Chapter

I’m With You [Chapter 15]

—Good-Bye Baby—

Chansung kembali ke ruang VIP dan tertegun melihat ada orang lain, apalagi semua orang memandang kearahnya. Ia langsung membungkuk sopan dan bergerak duduk ke tempatnya tadi.

“This is one of my partner, Hwang Chansung..” ucap Seungho memberitau.

Linda Wang tersenyum dan mengangguk mengerti.

“So, we can start now?” Tanya Seungho.

Linda Wang memandang pintu, lalu memandang Chansung lagi. “Your partner not complete yet, right?”

“Ow.. yes.. mm.. one of my partner have to do something, she…”

“Not the girl with that two kids..” ucap Linda Wang memotong.

Seungho tertegun dan menatap Linda Wang bingung karena tau tentang itu, “How you know that?”

Linda Wang hanya tersenyum, saat itu terdengar seseorang masuk lagi.

Fei berhenti sejenak karena menjadi pusat perhatian, lalu membungkuk sopan. “Cesonghamida..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan melangkah menuju tempat duduknya tadi.

Linda Wang berdiri dan berbalik memandang Fei.

Fei tertegun melihat seorang wanita berdiri dan berbalik memandangnya. Sedetik kemudian ia terpaku dengan mata membesar.

Linda Wang tersenyum, “Feifei..”

Seungho mengerutkan dahi dan berpandangan bingung yang lain.

“Bibi Hsein?” ucap Fei dalam bahasa mandarin tak percaya.

Para pencuri itu tertegun Fei berbicara dalam bahasa Mandarin. Chansung mengerutkan dahi melihat reaksi kedua wanita itu.

Linda Wang melangkah maju mendekati Fei dan memegang bahu gadis itu, “Ternyata benar.. Kau masih hidup dan bergabung dengan mereka..” ucapnya dalam bahasa Mandarin.

Fei masih menatap Linda Wang yang memiliki nama mandarin Wang Hseu itu tak percaya.

“Aku mencarimu selama ini, setelah keluargamu meninggal.. Aku sangat khawatir karena jasadmu tidak disana.. Aku terus berharap kau masih hidup dan mencarimu, begitu banyak desas desus yang kudengar tentangmu. Hingga akhirnya aku menemukanmu hari ini..” ucap Linda Wang dengan mata berkaca-kaca dan memeluk Fei.

Jiyeon memandang Chansung bingung, “Oppa, Fei eonni mengenal ahjumma itu?”

Chansung memandang Jiyeon bingung, lalu kembali memandang kedua wanita itu.

 

=Rumah Para Pencuri=

Keenam anggota pencuri itu duduk di ruang tengah memadangi koper besar berisi uang ratusan juta dollar yang digunakan untuk mengganti Tiara dan Piala itu, namun mereka tak merasa girang lagi karena fakta besar yang baru saja terbuka.

Seungho menatap Chansung yang duduk dengan kepala menunduk tak percaya, “Jadi… kau dan Fei tidak bersaudara?”

Chansung memandang Seungho dan melirik teman-temannya yang lain.

Narsha menyadari suasana terasa tidak nyaman, lalu bergerak bangkit. “Anak-anak, ayo kita bermain di kamar..” ucapnya dan menggandeng Injung dan Inyong yang tak tau apa pun ke kamarnya.

“Oppa, kau membohongi kami selama ini?” Tanya Jiyeon tak percaya.

“Karena itu kau tidak pernah suka aku mendekati Fei?” Tanya Joon kesal.

Nickhun memandang teman-temannya bergantian dan memandang Chansung yang terlihat serba salah, “Jangan tanyai dia seperti itu dulu, dengarkan alasannya dulu..” ucapnya.

Chansung menunduk menyesal, “Ne, aku berbohong..” ucapnya pelan. “Fei noona….” Ia diam sejenak, “Nama aslinya Wang Feifei. Dia keturunan China. Aku memintanya mengganti nama menjadi Hwang Fei agar kami bisa melarikan diri dengan lebih aman..” ucapnya memberi alasan.

“Tapi kenapa kau tidak memberitau kami? Sekarang Fei bertemu keluarganya dan ternyata ia sangat kaya!!” ucap Seungho tak percaya.

Chansung memandang Seungho kesal, “Aku juga tidak tau hyung! Aku bahkan tidak pernah tau dia masih punya keluarga yang lain!! Dia berkata semuanya sudah mati dan hanya aku yang tersisa!!” serunya. Semuanya terdiam. Ia merasa terluka karena Fei yang selama ini ia pikir sangat di kenalnya ternyata bukan orang yang benar-benar ia tau. Ia segera memalingkan wajahnya dan bergerak bangkit, lalu melangkah ke kamar.

 

=Kamar Hotel Linda Wang=

Fei duduk di sofa tunggal sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi, kemunculan bibinya dan kebenaran bahwa piala dan tiara itu memang milik keluarganya.

Linda Wang berjalan menghampiri Fei dan mengelus rambutnya sambil tersenyum.

Fei tertegun dan memandang bibinya.

“Bibi mengerti, pasti sangat sulit bagimu menerima semua ini..” ucap Linda Wang sambil membelai rambut Fei.

“Mmm.. iya, bibi.. aku merasa sangat terkejut.. kupikir.. kupikir aku hanya sebatang kara..” ucap Fei mengungkapkan kebingungannya.

“Kau benar, kita sebatang kara… Hanya ada kau dan bibi sekarang di dunia ini.. Tapi bibi sudah menemukanmu dan tidak akan membiarkanmu seorang diri lagi..” ucap Linda Wang dengan senyuman hangatnya.

Fei memandang kebawah bingung.

“Fei, kau mau ikut bibi kan?” Tanya Linda Wang dengan nada berharap.

Fei tertegun, lalu kembali memandang bibinya.

“Kita bisa memulai kehidupan kita di Inggris..” ucap Linda Wang, “Ani.. kita bisa kembali ke China dan hidup disana lagi bersama yang lainnya.. benarkan?”

Fei tidak bisa mengatakan apa pun mendengar pertanyaan Linda Wang.

Linda Wang melihat keraguan di mata Fei, “kenapa Fei? Apa kau ingin memilih tetap disini bersama teman-temanmu?” tanyanya kecewa.

Fei menghela nafas dalam dan menggeleng, “Tidak bibi, aku akan pergi..” ucapnya pelan.

Linda Wang tersenyum dan mengelus pipi Fei, “Baik, besok kita akan langsung berangkat..”

“Andwaeyo!” ucap Fei cepat sambil berdiri.

“Maksudmu?” Tanya Linda Wang bingung karena tak mengerti apa yang diucapkan Fei.

“Mmm.. maksudku, aku tidak bisa jika besok bibi.. Aku harus berpamitan dengan teman-temanku yang lain. Kami sudah lama bersama, jadi jika aku pergi begitu saja mereka akan merasa terluka..” ucap Fei menjelaskan.

Linda Wang diam sejenak, lalu tersenyum. “Baiklah… Kau bisa pergi kesana besok, lalu kita berangkat lusa.. Bagaimana?”

Fei merasa berat untuk menjawabnya, namun ia merasa ini yang terbaik. Bibirnya bergerak membentuk senyuman, “Baik bibi..”

 

=Rumah Para Pencuri=

Fei berdiri dengan kepala tertunduk di depan semua teman-temannya kecuali Chansung.

Yang lainnya saling berpandangan bingung karena tidak tau apa yang harus mereka katakan.

“Maafkan aku..” Ucap Fei singkat namun penuh penyesalan.

“Eonni, apa kau akan pergi?” Tanya Jiyeon membuka suara.

Fei mengangkat wajahnya memandang Jiyeon, lalu memandang yang lain bergantian. “Bibiku memintaku ikut bersamanya..”

“Dan kau setuju?” Tanya Joon.

Fei mengangguk berat, “Ne..”

Joon tampak kecewa mendengarnya dan menunduk sedih.

“Fei, apa kau tidak bisa tinggal bersama kami?” Tanya Narsha.

Fei tersenyum tipis, “Maaf eonni, Bibi Hseuin adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Ia merasa sangat kesepian selama ini dan memintaku ikut bersamanya..”

Narsha terlihat sedih mendengar jawaban Fei, “Oh.. begitu..”

“Fei…” panggil Nickhun, membuat gadis itu memandangnya. “Jika kau pergi, bagaimana dengan Chansung?”

Semuanya terdiam dan menatap Fei menunggu jawaban.

Hati Fei terasa remuk mengingat ia akan meninggalkan Chansung, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Aku akan berbicara padanya.. Keure, aku akan membereskan barang-barangku..” ucapnya dan melangkah menuju kamar.

Jiyeon mengikuti Fei hingga masuk ke kamar, “Eonni, sebenarnya apa hubunganmu dan Chansung oppa?” tanyanya ketika hanya mereka berdua yang ada di kamar.

Fei memandang Jiyeon beberapa saat, lalu memalingkan wajahnya sedih. “Chansung hanya menganggapku kakaknya..” jawabnya pelan.

Jiyeon mengerutkan dahi, “Chansung oppa atau kau eonni?”

Fei menghela nafas dalam sambil terus memasukkan baju-bajunya ke koper agar air matanya tak berjatuhan, “Jiyeon, bisa kau bantu aku?”

“Eonni..” panggil Jiyeon menunggu jawaban.

Fei berhenti dan memandang Jiyeon, “Aku harus berangkat besok pagi, apa kau tidak mau membantuku agar lebih cepat?”

Jiyeon menatap Fei kecewa, “Eonni, Chansung oppa melakukn semuanya untukmu. Ia membunuh orang-orang yang telah membunuh keluarga kalian karena mereka terus mencarimu.. Ia ingin kau bisa hidup tenang bersamanya.. Awalnya aku merasa tidak mengerti, tapi sekarang aku tau kenapa..” ucapnya.

Fei tetap berusaha memperlihatkan wajah tanpa ekspresinya, “Jiyeon-a, jika kau tidak membantu kau bisa keluar..” ucapnya, lalu kembali memasukkan baju-bajunya.

Jiyeon menatap Fei kesal, “Kau sangat egois..” ucapnya penuh penekanan.

Tubuh Fei berhenti mendengar ucapan Jiyeon.

“Jika kau pergi, bagaimana dengan Chansung oppa?” Tanya Jiyeon dengan nada terluka, “Dia memberikan hidupnya padamu.. Dan kau pergi?” tanyanya lagi.

Mata Fei mulai di penuhi air dan bisa jatuh kapan saja sekarang.

Jiyeon langsung menyeka air matanya yang mulai berjatuhan, “Lagi pula ini bukan urusanku, lanjutkan saja eonni..” ucapnya dan langsung berjalan cepat keluar.

Fei memejamkan matanya dan menunduk menahan kesedihannya.

Setelah membereskan barang-barangnya, Fei menarik koper keluar dari kamar dan kembali menemui teman-temannya di ruang tengah. Injung dan Inyong langsung menghampirinya dan memeluk kakinya.

“Eonni.. kau akan pergi?” Tanya Injung sedih.

“Eonni, khajima..” rengek Inyong.

Fei memandang kedua anak itu sedih, lalu menyamakan tingginya dengan kedua anak itu sambil memandang mereka bergantian dengan senyuman hangatnya. “Miane, eonni harus pergi..”

“Waeyo?” Tanya Injung dengan bulir air mata mulai berjatuhan.

“Eonni tidak bisa tinggal disini lagi..” ucap Fei menjelaskan.

“Eonni, Nickhun oppa bilang kita semua disini keluarga. Kenapa eonni tidak bisa tinggal disini lagi?” Tanya Inyong.

Fei mengelus kepala Inyong, “Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi..”

Injung dan Inyong mulai terisak dan memeluk Fei, “Khajima eonni..”

Fei sangat sedih karena kedua gadis kecil itu, lalu memandang teman-temannya yang lain juga terlihat sedih.

“Injung-a, Inyong-a.. Ayo, jangan buat Fei eonni terlambat..” ucap Jiyeon sambil menarik Injung dan Inyong. “Khaja, kita bermain di kamar..” ucapnya dan membawa kedua anak itu ke kamarnya tanpa memandang Fei.

Fei tau Jiyeon pasti sangat kecewa padanya, namun ini cara yang lebih baik untuk pergi. Ia kembali berdiri dan memandang yang lainnya. “Keure, aku akan pergi sekarang.” Ucapnya pelan.

Narsha melangkah maju dan memeluk Fei, “Jaga dirimu, Fei..”

“Ne, eonni..” jawab Fei.

Narsha melepaskan pelukannya dan mundur selangkah, membiarkan yang lain menyampaikan perpisahan pada Fei.

Nickhun tersenyum sedih memandang Fei, “Aku tidak akan mengucapkan perpisahan pada temanku, kita pasti bertemu lagi..”

Fei tersenyum, “Ne..” ucapnya, lalu memandang Seungho. “Oppa, terima kasih sudah menjagaku selama ini..” ucapnya tulus.

Seungho tersenyum dan memegang bahu Fei, “Ne, jaga dirimu..”

Fei menganggguk, “Ne..” jawabnya dan memandang Joon.

Joon menatap Fei sedih, “Jika aku mengikat atau menyembunyikanmu sekarang, apa kau akan berubah pikiran?”

Fei tertawa kecil di tengah rasa sedih di hatinya, “Joon…”

Joon menghela nafas dalam dan melangkah maju untuk memeluk Fei erat.

Fei mengelus punggung Joon dan menunggu hingga pria itu melepaskan pelukan itu.

Joon melepaskan pelukannya dan memandang Fei sedih, “Kau harus memberitauku dimana kau tinggal nanti, arasso?”

Fei tersenyum dan mengangguk, “Arasso..” ucapnya, lalu memandang yang lain lagi. “Aku akan pergi..” ucapnya, lalu membungkuk sopan. “Terima kasih sudah menjadi keluargaku selama ini..” ucapnya sepenuh hati dengan mata berkaca-kaca.

Nickhun melangkah maju dan membantu Fei membawakan kopernya, “Ayo, aku akan membawakannya..” ucapnya dan melangkah menuju pintu.

Joon langsung menahan Nickhun, “Aniya.. aniya.. aku yang akan membawakannya..” ucapnya sambil menarik koper Fei dan membawanya keluar.

Nickhun memandang Joon bingung.

Fei tertawa kecil, “Memang dia..” ucapnya, lalu melangkah keluar bersama Nikchun.

“Fei..” panggil Nickhun.

Fei memandang Nickhun, “Ne?”

“Kau tidak berpamitan pada Chansung?” Tanya Nickhun.

Fei diam sejenak, “Mmm.. kau tau dimana dia?” tanyanya.

“Sepertinya di atap..” jawab Nickhun.

Fei menghela nafas dalam, “Aku akan menemuinya sebentar..” ucapnya dan melangkah menuju atap.

Chansung duduk seorang diri sambil memandangi pemandangan di depannya. Hatinya sangat terluka mengetahui Fei tidak pernah mengatakan masih memiliki keluarga lainnya. Sedangkan dia hanya sebatang kara dan gadis itu akan pergi begitu saja. Kepalanya menoleh mendengar pintu terbuka, lalu muncul Fei.

Fei menatap Chansung canggung dan melangkah menghampiri pria itu, “Chansung, aku akan pergi..”

Chansung memandang Fei beberapa saat, lalu berdiri sambil tetap menatap kedua mata gadis itu. “Kau gadis jalang..” ucapnya pelan.

Fei tidak terkejut sama sekali dan menunduk sambil menahan air matanya, “Ne, kau bisa menyebutku seperti itu..”

Chansung menatap Fei tanpa ekspresi, “Kupikir aku sangat mengenalmu..” ucapnya kecewa, “Ternyata aku tidak tau apa pun..”

Bulir air mata Fei akhirnya berjatuhan karena ucapan Chansung.

“13 tahun berlalu dengan sia-sia..” ucap Chansung, sekarang terdengar penuh kebencian. “Aku hidup bersama pembunuh, melindunginya, percaya padanya.. Bahkan apa yang ada di kepalaku kupikirkan bersama denganmu.” Ia tertawa lirih, “Pabo..”

Fei tak bisa mengatakan apa pun untuk membela dirinya.

Chansung menghela nafas dalam dan berbalik, “Pergilah, sebelum aku berpikir untuk mengakhiri hidupmu disini..”

Fei mengangkat wajahnya memandang Chansung, “Terima kasih sudah hidup bersamaku, melindunguku, juga percaya padaku Chansung.. Aku tidak akan berharap apa pun lagi. aku berjanji tidak akan muncul di depanmu lagi, aku tidak akan mengingatkanmu tentang gadis jalang sepertiku yang telah menipumu.” Ucapnya bulir air mata berjatuhan. “Meskipun aku ingin memelukmu saat ini, aku tidak akan melakukannya..” ucapnya pelan, “Tidak akan lagi..” ia berusaha mengendalikan dirinya beberapa saat. “Selamat tinggal Hwang Chansung..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa memandang ke belakang lagi.

Sementara Chansung. Merasa terluka karena telah melukai gadis yang ia cintai. Bulir air berjatuhan dari matanya mendengar jejak kaki Fei semakin jauh dan tak terdengar lagi.

 

<<Back        Next>>

 

Advertisements

2 thoughts on “I’m With You [Chapter 15]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s