Chapter

I’m With You [chapter 17] [End]

—You Touch Me, Baby—

Fei berdiri di depan lemari kaca yang menyimpan abu-abu dari orang yang sudah di kremasi. Ia berdiri disana untuk memandang photo Joon disebuah rak yang tersenyum manis ke arahnya. “Aku bahkan belum pernah melakukan apa pun untukmu, Joon..” ucapnya pelan.

Chansung menghampiri sisi Fei sambil memperhatikan photo Joon, lalu memandang Fei yang terlihat sangat sedih.

Fei menghela nafas dalam tanpa memalingkan pandangannya dari photo Joon.

“Kita harus kembali..” ucap Chansung.

Fei memandang Chansung dan menggeleng, “Kau kembalilah duluan.. aku ingin seorang diri beberapa saat..”

Chansung menggeleng, “Aniya, kemana kau pergi.. Aku juga pergi..”

“Jebal.. biarkan aku sendiri dulu..” pinta Fei, lalu melangkah pergi.

Chansung mengikuti Fei sambil memegang tangan gadis itu.

Fei berhenti sambil memandang tangan Chansung di tangannya, lalu memandang pria itu.

“Aku akan ikut..” ucap Chansung.

“Chansung..” ucap Fei pelan, lalu menarik tangannya. tapi pria itu tak mau melepaskan tangannya, lalu menatap pria itu kesal. “Chansung.. lepaskan tanganku!” ucapnya tegas dengan nada pelan.

Chansung menatap Fei dalam, “Jika aku membiarkanmu pergi, kau tidak akan kembali lagi..”

Fei terdiam sejenak, lalu memandang kebawah. “Aku tidak ingin disini lagi, Chansung..” ucapnya pelan.

“Keure, kemana pun kau pergi. aku akan ikut..” ucap Chansung.

Fei berusaha menahan air matanya mendengar ucapan Chansung, “Aku tidak ingin bersamamu lagi..” ucapnya dengan suara bergetar.

Chansung merasa terluka mendengar ucapan Fei namun semakin mempererat pegangannya di tangan gadis itu, “Aku akan ikut..”

Fei masih menunduk dan kini bulir air matanya mulai berjatuhan, tangannya berusaha melepaskan tangan Chansung meskipun pria itu tak mau melepaskannya.

Chansung menahan kedua tangan Fei sambil menahan air matanya, “Kita harus bersama selamanya, kau sudah berjanji padaku..”

Fei tidak bisa melepaskan kedua tangannya karena Chansung terlalu kuat, “Aku tidak mau.. Aku akan pergi sendiri kali ini..” ucapnya tanpa memandang pria itu.

“Aniya, kau tidak akan bertahan tanpaku. Kau tidak akan bisa pergi seorang diri..” ucap Chansung tak mau kalah.

Fei berdiam diri beberapa saat sambil menahan perasaannya yang sangat sedih saat itu.

Chansung menatap Fei dalam, “Kemana pun kau pergi, aku akan mengikutimu..”

Fei menghela nafas dalam dan memandang Chansung, “Aku tidak bisa melihatmu lagi Chansung..” ucapnya pelan, “Setelah kau tau semuanya, aku tidak punya muka lagi untuk bertatapan denganmu. Aku merasa terlalu kotor untuk bersamamu, Chansung..”

Chansung menggeleng pelan, “Aku tidak peduli, aku tetap akan mengikutimu..”

“Chansung, aku yang menyebabkan keluargamu meninggal.. Aku menjadi aib untuk semua orang jika mereka tau..” ucap Fei berusaha menjelaskan.

Chansung diam sejenak menatap kedua mata Fei, lalu melepaskan kedua tangan gadis itu dan memeluknya erat. “Biarkan ini tetap menjadi rahasia kita.. Hanya kau dan aku yang mengetahuinya.. Biarkan mereka berpikir kita memang di takdirkan bersama dan tak akan terpisahkan..” ucapnya tulus.

Fei menyerah, akhirnya ia tak bisa menolak lagi dan memeluk Chansung untuk melepaskan perasaannya.

 

=Rumah Para Pencuri=

Fei masuk ke rumah dengan kepala tertunduk, semuanya masih menggunakan baju berwarna gelap karena berduka atas kepergian Joon.

“Kami kembali..” ucap Chansung.

Narsha bergerak bangkit, “Fei, kau baik-baik saja?”

Fei memandang Narsha dan mengangguk pelan, “Ne, eonni..”

Semuanya ikut bangkit sambil memandang Fei.

“Eonni, kau tidak jadi pergi kan?” Tanya Jiyeon.

Fei memandang Jiyeon sedih, lalu memandang kebawah.

“Fei..” panggil Seungho, membuat gadis itu memandangnya. “Linda Wang sudah di bawa kembali ke China bersama barang bukti Tiara dan Piala itu, dia akan segera di adili akibat perbuatannya..” ucapnya memberitau.

Fei mengangguk pelan, “Ne..”

“Juga..” ucap Nickhun, Fei berpindah memandangnya. “Pria bernama Kim Jeonghun itu di temukan bunuh diri kemarin malam..” ucapnya sambil mengangkat sebuah Koran memperlihatkan sebuah berita di halaman depan.

Fei tertegun melihat berita itu dan menatap Chansung tak percaya.

Chansung mengangkat kedua tangan tanda tak tau, “Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Aku yang melakukannya..” ucap Nickhun.

Semuanya terkejut dan menatap Nikchun tak percaya.

Nickhun memandang teman-temannya menyesal, “Awalnya aku hanya berdiam diri karena tak ingin kalian tau..” ucapnya, “Tapi pria bernama Kim Jeonghun ini adalah pria yang selalu memperalat ibuku.. Memberikan janji-janji palsu hanya agar ibuku jatuh ke pelukannya.. terakhir kali aku menemui ibuku, pria ini sedang bersamanya..” ucapnya pelan.

“Kau membunuhnya?” Tanya Narsha tak percaya.

Nickhun memandang ke bawah menyesal.

“Nickhun?” ucap Fei tak percaya.

“Aku tidak melakukan apa pun..” ucap NIckhun, “Aku hanya muncul di kamarnya dan menggertaknya, tapi dia nekat masuk ke balkon dan terjatuh. Aku bahkan belum sempat menyentuhnya..” ucapnya menjelaskan.

Semuanya terdiam dan saling berpandangan.

“Apa kita baik-baik saja sekarang?” Tanya Jiyeon memastikan.

Seungho tersenyum, “Tentu saja..” ucapnya, lalu memandang Fei. Begitu juga dengan yang lainnya.

Fei memandang teman-temannya dan tersenyum, “Ne..”

Injung dan Inyoung berlari menghampiri Fei dan nemeluk kakinya.

“Eonni.. eonni tidak pergi kan??” tanya Injung yang mendongak memandang Fei tanpa melepaskan pelukannya.

“Eonni.. khajima…” rengek Inyoung.

Fei tersenyum sambil mengelus kepala kedua anak itu, “Aniya.. eonni akan terus disini..”

“Yeaaaaaaaay!!!” sorak anak-anak itu girang.

 

=Kamar Fei dan Chansung=

Chansung yang memeluk Fei dari belakang membuka matanya mendengar gadis itu menangis, ia bergerak bangkit sedikit dan menahan tubuhnya dengan siku sambil memandang wajah gadis itu. “Noona..”

Fei segera menyeka air matanya begitu merasakan Chansung bergerak.

“Kenapa kau menangis lagi?” Tanya Chansung.

Fei menghela nafas dalam dan memandang Chansung, “Aku.. aku hanya…”

“Mwo?” Tanya Chansung ingin tau.

Fei diam sejenak memandang Chansung, bulir air mata kembali mengalir di sudut matanya.

Chansung menyeka air mata Fei dengan punggung jarinya, “Uljima.. kau membuang air matamu untuk hal yang tidak penting..” ucapnya sebal.

“Chansung.. Maafkan aku karena sudah berbohong dan membuatmu terluka.. Aku tidak tau bagaimana untuk menebus semuanya..” ucap Fei menyesal.

Chansung menatap Fei dalam dan memegang pipi gadis itu, “Aniya.. kau tidak bersalah.. Kau adalah korban dari semua ini.. Kau korban bibimu, korban dari psikiater gila itu, juga korban dari keadaan ini. Kau mengerti?”

Fei memegang tangan Chansung dan menggenggamnya erat, “Aku bahkan…”

“Sssh…” Chansung menutup mulut Fei dengan tangannya yang di genggam gadis itu, “Jika kau membahasnya lagi, aku akan menghukummu seumur hidup karena telah membuatku terpengaruh untuk membencimu. Kau mengerti?”

Fei diam sejenak, lalu bergerak memeluk leher Chansung. “Maafkan aku..”

Chansung mengelus punggung Fei, “Jangan meminta maaf lagi, Joon hyung akan menyesal telah berkorban untukmu..”

Air mata Fei semakin deras berjatuhan mengingat Joon yang mengorbankan nyawa untuknya.

“Aissh.. jangan menangis noona!” ucap Chansung sebal.

 

=5 Tahun Kemudian=

Injung yang sekarang sudah tumbuh menjadi remaja berusia 14 tahun melangkah santai di sebuah jalanan sambil memandang sekitar. Ia melihat Jiyeon yang sedang membaca sebuah majalah di sebuah meja luar sebuah kafe, lalu tak jauh dari sana terlihat Nickhun dan Chansung duduk di sebuah bangku panjang sambil mengobrol dan tertawa lucu. Di pangkuan Nickhun terlihat sebuah notebook. Ia berhenti di sebuah stand ice cream, “Ahjussi, berikan aku yang rasa strawberry..” ucapnya.

Sang penjual yang tak lain adalah Seungho tersenyum lebar, “Ne, sebentar adik kecil..” ucapnya sambil mengambilkan pesanan Injung.

Di sisi lain jalanan, Inyong berjalan bersama Narsha sambil melihat-lihat.

Seungho menyodorkan es krim rasa strawberry pada Injung, “Ini adik kecil.. semoga harimu menyenangkan..”

Injung tersenyum lebar dan berbalik, tepat saat itu seorang pria setengah baya yang di kawal dua pria berlalu dan tidak sengaja bertabrakan dengannya. Hingga es krim yang ia pegang mengenai baju pria itu. Ia tertegun dan memandang pria itu dengan mata polosnya.

“Oh! Tuan! Anda baik-baik saja?” tanya seorang pengawal sambil membersihkan es krim yang mengenai baju bosnya.

“Ne.. ne.. gwenchana..” ucap pria setengah baya itu dan tersenyum memandang Injung, “Gwenchanaseyo?” tanyanya.

Injung menunduk menyesal, “Cesonghamida..”

Pria itu tertawa kecil sambil memegang bahu Injung, “Gwenchana.. hanya es krim..”

“Eonni..” panggil Inyoung sambil memeluk Injung.

“Omo.. Injung-a, waekeureyo?” tanya Narsha dan terkejut melihat baju pria itu, “Omo.. omo.. cesonghamida, apakah ini karena putriku tuan?”

Sementara Narsha berbicara dengan pria itu, Seunghoo menekan sebuah tombol di jamnya dan jam di tangan Chansung, Nickhun dan Jiyeon berbunyi menandakan trik mereka sudah di mulai.

“Gwenchana.. gwenchana.. aku baik-baik saja..” ucap pria itu pada Narsha.

Narsha memandang Injung, “Ayo katakan kau menyesal..” ucapnya.

“Cesonghamida ahjussi..” ucap Injung menyesal sambil membungkuk sopan, tapi karena Inyoung bergerlayut ke tubuhnya gadis kecil itu terdorong dan terjatuh ke kaki pria itu.

“Aw!! Ahhh.. eomma..” rintih Inyoung dan mulai menangis sambil memegang sikunya.

“Omo! Inyoung-a!” ucap Narsha kaget.

“Omo.. omo.. gwenchana?” tanya pria tadi sambil menyamakan tingginya dengan Inyoung.

“Sikuku sakit..” ucap Inyoung sambil menunjuk sikunya.

“Tidak apa-apa..” ucap pria itu sambil mengelus siku mungil Inyoung.

“Aigoo.. cesonghamida.. putri-putriku perlu belajar sopan santun lagi..” ucap Narsha sambil membantu Inyong bangkit. “Gamshamida.. permisi ahjussi..” ucapnya sambil menggandeng kedua anak itu pergi.

Seungho melirik Narsha yang berjalan pergi dan pria bersama pengawalnya itu berjalan tak jauh di belakang mereka. Ia tersenyum pada Fei yang datang ke standnya.

Narsha melangkah tenang bersama kedua gadis kecil itu, lalu melirik Inyoung yang tersenyum memandangnya.

Chansung memandang Narsha yang berlalu dan tersenyum, “Oh.. annyeonghaseo sanbaenim..” sapanya.

Narsha berhenti dan memandang Chansung, “Omo.. Chansung-ssi..”

“Ne, annyeonghaseo..” sapa Chansung, lalu menyamakan tingginya pada Inyoung. “Omo.. ini Inyoung kan? Sudah besar ya..” ucapnya sambil mencubit pipi gadis itu gemas. Saat itu gadis kecil itu memasukkan sebuah ponsel ke sakunya.

“Miane, kami harus buru-buru.. Sampai nanti..” ucap Narsha dan langsung berjalan pergi setelah kedua gadis kecil tadi memberikan salam juga.

Chansung kembali duduk disebelah Nickhun dan memberikan ponsel tadi secara diam-diam. Saat itu pria setengah baya tadi berlalu di depan mereka.

Nickhun langsung menghubungkan USB ke ponsel dari notebooknya, kemudian memasukkan applikasi penyadap dengan cepat. Matanya melirik pria tadi, lalu mencabut USB setelah semua prosesnya selesai. Kemudian memasukkan ponsel itu ke tas selempang Fei yang berlalu di depan mereka sambil makan es krim rasa coklat.

Fei memandang Jiyeon ketika melewati kafe, “Oh Jiyeon-a..” panggilnya.

Jiyeon memandang Fei, “Eonni..” sapanya sambil menyandang tas dan langsung menghampiri gadis itu.

“Khaja..” ajak Fei sambil kembali melangkah.

Jieyon berjalan di sebelah Fei sambil memasukkan tangannya ke tas gadis itu untuk mengambil ponsel tadi. Kedua gadis itu masuk ke celah pengawal pria tadi karena jalan terlalu kecil. “Maaf, kami buru-buru..” ucapnya sambil menyelinap di sebelah pria setengah baya tadi.

Fei di sebelah Jiyeon menyenggol seorang pengawal di sisi kanan, “Ups.. cesongeo..” ucapnya menyesal sambil tersenyum.

Pengawal itu tersenyum dan mengangguk.

Fei segera melangkah pergi ketika Jiyeon menariknya, mereka berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Tak lama ponsel sang pria di saku berbunyi dan pria itu segera mengangkatnya.

Jiyeon tersenyum dan berpandangan dengan Fei yang mengangguk.

 

=Rumah Para Pencuri=

“Uangnya sudah kirim!! Wuhuuu!!” sorak Seungho memberitau teman-temannya.

“Yess!!” sorak Jiyeon girang.

“Wuaaah.. Injung dan Inyoung semakin keren!” puji Nickhun sambil mengacungkan ibu jarinya.

Injung dan Inyoung tersenyum lebar.

“Keurom.. kamikan anggota pencuri.. hahaha..” tawa Injung.

“Eomma, boleh aku membeli barbie lagi?” tanya Inyoung pada Narsha.

Narsha tersenyum dan mengangguk, “Keurom.. kita beli rumah dan perlengkapanya juga..”

“Yeaah!!” sorak Inyoung.

“Mm.. semuanya..” ucap Chansung menarik perhatian.

Yang lain langsung memandang Chansung.

“Wae?” tanya Nickhun ingin tau.

“Mmm.. aku ingin mengumumkan kalau aku dan Fei noona berpikir untuk segera menikah..” ucap Chansung.

Semuanya tertegun sesaat memandang kedua orang itu bergantian, lalu bersorak senang.

“Wuaaah!! Keren! Keure! Kita bisa merayakannya pada musim dingin ini..” ucap Seungho setuju.

“Mmm.. maksudku, benar-benar segerak hyung..” ucap Changsung serius.

“Hm? Waeyo?” tanya Narsha bingung.

Fei memandang semuanya bingung, “Mmmm.. sebenarnya…” ia melirik Chansung ragu.

Mata Jiyeon melotot, “Eonni! Kau hamil?!”

Semuanya terkejut dan melotot menatap Fei.

Fei tersenyum canggung dan mengangguk, “Ne, sudah masuk bulan ke 3..”

“Omo! Kenapa kau tidak mengatakan apa pun?” tanya Narsha.

“Aku.. aku malu..” ucap Fei sambil tertawa kecil.

“Keure, kita laksanakan proses pernikahannya besok!” ucap Nickhun.

Semuanya kembali terkejut menatap Nickhun, “Mwo?!”

“Jika terlalu lama nanti anak itu akan tau dia lahir di luar pernikahan.. itu tidak baik untuknya.. percaya padaku, aku sudah merasakannya..” ucap Nickhun pada Fei dan Chansung.

Fei tersenyum, “Keure..” ucapnya lucu.

Chansung tertawa kecil, “Hyung, seharusnya kau berkata lebih cepat..” ucapnya.

“Eonni! Aku akan menjadi pembawa bunga!!” ucap Inyoung riang.

“Apa aku boleh mengenakan baju pengantin juga?” tanya Injung.

Semuanya tertawa karena ucapan gadis-gadis kecil itu.

Malamnya.

Chansung memandang Fei yang duduk di tempat tidur sambil memegang perutnya, “Wae? Ada seseuatu dengan bayinya?”

Fei tersenyum, “Aniya, aku hanya merasa gugup..”

Chansung tersenyum dan mengelus perut Fei, “Hmm.. kau benar-benar seorang wanita sekarang..” candanya.

Fei tertawa kecil, “Sudah, ayo tidur.. Tidak baik tidur terlalu larut untuk ibu hamil..” ucapnya sambil bergerak berbaring.

Chansung menarik selimut menutupi tubuh Fei dan memeluk gadis itu sambil memejamkan matanya, “Selamat tidur calon istriku..” ucapnya sambil tersenyum.

“Ne.. selamat tidur ayah dari anakku..” canda Fei.

Chansung tertawa kecil dan mulai tertidur.

 

====THE END===

<<Back

 

 

Advertisements

5 thoughts on “I’m With You [chapter 17] [End]

  1. Wahhh udah selesai aja…!
    untung yaa happy end 😀 wah wah wah Injung ama Inyoung diajarin jadi pencuri nih -_-” wkwkwk gawatt xD

  2. Wuahhhh yeayhhhh happy ending 🙂
    Hamil???? Wkwkwkkw kpn itunya???? #plak mulai kumat nih
    injung dan inyeong diajarin jadi pencuri. Tapi keren ^^
    Mungkin mereka yg bakal jadi penerus wkwkwkwkw
    ditunggu next ff mu eonnnnn
    Fighting^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s