Chapter

I’m With You [Chapter 11]

11

—For You, I Love You—

 

-Chansung’s POV-

Aku kembali ke ruangan ini. Ruangan dimana keluargaku di bunuh, tubuh ayah, ibu dan dua noonaku tergeletak bersimbah darah disana. Aku sangat ketakutan. Telingaku mendengar suara beberapa orang pria dan menoleh. Saat itu aku melihat tiga pria menyeret seorang gadis. Mataku melotot itu adalah Fei noona. Aku harus berseru, tapi suaraku tak keluar dan tubuhku tak bisa bergerak. Gadis itu menangis dan meronta sambil memohon mereka agar melepaskannya, namun mereka tak peduli.

“Cepat bawa dia..” ucap pria ketiga, lalu memandang kearahku. Aku terkejut ia tersenyum sinis padaku sambil menodongkan pistolnya.

DOR!!

-Chansung’s POV end-

Chansung tersentak dan spontan membuka mata dengan nafas terengah-engah.

Fei yang tidur di sebelah Chansung ikut terbangun dan bergerak bangkit sambil memandangi pria itu khawatir, “Wae? Kau mimpi buruk lagi?” tanyanya sambil mengelus pipi pria itu.

Chansung mengusap wajahnya dan memandang Fei menyesal, “Miane noona, aku sering mengganggu tidurmu..”

Fei tersenyum hangat, “Gwenchana, karena itu aku ada disini bersamamu..”

Chansung tersenyum dan menarik Fei ke dadanya, gadis itu membaringkan kepala ke dadanya. “Hmm.. aku benar-benar tidak ingin kembali..”

Fei diam sejenak, lalu mengangkat wajahnya untuk memandang Chansung.

Chansung bingung melihat ekspresi Fei, “Wae?”

“Chansung, kita harus kembali..” ucap Fei.

Senyuman Chansung memudar perlahan, “Wae? Disini kita bisa menjadi diri kita sendiri. Kau tidak ingin seperti ini?”

“Aku mau Chansung..” jawab Fei, ‘Tapi kita harus memikirkan yang lainnya.. mereka akan kecewa jika kita tak kembali..”

Chansung menatap Fei kesal, “Untuk apa memikirkan mereka? Aku tidak mungkin bersamamu jika ada mereka, kau mengerti?”

‘Tentu saja kau bisa, kita selalu bersama kan selama ini..” ucap Fei menjelaskan.

“Aku tidak ingin bersamamu sebagai adikmu noona..” ucap Chansung jujur, membuat gadis itu terdiam menatapnya. “Apa kau tidak mengerti? Aku ini bisa menatapmu, menciummu, menyentuhmu, juga menjadi bagian hidupmu. Bukan sebagai adikmu, tapi sebagai seorang pria!”

Fei menatap Chansung sedih, “Ne, aku mengerti Chansung. Tapi mereka telah membantu kita, membuat kita bertahan hidup dengan cara mereka.”

Chansung memutar bola matanya dan bergerak bangkit, membuat Fei juga bergerak duduk. “Jadi kau akan terus bersandiriwara menjadi kakakku?!”

“Aniya, bukan seperti itu maksudku..” ucap Fei berusaha menjelaskan, “Kita bisa memberitau mereka.. Tapi tidak sekarang.. Kumohon Chansung..”

Chansung menatap Fei tanpa ekspresi, lalu memalingkan wajah sambil bangkit dan berjalan menuju pintu sambil mengambil jaketnya.

“Chansung.. Hwang Chansung..” panggil Fei.

Chansung terus melangkah seperti tak mendengar apa pun.

Fei menghela nafas dalam memperhatikan Chansung pergi.

Sementara itu..

Joon melangkah menyusuri gang kecil sambil memandangi ponselnya, “Haha.. Fei selalu mematikan pelacak di ponselnya, tapi Chansung tidak. Untung mereka pergi berdua..” gumamnya senang.

“Hei tampan..” sapa seorang gadis.

Joon mengangkat wajahnya dan terkejut melihat seorang gadis mengenakan pakaian sexy, “OH! Ne… annyeong..” ucapnya kaku sambil menunduk dan terus melangkah, namun ia tak bisa berkutik ketika gadis itu memeluk lengannya. Matanya melotot merasakan buah dada gadis itu menempel di lengannya.

“Kenapa terburu-buru?” tanya gadis itu manja.

Joon menelan ludah dan memalingkan wajahnya, “Mm.. mi-mian.. aku sudah ada janji..” ucapnya sambil melepaskan tangan gadis itu, namun gadis itu malah mempererat pelukannya.

“Wae? Memangnya denga siapa? Kujamin jika tetap disini bersamaku kau akan lebih senang..” ucap gadis tadi menggoda. Satu tangannya terulur dan mengelus dada bidang Joon.

Joon bergidik dan mendorong tangan gadis itu, “Kau salah melihatku, aku bukan pria tampan banyak uang seperti yang terlihat. Aku sudah menikah dan punya 4 anak. Aku serius!” ucapnya sambil berusaha melepaskan dirinya.

Gadis tadi tertawa kecil karena tingkah lucu Joon dan menarik satu tangan pria itu ke dadanya.

Joon terpaku melihat dimana tangannya sekarang.

“Gwenchana, aku tidak keberatan walaupun kau sudah punya cucu. Kau sangat tampan, aku ingin kau menemaniku malam ini..” ucapnya gadis itu dengan desah menggodanya.

Joon menelan ludah dan memejamkan mata, ‘Andwae! Apa yang akan dikatakan Fei jika aku melakukan ini?!’ batinnya. Matanya kembali terbuka ketika gadis itu membelai pipinya. Kali ini ia sama sekali tak terlihat takut lagi, “Mian, sebenarnya aku gay..” ucapnya tenang.

Gadis itu tertegun, “Mwo?!” serunya, lalu mendorong tangan Joon dan berjalan pergi sambil menggerutu kesal.

Joon berbalik sambil menghela nafas lega dan mengelus dadanya, lalu melangkah cepat meninggalkan tempat itu.

Di tempat lain, Chansung duduk di ayunan seorang diri di tengah malam untuk menenangkan pikirannya. Ia mengayun dirinya sendiri perlahan sambil mengingat betapa nyamannya kebersamaan mereka selama berada disana. Ia bisa mengungkapkan perasaannya tanpa perlu khawatir apa pun. Ia menghela nafas dalam dan memandangi langit malam yang agak mendung. Tiba-tiba ia teringat tentang mimpinya tadi, ada sesuatu yang lain di mimpinya itu. Dahinya berkerut sambil berusaha mengingat. Semakin sering mimpi-mimpi itu muncul, semakin jelas ia mengingat wajah para pria-pria itu. Dan malam ini ia mengingat wajah pria terakhir, pria yang telah membunuh keluarga mereka.

Fei keluar dari pondok dengan selimut melilit tubuhnya untuk mencari dimana Chansung. Seperti tebakannya, pria itu ada di ayunan seorang diri. Ia melangkah menghampiri pria itu perlahan, “Chansung..”

Chansung mengangkat wajahnya memandang Fei, saat itu sebuah ide muncul di kepalanya.

Fei berhenti di depan Chansung dan melepaskan lilitan selimut di tubuhnya, lalu melampirkannya ke kedua bahu pria di depannya. “Disini dingin, ayo masuk..”

Chansung tersenyum dan berdiri, “Noona, kau benar.. Kita harus kembali..” ucapnya dan memeluk gadis di depannya.

Dahi Fei berkerut dan mendorong Chansung pelan sambil memandang pria itu tak mengerti, “Wae? kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran??”

Chansung hanya tersenyum manis dan membalik tubuh Fei dan mendorongnya kembali masuk ke pondok.

Fei bingung mngapa Chansung berubah pikiran begitu cepat dan tanpa pembicaraan lebih lanjut lagi. Namun sebelum ia sempat bertanya, seseorang memotong.

“Feeeiiiiiiii…..” sorak Joon dari kejauhan.

Fei dan Chansung terpaku melihat Joon berlari kearah mereka.

“Feeei!! Akhirnya aku menemukanmu!!!” ucap Joon penuh haru sambil memeluk Fei erat.

“J-Joon! Aku tak bisa bernafas!!” ucap Fei tertahan karena dekapan Joon.

Mata Chansung melotot melihat Joon memeluk Fei di depan matanya, “Hyung!” serunya.

Joon menatap Chansung sebal, “Apa sih? Jangan ganggu dulu..” ucapnya.

Fei mendorong Joon dan menatapnya bingung, “Joon, kenapa kau ada disini?”

Joon cemberut mendengar pertanyaan Fei, “Apa maksudmu? Tentu saja karena aku rindu padamu..” ucapnya.

Chansung menghela nafas dalam untuk menahan diri agar tidak menonjok wajah Joon.

Fei memandang Joon aneh, “Mwo? Apa-apaan sih? Seperti anak kecil..” ucapnya menahan tawa.

“Aku benar-benar rindu padamu..” ucap Joon sebal, “Kau tau? Aku bahkan sampai di goda gadis-gadis disebelah sana..” kadunya seperti anak kecil yang di ganggu teman-temannya.

“Bukankah itu favoritmu, hyung? Sudah kembalilah, ini sudah malam..” ucap Chansung sambil menarik Fei kembali ke pondok.

“Ne? inikan sudah malam, aku menginap disini saja..” ucap Joon sambil mengikuti kedua orang itu.

Brak! Pintu tertutup tepat di depan wajah Joon.

Joon terkejut dan mengetuk pintu, “Ya! Hwang Chansung!”

“Pergilah hyung!!” seru Chansung dari dalam.

“Feiiiiiiiiiiiiii………….” Panggil Joon dengan nada manja.

Dibalik pintu Fei memandang Chansung bingung, “Ya.. kenapa kau mengurungnya diluar? Inikan sudah malam, biarkan dia bermalam dan kembali bersama kita besok..”

Chansung menatap Fei kesal, lalu berbalik dan kembali ke kamar mereka.

Fei menghela nafas dalam dan membuka pintu.

Joon tersenyum lebar melihat Fei dan langsung masuk, “Aku tau kau tidak akan membiarkanku diluar seorang diri..” ucapnya dengan mata berbinar.

Fei tertawa kecil, “Kau ini..” ucapnya sambil kembali menutup pintu, lalu memandang Joon. “Apa kau ingin sesuatu untuk dimakan?”

“Aniya.. aku sangat mengantuk.. Sebelumnya aku tidak bias memejamkan mata sedetik pun karena kau tidak ada..” ucap Joon yang membuat Fei langsung tertawa geli.

“Sudahlah Joon! Kau membuatku mual..” canda Fei sambil melangkah menuju kamar.

Joon tertawa, “Lalu, aku tidur dimana?”

Fei membuka pintu kamarnya dan Chansung, “Masuklah, didalam ada sofa..” ucapnya sambil melangkah masuk.

Chansung yang sudah berbaring di tempat tidur mengerutkan dahi melihat Fei masuk bersama Joon, lalu bergerak duduk sambil memandang kedua orang itu tak mengerti.

Fei mengambil bantalnya di tempat tidur dan memberikannya pada Joon, “Ini, kau bisa memakai bantalku..”

Joon mengambil bantal itu dengan wajah bingung, “Tunggu, kau tidur di disana bersama Chansung dan aku tidur sendiri di sofa?”

“Hyung, sudah tidur saja..” ucap Chansung sebal dan menarik Fei naik ke tempat tidur.

Joon menarik tangan Fei agar tidak naik ke tempat tidur, “Tunggu, kalian tidur di satu tempat tidur? Apa itu masuk akal?”

Chansung menatap Joon kesal, “Ne, sangat masuk akal.. Kami sudah melakukannya sejak kecil..” ia kembali menarik Fei kearahnya lagi.

Joon tetap mempertahankan pegangannya pada tangan Fei, “Tapi sekarang kan kalia sudah bukan anak kecil lagi..” protesnya.

Fei menyentak kedua tangan pria itu dan menatap mereka kesal, “Sudah! Aku tidur di sofa! Kalian berdua di tempat tidur!” ucapnya, lalu mengambil bantal di tangan Joon dan berjalan cepat ke sofa.

“Fei.. Chansung.. kenapa kalian bertengkar lagi?” tanya Saeryeong sambil membuka pintu dan tertegun melihat Joon.

Joon tertegun dan langsung membungkuk sopan, “Oh.. annyeonghaseo..” sapanya.

“Ohh.. ne.” Jawab Saeryeong bingung.

Fei segera menghampiri Seoryeong, “Cesongeo Saeryeong-nim, apa kami membangunkanmu?”

“Gwenchana..” jawab Saeryeong, “Siapa dia?”

“Ini Lee Joon, temanku dan Chansung. Dia datang karena kami tak kunjung kembali ke rumah..” jawab Fei menjelaskan.

“Nah.. begini saja.. Noona tiduk bersama Saeryeong-nim. Aku tidur bersama Joon Hyung..” ucap Chansung memberi ide.

“Hm?” Fei memandang Saeryeong, “Gwenchana Saeryeong-nim?”

“Oh, ne.. ayo kita semua beristirahat..” ucap Saeryeong.

“Ne, annyeonghaseo Saeryeong-nim.. Semoga mimpi indah..” ucap Joon ketika kedua wanita itu keluar.

Chansung menatap Joon kesal dan kembali berbaring.

Malam itu, di dua kamar berbeda.

Fei berbaring di sebelah Saeryong namun memandang ke dinding sambil berpikir.

“Fei..” panggil Saeryong pelan.

Fei tertegun dan memandang Saeryong, “Saeryong-nim, kau belum tidur?”

“Aku tidak bisa tidur jika kau bergerak setiap 5 menit..” ucap Saeryong menahan senyumannya.

“oh.. Cesonghamida..” ucap Fei menyesal.

“Aniya.. Gwencanha..” jawab Saeyong, “Apa yang mengganggu pikiranmu?”

“Ne? Mmm.. aniya..” ucap Fei canggung.

“Pria bernama Joon tadi atau Chansung?” tebak Saeryong.

Fei tertegun.

Saeryong tersenyum, “Gwenchana, kau bisa menceritakannya.. Bukankah aku sudah seperti ibumu?”

Fei diam sejenak, “Mmm.. Ini tentang Chansung..”

“Ada apa dengannya?” tanya Saeryong ingin tau.

Fei memandang Saeryong bingung, “Saeryong-nim, menurutmu aku dan Chansung harus selalu bersama?”

Saeryong memandang Fei bingung, “Kenapa kau menanyakan itu?”

Fei berpikir sejenak, “Mmm.. aku merasa Chansung sangat penting di hidupku.. Tapi.. saat dia mulai memperlakukanku berbeda dan menginginkan hubungan yang lebih, aku merasa bingung..” ucapnya jujur.

Saeryong diam sejenak, lalu memegang tangan Fei sambil tersenyum tipis. “Mungkin sekarang kau merasa bingung. Dan apa yang kau lakukan hanya agar Chansung merasa lebih baik.. Tapi cepat atau lambat kau akan menyadari apa yang sebenarnya kau rasakan. Hal seperti ini sangat wajar terjadi di antara dua orang berlainan jenis kelamin yang tumbuh bersama seperti kalian, tenang saja. Waktu akan menjawab semuanya..” ucapnya.

Fei berusaha mencerna ucapan Saeryong sejenak, “Saeryong-nim.. Menurutmu, jika yang kurasakan hanya kenyamanan karena Chansung selalu ada disisiku.. Apa Chansung bisa menerimanya?”

Saeryong memegang dagu Fei dan menatapnya dalam, “Aku tidak bisa menjawabnya Fei, Chansung yang bisa menjawabnya..”

Fei menghela nafas dalam dan kembali memikirkan Chansung.

 

<<Back            Next>>

Advertisements

4 thoughts on “I’m With You [Chapter 11]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s