Chapter

I’m With You [Cahpter 16]

—Comeback if You Hear This Song—

Jiyeon mengelus rambut Injung dan Inyong yang sudah terlelap di tempat tidurnya, lalu memandang ke depan sedih. Sejujurnya ia tak ingin melepas Fei sedingin itu, namun ia tak bisa menahan dirinya. ‘Apa benar wanita itu bibi Fei eonni?’ batinnya bingung. Ia menjangkau i-padnya di meja dan mulai mencari tentang tiara dan piala yang berasal dari keluarga Fei.

Setelah beberapa saat membaca, matanya membesar. “Andwae..” gumamnya, lalu bangkit dan langsung menuju kamar Chansung.

Tok! Tok! Tok!

“Oppa! Kau sudah tidur?” Tanya Jiyeon.

Chansung hanya diam dengan posisi berbaring miring di sofa sambil menatap ke tempat tidur yang kosong di sebelahnya. Terasa kekosongan di hatinya melihat tidak ada Fei yang tidur disana lagi.

Jiyeon membuka pintu dan mengintip ke dalam, “Oppa..” panggilnya.

Chansung bergerak bangkit sambil memandang Jiyeon, “Waeyo?”

Jiyeon melangkah masuk dan duduk di pinggir tempat tidur dihadapan Chansung, “Oppa.. ada hal yang harus kubicarakan denganmu..”

Chansung memandang Jiyeon malas, “Besok saja, aku sangat lelah..” ucapnya dan kembali berbaring.

“Oppa, ini sangat penting. Fei eonni akan berangkat besok, jadi aku harus membicarakan ini bersamamu malam ini..” ucap Jiyeon.

Chansung tertegun mendengar nama Fei, ia menghela nafas dalam dan memalingkan wajahnya dengan mata terpejam. “Aku tidak mau dengar apa pun lagi..”

Jiyeon tak menyerah dan memandang layar i-podnya, “Tiara itu milik Putri dari Dinasty King bernama Ling.. Tiara itu pemberiannya seorang pangeran dari negeri yang jauh karena mengagumi kecantikan dan kebaikan hatinya, namun saudaranya, Putri Ming tidak menyukai itu dan memfitnah Putri Ling hingga di usir dari istana. Putri Ling sangat kecewa karena ketidak adilan yang ia dapatkan dan bertekad tidak akan pernah lagi kembali ke istana apa pun yang terjadi, lalu Putri Ling menikah dengan seorang pria biasa bermarga Wang.

Beberapa tahun kemudian, kebohongan Putri Ming terungkap hingga ia juga di usir dari istana. Raja sangat menyesal dan memerintakan siapa pun untuk membawa Putri Ling kembali, namun sang Putri tidak mau kembali karena luka hatinya. Akhirnya raja membuat sayembara yang bisa membawa Putri Ling kembali akan mendapatkan piala emas dan menjadi anggota keluarga kerajaan. Putri Ming memohon pada Raja untuk memaafkannya dan membiarkannya kembali karena Putri Ling sendiri yang tidak ingin kembali ke istana. Raja yang kecewa dengan kedua putrinya berkata ia tidak bisa membiarkan ada dua penerus kerajaan, ia hanya akan menerima satu orang dan tidak mengijinkan ada permainan kotor disana.

Akhirnya dendam itu terus berlanjut hingga ke generasi-generasi berikutnya. Keturunan Putri Ling mulai tersebar dan tidak ada yang bisa masuk ke istana karena keturunan keluarga Putri Ling juga menginginkannya. Di generasi ke-78, seorang keturunan Putri Ming menikah dengan seorang keturunan Putri Ling dan menggunakan nama Wang juga sebagai nama keluarganya, dengan begitu ia bisa bersaing lebih ketat dengan yang lainnya.

Hingga berabad-abad berlalu, fakta itu tak bisa di hilangkan karena dendam dan gila harta itu sudah menjalar di darah keturunan Putri Ming. Dengan memiliki Tiara dan Piala yang seharusnya di berikan pada pemenang sayembara itu akan mendapatkan tempatnya lagi di istana. Namun tetap hanya ada satu orang yang berhak mendapatkannya..” Jiyeon menyelesaikan bacaannya dan kembali memandang Chansung yang sekarang mengerutkan dahi memandangnya.

“Apa maksud itu semua?” Tanya Chansung.

Jiyeon menghela nafas dalam sambil memutar bola matanya kesal, lalu mencari sesuatu. Kemudian memperlihatkan layar i-padnya pada Chansung, “Oppa kenal pria ini?”

Chansung memperhatikan photo itu dan mengangguk, “Dia Kim Jeonghun kan? Orang kepercayaan Linda Wang..” jawabnya.

Jiyeon kembali mencari data lain dan memperlihatkannya pada Chansung, “Ini adalah Kim Jeonghun 13 tahun lalu oppa..”

Chansung diam sejenak dan melotot. Pria yang ia lihat ini adalah pria yang terlihat sangat jelas di mimpinya waktu itu. “Dia!! Dia pria terkahir yang kucari!!” serunya sambil menunjuk photo itu.

“Ne..” jawab Jiyeon.

Chansung menatap Jiyeon kaget, “Jiyeon, ini bukan……. Aniya. Aniya… dia tidak mungkin merencanakan ini..”

“Ne, oppa..” jawab Jiyeon, “Linda Wang yang sebenarnya merencanakan pembunuhan itu agar dia yang mendapatkan dua benda itu dan menjadi satu-satunya keturunan Putri Ling..” ucapnya.

Chansung menatap Jiyeon tak percaya sambil bangkit duduk, “Jadi dia akan membunuh Fei?”

“Ne oppa.. kita harus membatalkan semuanya sebelum terlambat..” ucap Jiyeon.

Chansung mengangguk, “Ayo beritau yang lain..”

 

=Sebuah Pesawat Jet Pribadi=

Fei memandang keluar jendela sedih, ia akan segera meninggalkan Korea dan mungkin tak akan kembali lagi. matanya kembali di penuhi air mengingat ia akan meninggalkan Chansung. ‘Selamat tinggal Chansung.. Jangan menangis untukku.. Kumohon paling tidak sekali, ingatlah aku sebagai orang yang selalu setia bersamamu..’ batinnya pedih.

“Feifei..” panggil Linda Wang yang duduk di seberang Fei.

Fei tertegun dan segera menyeka air mata yang ternyata sudah berjatuhan di pipinya, lalu memandang bibinya.

“Kau masih sedih akan meninggalkan mereka?” Tanya Linda Wang.

Fei tersenyum sedih, “Sedikit..” jawabnya, “Tapi aku akan segera melupakan mereka, tidak masalah..” jawabnya.

Linda Wang tersenyum hangat, “Tidak perlu khawatir, mereka sudah mendapatkan uang bayarannya dan akan hidup bergelimangan harta. Tidak perlu khawatir lagi..”

Fei tersenyum tipis, “Iya, bibi..” ucapnya pelan.

Kapten pesawat memberitaukan kalau mereka akan segera lepas landas dan itu membuat Fei semakin sedih.

Fei kembali memandang keluar jendela dan melihat pemandangan diluar mulai tertinggal di belakang. Ia terus memandangi tanah itu sambil pesawat jet mereka melayang diatas awan. Bulir air matanya kembali berjatuhan, ‘Maafkan aku Chansung.. Maafkan aku..’ batinny apenuh penyesalan. Ia selalu berjanji akan selamanya bersama Chansung, namun sekarang ia yang melanggar janji itu.

Sementara itu.

Dari celah langit-langit dapur pesawat jet yang hanya muat untuk tubuh seseorang, Joon mengintip kesana untuk memperhatikan apa yang di lakukan pramugari yang bertugas hari itu. “Mereka sedang menyiapkan makanan, tidak ada yang mencurigakan..” bisiknya.

“Ya! Temukan cepat! Sangat panas di bagasi!” ucap Narsha kesal di telinga Joon.

“Arasso..” ucap Joon kesal.

Fei menyeka air matanya ketika pramugari menghidangkan makanan mereka, “Gamshamida..” ucapnya karena gadis itu terlihat seperti orang Korea. Lalu memandang sekitar namun tak melihat Kim Jeonghun dimana pun. “Bibi, Tuan Kim Jeonghun tidak ikut bersama kita?”

Linda Wang menggeleng, “Tidak, urusannya denganku hanya hingga aku menemukanmu di Korea..” ucapnya.

Fei mengangguk mengerti.

“Ayo kita makan..” ucap Linda Wang dan mulai makan.

Fei menghela nafas dalam dan mengambil sumpitnya pelan.

Joon kembali memperhatikan ketika pramugari tadi kembali. Ia melihat mereka membuka sebuah champagne dan menuangkannya ke sebuah gelas berkaki panjang. Dahinya berkerut melihat gadis yang lain membuka botol yang berbeda dan memandang ke kanan dan kiri, lalu menuangkannya ke gelas berkaki panjang lainnya. Gadis yang satu lagi langsung mengantarkan kedua minuman tadi. “Campagne..” gumamnya sambil berpikir.

Linda Wang tersenyum melihat dua gelas champagne yang di bawa pramugari, “Fei, ayo merayakan hari kepulangan kita..” ucapnya sambil mengambil gelas tadi dan menyodorkannya satu pada Fei.

Fei tersenyum tipis dan mengambil gelas itu, lalu mendetingkannya dengan Linda Wang.

“Andwae Fei!!” seru Joon sambil berlari keluar dari dapur.

Fei yang hampir meminum champagne itu terkejut melihat Joon ada disana, “Joon?!”

Joon langsung merebut gelas tadi dari tangan Fei, “Jangan meminumnya!!” serunya.

Fei menatap Joon tak mengerti, “Joon, apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa ada disini?”

Joon menatap Linda Wang tajam, lalu menyodorkan gelas ditangannya. “Drink it, lady..” ucapnya.

Linda Wang memandang gelas itu bingung dan kembali memandang Joon, “Why? That is belong to Feifei..” ucapnya.

“Just drink it!” tegas Joon.

Fei berdiri dan mengambil gelas champagne tadi, “Joon! Ada apa denganmu?!”

Joon menatap Fei kesal, “Dia akan membunuhmu, Fei.. Dia harus menjadi satu-satunya keturunan Putri Ling hingga bisa masuk ke istana!”

Dahi Fei berkerut, “Mwo?”

“Feifei, ada apa ini? Kenapa dia ada disini?” Tanya Linda Wang dalam bahasa mandarin.

Fei memandang Linda Wang bingung, lalu kembali memandang Joon. “Joon, apa pun yang kau pikirkan. Tolong jangan ganggu hidupku lagi..” ucapnya pelan.

“Dia memasukkan racun disini Fei…” ucap Joon tegas.

“Joon!! Kumohon hentikan!!” seru Fei.

Joon menatap Fei marah, lalu meneguk Champagne tadi sekali teguk dan kembali menatap gadis itu. “Ini..” ucapnya sambil mengembalikan gelas tadi.

“Joon! Paboya?!” seru Narsha yang muncul dari ruangan control di belakang.

Fei terkejut melihat Narsha, “Eonni?”

Linda Wang memandang Narsha tak mengerti, “How you can got in?”

Narsha menatap Linda Wang kesal, “Aissh.. aku tidak mengerti bahasa Inggris..” ucapnya, lalu menatap Fei. “Fei, semua yang di ucapkan Joon benar!”

“Kenapa kalian semua ada disini?!” Tanya Fei tak percaya.

Bruk!! Semuanya memandang kearah Narsha datang tadi dan mengerutkan dahi ketika melihat Chansung bangkit setelah tersandung.

“Aissh.. kenapa pintunya kecil sekali?!” keluh Chansung sendiri.

“Chansung?” ucap Fei bingung.

Chansung menghampiri orang-orang itu dan memegang tangan Fei sambil menatapnya serius, “Noona! Semuanya benar! Wanita ini harus membunuhmu untuk menjadi satu-satunya keturunan Putri Ling! Lalu dia bisa masuk ke istana dan mendapatkan semuanya dengan Tiara dan piala itu sebagai bukti..”

Fei tertegun mendengar ucapan Chansung dan memandang Linda Wang, lalu berbicara dalam bahasa mandarin. “Bibi, ada apa dengan Tiara dan piala itu?”

Linda Wang tertegun dan memandang para anak muda itu, “Apa yang mereka katakan? Kenapa kau bertanya tentang hal itu?”

“uhuk…” Joon meringis sambil memegang dadanya.

Narsha menatap Joon serius, “Joon!”

Fei memandang Joon dan melotot melihat pria itu terhuyung jatuh ke belakang, “Joon!!” serunya sambil menghampiri pria itu.

Joon terbatuk-batuk sambil memegang dadanya dan terlihat sangat kesakitan.

“Joon! Waekeureyo?! Joon!!” panggil Fei sambil memegang tangan Joon.

“Seungho!! Joon cedera! Cepat kembali!” seru Narsha sambil memegang earphone di telinganya.

Chansung memegang lengan Linda Wang sambil menatapnya tajam, “You are a killer!” ucapnya penuh kebencian.

Narsha ikut menghampiri Joon, “Joon! Joon! Gwenchana?!”

Nafas Joon tampak berat dan keringat dingin memenuhi wajahnya. matanya juga berat untuk dibuka, namun ia memaksakan matanya untuk terbuka dan memandang wajah Fei.

Fei menatap Joon tak mengerti, namun melihat tatapan pria itu, ia tau jika pria itu sangat menderita saat ini. Air matanya mulai berkumpul dan berjatuhan satu persatu, “Joon..”

Joon menggenggam tangan Fei yang memegang tangannya beberapa saat, lalu memejamkan matanya.

Fei tertegun melihat Joon memejamkan mata, “Joon? Joon?!” panggilnya sambil mengguncang tubuh pria itu, “Joon!!” serunya.

Narsha memeriksa denyut nadi di leher Joon dan memejamkan mata dan menunduk sedih.

Fei terkejut melihat ekspresi Narsha, lalu menatap Joon tak percaya. “Joon!!” serunya, “Joon bangun!!” serunya dan menangis karena pria itu tak juga bangun.

Bulir air mata Narsha mulai mengalir mengetahui Joon sudah meninggal.

Fei tertegun sesaat, lalu menatap bibinya tajam. Perlahan ia bangkit dan menghampiri wanita itu, “Bibi Hseuin, kau benar-benar ingin meracuniku?!” tanyanya dalam bahasa mandarin.

Linda Wang diam sejenak, lalu melepaskan tangan Chansung dan menyilangkan kedua tangannya di dada. “kau benar.. Aku harus menyingkirkanmu agar mendapatkan tahta besar itu! kau mengerti?!”

Fei menatap Linda Wang tak percaya, “Bibi… kau… kau benar-benar…”

Linda Wang tersenyum sinis, “Kau bersama temanmu akan di anggap sebagai pengkhianat Negara setelah kita tiba di China.. Maka akulah satu-satunya yang tersisa..” ucapnya puas.

“Bibi, aku mempercayaimu.. Hanya kau keluargaku yang tersisa tapi kenapa kau justru ingin membunuhku?!” Tanya Fei terluka dengan bulir air mata berjatuhan.

“Seharusnya kau juga mati bersama keluargamu! Bukankah menjadi korban pelecehan sangat memalukan?! Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada siapa pun?! Kau seharusnya juga menjadi korban dan memunculkan berita bahwa kau membunuh mereka akibat depresi yang kau derita!! Tapi kau menghancurkan semuanya!! Kau yang membuat semua ini sangat sulit!! Kau mengerti, Feifei?!” ucap Linda Wang marah.

Fei tertegun mendengar ucapan Linda dan melotot mendengar ucapan wanita itu, “Bagaimana… bibi.. kau bukan orang yang membunuh keluargaku kan?” tanyanya tak percaya.

Linda Wang tertawa sinis, “Aku ingin menyangkalnya, tapi percuma saja. Kau dan teman-temanmu akan berakhir saat kita tiba nanti..” ucapnya.

“Bibi?” ucap Fei tak percaya.

“Anda salah nyonya..” ucap Nickhun yang baru keluar dari ruang pilot dengan pakaian pilotnya.

Semuanya menatap Nickhun kaget karena pria itu berbicara dalam bahasa mandarin.

Nickhun melangkah maju, “Karena kita tidak akan pergi kemanapun..” ucapnya.

 

<<Back         Next>>

 

Advertisements

2 thoughts on “I’m With You [Cahpter 16]

  1. Busett dah, ini group perampok cepet banget yaa bertindaknya.. -_-” Tiba2 semuanya udah ada di dalem pesawat ._.
    Ahhh!! Ayo thor! lanjutannya cepet yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s