Chapter

I’m With You [Chapter 12]

12

 

—This is Love?—

Joon melirik Chansung yang tidur membelakanginya, “Chansung..” panggilnya, tak ada jawaban. “Chansung-a..” panggilnya lagi, lalu mengguncang bahu pria itu dari belakang.

“Aissh! Apa hyung?!” ucap Chansung kesal sambil memandang Joon.

Joon tertawa kecil, “Mian.. aku tidak bisa tidur, temani aku mengobrol sebentar..”

“Aku mengantuk, simpan saja sampai besok pagi..” Chansung kembali memunggungi Joon dan memejamkan mata.

Joon menatap Chansung kesal, “Ya.. dengarkan aku dulu..” ucapnya tak peduli, “Chansung, kau dan Fei bersaudara, apa menurutmu aku tidak bisa menjaga Fei seperti kau menjaganya?”

Chansung tertegun dan kembali membuka mata.

“Hm? Chansung.. jawab aku..” ucap Joon.

Chansung diam sejenak dan kembali berbaring dengan punggungnya agar bisa memandang Joon.

“Othe?” tanya Joon ingin tau.

“Hyung, Fei noona tidak menyukaimu.. Jangan berharap terlalu banyak..” ucap Chansung pelan.

“Apa dia mengatakannya padamu?” tanya Joon.

“Mmm.. tidak secara langsung, tapi dari cara dia memperlakukanmu aku sudah bisa mengetahuinya..” jawab Chansung.

Joon diam sejenak sambil memandang langit-langit, “Mmm.. sejujurnya aku sudah merasa dia tidak menyukaiku. Tapi aku hanya ingin melidunginya. Aku tau kalian mempunyai masa kecil yang mengerikan, aku tidak ingin itu membuatnya terus terkekang dan ingin Fei melihat betapa indahnya dunia ini..” ucapnya tulus.

Chansung tertegun mendengar ucapan Joon, entah mengapa pria itu terdengar sangat dewasa dan untuk pertama kalinya tidak terlihat ‘bodoh’ dimatanya.

Joon memandang Chansung sambil tersenyum, “Memangnya kau tidak ingin aku menjadi kakak iparmu?” candanya.

Chansung menahan tawa, “Sudahlah, aku mengantuk..” ucapnya, lalu membelakangi Joon lagi.

“Keure, selamat malam adik ipar..” ucap Joon menahan tawa.

“Diam hyung..” ucap Chansung menahan tawa juga.

 

=Rumah Para Pencuri=

“Aigoo.. keyomne~~” ucap Narsha gemas pada Injung dan Inyong yang melahap makanan buatannya hingga kedua pipi anak itu mengembung.

Jiyeon, Seungho dan Nickhun yang duduk di meja terpaku memandang Narsha bingung. Sejak tadi gadis tertua itu hanya sibuk memperhatikan dua anak yang kemarin di bawa anggota termuda mereka.

“Kalian suka?” tanya Narsha dengan senyuman lebarnya.

“Ne, gamshamida eomma..” ucap Injung dan Inyong hampir bersamaan.

Narsha tertawa kecil karena senang mendengar kedua anak itu memanggilnya eomma.

Byurr!!! Ketiga orang lain menyemburkan makanan di mulut mereka ketika mendengar panggilan anak-anak itu.

Narsha bersama kedua anak tadi memandang mereka bingung, “Ya.. waekeure? Kenapa membuat kotor meja seperti itu?”

“Y.. noona, kenapa mengajari mereka hal aneh?” tanya Nickhun tak mengerti.

Narsha tersipu malu, “Aku tidak mengajari mereka, mereka yang berinisiatif memanggilku eomma.. Benarkan anak-anak?”

“Ne! Narsha eomma sangat baik, karena itu kami memanggilnya eomma..” jawab Injung polos.

“Eonni.. tapi kan aku yang membawa mereka. Berarti mereka anak-anakku..” protes Jiyeon.

“Aigoo.. kau masih terlalu muda, kau jadi eonni saja..” ucap Narsha dan kembali memandang anak-anak itu sambil mengelus rambutnya. “Makan yang banyak anak-anak..” ucapnya.

“Ne..” jawab Injung dan Inyong hampir bersamaan.

Jiyeon cemberut melihat kedekatan Narhsa dengan kedua anak itu.

“Ya.. aku kan sudah berkata kita bukan orang tepat yang bisa menjaga anak kecil. Kenapa kalian ini?” tanya Seungho tak habis pikir.

Narsha melotot pada Seungho, “Ya.. kenapa mengatakannya di depan mereka?!” ucapnya tertahan, lalu memandang kedua anak tadi yang memandang Seungho dengan mata hendak menangis.

“Kami tidak boleh tinggal disini?” tanya Injung dengan bulir air mata berjatuhan.

Narsha tertegun dan mengelus kepala kedua anak yang mulai menangis itu, “Tentu saja boleh.. shh… tenang saja..” bujuknya.

“Oppa! Kau membuat mereka menangis!” ucap Jiyeon sebal.

“Hyung..” ucap Nikchun tak percaya, lalu mengelus kepala Inyong, “Gwenchana Inyong-a, Injung-a.. Kami akan menjadi keluarga baru kalian..” ucapnya.

“Ne.. benar Injung-a, Inyong-a..” ucap Jiyeon membenarkan.

“Jinja?” tanya Injung.

“Ne..” jawab Jiyeon, lalu menatap Seungho. “Benarkan oppa?”

Seungho tentu saja tidak bisa setuju, tapi melihat kedua anak itu menangis membuatnya tak tega. “Ne..”

“Naaah.. benarkan..” ucap Narsha senang.

“Ne…” jawab Injung dan Inyong yang kembali bersemangat.

“Ayo makan lagi..” ucap Nickhun.

Mau tak mau Seungho setuju kali ini demi kedua anak-anak itu.

 

=Pondok=

“Aku memarkirkan mobilku tak jauh dari klub disana..” ucap Joon ketika keluar dari pondok.

“Ne.. Khaja..” ajak Chansung sambil menggandeng tangan Fei melangkah pergi.

Fei tertegun merasakan tangan Chansung dan melihat Joon yang terlihat menatap tangan mereka.

Chansung memandang Fei bingung karena melepaskan tangannya.

“Khaja..” ajak Fei sambil melangkah duluan.

Joon langsung mengejar langkah Fei, “Kau klub yang disana itu?” tanyanya memulai pembicaraan.

“Tau.. wae?” tanya Fei.

“Semalam ketika aku lewat sana seorang gadis menghampiriku. Kau tau? Dia sangat agresif! Dia menarik tanganku seperti ini..” Joon menarik satu tangan Fei dan menempelkan tangan gadis itu ke dadanya, “Lalu meletakkannya ke dadanya.. Aku sangat panik..”

Fei tertawa mendengar cerita Joon, “Lalu, kau mampir bersamanya?”

“Ani.. Aku sudah berkata kalau aku tidak bisa, tapi dia terus memaksaku. Jadi, kukatakan saja aku gay…” jawab Joon sambil tertawa.

Fei tertawa lagi, “Apa dia percaya?”

“Ne.. Untung saja dia langsung pergi, jika ternyata dia transgender habislah aku..” ucap Joon sambil geleng-geleng kepala.

Fei tertawa sambil memegang perutnya, “Wae? Mereka sexy kan?”

“Sexy, tapi aku tidak suka gadis agresif. Mereka mengerikan.. Hiii.. memikirkannya saja sudah merinding..” ucap Joon sambil mengelus lengannya.

Fei tertawa lucu, lalu menyadari Chansung tidak berjalan disisnya dan memandang ke belakang. Ia tertegun melihat pria itu berjalan cukup jauh di belakang mereka. Kakinya berhenti melangkah menyadari pria itu terlihat tidak senang. “Chansung-a.. ppali..” panggilnya sambil mengulurkan tangan.

Chansung diam sejenak dan tersenyum melihat Fei mengulurkan tangan padanya. Ia melangkah lebih cepat sambil mengulurkan tangan untuk membalas uluran tangan gadis itu, namun Joon merusak momen itu.

Joon memegang tangan Fei yang terulur, “Khaja Chansung..” ucapnya dan menarik gadis itu pergi duluan.

Chansung tertegun melihat Joon menarik Fei pergi.

Fei memandang Joon bingung dan memandang Chansung yang menatap mereka tanpa ekspresi.

 

=Rumah Para Pencuri=

“Kami pulaaaaaaaaaaaaaaaaang!!!” sorak Joon sambil melangkah masuk, namun ia langsung terkejut melihat dua anak kecil di ruang tengah memandangnya bingung. “Omo.. anak siapa ini?”

Fei dan Chansung juga tertegun melihat kedua anak itu.

Injung dan Inyong yang sedang bermain boneka segera bangkit dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo..”

Fei tersenyum dan menghampiri kedua anak itu, “Annyeonghaseo.. Siapa kalian?”

Injung tersenyum, “Annyeonghaseo eonni, namaku Park Injung. Ini adikku Park Inyong..” ucapnya.

Fei memandang Injung dan Inyong bergantian. “Hmm..”

Jiyeon muncul dengan dua gelas susu di tangannya, “Oh.. eonni, oppa.. sudah kembali?”

Joon menatap gelas susu itu kaget, “Jiyeon-a, kenapa kau membuatkan mereka susu?”

Jiyeon memandang Joon aneh beberapa saat dan memberikan gelas susu itu pada masing-masing anak. “Ini.. habiskan dan tidur siang..” ucapnya sambil tersenyum.

“Ne eonni..” jawab Injung, lalu meminumnya bersama Inyong.

“Jiyeon-a, kau yang membawa anak-anak ini?” tanya Chansung.

Jiyeon tersenyum lebar, “Ne, oppa.. Seongho oppa sudah setuju untuk merawat mereka..”

“Jinja? Wuaa..” ucap Fei ikut senang.

“Mwo?! Andwae!” seru Joon.

Injung dan Inyong terkejut dan berhenti meminum susu di gelas mereka karena menatap pria itu kaget.

“Apa maksudmu Jiyeon?! Memangnya kita panti sosial? Kita ini penjahat!! Bawa mereka pergi!” seru Joon kesal.

Chansung menatap Joon kesal, “Hyung!”

“Oppa!” seru Jiyeon juga kesal.

Injung dan Inyong mulai menangis mendengar bentakan Joon.

“Omo.. omo.. aniya.. aniya.. Gwenchana..” ucap Fei pada si kecil Inyong.

“Sssh.. jangan pedulikan oppa itu. Dia pabo dan gila..” ucap Jiyeon sambil menyeka air mata Injung.

Chansung menghela nafas dalam melihat kedua anak itu menangis dan menyeret Joon pergi dari ruangan itu, namun terlambat.

Narsha keluar dari kamarnya karena mendengar Injung dan Inyong menangis, “Omo! Waekeure?!” tanyanya sambil menghampiri kedua anak itu.

“Eonni! Joon oppa berseru menyuruhku membawa mereka pergi..” kadu Jiyeon.

“Eomma..” tangis Injung dan Inyong pada Narsha.

Narsha menatap Joon tajam.

Joon bergidik melihat tatapan Narsha.

Malamnya, Ruang makan.

Ketujuh anggota pencuri itu duduk di meja untuk membicarakan tentang Injung dan Inyong ketika kedua gadis kecil itu sudah tidur.

“Tentang Injung dan Inyong, untuk sementara kita biarkan mereka disini dulu. Kulihat mereka penurut dan tidak menyusahkan..” ucap Seungho.

Narsha menatap Joon yang menempelkan batu es ke memar di pipi pria itu. Juga sebuah tisu menyumbat satu hidung pria itu akibat darah yang terus mengalir. Juga rambut pria itu menjadi acak-acakan sekarang.

Jiyeon, Nickhun, Chansung dan Fei menahan tawa mengingat apa yang mereka lihat tadi ketika Narsha mengamuk.

“Keure, pastikan anak-anak itu tidak keluar sembarangan dan tetap awasi mereka..” ucap Seungho.

“Ne, oppa..” jawab Jiyeon mengerti.

“Mmm.. oppa.. Lalu bagaimana dengan tiara dan piala itu?” tanya Fei ingin tau.

“Ne.. aku sudah tidak mendengar lagi tentang mereka..” ucap Narsha membenarkan.

“Mmm.. aku juga akan membicarakan ini..” ucap Seungho serius, “Mereka berkeras untuk bertemu dengan kita semua saat pertukaran terjadi..” jawabnya.

“Ne? Wae?” tanya Jiyeon bingung.

“Entahlah.. mereka meminta syarat seperti itu..” ucap Seungho.

“Lalu, dimana pertemuannya?” tanya Chansung.

“Mereka akan mengabari kita lagi..” jawab Seungho.

Kamar Fei dan Chansung.

Chansung memandang Fei masuk ke kamar dari sofa.

Fei naik ke tempat tidur dan tersenyum pada Chansung, “Selamat tidur..” ucapnya sambil berbaring dan mematikan lampu meja.

Chansung berbaring di sofa sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. Matanya masih terbuka memandang Fei yang sudah memejamkan matanya di tempat tidur. “Noona..”

Fei membuka mata memandang Chansung, “Ne..”

Chansung diam sejenak memandang Fei, “Apa kau menyukai Joon hyung?”

Fei tertegun, “Ne? Kenapa kau menanyakan itu?”

Chansung menatap Fei dalam, “Entahlah.. aku merasa kau senang bersamanya..”

Fei tersenyum, “Senang bukan berarti suka kan..”

“Ne, tapi senyumanmu itu membuatku terluka noona..” ucap Chansung pelan.

Fei tertegun lagi, kali ini ia tak bisa mengelak karena Chansung langsung mengatakannya.

Chansung menatap wajah Fei di tengah kegelapan, “Noona..” panggilnya menunggu jawaban.

“Chansung..” ucap Fei pelan, “Apa kita tidak bisa hanya seperti ini?”

Chansung tertegun, “Seperti apa?”

Fei menggigit bibir bawahnya ragu, “Noona-dongsaeng..”

Tab! Sesuatu yang tak terlihat menusuk hati Chansung. Itu ucapan yang sangat ia takuti yang akan Fei katakan padanya. “Wae?”

Meskipun ia mengatakannya sendiri, Fei merasa terluka juga. Air matanya mulai berkumpul hendak jatuh. “Kita akan lebih nyaman seperti ini..”

“Lalu, apa arti ciuman itu?” tanya Chansung.

“Aku sendiri tidak mengerti Chansung, tapi aku tidak ingin pada akhirnya kita hanya saling melukai..” jawab Fei, ia terkejut tiba-tiba lampu di meja hidup dan menatap Chansung yang sudah duduk di sebelah tempat tidur kaget.

“Menurutmu itu bukan sesuatu?” tanya Chansung serius.

Fei bergerak duduk memandang Chansung, “Chansung, ini….”

“Berikan aku waktu untuk membuatmu yakin tentang perasaanmu padaku..” potong Chansung.

“Chansung, kita..”

“Andwae! Kau tidak bisa mengatakannya sekarang. Aku tidak akan mendengarnya..” tegas Chansung lagi.

Fei terdiam memandang Chansung.

Chansung menatap kedua mata Fei dalam dan tersenyum hangat, lalu menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinga. “Selamat malam..” ucapnya lembut, lalu bergerak maju dan mencium dahi gadis itu.

Fei tertegun merasakan sesuatu di hatinya dan memandang Chansung.

Chansung kembali mematikan lampu dan bergerak ke sofa lagi.

 

<<Back          Next>>

Advertisements

5 thoughts on “I’m With You [Chapter 12]

  1. Masalah hubungan chansung ama fei makin jadi2 aja nih..
    Wkwkwk itu Narsha kalo udh urusan ama anak2 gak maen2 ye, si Joon ampe kena amukannya 😀
    Next~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s