleh kearah gadis itu yang terlihat tegang sambil memeluk biola dan busurnya. Ia menghampiri gadis itu dan memandangnya, “Wae? Kau gugup?”

Alice memandang Seunghoon dan mengangguk, “Ne.. kakiku bergetar terus.. juga not-not yang sudah kuhafal berhamburan di kepalaku.. Eoteokhe? Aku mungkin akan mengacaukan pertunjukkan ini..” ucapnya khawatir.

Seunghoon tersenyum dan memegang kedua bahu Alice yang tidak tertutup kain baju, “Gwenchana.. Kau yang terbaik..” ucapnya.

Alice diam sejenak mendengar ucapan Seunghoon, lalu tersenyum. “Jinja?”

Seunghoon mengangguk yakin, “Ne, kau violinis terbaik yang pernah kutemui..” ucapnya, lalu berbisik. “Bahkan melebihi ibuku, jangan beritau dia..”

Alice tertawa kecil, “Ne..”

Seunghoon senang melihat Alice kembali ceria dan spontan menyubit pipi gadis itu gemas, “Ayo bersiap.. Giliran kita membuat semua orang terpukau sudah semakin dekat..”

Alice mengangguk, “Ne!”

“Ya! Giliran kita! Ayo..” panggil Jinhwan dari pintu.

The Show!!

Semua orang menunggu pertujukkan selanjutnya sambil saling mengobrol. Para dosen duduk di deretan paling depan, di belakangnya para orang tua yang menyaksikan anaknya yang tampil. Dan selebihnya mahasiswa yang ingin menonton. Semua orang tertegun melihat tiba-tiba lampu sorot menyala dan menyorot sebuah piano dengan Seunghoon yang duduk disana. Para penonton menatap pria itu penasaran dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Seunghoon mengangkat jari-jarinya dan memainkan musik lembut yang membuat para penonton hanyut dalam melodi indah itu.

Para penonton memandang kesisi lain panggung ketika lampu sorot lain menyala dan terlihat Alice yang berdiri dengan biola di bahunya.

Professor Baek tertegun dan memperhatikan Alice serius.

Alice memejamkan matanya agar tidak terperngaruh dengan penonton, lalu mulai memainkan alunan melodi yang seirama dengan alunan melodi piano Seunghoon. Ia tidak menunjukkan rasa gugupnya dan hanya bermain seperti ia memang seorang violinis professional.

Professor Baek tersenyum melihat penampilan Alice dan mengangguk menyadari gadis itu benar-benar sudah menguasai dirinya.

Ibu Alice dengan mata berkaca-kaca menyaksikan putrinya tampil untuk pertama kali di depan umum.

Lalu lampu sorot berikutnya muncul, Jinhwan dengan tubuh lenturnya bergerak seirama melodi lembut itu dan membuat semua orang terkesima dengan bakatnya.

Alice dan Seunghoon tiba di puncak penampilan mereka dengan melodi bertempo cepat yang mengaduk emosi orang yang mendengarnya, lalu mengakhiri penampilan mereka dengan satu hentakan akhir.

Hening….

Sedetik kemudian ruangan itu di penuhi tepuk tangan riuh.

Alice membuka matanya dan memandang penonton sambil tersenyum.

Seunghoon bergerak bangkit dan menghampiri Alice bersama Jinhwan, lalu membungkuk sopan bersama. Mereka langsung turun dari panggung dengan perasaan senang, bangga dan gugup yang masih tersisa.

“Wuhuuuu!!! Kalian luar biasa!!!” seru Taehyun sambil memeluk teman-temannya bangga.

Seunghoon tersenyum lebar, “Ini semua berkat kalian.. Terima kasih sudah membantuku..”

“Omo.. aku merasa ingin menangis..” ucap Alice sambil mengipas-kipas matanya.

Seunghoon tersenyum memandang Alice, “Bagaimana rasanya? Menyenangkan?”

Alice mengangguk cepat, “Ne! ahh.. aku ingin kembali ke panggung itu lagi!!” ucapnya senang.

“Kau akan segera kembali kesana.” Ucap Seunghoon sambil mengelus rambut Alice.

“Seunghoon-a.. kau sudah membuatku menjadi bintang hari ini, gumawo..” ucap Jinhwan sambil memeluk Seunghoon.

Seunghoon tertawa, “Sudah! Jangan berlebihan..” ucapnya geli.

“Alice!!” Jinhwan bergerak untuk memeluk Alice.

“Aissh…” Seunghoon langsung merangkul Alice pergi.

Jinhwan cemberut, “Ya! Biarkan aku memeluknya sekali..” ucapnya sebal.

Alice tertawa kecil dan memberikan biolanya pada Seunghoon, “Seunghoon-ssi, bisa kau pegang sebentar? Aku ingin menemui ibuku..” ucapnya.

Seunghoon mengambil biola dan busur Alice, “Keure, kami akan ada di ruang tunggu..” ucapnya.

“Ne..” Jawab Alice dan langsung melangkah pergi untuk menemui ibunya. ia melihat ibunya sudah menunggu di pinggir panggung di saat yang lain masih menyaksikan penampilan selanjutnya, “Eomma..”

Ibu Alice tersenyum lebar dan langsung memeluk putrinya dan kembali memandangnya, “Hmm.. kau sangat luar biasa..” ucapnya sambil mengelus pipi putrinya.

Alice tersenyum lebar, “Aku tadi gugup sekali eomma, tapi Seunghoon mengatakan kalau aku adalah pemain biola yang terbaik dan aku langsung bersemangat!”

Ibu Alice senang mendengar ucapan putrinya, “Mmm… Bagus sekali.. Kembalilah ke belakang panggung, acaranya belum selesai.. eomma akan kembali menyaksikan..”

“Ne, eomma..” ucap Alice dan memperhatikan ibunya kembali ke tempat duduk.

Professor Baek yang melihat Alice dari kejauhan langsung menghampiri gadis itu,
“Song Joohee..”

Alice menoleh dan langsung membungkuk sopan, “Oh annyeonghaseo..” sapanya.

Professor Baek tersenyum bangga pada Alice, “Kau luar biasa..” ucapnya.

Alice tertegun mendengar pujian Professor Baek, lalu tersenyum lebar. “Gamshamida..”

Professor Baek memegang bahu Alice, “Ini yang selalu ingin kulihat darimu.. Kau sangat berbakat, Song Joohee..” ucapnya, lalu berjalan pergi.

“Gamshamida..” ucap Alice lagi sambil membungkuk sopan dengan senyuman lebarnya, lalu berbalik untuk kembali ke ruang tunggu. Ia tak sabar bertemu yang lainnya.

Di ruang tunggu.

Seunghoon memasukkan biola dan busur Alice kembali ke dalam tas begitu tiba di ruang tunggu.

Jinhwan memperhatikan Seunghoon sambil meneguk air di botolnya dan mengerutkan dahi, “Ya.. Seunghoon-a..”

Seunghoon meletakkan tas biola Alice dan memandang Jinhwan, “Mwo?”

Jinhwan menatap Seunghoon curiga, “Hmm.. sudah kuduga, kau dan Alice berpacaran kan?”

Seunghoon mengerutkan dahinya, “Mwo?”

“Sudah mengaku saja.. Aku sudah curiga juga dengan kelakukan kalian.” Ucap Jinhwan sebal.

Seunghoon menatap Jinhwan aneh, “Aku dan Alice? Kau bercanda? Kami hanya berteman..”

“Berteman? Kau selalu bersama Alice, membantunya, mengantarkannya pulang, juga mengajaknya dalam pentas ini. Bahkan dia meminjamimu cincin keberuntungannya.. Kau masih berbohong dengan berkata kalian hanya berteman?” Tanya Jinhwan tak percaya.

Seunghoon memutar bola matanya kesal, “Aku bersama Alice karena aku merasa nyaman menghabiskan waktu bersamanya, sama seperti aku menghabiskan waktu bersamamu dan Taehyun. Juga bukankah teman biasa saling membantu? Lalu kenapa mengantarkan pulang juga masuk hitungan? Dia kan seorang gadis, tentu saja aku harus mengantarkannya agar tidak pulang seorang diri.. dan tentang cincin ini..” ucap memperlihatkan cincin di ruas tengah jari kelingkingnya, “Cincin ini tersangkut! Aku tidak bisa melepaskannya.. itu tidak masuk hitungan meminjamkan.”

“Hmm.. bla.. bla.. bla.. sangkal saja selagi kau bisa..” ucap Jinhwan sebal, “Aku akan ke belakang panggung, kau mau ikut?”

“Aku akan menunggu Alice dulu, nanti dia bingung mencari kita dimana..” ucap Seunghoon.

“Nah! Benarkan!” ucap Jinhwan.

“Aissh! Sudah pergi saja sana!” ucap Seunghoon kesal.

Jinhwan tertawa dan melangkah keluar dari ruangan itu meninggalkan Seunghoon seorang diri.

Seunghoon menahan tawa mengingat ucapan Jinhwan tadi, lalu bergerak duduk di sofa sambil memandangi cincin di jari kelingkingnya. Hatinya senang mengingat Alice yang meminjamkanya, ‘Mungkin memang cincin keberuntungan..’ batinnya. Ia langsung menurunkan tangan dan memandang ke pintu begitu melihat ada seseorang yang masuk.

Alice masuk dengan wajah tertunduk dan melangkah ke sofa.

Seunghoon tersenyum dan bergerak bangkit, “Hei.. sudah bertemu ibumu?”

Alice mengangguk, “Ne..” jawabnya, lalu mengambil tas biolanya.

Senyuman Seunghoon luntur perlahan dan memandang Alice bingung, “Waeyo?”

“Aniya, aku akan langsung pulang bersama ibuku..” ucap Alice tanpa memandang Seunghoon dan berbalik.

Seunghoon tertegun melihat Alice bertingkah aneh, “Alice..” panggilnya.

Alice berhenti, namun tak berbalik memandang Seunghoon.

Dahi Seunghoon berkerut memandangi bagian belakang tubuh Alice, “Waekeure?”

Alice diam sejenak, lalu berbalik memandang Seunghoon. Bibirnya bergerak membentuk senyuman, “Gwenchana.. aku hanya…” ia terdiam sejenak dengan tatapan yang berubah sedih dan senyumannya perlahan luntur.

Seunghoon mulai khawatir melihat ekspresi Alice, “Alice, ada apa?”

Alice menghela nafas dalam dan kembali memandang kebawah, “Aniya.. Mungkin aku hanya….” Ucapannya kembali terputus, “Aku hanya berekspetasi terlalu banyak..” ucapnya pelan.

Seunghoon tertegun mendengar ucapan gadis itu, “Ne?”

Alice kembali memandang Seunghoon dengan mata menahan tangis dan memaksakan dirinya untuk tersenyum, “Senang menjadi temanmu, Lee Seunghoon..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan itu.

Seunghoon terdiam di tempatnya karena merasakan sesuatu menancap di dadanya, “Alice..” panggilnya pelan, namun gadis itu sudah terlalu jauh untuk mendengar ucapannya.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Kamar Seunghoon.

Seunghoon duduk gusar, di pinggir tempat tidurnya sambil menunggu panggilannya di jawab. Namun sekali lagi panggilan itu masuk ke mail box. “Aissh!! Jawab panggilanku Alice!!” serunya dan kembali memanggil lagi.

Kamar Alice.

Alice duduk bersandar pada tumpukan bantal ditempat tidurnya dengan tatapan sedih kedepan. Sekali lagi ponselnya berbunyi. Ia memandang layarnya dan melihat nama Seunghoon yang ia beri lambang hati muncul untuk kesekian kalinya. Ia hanya memandanginya tanpa menjawab hingga panggilan itu berkahir sendiri.

“Kau tidak akan menjawabnya sayang?” Tanya ibu Alice sambil masuk ke kamar putrinya.

Alice tertegun melihat ibunya dan memasukkan ponsel itu ke bawah selimut, “Aniya..”

Ibu Alice duduk di pinggir tempat tidur dan memandang putrinya hangat, “Waeyo? Kau terlihat sedih sejak kembali tadi..” ucapnya sambil menyodorkan piring berisi pil-pil obat untuk putrinya.

Alice menghela nafas dalam sambil mengambil pil-pil itu dan memasukkannya ke mulut, lalu menelannya dengan air. Ia diam sejenak memandang kebawah.

“Waeyo? Penampilanmu tadi sangat luar biasa, sayang..” ucap ibu Alice berusaha menghibur.

Alice memandang ibunya dengan tatapan terluka, “Eomma, aku sangat beruntung menjadi temannya Seunghoon kan?” tanyanya, matanya langsung memerah menandakan air matanya akan berjatuhan.

Ibu Alice diam sejenak memandang putrinya, “Kau menyukai Seunghoon kan?”

Bulir air mata Alice mulai berjatuhan dan menutup mulutnya sambil menangis, “Kupikir yang dia lakukan selama ini karena aku special baginya eomma.. Tapi ternyata dia hanya menganggapku teman seperti Taehyun dan Jinhwan.. Kenapa aku seperti ini? Bukankah seharusnya aku hanya menganggapnya teman saja?”

Ibu Alice menatap putrinya sedih, lalu membelai rambut gadis itu lembut. “Perasaan di satu sisi memang sering terjadi Alice, tapi kau tenang saja.. Seiring berjalannya waktu semuanya akan kembali seperti semula..”

“Tapi aku sudah tidak punya waktu lagi eomma..” ucap Alice putus asa.

Ibu Alice terdiam mendengar ucapan putrinya, matanya tampak mulai basah karena air mata menggenggam tangan putrinya. “Kau masih punya banyak waktu.. Kau tenang saja..”

Alice menggeleng pelan, “Aniya eomma, waktuku hanya sampai akhir tahun ini..”

Ibu Alice berusaha tersenyum, “Aniya, dokter bisa salah.. Kau masih bisa hidup 10 tahun lagi.. Kau bisa tampil di semua pertunjukkan yang kau inginkan..”

Alice tau ibunya adalah orang yang paling terluka dengan kondisinya, lalu tersenyum dan mengangguk. “Ne eomma..”

 

=Fakultas Musik=

“Mwo? Dia cuti kuliah?” Tanya Seunghoon tak percaya.

“Ne, itu yang kudengar.. Mungkin dia akan belajar musik keluar negeri..” jawab orang yang di tanyai Seunghoon tentang Alice karena gadis itu tak pernah datang ke kampus sejak sebulan yang lalu.

Seunghoon benar-benar tak mengerti. Gadis itu tak pernah mengangkat panggilannya. Meskipun ia sudah meninggalkan banyak voice mail, tak pernah ada balasan telepon sekali pun.

Kafe.

“Alice cuti kuliah?” Tanya Taehyun tak percaya.

“Ne..” Jawab Seunghoon.

“Dan dia pergi begitu saja?” Tanya Jinhwan.

Seunghoon mengangguk, “Ne..”

Taehyun mengerutkan dahi untuk berpikir, “Waeyo?

Seunghoon menghela nafas dalam dan menyandarkan punggungnya lesu, “Molla..”

Jinhwan berpikir sejenak, “Apa ini karena…” Gumamnya ragu.

Taehyun dan Seunghoon menatap Jinhwan penasaran, “Karena apa?”

Jinhwan memandang teman-temannya, “Mungkinkah dia merasa aku tidak tertarik padanya lagi?”

Taehyun dan Seunghoon langsung menatap Jinhwan geli, “Sikeuro!!” Seru mereka, lalu kembali ke pemikiran tentang Alice.

 

=Sebuah Ruangan=

Alice duduk di sebuah tempat tidur dengan selang infus yang tertancap ke tangan kirinya. Ia memandang ponselnya dan menempelkan ponsel itu ke telinga.

“Alice, odia? Hubungi aku ketika kau mendengar ini..”

Bibir Alice membentuk senyuman mendengar rekaman voice mail dari Seunghoon, lalu mencari rekaman lain dan kembali mendengarkan.

“Ya! Hubungi aku!! Dimana kau?!”

Alice tertawa kecil dan kembali memilih.

Ibu Alice masuk ke ruang perawatan sebuah rumah sakit itu dan tersenyum melihat putrinya ceria, “Apa dia mengirim voice mail lagi?”

Alice mengangguk, “Ne eomma..”

“Lalu, kenapa kau tidak menghubunginya?” tanya Ibu Alice.

Alice tersenyum tipis, “Aku akan menghubunginya setelah aku sembuh..” jawabnya pelan.

Ibu Alice tersenyum dan mengelus pipi putrinya, “Keure..” ucapnya.

 

=5 bulan kemudian=

Seunghoon duduk disebelah tempat tidurnya sambil memandangi cincin di ruas tengah jari kelingkingnya. Sebenarnya ia sudah berhasil mengeluarkan benda itu, namun tidak ingin melepaskannya. Ia menghela nafas dalam dan mengambil ponsel, memastikan apakah ada sebuah pesan atau panggilan tak terjawab dari Alice. Tapi sama sekali tidak ada apa pun. Ia menghela nafas dalam lagi dan kembali memanggil nomor gadis itu. Ia selalu ingin menyerah dan berhenti. Namun karena nomor Alice tidak pernah mati dan selalu tersambung walaupun tak di jawab, ia hanya berkata pada dirinya ‘sekali lagi ini saja’. Tapia terus saja menghubunginya. Seperti biasa, panggilan tersebut masuk ke voice mail.

“Alice.. aku akan menghubungimu selama nomormu aktif. Aku akan berbicara pada voice mail sampai kapan pun.. Jika kau mendengar semua voice mail-ku termasuk yang ini, hubungi aku.. walaupun hanya satu buah pesan yang menyatakan kau baik-baik saja..” ucap Seunghoon pelan, lalu mengakhiri voice mail-nya. Ia menarik ponsel dari telinganya dan memandang layar ponsel. Saat ini ia menyesal mengapa tak pernah mengambil satu pun photo Alice. Ia membanting tubuhnya ke belakang dan berbaring menatap langit-langit kamar tanpa ekspresi.

Di tempat lain.

Alice menarik ponsel dari telinganya setelah mendengarkan rekaman voice mail dari Seunghoon, lalu menatap ponselnya sedih. Tak lama layar ponsel redup dan memperlihatkan pantulan wajahnya. Ia terlihat lebih kurus, rambut indahnya semakin menipis karena cairan kimia yang masuk ke tubuhnya. Ia sangat sedih melihat fisiknya berubah drastis sepert ini.

 

=7 Bulan Kemudian=

Seunghoon masuk ke ruang musik tempat pertama kali ia dan Alice bertemu. Ia melangkah masuk sambil memperhatikan sekitar. Mengingat banyak kenangan manis di tempat ini. Tak bisa di pungkiri, ia sangat merindukan gadis cantik itu. Waktu terus bergulir meninggalkan pertanyaan yang semakin besar. Ia bergerak duduk di kursi piano dan mulai bermain. Di kepalanya muncul tampilan wajah Alice yang sedang tersenyum dan tertawa, juga lagu yang ia mainkan terdengar ceria. Tapi hatinya tidak merasa seperti itu. Semakin sering ia melihat senyum dan tawa Alice di kepalanya, semakin sesak juga dadanya. Kedua tangannya berhenti dan jari-jarinya tampak gemetaran. Matanya terpejam menahan air yang mulai berkumpul. Ketika ia membukanya lagi, bulir-bulir air mulai berjatuhan. Ia tak mengerti mengapa dirinya menjadi sangat rapuh seperti ini. Ia tidak pernah menjadi sensitif dan tak bisa mengendalikan dirinya seperti ini. Ia diam sejenak dan menyeka air matanya, lalu mengeluarkan ponsel dan kembali memanggil nomor Alice. Panggilan itu tetap tak diangkat dan masuk ke voice mail. Ia menghela nafas dalam dan mulai berbicara, “Alice.. kumohon angkat panggilanku.. Biarkan aku mendengar suaramu dan tau kalau kau baik-baik saja.. Kenapa kau membuatku seperti ini? Jangan buat aku menangis Alice..” ucapnya sepenuh hati, lalu memutuskan voice mail tersebut. Beberapa detik kemudian sebuah panggilan masuk, ia langsung memandang layar namun kecewa karena nomor tak di kenal yang muncul. Dengan berat hati ia mengangkatnya, “Yoboseyo..” sapanya, namun sedetik kemudian ia tertegun dan melotot. “Mwo?! Ne! Aku kesana sekarang!” ucapnya cepat sembari bangkit dan berlari pergi.

 

=Sebuah Rumah Sakit=

Seunghoon berlari menuju ruang gawat darurat mencari ibunya.

“Oh.. Seunghoon-a..” panggil ibu Seunghoon dari sebuah tempat tidur.

Seunghoon menoleh dan langsung menghampiri ibunya dengan wajah khawatir, “Eomma, gwenchana?” tanyanya langsung.

Ibu Seunghoon tersenyum, “Gwenchana, tadi eomma hanya terpeleset dan jatuh.. tidak apa-apa..” ucapnya.

Seunghoon memandang kaki kanan ibunya yang di gips, “Kaki eomma cedera?”

“Ne, gwenchana.. Dokter bilang tiga minggu lagi bisa di lepas..” ucap ibu Seunghoon sambil mengelus pipi putranya. “Sudah, jangan khawatir.. Tadi dokter meminta eomma mengambil obat di apotek, ambillah.. eomma akan menunggu disini..” ucapnya.

Seunghoon menghela nafas dalam dan bergerak bangkit, “Ne, tunggu sebentar eomma..” ucapnya dan melangkah keluar dari ruang UGD. Ia tak tau dimana apotek dan menghampiri meja informasi, “Permisi, bisa kau tunjukkan arah apotek?” tanyanya.

Perawat di bagian informasi tersenyum, “Di sebelah sana tuan..” ucapnya sambil menunjuk arah kiri, “Tapi untuk obat kanker bisa anda ambil langsung di bagian penyakit dalam..”

Seunghoon tertegun mendengar ucapan terakhir perawat itu, “Ne? Kanker?”

Perawat itu tersenyum manis dan menunjuk tangan Seunghoon yang memegang meja informasi, “Saya tahu dari cincin yang anda kenakan tuan..”

Seunghoon memandang cincin itu dan kembali memandang sang perawat, “Cincin?”

“Ne, cincin seperti itu biasanya di berikan pihak rumah sakit untuk para pasien kanker yang berobat disini. Gwenchana, anda tidak perlu merasa risih.” Jawab perawat itu.

Seunghoon tertegun lagi, “Ne?” ucapnya kaget, mendadak pikirannya langsung tertuju pada Alice yang juga berkata cincin itu dari seorang dokter yang pernah merawatnya. ‘Mungkinkah….’ batinnya ragu, lalu menatap perawat itu serius. “Maaf, apakah ada pasien bernama Song Joohee?”

“Sebentar tuan..” ucap perawat itu dan mencari di komputer, lalu kembali memandang Seunghoon. “Ne, dia dirawat di lantai 8 kamar 0862..”

Mata Seunghoon membesar, lalu langsung berlari ke lift.

Lantai 8 kamar 0862.

“Alice, eomma akan bertemu dokter sebentar..” Ucap ibu Alice.

Alice yang duduk di kursi roda di depan jendela yang terbuka menoleh, “Ne eomma..” Jawabnya sambil tersenyum, lalu kembali memandang jendela. Ia menghela nafas dan melipat kedua tangannya di pinggir jendela dengan dagu bersandar ke atasnya. Ia tertegun mendengar ponsel di tangannya berbunyi, lalu memandang layarnya. Ia tertegun melihat nama Seunghoon kembali muncul. Bibirnya membentuk senyuman dan memandangi layar ponselnya hingga panggilan itu berakhir.

Tanpa di ketahui Alice, Seunghoon berdiri di pintu memperhatikan gadis yang duduk membelakanginya itu. Ia tak percaya benar-benar melihat gadis itu disini. Ia berusaha keras menahan dirinya untuk tidak masuk dan mengeluarkan rasa kesalnya selama ini. Tangannya bergerak mengetik pesan dan mengirimkannya kepada gadis itu.

Alice tertegun mendapatkan pesan masuk, lalu membukanya. Dahinya berkerut membaca pesan itu.

From : Lee Seunghoon ❤

Rumah Sakit Seoul, lantai 8, kamar nomor 0862.

Alice mengerutkan dahinya bingung, lalu pesan lain masuk.

From : Lee Seunghoon ❤

Kau tidak mau cincin keberuntunganmu lagi?

Alice tertegun seseorang menyodorkan sebuah cincin di sebelah wajahnya, lalu memandang sang pemilik tangan. Matanya yang terlihat cekung dan ada garis hitam di bawahnya membesar melihat Seunghoon.

Seunghoon menatap Alice tanpa ekspresi sambil tetap mengulurkan tangannya.

“Seung-Seunghoon-ssi?” ucap Alice tak percaya.

Seunghoon menghela nafas dalam dan melangkah pelan kehadapan Alice dan berlutut dengan satu kakinya, kemudian memasangkan cincin tadi ke jari manis tangan kiri gadis itu. Ia diam sejenak memandang jari gadis itu terlihat sangat kurus hingga cincin itu tampak terlalu besar.

Alice menatap Seunghoon tak percaya.

Seunghoon memandang Alice tetap tanpa ekspresi, “Neo gwenchana?”

Entah mengapa pertanyaan Seunghoon membuat kedua mata Alice di penuhi air dan bulir air mulai berjatuhan begitu saja menatap pria itu.

Seunghoon menatap kedua mata Alice dalam, lalu mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata gadis itu dengan punggung tangannya. “Kenapa kau menangis?”

“Bagaimana kau tau aku disini?” tanya Alice pelan.

“Ibuku tadi mendapat kecelakaan kecil dan dibawa kemari. Seorang perawat melihat cincin itu di jariku dan mulai mengatakan hal aneh tentang pasien kanker..” jawab Seunghoon.

Alice tertegun dan menunduk sedih.

Seunghoon diam sejenak menatap Alice, “Apa ini ada hubungannya dengan perutmu yang waktu itu sakit?”

Alice mengangguk pelan tanpa mengangkat wajahnya.

“Waeyo?” tanya Seunghoon.

Alice menghela nafas dalam dan memegang perut kirinya, “Aku mengidap kanker di saluran pencernaanku..”

Seunghoon terkejut namun tak memperlihatkannya, ia tak ingin Alice merasa tak nyaman karena responnya itu.

“Aku sudah menjalani operasi pengangkatan bagian usus dan sedikit lambungku yang terkena kanker itu..” ucap Alice cepat sebelum Seunghoon berkomentar, lalu menunduk lagi. “Tapi aku harus mengikuti kemoterapi untuk membunuh sel kanker yang tersisa..”

“Selama 7 bulan kau ada disini?” tanya Seunghoon.

Alice mengangguk, “Ne..”

Seunghoon memandang kebawah untuk menetralkan emosinya sambil mengaitkan jari-jarinya dengan Alice, lalu kembali memandang gadis itu. “Kenapa kau tidak pernah mengangkat panggilanku?”

Alice memandang Seunghoon menyesal, “Aku ingin benar-benar sembuh dulu.. Baru kembali ke kampus dan bertemu denganmu lagi..”

Hati Seunghoon seperti di remas sesuatu mendengar ucapan Alice, “Wae?”

Alice menghela nafas dalam, “Aku tidak ingin kau merasa risih berteman dengan orang sakit sepertiku..”

Cukup! Seunghoon tak bisa menahan dirinya lagi, ia langsung bergerak maju sambil memegang belakang kepala Alice dan mencium gadis itu lembut.

Alice terkejut dengan mata membesar, lalu menatap pria itu tak percaya ketika menarik diri darinya.

“Aku tidak tau apa aku masih bisa menjadi temanmu setelah ini..” ucap Seunghoon sambil menatap kedua mata Alice.

Alice semakin terkejut, “Ne?” ucapnya kaget, tangannya spontan bergerak memegang lengan baju pria itu. “Seunghoon-ssi..” ucapnya dengan suara bergetar dan bulir air mata berjatuhan.

Seunghoon tersenyum, “Kenapa kau menangis?” ucapnya sambil menarik tangannya dari belakang kepala gadisi tu, ia tertegun melihat rambut Alice yang masih berwarna putih tertinggal di tangannya.

Alice terkejut melihat tangan Seunghoon dan langsung mengambil rambut-rambut itu sambil menangis, “Sudah kubilang aku akan menemuimu setelah aku sembuh.. aku akan menjadi jelek karena kemoterapi.. kau pasti tidak akan mau bertemu denganku lagi..” tangisnya sambil menunduk.

Seunghoon tertegun sesaat memperhatikan tangan Alice yang menggenggam rambut-rambut di tangan gadis itu.

“Eoteokhe? Kau sudah melihatku seperti ini, kau pasti jijik melihat penampilanku kan?” ucap Alice sambil terus menangis.

Seunghoon memandang Alice, kulit pucatnya memang terlihat kusam. Rambut indah itu sangat tipis dan bisa terlihat kulit kepala gadis itu jika di perhatikan lebih serius. Tubuh gadis itu menyusut drastis. Namun bibirnya tersenyum hangat dan menggenggam kedua tangan gadis itu sambil menatapnya dalam.

Alice tertegun dan memandang Seunghoon.

“Gwenchana..” ucap Seunghoon pelan sambil tersenyum hangat, “Aku akan tetap disini untuk menyaksikan kau kembali pulih dan kembali terlihat cantik lagi..”

Alice menatap Seunghoon tak percaya.

“Bukankah jika cincin di jari manis seorang gadis pas di ruas kedua pria yang dekat dekat dengannya, mungkin saja mereka memang di takdirkan bersama?” tanya Seunghoon sambil tetap tersenyum.

Alice diam sesaat, lalu tersenyum lebar. Meskipun kedua pipinya terlihat tirus, senyumnya masih terlihat cantik dan memukau.

Seunghoon tersenyum senang melihat senyuman Alice, “Lihat, kau masih memiliki senyum yang cantik..” ucapnya sambil menunjuk satu sudut bibir gadis itu.

 

=Rumah Alice=

Pengobatan Alice berjalan dengan baik, namun butuh waktu untuk memulihkan kondisi gadis itu. Terutama keadaan fisiknya.

Seunghoon memperhatikan angka timbangan ketika Alice naik diatasnya.

Alice merengut kecewa dan memandang Seunghoon, “Hanya naik beberapa ons..” ucapnya.

Seunghoon menatap Alice tak percaya, “Sebenarnya apa yang kau makan? Sudah dua bulan tapi tidak ada perkembangan!”

“Aku juga tidak tau.. memangnya menaikkan berat badan setelah operasi itu mudah?” ucap Alice sebal.

“Aissh.. makan daging dan nasi lebih banyak, setiap waktu!” ucap Seunghoon sebal.

Ibu Alice tertawa kecil sambil menghampiri kedua anak itu, “Sebenarnya Alice takut nanti malah terlalu gendut dan tidak sexy lagi di matamu..”

Alice menatap ibunya kaget dengan wajah merona merah, “Eomma!”

Seunghoon tertegun dan menatap Alice tak percaya, “Kau masih sempat memikirkan itu?! Ya! Kau itu kurus sekali! 35 kilo itu bukan berat gadis 20 tahunan, kau tau?!”

Alice menatap Seunghoon sebal, “Nanti jika aku terlalu gemuk aku tidak cantik lagi!”

“Memangnya untuk siapa kau terlihat cantik?!” tanya Seunghoon kesal.

“Tentu saja untukmu!” seru Alice, lalu tertegun dan menunduk malu sambil memegang bibirnya.

Seunghoon menatap Alice kesal, “Jika begitu untukku saja! Jangan pikirkan penampilanmu selama itu yang terbaik untukmu! Aku pasti menyukainya!”

Ibu Alice tertegun mendengar ucapan Seunghoon sama seperti putrinya, lalu tersenyum lebar.

Alice menatap Seunghoon sambil tersenyum malu, lalu memandang ke bawah sambil menggaruk belakang telinganya. “Jeongmal?”

“Ne..” ucap Seunghoon tanpa ragu.

Ibu Alice menahan tawanya, “Keure, eomma akan menyiapkan makan malam..” ucapnya.

Alice tersenyum lebar mendengar ucapan ibunya, “Eomma, berikan aku daging yang banyak…” ucapnya.

“Ne..” jawab ibu Alice sambil melangkah pergi.

Alice memandang Seunghoon yang sekarang tersenyum memandangnya.

Seunghoon mengelus rambut Alice dan menarik gadis itu ke pelukannya, gadis itu langsung membalas pelukannya.

Alice mendongak dan menyandarkan dagunya ke dada Seunghoon. Ia langsung tersenyum ketika pria itu memandangnya.

Seunghoon mengelus rambut Alice sambil tersenyum, “Segeralah pulih, aku ingin tampil bersamamu lagi..” ucapnya.

Alice mengangguk, “Ne..”

Seunghoon menahan kepala Alice di dadanya dan memeluk gadis itu erat dengan mata terpejam.

 

===THE END===

 

Advertisements

12 thoughts on “Color Ring

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s