One Shoot

Smile Again

Smile Again

Cast:

  • Hyuna ‘4minute’
  • CL ‘2ne1’
  • Bora ‘Sistar’
  • Dujun ‘Beast’

Hyuna tersenyum lebar melihat langit cerah diluar bandara. “Wuaaa.. Koreaaaaa…” Soraknya riang dengan tangan terentang keatas. Ia menghela nafas dalam sambil memejamkan mata, lalu kembali membukanya untuk memandang sekitar. Ia segera berlari kecil bersama kopernya menuju halte bis terdekat. “Hmm.. Apa yang harus pertama kali kulakukan ya??” Gumamnya sambil berpikir ketika menunggu bisnya datang.

Sebuah jalanan.

Hyuna melangkah di trotoar sambil memandang sekitar. Ia sama sekali tidak tau harus kemana. Kakinya berhenti ketika melihat sebuah kafe, “Hmm.. Pertama-tama, isi perut dulu..” Ucapnya dan masuk ke kafe itu. Ia duduk di sebuah meja yang dekat jendela agar bisa melihat keluar.

“Permisi, ini silahkan pesanan anda..” Ucap seorang pelayan wanita sambil menyodorkan buku menu.

Hyuna mengambil buku menu dan membukanya. Matanya mengikuti daftar menu disana. Namun semakin lama ia membolak-balik, dahinya semakin berkerut.

Pelayan itu memandang Hyuna bingung, “Ada yang bisa saya bantu nona?”

Hyuna memandang pelayan tadi, “Mmm.. Ini.. Aku tidak terlalu baik membaca hangul, bisakah kau menjelaskannya?”

Pelayan itu mengangguk dan mulai menjelaskan apa yang ada dibuku itu.

Hyuna mengangguk mengerti, “Hmm.. Keure, aku pesan yang ini saja..” Ucapnya sambil menunjuk pesanannya.

“Ne, pesanan anda akan segera tiba nona..” Ucap pelayan itu dan pergi.

Hyuna memandang keluar jendela sambil menunggu. Ketika itu ia mendengar seseorang berlalu disebelahnya dan menoleh, ia terkesima melihat seorang gadis modis berambut blonde panjang indah berlalu dengan karisma tingga dan kacamata hitam. ‘Wuaaa.. Eonni itu keren sekali..’ Batinnya.

Dukk..

Hyuna menoleh ke sesuatu yang jatuh di lantai dan menemukan sesuatu, lalu melihat gadis tadi sudah mencapai pintu depan. “Omo.. Eoteokhe..” Gumamnya sambil bangkit untuk mengambil benda berupa flashdisk itu, lalu segera mengejar gadis tadi. Ia keluar dari kafe dan mengedarkan pandangannya, gadis tadi terlihat berjalan di trotoar meninggalkan kafe. “Cokiyo..” Panggilnya dan mengikuti sang gadis. “Cokiyo..” Panggilnya lagi karena gadis itu tak mendengar panggilannya. Ia mengulurkan tangan dan memegang lengan gadis itu. “Excuse me..

Gadis tadi berhenti dan memandang Hyuna, lalu melepaskan kacamata hitamnya. “Ne?”

“Cesonghamida, anda menjatuhkan ini..” Ucap Hyuna sambil menyodorkan flashdisk tadi pada gadis di depannya.

Gadis itu tertegun melihat flashdisk ditangan Hyuna dan segera memeriksa tas tangannya, kemudian memandang gadis di depannya sambil mengambil benda tadi. “Oh ne, gamshamida..” Ucapnya.

Hyuna tersenyum dan membungkuk sopan, lalu kembali ke kafe tadi. Ketika ia tiba di tempat duduknya tadi, ia bingung tidak melihat kopernya disana. “Hm? Dimana koperku?” Gumamnya sambil mencari-cari, lalu bertanya dengan orang di meja sebelah. Namun orang itu tak mengetahuinya. “Dimana ya? Apa aku lupa meletakkannya?” Gumamnya lagi. Ketika itu matanya melihat ke pintu keluar dan seorang pria yang mengenakan topi sedang mengendap-endap bersama kopernya. Matanya membesar dan segera mengejar pria itu, “Ya!! Koperku!!” Teriaknya.

Pria itu terkejut aksinya ketahuan dan segera berlari pergi.

Hyuna tak mau kehilangan dan terus mengejar, “Ya!! Berhenti!!” Serunya.

Orang-orang memandang kearah Hyuna namun tak ada yang menyadari apa yang membuat gadis itu berteriak.

Gadis si pemilik flashdisk yang sedang berhenti di sebuah stand majalah menoleh ketika mendengar teriakan Hyuna, apalagi gadis itu berlari melewatinya.

“YA!!” Teriak Hyuna yang mulai kehabisan nafas. Akhirnya ia menyerah karena tak sanggup berlari lagi. Bulir air matanya langsung berjatuhan menyadari koper berisi baju, uang, dompet, paspor dan segala yang bisa menjaminnya sudah raib ditangan pencuri. “Eoteokhe?? Na eoteokhe??” Tangisnya dan jatuh terduduk ke trotoar sambil terus menangis.

“Agassi, gwenchana?” Tanya seorang ibu yang berlalu.

Gadis berambut blonde tadi melihat Hyuna menangis di ujung sana dan melihat sekitar, orang-orang sudah menghampiri gadis itu. Jadi ia memasang kacamatanya lagi dan berjalan ke zebra cross untuk menyeberang. Namun pikirannya tetap tertuju pada Hyuna yang baru saja mendapat kemalangan. Kepalanya menoleh kearah Hyuna lagi. Orang-orang yang menghampiri gadis itu tampak hanya kebingungan tanpa melakukan sesuatu. Ia berusaha tidak memikirkannya dan melangkah maju, namun kakinya kembali terhenti dan mengerang kesal sebelum melangkah cepat menghampiri Hyuna.

“Agassi, kantor polisi tidak jauh dari sini. Kau juga bisa menghubungi seseorang disana..” Ucap seorang pria.

“Kenapa kau tidak sekalian panggil 911 dan berkata ada korban penculikan?” Tanya gadis tadi dengan kedua tangan tersilang di dada pada pria tadi dengan nada dingin.

Semua orang disana tertegun dan memandang gadis tadi bingung.

Hyuna yang masih duduk di trotoar dengan mata membengkak akibat menangis memandang gadis tadi bingung.

Gadis blonde itu menghampiri Hyuna dan mengulurkan tangannya, “Ikut aku, polisi akan membantumu..”

Hyuna memandang gadis itu bingung, namun tangannya terulur dan membalas uluran tangan gadis itu. Lalu bangkit dan berjalan bersamanya meninggalkan orang-orang yang masih berkerumun.

 

=Sebuah Gym=

Seorang pria tampan bertubuh tegap berlari di atas mesin treatmill sambil menonton berita di Tv di depannya. Ia menghela nafas dalam berita yang muncul kembali tentang kakak perempuannya yang merupakan seorang aktris terkenal, Yoon Bora. Kakaknya memang selalu menimbulkan kontroversi apa pun yang dilakukannya. Matanya melirik ponselnya diatas atas treadmill berbunyi, ia mengurangi kecepatan hingga berhenti. Lalu mengambil ponsel sambil menyeka keringat diwajahnya dengan handuk kecil dan mengangkat panggilan itu. “Yoboseo..”

This is Mr. Dujun Yoon?” Tanya seseorang di seberang.

Pria bernama Dujun itu tertegun, “Yes, I am..” Jawabnya.

I’m sorry sir for bothering you, this is maybe late in Korea. But this is so important. This is from Manhattan Girls High School..” Ucap wanita itu lagi.

Dujun mengerutkan dahi, “Oh.. Yes.. What’s wrong?

We’re really sorry sir to inform you by phone, but this is really emergency.” Ucap wanita itu menyesal, “Your niece, Cindy run away last night..

Dujun terkejut, “What?!! How can?!!” Serunya tak percaya.

We’re really sorry sir, can you come to Manhattan as fast as you can?” Tanya wanita itu lagi.

Dujun memijat batang hidungnya sambil frustasi.

“Sir?”

Yes!! Yes!! I’m going tonight!” Seru Dujun dan langsung memutuskan telepon. “Aissh! Apa yang mereka lakukan padanya?!” Gumamnya kesal dan langsung melangkah pergi.

 

=Bandara=

Dujun melangkah menuju boarding pass sambil terus berusaha menghubungi kakaknya, akhirnya ia berbicara pada Voice mail. “Noona, aku berangkat ke Manhattan malam ini. Keponakanku melarikan diri lagi dan kali ini ia berhasil..” Ucapnya dan memutuskan panggilan. Lalu berhenti di depan seorang petugas sambil memberikan passportnya.

Petugas wanita itu tertegun melihat wajah Dujun, lalu memandang ke sebuah iklan jeans di sisi dinding di seberangnya.

Dujun memandang kesana dan tertegun melihat photonya terpajang memamerkan sebuah celana jeans. Ia tak menyadari hal itu.

“Oh.. Kau model itu kan? Adik aktris Yoon Bora??” Tanya petugas itu.

Dujun tersenyum tipis sambil mengambil passportnya kembali, lalu melangkah masuk sambil menaikkan syal di lehernya agar menutupi dagu dan hidungnya.

 

=Kantor Polisi=

“Agassi, sebutkan nama dan alamatmu..” Ucap seorang polisi.

Hyuna terlihat bingung dan melirik gadis blonde di sebelahnya.

Gadis blonde itu memandang Hyuna bingung.

Petugas tadi juga memandang Hyuna bingung.

“Mmm..” Hyuna memandang polisi itu, “Namaku Kim Hyuna..” Ucapnya, “Aku baru tiba dari Manhattan tadi siang..”

Polisi itu tertegun mendengar jawaban Hyuna, “Agassi, apa kau datang untuk berlibur?”

“Mmmm.. Ne..” Jawab Hyuna pelan.

“Jadi kau tidak tinggal di Korea?” Tanya pria itu lagi.

Hyuna menggeleng, “Aku lahir dan besar di Manhattan..”

Polisi itu terlihat bingung mengomentari ucapan Hyuna, lalu memandang gadis blonde tadi. “Anda datang bersamanya?”

“Aku bertemu dengannya tadi dan membantunya, apa ada cara untuk menemukan barang-barangnya lagi?” Tanya gadis blonde itu.

“Kami akan meminta keterangan tentang pencuri dan barang yang hilang. Tapi karena dia masih di bawah umur dan tidak memiliki kartu identitas, apa anda bersedia menjadi walinya?” Tanya polisi tadi.

Hyuna memandang gadis blonde tadi menunggu jawaban. Jika gadis itu menolak, ia akan berakhir disana tanpa tau harus melakukan apa.

Gadis blonde itu memandang Hyuna, lalu kembali memandang polisi tadi. “Keure..”

Hyuna tersenyum senang.

“Baik, sebutkan nama dan pekerjaanmu.. Juga alamatmu..” Ucap polisi tadi sambil siap mengetik.

“Namaku Lee Chaerin. Aku seorang reporter dan aku tinggal di condominium diseberang jalan ini..” Ucap gadis bernama Chaerin itu.

Polisi itu terdiam dan memandang Chaerin tak percaya, “Oh.. Reporter? Omo.. Omo.. Kau yang membuka skandal ganja aktor rockie itu kan?” Tanyanya kagum.

Chaerin berdehem bangga dan menyibak rambutnya, “Ne, itu aku..”

Hyuna menatap Chaerin kagum.

 

=Condominium Lee Chaerin=

Chaerin menekan kombinasi kode dan membukanya, lalu melangkah masuk bersama Hyuna yang mengikutinya.

Hyuna memandang sekitar ruangan sederhana yang terlihat elegan itu kagum, “Wuaa.. Keren..”

Chaerin berhenti dan memandang Hyuna, “Aku tidak terbiasa membawa orang ke tempatku, tapi aku akan memberikan pengecualian untukmu saat ini..”

Hyuna tersenyum dan membungkuk sopan, “Ne, gamshamida eonni..”

“Mmm.. Disini hanya ada satu kamar. Aku juga tidak terbiasa berbagi tempat tidur dengan orang lain, jadi….”

“Aku bisa tidur di sofa..” Ucap Hyuna cepat dengan mata berbinar.

Chaerin diam sejenak dan mengangguk mengerti, “Keure, kau bisa mandi dulu disana.” Ia menunjuk kamar mandi di dekat dapur, “..Aku akan meminjamimu bajuku..” Ucapnya, lalu melangkah ke kamarnya.

“Ne, gamshamida..” Ucap Hyuna, lalu melangkah ke kamar mandi.

Malam itu.

Chaerin keluar dari kamar untuk minum, langkahnya terhenti melihat Hyuna terlelap di sofa dengan bantal dan selimut. Gadis itu terlihat lelah. Lalu meneruskan langkahnya menuju dapur.

 

=Manhattan Girls High School=

Dujun tak bisa mengatakan apa pun setelah mendengar penjelasan dari wali kelas mengenai keponakannya selama di sekolah yang memiliki asrama ini. Ia mengelus belakang kepalanya dan menyandarkan punggungnya ke dinding.

“Cindy tak pernah punya teman sejak masuk sekolah. Ia punya masalah dengan kepribadiannya, tuan Yoon. Selain karena dia satu-satunya anak keturunan Asia disini, mereka juga menjulukinya anak buangan karena tak pernah pulang saat liburan tiba. Apalagi setelah tahun lalu ia berusaha kabur namun tertangkap penjaga, semuanya jadi jahat padanya. Kami tak bisa membantu karena dia tak mau terbuka pada kami..”

Dujun sangat menyesal keponakannya harus berada di situasi seperti ini. Sekarang gadis itu entah berada dimana dan ia tak punya siapa pun untuk ditanyai. “Cindy, odiga? Kenapa kau tak menghubungiku?” Gumamnya khawatir.

Sementara itu, di sebuah restaurant mewah di Korea.

“Ne, kami dari Majalah Elle Korea akan mewawancarai seorang aktris besar yang selalu terlihat cantik, Yoon Bora..” Ucap seorang reporter.

Bora tersenyum, “Ne, annyeonghaseo..”

“Yoon Bora-ssi, ini sudah masuk tahun ke 10 karirmu. Bagaimana menurutmu sejauh ini?” Tanya reposter itu.

Bora tersipu malu, “Hmm.. Sebelumnya aku ingin berterima kasih pada orang-orang yang telah mendukungku, aku tidak mungkin bisa tiba sejauh ini tanpa mereka semua. Dan jika kau bertanya bagaimana perasaanku sekarang, aku benar-benar bersyukur bisa bertahan dan tetap di cintai masyarakat..” Ucapnya.

Reporter itu tersenyum kagum, “Lalu, bagaimana kau mengibaratkan fansmu?” Tanyanya.

“Fans?” Bora berpikir sejenak, “Aku tidak bisa mengatakan orang-orang yang selalu mendukungku adalah fans-ku, mereka adalah keluargaku. Orang terdekatku. Mereka yang membuatku seperti ini. Ibarat seperti seorang ayah yang mendudukkanku di pundaknya untuk melihat dunia, juga seorang ibu yang mengajariku banyak hal. Bahkan seperti saudara yang melindungi dan membantuku..” Jawabnya.

“Wuaaa.. Kau benar-benar luar biasa Yoon Bora-ssi..” Ucap reporter itu terkagum-kagum.

Bora tertawa malu, “Tolong jangan katakan itu, aku hanya manusia biasa..”

“Baiklah.. Kita lanjutkan pertanyaannya. Ini tentang adikmu, model Yoon Dujun. Kurasa fans pasti ingin tau bagaimana hubunganmu dengannya?” Tanya reporter itu lagi.

Bora tertegun sesaat, “Ne? Oh.. Adikku.. Hmmm.. Kami seperti kakak adik pada umumnya, selalu mengawasi satu sama lain dan tetap mengikuti perkembangan karir masing-masing.” Jelasnya dan tersenyum manis.

“Pasti kalian tidak bisa sering bertemu karena kesibukan masing-masing, apa kalian ada cara untuk tetap saling berhubungan?” Tanya reporter itu ingin tau.

“Tentu saja, kami selalu menghubungi satu sama lain. Saat salah satu dari kami menghubungi, pasti akan langsung di jawab walaupun dalam keadaan lelah atau pun sulit sekali pun..” Jawab Bora.

Van Bora.

“Aissh.. Kenapa mereka membahas adikku? Menyebalkan..” Gerutu Bora sendiri.

Manajer Bora, Lee Gikwang, memandang aktrisnya heran, “Tentu saja, adikmu juga terkenal. Tapi jawabanmu tadi bagus noona..” Ucapnya sambil tersenyum, lalu memandang layar i-podnya. “Sore ini kau akan melakukan photoshoot, jadi istirahatlah dulu..” Ucapnya.

“Ne, arasso..” Ucap Bora. Saat itu ponselnya berbunyi dan langsung melihat layarnya. Yoon Dujun. “Aissh.. Kenapa dia selalu menghubungiku?!” Serunya kesal dan memasukkan ponsel ke tas.

Gikwang hanya memandang Bora aneh, lalu kembali asik pada kegiatannya.

Sementara itu.

“Aissh!! Gijibe! Putrinya hilang dia tetap seperti ini!!” Ucap Dujun pada ponselnya, lalu memandang sekitar dan langsung masuk ke mobilnya.

 

=Condominium Chaerin=

Hyuna menghampiri Chaerin yang terlihat sudah bersiap untuk bekerja, “Eonni, pergi bekerja ya?”

“Ne, kau tetap di rumah. Petugas imigrasi akan menghubungiku jika passpor sementara-mu sudah jadi..” Ucap Chaerin dan melangkah menuju pintu.

“Eonni, boleh aku ikut denganmu? Aku tidak tau kapan bisa mengunjungi Korea lagi, jadi selagi menunggu aku bisa melihat-lihat kan..” Ucap Hyuna sambil mengikuti Chaerin.

Chaerin berhenti dan memandang Hyuna heran, “Aku akan ke kantor, disana bukan tempat untuk melihat-lihat..” Ucapnya, lalu memasang high heels favoritnya.

“Atau aku bisa bekerja disana.. Apa pun pekerjaannya..” Ucap Hyuna tak menyerah.

Chaerin kembali berhenti sebelum membuka pintu untuk menatap Hyuna. Ia terlihat hampir kehabisan kesabarannya.

Hyuna memasang ‘puppy-eyes’nya, “Aku bisa bersih-bersih, menyusun file, membeli kopi, juga mencatat apa pun yang kau inginkan..”

Sebelah alis Chaerin terangkat, “Darimana kau tau tentang semua itu?”

“Dari Drama korea yang tonton di Manhattan..” Jawab Hyuna masih dengan ‘puppy-eyes’nya.

Chaerin memutar bola matanya kesal dan melangkah keluar, “Bagaimana mungkin aku memperkerjakan anak di bawah umur? Itu pelanggaran hukum dan aku bisa di penjara..”

Hyuna mengikuti Chaerin terus, “Gwenchana eonni, aku tidak bekerja sampai larut malam. Itu masih di perbolehkan.. Ne.. Ne..” Bujuknya.

Chaerin berhenti dan menatap Hyuna kesal, “Kembali masuk atau aku berpikir mengirimmu ke kantor imigrasi sekarang juga?!”

Hyuna tertegun dan mengangguk cepan, ia memperhatikan Chaerin berbalik dan melangkah kembali ke pintu. Namun ia berhenti melihat pintu itu tertutup, lalu memandang gadis blonde itu. “Lee Chaerin eonni..” Panggilnya.

Chaerin berhenti dan menatap Hyuna kesal, “Apalagi?!”

“Ini.. Pintunya terkunci..” Ucap Hyuna sambil menunjuk pintu.

“Aissh..” Gumam Chaerin kesal dan kembali menghampiri pintu untuk menekan kombinasi kode dan memandang Hyuna, “Masuk dan tunggu saja di dalam.” Tegasnya, lalu melangkah pergi.

Hyuna mengangguk mengerti dan melangkah masuk.

 

=Manhattan=

Dujun mendatangi kantor imigrasi untuk memastikan keponakannya menggunakan passport atau tidak.

Yes, sir. There is the name of Cindy Kim in our list and her information just same as what you gave it to me before..(Benar tuan. Ada nama Cindy Kim di daftar kami dan informasinya sama seperti yang anda berikan sebelumnya padaku)” ucap pria di meja informasi.

Dujun memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya, lalu kembali memandang pria itu. “Where was she headed?(Kemana tujuannya?)

Pria tadi memeriksa di layar komputernya dan kembali memandang Dujun, “She headed to South Korea, sir.(Dia menuju Korea Selatan, tuan)

Dujun tertegun, “South Korea?

 

=Kantor Chaerin=

“Jadi, apa yang akan menjadi top hits-mu sekarang, sanbae?” Tanya Hyunseung, junior Chaerin sekaligun photographernya.

Chaerin tersenyum memikirkan ide yang muncul di kepalanya, “Aku akan membongkar wajah malaikat Yoon Bora..” Ucapnya penuh percaya diri.

Hyunseung tertegun mendengar ucapa Chaerin dan menatapnya tak percaya, “Sanbae, jangan bercanda. Kau bisa mendapat masalah jika melakukannya..”

Chaerin menatap Hyunseung kesal, “Mwo? Kau meragukanku?”

“Aniya, aku tau kau pasti bisa. Tapi dia itu aktris yang di cintai masyarakat, jika kau menjatuhkannya. Kau akan mendapat hujatan yang sangat besar..” Ucap Hyunseung memperingati.

Chaerin tersenyum evil dan tertawa kecil, “Itu gunanya ada wanita tangguh sepertiku, ulasan, hujatan, bahkan ancaman tidak akan menjatuhkanku..” Ucapnya penuh percaya diri.

Hyunseung menatap Chaerin aneh, “Ne, arasso.. Reporter devil..” Ucapnya.

Chaerin menatap Hyunseung, “Mwo?!”

“Ne? Ani.. Aniya..” Jawab Hyunseung, “Aku akan menyiapkan kameraku..” Ucapnya sambil bangkit dan langsung pergi.

Chaerin mendengus kesal dan mulai mempersiapkan strateginya. Sebenarnya ia baru saja mendapatkan informasi dari seseorang yang juga mau kedok Yoon Bora yang berwajah malaikat terkuak.

-Yoon Bora memiliki seorang putri remaja, dia melahirkannya saat masih di Amerika di usia 16 tahun.-

Chaerin tersenyum membaca e-mail seseorang itu, lalu menulis sesuatu di buku agendanya. “Hyunseung, bawakan aku kopi..” Ucapnya.

Hening…

Chaerin mengangkat wajah dan tak melihat siapa pun disana. Ia menghela nafas dalam sambil meletakkan penanya. “Sepertinya aku memang butuh asisten..”

 

=Condominium Chaerin=

Hyuna duduk di sofa sambil menonton tv. Ia merasa bosan menonton siaran luar dan menggantinya dengan siaran korea. Sebuah iklan make up yang menggunakan Bora sebagai modelnya muncul. Ia menghela nafas dalam dan kembali menggantinya. Di siaran selanjutnya, sebuah iklan jeans muncul. Bibirnya membentuk senyuman melihat wajah tampan Dujun dan pria itu terlihat benar-benar berkarisma. Senyumanya menghilang mendengar pintu terbuka dan langsung mematikan tv.

Chaerin melangkah masuk dengan wajah lelahnya.

“Annyeonghaseo eonni, ingin kubuatkan sesuatu?” Tanya Hyuna.

“Ne, buatkan aku teh herbal..” Ucap Chaerin sambil berlalu ke kamarnya.

“Ne!” Ucap Hyuna bersemangat dan menuju dapur untuk membuatkan teh herbal.

Satu jam kemudian.

Chaerin keluar dari kamar mandi dengan baju handuk dan rambut yang di balut handuk kecil. Saat hendak menghampiri lemari, kakinya berhenti melihat secangkir teh sudah tersedia di mejanya. Ia memandang pintu kamar yang tertutup, lalu menghampiri meja. Kemudian mencicipi tehnya, seulas senyuman muncul di bibirnya. “Hmm.. Dia tidak buruk..”

 

=Bandara Incheon=

“Aissh!! Ya!! Angkat panggilanku!! Cindy ada di Korea sekarang! Jangan salahkan aku jika dia tiba-tiba muncul di depan publik dan membuka rahasiamu itu!!” Seru Dujun pada telepon yang sedang merekam voice mail, lalu memutuskan teleponnya. “Gadis gila ini..” Gumamnya kesal. Ia tertegun menyadari orang-orang memandangnya aneh karena marah-marah sendiri. Ia tersenyum kaku dan langsung melangkah pergi sambil menutupi wajahnya.

 

=Keesokan Paginya=

“Eonni sudah bersiap?” Tanya Hyuna sambil mengikuti Chaerin ke pintu depan.

“Ne, cepat kenakan sepatumu..” Ucap Chaerin sambil mengenakan high heelsnya.

“Ne? Waeyo?” Tanya Hyuna ingin tau.

Chaerin memandang Hyuna, “Asisten Kim, kita tidak punya banyak waktu..” Ucapnya, lalu melangkah duluan.

Hyuna tertegun sesaat, lalu tersenyum lebar. “Eonni, tunggu aku..” Panggilnya sambil mengenakan sepatu.

 

=Kantor Majalah=

Hyuna tersenyum di depan karyawan lain di kantor sebuah majalah skandal itu.

“Ini Kim Hyuna, dia akan menjadi asistenku untuk sementara waktu ini. Jadi perlakukan dia dengan baik..” Ucap Chaerin pada karyawan lain.

“Annyeonghaseo, Kim Hyuna imnida..” Ucap Hyuna sambil membungkuk sopan.

Karyawan yang terdiri dari seorang gadis bernama Hong Yura, pria bernama Yong Junhyung dan Hyunseung itu memandang Hyuna tak percaya.

“Sanbae, kau memperkerjakan asisten? Wae?” Tanya Hyunseung tak mengerti.

“Aku tak bisa mengurus segalanya sendiri, jadi jangan banyak bertanya lagi..” Ucap Chaerin, “Asisten Kim, khaja..” Ia melangkah duluan menuju ruangannya.

“Annyeonghaseo..” Ucap Hyuna sopan dan mengikuti Chaerin.

Semuanya memperhatikan kedua gadis berbeda usia itu tak mengerti.

“Apa yang terjadi pada Lee Timjangnim? Kenapa dia semakin aneh begitu ya?” Tanya Yura tak mengerti.

“Ahh.. Sudahlah.. Dia memang sudah aneh sejak dulu. Dia kan devil reporter. Ayo kembali bekerja..” Ucap Junhyung sambil kembali ke meja kerjanya.

“Oh ya, sudah ada orang yang menelepon tentang artikel yang di buat Lee Chaerin sanbae?” Tanya Hyunseung ingin tau.

“Ne? Tentang model Yoon Dujun? Tentu saja! Aku mendapat ratusan sejak kemarin. Jika aku tidak mencabutnya, mungkin aku sudah gila!!” Ucap Yura kesal.

“Hmm.. Sebentar lagi kita semua akan gila..” Ucap Hyunseung santai.

“Waeyo?” Tanya Junhyung ingin tau.

“Lee Chaerin sanbae percaya diri untuk membuka kedok wajah malaikat aktris Yoon Bora..” Jawab Hyunseung.

Mata Yura dan Junhyung melotot, “Mwo?!”

“Aissh.. Habislah kita jika dia benar-benar melakukannya..” Ucap Yura kesal.

Hyunseung mengangkat bahunya tak tau.

Sementara itu.

Hyuna memperhatikan ruangan Kerja itu kagum, dia hanya melihatnya melalui tv dan ini sangat keren.

“Asisten Kim, kau pernah bekerja sebelumnya?” Tanya Chaerin sambil tetap melakukan kegiatannya.

“Ani, ini pertama kalinya. Aku selalu penasaran bagaimana rasanya.. Di drama yang selalu kutonton, biasanya terlihat seperti sangat gugup hingga yang merasakannya akan muntah. Tapi aslinya sangat menyenangkan..” Jawab Hyuna dan duduk di meja di sebelah meja Chaerin dengan senyuman lebarnya.

Chaerin memandang Hyuna heran, “Sejak kemarin kau selalu berkata kau menonton drama. Apa yang sering kau tonton?” Tanyanya.

Hyuna menyebutkan beberapa judul drama yang pernah ia tonton.

Dahi Chaerin berkerut, “So, kau fans Yoon Bora?” Tanyanya karena semua judul itu Yoon Bora adalah aktris utamanya.

Hyuna tertegun dan wajah cerianya luntur perlahan, lalu memandang kebawah. “Ani.. Aku tidak suka Yoon Bora..” Jawabnya pelan.

Chaerin menahan tawa, “jika kau tidak suka kenapa kau terus menonton dramanya??”

Hyuna memandang Chaerin, “Karena aku tidak suka, aku terus melihatnya..”

“Maksudmu, kau ingin menemukan kesalahannya dan membahasnya di internet?” Tanya Chaerin menahan tawa.

Hyuna tersenyum lucu, “Ne..” Jawabnya asal.

Chaerin tertawa kecil, “Aku mulai menyukaimu..” Ucapnya, “Bawakan aku kopi..” Ucapnya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.

“Oke..” Hyuna bangkit dan langsung pergi.

Chaerin tersenyum melihat semangat Hyuna.

 

=Studio Pemotretan=

“Ne, dia telah tiba di Korea. Tapi aku tidak tau tanggal pastinya. Namanya Cindy Kim, berusia 17 tahun. Berasal dari Manhattan..” Jelas Dujun pada seseorang di telepon, “Ne, terima kasih..” Ucapnya dan telepon terputus.

“Ada seseorang yang hilang?” Tanya Jina, stylist + manajer Dujun sambil menyodorkan pakaian yang harus di kenakan pria itu.

Dujun menghela nafas dalam sambil mengambil pakaian tadi, “Hanya seseorang..” Ucapnya dan masuk ke ruang ganti.

Jina mengerutkan dahi dan bergerak duduk ke kursi.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

“Asisten Kim, tolong rapikan ruang kerja ini. Aku akan pergi sebentar..” Ucap Chaerin sembari bangkit dan melangkah pergi.

“Ne, Timjangnim!” Jawab Hyuna bersemangat, lalu mulai merapikan file-file di meja, membersihkan debu di lemari dan komputer..

“Ha.. Ha.. Hatcyuuuu!!” Hyuna bersin karena debu yang mengganggu hidungnya. Ia mengelus hidung sejenak dan kembali membersihkan sambil tersenyum.

Akhirnya ia menghampiri meja kerja Chaerin dan mulai membersihkan file-file disana. Komputer masih hidup dan menampilkan layar folder, ia berhenti bergerak ketika melihat sebuah folder berjudul ‘Yoon Bora’. Ia memandang sekitar memastikan tidak ada siapa pun, lalu membukanya. Ada beberapa file disana, ia kembali membukanya dan membaca apa yang ada disana. Ia tertegun.

 

=Sebuah Salon=

“Silahkan nona..” Ucap seorang pegawai salon pada Chaerin.

Chaerin tersenyum dan bergerak duduk.

Gadis disebelah Chaerin yang sedang melakukan perawatan rambut yang tak lain adalah Bora itu dalam hati memutar bola mata dan menggerutu karena hari sialnya. Namun bibirnya membentuk senyuman dan memandang gadis di sebelahnya, “Omo, reporter Lee.. Annyeonghaseo..”

Chaerin memandang Bora dan tersenyum, “Omo.. Yoon Bora-ssi, annyeonghaseo. Aku tidak tau kau perawatan disini juga..” Ucapnya. Sebenarnya ia sengaja mencari tau.

“Ne, aku selalu perawatan disini. Pelayanannya sangat baik..” Ucap Bora ramah.

Chaerin tersenyum, ketika itu pegawai yang akan melakukan perawatan pada rambutnya datang.

“Oh ya, aku sudah membaca artikelmu tentang adikku..” Ucap Bora memulai.

Chaerin tersenyum manis, “Cesonghamida, aku hanya menulis dari apa yang kulihat. Apa hubungan kalian benar-benar tidak baik?”

Bora tertawa kecil, “Tentu saja kami hubungan kami baik, tapi saat itu sedang beradu argumen saja..”

‘Beradu argumen? Dasar evil!’ Batin Chaerin, namun masih tetap tersenyum lebar. “Hmm.. Saudara memang sering seperti itu..”

Bora ikut tersenyum lebar, ‘Reporter devil, kau pikir bisa mengorek informasi dariku ha?!’ Batinnya sinis.

Ponsel Chaerin berbunyi, “Sebentar..” Ucapnya dan mengangkat panggilan itu. “Yoboseo..”

“Annyeonghaseo, Lee Chaerin-ssi.. Kami dari kantor imigrasi..” Ucap seorang pria di seberang.

“Ne, apa passportnya sudah selesai?” Tanya Chaerin.

Bora melirik Chaerin karena gadis itu menyebut ‘passport’.

“Tentang hal itu, kami tidak bisa menemukan data atas nama Kim Hyuna dari Manhattan.. Dari pihak mereka juga tak bisa memberikan informasi jika data yang diberikan tidak lengkap..” Ucap petugas itu memberitau.

Chaerin tertegun, “Ne? Apa maksudmu?”

“Kim Hyuna-ssi harus memberikan datanya yang benar agar kami bisa membuatkan passport sementara untuknya..” Ucap petugas itu.

“Oh.. Ne, aku akan segera menghubungimu lagi..” Ucap Chaerin dan memutuskan telepon.

“Waeyo Reporter Lee? Kau akan berpergian?” Tanya Bora

Chaerin tersenyum simpul, “Aniya, aku membantu seseorang.” Jawabnya.

 

=Kantor Majalah=

Hyuna menghampiri Hyunseung yang sedang membersihkan lensa.

Hyunseung memandang Hyuna dan tersenyum, “Hyuna-ssi, waeyo?”

Hyuna tersenyum, “Annyeonghaseo..”

“Bagaimana pengalamanmu menjadi asisten Lee Chaerin sanbae?” Tanya Hyunseung dengan nada bercanda.

Hyuna tertawa kecil, “Mmm.. Masih agak kaku.. Tapi menyenangkan..” Ucapnya.

Hyunseung tersenyum, “Semoga kau betah..”

“Ne..” Jawab Hyuna lagi. Suasana menjadi hening sesaat, “Mmm.. Sanbae, kudengar kemarin Timjangnim membicarakan tentang aktris Yoon Bora.. Apakah ada berita baru tentang aktris itu?”

“Ne, Lee Chaerin sanbae berkata akan mendapatkan berita besar dengan membuka topeng malaikat aktris Yoon Bora. Ahhh.. Kasihan sekali aktris secantik itu akan di permalukan..” Ucap Hyunseung.

“Mmm.. Memangnya ada berita apa? Sepertinya selama ini tidak ada berita buruk apa pun..” Ucap Hyuna bingung.

“Itulah mengapa dia di juluki reporter devil.. Dia selalu membuat berita mengerikan..” Ucap Hyunseung.

“Hmm.. Begitu..” Ucap Hyuna sambil mengangguk mengerti.

“Wae? Kau fans Yoon Bora ya?” Tebak Hyunseung dengan mata menyipit.

“Ne? A-aniya.. Aku hanya penasaran..” Jawab Hyuna dan tertawa kecil.

 

=Condominium Chaerin=

“Eonni, makan malam sudah selesai..” Panggil Hyuna dari celah pintu kamar.

“Ne, aku akan segera keluar..” Ucap Chaerin.

Hyuna menutup pintu lagi dan berlari kecil ke dapur untuk menunggu Chaerin keluar. Tak lama gadis blonde itu keluar dengan rambut terkuncir satu dan duduk di depannya.

Chaerin memandang masakan Hyuna tak percaya, lalu memandang alat masaknya yang tertata rapi dan memandang gadis di depannya lagi. “Kau benar memasaknya?”

“Ne..” Jawab Hyuna sambil mengangguk, “Cobalah eonni..”

“Mmm.. Kupikir kau bilang kau tinggal di asrama sebelumnya? Bagaimana kau belajar memasak seperti ini?” Tanya Chaerin bingung.

Hyuna tersenyum canggung, “Ne, aku tidak pernah punya teman. Jadi setiap hari aku selalu membantu bibi di kafetaria memasak makan siang.. Hehehe..” Jawabnya sambil mengelus belakang kepalanya.

Chaerin mengambil sumpit sambil memandang Hyuna heran, “Ne? Kenapa kau tidak punya teman? Kupikir kau sangat aktif..”

“Mmm.. Tidak juga..” Jawab Hyuna pelan.

“Oh ya..” Chaerin menatap Hyuna serius, “Apa kau benar-benar dari Manhattan?”

Hyuna tertegun mendengar pertanyaan Chaerin, “Ne? Benar, waeyo eonni?”

“Tapi pihak imigrasi berkata tidak menemukan datamu dari Manhattan dan mereka berpikir kau tidak memberikan data yang benar. Kenapa begitu?” Tanya Chaerin.

Hyuna memandang kebawah dan menunduk menyesal.

Chaerin menatap Hyuna tak percaya, “Kim Hyuna, kau membohongiku?”

Hyuna tak mengatakan apa pun dan hanya menunduk.

Chaerin mendengus kesal sambil meletakkan sumpitnya di meja, lalu melipat kedua tangannya di dada. “Kau benar-benar Kim Hyuna, berapa usiamu?! Sudah berani berbohong padaku dan polisi! Kau bisa masuk penjara karena ini kau tau?!” Serunya kesal.

“Cesonghamida eonni..” Ucap Hyuna dengan suara bergetar.

Chaerin memutar bola matanya kesal dan bangkit, lalu melangkah ke kamarnya.

Bulir air mata Hyuna berjatuhan ke pipinya. Ia mengambil sumpit dan mulai memakan makanannya sendiri sambil menyeka air matanya yang tak bisa berhenti.

Malam itu.

Hyuna bergerak bangkit duduk di sofa dan memandang ke pintu kamar Chaerin yang selalu tertutup sejak tadi. Ia menghela nafas dalam dan memandang telepon rumah dimeja.

Apartemen Mewah Bora.

Bora yang sedang membaca buku naskah di tempat tidur menoleh mendengar ponselnya berbunyi, ia mengambil benda itu dan melihat layarnya. “Hm? Nomor siapa ini?” Tanyanya sendiri, lalu mengangkat panggilan itu. “Yoboseo..”

“….”

Bora memandang layar memastikan panggilan itu masih berlangsung, lalu kembali menempelkannya ke telinga. “Yoboseo..”

“….”

“Yoboseo! Kau ingin membuat lelucon ha?!” Seru Bora kesal.

“Eomma..”

Bora tertegun sesaat, “Cindy?”

“Ne..”

“Cindy, waekeure?” Tanya Bora pelan. Ia bisa mendengar gadis itu mulai terisak.

“Eomma, kenapa tidak pernah mengunjungiku?” Tanya gadis itu dengan suara bergetar.

Bora menghela nafas dalam dan menutup buku naskahnya, “Miane, eomma sibuk Cindy..”

Gadis muda itu diam sejenak, “Apa eomma tidak menyayangiku? Apa jika aku tidak ada eomma akan baik-baik saja?”

Bora tertegun, “Cindy-a, kenapa kau berkata seperti itu? Mana ada ibu yang tidak menyayangi putrinya?”

“Eomma tidak..” Jawab gadis itu.

Bora menghela nafas dalam sambil mengelus dahinya, “Cindy-a, eomma akan kesana musim dingin ini. Kita akan menghabiskan waktu bersama.. Kau ingin berlibur ke Paris kan? Kita bisa melihat Effiel bersama. Juga berjalan-jalan ke Eropa..”

“Gwenchanayo eomma, orang-orang sudah tau aku anak buangan. Jadi tidak masalah lagi bagiku..” Ucap gadis muda itu sedih.

“Aniya, kau bukan anak buangan. Kau putri eomma..” Ucap Bora. ” Dengar Cindy, eomma akan menyelesaikan pekerjaan eomma secepatnya dan pergi kesana untuk bersamamu. Ne?”

Terdengar helaan panjang di seberang, “Kita bisa lihat apa eomma bisa datang..”

Bora bisa mendengar kekecewaan dari gadis di seberang, “Sampai jumpa, sayang..”

“Ne, eomma..” Ucap gadis itu pelan, lalu telepon terputus.

Bora memandang layar ponselnya sedih, lalu membuka folder photo dan memandangi sebuah photo dirinya bersama seorang gadis berusia 5 tahun yang diambil belasan tahun lalu. “Eomma miane, Cindy..”

Sebuah Acara Peluncuran Brand Terkenal.

Dujun tersenyum pada para wartawan yang mengarahkan kamera padanya ketika berjalan di karpet merah menuju tempat acara. Ia berhenti sejenak dan melambai pada beberapa fans yang memanggilnya, lalu kembali melangkah masuk ke acara yang di hadiri orang penting di dunia Hallyu ini. Ia di undang karena telah menjadi ambasador selama hampir 3 tahun dan membuat namanya melambung tinggi karena itu.

Jina yang sudah berada di dalam menghampiri Dujun, “Hello Mr. Yoon.. Sudah siap bertemu model International?”

Dujun menghela nafas dalam dan menatap Jina kesal, “Aku sudah berkata moodku sedang tidak baik, kenapa…..”

“Omona.. Ini model favorit kita..” Ucap seorang wanita, pemilik brand baru ini di belakang Dujun.

Dujun menghela nafas dalam dan tersenyum lebar sambil berbalik, “Ms. Yang.. Lama tak bertemu denganmu..” Ucapnya.

Ms. Yang tersipu dan memeluk Dujun sekilas, “Hmm.. Kau semakin tampan sejak terakhir aku bertemu denganmu..”

Dujun tertawa kecil, “Anda yang terlihat semakin cantik, Ms. Yang..”

Jina tersenyum sambil melirik Dujun yang tidak bisa berkutik.

Acara itu berjalan membosankan seperti biasa, Dujun harus tersenyum atau pun tertawa bersama tamu lainnya agar terlihat ramah dan menyenangkan. Padahal sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan dimana keponakannya sekarang.

Dujun merasakan ponselnya berbunyi dan mengeluarkannya, dari nomor yang tak ia kenal. “Maaf, aku harus menjawab panggilan sebentar..” Ucapnya dan menjauh dari kebisingan pesta. “Ne, Yoboseyo..”

“Selamat malam Tuan, kami dari kepolisian Korea..” Ucap seorang pria diseberang.

“Ne, ada yang bisa kubantu?” Tanya Dujun, ia diam sejenak menunggu jawaban. Tak lama matanya membesar, “Ne! Aku akan segera kesana!!”

 

=Kantor Polisi=

Mata Dujun membesar melihat data di dalam passport ditangannya yang tertulis Cindy Kim. Juga ada photo keponakannya disana. Ia segera memeriksa koper dan segala barang disana.

“Kami menangkap pencurinya kemarin dan menemukan koper ini masih utuh. Setelah kami mencari tau tentang gadis bernama Cindy Kim ini, kami menemukan bahwa anda adalah wali sahnya. Apa hubungan anda dengan gadis ini?” Tanya seorang polisi.

Dujun memandang polisi itu sejenak dan kembali memandang passport Cindy Kim, “Dia keponakanku.. Seharusnya dia ada di Manhattan, tapi dia diam-diam kembali ke Korea..”

“Jadi, anda kehilangan jejaknya tuan?” Tanya polisi itu.

Dujun memandang polisi itu, “Ne.. Bisakah aku membuat laporan orang hilang? Dia sudah hampir seminggu tak ada kabar, aku sangat takut sesuatu terjadi padanya. Dia tidak tau Korea dan bisa saja di culik atau mendapat kejahatan lainnya..”

“Ne, anda bisa mengisi berkas untuk orang hilang..” Ucap polisi itu memberitau.

Dujun bangkit dan menghampiri bagian yang menangani pencarian orang hilang.

“Apa hanya ini informasi yang bisa anda berikan pada kami, Tuan?” Tanya gadis berseragam polisi itu setelah Dujun menceritakan ciri-ciri Cindy.

“Ne..” Jawab Dujun, gadis itu mengangguk mengerti.

“Baiklah, kamu akan langsung melakukan pencarian tuan..” Ucap gadis itu.

“Ne, gamshamida..” Ucap Dujun sambil bangkit dan membungkuk sopan, namun sebelum beranjak pergi ia berhenti dan kembali memandang gadis itu. “Mmm.. Sebenarnya, ada satu lagi..”

Gadis itu memandang Dujun, “Ne?”

“Mmm.. Aku tidak yakin, tapi mungkin dia menggunakan nama Koreanya..” Ucap Dujun ragu.

“Ne? Siapa nama Koreanya Tuan?” Tanya gadis itu.

“Kim Hyuna…” Jawab Dujun.

 

=Keesokan Harinya=

Hyuna langsung menunduk begitu melihat Chaerin keluar dari kamar.

Chaerin berhenti dan menatap Hyuna sejenak, lalu memalingkan wajahnya. “Cepatlah, nanti aku terlambat..” Ucapnya sambil melangkah ke pintu depan.

Hyuna melirik Chaerin dan mengikuti gadis itu.

Kantor Majalah.

Chaerin menghidupkan komputer dan mencari salah satu foldernya. Namun tiba-tiba komputer itu mati begitu saja. Ia terkejut dan mengerutkan dahi bingung, “Aissh.. Waekeure?” Tanyanya, lalu menghidupkan komputernya lagi. Namun begitu masuk ke dekstop, yang terlihat hanya shortcut dan tak ada data yang bisa terbuka. “Oh!! Waekeure?! Aisshh!! Asisten Kim!! Asisten Kim!! Kim Hyuna!!” Panggilnya.

Hyuna langsung berlari menghampiri Chaerin, “Ne, Timjangnim.. Waekeure?”

Chaerin berdiri dan menatap Hyuna tajam, “Apa yang telah kau lakukan dengan komputerku?!” Serunya.

Hyuna terkejut, “Ne? A-aku tidak melakukan apa pun..” Jawabnya sambil menggeleng.

Hyunseung, Yura dan Junhyung masuk ke ruang kerja Chaerin karena mendengar gadis itu berseru.

“Sanbae, wakeure? Kenapa kau berseru kencang sekali?” Tanya Hyunseung bingung.

Chaerin melipat kedua tangannya di dada dan menatap yang lainnya tajam, “Siapa yang menggunakan komputerku tanpa izin?!!” Serunya.

“Ne? Kenapa komputermu Timjangnim?” Tanya Yura.

“Semua file-ku rusak! Aku tidak bisa membuka satu pun!!” Ucap Chaerin kesal.

Junhyung menghampiri komputer Chaerin, “Aku akan memeriksanya..” Ucapnya.

Chaerin bergeser dan membiarkan Junhyung memeriksa komputernya.

Semuanya memperhatikan Junhyung serius.

“Mmm.. Timjangnim, komputermu terkena virus. Ini yang membuat semua file-mu rusak..” Ucap Junhyung memberitau.

Chaerin mengeram kesal, “Aissh.. Apa data-dataku bisa diselamatkan?”

Junhyung memandang Chaerin ngeri dan menggeleng.

“Arrrgghh!!!” Seru Chaerin kesal dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

Hyuna menunduk ketika Chaerin berlalu di sebelahnya.

“Omo.. Pasti kita akan mendapat masalah karena suasana hati Timjangnim buruk..” Ucap Yura sebal.

“Ahh.. Kenapa komputernya bisa dimasuki virus seperti ini?” Ucap Junhyung tak mengerti.

Hyunseung memandang Hyuna yang terlihat bingung, lalu memegang bahunya.

Hyuna memandang Hyunseung.

“Gwenchana, Lee Chaerin sanbae memang sering begitu..” Ucap Hyunseung membesarkan hati Hyuna.

Hyuna mengangguk pelan dan tersenyum tipis, “Ne..”

 

=Lokasi Syuting=

“Oke, istirahat 20 menit..” Ucap sutradara.

“Ayo istirahat dulu..” Ucap Gikwang sambil membimbing Bora ke van untuk beristirahat.

Bora masuk ke Van dan menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam, “Ahhh.. Melelahkan..” Ucapnya kesal.

Gikwang menutup pintu van dan memandang Bora, “Jangan menggerutu, nanti kerutan di wajahmu semakin terlihat..”

Bora membuka mata dan menatap Gikwang kesal, “Aissh.. Diamlah..” Ucapnya.

Tok! Tok! Tok!

Gikwang dan Bora memandang ke jendela, mereka mengerutkan dahi melihat Dujun berdiri diluar.

“Sedang apa dia disini?” Tanya Bora.

“Kita akan segera tau..” Gikwang membuka pintu van.

Dujun tersenyum, “Annyeonghaseo, lama tak bertemu Manajer Lee..” Sapanya.

“Ne, annyeonghaseo..” Sapa Gikwang.

Bora menatap Dujun curiga, “Kenapa kau kemari?”

Dujun menatap Bora kesal, lalu kembali tersenyum pada Gikwang. “Maaf manajer Lee, bisakah aku berbicara pada kakakku sebentar?”

“Ne? Oh.. Keure.. Silahkan..” Ucap Gikwang sambil beranjak keluar.

Dujun melangkah masuk dan menutup pintu.

Bora menatap Dujun aneh, “Wae? Apa yang ingin kau katakan?”

Dujun diam di tempatnya tanpa memandang Bora, “Kau tidak mendengar semua voice mail-ku?”

“Apa lagi? Tagihanmu tak tertutupi? Atau sekarang kau berhutang pada renternir? Apa aku malaikat pelindungmu?” Tanya Bora dan terus mengomel menyampaikan kekesalannya.

Dujun mengeluarkan passport Hyuna dari sakunya dan langsung membuka benda itu tepat di depan wajah Bora.

Bora terdiam melihat photo Hyuna dan membaca informasi disana kaget, “Passport Cindy?” Ucapnya tak percaya sambil mengambil benda itu, lalu memandang Dujun. “Kenapa kau memiliki ini? Apa dia bersamamu sekarang?! Kenapa kau tidak memberitauku?!”

Dujun diam sejenak, berusaha menahan luka yang terasa dihatinya. Lalu menatap kakaknya kecewa, “Dia melarikan diri dari asramanya seminggu lalu dan kembali seorang diri ke Korea, lalu seseorang merampoknya..”

Mata Bora membesar, “Mwo?! Lalu, dia baik-baik saja kan?!”

“..dia menghilang..” Jawab Dujun.

“Ne?! Ohh.. Cindy-a..” Ucap Bora khawatir sambil memandang passport gadis itu. Ia tertegun dan kembali memandang Dujun, “Ooh.. Semalam dia menghubungiku..”

Dujun menatap Bora kaget, “Mwo?!! Apa katanya?! Bagaimana ia menghubungimu?!”

Bora langsung mengeluarkan ponsel dan mencari panggilan masuk semalam, “Ini! Dia menghubungiku dengan nomor ini!”

Dujun memperhatikan nomor itu sesaat, “Ini telepon rumah, aku akan mencarinya..”

 

=Condominium Chaerin=

Hyuna duduk disudut ruangan sambil melirik Chaerin yang terlihat sangat kesal di sofa, ia menunduk dan mengelus kuku ibu jari kakinya.

Chaerin menghela nafas kesal dan menatap Hyuna, “Sampai kapan kau akan duduk disana?!”

Hyuna terkejut mendengar Chaerin berbicara dan menatap gadis itu kaget, “Ne?”

“Duduk di sofa dan berbicara padaku..” Ucap Chaerin setengah memerintah.

Hyuna beringsut bangkit dan melangkah ke sofa, lalu duduk dengan hati-hati.

Chaerin menatap Hyuna tanpa ekspresi, “Bagaimana pun caranya aku akan memberikanmu passport sementara dan mengembalikanmu ke Manhattan atau kemana pun kau berasal! Arasso?!” Tegasnya.

Hyuna menundun dan mengangguk pelan. Namun bulir air matanya mulai berjatuhan lagi.

Chaerin terdiam sesaat melihat gadis itu menangis, “Kenapa kau menangis?”

Hyuna menyeka air matanya yang terus berjatuhan sambil tersenyum sedih, “Aniya, aku tidak menangis. Ini karena sesuatu masuk ke mataku..” Ucapnya pelan.

Chaerin menghela nafas dalam dan memalingkan wajahnya, lalu bangkit dan melangkah ke kamar.

Hyuna berusaha keras menahan air matanya namun tidak bisa.

 

=Kantor Majalah=

Hyuna melirik Chaerin yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya di meja, “Timjangnim..” Panggilnya pelan.

“Wae?” Tanya Chaerin tanpa memalingkan perhatiannya.

“Mmm.. Aku akan mengambilkan kopi..” Ucap Hyuna pelan.

“Hmm..” Gumam Chaerin setuju.

Hyuna bergerak bangkit dan melangkah keluar dari ruangan itu.

Sementara itu.

Dujun memarkirkan mobilnya dan melangkah cepat memasuki gedung perkantoran itu. Ia melewati coffe shop di dekat pintu masuk dimana Hyuna membeli pesanan karyawan yang lain. Ia terus melangkah hingga mencapai kantor majalah di lantai dua.

Semuanya tertegun melihat Dujun muncul.

“Oh.. Model Yoon Dujun..” Ucap Yura tak percaya.

“Dimana reporter Lee Chaerin?” Tanya Dujun langsung.

“Ne? Ooh.. Dia.. dia..” Yura melirik Hyunseung dan Junhyung yang juga terpaku.

Hyunseung langsung menghampiri Dujun, “Yoon Dujun-ssi, tentang berita itu.. Kami hanya menyampaikan apa yang terlihat, jangan salah paham tentang ini dulu..”

Dujun menatap Hyunseung kesal, “Aku bertanya dimana reporter Lee Chaerin!” Tegasnya.

“Mmm.. Itu..”

“Aku disini..” Ucap Chaerin dari pintu ruangannya.

Dujun memandang Chaerin dan langsung menghampiri gadis itu, “Aku harus berbicara denganmu!”

“Ne, kau bisa mengatakannya..” Ucap Chaerin santai.

Dujun mengeluarkan sebuah kertas dan memberikannya pada Chaerin, “Ini nomor telepon di rumahmu kan?”

Chaerin melihat kertas itu dan mengerutkan dahi, “Ne.. Bagaimana kau tau?”

Dujun menatap Chaerin marah, “Sebusuk ini caramu menjatuhkan seseorang, reporter Lee?! Dia hanya gadis kecil yang tak tau apa pun!! Berani sekali kau melakukan ini padanya?!!” Serunya.

Chaerin terkejut tiba-tiba Dujun berseru, “Apa maksudmu?! Aku tidak melakukan apa pun!!”

Dujun memegang kedua bahu Chaerin dan menatapnya marah. Semua orang disana terkejut dan terdiam tak tau harus mengatakan apa. “Katakan dimana dia?!! Berapa yang harus kubayar hingga kau mengembalikannya tanpa berita?!! Ha?!!”

Chaerin mendorong Dujun dan menatapnya tak kalah marah, “Ibayo!! Berani sekali kau memakiku disini!!” Serunya.

Hyuna melangkah masuk dengan empat pesanan kopi ditangannya, ia bingung karyawan lain berkerumun dan terdengar ada keributan. Ia menghampiri mereka perlahan. “Sanbae, ada apa?” Tanyanya pada Yura.

Dujun mendengar suara seseorang dan menoleh, matanya membesar melihat Hyuna. “Cindy?”

Hyuna menoleh dan terkejut melihat Dujun.

Semuanya memandang Hyuna bingung.

“Cindy?” Gumam Yura tak mengerti.

Kedua tangan Hyuna gemetaran hingga kopi-kopi ditangannya berjatuhan dan langsung melarikan diri.

“Cindy!! Tunggu!!” Panggil Dujun sambil mengejar Hyuna.

“Omo! Omo! Ada apa ini?” Tanya Yura tak mengerti.

Chaerin mengerutkan dahi dan mengikuti Dujun. Begitu keluar dari gedung, ia tertegun melihat Hyuna berlari dengan kencang untuk menghindari Dujun.

Dujun berhenti di persimpangan dan memandang sekitar, namun sudah tak terlihat Hyuna lagi disana. Nafasnya terasa sesak karena berlari. “Cindy!! Cindy!!” Panggilnya. Namun tak ada jawaban. Ia segera berbalik dan kembali ke kantor majalah.

Chaerin langsung menoleh ketika mendengar seseorang masuk, “Yoon Dujun-ssi, kau menemukannya?”

Dujun menatap Chaerin marah, “Jika terjadi sesuatu padanya, kau akan kutuntut Reporter Lee!” Ancamnya, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Chaerin tertegun di tempatnya dan memandang karyawan lain yang terlihat bingung.

“Timjangnim, apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya Yura tak mengerti.

Chaerin melangkah masuk ke ruangannya untuk mengambil tas dan kembali pergi lagi. Ia berjalan di trotoar sambil berpikir. ‘Apa hubungan Hyuna dan model Yoon Dujun?’ Batinnya tak mengerti.

 

=Malamnya=

Chaerin mondar-mandir di ruang tengah karena Hyuna tak kunjung kembali. Gadis itu tak punya tujuan dan mungkin tersesat di suatu tempat. “Aissh.. Kenapa dia harus membuat repot seperti ini?!” Gumamnya sambil mengambil baju hangat dan melangkah cepat keluar condominiumnya sambil mengenakan baju hangatnya itu. Ia melangkah cepat menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari gedung, namun langkah kakinya berhenti melihat seorang gadis duduk memeluk lutut di sebelah sebuah pohon. Ia menghela nafas dalam dan segera menghampiri gadis itu.

Hyuna menghela nafas dalam dan menyandarkan kepalanya ke pohon, saat itu ia melihat sepasang kaki berhenti di depannya. Lalu mendongak memandang siapa pemilik kaki itu.

Chaerin melipat kedua tangannya dan menatap Hyuna, “Kenapa kau hanya duduk disini? Kau tidak tau anak di bawah umur mempunyai jam malam?”

Hyuna tertegun, “Ne?” Matanya berkedip bingung.

“Bangun, kau tidak mau dibawa ke kantor polisi kan karena tak punya data pribadi?” Tanya Chaerin, lalu berbalik kembali ke rumahnya.

Hyuna memperhatikan Chaerin bingung tanpa bergerak.

Chaerin berhenti dan memandang Hyuna yang belum bergerak, “Kau tidak lapar? Cepat!” Panggilnya.

“Ne? N-ne..” Jawab Hyuna sambil bangkit dan melangkah mengikuti Chaerin.

Dapur.

Hyuna menghidangkan ramyun yang telah ia masak ke hadapan Chaerin, lalu ikut duduk di depan gadis itu.

Chaerin mengambil sumpit dan mulai makan, matanya melirik Hyuna yang hanya duduk dengan kepala tertunduk. “Kau tidak makan?”

Hyuna memandang Chaerin kaget, “Ne? Oh.. Ne..” Jawabnya, lalu mengambil sumpit dan mulai makan.

Setelah makan.

Chaerin meletakkan sumpit sambil mengelus perutnya, “Hmmm.. Kenyang..” Gumamnya senang.

Hyuna langsung menumpuk semua piring kotor menjadi satu, “Aku akan mencucinya..” Ucapnya sambil bangkit.

“Nanti.. Duduk dulu..” Ucap Chaerin.

Hyuna tertegun, lalu kembali duduk.

Chaerin menghela nafas dalam dan menatap Hyuna serius, “Jadi pihak imigrasi tidak menemukan datamu karena namamu yang teregistrasi adalah Cindy Kim?”

Hyuna memandang ke bawah dan mengangguk pelan.

“Kenapa kau tidak memberitauku?” Tanya Chaerin.

“Mmm.. Aku tidak ingin kembali kesana.. Aku tidak suka disana..” Ucap Hyuna.

“Hyuna, kau bersekolah dan tinggal disana.. Bagaimana mungkin kau tidak kembali kesana?” Tanya Chaerin tak mengerti.

“Tapi disana aku tidak punya siapa pun, walaupun disini juga, tapi paling tidak disini tidak ada yang menggangguku. Semua orang disini baik padaku..” Jawab Hyuna masih dengan kepala tertunduk.

Chaerin menatap Hyuna tak mengerti, “Mengganggu bagaimana? Maksudmu kau di bully teman-temanmu? Kenapa kau tidak melawan mereka? Jika kau kabur seperti ini mereka akan merasa menang karena kau hanya diam..”

Hyuna memandang Chaerin memelas, “Tapi mereka banyak, aku hanya sendiri.. Aku takut..”

“Untuk apa takut? Apa kau melakukan sesuatu pada mereka? Apa kau pernah merugikan mereka? Tidak kan?” Tanya Chaerin berusaha menyemangati Hyuna.

Hyuna kembali memandang ke bawah, “Aku sudah berusaha melawan, tapi mereka tau terlalu banyak. Aku tidak bisa membiarkannya..” Ucap sedih.

Chaerin mengerutkan dahi, “Hyuna, apa hubunganmu dengan model Yoon Dujun?”

Hyuna tertegun dan memandang Chaerin.

“Apa? Tidak mungkin dia ayahmu karena nama keluargamu Kim.. Apa dia oppamu? Atau dia kekasihmu?” Tanya Chaerin. Bakat wawancara itu sudah menjalar ke urat nadinya.

Hyuna menggeleng, lalu menunduk lagi.

“Jawab aku Hyuna..” Tegas Chaerin.

Hyuna mengambil sesuatu dari saku bajunya dan menyodorkannya pada Chaerin.

Chaerin bingung melihat sebuah USB, lalu memandang Hyuna tak mengerti. “Apa ini?”

“Sebenarnya….” Hyuna memulai pengakuannya, “..aku yang memasukkan virus ke komputermu eonni..”

Chaerin tertegun, “Mwo?”

“Tapi semua datamu ada disana, aku sudah mengkopinya.” Ucap Hyuna lagi.

Chaerin mengambil USB itu sambil menatapnya tak percaya, lalu menatap Hyuna. “Kenapa kau melakukannya?”

Hyuna menunduk menyesal, “Cesonghamida eonni, aku melihat salah satu filemu..” Ucapnya.

“File yang mana?” Tanya Chaerin ingin tau.

Hyuna menggigit bibir bawahnya dan kembali memandang Chaerin, “Yoon Dujun adalah pamanku..”

Chaerin diam sejenak mencerna ucapan Hyuna, namun tak lama matanya membesar menatap gadis itu. “Kau! Kau putri Yoon Bora?!”

Hyuna mengangguk pelan.

Chaerin menatap Hyuna tak percaya, “Oh my god!! Kenapa bisa seperti ini?” Gumamnya tak mengerti. Namun sebuah ide langsung muncul di kepalanya, “Aha! Ternyata berita itu benar! Berita ini akan menjadi hot line news!” Ucapnya senang, lalu memandang gadis di depannya.

Hyuna hanya memandang Chaerin tanpa mengatakan apa pun.

Chaerin segera tersadar dan menatap Hyuna menyesal, “Oh.. Mian, aku terlalu bersemangat..”

Hyuna mengangguk, “Gwenchana.. Eomma tidak pernah menginginkanku, jadi kalau berita ini keluar mungkin eomma akan membenciku karena merusak karirnya. Tidak akan ada yang berubah eonni..”

Chaerin tertegun mendengar ucapan Hyuna, ia bisa melihat luka di tatapan gadis itu.

 

=Apartemen Dujun=

Bora langsung menghampiri Dujun ketika pria itu masuk, “Dujun! Bagaimana? Kau menemukannya? Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?”

Dujun memandang Bora dan membanting dirinya ke sofa.

Bora ikut duduk di sebelah Dujun, “Eoteokhe? Kau bertemu dengannya kan?”

“Ne, aku bertemu dengannya..” Jawab Dujun pelan.

Bora menghela nafas lega, “Ahh.. Syukurlah.. Lalu, dimana dia sekarang?”

Dujun memandang Bora, “Dia langsung melarikan diri begitu melihatku..”

Bora tertegun, “Ne? Wae? Apa kau membuatnya takut?”

“Aku tidak tau, dia tidak mengatakan apa pun dan hanya melarikan diri..” Ucap Dujun frustasi.

“Mwo?! Nomor telepon siapa yang ia gunakan itu?! Dimana kau menemukannya?!” Tanya Bora mulai emosi.

Dujun mengusap wajahnya dan memandang Bora, “Noona benar-benar ingin tau dimana aku bertemu dengannya?”

“Ne, dimana?” Tanya Bora ingin tau.

“Dia bersama Reporter Lee Chaerin..” Jawab Dujun pelan.

Bora terdiam, “Siapa?”

“Perlu kuulangi lagi?” Tanya Dujun.

Bora memegang dahinya frustasi, “ahh.. Habislah aku.. Eoteokhe?? Aissh!! Gadis jalang itu!!” Serunya kesal.

Dujun menatap Bora kesal, “Noona, siapa yang kau cemaskan sekarang? Putrimu atau karirmu?”

Bora menatap Dujun tak kalah kesal, “Tentu saja dua-duanya!! Bagaimana jika Cindy muncul ke publik dan membeberkan semuanya?! Ahhh.. Karirku!! Aku benar-benar akan hancur!!”

“Lalu, jika Cindy benar-benar muncul ke publik dan membuka semuanya. Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Dujun kesal.

“Apa maksud pertanyaanmu?” Tanya Bora tak mengerti bercampur kesal.

“Apa kau akan membuang Cindy lebih jauh lagi hingga tak ada seorang pun yang menemukannya?” Tanya Dujun sinis.

Bora tertegun, “Dujun, apa yang kau katakan?”

“Sudah.. Aku harus pergi..” Dujun bangkit dan langsung melangkah pergi.

Bora memperhatikan Dujun tak mengerti.

 

=Kantor Majalah=

Chaerin berpikir sambil memandang folder ‘Yoon Bora’ di layar komputernya.

“Gwenchana.. Eomma tidak pernah menginginkanku, jadi kalau berita ini keluar mungkin eomma akan membenciku karena merusak karirnya. Tidak akan ada yang berubah eonni..”

Chaerin menghela nafas dalam, lalu meng-klik kiri di folder itu dan menghapusnya. Ia justru memiliki sebuah ide lain. Tangannya menjangkau tas dan bergerak bangkit.

 

=Lokasi Syuting=

Bora memandang buku naskahnya meskipun pikirannya tak ada disana sekarang.

“Ehem..” Dehem seseorang.

Bora menoleh dan tertegun melihat Chaerin berdiri disebelahnya.

“Annyeonghaseo, Yoon Bora-ssi.. Boleh aku duduk?” Tanya Chaerin dengan senyuman di wajahnya.

Bora menatap Chaerin tajam, namun karena ada orang disana ia tak mungkin menolak. “Ne, silahkan duduk..”

Chaerin bergerak duduk dan memperhatikan kru film melakukan pekerjaan mereka, “Hmm.. Kau pasti sangat sibuk akhir-akhir ini..” Ucapnya.

Bora memandang buku naskahnya lagi, “Apa maumu?”

Chaerin menahan tawa mendengar pertanyaan Bora, lalu memandang wanita itu. “Yoon Bora-ssi, kau mengenal seseorang bernama Cindy Kim?”

Bora tertegun, namun tetap berusaha menutupinya dengan tetap membaca buku naskahnya. “Ne..” Jawabnya pelan.

“Kau tau dia ada di Korea sekarang?” Tanya Chaerin lagi.

Bora menatap Chaerin marah, “Apa maumu sebenarnya?!” Tanyanya tertahan.

“Mmm.. Entahlah.. Aku berencana untuk membuka kedok wajah malaikatmu itu, tapi jika aku melakukan itu. Bukan hanya kau yang hancur, juga Hyuna.. Benarkan?” Tanya Chaerin dengan wajah evilnya.

“Dimana dia?! Kenapa kau menyembunyikannya?!” Tanya Bora mulai emosi.

“Aku?” Chaerin tertawa kecil, “Aku menyembunyikannya? Dia yang meminta perlindungan padaku..” Ucapnya sinis, “..dari ibu mengerikan sepertimu.”

“Mwo?!! Ya!!” Akhirnya Bora lepas kendali dan menjambak rambut Chaerin, “Dasar Devil!! Dimana dia?!!”

“Kyaa!! Lepaskan!! YA!!” Teriak Chaerin sambil berusaha melepaskan tangan Bora dari rambutnya.

Semua orang disana memandang mereka kaget. Gikwang langsung berlari dan berusaha memisahkan mereka.

“Hei! Hei!! Hentikan!” Seru Gikwang sambil mendorong kedua gadis yang saling menjambak itu.

Setengah jam kemudian.

Dujun duduk di depan dua gadis dengan wajah babak belur dan satu lubang hidung tersumpal tisu karena darah terus mengalir akibat perkelahian brutal mereka. Bahkan rambut acak-acakan pun tak menjadi masalah lagi sekarang. “Apa yang kalian lakukan?!! Sangat memalukan!!”

“Kau menyalahkanku? Dia yang memulai!” Ucap Bora.

“Mwo?! Kau yang menarik rambutku!!” Ucap Chaerin tak mau kalah.

“Sudah hentikan!!” Seru Dujun menengahi, lalu memandang kedua gadis itu bergantian. “Masalah yang terpenting sekarang.. Dimana Cindy?” Tanyanya serius.

Bora menatap Chaerin, “Dimana Cindy?!”

Chaerin menatap Bora kesal, “Aissh!! Seharusnya aku benar-benar menulis artikel tentang ini!!” Ucapnya, lalu bangkit. “Ikut aku!”

 

=Condominium Chaerin=

Chaerin menekan kombinasi kode dan membuka pintu. Namun belum sempat ia melangkah masuk, Bora langsung mendorongnya ke samping. “Aissh..” Gumamnya kesal.

Bora menerobos masuk dan mencari-cari dimana Hyuna, “Cindy.. Cindy-a..” Panggilnya.

“Cindy..” Panggil Dujun sambil melangkah masuk.

Chaerin memandang sekitar bingung karena Hyuna tak kunjung menjawab dan juga tak terlihat.

Bora tak menemukan Hyuna dimana pun dan menghampiri Chaerin, “Ya! Dimana dia?!”

Chaerin memandang sekitar bingung, “Seharusnya dia disini..” Ucapnya.

“Apa maksudmu seharusnya?!” Tanya Bora kesal.

“Noona, jangan desak dia!” Ucap Dujun, lalu memandang Chaerin. “Apa maksudmu Reporter Lee? Kenapa dia tak ada disini?”

Chaerin berusaha berpikir kemana Hyuna pergi, ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Hyunseung.

“Ne, sanbae..” Sapa Hyunseung di seberang.

“Hyunseung-a, apa Hyuna ada di kantor?” Tanya Chaerin.

“Hyuna-ssi? Aniya.. Dia tidak belum datang sama sekali..” Jawab Hyunseung.

Chaerin menghela nafas kecewa, “Oh, ne.. Jika kau bertemu dia langsung beritau aku..”

“Keure..” Jawab Hyunseung dan telepon terputus.

“Bagaimana? Dimana dia?” Tanya Bora.

“Aku benar-benar tidak tau..” Jawab Chaerin.

Dujun menghela nafas dalam sambil memijat pangkal hidungnya.

“Ooh.. Cindy-a..” Ucap Bora khawatir.

Mata Dujun menangkap sesuatu di atas sofa, dahinya berkerut dan menghampiri sofa untuk mengambil benda itu.

Chaerin menyadari Dujun mengambil sesuatu, “Apa itu?”

Bora ikut memandang benda itu, “Apa itu Dujun?”

“Sebuah kapal kertas..” Ucap Dujun.

“Hyuna membuatnya?” Tanya Chaerin.

Dujun membuka lipatan kapal kertas itu hati-hati dan menemukan sebuah surat di dalamnya, “Ini surat..”

“Ne?” Chaerin langsung menyambar surat itu dan membacanya.

“Apa isinya?!” Bora langsung melangkah ke sisi Chaerin dan membaca isinya.

 

Eonni, terima kasih sudah membantuku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika aku tidak bertemu denganmu waktu itu. Maaf, aku harus pergi agar eonni tidak terkena masalah yang terjadi akibat diriku. Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, kuharap aku bisa menyampaikan terima kasihku dan permintaan maafku langsung padamu.

Eonni.. Jika nanti eonni bertemu ibuku, katakan padanya aku menyayanginya dan tidak ingin menjadi batu penyandung yang akan merusak semua mimpinya. Juga, kumohon sampaikan permintaan maafku pada paman Dujun. Aku menyayanginya dan tidak akan melupakannya.

Selamat tinggal..

Kim Hyuna..

 

Mata Chaerin dan Bora membesar membaca surat itu.

“Dia pergi..” Ucap Chaerin tak percaya.

Bora merasa sangat bersalah. Kedua tangannya bergetar dan memegang dahinya frustasi, “Cindy..” Gumamnya tak percaya. Kakinya terasa lemas dan terhuyung kebelakang.

“Noona..” Dujun langsung merangkul Bora, “Tenangkan dirimu dulu..” Ucapnya sambil membantu gadis itu duduk ke sofa.

Chaerin terpaku menatap surat itu. Ia seperti bisa merasakan apa yang gadis muda itu rasakan sekarang.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Bora menjadi berita terpanas karena dikabarkan sakit hingga tak bisa melakukan kegiatannya. Kontrak-kontrak terpaksa di undur.

Gikwang berdiri menatap Bora yang berdiri di dekat jendela dengan pakaian pasien membelakanginya. “Kau tidak bisa seperti ini terus.. Kau harus kembali ke rutinitasmu, kau artis besar. Kau bisa menghadapi semuanya. Ayolah..” Ucapnya kesal.

Bora memandangi pemandangan malam kota Seoul yang indah, namun tak bisa mengubah suasana hatinya sekarang. “Tinggalkan aku sendiri..” Ucapnya.

Gikwang memutar bola matanya kesal dan melangkah keluar.

Bora bisa mendengar pintu terbanting di belakangnya. Ia menghela nafas dalam dan menutup tirai jendela, lalu berbalik dan berjalan ke sofa. Ia benar-benar tak bisa menikmati ketenarannya lagi. Bahkan piala-piala penghargaan atas kemampuan aktingnya sudah tak berharga sekarang. “Odiga Cindy-a?” Gumamnya. Matanya mulai di penuhi air mengingat putrinya. Tangannya mengeluarkan ponsel dari saku dan melihatnya beberapa saat. Ia teringat Dujun pernah berkata telah meninggalkan banyak Voice mail, paling tidak ia bisa mendengarnya sekarang.

Memang benar ada puluhan voice mail dari Dujun yang semuanya memperingatkan tentang hilangnya Hyuna. Ia merasa bersalah pada adiknya itu. Memang selama ini adiknya yang selalu berhubungan langsung dengan Hyuna selama di Manhattan. Saat ia mengira semua voicel mail itu sudah berakhir, ia menemukan sebuah voice mail dari awal tahun ini.

“Eomma..” Terdengar suara Hyuna ditengah isak tangisnya. Bora tertegun mendengar suara putrinya. “Eomma.. Kenapa tidak datang juga? Aku tidak mau lagi disini.. Aku takut eomma.. Kumohon datanglah..” Mohon Hyuna sambil menangis, gadis itu terdengar sangat ketakutan.

Bora membungkam mulutnya menahan tangis karena baru mendengar voice mail itu sekarang. Bulir air matanya berjatuhan dan menangis penuh penyesalan. “Cindy-a.. Odiga??” Tangisnya dan membanting tubuhnya ke sofa sambil menangis.

 

=Hari Penuh Keputusan=

Dujun melirik Bora yang terlihat tenang dengan kacamata hitam di sebelahnya, “Noona, masih ada waktu untuk membatalkannya..”

Bora menghela nafas dalam, “Aniya, ayo masuk..” Ucapnya dan melangkah duluan.

Dujun mengenakan kacamata hitam sambil ikut melangkah dan membukakan sebuah pintu di depan mereka, lalu membiarkan Bora melangkah terlebih dulu baru melangkah mengikuti kakaknya.

Ribuan blits langsung menerpa mereka, namun mereka tak berhenti hingga tiba di sebuah meja untuk konferensi pers.

“Mohon tenang, Yoon Bora akan mulai berbicara..” Ucap Dujun pada pers yang datang disana.

Keadaan hening, hanya terdengar jepretan kamera beberapa kali dan blits yang tak kunjung henti.

“Yoon Bora-ssi, pengumuman apa yang akan anda sampaikan hari ini?” Tanya seorang reporter.

Chaerin yang juga ada disana bersama Hyunseung yang sibuk memotret menatap Bora serius.

Bora menghela nafas dalam dan memandang percaya diri ke depan, “Annyeonghaseo.. Aku aktris Yoon Bora.. Hari ini, aku akan menyampaikan pengunduran diriku dari semua kegiatanku di dunia entertainment..” Ucapnya tanpa ragu.

Semuanya tertegun dan menatap Bora tak percaya.

Chaerin menghela nafas dalam dan melipat kedua tangannya di dada, “Yoon Bora-ssi, apa alasanmu melakukannya?” Tanyanya, memancing agar gadis itu mengatakan yang sebenarnya.

Dujun menatap Chaerin kesal, walaupun tak akan terlihat dari balik kacamata hitamnya. “Maaf, itu alasan….”

“Aku akan mengatakan yang sejujurnya..” Potong Bora.

Dujun melirik Bora dan membiarkan gadis itu melanjutkannya.

Bora menghela nafas dalam mengumpulkan keberaniannya, “Selama ini… Aku telah menutupi sebuah rahasia yang kuanggap akan merusak karirku.” Ucapnya memulai, “Saat usiaku 16 tahun, aku dihamili kekasihku ketika masih di Manhattan..” Akunya yang membuat semua orang terkejut, “Saat itu, aku melahirkan bayi mungilku tanpa cacat sedikit pin. Dia sangat menggemaskan dan aku mencintainya sepenuh hatiku. Tapi suatu hari, ketika aku berlibur ke Korea bersama teman-temanku di usia 18 tahun. Seorang pencari bakat melihatku dan menawarkanku bergabung dengan agensinya, aku tidak memikirkan apa pun dan langsung menerimanya. Aku menutupi statusku sebagai seorang ibu dan meninggalkan putriku di Manhattan. Kupikir aku sudah bisa menjadi ibu yang pas untuknya, tapi ternyata tidak. Semua yang kulakukan hanya demi karirku.. Demi kegelamoran dan kilauan blits kamera yang menerpaku.” Sebulir air mengalir dari matanya hingga ke dagunya, membuat semua orang melihat kesedihannya. “Aku sudah mengabaikannya. Aku tidak tau apa pun saat pertumbuhannya. Aku tidak tau kalimat pertama yang ia ucapkan, aku tidak tau kapan dia belajar berjalan. Aku benar-benar tak tau apa pun tentangnya..” Ia berusaha menahan tangisnya dengan menghela nafas dalam, “Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis remaja, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir aku bertemu dengannya. Dia sudah mulai mengerti apa yang terjadi dan memutuskan pergi agar tidak menghalangi langkahku di dunia entertainment.” Ia sempat kesulitan berbicara karena tangisnya yang selalu hendak pecah.

Dujun merangkul kakaknya dan mengelus bahu gadis itu.

“Aku tidak butuh semua ini.. Aku tidak butuh pengakuan publik tentang kemampuanku di dunia entertainmen.. Aku hanya butuh putriku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya, memulai kehidupan baru dan bahagia..” Ucap Bora melanjutkan.

Chaerin tersenyum haru mendengar pengakuan Bora, ia yakin Hyuna pasti akan tersentuh menyaksikan ini.

“Ada lagi yang ingin kau sampaikan, Yoon Bora-ssi?” Tanya reporter lain.

Bora menghela nafas dalam dan membuka kacamatanya, memperlihatkan matanya yang bengkak dan merah akibat menangis. Ia menatap kesebuah kamera, “Cindy-a, eomma jeongmal miane. Kita bisa memulai hidup kita sekarang.. Kembalilah.. Eomma mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini..” Ucapnya tulus.

“Cindy-a, dimana pun kau berada sekarang.. Paman yakin kau menyaksikan tayangan ini. Kembalilah..” Pinta Dujun.

Setelah wawancara.

Chaerin dan Hyunseung melangkah keluar dari hotel tempat wawancara tadi.

“Hmm.. Ini lebih baik..” Ucap Chaerin.

“Tapi bukan kau yang mengungkapnya, sanbae..” Ucap Hyunseung.

Chaerin tersenyum, “Gwenchana, Hyuna tidak akan terluka dengan cara ini.”

Hyunseung tersenyum, “Uuu.. Sanbae, kau banyak berubah sekarang..” Candanya.

Chaerin tertawa kecil, “Sudahlah, ayo.. Aku akan mentraktirmu makan..” Ajaknya.

“Ohh.. Mian, sanbae. Aku sudah punya rencana.. Tapi kutagih lain kali..” Ucap Hyunseung dan langsung kabur.

Chaerin menatap Hyunseung sebal, “Aissh.. Kenapa aku jadi seorang diri begini?” Gerutunya dan berjalan pergi.

 

=Di sebuah Apartemen=

Hyuna duduk di sofa sambil menyaksikan tayangan tv. Ia menghela nafas dalam dan mematikan Tv, lalu menunduk sedih setelah melihat pengunduran diri ibunya.

Klek..

Kepala Hyuna menoleh mendengar pintu terbuka dan melihat seseorang masuk, “Hmm.. Sudah kembali sanbae?”

Hyunseung melepas baju hangatnya dan bergerak duduk disebelah Hyuna, “Kau sudah melihat tayangannya?”

Hyuna mengangguk sedih, “Ne..”

“Lalu, bagaimana menurutmu?” Tanya Hyunseung.

Hyuna menghela nafas dalam dan menunduk bingung, “Molla..”

“Ibumu sangat khawatir, kembalilah..” Ucap Hyunseung.

Hyuna berpikir sejenak.

“Jangan buat ibumu semakin menderita Hyuna..” Bujuk Hyunseung.

Hyuna menatap Hyunseung sebal, “Sanbae, kau ingin segera mengusirku ya?”

Hyunseung menahan tawa, “Ne, aku ingin kau segera pergi..” Candanya.

Hyuna tertawa kecil mendengar ucapan Hyunseung.

=Flasback=

Hyunseung yang sedang memasukkan barang-barangnya untuk menyusul Chaerin mendengar ponselnya berbunyi, ia segera mengeluarkan benda itu dan melihat Chaerin yang memanggil. “Ne, sanbae..” Jawabnya.

Hyuna melangkah masuk ke kantor dengan wajah lesu dan langsung membungkuk sopan pada Hyunseung.

“Hyuna-ssi?” Tanya Hyunseung sambil memandang Hyuna.

Hyuna tertegun dan langsung menggeleng sambil memberi isyarat pada Hyunseung agar berkata ia tak ada disana.

“Aniya.. Dia belum datang sama sekali..” Jawab Hyunseung masih tetap sambil memandang Hyuna.

Hyuna menghela nafas lega.

Hyunseung diam sejenak mendengarkan ucapan Chaerin selanjutnya, “Keure..” Jawabnya dan telepon terputus. Ia menurunkan ponsel dari telinga dan memandang Hyuna bingung, “Waekeure?”

Hyuna menunduk menyesal, “Maaf sanbae, aku tidak bisa menjelaskannya padamu..” Ucapnya, lalu kembali membungkuk sopan. “Aku akan pergi.. Annyeonghaseo..” Ia berbalik dan melangkah pergi.

“Hei Manhattan girl..” Panggil Hyunseung.

Hyuna tertegun dan berbalik memandang Hyunseung kaget, “N-ne?”

Hyunseung melipat kedua tangannya ke dada sambil menatap Hyuna sebal, “Memangnya kau tau mau kemana selain kantor ini dan rumah Lee Chaerin sanbae?”

Hyuna garuk-garuk kepala bingung, “Aku tau dimana kantor polisi..” Jawabnya agar tak terlihat lemah.

Hyunseung menahan tawa, “Keure, kau akan mendekam disana?”

Hyuna berpikir lagi mencari tempat lainnya.

“Sudah, ikut aku..” Ucap Hyunseung sambil menarik Hyuna.

=Flashback end=

 

=Malamnya=

Bora duduk memeluk lutut di sofa sambil menangis karena Hyuna tak kunjung kembali.

Dujun memandang Bora sedih, “Noona, tenanglah.. Cindy akan kembali..”

Bora menatap Dujun dan memegang tangannya, “Dujun-a, bagaimana jika Cindy tidak tau dimana tempat tinggalku atau tempat tinggalmu? Bagaimana jika dia ingin kembali tapi tidak ada tempat yang di tuju? Kita harus mencarinya! Benarkan? Benarkan, Dujun?”

Dujun diam menatap Bora dalam, lalu memegang tangan gadis itu dan mengangguk. “Ne.. Khaja..”

Semalaman Dujun dan Bora mencari dimana Hyuna.

 

=7 a.m=

Hyuna berhenti di depan gedung apartemen Bora dan mendongak memandangnya sejenak, lalu menghela nafas dalam dan bergerak duduk di tangga. Kedua tangannya menopang dagu sambil berpikir bagaimana caranya ia tau di apartemen mana ibunya tinggal.

“Oh! Noona!”

Hyuna menoleh dan melihat Dujun merangkul seorang wanita yang muntah di dekat tiang. “Paman Dujun..” Gumamnya sambil bergerak bangkit.

Dujun mengelus punggung Bora hingga gadis itu selesai memuntahkan semua isi perutnya, lalu merangkul gadis itu. “Sudah merasa lebih baik? Ayo..”

Bora memegang kepalanya dan berusaha menahan tubuhnya yang lemas, namun kesadarannya menurun dan tak sadarkan diri.

“Oh!! Noona!! Noona!!” Dujun langsung menggendong Bora dan melangkah cepat menuju gedung apartemen.

Mata Hyuna melotot melihat ibunya pingsan dan segera berlari menghampiri Dujun, “Eomma! Eomma!!” Panggilnya panik.

Dujun menatap Hyuna tak percaya, “Cindy!!”

“Paman.. Eomma kenapa??” Tanya Hyuna.

“Gwenchana.. Ayo..” Ajak Dujun dan kembali melangkah masuk.

Apartemen Bora.

Dujun membaringkan Bora di tempat tidur dan menyelimutinya.

Hyuna duduk di sebelah ibunya, “Eomma.. Eomma..” Panggilnya.

Dujun mengelus rambut Hyuna dan bergerak duduk disebelah gadis itu sambil memeluk keponakannya itu.

Hyuna memejamkan matanya merasakan pelukan Dujun dan memeluk pamannya itu.

Dujun melepaskan pelukannya sambil menatap Hyuna, “Cindy, I’m so worried about you.. Why you do this? What if something happen to you?(Cindy, aku sangat khawatir padamu. Kenapa kau melakukan ini? Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?)

Hyuna menatap Dujun menyesal, “I’m so sorry uncle Dujun.. I just.. I just afraid.. Nobody there for me.. So, I think I can have a warm hug here..(Maafkan aku Paman Dujun. Aku hanya… Aku hanya ketakutan.. Tidak ada siapa pun disana untukku.. Jadi kupikir aku bisa mendapatkan pelukan hangat disini..)” Jawabnya dengan mata memerah menahan air mata.

Dujun menatap Hyuna iba dan memegang pipi keponakannya, “I’m so sorry..” Ucapnya sepenuh hati.

Hyuna kembali memeluk Dujun sambil menahan tangisnya.

Dujun mengelus rambut gadis itu lembut dan memandang Bora yang terlihat benar-benar kelelahan. Lalu kembali memandang Hyuna, “Biarkan eomma beristirahat dulu, dia sudah terjaga sepanjang malam dan tidak bisa makan apa pun karena terlalu khawatir padamu..”

Hyuna memandang Bora sedih, lalu mengangguk setuju.

Dujun bangkit dan membawa Hyuna keluar.

Beberapa jam kemudian.

Bora mengerutkan dahinya dan membuka mata perlahan, “Ahhh..” Erangnya menahan sakit di kepala dan kembali memejamkan mata lagi. Tangannya terangkat untuk memegang dahinya. Setelah rasa sakitnya berkurang, ia kembali membuka matanya perlahan. Matanya memandang sekitar dan berusaha mengingat mengapa ia bisa berada disana. Perlahan ia bergerak bangkit, walaupun tubuhnya terasa lemah ia tetap memaksakan diri. Dengan tenaga terakhirnya ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu, saat melewati cermin, ia melihat wajahnya sangat pucat dan terlihat sakit. Ia menghela nafas dalam dan melangkah pelan menghampiri pintu.

Begitu keluar dari kamar, ia bisa melihat adiknya duduk di sofa dengan kepala bertumpu ke tangan. Ia menatap pria itu sedih, pria itu pasti lelah dan juga sedih dengan semua ini. Kakinya melangkah menghampiri sofa dan mengelus rambut pria muda itu. Namun ketika ia tiba di sisi pria itu, ia tertegun melihat seorang gadis tidur di pangkuan adiknya. Matanya membesar melihat gadis itu adalah Hyuna.

Dujun terbangun dan terkejut melihat Bora hampir terjatuh ke depannya, “Noona!” Ucapnya sambil menahan tubuh gadis itu.

Bora berlutut di depan Hyuna yang masih tertidur di pangkuan Dujun sambil menatapnya tak percaya, “Cindy-a..” Panggilnya sambil membelai rambut gadis itu. Ia terkejut ia bisa menyentuh sang gadis muda, bulir air matanya langsung berjatuhan menyadari semua itu bukan mimpi. “Cindy-a! Cindy!!” Panggilnya penuh haru sambil mengelus pipi Hyuna.

Hyuna mengerutkan dahi dan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Bora. “Eomma..” Panggilnya sembari bangkit, lalu memeluk ibunya erat. “Eomma….” Ia mulai menangis tersedu-sedu melepaskan kerinduannya.

Bora mengelus rambut Hyuna dengan air mata haru terus berjatuhan.

Dujun tak bisa menahan air matanya melihat pertemuan antara ibu dan anak di depannya.

Bora melepas pelukannya dan menatap wajah putrinya lekat, “Eomma miane.. Jeongmall miane..” Ucapnya sepenuh hati sambil memegang kedua pipi Hyuna.

“Nadoo miane eomma..” Ucap Hyuna menyesal.

Bora menggeleng pelan, “Aniya, semua ini karena eomma.. Kau tidak salah apa pun Cindy..” Ucapnya, lalu mencium dahi putrinya.

Hyuna memeluk ibunya sambil meletakkan kepala di bahu wanita itu.

 

=Beberapa Bulan Kemudian=

Chaerin membuka pintu condominiumnya dan menerima sebuah kiriman dari tukang pos, “Hm? Dari siapa ya?” Gumamnya sambil membolak-balik kertas di tangannya ketika berjalan ke sofa. Ia tertegun menemukan alamat si pengirim berasal dari Manhattan dan segera membuka bungkusnya. Isinya sebuah kotak, ia membuka kotak dan menemukan beberapa lembar photo polaroid juga sebuah surat. Ia tersenyum melihat kumpulan photo itu memperlihatkan Hyuna yang mengenakan pakaian tebal di tengah salju bersama seorang gadis berwajah Asia dan seorang lagi berkulit hitam. Bermain riang dengan berbagai pose lucu. Lalu beralih pada surat yang ada disana.

Annyeonghaseo eonni.. bagaimana kabarmu? Apa salju memenuhi Korea saat ini? Seperti yang kau lihat, Manhattan di penuhi salju. Aku senang bisa bermain salju setiap hari.. Maaf aku tidak sempat bertemu denganmu sebelum kembali ke Manhattan, aku harus segera pergi bersama ibuku agar tidak ada wartawan yang mengikuti kami.

Eonni.. terima kasih atas semua bantuanmu padaku. Aku tidak akan melupakannya. Suatu hari nanti aku akan membalas semua kebaikanmu padaku.

Sekarang aku tidak bersekolah di tempat seperti penjara itu lagi. Eomma memindahkanku ke sekolah internasional disini. Aku bertemu banyak teman baru yang baik padaku. Bukan hanya aku yang merupakan keturunan Asia. Di photo itu, gadis yang berwajah Asia bernama Aiko. Dia berasal dari Jepang. Yang berkulit gelap bernama Joanne. Dia berasal dari Afrika.

Eonni.. kehidupanku sekarang jauh lebih baik dan bahagia. Bagaimana denganmu?

 

Kim Hyuna

 

Chaerin tersenyum lebar dan kembali memandangi photo-photo tadi.

 

=7 Tahun Kemudian=

Tok! Tok! Tok!

“Masuk..” ucap Chaerin tanpa memalingkan wajahnya dari majalah yang terbit minggu ini.

Pintu terbuka, muncul Hyunseung dengan senyuman di wajahnya, “Sajangnim.. Anda sibuk?”

Chaerin memandang Hyunseung. Seperti yang terdengar, dia bukan lagi ketua direksi majalah. Tapi pemimpinnya sejak setahun terakhir. “Waeyo Jang Timjangnim?”

Hyunseung melangkah masuk menghampiri Chaerin, “Hari ini para karyawan baru sudah mulai masuk, anda bisa melihat mereka nanti..”

Chaerin mengangguk, “Ne, arasso..” jawabnya dan kembali memandang majalah di tangannya.

“Mmm.. ada yang bisa saya bantu lagi, sajangnim?” tanya Hyunseung.

“Ne..” Chaerin kembali menatap Hyunseung, kali ini lebih tegas. “Kenapa forum kecantikan di letakkan di depan? Kan sudah kubilang pindahkan ke belakang agar pembaca tidak melewatkan berita yang lain!”

Hyunseung menunduk menyesal, “Cesonghamida, sajangnim. Aku akan memperbaiki untuk cetakan selanjutnya..” ucapnya.

Chaerin menghela nafas kesal, lalu kembali memandang majalah ditangannya. “Ne, kau bisa pergi..” ucapnya.

“Ne..” Hyunseung membungkuk sopan. Namun sebelum pergi ia menghampiri Chaerin dan meletakkan sebuah kue kecil dengan sebuah lilin menyala diatasnya yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya ke depan gadis itu.

Chaerin tertegun melihat kue itu.

“Saengil cukha hamida, sajangnim..” ucap Hyunseung, lalu melangkah pergi.

Chaerin tersenyum lucu memperhatikan Hyunseung pergi. Pria itu sudah seperti adik baginya sekarang.

Keesokan harinya.

Chaerin berjalan masuk ke kantor majalah dengan gaya elegannya seperti biasa, semua karyawan langsung berdiri dan memberikan salam padanya ketika berlalu. Seperti biasa dia hanya mengangguk dan berlalu ke ruangannya.

Satu jam kemudian.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk..” jawab Chaerin sambil membuat artikel di komputernya. Ia mendengar seseorang masuk dan berhenti di dekat mejanya.

“Annyeonghaseo sajangnim, ini kopimu..” ucap seorang gadis sambil meletakkan sebuah kopi di meja Chaerin.

“Aku tidak memesan kopi, siapa yang memerintahkanmu?” tanya Chaerin tanpa mengalihkan pandangannya.

“Cesonghamida.. aku hanya berinisiatif.. Dulu aku bertugas melakukan ini sajangnim..” jawab gadis itu.

“Mungkin di tempat bekerjamu dulu kau selalu seperti itu, tapi jangan lakukan hal seperti ini di tempatku..” ucap Chaerin dingin.

Gadis itu tersenyum, “Aku belum memperkenalkan diriku sajangnim..” ucapnya, “Annyeonghaseo, Cindy Kim imnida..” ucapnya sopan.

Tangan Chaerin yang sedang mengetik berhenti dan spontan memandang ke orang yang berbicara. Ia tertegun melihat seorang gadis yang sekarang sudah terlihat lebih dewasa di sebelah mejanya. “Hyuna..” ucapnya sambil berdiri.

Hyuna tersenyum lebar, “Annyeonghaseo eonni..” ucapnya.

Chaerin tersenyum dan berjalan cepat menghampiri Hyuna, “Apa yang kau lakukan disini? Kapan kau kembali?”

Hyuna mengambil nametag yang tergantung di lehernya dan memperlihatkannya pada Chaerin dengan senyuman bangganya.

Mata Chaerin membesar mengetahui Hyuna adalah karyawan baru disana dengan nama Cindy Kim, lalu menatap gadis itu tak percaya. “Kau karyawan baru disini?”

“Ne.. Sudah dua hari..” ucap Hyuna senang.

“Kenapa kau tidak memberitauku? Lalu, bagaimana caramu bergabung?” tanya Chaerin tak mengerti.

“Timjangnim yang membantuku..” jawab Hyuna.

Dahi Chaerin berkerut, “Timjang…. aissh! Hyunseung!”

Hyuna tertawa kecil, “Eonni, aku harus kembali bekerja. Annyeonghaseo sajangnim..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan berbalik ke pintu.

Chaerin tersenyum memperhatikan Hyuna keluar, ia tak percaya gadis polos dulu sudah berubah menjadi gadis dewasa yang muncul di depannya siang ini. Ia kembali duduk sambil tetap tersenyum, lalu meminum kopinya.

Kehidupan terus bergulir. Air mata, tawa dan luka tidak akan terlepas dari perjalanan hidup manusia. Namun itulah yang paling berharga di dunia ini. Semua kenangan akan membuatmu tersenyum beberapa tahun setelahnya.

 

===The End===

Advertisements

7 thoughts on “Smile Again

  1. Wuahhhhh ternyata bora jadi ommanya hyuna dan dujun jadi pamanya hyuna wkwkwkwkwkwkw
    moment 2hyun sikit tapi gk apalah hheheheeh , hyunseung bantu hyuna cieeeeeee ‘,’ mudah2an aja 2hyun jadi berdua #melenceng
    Bora untung mengakui sendiri kesalahannya kalau dk dia akan lbh buruk
    next ff ya thor hanna eonni wkwkwkw
    Oh ya tdi aku gk lht ff ini makanya aku coment duluan di me & my sister #matanya harus diecek ya neng. Wkwkwkwkwk
    fighting hwaiting!!!

  2. Waaahhhhh
    cerita nya keeeeerrrrrrrreeeeeennnn
    hyuna jd ank artis dan dujun jd pamanya psti seneng pnya paman cakep 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s