One Shoot

Me and My Sister

me and my sister

 

Cast:

  • Kris / Wu Yifan
  • Hyuna ‘4Minute’
  • Taeyeon ‘Girl’s Generation’

Perceraian membuat Kris berpisah dari ibunya karena harus ikut bersama ayahnya. Ia masih berusia 3 tahun ketika itu. lalu setahun kemudian ibunya kembali menikah dan memiliki seorang putri bernama Hyuna. Ia tak begitu akrab dengan adik setengah darahnya itu karena mereka jarang bertemu. Ketika ada acara khusus yang mengharuskannya ikut, ia hanya duduk canggung bersama adiknya itu. hingga ketika usianya 19 tahun, di tahun terakhir sekolah menengah atasnya, ayahnya meninggal dan membuatnya harus tinggal bersama ibunya paling tidak hingga usianya 20 tahun.

Kris memandang rumah yang sudah tinggalinya bersama sang ayah sejak kedua orang tuanya bercerai sekali lagi, lalu berbalik dan mengunci pintunya. Dari pintu depan ia memandang ke pagar, dimana ibu dan ayah tirinya sudah menunggu.

Ibu Kris, Victoria, tersenyum, “Ayo Kris..”

Kris menghela nafas dalam sambil memperbaiki tas di satu bahunya dan berjalan menghampiri pagar.

“Semua barangmu sudah di bagasi?” Tanya Changmin, ayah tiri Kris.

Kris mengangguk, “Ne..” jawabnya pelan.

Victoria mengelus pipi Kris sambil tersenyum hangat, “Gwenchana, kau akan baik-baik saja bersama eomma..” ucapnya.

Kris tersenyum tipis.

“Ayo, kita bisa terlambat makan malam nanti..” ucap Changmin dan masuk ke mobil.

Victoria juga langsung melangkah masuk.

Kris memandang rumah itu sekali lagi, lalu melangkah masuk ke mobil. Meskipun ia tak begitu memperlihatkannya, namun hatinya terasa sangat sedih meninggalkan kenangan yang ada di rumah itu. jika ia seorang gadis, mungkin ia sudah menangis tersedu-sedu saat ini. Kepergian ayahnya yang mendadak karena kecelakaan mobil sudah cukup berat baginya, juga berita bahwa ia harus tinggal bersama ibunya sementara waktu membuatnya semakin sedih.

Tak sampai setengah jam, mereka telah tiba di rumah keluarga ibunya. Changmin berbaik hati membantunya membawa koper besar Kris, jadi ia hanya perlu membawa sebuah kotak berisi sebagian barang-barangnya.

Changmin memandang kotak di tangan Kris bingung, “Kau hanya membawa sedikit barangmu, Kris?”

Kris berhenti dan memandang Changmin, “Ne, ahjussi.. aku akan mengambilnya lain kali..”

Changmin tersenyum mendengar Kris masih memanggilnya ‘ahjussi’, “Kris, kita sudah menjadi satu keluarga.. Kau bisa memanggilku abutji..” ucapnya sambil memegang bahu pria muda itu, lalu melangkah masuk sambil menarik koper Kris.

Kris mengangguk mengerti dan memandang rumah barunya itu sejenak, lalu mengikuti Changmin melangkah masuk.

“Kris oppa!!!” sorak seorang gadis berusia 16 tahun menyambut Kris dengan senyuman lebarnya.

Kris tersenyum canggung, “Hyuna, annyeong..”

“Annyeonghaseo, oppa..” ucap Hyuna dan memeluk lengan Kris, “Khaja, aku sudah membersihkan kamarmu..” ucapnya sambil menarik pria itu naik ke lantai atas.

“Hyuna-a, pelan-pelan.. Kris oppa pasti lelah..” ucap Changmin sambil menahan tawa.

Victoria tertawa melihat kelakuan lucu putrinya, lalu memandang Changmin, “Aku akan menyiapkan makan malam..” ucapnya dan melangkah ke dapur.

Hyuna membuka pintu sebuah kamar dan menarik Kris masuk, “Tada!! Ini kamarmu..”

Kris diam sejenak sambil memandangi kamar barunya, “Hmm..” gumamnya sambil mengangguk.

“Oppa suka?” Tanya Hyuna dengan mata berbinarnya.

Kris memandang Hyuna dan tersenyum tipis, “Ne, gumawo..”

Hyuna melepaskan pelukannya dari lengan Kris dan berlari ke tempat tidur, lalu meloncat dan berbaring disana. “Wuuuu…” ucapnya senang sendiri.

Kris memandang Hyuna bingung, lalu meletakkan kotak berisi barang-barangnya ke lantai dan melepaskan tasnya dan juga meletakkannya ke lantai sambil memandang sekitar.

Changmin masuk bersama koper Kris dan mengerutkan dahi melihat putrinya berbaring di tempat tidur, “Hyuna-a, ini bukan kamarmu.. Kenapa membuat tempat tidur Kris oppa berantakan?”

Hyuna tertawa kecil dan bergerak bangkit.

“Ayo, biarkan Kris beristirahat sebentar..” ucap Changmin.

“Ne..” jawab Hyuna sambil menghampiri ayahnya.

Changmin memandang Kris, “Kris, kita akan makan malam pukul 7..” ucapnya.

Kris membungkuk sopan ketika Changmin menarik Hyuna keluar.

“Sampai nanti oppa..” ucap Hyuna sebelum keluar bersama ayahnya.

Kris tersenyum tipis hingga pintu tertutup. Ia menghela nafas dalam dan melangkah menghampiri jendela kamar barunya. Ia membuka kunci dan mendorong jendela terbuka sambil memandang keluar. Dari kamarnya bisa terlihat halaman samping yang juga di gunakan untuk menjemur kain. Ia melipat kedua tangannya di bibir jendela dan memandang sekitar beberapa saat lagi.Halaman itu hanya di beri pagar kayu tinggi sedangkan di sebelahnya terlihat seperti rawa dan semak belukar. Dahinya berkerut seperti melihat seseorang berdiri di tengah rawa itu. ada seorang gadis basah kuyup berdiri disana dengan baju tidur sepanjang selutut.

“Kris..”

Kris tertegun dan menoleh ke belakang, terlihat ibunya berdiri di pintu. “Oh.. eomma..”

Victoria tersenyum, “Segeralah bersiap untuk makan malam..”

Kris tersenyum tipis dan mengangguk, “Ne..” ucapnya. Setelah ibunya pergi ia kembali memandang kearah rawa tadi, namun sudah tak terlihat siapa pun disana. Dahinya berkerut bingung, “Apa aku salah lihat?” tanyanya sendiri, lalu melangkah ke kamar mandi.

 

=Malamnya=

Kris keluar dari kamar mandi dan menghampiri meja belajarnya untuk memastikan buku-bukunya sudah disana semua, lalu menghampiri tempat tidur. Berada di rumah baru dan kamar baru membuatnya merasa tak begitu nyaman. Ia menarik selimut sedikit dan masuk ke bawahnya, lalu memejamkan mata. Semuanya terasa sangat tenang hingga ia merasakan tangan seseorang memegang perutnya, ia terkejut dan langsung meloncat dari tempat tidur sambil menyibak selimut. Ia menghela nafas lega melihat Hyuna di balik selimut dengan wajah polosnya.

Hyuna tersenyum manis, “Oppa, boleh aku tidur disini?”

Kris menatap Hyuna sebal, “Seharusnya kau minta ijin sebelum naik ke tempat tidurku, Hyuna..”

Hyuna cemberut sambil melilit tubuhnya dengan selimut Kris, “Aku tidur disini ya oppa..” bujuknya dengan puppy-eyesnya.

Kris mengerutkan dahi melihat tingkah aneh adik setengah darahnya ini, mereka baru pertama kali satu rumah dan adiknya sudah masuk ke bawah selimutnya. “Hyuna, kembali ke kamarmu..” ucapnya.

Hyuna menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, “Hmm..” rengeknya.

Kris menghela nafas dalam sambil garuk-garuk kepala, “Hyuna, ke kamarmu sekarang..” ucapnya pelan, berusaha tidak emosi di hari pertamanya.

Hyuna semakin melilit tubuhnya dengan selimut Kris, “Shiro.. aku takut dikamarku sendirian..”

Kris menatap selimut itu tak percaya dan menyilangkan kedua tangannya di dada, “Hyuna, kau sudah tidur di kamar itu sejak kau lahir.. Apa yang kau takuti?” tanyanya mulai kesal.

Hyuna mengeluarkan kepalanya dari lilitan itu untuk memandang Kris dengan wajah memelas, “Tapi dia akan membawaku lagi jika aku tidur di kamar sendiri oppa..”

Kris menghela nafas dalam dan melangkah keluar kamar.

“Hmm.. oppa.. odiga?” Tanya Hyuna bingung.

Kris menuruni tangga dan menghampiri kamar ibunya, lalu mengetuknya perlahan. “Eomma..”

“Ne..” jawab Victoria sambil melangkah menghampiri pintu, lalu membukanya. Ia langsung tersenyum melihat Kris, “Ada apa sayang? Kau tidak bisa tidur?”

Kris tersenyum canggung, “Mmm.. eomma, Hyuna menyelinap ke kamarku dan memaksa ingin tidur bersamaku. bisakah eomma berbicara padanya?”

Victoria tertegun, “Ne?”

Changmin langsung menghampiri pintu, “Mwo?”

Kris mengelus belakang kepalanya canggung. Dengan begini keluarga ibunya tidak akan berpikir ia melakukan tindak asusila pada adik perempuannya itu.

Changmin langsung naik ke lantai atas dan menemukan Hyuna di bawah selimut.

Hyuna memandang ayahnya bingung, “Appa, kenapa disini?”

Changmin menatap Hyuna tegas.

Victoria tiba di kamar Kris dan memandang ke dalam bingung, “Hyuna-a, kenapa kau disini?”

“Aku tidur bersama Kris oppa saja.. Aku takut di kamarku..” ucap Hyuna.

“Hyuna…” ucap Changmin, lalu mengangkat tubuh gadis berusia 16 tahun itu di bahunya.

“Kyaa!! Appa!!” seru Hyuna kaget ketika di angkut paksa oleh ayahnya.

Victoria menghela nafas dalam dan memandang Kris menyesal, “Miane Kris, dia memang selalu aneh begitu..” ucapnya.

Kris tersenyum, “Ne, eomma..”

Victoria geleng-geleng kepala, “Saat kecil Hyuna selalu berkhayal ada monster di lemarinya, tapi tidak pernah ada apa pun disana. Dia terus takut pada lemarinya saat malam hingga saat ini.. Maaf, eomma lupa memberitaumu..”

Kris mengangguk mengerti, “Ne, gwenchanayo eomma..”

Victoria memegang pipi Kris, “Kembalilah tidur..” ucapnya, lalu melangkah keluar sambil menutup pintu.

Kris menghela nafas dalam dan melangkah ke tempat tidur.

 

=Keesokan Harinya=

Kris melangkah kembali ke rumah ibunya setelah pulang dari sekolah, ketika itu ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya dan menoleh. Langkah kakinya terhenti karena melihat seseorang memperhatikannya dari rawa. Dahinya berkerut dan memperhatikan lebih jelas. Seorang gadis.

“Oppa!!”

Kris terkejut dan spontan menoleh kearah Hyuna yang melambai dari jendela kamarnya, ia menghela nafas dalam karena gadis itu kembali masuk ke kamarnya. Lalu kembali memandang kearah gadis tadi, tak terlihat siapa pun lagi disana.

“Oppa… ppali!!” panggil Hyuna.

Kris memandang Hyuna dan kembali melangkah masuk ke rumah. Setelah menyapa orang-orang dewasa di rumah ia segera naik ke lantai atas dan menuju kamarnya. Ketika melewati pintu kamar Hyuna ia berhenti karena mendengar sesuatu dan memandang pintu, tangannya terulur dan membuka pintu kamar gadis itu. namun tak terlihat siapa pun.

Hyuna mengintip dari pintu kamar Kris, “Oppa, aku disini..” ucapnya riang.

Kris memandang ke pintu kamarnya, “Oh.. kau disana..” ucapnya, lalu kembali menutup pintu dan melangkah ke kamarnya.

“Kenapa oppa melihat kamarku?” Tanya Hyuna sambil duduk di pinggir tempat tidur Kris dan memperhatikan pria itu masuk.

Kria meletakkan tas dan memandang Hyuna, “Oppa akan ganti pakaian, keluarlah dulu..” ucapnya.

“Oke..” ucap Hyuna, lalu bangkit dan berlari riang keluar kamar.

Kris menghela nafas dalam dan membuka seragamnya, lalu mengganti pakaian dengan yang lebih santai. Setelah itu ia melangkah keluar untuk pergi ke dapur.

Trank!

Kakinya terhenti ketika melewati pintu kamar Hyuna. Dahinya berkerut mendengar sesuatu terjatuh tadi sambil memandang pintu.

“A-aniya..” terdengar suara Hyuna ketakutan.

Dahi Kris semakin berkerut dan menempelkan telinga ke pintu.

“Ahhk! Jangan…” tangis Hyuna menahan sakit, “Aaahhk!! Kenapa kau memukulku?”

Kris merasa ada sesuatu yang tak beres dan langsung mengetuk pintu, “Hyuna, gwenchana?”

DUAKK!!!

Kris terkejut dan langsung membuka pintu. Namun yang menyambutnya hanya kekosongan dan tidak terjadi apa pun disana. Juga tidak ada siapa pun. Hanya kain jendela yang berterbangan tertiup angina dari jendela. Dahinya berkerut dan memperhatikan sekitarnya, “Hyuna?” panggilnya, namun takada jawaban. “Hyuna, kau disini?” tanyanya sambil melangkah masuk.

“Oppa?”

Kris terkejut dan berbalik, ia lebih terkejut melihat Hyuna ada di pintu.

“Kenapa oppa di kamarku?” Tanya Hyuna bingung.

“Kapan kau keluar? Aku mendengar suaramu di sini..” ucap Kris tak mengerti.

“Hm? Tadi aku di bawah bersama eomma..” ucap Hyuna bingung, “Eomma meminta oppa turun untuk makan siang..”

Kris terdiam mendengar ucapan Hyuna, “Oh.. keure..” ucapnya, lalu melangkah keluar.

Hyuna memandang kamarnya bingung, lalu mengikuti Kris ke bawah.

Malamnya.

Kris keluar kamar mandi sambil mengeringkan wambutnya dengan handuk kecil, ia berhenti di depan tempat tidur dan memperhatikan gundukan di bawah selimutnya. Ia tak habis pikir kenapa gadis itu tidak merasa takut padanya di situasi seperti ini. Bisa saja ia lepas kendali dan bertindak yang tidak seharusnya. Ia menghela nafas dalam dan menarik selimut itu. Sesuai pemikirannya, Hyuna ada disana dan sudah terlelap sambil memeluk bantal gulingnya. Ia mengeringkan rambutnya lagi dengan handuk kecil, lalu melempar handuk itu ke kursi dan menghampiri sisi tempat tidur gadis itu. perlahan ia mengangkat tubuh gadis itu dengan kedua tangannya dan membawa gadis itu ke kamar sebelah.

Ia membaringkan Hyuna dengan hati-hati di atas kasur, lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuh gadis itu.

Ttrekk..

Kris tertegun dan menoleh ke lemari. Dahinya berkerut, lalu melangkah ke lemari. Ia tiba-tiba penasaran dengan apa yang di katakan Victoria sebelumnya. Kedua tangannya memegang pegangan pintu dan membukanya bersamaan. Tidak ada monster yang terlihat, hanya baju-baju Hyuna yang tergantung. Ia memeriksa sampai ke setiap celah baju yang tergantung. Tetap tak terlihat apa pun disana. Ia memutar bola matanya sendiri karena sempat mempercayai ucapan Victoria itu. ‘Pabo..’ batinnya sambil menutup pintu. Ia tersentak melihat Hyuna sudah berdiri di balik sebuah pintu sambil memandangnya. “Aissh!!! Hyuna!” ucapnya sambil memegang dada.

Hyuna memandang Kris tanpa mengatakan apa pun.

Kris mengatur nafas untuk menetralkan detak jantungnya yang berdebar cepat akibat terkejut tadi sambil memejamkan matanya.

“Hmmm.. oppa?”

Kris tertegun mendengar suara mengantuk Hyuna di belakang, lalu menoleh ke sisi kanan dimana seharusnya gadis tadi berdiri tadi. Matanya melotot tak melihat siapa pun disana, lalu berbalik dan melihat adiknya duduk di tempat tidur sambil mengelus mata. “Hyuna?”

Hyuna menutup mulut ketika menguap dan memandang sekitarnya bingung, “Hmm? Kenapa aku disini? Tadi kan aku tidur di kamarmu..” ucapnya.

Kris terpaku melihat Hyuna di tempat tidur, lalu memandang ke tempat dimana ia melihat gadis itu tadi. ‘Siapa yang kulihat tadi?’ batinnya tak percaya.

Hyuna turun dari tempat tidur dan menghampiri Kris, “Oppa.. ayo tidur..” ajaknya sambil menarik pria itu keluar.

Kris yang masih shock hanya mengikuti Hyuna kembali ke kamarnya. Ia juga tak mengatakan apa pun ketika gadis itu naik ke tempat tidur dan melanjutkan tidur lagi. ia menghela nafas dalam dan bergerak naik ke tempat tidur. Matanya memperhatikan Hyuna yang langsung terlelap dengan posisi menelungkup di sebelahnya. Dahinya kembali berkerut dan berusaha memikirkan apa yang baru saja ia lihat tadi.‘Jika Hyuna ada di tempat tidur, siapa yang kulihat tadi?’ batinnya.

Keesokan paginya.

Victoria tersenyum melihat Kris dan Hyuna masuk ke ruang makan, “Ayo sarapan..”

“Ne..” Jawab Hyuna dan duduk di tempat biasa.

Kris membungkuk sopan dan bergerak duduk di sebelah Hyuna.

“Kris, bagaimana menurutmu disini?” Tanya Changmin.

Kris tersenyum tipis, “Menyenangkan, ahjussi..” Jawabnya.

Hyuna tertawa kecil, “Ahjussi..” Ucapnya lucu pada ayahnya.

Changmin tertawa melihat kelucuan Hyuna.

“Hmm.. Hyuna sepertinya senang sekali ada Kris oppa disini..” Ucap Victoria menggoda.

Hyuna tersenyum malu, “Ne..”

Kris tersenyum, “Aku juga senang ada Hyuna..” Ucapnya pada Hyuna.

“Sebelumnya dia sering sekali meminta eomma mengajakmu menginap disini, tapi selalu gagal. Ketika tau kau akan tinggal disini dia senang sekali.” Cerita Changmin.

Wajah Hyuna merona merah, “Habis, aku inginnya oppa atau eonni.. Aku tidak mau adik..” Ucapnya membela diri.

Kris tertawa kecil dan mulai sarapan. Suasana menjadi hening beberapa saat, hingga ia memandang ibunya. “Mmm.. Eomma, apa di sekitar sini ada seorang gadis seumuran Hyuna yang tinggal?”

Victoria mengangguk, “Ne, putri keluarga Nam yang tinggal dua rumah dari sini seumuran Hyuna. Wae?”

“Mmm.. Aniya, aku melihat seorang gadis seumuran Hyuna di dekat rawa itu..” Jawab Kris.

“Ooh.. Mungkin saja dia sedang ada perlu disana.” Ucap Victoria.

Kris menoleh ke arah Hyuna yang terlihat meliriknya, namun gadis itu langsung memalingkan wajahnya. Dahinya berkerut bingung, namun ia menyimpan kebingungannya sampai mereka berjalan keluar dari rumah. “Hyuna..”

“Ne?” Jawab Hyuna dengan senyuman cerianya.

Kris memandang Hyuna penasaran, “Kau mengenal putri keluarga Nam itu?”

Ekspresi Hyuna tiba-tiba berubah tegang, “ne..” Jawabnya pelan.

Kris mengerutkan dahi karena ekspresi Hyuna, “Wae? Kau tidak begitu akrab dengannya?”

Hyuna memandang ke bawah sambil terus berjalan, “Yang di rawa itu bukan putri keluarga Nam oppa..” Ucapnya.

“Hm? Lalu siapa?” Tanya Kris.

“Mmmm..” Hyuna menggigit bibir bawahnya ragu.

Kris bingung dengan respon Hyuna, “Wae?”

“Mmm.. Itu yang ada di lemariku oppa..” Jawab Hyuna tanpa mengangkat wajahnya.

Kris terdiam sejenak, lalu mengerutkan dahinya lebih dalam. “Nugu?”

Hyuna memandang Kris ragu, “Mmm.. Aku akan kesini, bye oppa..” Ucapnya dan langsung mengambil jalan lain.

Kris berhenti dan memandang adiknya itu bingung.

 

=Kamar Kris=

Kris yang sudah berbaring di tempat tidur memandang ke pintu, Hyuna sama sekali tak datang ke kamarnya. Ia merasa aneh sendiri dan bergerak bangkit, lalu melangkah ke pintu. Suasana rumah sudah sangat tenang karena malam sudah larut. Tanpa menimbulkan suara ia menghampiri pintu kamar Hyuna. Ia menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan, dahinya berkerut seperti mendengarkan sesuatu.

“Aniya.. Shiro…” Ucap Hyuna dari dalam. “Aw! Hajimaseyo… Appo!”

Kris terkejut dan langsung membuka pintu, namun ia bingung tak melihat apa pun yang aneh selain kain hordeng yang berterbangan tertiup angin akibat jendela yang terbuka dan Hyuna yang tidur dengan gelisah di tempat tidur. Ia menghidupkan lampu dan menghampiri tempat tidur.

“Ahhh.. Hentikan..” Tangis Hyuna dalam tidurnya sambil mendorong sesuatu di udara.

“Hyuna..” Panggil Kris sambil memegang tangan gadis itu, “Hyuna bangun!” Ucapnya sambil menyentak tubuh gadis itu.

Hyuna tersentak dari tidurnya dan memandang Kris dengan mata masih memerah karena menangis.

Kris menatap Hyuna khawatir, “Gwenchana?” Tanyanya.

Hyuna memandang Kris bingung sambil bergerak bangkit, “Waeyo oppa?”

Kris memandang Hyuna bingung, “Kau mimpi buruk..” Ucapnya sambil menyeka air mata gadis itu.

Hyuna baru menyadari air matanya mengalir dan menyekanya, “Hmmm..”

Pandangan Kris terpaku melihat memar di lengan Hyuna ketika menyeka air mata, lalu memegang tangannya. “Kenapa ini Hyuna?”

Hyuna memandang lengannya dan terkejut, “Ne? Kenapa ini?”

Kris menatap Hyuna bingung, “Apa yang kau lakukan? Kenapa bisa ada memar seperti ini?”

Hyuna menggeleng bingung, “Nadoo molla..”

Dahi Kris semakin berkerut menatap gadis di depannya, “Tadi kau merintih kesakitan, apa yang kau mimpikan?”

Hyuna memandang memar itu sambil berpikir, “Mmm..” Gumamnya sambil mengingat.

Kris memandang jendela yang terbuka dan angin berhembus sangat kencang, “Kenapa kau tidak menutup jendela?” Tanyanya sembari bangkit hendak menutup jendela.

“Andwae!” Hyuna menahan Kris agar tidak pergi.

Kris memandang Hyuna bingung, “Wae? Hujan bisa masuk dan kau bisa terkena flu..”

Hyuna menggeleng agar Kris tak melakukannya, “Andwaeyo oppa, dia akan marah jika aku menutup jendela..”

Kris menatap Hyuna tak mengerti, “Nugu?”

Hyuna menatap Kris takut, lalu memandang ke lemarinya.

Kris memandang ke arah lemari Hyuna yang tertutup dengan dahi berkerut, lalu kembali memandang gadis itu. “Ada apa disana?”

Hyuna kembali memandang Kris, “Dia bilang dia akan tinggal disana ketika malam, jadi aku tidak boleh mengusiknya..”

Kris menatap Hyuna semakin tak mengerti. Gadis itu sudah cukup besar untuk percaya cerita hantu, tapi memar yang tiba-tiba muncul itu tidak mungkin tidak nyata. “Oppa akan memeriksanya..” Ucapnya sambil bangkit.

“Andwae!” Seru Hyuna sambil menahan Kris.

“Gwenchana, oppa hanya ingin melihat sebentar..” Ucap Kris sambil melepaskan tangan Hyuna dan berjalan ke lemari.

Hyuna menarik selimut dan menyembunyikan sebagian tubuhnya sambil melirik Kris yang mendekati lemari.

Kris berhenti di depan lemari dan memegang kedua pegangan pintunya. Ia tak bisa memungkiri bahwa ia merasa tegang saat ini, ia menghela nafas dalam dan membuka kedua pintu itu dengan satu sentakan.

Hyuna terkejut dan menyembunyikan kepalanya ke bawah selimut.

Kris kembali tak menemukan apa pun disana selain baju-baju Hyuna. Ia menyibak baju-baju disana untuk melihat apa yang ada di baliknya dan tetap tak menemukan apa pun. Ia menoleh ketika mendengar langkah kaki.

“Kris? Ada apa ini?” Tanya Victoria sambil melangkah masuk.

“Oh… Eomma..” Ucap Kris bingung sambil melirik Hyuna yang langsung di hampiri Changmin. “Tadi Hyuna mimpi buruk, jadi aku datang untuk memeriksanya..” Jawabnya.

Victoria menghela nafas dalam dan menghampiri Hyuna yang sedang berbicara dengan Changmin.

“Hm? Kau tidur berjalan lagi?” Tanya Changmin ketika melihat memar di tangan putrinya.

“Aniya appa, aku hanya di tempat tidur tadi..” Jawab Hyuna.

Kris mendekati mereka, “Ahjussi, dia terbangun dengan memar itu.. Kurasa sesuatu terjadi tadi..” Ucapnya.

Changmin memandang Kris, “Aniya, dia memang sering tidur berjalan Kris.. Dulu dia pernah hampir berjalan keluar rumah..”

“Aniya appa, aku tidak tidur sambil berjalan..” Ucap Hyuna sebal.

Victoria mengelus rambut Hyuna, “Kau tidak tau apa yang kau lakukan jika tidur sambil berjalan sayang..”

Hyuna cemberut menatap ibunya.

Kris memandang Victoria dan Changmin bingung, lalu memandang Hyuna. Apa yang terjadi tadi memang masuk akal. Tapi tentang memar itu ia rasa tidak mungkin.

 

=Halaman Samping=

Kris berdiri di dekat pagar sambil mengintip ke rawa di sebelah dari celahnya untuk melihat apakah ada seseorang atau tidak disana.

“Kris…” Panggil Victoria dari pintu samping.

Kris memandang ke belakang, “Ne, eomma..”

Victoria menghampiri Kris dengan tatapan menyesalnya, “Miane, apa Hyuna membuatmu tak nyaman?”

Kris tertegun, “Ne? Oh.. Aniya eomma..”

Victoria nenghela nafas dalam dan memegang tangan Kris, “Maaf Kris.. eomma tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu sebelumnya.. Dan sekarang kau selalu di ganggu kebiasaan aneh Hyuna..”

“Aniya eomma.. gwenchana..” ucap Kris meyakinkan.

“Hyuna sejak kecil selalu memiliki khayalan yang aneh.. Ia berkata ada temannya di dalam lemari.. tapi semakin besar dia malah ketakutan sendiri.. Dokter psikiater yang eomma temui berkata itu hanya halusinasinya karena Hyuna terlalu menganggap teman khayalannya itu nyata..” ucap Victoria menjelaskan.

Kris mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu..” ucapnya, “Lalu sejak kapan Hyuna tidur berjalan seperti itu eomma?”

“Sejak awal tahun ini.. Kadang dia menabrak sesuatu atau tersandung hingga terjatuh, jadi ada memar di tubuhnya.” jelas Victoria.

Kris mengangguk mengerti lagi, “Hmm.. begitu..”

Victoria tersenyum, ” Terima kasih atas pengertianmu, Kris..”

Kris tersenyum, ” Ne eomma..” jawabnya.

 

=Kamar Kris=

Kali ini Kris tak merasa kaget lagi melihat Hyuna sudah ada di tempat tidurnya ketika ia keluar kamar mandi. Ia hanya mematikan lampu utama dan lampu di sebelah meja otomatis menyala, lalu melangkah ke tempat tidur.

“Oppa.. aku tidur disini ya..” bujuk Hyuna ketika Kris naik ke tempat tidur.

Kris masuk ke bawah selimut sambil memandang Hyuna heran, “Wae? Tidak ada apa pun di kamarmu Hyuna.. Semua yang kau lihat ada di kepalamu saja..” ucapnya.

Hyuna cemberut, “Eomma juga selalu mengatakan itu, tapi nyatanya dia terus saja menggangguku..”

Kris memutar bola matanya kesal, “Siapa?? Hanya ada kau di sana Hyuna..”

“Kan sudah kubilang dia ada di lemari..” ucap Hyuna sebal.

Kris menghela nafas dalam menahan emosinya, “Keure, ayo kita buktikan tidak ada siapa pun di kamarmu..” ucapnya sambil bangkit dan menarik Hyuna ke kamar gadis itu.

“Oppa.. dia tidak suka kalau ada orang lain yang ikut bermain..” ucap Hyuna sambil menahan langkahnya.

Kris menatap Hyuna kesal, “Ayo! Oppa akan tidur disana bersamamu..” ucapnya sambil terus menarik gadis itu.

Hyuna berhenti di pintu dan memperhatikan Kris yang naik ke tempat tidur dengan wajah khawatir.

Kris masuk ke bawah selimut dan berbaring nyaman di tempatnya, lalu memandang Hyuna bingung. “Ayo kemari..”

Hyuna memandang pintu lemarinya dan kembali memandang Kris.

“Hyuna…” panggil Kris tegas.

Hyuna menghela nafas dalam dan menghampiri tempat tidurnya, lalu naik dan meringkuk di bawah selimut.

Kris mengerutkan dahi melihat kelakuan berlebihan Hyuna, “Hyuna.. tidur dengan benar. kau bisa kejang otot jika seperti itu..”

“Shiro…” jawab Hyuna tanpa bergerak.

Kris memutar bola matanya kesal, “Ya sudah.. tidurlah..” ucapnya dan memejamkan mata.

beberapa jam kemudian.

“Hmmm…” gumam Hyuna yang tanpa sadar sudah tidur di dada Kris karena takut. Dahinya berkerut dan mencengkeram baju Kris, “Andwae.. Jangan…” gumamnya dan mulai menangis. “Kumohon, jangan oppaku..” Tangisnya.

Kris terbangun mendengar Hyuna menangis dan memandang gadis itu, “Hyuna?” Panggilnya sambil mengelus rambut gadis itu.

“Oppa..” Tangis Hyuna.

Kris menatap tangan Hyuna yang mencengkeram bajunya tak mengerti, lalu memandang gadis itu. “Hyuna.. Bangunlah..” Ucapnya sambil mengguncang tubuh gadis itu hingga terbangun.

Hyuna membuka mata dan memandang Kris.

Kris memegang pipi Hyuna dan menatapnya serius, “Wae? Kenapa kau menangis? Apa yang mimpikan?”

Hyuna menyeka air matanya dan memandang Kris bingung, “Aku tidak tau oppa..”

Kris mengerutkan dahi, “Kau tidak tau?”

Hyuna bergerak duduk sambil menyeka sisa air matanya dan mengangguk.

Kris bangkit sedikit dan menopang tubuhnya dengan siku sambil memandang Hyuna tak mengerti, “Kau benar-benar tak ingat apa pun?”

Hyuna mengerutkan dahi berusaha mengingat, “Molla..” Ucapnya akhirnya.

Kris bergerak duduk dan menatap Hyuna serius, “Kau berkata ‘jangan’.. ‘Kumohon jangan oppaku’. Apa maksudnya?” Tanyanya.

Hyuna tertegun mendengar ucapan Kris, “Aku mengatakannya?” Tanyanya.

“Ne..” Jawab Kris.

Hyuna terkejut ketika angin bertiup kencang dari jendela yang terbuka dan menatap takut kesana.

Kris bingung kapan jendela itu terbuka.

“Oppa, ayo.. Sudah kubilang dia tidak suka ada orang lain yang bermain bersama kami..” Ucap Hyuna.

Kris menghela nafas dalam dan menarik Hyuna kembali berbaring, “Gwenchana, oppa disini. Ayo tidur lagi..” ucapnya.

Hyuna langsung memeluk pinggang Kris dan menempelkan pipinya di dada pria itu sambil memejamkan mata.

Kris merangkul bahu Hyuna dan membiarkan gadis itu tenang.

Keesokan Paginya.

“Oppa..” panggil Hyuna sambil mengguncang tubuh Kris yang masih terlelap di sebelahnya.

“Hmm..” gumam Kris dan membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sakit karena kurang tidur dan gangguan semalam.

“Oppa…” Panggil Hyuna lagi karena Kris masih terlena rasa kantuk.

Kris memandang Hyuna dan menyadari gadis itu menangis, “Hmm.. Waeyo?” Tanyanya sambil bangkit duduk.

“Oppa, tanganku sakit..” Ucap Hyuna sambil memegang tangannya yang tertutup lengan baju.

Kris memandang tangan Hyuna sambil mengelus matanya, “Oppa akan lihat..” ucapnya sambil menarik lengan baju gadis itu perlahan.

“Ahh.. pelan-pelan oppa..” tangis Hyuna.

“Iya, maaf..” ucap Kris dan memelankan gerakan tangannya. ia terpaku begitu berhasil menggulung lengan baju gadis itu keatas, lalu menatap gadis itu tak percaya. “Hyuna, apa yang tadi kau lakukan?”

Hyuna terisak-isak sambil menggeleng, “Molla oppa, aku terbangun karena tanganku terasa sangat sakit..”

Kris menatap Hyuna tak mengerti, lalu kembali memandang tangan gadis itu yang terlihat membiru dan terlihat benjolan dari dalam. Pendarahan di dalam juga menimbulkan bercak merah yang mengerikan. “Hyuna, bagaimana mungkin kau mematahkan tanganmu saat tidur dan aku tidak tau apa pun?”

Hyuna terkejut, “Patah?”

Kris benar-benar tak mengerti, “Sudah, kita bahas nanti..” ucapnya, “Ayo, eomma harus tau tentang ini..” ia membantu Hyuna turun dari tempat tidur.

 

=Rumah Sakit=

Kris memandang Hyuna yang berbaring di tempat tidur setelah menjalani operasi untuk menyambung tulang tangannya yang patah dan sekarang lengan gadis itu di gips. Ia menghela nafas dalam dan menutup pintu kamar perawatan untuk menghampiri ibunya dan Changmin.

Victoria terlihat sangat khawatir dan memandang Kris, “Kris, kau benar-benar tidak tau apa yang terjadi?”

Kris memandang Victoria dan Changmin bergantian, lalu menunduk dan mengangguk menyesal. “Ne..”

“Tapi bagaimana bisa tangannya patah begitu saja?” Tanya Changmin tak percaya, “Kenapa kau tidur di kamarnya semalam? Bagaimana mungkin kau tidak tau jika kau tidur di sebelahnya?” ia terdengar curiga.

“Hyuna berkata takut di kamarnya, aku hanya ingin membuktikan padanya kalau disana tidak ada apa-apa dan menemaninya tidur. Tapi tengah malam ia bermimpi dan menangis, Hyuna mengigau seperti ada seseorang yang memukulnya. Ketika terbangun dia tidak ingat dan hanya kebingungan.. Setelah itu aku memaksanya untuk kembali tidur hingga dia membangunkanku di pagi harinya dengan tangan seperti itu..” jelas Kris.

Victoria memegang dahinya frustasi, “Ahh.. apa yang sebenarnya terjadi pada putriku?”

“Ketika bangun apa yang Hyuna katakan?” Tanya Changmin.

“Mmm.. dia juga tidak tau kenapa tangannya bisa seperti itu.. Ia berkata ia terbangun karena rasa sakit di tangannya..” jawab Kris.

Changmin dan Victoria mulai membahas tentang berbagai penyebab kenapa tangan Hyuna tiba-tiba patah, sementara Kris sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

=Rumah Keluarga Kim=

-Kris’s POV-

“Oppa.. dia tidak suka kalau ada orang lain yang ikut bermain..”

“Oppa, ayo.. Sudah kubilang dia tidak suka ada orang lain yang bermain bersama kami.”

Dahiku berkerut mengingat ucapan Hyuna itu. siapa yang di maksud Hyuna ‘dia’ itu? aku kembali teringat saat aku melihat Hyuna yang berdiri di balik pintu lemari sedangkan dia sedang tidur di belakangku. Jika ini khayalan Hyuna, apa aku bisa melihat khayalannya? Tentu saja tidak.. aku kembali berpikir menemukan penyebab dan kemungkinan apa pun yang bisa membuat masalah ini semakin jelas. Tunggu.. kurasa Hyuna pernah membahas tentang ini sebelumnya..

“Yang di rawa itu bukan putri keluarga Nam oppa..”

“Mmm.. Itu yang ada di lemariku oppa..”

Gadis yang kulihat itu yang ada di lemari Hyuna? Mungkin eomma dan ahjussi tidak percaya hal tidak masuk akal seperti ini, kurasa aku harus menyelidikinya. Aku bergerak bangkit dan mengenakan jaketku, lalu melangkah keluar dari kamar. Keadaan rumah kosong karena eomma menemani Hyuna di rumah sakit dan ahjussi pergi bekerja, aku bisa menyelidikinya dengan aman. Aku keluar dari rumah dan berjalan menuju rawa di sebelah rumah.Begitu memasuki kawasan rawa yang lembab itu terasa agak berbeda, atau hanya perasaanku saja? Aku memperhatikan sekitar dan melangkah mendekati rawa, lalu berhenti di sebelah sebuah danau. Airnya sangat jernih dan tenang, tapi di bagian tengah ada tanaman merambat yang membuatnya terlihat indah. namun mengerikan. Aku memandang kearah jendela kamarku yang terlihat jelas dari tempatku berdiri, lalu memandang kearah dimana gadis yang kulihat itu berdiri. Sebenarnya siapa gadis itu?

Kepalaku menoleh karena melihat air disekitaran pohon yang tumbuh di tengah danau bergerak dan memperhatikannya dengarn cermat, “Ya.. ada orang disana?” panggilku.

Hening..

Mataku menyipit memperhatikan ke belakang pohon, namun taka da pergerakan lagi. Aissh.. mungkin hanya kodok. Aku kembali mengedarkan pandanganku. Tapi tidak ada siapa pun disini. Hmm.. mungkin aku tidak beruntung kali ini. Aku berbalik hendak pergi, namun saat itu mataku tak sengaja memandang ke arah jendela kamar Hyuna dan langsung terpaku. Ada seorang gadis yang berdiri disana, jendela yang sudah kupastikan terkunci itu terbuka lebar.

“Andwaeyo oppa, dia akan marah jika aku menutup jendela..”

Mataku membesar mengingat ucapan Hyuna itu dan langsung berlari kembali ke rumah. Aku harus bisa menangkap gadis itu! Ketika aku memasuki halaman, ahjussi baru saja keluar dari mobilnya setelah kembali.

“Kris, waekeure?” Tanya Changmin ahjussi karena aku berlari seperti maling ketahuan. Namun pikiranku tidak bisa menjawab saat ini, aku hanya berlari melewatinya. “Kris?!” panggilnya dan mengikutiku.

Aku berlari naik ke lantai atas dan langsung menuju kamar Hyuna, dengan kemarahan memuncak aku membuka pintu dan masuk. Tapi tidak ada siapa pun disini. Kemana pun aku memandang tidak terlihat siapa pun disini. Jendela masih terbuka lebar dan hordeng berterbangan tertiup angin. Dahiku berkerut sambil melangkah masuk lagi.

“Kris.. Ada apa?” Tanya Changmin ahjussi tak mengerti.

Aku memeriksa setiap sudut kamar memastikan tidak ada tempat untuk bersembunyi, “Aku melihat seseorang disini..” jawabku sambil terus memeriksa, hingga pandanganku tertuju pada lemari.

“Ne? nugu?” Tanya Changmin ahjussi bingung.

Dia pasti disana! Aku langsung melangkah ke lemari dan membukanya.

Changmin ahjussi memandangku tak mengerti, “Siapa yang masuk Kris?” tanyanya.

Pemikiranku salah.. tidak ada siapa pun disini. Meskipun aku sudah mencari-cari sampai ke belakang baju-baju Hyuna tetap tak terlihat siapa pun disini. Aku menghela nafas dalam dan memandang Changmin ahjussi, “Mungkin aku salah lihat..” ucapku pelan.

 

=Kamar Perawatan Hyuna=

Aku tersenyum pada Hyuna yang sudah mulai membuat lelucon seperti biasa, sementara ayah dan ibunya mencari makanan untuk kami. “Apa kau takut disini?”

Hyuna tersenyum dan menggeleng, “Aniya..” jawabnya.

Aku mengangguk mengerti dan memotong apel untuknya. “Hmm.. Hyuna..”

Hyuna menusuk potongan apel dengan garpu dan menggigitnya, “Ne?”

Aku memandang Hyuna ingin tau, “Mmm.. eomma bercerita padaku, dulu kau berkata padanya yang ada di lemarimu itu temanmu. Lalu semakin tumbuh besar kau mulai ketakutan pada temanmu itu. wae?”

Hyuna menghela nafas dalam dan memandang ke bawah sedih, “Ne oppa.. Dulu dia sangat baik padaku.. Dia selalu mengajakku bermain ke tempatnya, kami selalu bermain sepanjang malam dan dia kembali membawaku ke kamar. Tapi suatu hari dia tidak ingin aku kembali ke kamarku. Tentu saja aku tidak mau dan tetap ingin kembali. Dia selalu marah dan menyakitiku sejak itu..” ceritanya.

Dahiku berkerut mendengar jawaban Hyuna, “Dia yang kau maksud ini siapa Hyuna?”

Hyuna memandangku ragu, “Mmm.. dia tidak suka jika di bicarakan oppa..”

Aku mengulurkan tangan dan memegang tangannya yang tidak di gips, “Aniya, gwenchana.. Dia tidak disini.. Dia tidak akan tau..” ucapku meyakinkannya.

Hyuna menggeleng pelan, “Aniya.. Dia selalu tau apa yang kulakukan meskipun aku tidak dirumah. Juga, jika ada orang lain yang mengetahui tentangnya, dia akan marah dan menyakitinya. Aku tidak mau hal itu terjadi..”

Aku bisa melihat kekhawatiran di mata Hyuna, lalu mengangguk mengerti. “Keure, oppa tidak akan bertanya lagi.” ucapku, “Tapi, bagaimana caranya dia masuk ke lemarimu? Lewat mana dia selalu masuk?”

“Jendela..” jawab Hyuna singkat.

“Hmm..” gumamku sambil mengangguk singkat, “Tapi kenapa kau tidak menutup jendelamu saja? Dengan begitu dia tidak bisa masuk..”

“Jika aku menutup jendela, dia mengancam akan menyiksaku dari jauh hingga aku mati..” jawab Hyuna pelan, terdengar adik setengah darahku ini ketakutan mengatakannya.

Ucapan Hyuna membuatku tertegun, “Dia bisa menyiksamu dari jauh?”

Hyuna mengangguk.

“Eoteokhe?” tanyaku ingin tau.

Hyuna memandangku dengan mata memerah menahan air mata, “Jika aku mengatakannya, dia akan menyakiti oppa..”

Aku tersenyum hangat, “Aniya, gwenchana.. Jika dia muncul oppa akan memakinya agar berhenti mengganggumu..” ucapku dengan nada bercanda.

Hyuna menggeleng dan kembali menunduk, “Aku tidak bisa mengatakannya, oppa..”

Oke, kurasa cukup mengorek informasi untuk malam ini. Aku menghela nafas dalam dan mengelus punggung tangannya, “Keure, lanjutkan makan buahmu..” ucapku.

-Kris’s POV-

 

=Kamar Hyuna=

Kris masuk ke kamar Hyuna dan menghampiri jendela yang terbuka untuk memandang kearah rawa. Ia membiarkan lampu tetap mati. matanya menyipit melihat sesosok gadis di balik sebuah pohon yang tumbuh di tengah danau berawa itu. ‘Siapa kau sebenarnya?’ batinnya. Ia berbalik dan berjalan ke tempat tidur tanpa menutup jendela. Ia sama sekali tidak takut karena dampak yang di terima Hyuna sudah berlebihan. Ia berbaring di tempat tidur sambil memandangi lemari yang di takuti gadis itu dan menunggu apa yang akan terjadi. Jika memang gadis itu akan masuk melalui jendela, ia akan menunggunya.

1 jam.. 2 jam.. 3 jam..

Kris terlelap karena terlalu lama menunggu.

TAKK!!!

Kris langsung melotot karena merasakan sesuatu mengambuk dadanya, “Aahkk!!” teriaknya mengungkapkan rasa sakitnya. Setelah beberapa saat ia baru menyadari dirinya tidak di kamar Hyuna, sekitarnya terasa lembab dan basah. Ia terkejut menyadari dirinya berbaring di suatu tempat yang tergenangi air.

“Oppa..” terdengar suara Hyuna menahan tangis.

Kris mencari-cari asal suara itu, “Hyuna?” matanya melotot lagi melihat cambuk hitam kembali melayang ke tubuhnya.

TAKK!!

“Arrggh!!” seru Kris dengan mata terpejam menahan sakit, saat ia ingin mengelus bekas cambukan tadi, ia baru menyadari kedua tangannya terikat ke kanan dan kiri.

“Oppa…” tangis Hyuna.

Kris terpaku mendengar suara Hyuna semakin jelas. Sebuah tangan muncul dari kegelapan dan memegang kakinya.

“Oppa…” Hyuna muncul dari kegelapan dan merangkak di dalam air sambil memegang kaki Kris, “Oppa..” tangisnya.

Kris tertegun melihat Hyuna, “Hyuna-a..” panggilnya sambil handak menghampiri gadis itu namun kedua tangannya tertahan. “Hyuna!”

Hyuna terus merangkak hingga tali hitam yang terikat di lehernya tak bisa terulur lagi sambil terus menangis, “Oppa, aku takut..” ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Kris.

“Gwenchana, kita akan keluar dari sini..” ucap Kris berusaha menenangkan adiknya.

Hyuna menangis tersedu-sedu ketakukan. “Ahk!!” tali yang mengikat lehernya ditarik dari belakang.

Mata Kris melotot, “Hyuna!!”

Hyuna tampak tercekik namun malah memeluk satu kaki Kris agar tak tertarik.

“Hyuna!!” teriak Kris sambil berusaha menarik kedua tangannya yang terikat, tidak peduli meskipun terasa sangat sakit ketika ia menariknya.

Wajah Hyuna memerah dan matanya berputar kebelakang seiring pelukannya yang melemah dan tertarik oleh tali di lehernya.

Bulir air mata Kris berjatuhan melihat Hyuna menghilang lagi dalam kegelapan, “HYUNA!!! ANDWAE!! HYUNA!!!” teriaknya panic.

…………………………………………………………………………………………………………………..

“Hyuna!!” seru Kris begitu tersentak dari tidurnya. Ia langsung memandang sekitar dan mendapati dirinya masih ada di kamar Hyuna. Ia mengerutkan dahi memandang sekitar. Tidak ada yang berubah sejak ia mendatanginya semalam. Ia menghela nafas lega sambil membaringkan kepalanya lagi ke bantal dan mengusap wajahnya. ‘Hanya mimpi..’ batinnya lega. Matanya terbuka dan tertegun melihat ada bekas aneh di kedua pergelangan tangannya. ia bergerak duduk sambil memperhatikan bekas seperti terjerat sesuatu itu. ia kembali mengingat-ingat apa yang ia lakukan semalam sebelum tertidur, namun ingatan lain membuatnya tak bisa berkomentar. Ia menatap kedua pergelangan tangannya tak percaya, “Bukankah itu hanya mimpi?” gumamnya. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan menghampiri cermin di dinding sambil membuka sweater tipis yang ia kenakan. Matanya membesar melihat garis merah memanjang di dada kirinya. Tangannya menyentuh garis merah itu, “Ahh..” rintihnya menahan sakit. “Eoteokhe?” gumamnya tak percaya. Tiba-tiba ia teringat Hyuna, gadis itu menghilang di dalam mimpinya. “Aissh!!” serunya sambil kembali mengenakan bajunya dan berlari ke lantai bawah untuk mengambil telepon rumah. Ia mencari nomor ibunya di data telepon rumah itu dan memanggil nomor ibunya.

“Yoboseo?” sapa Victoria.

“Eomma.. bagaimana keadaan Hyuna? Dia baik-baik saja?” Tanya Kris langsung.

“Kris? Kau tidak sekolah?” Tanya Victoria bingung.

“Eomma! Jawab pertanyaanku dulu!” ucap Kris frustasi.

“Ne, Hyuna baik-baik saja.. Tapi semalam dia mengigau lagi dan melukai lehernya.. Tapi tidak apa-apa, dia sudah tenang dan kembali bangun seperti biasa..” jawab Victoria.

Kris tertegun, “Leher?”

“Ne, waeyo?” Tanya Victoria.

“Eomma, aku ke rumah sakit sekarang..” ucap Kris dan langsung memutuskan telepon.

 

=Rumah Sakit=

Kris melangkah cepat menuju ke ruang perawatan Hyuna dan membuka pintu.

Victoria yang duduk di sebelah tempat tidur Hyuna tertegun melihat putranya muncul di pintu, “Kris?”

Hyuna yang sedang sarapan di tempat tidurnya tersenyum lebar melihat Kris, “Oppa!!” sapanya bersemangat.

Kris menghela nafas lega melihat Hyuna baik-baik saja dan melangkah masuk.

“Kris, kenapa kau disini? Kau tidak sekolah?” Tanya Victoria bingung.

Kris mengelus belakang kepalanya bingung sambil memikirkan alasannya, “Mmm.. aku tidak merasa baik tadi pagi eomma..” jawabnya.

“Waeyo? Oppa sakit?” Tanya Hyuna.

Kris memandang Hyuna dan baru menyadari bekas membiru di leher adiknya, ternyata benar mimpi yang ia alami memang menjadi kenyataan.

“Kau sakit Kris?” Tanya Victoria khawatir.

“Aniya eomma..” jawab Kris sambil tersenyum tipis, “Sekarang sudah merasa lebih baik..” ucapnya.

Victoria bangkit dan menghampiri Kris, “Miane, eomma seharusnya juga memperhatikanmu..” ucapnya sambil memegang pipi putranya.

Kris memegang tangan ibunya, “Gwenchanayo eomma..”

Satu tangan Victoria mengelus dada putranya.

Kris terkejut karena rasa nyeri akibat elusan tangan Victoria di bekas memarnya, “Ahhkk..” rintihnya sambil menghindari tangan wanita itu dan memegang dimana asal nyeri itu.

Victoria tertegun, “Waeyo Kris? Kau terluka?” tanyanya khawatir.

“A-aniya eomma, na gwenchana..” ucap Kris.

Victoria maju dan menarik tangan Kris, “Tapi kenapa kau merintih?”

“Aniya eomma.. gwenchana..” ucap Kris berusaha menahan tangan ibunya, tapi seorang ibu tetaplah seorang ibu yang tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada anak mereka. Ia tak bisa mengatakan apa pun ketika Victoria menarik kerah baju sweaternya turun dan memperlihatkan bekas panjang yang sudah membiru itu.

Mata Victoria melotot dan menatap Kris kaget, “Kenapa ini Kris?!”

Mata Hyuna ikut membesar, “Oppa? Waekeureyo?”

Kris tertegun mendengar pertanyaan Hyuna dan menatap gadis itu tak mengerti.

“Kris.. apa yang terjadi? Seseorang memukulmu?” Tanya Victoria ingin tau.

Kris memandang ibunya bingung, “Mmm.. aniya eomma.. aku terjatuh saat melihat-lihat rawa di sebelah rumah dan menabrak dahan pohon..” jawabnya memberi alasan.

Victoria menghela nafas lega, “Ahhh.. kau ini, eomma pikir kau di pukul seseorang..” ucapnya, “Lagi pula sudah berapa usiamu masih penasaran ke tempat seperti itu?”

Kris tertawa kecil, “Miane eomma..”

“Temani Hyuna sebentar, eomma akan menemui dokter sebentar..” ucap Victoria dan melangkah keluar.

Kris memperhatikan ibunya pergi, lalu bergerak duduk di sebelah tempat tidur Hyuna.

Hyuna memandang Kris bingung, “Oppa, kenapa oppa pergi ke rawa?”

Kris menatap Hyuna tak mengerti, “Hyuna, kenapa lehermu?”

Hyuna tertegun, “Ne? ini?” tanyanya sambil menunjuk memar di lehernya, “Hmm.. eomma berkata aku mengigau lagi dan mencekik diriku sendiri.. hahaha..”

Kris mengerutkan dahi, ‘Kenapa Hyuna tidak pernah mengingat apa yang terjadi dalam mimpinya?’ batinnya tak mengerti.

“Apa oppa melihat sesuatu di rawa? Aku tidak pernah pergi kesana lagi sejak dia selalu menggangguku..” ucap Hyuna ingin tau.

Kris diam sejenak, “Dia membawamu ke rawa itu?”

Hyuna mengangguk, “Ne, dia bilang disana menyenangkan..”

“Maksudmu, dia membawamu ke danau yang di penuhi air itu?” Tanya Kris memastikan.

Hyuna mengangguk lagi, “Ne..” jawabnya.

Dahi Kris berkerut, “Bagaimana kau bisa kesana?”

“Setelah eomma tidur, dia akan mendatangiku dan mengajakku ke tempatnya..” cerita Hyuna.

Kris diam sejenak mencerna ucapan Hyuna, “Hmm.. jadi kau berjalan keluar dari kamarmu dan pergi keluar rumah?”

Hyuna menggeleng, “Aniya, dia hanya menarikku meloncati jendela dan kami tiba di rawa..” ceritanya.

Kris memandang Hyuna bingung, “Hanya begitu?”

Hyuna mengangguk, lalu wajahnya berubah sedih. “Tapi aku tidak mau melakukannya lagi, dia terus saja memaksaku untuk tinggal. Aku tidak suka..”

Kris terkadang bingung harus bagaimana menanggapi adik setengah darahnya ini. Gadis seusianya sudah mengerti fashion dan berhenti menjadi manja pada orang sekitar kecuali pada kekasihnya, tapi Hyuna masih seperti gadis berusia 5 tahun yang tidak mengerti kehidupan sosialnya.

 

=Rumah=

Kris menghampiri pintu kamar Hyuna dan mengetuknya, “Hyuna, ini oppa..”

“Masuk..” terdengar suara Hyuna dari dalam.

Kris membuka pintu dan melihat Hyuna berdiri di sebelah jendela sambil memperhatikan keluar, “Hyuna, tutup jendelanya.. Angin sangat kencang..” ucapnya sambil melangkah masuk.

Hyuna menoleh ke arah Kris, “Wae? Aku suka disini..”

Kris menghampiri jendela dan mengulurkan tangan untuk menutupnya.

“Aku senang oppa disini..” ucap Hyuna ketika Kris berdiri disisinya.

Kris tertegun dan memandang Hyuna.

Hyuna menatap Kris dan tersenyum, “Oppa sangat perhatian padaku, aku senang..”

Kris diam sejenak karena merasa agak aneh dengan cara bicara Hyuna yang terdengar serius, “Waeyo? Kau jadi aneh begini..” candanya.

Hyuna tertawa kecil, lalu memanjat jendela dan loncat.

Kris terkejut dan langsung menarik gadis itu, “Hyuna!!” serunya, namun ia tak bisa menangkap tangannya. lalu melotot memperhatikan ke bawah. Namun tak ada apa pun di bawah. “Hyuna!” panggilnya sambil memperhatikan seluruh halaman.

“Waekeure oppa?”

Kris tertegun, lalu menoleh ke belakang. Matanya membesar melihat Hyuna di ambang pintu sambil memakan potongan apel dan memandangnya bingung.

“Waeyo oppa?” Tanya Hyuna sambil melangkah masuk menghampiri Kris.

“Hyuna, kapan kau keluar?” Tanya Kris sambil menatap Hyuna tak percaya.

Dahi Hyuna berkerut, “Ne? aku? Mmm.. setelah ganti baju tadi..”

“Aniya, maksudku.. Barusan ini..” ucap Kris mengungkapkan kebingungannya.

Hyuna terlihat bingung, “Aku hanya di lantai bawah bersama eomma, oppa..”

Kris diam sejenak menatap Hyuna, lalu kembali memandang ke halaman di bawahnya.

Hyuna ikut melihat kebawah, “Mencari apa oppa?”

Kris kembali menatap Hyuna shock.

Hyuna memandang Kris dengan dahi berkerut, “Oppa, waekeureyo?” tanyanya aneh.

Kris segera tersadar dan menghela nafas dalam untuk mengendalikan rasa shock-nya tadi. “Mmmm… ani.. gwenchana..” ucapnya, lalu bergerak menutup jendela. Setelah menutup jendela, ia berhenti sejenak karena melihat sesosok gadis yang biasa ia lihat di rawa melalui kaca transparan disana.

Hyuna memandang Kris bingung dan memandang kemana pria itu memandang, namun pria itu langsung menutup kain hordeng. Membuatnya terkejut dan menatap pria itu bingung, “Oppa, kenapa kau bertingkah aneh?”

Kris tersenyum tipis, “Aniya, ayo kita keluar..” ucapnya sambil merangkul Hyuna keluar. “Hati-hati tanganmu..” ucapnya memperingatkan.

Hyuna langsung memeluk lengannya yang di gips agar tidak membentur apa pun dengan senyuman lucunya.

 

=Malamnya=

Kris keluar dari kamar mandi dan langsung memandang tempat tidurnya. Hyuna sudah berbaring disana dan sepertinya sudah terlelap. ‘Apa pun dia, aku harus menghentikannya!’ tekad batinnya, lalu melangkah menghampiri tempat tidur dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Hyuna.Ia bergerak ke meja belajar dan menghidupkan laptop, lalu mulai mencari sesuatu yang bisa sedikit memberikan cara penangkal dari apa yang di alami Hyuna. Setelah beberapa saat itu mulai kebingungan karena tidak tau apa yang benar-benar terjadi pada adik tirinya itu. ia mengerutkan dahi dan berpikir sejenak, matanya bergerak melirik Hyuna yang tampak bergerak sedikit untuk memperbaiki posisi tidurnya. ‘Mungkinkah ini tentang gangguan roh jahat?’ batinnya menebak dan mengetikkannya ke kolom pencari. Ia membaca banyak orang yang membahas tentang judul itu. beberapa orang memiliki pengalaman yang berbeda dari Hyuna namun memiliki gejala yang sama. Sebuah blog yang ia buka sedikit berbeda, disini penulisnya memberikan cara untuk melindungi seseorang dari gangguan arwah jahat. Ia mulai membaca dengan serius. ‘Garam sering di gunakan untuk menangkal kesialan, hal ini karena roh jahat tidak bisa mendekat jika rumah atau sebuah tempat di lindungi oleh garam.’ Batinnya membaca. Ia kembali memandang Hyuna dan bergerak bangkit. Ia memegang kaki tempat tidur dan menariknya sekuat tenaga, meskipun berat ia terus menariknya hingga menjauh dari dinding.

Hyuna terbangun karena pergerakan tempat tidur yang membuatnya terkejut, “Hmm.. oppa waekeure?” gumamnya sambil mengusap matanya.

“Gwenchana.. tetap disini..” ucap Kris lalu melangkah cepat keluar kamar untuk mengambil garam di dapur.

Hyuna bergerak duduk sambil menguap dan memandang sekitar, “Kenapa tempat tidurnya bergeser?” tanyanya sendiri. Tak lama Kris kembali. Dahinya berkerut melihat pria itu menaburkan sesuatu berwarna putih ke sekeliling tempat tidur. “Oppa, apa itu?”

Kris selesai menaburkan garam dan meletakkan tempat yang ia pegang di meja, lalu mematikan lampu. “Gwenchana, kuharap ini akan melindungimu..”

Hyuna memandang Kris bingung, “Waeyo?”

“Ayo tidur..” ucap Kris sambil berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhnya.

Hyuna masih mengerutkan dahi bingung, namun tetap berbaring dan tidur.

Keesokan Paginya.

Kris terbangun karena alarm di mejanya, tangannya terulur mematikan benda itu dan bergerak bangkit sambil memandang Hyuna yang berbaring di sebelahnya. Gadis itu tidak mimpi ataupun mengigau lagi. bibirnya membentuk senyuman caranya berhasil. “Hyuna..” panggilnya sambil menggoyang bahu adiknya itu. “Hyuna-a..” panggilnya lagi, namun tak ada respon. Dahinya berkerut dan mendorong pipi gadis itu agar mengarahkan wajah padanya, ia bingung melihat wajah gadis itu sangat pucat dan terlihat lemah. “Hyuna-a..” panggilnya sambil mengguncang tubuh gadis itu. tetap tak ada respon. Ia memperhatikan gadis itu serius, matanya membesar menyadari gadis itu bahkan tak bernafas. “HYUNA!!” serunya sambil menyentak tubuh gadis itu, lalu menempelkan telinganya ke dada gadis itu untuk mendengar detak jantung, tapi tidak ada bunyi apa pun. “Andwae!” serunya sambil menggendong tubuh gadis itu dengan kedua tangannya dan membawanya turun dari tempat tidur. Ia melangkah cepat keluar kamar dan menuju tangga untuk memberitau Victoria dan Changmin.

“Hmmm..” gumam Hyuna sambil bergerak sedikit.

Kris berhenti dan terpaku menatap Hyuna yang kembali bernafas dan bergerak dalam gendongannya.

Hyuna mengelus matanya dan memandang Kris bingung, apalagi ia ada dalam gendongan pria itu. “Oppa, waekeureyo?”

Kris menatap Hyuna tak percaya, lalu menurunkan gadis itu agar berdiri dengan kakinya. “Hyuna-a?”

Hyuna bingung karena tatapan Kris, “Waeyo?”

Kris memperhatikan Hyuna beberapa saat dan memastikan gadis itu baik-baik saja sambil membolak-balik tubuh gadis itu. “Kau tidak apa-apa?”

“Ne.. memangnya aku kenapa oppa?” Tanya Hyuna tak mengerti.

“Ne? oh.. ani.. aniya..” jawab Kris sambil menggeleng.

 

=Sebuah Tempat=

Kris memandang alamat yang ia catat dari blog yang ia baca dan memperhatikan sebuah rumah, “Kurasa ini..” ucapnya, lalu membuka pagar dan melangkah masuk. Ia berhenti di depan pintu dan menekan bel, lalu menunggu sejenak.

Pintu terbuka, muncul seorang gadis cantik berwajah imut dari balik pintu.

“Maaf, namaku Kris Wu.. Aku mendapatkan alamat ini dari sebuah blog yang membahas tentang roh jahat..” jelas Kris cepat.

Gadis itu diam sejenak, lalu tersenyum. “Ne.. Masuklah..” ucapnya sambil bergeser dan membuka pintu lebih lebar agar Kris bisa masuk.

Kris mengangguk sopan dan melangkah masuk. Ia sempat berhenti karena melihat di pintu masuk terdapat garam yang di letakkan rapi disana, lalu memandang gadis tadi.

Gadis itu tersenyum malu, “Hanya berjaga-jaga saja..” ucapnya, lalu menutup pintu.

“Hmm..” gumam Kris dan melangkah masuk sambil memperhatikan, semuanya terlihat normal.

“Duduklah dulu, kau mau teh?” Tanya gadis itu ramah.

Kris tersenyum tipis, “Ne..” jawabnya dan bergerak duduk.

Gadis itu menghampiri meja dan menuangkan teh ke dua cangkir, lalu membawanya ke sofa. “Ini..” ucapnya sambil meletakkan dua cangkir itu ke meja.

“Gamshamida..” ucap Kris.

Gadis itu duduk di sofa di depan Kris sambil tersenyum, “Aku belum menyebutkan namaku, Aku Kim Taeyeon..” ucapnya.

“Annyeonghaseo..” sapa Kris canggung.

Gadis bernama Taeyeon itu mengambil satu cangkir dan duduk lurus lagi sambil tertawa kecil, “Aku tidak tau masih ada yang percaya blog-ku itu..” ucapnya lucu.

Kris memandang Taeyeon bingung, “Apa maksudmu?”

Taeyeon menyeruput teh di cangkirnya dan kembali memandang Kris, “Maksudku, sekarang sudah di penuhi teknologi tapi masih ada yang percaya tentang hal yang tidak bisa di pecahkan dengan logika manusia..” ucapnya sambil tetap tersenyum.

Kris diam sejenak dan menatap Taeyeon curiga, “Kim Taeyeon-ssi, apa kau menulisnya hanya untuk lelucon?”

Taeyeon tertawa kecil, “Tergantung, jika kau memikirkannya sebagai sebuah lelucon.. Maka itu adalah lelucon..”

“Kim Taeyeon-ssi, aku datang karena aku memang membutuhkan bantuanmu. Kenapa kau terus tertawa seperti itu?” Tanya Kris kesal.

Taeyeon tersenyum lucu, “Entahlah, aku merasa tujuanmu datang kemari itu aneh..”

Dahi Kris berkerut, “Apa maksudmu?”

“Bukankah ini lucu? Kau ingin berkonsultasi tentang adikmu, tapi kau tidak membawa adikmu..” ucap Taeyeon lucu, lalu tertawa kecil.

Kris tertegun, “Hei.. aku belum mengatakan maksudku kemari.” Ucapnya bingung.

“Gwenchana.. Kau bisa membawanya lain kali..” ucap Taeyeon.

Kris menatap Taeyeon bingung, “Bagaimana kau mengetahuinya?”

“Aku sudah memimpikan kedatanganmu semalam..” jawab Taeyeon.

“Ne?” Tanya Kris.

“Aniya, aku bukan peramal atau cenayang..” jawab Taeyeon langsung.

Kris tertegun dan menyipitkan mata menatap Taeyeon.

“Aniya, aku tidak bisa membaca pikiranmu.. Jangan memandangku seperti itu..” ucap Taeyeon lucu dan tertawa, lalu kembali meminum tehnya.

Kris tak tau harus mengatakan apa selain hanya menatap Taeyeon tak percaya dengan mulut sedikit terbuka.

Taeyeon tertawa lucu melihat ekspresi Kris, “Kris-ssi, jangan seperti itu..”

Kris mengelus belakang kepalanya bingung, “Lalu, apa kau bisa membantuku?”

Taeyeon berhenti tertawa namun masih menahan senyumannya, “Kurasa aku ingin bertemu adikmu, kau bisa membawanya kemari?”

Kris diam sejenak sambil berpikir, “Mmm.. Aku akan mengajaknya besok..”

 

=Kamar Kris=

“Temanmu?” Tanya Hyuna setelah mendengar ucapan Kris.

“Ne..” Jawab Kris sambil mengangguk, “Aku sudah lama tak bertemu dengannya dan kurasa pasti canggung jika pergi sendiri, kau mau menemaniku?” Tanyanya.

Hyuna tersenyum lebar, “Keure!!”

Kris tersenyum, “Keure..”

 

=Keesokan Harinya=

Hyuna turun dari taxi bersama Kris berjalan sambil memeluk lengan pria itu menuju rumah Taeyeon. “Oppa, yang mana rumahnya?” Tanyanya.

“Ini, kita sudah tiba..” Jawab Kris sambil membuka pagar pintu rumah Taeyeon.

Hyuna memandang rumah itu bingung sembari melangkah masuk, “Hmm.. Oppa, temanmu penyihir ya? Kenapa ada benda-benda aneh begitu?” Komentarnya heran.

Kris memandang Hyuna bingung, lalu memperhatikan rumah Taeyeon dengan dahi berkerut. Semuanya terlihat normal-normal saja dimatanya. Ia berhenti di depan pintu dan menekan belnya.

Hyuna menggumamkan sebuah lagu ceria sambil memandang sekitar, tangannya masih memeluk tangan Kris. Ia merasa senang karena pergi untuk pertama kalinya bersama pria itu. Ia menoleh ketika pintu terbuka.

Kris tersenyum melihat Taeyeon, “Annyeonghaseo Taeyeon-ssi..”

Taeyeon tersenyum dan memandang Hyuna.

Wajah cerah Hyuna langsung berubah kaku begitu melihat Taeyeon.

“Ooh.. Ini pasti Hyuna, annyeonghaseo..” Sapa Taeyeon ramah.

Hyuna menatap Taeyeon takut dan bersembunyi di belakang Kris.

Kris memandang Hyuna bingung dan memandang Taeyeon.

Taeyeon tertawa kecil, “Ayo masuk..” Ajaknya sambil bergeser dari pintu untuk memberikan ruang.

Kris memegang tangan Hyuna yang masih memeluk tangannya, “Gwenchana, ayo..” Ucapnya dan melangkah masuk.

Hyuna masih menyembunyikan wajahnya di balik punggung Kris sambil ikut melangkah masuk. Tapi tiba-tiba ia tersentak dan terdorong ke belakang oleh sesuatu yang tak terlihat. Matanya melotot kaget dan menatap Kris yang juga terkejut.

“Hyuna, waekeure?” Tanya Kris bingung.

Hyuna terlihat sangat bingung, “Oppa..” Panggilnya tak mengerti.

Taeyeon tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Gwenchanayo Hyuna-ssi, ayo masuk..”

Hyuna menatap Taeyeon seperti sesuatu yang menakutkan, lalu memandang tangan gadis itu.

“Gwenchana Hyuna, ayo masuk..” Ucap Kris lagi.

Hyuna memandang Kris ragu, pria itu mengangguk memberitau bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia kembali memandang Taeyeon dan mengulurkan tangannya perlahan ke tangan gadis itu. Ia tersentak ketika menyentuh tangan gadis itu dan tertarik masuk.

Kris langsung menangkap tubuh Hyuna.

Seluruh persendian di tubuh Hyuna tiba-tiba merasa lemas dan membuatnya tak bisa berdiri, “Oppa, tubuhku lemas..” Ucapnya sambil berusaha berpegangan pada tubuh Kris.

Kris menahan tubuh Hyuna dan memandang Taeyeon, “Apa yang terjadi Taeyeon-ssi?”

Taeyeon menunjuk garam yang tertata rapi di bawah pintu, “Dia tidak bisa melewati ini tanpa undangan dariku..”

Kris tertegun dan menatap Hyuna tak percaya, “Hyuna, gwenchana?”

Hyuna tak pernah merasa seperti ini dan mulai menangis, “Oppa..” Tangisnya.

“Ayo bawa dia..” Ucap Taeyeon dan berjalan duluan.

Kris menarik tangan Hyuna yang tidak di gips ke bahunya dan memapah gadis itu masuk.

Ruang tamu.

Kris duduk di sofa sambil memperhatikan Hyuna yang berbaring di pangkuannya tertidur lelap. Tangannya mengelus bahu gadis itu dan memandang Taeyeon yang duduk di depannya.

Taeyeon tampak menopang dagu sambil memperhatikan Hyuna khawatir.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia merasa sangat lemah seperti ini?” Tanya Kris ingin tau.

Taeyeon memandang Kris, terlihat kecemasan dalam tatapan gadis itu. “Ini karena garam itu..”

Dahi Kris berkerut, “Maksudmu?”

“Aku meletakkannya disana agar roh jahat tidak bisa masuk..” Jawab Taeyeon, lalu kembali memandang Hyuna prihatin.

Kris memandang Taeyeon tak mengerti, “Lalu?”

Taeyeon memandang Kris lagi, “Roh jahat itu sudah menguasai adikmu terlalu jauh, Kris-ssi..” Ucapnya.

Kris tertegun, “Mwo?”

Taeyeon menghela nafas dalam, “Dia tadi tidak bisa masuk karena tertahan oleh garam itu, roh jahat itu sudah menguasai sebagian tubuh adikmu. Karena itu dia tidak bisa masuk..”

Kris memandang Hyuna yang tampak tidur sangat tenang, lalu teringat kejadian sebelumnya saat dia menggunakan garam. “Oh.. Aku pernah menggunakan garam untuk mengitari tempat tidur agar dia tak bermimpi buruk lagi, tapi di pagi harinya ia sama sekali tak bernafas dan detak jantungnya sudah berhenti. Begitu aku membawanya keluar dari lingkaran itu Hyuna kembali bangun seperti tak terjadi apa pun..” Ceritanya.

Taeyeon diam sejenak, “Andwaeyo Kris-ssi, kau tidak boleh melakukan itu lagi. Roh jahat itu sudah menjerat adikmu, jika dia tidak bisa mendekati adikmu lebih dari 24 jam, adikmu akan mati..”

Kris menatap Taeyeon kaget, “Mwo?!”

“Mereka sekarang sudah seperti dua arwah di dalam satu tubuh. Jika kau berusaha menjauhkan satunya, maka satunya lagi juga ikut..” Jawab Taeyeon memberitau.

Kris terdiam mendengar penjelasan Taeyeon, “Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya ragu, “Ini terlalu rumit Kris-ssi, adikmu akan terus disakiti roh itu jika kau ikut campur..” Ucapnya khawatir. “Kau harus meyakinkan adikmu untuk melawan roh itu sekuat yang ia bisa..”

“Taeyeon-ssi, dia seperti tidak mengerti siapa roh itu atau apa mau roh itu sebenarnya. Bahkan setelah mimpi buruk yang menyebabkan tangannya patah dan bekas memar di lehernya, dia tak ingat apa pun ketika bangun..” Ucap Kris tak habis pikir.

Taeyeon diam sejenak dan mengangguk pelan, “Roh itu menghapus ingatan adikmu..”

Kris mengerutkan dahi lagi, “Waeyo?”

“Agar adikmu tetap polos dan selalu layaknya anak kecil dengan pemikiran bersih..” Jawab Taeyeon.

Kris tertegun, “Maksudmu… Sikap Hyuna yang kekanakan karena roh itu?” Tanyanya.

Taeyeon mengangguk, “Karena dia belum berhasil menguasai adikmu sejak kecil, jadi dia terus membuat adikmu berpikiran seperti anak kecil hingga dia bisa mempengaruhinya terus-menerus..” Jawabnya.

Kris menatap Hyuna khawatir, lalu kembali menatap Taeyeon. “Apa aku bisa membantunya? Aku pernah mendapatkan sebuah mimpi dan mendapatkan luka yang nyata di tubuhku. Apakah itu berarti dia juga menginginkanku?”

“Aku tidak tau apakah kau juga atau tidak, tapi kau tidak bisa melakukan apa pun karena roh itu bisa melakukan sesuatu padamu..” Ucap Teoyeon.

“Jadi aku hanya diam dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja?” Tanya Kris kesal.

Taeyeon memandang Hyuna beberapa saat, lalu kembali memandang Kris. “Apa kau berani mengambil resiko?”

Kris tertegun mendengar keseriusan dalam suara Taeyeon.

 

=Ruang Makan=

“Kalian pergi kemana tadi siang?” Tanya Victoria sembari makan malam.

“Kami ke rumah teman Kris oppa, eomma.. Di rumahnya banyak barang-barang aneh.. Tapi orangnya baik..” Cerita Hyuna dengan senyuman cerahnya.

“Hmm.. Perempuan?” Tanya Changmin sambil melirik Kris.

“Ne, appa..” Jawab Hyuna.

“Hmm.. Siapa Kris?” Tanya Victoria dengan senyuman jahilnya.

Kris memandang Victoria dan Changmin bergantian, lalu tersenyum tipis. “Hanya seorang teman..” Jawabnya canggung.

“Eonni itu baik sekali eomma..” Cerita Hyuna berlanjut lagi, “Dia memberiku gelang cantik ini..” Ucapnya sambil menunjukkan sebuah gelang kerang di tangannya yang tak tergips, “Eonni itu juga memberikanku ‘Dream catcher’ karena aku sering mimpi buruk.. Aku sudah menggantungnya di jendela kamar.. Jadi nanti yang akan datang hanya mimpi indah saja..”

Changmin tersenyum dan kembali melirik Kris, “Hmm.. Sepertinya gadis ini sagat spesial, Kris..”

Kris tertegun dan tersenyum kaku, ‘Memang spesial dalam hal ini..’ Batinnya.

“Kris-a.. seharusnya kau mengenalkannya pada eomma dulu, kenapa hanya pada Hyuna?” Tanya Victoria sebal.

Kris tersenyum malu, meskipun tidak tau apa yang sedang mereka bahas.

“Aniya eomma, tentu saja aku dulu.. Aku harus menyeleksi gadis-gadis yang bertemu oppa sebelum eomma..” ucap Hyuna dan tertawa kecil, lalu memandang Kris. “Keutji oppa?”

Kris tersenyum dan mengangguk, “Ne..”

Hyuna bertepuk tangan riang dan kembali melanjutkan makannya.

Malamnya.

Kris berdiri di jendela kamar Hyuna sambil memandang ke arah rawa, tidak terlihat jelas disana karena terlalu gelap, lalu mendongak memandang ‘Dream catcher’ yang di berikan Taeyeon pada Hyuna tergantung di sana.

“Ini hanya dream cather biasa, tapi akan menjadi luar biasa jika orang yang menggunakannya percaya dengan kegunaan benda ini..”

Ucapan Taeyeon kembali bergulir di kepalanya. Ia menoleh ketika mendengar seseorang mendekat.

“Oppa, kenapa disini?” Tanya Hyuna sambil mendekati Kris.

“Oppa ingin melihat ini..” jawab Kris sambil menunjuk ‘Dream catcher’ di atas kepalanya.

Hyuna tersenyum melihat benda itu, “Cantik kan oppa? Aku suka melihatnya bergerak ketika tertiup angin..” ucapnya senang.

Kris mengangguk, “Ne, setelah ini kau tidak akan bermimpi buruk lagi..”

Hyuna mengangguk, “Ne..” jawabnya.

Kris memandang tangan Hyuna yang masih mengenakan gelang pemberian Taeyeon tadi.

“Kerang memiliki cekungan di dalamnya, mereka bisa memberikan energy positif pada siapa yang menggunakannya. Semoga adikmu bisa perlahan-lahan terlepas dari roh itu..”

Kris kembali memanang Hyuna dan tersenyum, “Ayo tidur..” ucapnya dan melangkah ke tempat tidur.

Hyuna memandang Kris bingung, “Tidur di kamar oppa saja..” ucapnya.

Kris masuk ke bawah selimut dan memandang Hyuna, “Wae? Disini ada ‘Dream catcher’, bukankah akan lebih baik jika kita tidur disini?”

Hyuna memandang ‘Dream catcher’ tadi, lalu mengangguk membenarkan dan ikut naik ke tempat tidur. Ia berbaring di sebelah Kris dan menarik selimut ke tubuhnya, lalu memanang pria itu. “Oppa..”

Kris memandang Hyuna, “Ne?”

Hyuna diam sejenak, “Tadi saat kita ke rumah Taeyeon eonni, kenapa aku merasa sangat lelah?”

Kris diam sejenak juga untuk menemukan alasan yang tepat, “Mmm.. entahlah.. Mungkin kau sedang tidak sehat saja..”

Hyuna berpikir sejenak, “Tapi sekarang aku baik-baik saja..” ucapnya bingung.

Kris tersenyum dan merangkul Hyuna sambil menarik tubuh gadis itu ke tubuhnya, “Sudah, tidurlah.. Untuk apa kau memikirkan hal itu?”

Hyuna tersenyum dan menempelkan pipinya ke dada Kris, “Ne..”

Kris memejamkan mata sambil mengelus rambut Hyuna beberapa saat. Sekitar setengah jam kemudian, ia mulai mendengar dengkuran lembut dari gadis di dekatnya yang menandakan sudah terlelap. Ia memandang wajah gadis itu, lalu perlahan melepaskan rangkulannya dan bergerak bangkit dari tempat tidur.Ia mengambil tempat garam yang sudah ia sediakan dari bawah tempat tidur dan mulai menuangkannya di sepanjang garis pintu kamar, juga lemari Hyuna. Ia meninggalkan jendela yang masih terbuka lebar. Ia melangkah kesana dan memandang kearah. rawa Sinar bulan terlihat sudah menerangi halaman dan rawa, memang tidak seterang depan rumahnya yang menggunakan cahaya lampu.Matanya menyipit melihat pergerakan di rawa, setelah beberapa saat ia melihat seorang gadis berdiri disana. Satu sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman sinis.

“Jika roh itu menampakkan dirinya, berarti dia ingin menggertakmu Kris-ssi.. DIa ingin memberitaukanmu bahwa dia tidak takut dan akan melawanmu jika kau terus ikut campur, kau harus tetap kukuh demi adikmu.”

Ucapan Taeyeon membuat Kris semakin percaya diri menunggu gadis di ujung sana untuk muncul.

“Oppa..” panggil Hyuna.

Kris berbalik dan tertegun melihat Hyuna sudah ada di depannya, lalu memandang tempat tidur yang sudah kosong dan kembai memandang adiknya.

“Oppa waekeure?” Tanya Hyuna bingung.

Kris menghela nafas dalam, “Mmm.. aniya..” jawabnya, lalu memandang keluar jendela namun tak terlihat siapa pun di rawa.

“Waeyo oppa? Kau ingin kesana?” Tanya Hyuna.

Kris tertegun mendengar nada bicara Hyuna yang tak manja seperti biasa, lalu menatap gadis itu serius.

Hyuna tersenyum evil dan langsung menubruk tubuh Kris sambil memeluknya.

Kris terkejut tubuhnya dan Hyuna terjun bebas keluar dari jendela, “HYUNA!!” teriaknya kaget dan memeluk tubuh gadis itu sambil memejamkan mata menunggu tubuhnya melayang jatuh ke halaman.

BYURRR!!!

Bukan lahan keras yang menyambut Kris, melainkan air. Ia langsung berusaha bergerak dan mendorong tubuhnya keluar dari air itu. “Bwuuaaahah!!!” kepalanya berhasil keluar dari air sambil memuntahkan air yang sempat tertelan, lalu menghela nafas sedalam-dalamnya sambil memperhatikan sekitar. Dahinya berkerut dengan mata membesar melihat sekitarnya. Ia berada di rawa di sebelah rumahnya, namun hanya rawa yang ada disana. Tidak terlihat ada rumah atau jalanan disana. Jantungnya berdegup kencang mengetahui ia berada dalam masalah besar. Sedetik kemudian ia kembali teringat kejadian sebelumnya dan memandang sekitar panic, “Hyuna!! Hyuna-a!!” panggilnya sambil mencari-cari. Ia tertegun melihat sesosok gadis di balik sebuah pohon yang tumbuh di tengah danau, “Ya!! Dimana Hyuna!! YA!!” serunya sambil melangkah cepat kearah gadis itu. matanya membesar melihat itu adalah Hyuna, “Hyuna-a!”

Hyuna tersenyum, “Oppa..” ucapnya pelan.

Kris sangat lega melihat Hyuna dan langsung memeluk gadis itu erat, “Syukurlah, kau tidak apa-apa..” ucapnya.

“Oppa, ayo kita kembali..” ucap Hyuna sambil melepaskan pelukan Kris dan memandang pria itu sambil tersenyum.

Kris tertegun melihat ekspresi Hyuna.

Hyuna menggenggam tangan Kris dan melangkah di tengah air rawa itu.

Kris merasa ada yang janggal dengan sikap Hyuna dan menarik tangannya dari pegangan gadis itu.

Hyuna terkejut dan memandang Kris bingung, “Waeyo oppa?”

Kris menatap curiga, “Kau bukan Hyuna..” ucapnya sambil menggelengkan kepala.

“Apa maksudmu oppa? Tentu saja aku Hyuna..” ucap Hyuna, lalu tersenyum manis.

Kris semakin yakin gadis di depannya bukan Hyuna, jika memang adiknya pasti gadis itu sudah menangis dan merengek karena takut di tempat itu. “Kau bukan Hyuna!” serunya, lalu berbalik ke tengah danau. “Hyuna!! Kim Hyuna!!” panggilnya sambil melangkah cepat di tengah air itu. “Hyuna! Dimana kau?!” ia tertegun seseorang memegang bahunya, lalu memandang kebelakang.

Hyuna tersenyum, “Oppa, adikmu ada disini..”

Kris menatap orang yang terlihat seperti Hyuna di depannya tajam sambil mendorong tangan gadis itu dari bahunya, “Aku tau kau bukan Hyuna.. Kau roh jahat yang selalu mengganggunya, benar kan?!”

Hyuna menatap Kris lucu dan tertawa kecil, “Oppa, kau sangat lucu.. Sudahlah, kita kembali saja.” Ucapnya sambil menarik tangan Kris.

“Ya!!” seru Kris sambil menyentak tangan Hyuna dan menatap gadis itu tajam, “Kau hanya roh yang tak memiliki tujuan, kau sangat menyedihkan! Kembalikan Hyuna!!” serunya.

“Oppa, aku Hyuna..” ucap Hyuna bingung.

Tangan Kris bergerak ke wajah gadis itu karena terlalu emosi. PLAK!!!

Klek…

Kris terkejut tiba-tiba cahaya terang muncul dan melihat ia sudah berada di kamar Hyuna lagi, bajunya masih kering dan tidak ada air setetespun disana.

“Kris! Apa yang kau lakukan?!” seru Victoria sambil merangkul Hyuna yang tampak menangis sambil memegangi pipi.

Kris tertegun melihat Hyuna menangis di pelukan Victoria, lalu memandang tangannya yang tadi menampar gadis itu.

“Kris! Kenapa kau memukul adikmu?!” Tanya Changmin tak mengerti.

Kris sangat bingung dengan apa yang sedang terjadi. Tadi ia berada di rawa dan sekarang sudah ada disini lagi. lalu memandang Hyuna yang masih menangis, “Hyuna-a..”

“Waekeureyo oppa? Kenapa kau memukulku?” Tanya Hyuna sambil tersedu.

“A-ani.. oppa..” Kris bingung sendiri apa yang telah ia lakukan.

“Masuk ke kamarmu, Kris!” tegas Changmin.

Kris menunduk menyesal dan langsung melangkah ke kamarnya.

Keesokan harinya.

Kris masuk ke ruang makan dengan pakaian seragamnya. Perasaannya masih bercampur akibat kejadian semalam. Dan ia tau suasana di rumah juga. Begitu masuk semua yang ada disana langsung memandangnya. “Annyeonghaseo..” sapanya sambil membungkuk sopan dan bergerak duduk.

Hyuna memandang Kris khawatir, “Oppa, gwenchana?”

Kris memandang Hyuna menyesal, “Mianeyo, oppa tidak tau apa yang terjadi padaku semalam..”

Hyuna tersenyum dan mengangguk, “Ne, oppa..”

Kris menatap Hyuna dalam. Sebenarnya ia masih menyadari sikap gadis itu tidak seperti Hyuna yang biasanya manja dan selalu berbicara dengan nada lucu, namun jika tidak seperti ini dia bisa di tendang keluar dan tidak mungkin bisa membawa Hyuna yang asli kembali.

“Kris, eomma tidak tau apa yang terjadi semalam.. Tapi jangan pernah terjadi lagi..” ucap Victoria tegas.

Kris mengangguk mengerti.

 

=Rumah Taeyeon=

“Mwo?! Lalu adikmu?” Tanya Taeyeon kaget.

Kris menggeleng, “Aku tidak tau.. Dia memang Hyuna, tapi sikapnya sangat aneh.. Dia tidak seperti Hyuna yang kukenal sebelumnya..”

Taeyeon diam sejenak sambil mengetuk-ketuk dagunya dengan jari telunjuk sambil berpikir, “Hmm..”

Kris menatap Taeyeon menunggu apa yang akan di katakan gadis itu.

Akhirya Taeyeon memandang Kris, “Mmm.. ini masalah yang lebih besar dari yang kuduga, sejujurnya aku tidak terlalu yakin apa aku bisa membantumu atau tidak..” ucapnya ragu, “Tapi aku akan berusaha semampuku..”

Kris mengangguk mengerti, “Ne..”

Taeyeon menghela nafas dalam, “Mmm.. Sepertinya kau harus menghadapi roh itu langsung..”

“Bagaimana caranya?” Tanya Kris.

“Dengar, sebelum roh itu menyatu dengan tubuh adikmu.. Kau harus menemukan dimana adikmu..” jawab Taeyeon. “Dan kau harus ingat bagaimana pun dia menggunakan tubuh adikmu, jangan melukainya..”

Kris menatap Taeyeon serius, “Bagaimana?”

“Gelang yang kuberikan pada Hyuna akan membimbingmu pada adikmu..” ucap Taeyeon.

Kris tertegun, “Gelang?”

 

=Rumah Keluarga Kim=

Kris memandang jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam, lalu memandang pintu kamarnya. Hyuna tak datang seperti biasanya. Ia bergerak bangkit dan berjalan keluar. Kakinya berhenti di depan pintu kamar gadis itu dan mengetuknya perlahan, “Hyuna..”

Terdengar langkah kaki mendekat dan pintu terbuka, muncul Hyuna yang langsung tersenyum begitu melihat Kris. “Oppa..” sapanya.

Kris tersenyum tipis, “Boleh oppa masuk?”

“Keurom, ayo masuk..” ucap Hyuna sambil membuka lebar pintu.

Kris melangkah masuk dan memperhatikan kamar Hyuna, tidak terlihat berbeda sedikit pun. Ia tertegun melihat jendela tertutup.

“Waeyo oppa?” Tanya Hyuna sambil menghampiri Kris.

Kris memandang Hyuna, lalu memandang tangan gadis itu. tidak terlihat gelang pemberian Taeyeon disana.

Hyuna memandang tangannya dan kembali memandang Kris, “Gelang dari Taeyeon eonni terlalu berat oppa, jadi aku menyimpannya..” ucapnya.

Kris tersenyum tipis, “Boleh oppa melihatnya sebentar? Kemarin kau berkata kau membenturkannya pada sesuatu..”

“Sebentar oppa..” ucap Hyuna sambil menghampiri meja belajarnya dan mengambil gelang tadi di dalam kotak, lalu kembali menghampiri Kris sambil mengulurkannya.

Kris menerima gelang itu dan memandangnya dengan cermat.

“Tidak rusak oppa, aku bersyukur sekali..” ucap Hyuna sambil tersenyum.

Kris mengangguk mengerti, “Hmm.. oppa akan menyimpannya dulu.. Tidurlah..” ucapnya, lalu melangkah keluar.

“Waeyo oppa?” Tanya Hyuna sambil mengikuti Kris.

“Aniya, gwenchana.. Oppa ingin menyimpannya beberapa saat.” Jawab Kris sambil terus melangkah menuju pintu kamar yang terbuka. Ia berhenti karena Hyuna menahan tangannya, ia berhenti dan memandang gadis itu.

“Waeyo oppa? Taeyeon eonni kan memberikannya padaku..” ucap Hyuna.

Kris menatap Hyuna dingin, “Aku tau, aku akan mengembalikannya nanti..” ucapnya, lalu menarik tangannya dan melangkah keluar.

Hyuna terdiam mendengar nada bicara Kris dan hanya berdiri di tempatnya.

Kris menutup pintu kamar Hyuna dan memandang ke pintu itu beberapa saat. Kemudian melangkah pelan menuju tangga, ia memperhatikan keadaan ruang bawah memastikan tidak ada siapa pun disana. Lalu mengendap-endap ke pintu depan. Tanpa menimbulkan suara ia membuka pintu dan keluar, lalu kembali menutupnya. Ia memandang sekitar dan langsung melangkah cepat menuju rawa.

Ia hati-hati melangkah di antara pepohonan hanya dengan bantuan cahaya dari bulan yang terlihat sangat bundar di atas sana. Kakinya berhenti di depan danau itu sambil memperhatikan sekitarnya, tangannya menggenggam gelang pemberian Taeyeon. ‘Hyuna-a, jebal..’ batinnya penuh harap agar ia bisa menemukan adiknya. Kepalanya menoleh mendengar pergerakan di air dan menatap kesana serius, “Hyuna?”

“Oppa..”

Kris tertegun mendengar suara Hyuna, “Hyuna?” panggilnya, ia sangat yakin mendengar suara gadis itu. ia langsung melangkah masuk ke air sambil mencari asal suara tadi, “Hyuna-a.. ini oppa..” panggilnya. Ia melewati sebuah pohon yang tumbuh di tengah air itu dan melangkah lebih dalam. “Hyuna-a..” panggilnya sambil terus melangkah. Semakin lama langkahnya semakin berat karena lumpur di dasar danau yang semakin dalam, namun itu tak menghentikannya untuk menemukan Hyuna. “Hyuna!!” panggilnya lagi.

“Oppa..”

Kris berhenti dan memandang sekitar, “Hyuna! Dimana kau?!”

“Kris oppa..”

Kris menoleh kearah pepohonan yang tumbuh rimbun di tengah danau, “Hyuna!!” panggilnya sambil berusaha melangkah cepat kesana. Nafasnya terasa berat karena rasa lelah, tapi ia tak akan berhenti. Sekarang air sudah mencapai sikunya dan lumpur mulai memenuhi air yang tenang tadi.

“Oppa..” terdengar suara Hyuna yang tengah menangis semakin jelas di telinga Kris.

Kris tiba di pepohonan rimbun itu dan melewatinya untuk tiba di seberang, saat itu, ia melihat Hyuna menangis di sudut danau yang langsung tertahan sebuah tebing berlumut. “Hyuna!!”

Hyuna tertegun dan memandang Kris, “Oppa..” serunya dan berlari kearah pria itu, namun sebuah akar pohon berwarna hitam terikat pada lehernya hingga ia tak bisa melangkah terlalu jauh.

Kris langsung berlari kearah Hyuna dan memeluk gadis itu erat.

Hyuna memeluk Kris erat sambil menangis tersedu-sedu.

Kris mengelus rambut Hyuna dan melepaskan pelukannya untuk memandang gadis itu khawatir, “Neo gwenchana?”

“Aniyo oppa, aku takut disini..” jawab Hyuna sambil terus menangis.

Kris lega ia menemukan adiknya, “Gwenchana, oppa kemari untuk menjemputmu..” ucapnya sambil menyeka air mata adiknya.

Hyuna berusaha menenangkan dirinya dan baru menyadari Kris benar-benar menemukannya, “Oppa, bagaimana oppa tiba disini?”

Kris menunjukkan gelang dalam genggamannya, “Taeyeon berkata ini akan membawaku padamu..”

Hyuna memandang gelang itu dan memandang Kris, “Lalu, sekarang apa yang harus kulakukan oppa? Dia tidak mau membawaku kembali.. dia berkata aku harus disini selamanya..” ucapnya dan mulai menangis lagi.

Kris menggeleng, “Aniya, aniya.. Kau tidak akan selamanya disini.. Oppa akan membawamu kembali.” Ucapnya.

“Eoteokhe?” Tanya Hyuna.

Kris diam sejenak untuk berpikir. Saat itu ia menyadari ada akar yang menjerat leher adiknya seperti yang ia lihat di dalam mimpi. “Kita harus melepaskan ini dulu..” ucapnya sambil mencari dimana ia bisa melepaskan benda itu.

“Aniya oppa!” Hyuna mendorong tangan Kris agar tak menyentuh benda itu, “Jika kau menyentuhnya akar ini akan semakin mencekikku..”

Kris tampak tertegun, “Ne? ohh.. apa yang harus kulakukan sekarang?” gumamnya sambil berpikir. Ia menemukan sebuah ide dan memandang gelang kerang di tangannya, “Coba kenakan ini..” ucapnya sambil menarik tangan Hyuna.

Hyuna memperhatikan Kris memasangkan gelang pemberian Taeyeon ke tangannya. begitu gelang tersebut terpasang, matanya terpejam dan langsung mencengkeram lehernya yang terasa tercekik.

Mata Kris membesar, “Hyuna!! Hyuna!!”

“Ahhkk!” rintih Hyuna dengan bulir air mata kembali berjatuhan, namun tak lama akar itu merenggang dan terlepas dari lehernya. Ia kembali bisa menghela nafas lega dan memandang Kris.

Kris menatap Hyuna serius, “Gwenchana? Akarnya sudah terlepas?”

Hyuna mengangguk, “Ne..”

Kris tersenyum dan memeluk Hyuna erat sekilas, lalu kembali menatap gadis itu. “Khaja.. kita harus kembali ke rumah..”

Kamar Hyuna.

Hyuna yang berbaring di tempat tidur membuka mata dan bergerak duduk, lalu memandang pintu kamarnya.

Pintu kamar terbuka, masuk Kris dengan wajah dinginnya.

Hyuna memandang Kris bingung, “Oppa waeyo? Kenapa kau di penuhi lumpur begitu?”” tanyanya.

Kris menutup pintu, lalu menabur garam di depannya, kemudian melangkah cepat ke jendela dan menaburnya di sana.

Dahi Hyuna berkerut bingung, “Oppa?”

Kris menatap Hyuna yang ada di tempat tidur dingin dan tersenyum sinis, “Ini bukan tempatmu, juga bukan tubuhmu..”

Hyuna tertegun melihat pintu lemari terbuka dan Hyuna yang lain muncul, matanya membesar tak percaya. “Bagaimana… tidak mungkin..”

Hyuna terkejut melihat dirinya yang lain di tempat tidur dan langsung bersembunyi di belakang Kris.

“Aku tau sekarang kenapa Hyuna berkata kau ada di lemarinya.. Kau sangat pintar..” ucap Kris kesal.

Wajah polos Hyuna berubah licik dan tersenyum sinis, “Ne.. tentu saja aku tau apa pun yang ada dirumah ini.. ratusan tahun lalu ini adalah rumahku..”

“Kau sudah mati, kembali ke kuburmu dan jangan ganggu adikku lagi!” tegas Kris.

Hyuna yang ada di tempat tidur menatap Hyuna yang bersembunyi di belakang tubuh Kris, “Bukankah kita berteman Hyuna? Kenapa kau tidak mau berbaik hati padaku?”

Hyuna yang bersembunyi di belakang tubuh Kris mengintip Hyuna yang ada di tempat tidur, “Kau selalu jahat padaku, aku tidak mau berteman denganmu lagi..”

“Kau harus menyadari dimana tempatmu!” Seru Kris dan melemparkan garam yang ada di tangannya.

“Kyaaaaaaaaaaaaa!!!!” Jerit Hyuna karena garam itu melukainya.

“Oppa!” Seru Hyuna yang asli ketakutan sambil memeluk pinggang Kris dari belakang.

Kris memegang tangan Hyuna untuk menenangkan gadis itu.

Tak lama pintu kamar terbuka dan terlihat Changmin dan Victoria masuk dengan wajah panik, “Ada apa?!!”

“Eomma..” Tangis Hyuna palsu itu sambil berlari menghampiri Victoria.

“Omo.. Waekeure?” Tanya Victoria sambil memeluk Hyuna.

“Kris! Ada apa lagi ini?!” Seru Changmin, ia mengerutkan dahi melihat penampilan Kris. “Darimana kau, Kris? Bajumu di penuhi lumpur seperti ini!”

Kris melirik kebelakang karena merasakan pelukan Hyuna terlepas dari pinggangnya.

Hyuna menatap kedua orang tuanya tak percaya, “Eomma.. Aku Hyuna..” Ucapnya dengan nada terluka.

“Kris!!” Seru Changmin karena pria itu tak menjawab.

Hyuna menatap ayahnya, “Appa, Kris oppa tidak salah..” Ucapnya sambil menghampiri pria itu, namun ia tak bisa menyentuhnya. Seperti ada sebuah tameng pembatas diantara mereka. Ia terkejut dan menatap ayahnya, “Appa..”

“Eomma, Kris oppa melempariku dengan garam itu.. Minta dia berhenti..” Rengek Hyuna palsu itu.

“Ne.. Ne.. Eomma akan meminta oppa berhenti..” Ucap Victoria sambil menyeka air mata putrinya.

Bulir air mata Hyuna yang asli berjatuhan melihat ibunya memeluk putri yang lain, dan gadis yang terlihat sepertinya itu tersenyum licik padanya. Ia tak bisa membiarkan ini, tidak pada ayah dan ibunya. “YA!!!” Teriaknya penuh kemarahan.

Duarr!! Tarr!! Tar!!

Semua lampu, cermin dan lukisan yang gantung pecah hingga membuat semua orang disana terkejut.

“Kyaaaaaa!!” Jerit Hyuna di pelukan Victoria.

“Oh! Ada apa ini?” Tanya Changmin sambil memperhatikan sekitar.

Kris diam memperhatikan Hyuna yang menangis sedih karena ia tak terlihat oleh ayah dan ibunya.

“Eomma.. Appa.. Aku Hyuna, bukan dia..” Tangis Hyuna.

Kris menatap Hyuna sedih, lalu memandang Hyuna palsu yang menangis di pelukan Vicoria.

Hyuna memandang Kris dan mengguncang tangannya, “Oppa.. katakan pada eomma itu bukan aku..” pintanya.

Changmin mengerutkan dahi melihat Kris menatap kedepan seperti ada sesuatu disana dan tubuh pria itu bergerak seperti seseorang mengguncangnya, “Kris?”

“Eomma, aku tidak mau disini..” ucap Hyuna palsu pada Victoria.

“Ne, ayo..” ucap Victoria sambil merangkul Hyuna dan membawanya keluar, namun sebelum keluar dari pintu gadis itu tertahan sesuatu dan terpental ke belakang. “Oh! Hyuna!!”

Changmin terkejut Hyuna hampir terjungkal ke belakang dan menangkap putrinya itu, “Oh Hyuna!!”

Kris tertegun sesaat melihat itu.

“Hyuna! Gwenchana? Apa yang terjadi tadi?” Tanya Victoria sambil menghampiri Hyuna.

Changmin menatap Kris tak mengerti, “Kris!! Apa-apaan ini semua?!”

Kris menatap Hyuna palsu yang terlihat bingung disana. Hyuna asli yang masih memegang tangannya memandang mereka bingung.

Victoria memandang Kris tak mengerti, “Kris, ada apa ini?”

Kris memandang Victoria, “Eomma, gadis yang kau lihat itu memang putrimu..” ucapnya pelan, “Tapi arwah yang berada di dalamnya bukan putrimu..”

Dahi Victoria dan Changmin berkerut, “Kris?”

“Oppa, apa yang kau katakan?” Tanya Hyuna palsu itu sambil menangis.

“Aku tau ini tidak masuk akal, tapi ini yang sebenarnya terjadi..” ucap Kris pelan.

“ne, eomma.. appa.. Kris oppa benar!” ucap Hyuna asli berusaha menjelaskan.

“Eomma..” rengek Hyuna palsu pada Victoria.

“Yoyeon?” terdengar suara seorang gadis di ambang pintu.

Semuanya tertegun dan memandang kearah datangnya suara tadi.

Kris mengerutkan dahi melihat Taeyeon sudah berdiri disana.

Hyuna atau gadis yang bernama Yoyeon itu memandang Taeyeon dan tertegun melihat gadis itu, “Taeyeon?”

Victoria memandang kedua gadis itu bergantian.

Taeyeon melangkah masuk mendekati Yoyeon yang berada dalam tubuh Hyuna tak percaya bercampur sedih, “Kau benar Yoyeon?”

“Eonni!!” panggil Hyuna.

“Taeyeon-ssi, kenapa kau ada disini?” Tanya Kris tak mengerti.

Changmin memandang Kris dan Taeyeon bergantian.

Semua orang memang melihat secara fisik adalah Hyuna, namun di mata Taeyeon, gadis itu terlihat seperti wujud aslinya. Memiliki wajah identical dengannya. “Yoyeon-a..” panggilnya sambil memegang tangan gadis itu.

“Eoteokhe? Kau masih hidup?” Tanya Yoyeon tak percaya.

Mata Taeyeon berkaca-kaca dan menggeleng, “Aniya, aku juga berwujud semu sepertimu.. Tapi aku tidak dipenuhi dendam dan kebencian sepertimu, Yoyeon.. Karena itu aku bereinkarnasi ke generasi berikutnya..” ucapnya.

Bulir air mata Yoyeon mulai berjatuhan, “Wae? Aku juga sama sepertimu.. Kenapa hanya kau? Wae?”

Taeyeon menggenggam kedua tangan Yoyeon dan menatap gadis itu dalam, “Karena aku menginginkannya..” ucapnya, “Aku tidak ingin meninggalkan dunia ini seorang diri.. Aku ingin pergi bersamamu..”

Yoyeon tertegun mendengar ucapan Taeyeon.

“Aku tidak bisa mendekatimu karena kau selalu di penuhi dendam.. Lupakan semuanya, itu adalah masa lalu. Kita memang di takdirkan meninggal saat itu.. Jadi hentikan ini..” mohon Taeyeon dengan bulir air mata berjatuhan.

Kris memandang Taeyeon dan Hyuna palsu itu bergantian, lalu memandang Hyuna disisinya yang terlihat bingung.

Victoria dan Changmin saling berpandangan bingung.

“Gwenchana Yoyeon-a, kita bisa pergi ke tempat yang lebih baik.. Disini bukan tempat kita..” ucap Taeyeon sepenuh hati.

“Tapi.. tapi aku sudah melakukannya sejauh ini.. Aku akan kembali hidup sebentar lagi.. Aku tidak akan pergi!” ucap Yoyeon sambil mendorong Taeyeon dan menatapnya tajam, “Aku tidak akan melupakan semuanya!! Aku akan hidup seperti ini!!”

“Yoyeon-a.. Jebal, jangan lakukan ini..” pinta Taeyeon.

Yoyeon menggeleng, “Andwae! Aku sudah melakukannya sejauh ini Taeyeon!”

“Untuk apa kau hidup di hidup orang lain? Kita bisa hidup tenang tanpa di ganggu siapa pun setelah ini.. Tapi jika kau melakukan ini, kau akan dihukum karena telah membuat orang lain menderita, Yoyeon..” mohon Taeyeon sambil menangis.

Yoyeon terdiam menatap Taeyeon dengan bulir air mata berjatuhan.

Taeyeon melangkah maju dan kembali memegang kedua tangan Yoyeon dan menatapnya dalam, “Yoyeon, jangan rusak kebahagian seseorang hanya untuk memenuhi obsesimu.. Kita memang sudah di takdirkan mati, itu berarti urusan kita sudah selesai..”

Yoyeon tertegun sesaat, lalu memandang Hyuna. Kemudian kembali memandang Taeyeon, “Tapi aku…”

“Gwenchana, kau bisa mengembalikan semuanya.. Masih belum terlambat untuk menyelesaikannya, Yoyeon-a..” ucap Taeyeon dan tersenyum hangat.

Yoyeon menatap kedua mata Taeyeon, “Kau tidak akan meninggalkanku kan?”

Taeyeon menggeleng, “Aniya.. Kita akan bersama lagi..” ucapnya, “Lihat.. aku memegang tanganmu, ayo kita pergi..” ucapnya sambil tersenyum.

Yoyeon tersenyum dan mengangguk.

Sebuah cahaya menyilaukan muncul, membuat semua orang terkejut dan terpental akibat dorongan hebat dari efek yang di timbulkan cahaya itu.

…………………………………………………………………………………………………………………………….

“Hmm…” gumam Kris sambil bergerak sedikit. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya dan memeluk bantal guling di dekatnya. Dahinya berkerut merasakan bantal itu memiliki tangan dan kaki juga, lalu membuka sedikit matanya. Saat itu ia melihat seorang gadis yang juga memeluk bantal guling yang sama. Ia mengedipkan mata beberapa kali dengan dahi tetap berkerut.

“Oppa… ini gulingku..” gumam Hyuna dan memperat pelukannya pada guling itu tanpa membuka mata.

Kris melepaskan guling itu dan bergerak bangkit sedikit sambil menahan tubuhnya dengan siku, ia memandang sekitar bingung karena merasa ada sesuatu yang aneh. Matanya berhenti pada sebuah dream catcher yang tergantung di sebuah jendela yang terbuka, dahinya berkerut dan memperhatikan beberapa saat. Tap! Semuanya kembali terlihat jelas di ingatannya dan menatap Hyuna di sisinya serius, “Hyuna! Hyuna-a!!” panggilnya sambil memegang kedua pipi gadis itu.

Dahi Hyuna berkerut dan membuka mata perlahan, “Hmm.. waekeure oppa?” gumamnya sebal karena tidurnya terganggu.

Kris tersenyum mendengar respon Hyuna, lalu menyibak selimut dan melihat satu tangan gadis itu masih tergips dan baik-baik saja. Berarti semuanya sudah kembali seperti semula.

Hyuna memandang Kris bingung, “Waeyo oppa?”

Kris menggeleng sambil tersenyum, “Aniya, gwenchana..” jawabnya dan memeluk gadis itu erat, “Oppa gwenchana..” ucapnya sambil mengelus rambut gadis itu.

Hyuna tertegun sesaat, lalu tersenyum dan membalas pelukan Kris.

Hanya Kris yang mengingat semua kejadian sebelumnya. Semua orang di rumah kembali ceria dan sangat normal seperti tidak pernah terjadi apa pun.

“Jadi, apa kau sudah memutuskan ke Universitas mana kau akan mendaftar Kris?” Tanya Changmin saat sarapan.

Kris memandang Changmin bingung, “Ne?”

Victoria tersenyum, “Jika kau memang ingin melanjutkan ke Universitas, kau bisa memilihnya Kris.. tapi kau harus berjanji untuk serius belajar..” ucapnya.

Kris memandang ibunya dan Changmin bergantian, lalu tersenyum. “Aku akan memikirkannya..”

Hyuna memandang Kris, “Oppa, jangan kuliah di luar negeri ya.. nanti aku kesepian..” pintanya dengan puppy-eyes yang tak pernah gagal membuat pria itu luluh.

Kris tertawa kecil dan mengelus rambut Hyuna, “Ne..”

“Humm.. kau jadi lebih manja pada Kris sekarang, appa cemburu sekali..” ucap Changmin pura-pura sebal.

Semuanya tertawa mendengar ucapan Changmin.

Kris memandang Changmin dan tersenyum sendiri, ia berpikir akan sangat canggung jika bersama pria yang bukan ayah kandungnya itu. tapi ternyata ia salah.

Setelah sarapan.

“Kris, kau ingin kuantarkan ke sekolah?” Tanya Changmin sambil melangkah menuju mobilnya.

Kris tersenyum dan mengikuti Changmin, “ne, gamshamida..”

“Let’s go..” ucap Changmin sambil membuka pintu dan masuk, begitu juga dengan Kris. Mereka mengobrol panjang lebar selama perjalanan menuju sekolah Kris.

Kris tertawa dan mengetahui betapa menyenangkannya pria yang di nikahi ibunya ini, ia merasa seperti memiliki sosok ayah dan teman yang baru.

“Oke, kita tiba..” ucap Changmin.

Kris melepaskan safety beltnya dan keluar, lalu memandang Changmin melalui kaca jendela.

“Belajarlah dan dapatkan nilai yang sangat bagus agar kau bisa masuk dengan mudah ke universitas, araso?” Tanya Changmin serius, lalu tersenyum.

Kris tersenyum dengan tatapan kagum pada pria di depannya ini, lalu mengangguk mengerti. “Ne, abeutji..” ucapnya, lalu segera berbalik dan melangkah pergi dengan senyuman di wajahnya.

Changmin tertegun sesaat mendengar panggilan Kris, lalu tersenyum. Ia kembali menghidupkan mesin dan melanjutkan perjalanannya.

 

=Sepulang Sekolah=

Kris mengerutkan dahi begitu tiba di depan rumah Taeyeon, karena di sekitar rumah tergantung bunga-bunga indah yang sebelumnya tidak terlihat olehnya. “Apa memang ini rumahnya?” gumamnya tak mengerti sambil memandang sekitar. Tapi alamatnya benar. Ia membuka pagar dan melangkah masuk, lalu menekan bel dan menunggu. Tak lama pintu terbuka dan muncul seorang wanita paruh baya berwajah ramah. Ia tertegun dan langsung membungkuk sopan, “Annyeonghaseo..”

Wanita itu tersenyum, “Ne, ada yang bisa kubantu anak muda?”

“Mmmm.. cesongeo eommanim.. Aku teman Kim Taeyeon, apakah aku bisa bertemu dengannya?” Tanya Kris sopan.

Perlahan senyuman wanita itu memudar, “Ne?”

“Apa Kim Taeyeon tidak dirumah?” Tanya Kris bingung.

Wanita itu memandang Kris beberapa saat, lalu bergeser. “Ne, dia dirumah.. masuklah..”

Kris tersenyum dan melangkah masuk, ia menghela nafas lega karena semua isi rumah ini masih sama seperti yang ia lihat waktu itu.

“Mmm.. Taeyeon ada dikamarnya, ayo..” ajak wanita itu dan berjalan duluan.

Kris bingung wanita itu mengajaknya ke kamar Taeyeon, namun ia hanya melangkah mengikuti wanita itu.

Wanita tadi membuka pintu kamar dan memandang Kris, “Masuklah.. kau bisa bertemu dengannya..” ucapnya, lalu berbalik pergi.

Kris semakin bingung, namun tak punya pilihan lain selain melangkah masuk. “Taeyeon-ssi..” panggilnya sambil mengintip kedalam.

Taeyeon yang sedang berdiri di dekat meja sambil menyemprot bunga di dalam pot yang berwarna putih memandang Kris, “Oh.. Kris-ssi..” ucapnya sambil tersenyum.

Kris tersenyum dan melangkah masuk, “Hei.. apa tidak apa-apa aku langsung masuk seperti ini?” tanyanya memastikan.

Taeyeon mengangguk, “Gwenchana, masuklah..”

Kris menghampiri Taeyeon, “Fiuuhh.. syukurlah kau masih mengingatku.. Semua orang di rumah tidak mengingat apa pun tentang kejadian waktu itu..”

Taeyeon tertawa kecil, “Ne.. aku membuat mereka melupakannya agar tidak mengganggu apa pun dari hidup kalian..”

Kris tersenyum, “Gamshamida kau sudah membantuku..” ucapnya tulus.

Taeyeon mengangguk, “ne..” jawabnya, “Dan ada seseorang yang ingin mengucapkan sesuatu padamu..”

Kris memandang Taeyeon penasaran, namun jawabannya segera datang ketika seseorang muncul dari belakangnya. Ia menoleh dan melotot melihat seorang gadis yang menyerupai Taeyeon berjalan menghampiri gadis itu.

“Kris-ssi, ini adalah saudari kembarku. Kim Yoyeon..” ucap Taeyeon sambil menggandeng gadis tadi.

Kris menatap Yoyeon tak percaya, “Jadi.. kau yang selama ini ada di rumahku?”

Yoyeon menatap Kris menyesal, “Maafkan aku Kris-ssi.. Itu adalah rumah dimana aku, Taeyeon dan keluargaku tinggal beratus tahun lalu..” ucapnya dan memandang kebawah sedih, “Aku sangat iri melihat Hyuna tumbuh seperti itu dan berpikir aku bisa mengambil alih tubuhnya. awalnya aku ingin membujuknya perlahan dengan mengajaknya bermain, namun dengan pertumbuhannya ia mulai mengerti dan tidak mau mengikutiku lagi..” ucapnya pelan, lalu memandang Kris lagi, “Jeongmal cesonghamida..”

Kris diam sejenak, “Mmm.. ne..” jawabnya kaku. Hanya itu yang bisa ia ucapkan sekarang.

Taeyeon memandang Yoyeon dan kembali memandang Kris sambil tersenyum, “Kami meninggal di rumah itu karena sakit parah ketika kami seumuran Hyuna..” ucapnya, lalu memandang saudarinya, “Lalu ketika seharusnya kami masuk ke pintu menuju dunia lain, Yoyeon merasa semua ini tidak adil dan tidak mau menerima kematiannya.. Hingga akhirnya hanya aku yang melewatinya sementara Yoyeon tetap tertinggal..” ceritanya dan kembali memandang Kris, “Aku memohon pada dewi reinkarnasi agar aku diijinkan kembali ke dunia untuk menjemput saudariku, setelah ratusan tahun akhirnya aku bisa kembali ke dunia ini sebagai orang baru.. Namun perlu waktu lama untukku bertemu lagi dengan Yoyeon. Semua ini berkatmu, Kris-ssi.. Gamshamida..” ucapnya tulus.

Kris tersenyum, “Ne, senang bisa membantumu..”

Yoyeon tersenyum memandang Kris, “Kris-ssi, Hyuna sangat special.. kumohon jaga dia dengan baik..” ucapnya, “Aku menghapus semua memorinya tentang diriku agar dia tidak mengingat hal buruk yang telah kulakukan dan menjalani hidup dengan bahagia.. Jadi, isilah ingatan kosongnya itu dengan memori yang membuatnya bahagia..”

Kris tersentuh mendengar ketulusan dalam ucapan Yoyeon, lalu mengangguk. “Ne..” jawabnya, ia merasa tenang kedua gadis itu bisa kembali bersama dan tersenyum tulus padanya.

“Anak muda..” panggil ibu Taeyeon di masa keduanya.

Kris tertegun dan berbalik, “Ne?”

Ibu Taeyeon tersenyum dan melangkah masuk, “Apa kau sudah bertemu dengannya?”

Kris tersenyum dan mengangguk, “Ne, eommanim..” ucapnya dan kembali memandang ke depan. Tapi tidak ada Taeyeon dan Yoyeon lagi, melainkan sebuah photo yang berukuran besar yang berdiri di atas meja. Di depan meja itu terdapat bunga indah berwarna putih. Ia tertegun melihat betapa cantiknya Taeyeon yang tersenyum di photo itu.

Ibu Taeyeon tersenyum memandang photo putrinya, “Ini adalah bunga kesukaannya.. Dulu dia selalu menanam bunga ini dan memberitauku untuk mengumpulkan bunga-bunganya yang berguguran..” ucapnya mengenang masa lalu.

Kris tertegun melihat photo itu dan memandang ibu Taeyeon.

Ibu Taeyeon tersenyum pada Kris, “Apa putriku mendatangimu baru-baru ini hingga kalian berteman?”

Kris tidak tau harus mengatakan apa pun, tapi ia harus berkata jujur. “Ne..”

Ibu Taeyeon menghela nafas lega dan kembali memandang photo putrinya, “Ternyata benar, dia masih disini dan membantu orang-orang..”

“Eo-eommanim.. apa maksudnya ini?” Tanya Kris sambil menunjuk photo Taeyeon.

“3 tahun lalu, ketika usianya masih 16 tahun.. Dia terkena demam yang sangat tinggi hingga merusak otaknya, dia berada dalam keadaan koma untuk waktu yang lama hingga akhirnya aku memutuskan membiarkannya pergi tahun lalu..” cerita ibu Taeyeon sedih.

Kris membesarkan matanya dan kembali memandang photo Taeyeon tak percaya.

“Setelah pemakamannya, aku bermimpi dia mendatangiku. Ia mengenakan gaun yang sangat cantik dan berterima kasih padaku.. Ia berkata sangat beruntung menjadi putriku dan mendoakan kebahagiaanku. Namun dia berkata belum bisa menyebrang ke dunia lainnya karena ada sesuatu yang harus ia lakukan..” Ibu Taeyeon menyeka air matanya sejenak, “Kau lihat, bunga itu selalu mekar selama setahun ini meskipun aku lupa menyiramnya..”

Kris benar-benar tak percaya. Ternyata yang membantunya selama ini adalah arwah Taeyeon yang masih berusaha menemukan saudarinya. Yaitu Yoyeon.

“Meskipun dia sudah pergi, tapi dia akan terus hidup disini..” ucap ibu Taeyeon lagi.

Kris menatap photo Taeyeon sedih. Bibirnya perlahan membentuk senyuman dan mengangguk, “Ne eommanim.. dia akan terus hidup disini..”

 

=Kamar Kris=

Kris melangkah kedepan cermin dan memperhatikan wajahnya sejenak, lalu menghidupkan wastafel dan mulai melakukan ritual malamnya. Setelah selesai ia melangkah keluar dan mematikan lampu kamar sebelum naik ke tempat tidur. Ia mengambil posisi nyaman dan memejamkan mata. Tak lama dahinya berkerut karena merasakan sebuah tangan memegang perutnya, dengan cepat ia bangkit duduk dan menyibak selimut.

Hyuna terkejut tiba-tiba selimut tersibak dan menatap Kris dengan mata polosnya, lalu tersenyum manis. “Oppa, aku tidur disini ya..” bujuknya.

Kris menatap Hyuna dengan dahi berkerut, namun akhirnya tersenyum dan mengangguk. “Keure.. Ayo tidur..” ucapnya sambil kembali berbaring dan membiarkan Hyuna memeluk pinggangnya dan menyandarkan kepala ke dadanya. Ia menarik selimut agar menghangatkan mereka berdua dan memejamkan mata dengan senyuman masih terpajang di wajahnya.

“Selamat malam oppa..” ucap Hyuna.

“Ne, selamat malam..” balas Kris.

 

===THE END===

Advertisements

9 thoughts on “Me and My Sister

  1. Ohhh aku kira yg ganggu hyuna itu taeyonnnn .rupanya saudari taeyon ,yoyeon
    untungnya happy end,tapi aku mau nanya thor apa kris sma hyuna akan tdr brsma trussss??? Meskipun udh aku pikirkan berkali kali tapi gk ada yg cloppp wkwkwkkwwk^_*
    Next ya Eonni/Author/Hana
    jjang ditunggu next ff , mudah2an aja next ff 2hyun^_^hehehehehehehehe
    fighting hwaiting jjang!!!!

  2. Ceritanya keren thor!!! Agak2 horror gitu! bagus deh!! *yah walaupun gw jadi takut sendiri-_-
    Btw, itu kesannya kayak sedih ya pas terakhir2 nya…
    Oh ya, fighting ya thor untuk next project! Di tunggu lho ya!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s