One Shoot

A Special Day

xnftnt

Special Day

 

-Hyunseung’s POV-

Aku masuk ke rumah dan mengunci pintu, lalu melangkah pelan menuju kamar agar tidak membangunkan Hyuna. Namun langkahku terhenti melihatnya tertidur di sofa depan. Dia pasti menungguku lagi. bibirku membentuk senyuman dan menghampirinya perlahan, “Hyuna-a..” panggilku sambil membelai rambutnya.

Dahi Hyuna berkerut dan membuka matanya, ia tertegun begitu melihatku. “Hmm.. aku tertidur..” ucapnya sambil mengusap mata.

“Kenapa kau menungguku lagi? Aku sudah berkata tidur lebih dulu kan?” tanyaku khawatir.

“Hmm.. masa aku tidur sebelum oppa pulang.” Ucapnya dengan wajah polos itu. wajah yang selalu membuatku tersenyum sepanjang waktu.

“Gwenchana, kau sudah lelah menjaga Seungna sepanjang hari. Juga mengerjakan pekerjaan rumah, jangan paksakan dirimu..” ucapku, “Ayo ke kamar..” aku mengangkatnya dengan kedua tanganku.

Hyuna terkejut dan spontan memeluk leherku, “Oppa!” ucapnya dan tertawa kecil.

Aku tersenyum memandang wajah cerianya meskipun ia terlihat lelah. “Khaja..” ucapku sambil melangkah menuju kamar, lalu dengan hati-hati menurunkannya ke tempat tidur juga duduk di sebelahnya. “Tidurlah.. aku akan mandi sebentar..” ucapku.

Hyuna mengangguk masih sambil tersenyum.

Aku bergerak bangkit dan masuk ke kamar mandi.

Kehidupan kami menjadi lebih ‘normal’ sekarang. Memiliki Seungna yang sudah masuk tahun pertamanya, kami menjadi lebih dewasa menghadapi masalah. Dan aku harus sedikit bersabar atas istriku. Hmmm…

Suatu hari.

Aku memandang Hyuna yang naik ke tempat tidur setelah menidurkan Seungna, “Seungna sudah tidur?”

Hyuna tersenyum dan mengangguk, “Ne.. Dia rewel seharian karena pertumbuhan giginya, jadi aku harus mengalihkan perhatiannya.” Ceritanya, ia terlihat lelah namun masih memberiku senyuman manis itu.

Tanganku terulur dan mengelus rambutnya, “Aku tidak menyesal telah menikahimu..”

Hyuna tampak tersipu dan memukul bahuku pelan, “Oppa..”

Aku tertawa kecil dan mendekat untuk menciumnya, namun ia menahan tubuhku sambil menatapku menyesal.

“Mian oppa.. aku sangat lelah.” Ucapnya pelan.

Aku tersenyum dan mengelus pipinya, “Ne, tidurlah..” ucapku.

Hyuna tersenyum dan berbaring sambil menarik selimut.

Aku menghela nafas dalam memperhatikannya tidur. Well.. aku tidak bisa memaksakan keinginanku jika istriku memang tak bisa memenuhinya. Aissh.. aku benar-benar tidak seberuntung Seungna dalam masalah waktu.

Namun bukan Hyuna jika tidak mengerti diriku.

Malam itu dia naik ke tempat tidur dan bersandar manja padaku, “Oppa..”

“Hmm..” gumamku sambil tersenyum namun tetap membaca sesuatu di ponselku.

“Oppa, Seungna sudah tidur..” ucap Hyuna, telingaku menangkap kode yang tidak biasa darinya.

Aku memandangnya dan menyadari ia mengenakan kemeja besar putihku yang memamerkan pakaian dalam hitam di balik kain tipis itu. kakinya masih terlihat indah meskipun sudah melahirkan Seungna.

Hyuna tersenyum manis dan membuka beberapa kancing kemejanya yang teratas hingga belahan dadanya terlihat jelas olehku. Dan harus kuakui karena masih menyusui ukuran payudaranya jadi lebih besar. Aissh.. aku tidak bisa membahas itu. “Jadi, kau akan membaca itu sepanjang malam?” tanyanya dengan wajah polos itu.

Aku tersenyum dan langsung melempar ponselku ke belakang, “Aniya..” ucapku, lalu menerkamnya sebelum dia berubah pikiran.

…………………………………………………………………………………………………………………………………….

Aku terbangun karena merasakan tempat tidur bergerak dan membuka mataku perlahan. Dahiku berkerut melihat Hyuna mengenakan kemeja tadi dan bergerak bangkit, “Hyuna-a..” panggilku spontan.

Hyuna berhenti dan memandangku, “Apa aku membangunkanmu oppa?”

Aku bergerak bangkit dan bersandar dengan sikuku, “Aniya, kau mau kemana?”

“Aku harus memeriksa Seungna, tidurlah lagi..” ucap Hyuna sambil tersenyum, lalu melangkah keluar.

Aku tertegun mendengar ucapannya, namun memang seorang ibu biasa melakukan ini di tengah malam. Aku kembali berbaring dan melanjutkan tidur. Hingga hampir satu jam kemudian Hyuna tak kunjung kembali, hal itu membuatku penasaran. Apa jangan-jangan dia melanjutkan tidur di kamar Seungna? Perlahan aku bangkit sambil menyibak selimut dan mengenakan celana dan kausku, lalu berjalan menuju kamar Seungna yang tak jauh dari kamar kami. Pintu tidak tertutup rapat dan hanya ada cahaya redup dari dalam, aku mengintip sambil mendorong pintu.

Aku benar-benar terpaku menyaksikan apa yang ada disana sekarang. Ini adalah pemandangan paling indah yang pernah kulihat didunia. Hyuna duduk di sofa di sebelah box bayi Seungna sambil menyusui putri kami. Ia tersenyum memandang Seungna yang terlihat menyentuh pipinya dan menatap putri kami lembut, mungkin ini kenapa wanita disebut lebih hebat daripada pria. Aku mengerti sekarang. Bibirku membentuk senyuman dan melangkah masuk.

Hyuna memandangku bingung, “Oppa, tidak tidur?”

Aku menggeleng dan duduk disebelahnya, “Aniya, aku ingin menemanimu..” ucapku, lalu tersenyum pada Seungna yang memandangku sambil tetap menyusu. “Heii..” sapaku sambil mengelus pipinya.

Seungna mengulurkan tangan kecilnya dan memegang jari-jariku yang besar di tangannya. Wanita memang makhluk yang sangat luar biasa, mereka bisa melahirkan makhluk mungil ini dan membesarkannya sepenuh hati.

Hyuna mengelus rambut Seungna lembut, lalu memandangku.

Aku menatapnya dalam sambil tersenyum, “Kau pasti lelah mengurus Seungna, mian.. Kau juga masih harus mengurusku..” ucapku menyesal.

Hyuna tertawa kecil dan mengelus pipiku, “Gwenchana oppa..”

Aku merangkul Hyuna dan mengelus rambutnya sambil memperhatikan Seungna yang terlihat mulai kenyang dan memejamkan matanya.

 

=Suatu Hari=

Aku melangkah masuk ke rumah sambil melepaskan kacamata hitamku, matahari sangat terik di luar. Begitu masuk ke ruang tengah aku langsung tersenyum melihat Seungna yang sudah bisa berjalan bermain bersama mainannya di lantai beralas karpet yang kusediakan sebagai tempat bermainnya, juga kuberi pagar agar dia tak keluar dari area bermainya itu. Ia melihatku datang dan langsung tertawa riang sambil mengoceh dengan bahasanya. Aku tertawa lucu karena tak mengerti apa ucapannya, “Hei sayang..” sapaku sambil menggendongnya. Aku mengedarkan pandangan mencari Hyuna dan menemukannya duduk bersandar di sofa dan tertidur lagi. Wajahnya terlihat sangat lelah. Aku merasa bersalah karena tak bisa melakukan apa pun untuk membantunya, tunggu.. aku bisa..

Keesokan harinya.

“Ne?” tanya Hyuna bingung setelah mendengar ucapanku.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Ne, hari ini aku yang akan menjaga Seungna. Aku akan mengurus semua keperluannya dan kau bisa beristirahat..”

Hyuna tertawa kecil, “Aniya oppa, na gwenchana..” ucapnya.

“Aniya, kau harus beristirahat hari ini. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan..” ucapku yakin.

Hyuna menatapku lucu, “Mmm.. keure.. Aku ingin tidur seharian..” ucapnya.

“Keure.. Seungna eomma, kau bisa tidur dan aku akan menjaga Seungna..” ucapku sambil mengelus rambutnya.

Hyuna tersenyum, “Aku akan menulis apa saja yang harus oppa lakukan..” ucapnya, lalu mengambil kertas dan pulpen. Ia menuliskan semua kegiatan yang harus kulakukan. Mulai dari mengganti popok, memberikan makanannya di jam-jam tertentu, memandikan Seungna di jam berapa, juga melakukan pijatan bayi setelah mandi. Hmm.. oke, aku mengerti. Aissh.. kenapa banyak sekali hanya untuk mengurus satu bayi?

“Mengerti oppa?” tanya Hyuna setelah menjelaskan apa yang harus kulakukan.

Aku tersenyum dan mengangguk meskipun aku masih bingung, “Ne, arasso.. Tidurlah.. Aku akan bermain dulu bersama Seungna dan memberikannya makan..”

Hyuna tersenyum dan memelukku, “Gumawoyo oppa..” ucapnya.

“Ne..” ucapku sambil mengelus rambutnya.

Hyuna melangkah ke kamar dan tak terlihat lagi.

Aku menghela nafas dalam dan memandang Seungna yang sedang duduk di area bermainnya membangun sesuatu dengan mainannya. Aku tau ini akan menjadi hari yang berat, tapi aku akan melakukannya demi Hyuna! Fighting! Bibirku membentuk senyuman dan masuk ke area bermain Seungna. “Seungna-a..” sapaku dan duduk di sebelahnya.

Sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama Seungna, kami bermain cukup lama hingga tiba waktunya makan. Kurasa ini bagian tersulitnya.

“Seungna-a.. ayo makan dulu buburmu sayang..” ucapku sambil menyodorkan sesendok bubur ke mulut Seungna yang terus pergi kesana kemari sambil tertawa. Aissh.. jinja, bagaimana cara Hyuna melakukannya? Untuk menghabiskan satu mangkuk bubur memerlukan waktu dua jam karena Seungna tak mau diam di satu tempat dan terus bermain ke sana kemari.

Aku duduk di sofa sambil menghela nafas dalam dan membaca apa yang di tulis Hyuna tadi. Ahh… seharusnya 10 menit yang lalu aku memberikan susu dan menidurkan Seungna, tapi waktuku habis untuk memberikannya makanan. Aku bangkit dan berjalan ke dapur untuk mengambil ASI yang telah di simpan Hyuna di kulkas, lalu memanaskannya sebentar di microwave. Aku agak khawatir awalnya. Bagaimana jika Seungna tidak mau minum susu dan hanya memilih main? Tapi kali ini aku beruntung.

“Seungna-a..” panggilku sambil memperlihatkan botol susu di tanganku.

Mata Seungna berbinar dan berlari kecil menghampiriku.

Aku memberikan botol susu itu dan membawanya duduk di sofa, lalu membaringkan putri kecil ini di lenganku. “Tidur sayang..” ucapku sambil mengelus pipinya.

Seungna meminum susu di botol sambil memandangku, satu tangannya menggenggam jariku. Aku menggumamkan lagu tidur agar membuatnya lebih cepat tidur. Tak lama susu di botol habis dan putri cantik yang memiliki mata ibunya ini tertidur pulas. Aku meletakkan botol kosong tadi ke meja dan menggendongnya ke kamar agar bisa tidur dengan nyaman. Dengan hati-hati aku membaringkannya ke box dan menyelimutinya. Melihatnya tertidur pulas seperti ini rasa lelahku seperti menguap dan merasa semua lelahku sangat berarti. Kurasa karena ini Hyuna bisa bertahan selama setahun mengurus putri kami. Tanganku terulur dan mengelus rambutnya yang mulai panjang. Bibirku membentuk senyuman dan berjalan keluar dari kamarnya.

Ahhh… baru setengah hari dan rasanya sudah seperti sebulan… aku membanting tubuhku ke sofa dan menyandarkan kepalaku ke sofa dengan mata terpejam. Namun baru beberapa menit aku mendengar pintu kamar terbuka dan memandang kesana.

Hyuna merenggangkan tubuhnya sesaat dan mengedarkan pandangannya, ia terlihat baru bangun tidur.

“Heii.. sudah bangun?” tanyaku.

Hyuna memandangku dan tersenyum, lalu melangkah menghampiriku. “Bagaimana Seungna?” tanyanya sambil duduk disebelahku.

Aku tersenyum dan mengelus rambutnya lembut, “Bagaimana kau menanganinya sepanjang hari?”

Hyuna tertawa kecil, “Apa dia rewel oppa?”

“Ani, dia tertawa terus dan bermain disana dan disini..” jelasku sambil menahan tawa.

“Apa dia menghabiskan makanannya?” tanya Hyuna lagi.

“Ne.. aku membutuhkan waktu dua jam untuk selesai menyuapinya..” ucapku.

Hyuna tertawa dan memegang pipiku, “Aigoo.. kau terlihat lelah oppa.. Istirahatlah, aku akan menjaganya..”

“Aniya.. kau masih punya waktu bebasmu. Kau bisa melakukan apa pun yang kau suka seharian ini. Seungna urusanku..” ucapku meyakinkannya.

Ia menatapku tak yakin, “Wae? Aku sudah beristirahat tadi.. Gwenchana oppa..”

“Aniya.. kau boleh melakukan apa yang kau mau..” ucapku berusaha meyakinkannya lagi.

Hyuna tersenyum lucu, lalu berpikir. “Apa pun yang kumau?” ucapnya sendiri.

“Apa yang sudah lama tidak kau lakukan sejak ada Seungna?” tanyaku memancing keinginannya.

Hyuna tertegun dan memandangku sambil tersenyum, “Shopping?”

Aku tersenyum lebar, “Keure, kau bisa pergi shopping…”

Hyuna tertawa kecil, “Aniya, aku akan menjaga Seungna. Kau terlihat lelah oppa..”

“Aniya.. na gwenchana..” ucapku meyakinkannya. Namun sepertinya masih terlihat ragu, aku langsung mengambil dompet dari saku belakang dan mengeluarkan sebuah kartu kredit dan kuberikan padanya. “Ini.. pergilah.. Ajak Jihyun bersamamu..”

Hyuna tertawa kecil dan mendorong tanganku yang menyodorkan kartu kredit, “Tidak perlu oppa, aku dirumah saja..”

Aku menatapnya serius, “Ambil dan pergi.. Aku tidak pernah sebaik ini sebelumnya Kim Hyuna..” ucapku.

Hyuna tersenyum lebar dan mengambil kartu kredit tadi, “Gumawoyo oppa..” ucapnya sambil memeluk leherku dan mendaratkan kecupan manis di pipiku. Lalu bangkit dan berlari riang ke kamar.

Keure, aku akan berkorban hari ini demi dirinya. Selama ini dia mengorbankan dirinya demi diriku yang sangat rumit, ini bukan apa-apa dibanding apa yang sudah dia lakukan. Kurasa ini yang dinamakan cinta.

-Hyunseung’s POV end-

 

-Hyuna’s POV-

“Wuaa.. Hyunseung oppa benar-benar keren..” ucap Jihyun ketika makan di sebuah kafe setelah shopping.

Aku tertawa kecil, “Aku juga tidak tau kenapa dia ingin menjaga Seungna, tapi kurasa aku memang butuh waktu senggang seperti ini..”

Jihyun tertawa kecil, “Aaahh.. bagaimana Jihyo jika kami punya anak nanti?” ucapnya lucu.

Aku memandang ponselku. Sejujurnya aku agak penasaran kenapa Hyunseung oppa sama sekali tak menghubungiku untuk bertanya sesuatu, apa dia benar-benar sudah mengerti? Bagaimana jika dia membiarkan Seungna makan makanan orang dewasa? Ahhh… ani-ani.. Hyunseung oppa juga tau itu tidak baik untuk bayi.

“Hyuna-a..” panggil Jihyun.

Aku memandangnya, “Ne?”

Jihyun menahan senyuman dan memajukan duduknya, “Kau lihat pria-pria disana memandangi kita..” bisiknya lucu.

Aku menoleh ke sebuah meja dan melihar ada 3 orang pria yang tersenyum kearah kami. Aku menahan tawa dan melanjutkan makanku. Well, jika Jihyun wajah jika mereka masih tertarik. Dia baru menikah dan masih terlihat sangat ramping. Tapi aku kan sudah melahirkan Seungna, kurasa aku tidak seramping dulu meskipun Hyunseung oppa masih sering berkata aku seksi. Hahahaha.. tentu saja, dia suamiku.

Setelah itu Jiho menjemput kami dan berbaik hati mengantarkanku pulang.

Aku melangkah masuk ke rumah, “Aku pulang..” ucapku pelan, namun tidak ada yang menyambut. Aku berhenti sejenak melihat mainan Seungna berantakan di ruang tengah, bibirku membentuk senyuman memikirkan bagaimana Hyunseung oppa menangani putri kami yang dalam masa aktifnya sekarang. Lalu melangkah menuju kamar. Seperti dugaanku, Hyunseung oppa dan Seungna ada disini. Mereka tidur di tempat tidur dengan tenang. Aku meletakkan tas tanganku dan tas belanjaan ke lantai, lalu menghampiri tempat tidur. Tanganku terulur dan mengelus rambut Seungna yang menelungkup di sebelah ayahnya, lalu mencium kepalanya.

Hyunseung oppa terbangun dan langsung memandangku, “Hmm.. kau sudah pulang..” gumamnya sambil mengelus mata, lalu bergerak bangkit.

Aku tersenyum memandangnya, dia sudah menjadi ayah yang hebat hari ini. “Gumawoyo oppa..” ucapku tulus.

Hyunseung oppa tersenyum, “Aku akan merapikan ruang tengah, kau istirahatlah dulu..” ucapnya sambil bangkit dan melangkah keluar.

Aku melepaskan blazerku, meninggalkan dress selutut tanpa lengan yang membuatku terlihat cute seperti biasa. Lalu memperbaiki posisi tidur putriku dan menyelimutinya agar tak kedinginan, anak seumuran dia mudah terserang flu, jadi aku harus berhati-hati. Setelah itu aku keluar untuk membantu Hyunseung oppa.

Hyunseung oppa yang sedang mengumpulkan mainan Seungna memandangku bingung, “Kenapa kau keluar? Istirahatlah..”

Aku tersenyum dan ikut mengumpulkan mainan Seungna, “Aku tidak lelah, aku akan membantumu..”

Hyunseung oppa tersenyum dan meneruskan kegiatannya. Setelah semua mainan terkumpul, kami duduk bersantai di sofa dengan tangan saling tergenggam dan kepalaku bertumpu ke bahunya.

“Bagaimana hari ini? Kau merasa senang?” tanyanya padaku.

Aku memandangnya sambil tersenyum, “Ne..”

Hyunseung oppa tersenyum, “Syukurlah..”

“Lalu, bagaimana harimu bersama Seungna?” tanyaku ingin tau.

Hyunseung oppa tertawa kecil, “Aku tidak tau bagaimana caramu melewati ini setiap hari..”

Aku tertawa mendengar ucapannya, “Wae? Dia membuatmu sulit?”

Hyunseung oppa tertawa lagi, “Sedikit..”

“Memang kadang terasa sangat lelah oppa, tapi setelah itu kau akan mulai berpikir itu sangat menyenangkan. Melihat pertumbuhannya setiap hari, mengetahui apa hal baru yang ia pelajari. Juga memastikna dia baik-baik saja setiap waktu..” ucapku mengungkapkan apa yang kurasakan selama ini.

Hyunseung oppa menatapku dalam dan menarik tanganku yang ia genggam ke dadanya, “Karena itu kenapa di belakang pria hebat ada wanita yang lebih hebat..”

Ucapan Hyunseung oppa membuatku tersenyum. Mmm.. mungkin dia butuh sedikit penghargaan atas apa yang telah ia lakukan hari ini. “Oppa, biasanya Seungna akan terbangun lagi pukul 2 malam..” ucapku dengan mata berkedip-kedip manja.

Hyunseung oppa terlihat bingung beberapa saat, lalu melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 9 malam. Matanya kembali memandangku dan tersenyum, satu tangannya bergerak mengelus pahaku dan bergerak naik mendorong dressku ke atas.

Aku tersenyum malu dan memejamkan mataku ketika ia mendekat dan memberikan kecupan di leherku. Kedua tangannya menarik kakiku naik ke atas sofa dan membuat kakiku melingkar di pinggangnya.

Hyunseung oppa mendorongku ke belakang dan menatapku dalam, “Kau sangat seksi, Hyuna..” ucapnya pelan, lalu menciumku dalam.

Benarkan? Dia mengucapkannya lagi.. hahahaha.. entahlah, mungkin ia hanya ingin membuatku senang. Tapi aku tidak peduli aku masih seksi atau tidak, selama dia hanya mencintaiku aku ingin mendengarnya setiap saat dari mulutnya.

 

==The End==

Advertisements

14 thoughts on “A Special Day

  1. SOSWEET^_^_^_^_^_^
    FIGHTING EON^,^
    JJANG BUAT EON dn yg tentuny 2Hyun jjang
    bacanya bikin aku ngerasa ada kupu2 diperut yg berterbangan^_^ heheheehheh
    mian ya eon kalau coment 2 kali^,^
    Ff 2hyun fighting!!!^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s