Chapter

I’m With You [Chapter 14]

—Please..—

Fei keluar dari rumah untuk membuang sampah. Ia memasukkan kantung sampah ke bak dan kembali menutupnya, saat hendak kembali ia melihat Nickhun duduk di sebuah bangku sambil memandangi langit malam. pria itu terlihat sedih, ia memandang sekitar sejenak namun tak ada siapa pun. Wajar saja, sudah hampir tengah malam. Ia melangkah menghampiri pria itu, “Hei..” sapanya.

Nickhun tertegun dan memandang Fei, “Oh.. Hei Fei..” sapanya.

Fei tersenyum, “Boleh aku duduk?”

Nickhun tersenyum dan menggeser duduknya, “Silahkan..”

Fei bergerak duduk di sebelah Nickhun dan memandang langit tanpa bintang, “Sepertinya akan hujan..” ucapnya.

Nikchun ikut memandang langit, “Ne..”

Fei memandang Nickhun, temannya itu tak bisa menutupi ekspresi sedihnya. “Waeyo?”

Nickhun memandang Fei sambil tersenyum tipis, “Aniya.. hanya memikirkan sesuatu..” ucapnya dan kembali memandang langit.

“Apa?” tanya Fei ingin tau.

Nickhun menghela nafas dalam dan memandang ke bawah sedih, “Kemarin aku menemui ibuku..”

Fei tertegun, “Ow.. lalu?”

Nickhun mengelus telapak tangannya sambil kembali mengingat, “Seperti biasa, ibuku selalu melarangku datang lagi..”

Fei memandang Nickhun sedih.

“Aku tidak tau kenapa ibuku seperti ini..” ucap Nickhun pelan. “Apa menjadi ibuku sangat memalukan atau menjadi anaknya yang memalukan?” ucapnya tak mengerti.

Fei diam sejenak dan tersenyum hangat, “Aniya.. Ibumu sebenarnya hanya tidak ingin orang-orang tau kau adalah anak seorang… mmm.. kau tau..”

Nickhun memandang Fei, “Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi aku tidak mungkin melupakannya begitu saja. Bagaimana pun dia, dia tetap ibuku..”

Fei mengangguk, “Ne.. kau benar.. Kau hanya perlu memberi waktu pada ibumu. Hanya waktu yang bisa meluluhkan hati ibumu..”

Nickhun tersenyum tipis dan kembali memandang ke bawah.

Fei merasa ikut sedih melihat Nickhun seperti ini, “Mmm.. kau mau mendengar sebuah cerita?”

Nickhun memandang Fei, “Mwo?”

Fei tersenyum, “Dulu, ada seorang gadis kecil yang datang bersama keluarganya ke Korea.. Mereka ingin memulai hidup baru di sini.” Ucapnya memulai.

“Tunggu.. apa ini termasuk dongeng?” tanya Nickhun menahan senyuman.

Fei tersenyum kecil, “Aniya, aku mendengarnya di sebuah tempat..”

Nickhun tertawa kecil dan mengangguk, “Keure, lanjutkan..”

Fei kembali melanjutkan, “Semuanya berjalan baik-baik saja hingga gadis kecil ini merasa di kucilkan dan sering merasa takut. Lalu keluarganya membawa gadis kecil ini ke seorang dokter. Seharusnya dia mendapat perawatan, tapi gadis itu di perkosa oleh dokter bejat yang sebenarnya pidofilia itu..”

Nickhun tertegun dan menatap Fei serius, ia pikir cerita Fei akan menjadi lucu. “Lalu?”

“Gadis ini tidak berani mengatakan apa pun pada keluarganya karena sang dokter bejat mengancam akan membunuh mereka. Dia terus berdiam diri dan perkosaan itu terus terjadi selama proses yang di sebut sang dokter ‘terapi’. Suatu hari, ketika si gadis kecil mulai merasa tak sanggup dan memutuskan bunuh diri. Sang dokter datang bersama dua temannya untuk membunuh semua orang disana.. Tapi sang gadis kecil berhasil melarikan diri dan sekarang tetap hidup dengan status baru..” ucap Fei meneruskan ceritanya.

Nickhun terlihat sangat serius, “Mmm.. apa yang terjadi pada gadis itu sekarang?”

“Mmm…” Fei berpikir sejenak, “Gadis itu berusaha terlihat sangat baik.. Dia tidak pernah mengatakan apa pun tentang kejadian mengerikan itu pada siapa pun meskipun ia sudah tidak trauma lagi akibat perlakuan sang dokter..”

Nickhun mengangguk mengerti, “Tapi, jika dia sudah tidak trauma lagi.. Kenapa dia tidak menceritakannya? Bukankah itu akan lebih baik jika dia punya pasangan hidup nanti?”

Fei tersenyum, “Kudengar gadis itu merasa takut karena orang-orang berpikir dia gadis baik-baik dengan nasib buruk saja. Dia juga takut menjalani hubungan yang terlalu jauh dengan seseorang, ia belum siap menjelaskan bagaimana dia tidak perawan lagi sementara ia selalu bersama orang ini sepanjang hidupnya..” ucapnya.

Nickhun menghela nafas dalam, “Dia pasti mendapat masa yang sangat sulit..” ucapnya prihatin, lalu kembali memandang Fei. “Apa ini benar-benar terjadi?”

Fei tersenyum memandang langit, “Ne.. Seorang anak di pondok dulu mengalami hal itu..”

“Ne?” Nickhun tak percaya orang seperti itu benar-benar ada, “Mmm.. apa kau masih berhubungan dengannya?”

Fei diam sejenak, “Kuharap aku bisa berhenti berhubungan dengannya.” Ucapnya pelan.

“Mwo?” tanya Nickhun karena tak mendengar jelas ucapan Fei.

Fei tersenyum memandang Nickhun, “Dia baik-baik saja sekarang..” ucapnya, “Ayo masuk.. Hujan akan segera turun..” ucapnya sambil bangkit dan melangkah kembali.

Nickhun tersenyum lucu mendengar jawaban Fei dan melangkah mengikuti gadis itu.

Malam itu.

Chansung memandang Fei yang sudah berbaring di tempat tidur sambil melakukan sesuatu di ponsel, ia berbaring di sofa dan tersenyum memandang gadis itu. “Noona, kau tau? Pria dan wanita yang tidak terikat hubungan darah yang tidur sekamar biasanya menghabiskan waktu bersama.” Candanya.

Fei memandang Chansung menahan tawa, “Aissh.. hanya itu yang ada di pikiranmu?” ucapnya sebal.

“Aniya, hanya bercanda..” jawab Chansung, “Selamat malam..” ucapnya dan memejamkan mata.

Fei tersenyum dan meletakkan ponsel di meja, kemudian memejamkan mata. Namun tak lama ia kembali membukanya untuk memandang Chansung sedih. “Chansung..”

Chansung membuka matanya dan memandang Fei, “Ne?”

Fei menatap Chansung beberapa saat, “Maafkan aku..” ucapnya pelan.

Chansung memandang Fei bingung, “Wae?”

Fei tersenyum tipis, lalu berbicara dalam bahasa mandarin. “Kau telah menjagaku hingga sekarang, tanpamu aku tidak mungkin masih hidup dengan baik seperti ini.”

Dahi Chansung berkerut, “Noona, aku tidak mengerti..”

Fei tertawa kecil, “Aku menyadarinya sekarang Chansung.. Aku mencintaimu dan mungkin tidak bisa hidup tanpamu, tapi apa kau akan tetap bersamaku jika mengetahui aku tidak sebaik yang kau pikirkan?” ucapnya lagi dengan bahasa mandarin.

“Noona, jangan bermain-main denganku! Apa yang kau katakan?” tanya Chansung kesal.

Fei tertawa lucu, “Selamat malam..” ucapnya, lalu berbalik membelakangi Chansung.

Chansung semakin kesal Fei tak mengatakan apa pun, “Ya.. Hwang Fei.”

“Tidurlah..” ucap Fei tanpa berbalik.

Chansung menyibak selimutnya dan menghampiri tempat tidur, “Ya! Apa arti yang kau katakan tadi?!” tanyanya sambil menggelitik pinggang Fei.

Fei terkejut dan berbalik menatap Chansung, “Ya! Hentikan! Hahaha… Chansung!”

Chansung tertawa sambil terus menggelitik Fei, “Tidak akan hingga kau memberitauku..”

Fei berusaha keras untuk tidak tertawa keras sambil menahan tangan Chansung, “Hentikan! Hwang Chansung! Hahahaha..”

Chansung tertawa senang melihat Fei tak bisa menghentikannya, namun tiba-tiba gadis itu memeluk lehernya erat. “Hmm.. kau menggunakan cara baru ha?” ucapnya dan kembali menggelitik.

“Hentikan Chansung…” ucap Fei pelan.

Chansung tertegun mendengar suara Fei bergetar seperti akan menangis dan memeluknya bingung, “Noona, kau menangis?”

Fei memejamkan matanya erat dan mempererat pelukannya di leher Chansung.

“Noona?” panggil Chansung bingung.

Fei menghela nafas dalam dan melonggarkan pelukannya, lalu menatap kedua mata Chansung dalam. “Chansung, bagaimana jika aku tidak seperti yang kau bayangkan selama ini?”

Chansung memandang Fei bingung, “Apa maksudmu?”

Fei memegang kedua pipi Chansung dan mencium pria itu dalam dengan mata terpejam. Kedua tangannnya kembali memeluk leher pria itu.

Chansung memejamkan matanya dan mendekap tubuh Fei erat.

………………………………………………………………………………………………………………………………….

Chansung duduk di pinggir tempat tidur hanya dengan celana tidurnya sambil memegang kepalanya. Sementara Fei berbaring membelakanginya dengan bulir air mata berjatuhan.

“Karena ini kau selalu menolak melakukannya denganku?” tanya Chansung pelan, terdengar kekecewaan di nada bicaranya.

Fei tak bisa mengatakan apa pun karena Chansung sudah mengetahui semuanya sekarang.

Chansung mengepalkan kedua tangannya, “Siapa yang pertama kali melakukannya?”

Fei tidak akan menutupi semuanya lagi. Jika Chansung memang tidak bisa menerima semuanya, ia tak akan bersembunyi lagi. “Pria tua yang kau bunuh itu..” jawabnya.

Chansung mengerutkan dahi, “Pria tua?”

Fei berusaha menahan tangisnya, kedua tangannya mencengkeram selimut. “Ketika usiaku 14 tahun, aku harus bertemu psikiater untuk mengatakan masalah emosionalku. Keluargaku berpikir semuanya bejalan baik-baik saja.. tapi yang terjadi, aku selalu di perkosa psikiater busuk itu. Dia mengancam akan membunuhku dan keluargaku jika aku menolak atau melaporkan apa yang dia lakukan..” ia menangis sesaat mengingat kejadian pahit itu, “Tapi aku tidak bisa menjadi budak nafsunya terus menerus, aku berkata tidak akan datang kesana lagi karena aku takut. Lalu… dia datang bersama dua pria lainnya dan membunuh semua orang..”

Chansung tertegun dan menatap Fei yang membelakanginya tak percaya.

Fei memejamkan matanya, “Maafkan aku Chansung..” ucapnya penuh penyesalan.

Chansung tak percaya penyebab kematian keluarganya adalah Fei. Gadis yang selalu bersamanya, gadis yang ia lindungi sepenuh hati dan ia cintai sekarang. Ia memalingkan wajahnya dan bergerak bangkit sambil menjangkau baju kausnya, kedua tangannya bergerak mengenakan kaus itu sembari melangkah keluar.

Fei menangis di tempat tidurnya menyesali semua yang telah ia tutupi selama ini.

Chansung pergi ke atap dan berdiri disana dengan perasaan campur aduk. Semua perjuangannya demi Fei dan rasa cintanya, membuatnya merasa bersalah pada keluarganya yang telah meninggal. Gadis itu yang menyebabkan keluarganya meninggal malam itu. Jika mereka tidak bertetangga dekat dengan keluarga Wang, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Bulir air matanya mulai berjatuhan mengingat kekeliruannya telah menyelamatkan Fei. “Eomma.. Abeutji.. noona..” gumamnya sedih.

 

=Restauran VIP di sebuah Hotel=

Seungho, Joon, Nickhun, Jiyeon, Fei dan Chansung duduk menunggu orang yang akan membeli Tiara dan Piala itu dengan tenang. Sementara Narsha membawa Injung dan Inyong bermain di kolam berenang di hotel itu.

Fei duduk diam di sebelah Chansung yang hanya duduk diam. Sejak pengakuannya malam itu, mereka tidak berbicara sama sekali dan terasa janggal untuk menatap mata masing-masing. Namun ia tak menyalahkan pria itu.

“Hyung, kenapa mereka belum datang juga?” tanya Joon sebal.

“Entahlah.. sudah 15 menit berlalu..” ucap Seungho sambil memandang jam tangannya.

“Oppa, apa benar di hotel ini? Hotel bintang mewah lainnya kan banyak..” ucap Jiyeon.

“Ne, sesuai perjanjian di hotel ini..” jawab Seungho.

Zreek.. semua orang memandang Chansung yang bergerak bangkit hingga kursinya berderik.

“Aku akan ke toilet sebentar..” ucap Chansung, lalu melangkah pergi.

Fei memandang Chansung yang berjalan pergi dan memandang kebawah sedih, ia menghela nafas dalam dan ikut berdiri. “Aku akan ke toilet..” ucapnya dan melangkah pergi.

Nickhun memandang Fei bingung, “Sepertinya mereka tidak berbicara satu sama lain..”

“Kau juga merasa seperti itu? Aku juga..” ucap Joon.

“Mungkin mereka sedang bertengkar lagi, oppa..” ucap Jiyeon memprediksi.

“Oh.. dia datang..” ucap Seungho dan bergerak bangkit karena melihat seorang pria masuk di ikuti oleh wanita bergaya elegan dibelakangnya.

Semuanya berdiri dan membungkuk sopan.

“Yang Seungho-ssi..” ucap pria yang masuk tadi sambil menjabat tangan Seungho.

Seungho tersenyum, “Annyeonghaseo Kim Jeonghun-ssi..”

“Perkenalkan.. Ini Nyonya Linda Wang..” ucap Kim Jeonghun memperkenalkan wanita yang bersamanya.

Seungho membungkuk sopan, “Hello Mrs Wang..” sapanya, “My name Yang Seungho, nice to meet you..” ucapnya.

Linda Wang tersenyum, “Nice to meet you too..” ucapnya.

Sementara itu.

Fei mengikuti Chansung yang berjalan menuju toilet, “Chansung-a..”

Chansung berhenti dan diam sesaat, lalu berbalik menatap Fei dingin.

Fei merasa hatinya tercabik-cabik melihat tatapan Chansung. Ia berusaha keras menahan air matanya dan tersenyum, “Saat itu aku bertanya padamu dalam bahasa mandarin, walaupun kau tak mengerti tapi kau memberikanku jawaban yang ingin kuketahui.” Ucapnya pelan, “Saat itu aku bertanya ‘apa kau akan tetap bersamaku jika mengetahui aku tidak sebaik yang kau pikirkan?’…” ia diam sejenak menatap pria itu, “Aku sudah tau jawabanya..”

Chansung hanya diam menatap Fei.

“Maafkan aku..” ucap Fei sepenuh hati.

“Tidak ada yang bisa kukatakan saat ini..” ucap Chansung, lalu berbalik.

“Sebentar Chansung..” panggil Fei lagi.

Chansung kembali berhenti dan memandang Fei.

“Aku tidak ingin melukaimu lagi.. Setelah ini aku akan pergi.. Jangan katakan apa pun pada yang lain dan katakan kau tidak tau..” ucap Fei, lalu menghela nafas dalam. “Atau kau bisa memberitau mereka, ‘Fei adalah gadis kotor yang menjadi budak nafsu psikiaternya dan membuat keluargaku mati..’ Aku sudah tidak ada disini lagi untuk mendengarnya..”

Chansung memalingkan wajahnya karena tak sanggup menahan perasaannya sendiri.

“Terima kasih sudah membunuhnya, Chansung..” ucap Fei tulus, “Terima kasih sudah kabur bersamaku dan membawaku sejauh ini.”

Chansung menghela nafas dalam dan langsung melangkah pergi.

Bulir air mata Fei mulai berjatuhan melihat Chansung pergi, “Terima kasih untuk cintamu, Chansung.” Gumamnya.

 

<<Back       Next>>

 

Advertisements

2 thoughts on “I’m With You [Chapter 14]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s